BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Implementasi Pendidikan Karakter
Konsep dasar pendidikan karakter di sekolah berlandaskan pada visi, misi, dan tujuan sekolah. Sesuai dengan prinsip implementasi pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dirancang oleh kemendiknas
32 Rohendi E, “Pendidikan Karakter di Sekolah”, Edu Humaniora jurnal pendidikan Dasar Kampus Cibiru, Vol 1, Nom 3, 2016
19
tahun 2010, tujuan sekolah atau madrasah diimplementasikan melalui 1) kurikulum dan program sekolah 2) budaya sekolah baik di lingkungan guru maupun siswa, 3) pengembangan diri melalui program pembiasaan dan pengembangan minat dan bakat siswa.33
a. Kurikulum atau program sekolah
Ada beberapa pengembangan kurikulum yang bisa dilakukan diantaranya: Pertama, Lebih memaksimalkan proses integrasi nilai-nilai karakter dalam semua mata pelajaran, baik mata pelajaran secara konten mengajarkan nilai-nilai karakter dan kebajikan seperti mata pelajaran PAI, maupun materi yang tidak secara konten mengajarkan nilai-nilai karakter seperti matematika, dan lain-lainnya. Kedua, Memaksimalkan program pembiasaan baik yang bersifat ritual maupun non-ritual selama proses pembelajaran. Yang dimaksud disini yaitu misal pembiasaan do’a sebelum memulai pembelajaran, pembacaan do’a sehari-hari, ayat-ayat pendek diawal pembelajaran. Guru selain sebagai pendamping mata pelajaran tetapi juga memberikan pemaknaan yang bisa dipetik oleh peserta didik. Kegiatan-kegiatan tersebut jika dilakukan sebagai bentuk kebiasan akan lebih mudah membekas dan diteladani oleh siswa/siswi.
Ketiga, Memberikan penekanan kembali kepada para pengajar PAI dan PKN untuk tidak terjebak pada materi-materi yang sifatnya kognitif dan hafalan semata, karena pada dasarnya materi pelajaran PAI dan PKN secara substantif lebih pada penanaman (inculcation approach) dan
33Rahmat Kamal, “Implementasi Pendidikan Karakter Di SD/MI”. Jurnal Madaniyah, Hal 28-32
20
pengalaman-pengalaman nilai-nilai karakter (action learning approach).
Maksudnya disini mata pelajaran PAI dan PKN menjadi pemegang peran paling besar dalam penanaman nilai-nilai karakter. yang menjadi kekhawatiran juga disini yaitu hasil dari setelah mempelajari mata pelajaran tersebut jangan sampai ketika ulangan atau belajar memiliki nilai yang tinggi namun gagal dalam penanaman nilai pada peserta didik.
Keempat, Memaksimalkan kembali proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dalam setiap mata pelajaran sehingga akan memberikan kesan yang mendalam.
Kelima, Memaksimalkan kembali proses komunikasi antara guru dengan orang tua siswa untuk memantau sejauh mana perkembangan siswa atau putra-putri mereka. Keenam, Memaksimalkan hadiah terhadap sejumlah prestasi siswa tidak hanya dibidang akademik akan tetapi juga di bidang ibadah dan akhlak keseharian dengan cara mengolah sejumlah data dari buku evaluasi siswa dan juga data dari hasil komunikasi aktif dengan para orang tua tentang laporan ibadah dan akhlak keseharian siswa.
b. Budaya sekolah
Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah.34
34 Sri Judiani, “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Edisi khusus III, Oktober 2010, hlm. 286
21
Lingkungan merupakan salah satu faktor besar yang bisa mempengaruhi siswa. Salah satunya lingkungan sekolah, siswa-siswi akan belajar dari lingkungan yang mana dia tempati, inilah yang kemudian harus kita sadari untuk menciptakan sebuah budaya dan kultur sekolah yang positif bagi perkembangan karakter siswa. Menciptakan budaya di sekolah atau madrasah tentu harus diawali adanya keteladanan dari guru dan orang-orang yang berada didalam lingkungan sekolah.
Budaya sekolah ini secara umum cakupannya yakni ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial di sekolah.35 Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.36
c. Pengembangan diri
Pengembangan diri disini maksudnya yaitu berbagai macam program tambahan atau pengembangan diluar jam pembelajaran yang dilaksanakan oleh pihak sekolah untuk menunjang pembentukan karakter siswa. Dalam program pengembangan dir, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan melalui pengintegrasian dalam kegiatan
35 Said Hamid; dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta:
kemendiknas Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, 2010) hlm 14-19 36 Ibid.
22
sehari-hari disekolah yakni seperti pada kegiatan rutin sekolah, kegiatan spontan, keteladanan dan pengkondisian.
Pertama, kegiatan rutin sekolah contohnya kegiatan upacara, pemeriksaan kebersihan, kegiatan ibadah, berdo’a, dan mengucap salam.
kedua, kegiatan spontan biasanya pada saat guru mengetahui adanya tingkah laku peserta didik yang tidak baik sehingga guru harus mengoreksi atau memberikan arahan pada peserta didik tersebut.
Contohnya ketika siswa buang sampah sembarangan, berkata-kata kotor, berkelahi, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh dan yang lainnya. Ketiga, keteladanan ini merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain memberikan contoh yang baik untuk diteladani oleh peserta didik. Misalnya dalam hal berpakaian rapi, datang tepat waktu, berkata sopan, kasih sayang, jujur, menjaga kebersihan, saling membantu dan perilaku yang baik lainnya. Keempat, pengkondisian ini misalnya sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter yang mendukung kegiatan itu seperti toilet yang selalu bersih, bak sampah yang ada di berbagai tempat, teratur dan disiplin.37
Ada beberapa contoh pembiasaan karakter yang dapat dilakukan di sekolah sebagai berikut38:
37 Ibid.
38 Evina Cinda Hendriana, Arnold Jacobs, “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Melalui Keteladanan dan Pembiasaan”, Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, Vol. 1, Nomor 2, September 2016, hlm. 28-29
23
a. Religi: 1) berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, 2) merayakan hari-hari besar keagamaan, 3) melaksanakan ibadah
b. Jujur: 1) menyediakan fasilitas tempat, dan pengumuman barang temuan atau hilang, 2) transparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala, 3) larangan menyontek.
c. Toleransi: 1) memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas, 2) memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus, 3) bekerja dalam kelompok yang berbeda.
d. Disiplin: 1) memiliki catatan kehadiran, 2) memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin, 3) memiliki tata tertib sekolah, 4) menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib, 5) membiasakan hadir tepat waktu.
e. Kerja keras: 1) menciptakan suasana kompetisi yang sehat, 2) memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar, 3) menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.
f. Kreatif: 1) menciptakan situasi belajar yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif, 2) memberikan tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang otentik maupun modifikasi.
g. Mandiri: menciptakan suasana sekolah yang membangun kemandirian peserta didik.
h. Demokrasi: 1) mengambil keputusan secara bersama melalui musyawarah dan mufakat, 2) pemilihan pengurus kelas secara terbuka, 3)
24
mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.
i. Rasa ingin tahu: 1) menciptakan suasana kelas yang mengandung rasa ingin tahu , 2) tersedia media komunikasi dan informasi.
j. Semangat kebangsaan: 1) melakukan upacara rutin sekolah, 2) melakukan upacara hari-hari besar Nasional, 3) menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan Nasional, 4) memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah, 5) mengikuti lomba pada hari besar Nasional, 6) bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial- ekonomi.
k. Cinta tanah air: 1) menggunakan produk buatan dalam negeri, 2) menyediakan informasi tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia, 3) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, 4) memajang foto presiden, wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia (gambar pakaian adat, tarian adat, rumah tradisional, senjata tradisional, dan alat musik tradisional).
l. Menghargai prestasi: 1) memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik, 2) memajang tanda-tanda penghargaan prestasi, 3) menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.
m. Bersahabat/komunikatif: 1) berkomunikasi dengan bahasa yang santun, 2) pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik, 3) pembelajaran dialogis, 4) guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik.
25
n. Cinta damai: 1) menciptakan suasana kelas yang damai, 2) membiasakan perilaku yang anti kekerasan, 3) pembelajaran yang tidak bisa gender, 4) kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.
o. Gemar membaca: 1) program wajib baca, 2) frekuensi kunjungan perpustakaan, 3) menyediakan fasilitas suasana menyenangkan untuk membaca, saling tukar bacaan, 4) pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi.
p. Peduli lingkungan: 1) pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah, 2) tersedianya tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, 3) menyediakan kamar mandi dan air bersih, 4) pembiasaan hemat energi, 5) membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik, 6) menyediakan peralatan kebersihan.
q. Peduli sosial: 1) memfasilitasi kegiatan yang bersifat sosial, 2) melakukan aksi sosial, 3) menyediakan fasilitas untuk menyumbang, 4) berempati kepada sesama warga sekolah, 5) membangun kerukunan warga kelas.
r. Tanggung jawab: 1) melakukan tugas tanpa disuruh, 2) pelaksanaan tugas piket secara teratur, 3) peran serta aktif dalam kegiatan sekolah, 4) mengajukan usul pemecahan masalah.
26
3. Faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Akhlak
Ada beberapa faktor pendukung implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak dibawah ini:39
a. Lingkungan sekolah yang mendukung program-program pelaksnaan proses pembelajaranpembinaan akhlakul karimah diantaranya:
Pelaksanaan proses pembelajaran dan proses pembiasaan akhlakul karimah diantaranya: pelaksanaan sholat dhuha, sholat berjamaah Zuhur dan Ashar, tahfiz dan tahsin di musholla, masjid atau aula sekolah, media pembelajaran dan sarana prasarana yang lain yang menunjang proses pembelajaran.
b. Dalam pelaksanaan pendidikan Islam yang paling utama adalah karakter pendidik yang mencerminkan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari- harinya. Proses pelaksanaan pendidikan akhlak (sikap jujur) sangatlah penting dalam pembentukan karakter, diantaranya karakter pendidik sebagai qudwah hasanah bagi peserta didik. Artinya pendidik yang mengajar disekolah memiliki uswah hasanah yang baik bagi peserta didik seperti memiliki kompetensi kepribadian Islami dan mempunyai kompetensi keshalihan.
c. Kerjasama antar sekolah dengan orang tua peserta didik dalam mengevaluasi pendidikan akhlak peserta didik dalam kegiatan sehari-hari,
39 Hasnan Syarief, “Implementasi Pendidikan Karakter Siswa Perguruan Islami An-Nizam Medan”, Jurnal EduTech, Vol. 3, No. 1, Maret 2017, hlm. 84-85
27
ketika di sekolah, di rumah dan di lingkungan masyarakat menggunakan buku kegiatan peserta didik.
Menurut pendapat lain faktor pendukung pendidikan karakter diantaraya:
a. Antusiasi dan semangat siswa
Antusiasi dan semangat peserta didik sangat mendukung dalam kegiatan pengembangan diri. Dengan begitu peserta didik dapat mengembangkan karakternya masing-masing dalam kehidupan sehari-harinya.
b. Kerjasama dan Kekompakan Semua Pihak
Dengan adanya kerjasama dan kekompakan semua pihak akan mnimbulkan rasa memiliki semua dalam semua pihak.
c. Dukungan Orang Tua
Dukungan orang tua sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter yang telah diintegrasikan dalam mata pelajaran dan kegiatan lainnya. Dukungan orang tua dapat berupa memberikan teladan yang baik dan mengawasi anak-anaknya ketika di rumah, memberikan suasana yang kondusif bagi siswa yang membiasakan kebaikan di rumah, seperti memberikan dukungan kepada anak yang berperilaku baik dan memberikan teguran pada anak-anak yang berperilaku tidak baik
d. Keteladanan Guru
Keteladanan guru sangat penting seperti memberikan contoh berpakaian rapi, sopan, bersih, dan berkata-kata baik. Sehingga akan menimbulkan prilaku-prilaku yang baik bagi peserta didik.
e. Komunikasi yang Baik Antar Peserta Didik dan Guru
28
Dengan adanya komunikasi yang baik akan memudahkan dalam mengetahui permasalahan yang terjadi terhadap perkembangan karakter peserta didik didalam walaupun luar sekolah.
f. Alokasi Waktu yang Cukup
Alokasi waktu yang cukup akan memudahkan peserta didik mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.
g. Sarana dan Prasarana yang Cukup Mendukung dalam melaksanakan pendidikan Karakter
Dengan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang makan akan membantu peserta didik dalam mengembangkan karakternya.40
4. Hubungan pendidikan karakter dengan Pembinaan akhlak
Pendidikan karakter hakikatnya merupakan pengintegrasian antara kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Lickona mengatakan pendi dikan karakter merupakan upaya membantu peserta didik untuk memahami, peduli dan berbuat atau bertindak berdasarkan nilai-nilai dan etika. Pendidikan karakter merupakan pendidikan budi pekerti plus dengan melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).41
Berbicara tentang akhlak selalu berkesinambungan dengan dengan kehendak dan adat (kebiasaan). Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang akhlak yakni:
Akhlak adalah hay’at atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan
40 Tim Penyusun Kemendiknas, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Pusat Kurikulum dan Pembukuan, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas. 2011) hlm. 13
41 Zubaidi, Desain., Hlm 41-42
29
pertimbangan dan pemikiran. maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, ia dinamakan akhlak yang baik tetapi jika ia menimbulkan tindakan yang jahat maka ia dinamakan akhlak yang buruk.42
Sedangkan Muhyiddin ibnu Arabi mengatakan:
Akhlak merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu.
Keadaan pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan. 43
Sedangkan menurut Dr. Ahmad Muhammad Al-Hufi:
Akhlak adalah adat yang dengan sengaja dikehendaki keberadaannya.
Dengan kata lain, akhlak adalah azimah (kemauan yang kuat ) tentang sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, sehingga menjadi adat atau kebiasaan yang mengarah pada kebaikan atau keburukan.44
Jadi dapat disimpulkan dari definisi para ahli di atas, akhlak sesungguhnya berakar dari dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Ia telah menjadi sebuah kebiasaan, sehingga kebiasaan yang lama kelamaan menjadi kebiasaan yang spontan dilakukan. Contohnya akhlak seorang anak yang dibiasakan sikat gigi sebelum tidur, membaca basmallah sebelum melakukan pekerjaan, dan lain sebagainya jika dilakukan secara terus menerus maka lama kelamaan akan menjadi kegiatan yang akan spontan dilakukan.
Berperilaku baik atau berakhlakul karimah tentunya membutuhkan sebuah usaha dari seseorang. Diantaranya yakni melakukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan. Untuk itulah dalam membentuk akhlakul
42 Munir Shamsul Amir, Ilmu Akhlak., (Jakarta: Hamzah, 2016). Hlm 1-5 43 Ibid.
44 Ibid.
30
karimah pendidikan karakter merupakan jalan yang harus ditempuh.
Pendidikan karakter tidak terlepas dari pengembangan diri, moral dan kebiasaan yang baik. Pendidikan karakter dikatakan sebuah sistem yang membekali peserta didik mengenai nilai, norma, dan pengetahuan yang menimbulkan kesadaran sehingga akan menjadi insan yang kamil.45
Karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Karakter diartikan juga sebagai akhlak, sehingga dikatakan bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berahklak dan sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak berakhlak.46Hadirnya pendidikan karakter dikatakan sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia. Untuk itu, perlu dicetuskan pendidikan karakter bangsa sebagai wujud pendidikan karakter kepada peserta didik.47 Pendidikan karakter berkaitan dengan nilai-nilai adat yang baik, sikap positif yang mengandung pengetahuan, bertujuan untuk memberikan peserta didik dalam mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab.
45 Badawi, “Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Akhlak Mulia di Sekolah”, Seminar Nasional Pendidikan, Edisi Oktober, Hlm 207
46 Syamsul Sanusi, “Hubungan Pendidikan Karakter Dengan Budi Pekerti Siswa di SMP Negeri 2 Galesong Kabupaten Takalar”, Seminar Nasional, Oktober 2016, Hlm 124
47 Ibid.,125
31
Dalam pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang buruk dan mana yang salah tetapi juga menanamkan kebiasan baik sehingga menjadikan peserta didik paham mana yang kebiasaan yang baik dan buruk, serta merasakan mana kebiasaan baik dan biasa melakukannya. Sehingga pendidikan karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang terus dipraktikkan agar peserta didik mampu memahami, merasakan dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan tanpa harus didoktrin apalagi diperintah secara paksa. 48
Sehingga Pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak mulia merupakan suatu keniscayaan. Budi pekerti dan akhlak mulia merupakan karakter dari yang mempengaruhi peradaban, harkat dan martabat manusia.
berakhlak mulia berarti ia berkarakter. Pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak mulia inilah yang akan menjadi pondasi pembangunan manusia seutuhnya.49
G. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Penelitian mengenai implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan tahun 2021 menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dikarenakan penelitian yang dipilih membutuhkan pengkajian dan penginterpretasian arti dari data berdasarkan fenomena yang terjadi dilapangan. Menurut Erikson dalam buku Anggito dan Setiawan, menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan penelitian yang berusaha untuk menemukan dan menggambarkan
48 Ibid.,128
49 Badawi, “Pendidikan., hlm 216
32
secara naratif kegiatan dan akibat dari tindakan yang dilakukan selama melakukan penelitian. 50
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif. Tujuan dari penggunaan pendekatan tersebut untuk penginterpretasian arti dari data berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan mengenai Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif kedudukan peneliti sebagai instrumen kunci penelitian karena peneliti menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian. Peneliti sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis data dan pada akhirnya p eneliti menjadi pelapor hasil penelitian.51 Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lokasi penelitian mutlak diperlukan. Peneliti terjun ke lokasi penelitian bertujuan untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat mengenai Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Akhlakul Karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.
3. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di SDN 43 Ampenan. Adapun alasan untuk melakukan penelitian disini yaitu karena di SDN 43 Ampenan juga
50 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat: CV Jejak, 2018), hlm. 7.
51Ibid.,, hlm. 168.
33
menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut diharapkan dapat membentuk akhlakul karimah peserta didik. Untuk itu peneliti merasa perlu meneliti lebih dalam tentang bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam membentuk akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.
4. Sumber Data
Untuk mendapatkan data valid yang dapat mendukung penelitian yang dilakukan maka diperlukan sumber data yang dipercaya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya “Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh”.52 Sumber data dibagi menjadi dua yakni sumber primer dan sumber sekunder.53
Sumber data primer adalah data yang langsung diberikan oleh sumber data kepada peneliti.54 Adapun sumber primer dalam penelitian ini adalah:
a. Peserta didik SDN 43 Ampenan.
b. Kepala sekolah SDN 43 Ampenan c. Guru di SDN 43 Ampenan
Sedangkan sumber data sekunder adalah data yang tidak langsung diberikan oleh sumber data melainkan melalui orang lain maupun dokumentasi.55 Sehingga sumber sekunder dalam penelitian ini berupa dokumentasi atau
52Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2014), hlm. 172.
53Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm. 308.
54Ibid.
55Ibid., hlm. 308-309.
34
data-data tertulis yang terkait dengan implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam melakukan penelitian tentunya dibutuhkan berbagai macam data yang dapat mendukung keberlangsungan penelitian itu sendiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan data, maka diperlukan berbagai teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah, observasi, wawancara dan dokumentasi. Lebih jelasnya maka peneliti akan memaparkannya sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara teliti dan pencatatan dengan sistematis.56 Observasi dari segi pelaksanaan pengumpulan data dibedakan menjadi dua, yakni observasi partisipan dan observasi non partisipan.57 Adapun pengertian observasi partisipan dan observasi non partisipan sebagai berikut:
1) Observasi partisipan, dalam observasi ini peneliti terlibat atau ikut serta dalam kegiatan yang sedang diamati atau sumber data yang digunakan dalam penelitian.58
56Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), cet ke-3, hlm. 143.
57Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan…, hlm. 204.
58Ibid.
35
2) Observasi non partisipan, dalam observasi ini peneliti tidak terlibat atau ikut serta dalam kegiatan yang sedang diamati atau sumber data yang digunakan dalam penelitian tetapi peneliti hanya menjadi peneliti independen.59
Dalam penelitian ini teknik observasi yang digunakan yakni observasi non partisipan. Adapun data yang akan dikumpulkan melalui teknik observasi yakni: Implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik.
b. Wawancara
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang menjawab pertanyaan yang diajukan dengan tujuan dan maksud tertentu.60 Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur.61 Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan cara peneliti menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis beserta jawabannya.62 Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan bebas sehingga peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun sistematis
59Ibid.
60Lexy J. Moleong, Metodologi…, hlm. 186.
61Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, R&D dan Penelitian Pendidikan), (Bandung: Alfabeta, 2019), hlm. 229.
62Ibid.