• Tidak ada hasil yang ditemukan

implementasi pendidikan karakter - etheses UIN Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "implementasi pendidikan karakter - etheses UIN Mataram"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PESERTA DIDIK DI SDN 43 AMPENAN TAHUN AJARAN 2021/2022

Oleh Widya Meilani NIM 180106003

JURUSfbnAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2022

(2)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PESERTA DIDIK DI SDN 43 AMPENAN TAHUN AJARAN 2021/2022

Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Widya Meilani NIM 180106003

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2022

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vii

(7)

viii MOTTO

َ هّاللّ َرَكَذَو َرِخ ه ْلْا َمْوَيْلاَو َ هّاللّ اوُجْرَي َناَك ْهَمِّل ٌةَنَسَح ٌةَوْسُا ِ هّاللّ ِلْوُسَر ْيِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل ا رْيِرَك

“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari

kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33]: 21) .1

1QS Al-Ahzab [33]: 21, Dapertemen RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Solo: PT. Tiga Serangkai, 2018) hlm 420

(8)

ix

PERSEMBAHAN

“Allhamdulillah, atas rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan skripsi ini, karya sederhana ini saya persembahkan untuk Almarhum kedua orang tuaku, guru-guruku, kelurga dan Almamaterku yang telah memberikan bimbingan, dukungan, motivasi dan semangat yang luar biasa”

(9)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi penelitian yang berjudul

“IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PESERTA DIDIK DI SDN 43 AMPENAN TAHUN AJARAN 2021/2022” tepat pada waktunya.

Selanjutnya, shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan yang diridhai oleh Allah SWT.

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

Pada kesempatan kali ini, peneliti hendak menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, bimbingan, petunjuk ataupun saran-saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Amalia Taufik MA Sebagai pembimbing I dan Ibu Mulabbiyah, M. Pd sebagai pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.

2. Bapak Dr. Ahmad Sulhan, S. Ag., M. Pd. I selaku Dosen wali akademik Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Mataram.

(10)

xi

3. Ibu Ramdhani Sucilestari, S.si., M. Pd. Selaku sekretaris program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Mataram.

4. Bapak Dr. Muammar M. Pd. Selaku ketua program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Mataram

5. Bapak Dr. Jumarin, M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 6. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M. Ag. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri

Mataram

7. Ibu Hj. St. Nurhasanah selaku Kepala Sekolah SDN 43 Ampenan 8. Bapak dan Ibu guru di SDN 43 Ampenan

9. Peserta didik di SDN 43 Ampenan

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. Serta mudah-mudahan skripsi ini mudah dipahami bagi pembacanya sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca dan pihak-pihak lain. Apabila ada kekurangan dari peneliti, peneliti mohon maaf yang sebesar-besarnya dan sekiranya pembaca dapat memberikan kritik serta saran yang mendukung demi perbaikan dimasa depan.

Mataram, 17 Juli 2022

Widya Meilani NIM: 180106003

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...i

HALAMAN JUDUL ...ii

HALAMAN LOGO ...iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iv

NOTA DINAS PEMBIMBING ...v

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...vi

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ...vii

HALAMAN MOTTO ...viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ...xii

DAFTAR TABEL ...xiv

DAFTAR GAMBAR ...xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

ABSTRAK ...xvii

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Rumusan Masalah ...6

C. Tujuan dan Manfaat penelitian...6

1. Tujuan ...6

2. Manfaat ...6

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ...7

E. Telaah Pustaka ...8

F. Kerangka Teori...11

1. Pendidikan Karakter ...11

2. Implementasi Pendidikan Karakter ...15

3. Hubungan Pendidikan Karakter dengan Pendidikan Akhlak ...25

4. Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan akhlak ...27

G. Metode Penelitian...28

1. Pendekatan Penelitian ...28

2. Kehadiran Peneliti ...29

3. Lokasi Penelitian ...30

4. Sumber Data ...30

5. Prosedur Pengumpulan Data ...31

6. Teknik Analisis Data ...33

7. Pengecekan Keabsahan Data ...35

H. Sistematika Pembahasan ...36

BAB II PAPARAN DATA dan TEMUAN ...38

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...38

(12)

xiii

B. Imlementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembinaan Akhalakul Karimah

Peserta didik ...47

C. Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan akhlak ...53

BAB III PEMBAHASAN ...56

A. Imlementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembinaan Akhalakul Karimah Peserta didik ...56

B. Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan akhlak ...60

BAB IV PENUTUP ...62

A. Kesimpulan ...62

B. Saran ...63

DAFTAR PUSTAKA ...64

LAMPIRAN ...66

(13)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar Sarana dan Prasarana SDN 43 Ampenan, 40.

Tabel 2.2 Daftar tenaga pendidik SDN 43 Ampenan, 41 Tabel 2.3 Jumlah peserta didik SDN 43 Ampenan, 42

(14)

xv

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Struktur Organisasi SDN 43 Ampenan, 47

(15)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara, 58

Lampiran 2 Pedoman Observasi, 63

Lampiran 3 Dokumentasi Proses Pelaksanaan Pendidikan Karakter Dalam Pembinaan Akhlakul Karimah, 64

Lampiran 4 Dokumentasi Kegiatan Penelitian, 68

Lampiran 5 Transkrip Wawancara Dengan Kepala Sekolah, 73 Lampiran 6 Transkrip Wawancara Dengan Peserta Didik, 77 Lampiran 7 Transkrip Wawancara Dengan Guru, 81

Lampiran 8 Catatan Observasi. 82 Lampiran 9 RPP, 85

Lampiran 10 Surat Penelitian, 87

(16)

xvii

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PESERTA DIDIK DI SDN 43 AMPENAN TAHUN AJARAN 2021/2022

Oleh:

Widya Meilani 180106003 ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian peneliti terhadap sekolah ketika mengimplementasikan pendidikan karakter dalam membina akhlak peserta didik melalui berbagai kegiatan di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan tahun ajaran 2021/2022

Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan seperti wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Sedangkan cara analisis data dilakukan dengan reduksi data, data display dan penarikan kesimpulan. Untuk keabsahan data dilakukan dengan cara meningkatkan ketekunan, triangulasi sumber, teknik dan waktu.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik dilaksanakan dengan sebagai berikut: Pertama, pendidikan karakter diimplementasikan melalui kurikulum dan program sekolah dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke semua mata pelajaran sekolah. Pendidikan karakter juga sudah terencana dalam program sekolah. Kedua, pendidikan karakter diimplementasikan melalui budaya sekolah seperti dengan membiasakan interaksi yang baik antar warga sekolah, menerapkan budaya salam, membuat tata tertib atau kebijakan- kebijakan di sekolah, dan adanya budaya sholat dhuha berjamaah. Ketiga, kegiatan pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, kegiatan ini meliputi kegiatan rutin sekolah seperti pengadaan imtaq setiap hari jum’at, pembacaan al-qur’an dikelas sebelum mulai belajar, kegiatan upacara, ekstrakurikuler pramuka, kegiatan pembersihan setiap hari sabtu, berdo’a sebelum dan sesudah belajar, dan pembiasaan salam dan tegur sapa yang sopan dan santun. Selain kegiatan rutin pendidikan karakter juga diimplementasikan melalui kegiatan spontan di sekolah seperti memberikan wejangan-wejangan positif, menegur ketika berbuat salah.

Faktor pendukung dalam kegiatan implementasi pendidikan karakter di SDN 43 Ampenan yakni adanya kerjasama antar komponen sekolah, tegas dalam menjalankan aturan-atauran di sekolah, Adanya sarana dan prasarana yang memadai disekolah dan dukungan dari orang tua peserta didik.

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Akhlakul Karimah, Sekolah Dasar

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter adalah salah satu bentuk aktivitas berupa sebuah tindakan yang ditujukan memberikan pendidikan untuk generasi penerus sehingga mampu menunjukkan suatu kualitas perilaku yang diharapkan. Pada Undang-undang tentang sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional yakni: 1) Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 2) Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2

Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang tersebut merupakan bentuk cita-cita luhur dari bangsa Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang berpondasikan nilai-nilai moral dalam berkehidupan, bernegara, dan bermasyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa menjadi satu kesatuan dengan pola pembinaan, yang dilakukan dalam rumah tangga, masyarakat, dan sekolah sebagai pioner yang paling berperan dalam pembinaan karakter atau watak anak.

2 Jamal, Ma’mur Asmani, Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012) hlm 41.

(18)

2

Heraklitus mengatakan bahwa karakter adalah takdir. Karakter membentuk takdir dari seorang pribadi. Karakter membentuk takdir seluruh masyarakat. Selanjutnya Emerson menegaskan bahwa karakter lebih tinggi dari pada intelek”.3

Dengan mengacu pada pendapat tersebut sangat jelas bahwa eksistensi karakter sangat vital bagi seseorang sehingga karakter menentukan kualitas orang tersebut. Pendidikan karakter selain itu berupaya dapat meningkatkan mutu penyelenggara dan hasil pendidikan di sekolah yang dapat mencapai pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter, seyogyanya dapat menjadikan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan mengimplementasikan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.4

Lickona mengatakan pendidikan karakter mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), melakukan kebaikan (doing the good). Senada dengan itu, Albertus menyatakan bahwa pendidikan adalah diberikannya tempat bagi kebebasan individu dalam menghayati nilai-nilai yang dianggap sebagai baik, luhur, dan layak diperjuangkan sebagai pedoman bertingkah laku dalam kehidupan peribadi berhadapan dengan dirinya, sesama, dan Tuhan.

Berdasarkan pendapat tersebut, pendidikan karakter dapat dikatakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam membantu peserta didik mengetahui dan melakukan hal-hal yang baik dan luhur sehingga ia mampu memberikan kontribusi yang baik pula (positif) dalam berkehidupan.

3 Ibid., hlm.16 4 Ibid., hlm.43

(19)

3

Pendidikan karakter di Indonesia sudah ada sebelum kemerdekaan. Ini dibuktikan dengan adanya beragam agama di Indonesia, contohnya agama Islam.

Dimana kita ketahui agama Islam adalah agama yang mengadopsi nilai-nilai karakter yang mulia, selain itu dibuktikan juga dengan berbagai keberagaman budaya dan lain sebagainya. Dan setelah kemerdekaan pendidikan karakter semakin jelas dengan adanya lima asas pancasila. Namun seiring dengan berkembangannya pemikiran pendidikan karakter mulai dicanangkan pada lembaga pendidikan dalam UUD 2003 selanjutnya tahun 2010 dan dipraktikkan di tahun 2013, sehingga dilahirkan kurikulum berbasis karakter yang dikenal dengan kurikulum 2013.5 Dalam kurikulum 2013 pendidikan karakter sebagai salah satu indikator ketercapaian dalam proses pembelajaran.6

Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Badawi menyatakan pendidikan karakter diberikan kepada peserta didik bertujuan untuk membentengi sikap, moral, perilaku, dan akhlak. Pendidikan karakter yang baik adalah pendidikan dengan mengintegrasikan mata pelajaran dengan akhlakul karimah yang didasarkan pada ajaran agama dan dilakukan dengan rasa kasih sayang, kesabaran, keteladanan, serta nasihat-nasihat yang bijaksana dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.7

Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-

5 Rahmat Rifai Lubis,” Historisitas dan Dinamika Pendidikan Karakter di Indonesia”, jurnal Pendidikan, Vol 1, Nomor 2, Agustus-januari 2019, hlm. 73.

6 Yasinta Mahendra, “Pendidikan Karakter di sekolah dasar”, Seminar Nasional, 2019, hlm 261.

7 Badawi, “Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Akhlak Mulia Sekolah”, (Seminar Nasional Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan , UMJ, Oktober 2019) Hlm 216.

(20)

4

nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.8 Untuk menjadikan manusia yang berakhlak mulia salah satu cara yang ditempuh yakni melalui pendidikan karakter, mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga ke perguruan tinggi. Bangsa ini memang benar-benar membutuhkan pendidikan karakter yang bernafaskan nilai-nilai agama. Masalah-masalah yang sering terjadi seperti kekerasan, korupsi, manipulasi, kebohongan-kebohongan yang dimulai dari hal kecil seperti menyontek, plagiat, kurangnya keteladanan dan sebagainya. Semua persoalan tersebut merupakan masalah yang menyangkut karakter yang bermuara dalam dunia pendidikan. Untuk itu pendidikan karakter menjadi suatu keharusan untuk membentuk akhlakul karimah agar menjadi manusia yang yang sesuai dengan tuntunan syari’at. Sebagaimana dalam Al- Qur’an surat Luqman ayat 17-18 diperintahkan:

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”9

8 Agus Wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Peradaban, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 48

9 QS Luqman [31]: 17-1, Departemen RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,(Solo: PT. Tiga serangkai, 2018) hal. 421

(21)

5

Dalam hadist diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مكر ايخ مكنساحأ اقلاخأ ( يراخبلا هاور يذمزتلاو )

“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)10

Dari ayat dan hadits tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan akhlakul karimah harus dijunjung tinggi. Pendidikan karakter dikatakan sebagai pondasi pembinaan akhlak dan meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia.

Pembentukan karakter dimulai dari fitrah yang diberikan oleh Tuhan yang kemudian membentuk jati diri perilaku. Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mengajarkan pendidikan karakter, oleh karena itu setiap sekolah dan masyarakat harus memiliki kedisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk.11 Dari hasil studi awal yang dilakukan oleh peneliti, di SDN 43 Ampenan sudah mulai menerapkan pendidikan karakter mulai dalam bentuk pengajaran, keteladanan sampai dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan.

Pendidikan karakter di sekolah ini diimplementasikan melalui berbagai kegiatan.

Pendidikan karakter tersebut sebagai bentuk pembinaan akhlakul karimah peserta didik.. 12 Sehingga melalui penelitian ini peneliti tertarik menggali atau meneliti lebih dalam bagaimana “Implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan”

10 Abdul Hayyi al-kattienie, Al-Tarbiayah al-khuluqiyah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004) hal. 28

11 Prayitno dan Belferik Manullang, Pendidikan Karakter Dalam Pembangunan Bangsa, (Jakarta: Grasindo, 2011), hlm. 36-38.

12 Hj. St. Nurhasanah, Wawancara, 13 November 2022

(22)

6 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan?

2. Apakah faktor pendukung implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan?

C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu:

a. Mengetahui implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

b. Mengetahui faktor pendukung implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi yaitu manfaat secara teori dan praktik.

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan bisa sebagai referensi atau pijakan bagi peneliti selanjutnya dengan konteks permasalahan yang berkaitan dengan implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik.

b. Manfaat Praktis

(23)

7

1) Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi kepala sekolah bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di sekolah.

2) Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman bagi guru serta sebagai motivasi untuk selalu mengajarkan peserta didik bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah.

3) Bagi peneliti, Untuk menambah wawasan peneliti tentang implementasi pendidikan karakter dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis hasil penelitian, penelitian ini difokuskan pada ruang lingkup dengan subyek penelitian yaitu peserta didik SDN 43 Ampenan dan obyek penelitian yaitu implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah.

2. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN 43 Ampenan. Setting penelitian ini dipilih karena dari hasil observasi awal dan wawancara langsung dengan kepala sekolah, SDN 43 Ampenan merupakan sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang diterapkan tersebut diharapkan

(24)

8

dapat membentuk akhlakul karimah peserta didik. Sehingga hal tersebut menarik perhatian peneliti untuk meneliti lebih dalam bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

E. Telaah Pustaka

Untuk melengkapi data dan pengetahuan dalam proses penelitian ini diperlukan kajian terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu terkait dengan pendidikan karakter dan akhlakul karimah, oleh karena itu perlu adanya kajian pustaka. Berdasarkan pengamatan kepustakaan yang telah peneliti lakukan, ada beberapa karya tulis yang relevan dengan tema yang peneliti angkat, yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Desy Triwulandari, yang berjudul Penerapan Pendidikan Karakter Dalam Meningkatkan Akhlak Di Homeschooling Group SD Khoiru Ummah 20 Malang. Dengan hasil penelitian yakni 1) proses pelaksanaan pendidikan karakter dalam membentuk akhlak SD Homeschooling Group SD khoiro Ummah 20 Malang dilakukan setiap hari dengan menggunakan beberapa metode tertentu yaitu sofiah, fiqih nisa’ dan tahfidz pemilihan ketua kelas, senam dan imam sholat dan pembudayaan senyum sapa dan salam. 2) kendala dari penerapan pendidikan karakter dalam meningkatkan akhlak di SD Homeschooling Group Khoiro Ummah 20 Malang yaitu dari pihak orang tua dan lingkungan yang tidak dapat diajak bersama dengan sekolah dan

(25)

9

solusinya dari kendala tersebut yaitu diadakannya evaluasi setiap harinya dan diadakannya mini parenting. 13

Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. persamaan dalam penelitian ini terletak pertama, pada jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif. Kedua, pada obyek penelitian yaitu implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan ketiga, pada subjek penelitian yakni pada peserta didik di sekolah dasar.

Sedangkan perbedaan dalam penelitian ini yaitu terletak pertama, pada lokasi penelitian yaitu lokasi penelitian terdahulu di homeschooling group SD khoiro ummah 20 Malang, sedang penelitian ini di SDN 43 Ampenan.

Kedua, pada waktu penelitian yaitu peneliti sebelumnya melaksanakan penelitian pada tahun 2015, sedangkan penelitian ini pada tahun 2022.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Nursuci Indriati Sukoco, yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembinaan Akhlak di SMP UNISMUH Makassar. Hasil penelitian menunjukkan 1) peran guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter itu sangat penting. Pembinaan karakter di sekolah dimulai dari awal pagi untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan karakter peserta didik dan semua kegiatan pembelajaran harus tersentuh dengan pendidikan karakter. 2) pembinaan akhlak peserta didik dari personal diri pribadi kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya jadi peserta didik masih melakukan penyimpangan

13 Desy Tri Wulandari, “Penerapan Pendidikan Karakter Dalam Meningkatkan Akhlak Di Homeschooling Group SD Khoiro UMMAH 20 Malang” , (Skripsi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2015), hlm. vii

(26)

10

perilaku karena kurangnya pertahanan diri peserta didik dalam mengikuti perkembangan zaman sehingga mudah terpengaruh oleh teman, dan lingkungan disekitarnya. 14

Penelitian di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. persamaan dalam penelitian ini terletak pertama, pada jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif. Kedua, obyek penelitian yaitu implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah.

Sedangkan perbedaan dalam penelitian ini yaitu terletak pertama, pada subyek penelitian. Subyek peneliti terdahulu adalah peserta didik SMP, sedangkan subyek penelitian ini adalah peserta didik sekolah dasar. Kedua, pada lokasi penelitian yaitu lokasi penelitian terdahulu di SMP unismuh Makassar, sedang penelitian ini di SDN 43 Ampenan. Ketiga, pada waktu penelitian yaitu peneliti sebelumnya melaksanakan penelitian pada tahun 2019, sedangkan penelitian ini pada tahun 2022.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Rosalin Helga Amazona, yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu Hidayatullah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan dalam perencanaan, kepala sekolah dan guru telah membuat program sekolah berupa pembiasaan dan budaya sekolah yang berkaitan dengan nilai religius, jujur, tekun, disiplin, dan peduli/tanggung jawab. Pelaksanaan program sekolah berupa pembiasaan dan budaya sekolah yang berkaitan dengan nilai

14 Nur Suci Indriati, “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembinaan Akhlak di SMP UNISMUH Makassar” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Makassar, Makassar, 2019), hlm vii

(27)

11

religius, jujur, tekun, disiplin, dan peduli tanggung jawab adalah dengan 1) mewajibkan peserta didik untuk shalat dhuha berjamaah di masjid sekolah guna melatih sikap religius peserta didik; 2) menekankan pada peserta didik untuk tidak mencontek saat ulangan guna melatih sikap jujur peserta didik;

3) melarang peserta didik untuk meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung guna melatih sikap tekun pada peserta didik supaya dapat menyimak pelajaran dengan seksama; 4) menekankan pada peserta didik untuk melaksanakan piket sesuai jadwal guna melatih sikap disiplin peserta didik; 5) mewajibkan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya guna melatih sikap peduli/tanggung jawab peserta didik kepada sesama.15

Penelitian di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. persamaan dalam penelitian ini terletak pertama, pada objek penelitian yaitu implementasi pendidikan karakter. Kedua, subyek penelitian yaitu peserta didik pada sekolah dasar. Sedangkan perbedaan dalam penelitian ini yaitu terletak pertama, pada jenis penelitian. Peneliti terdahulu menggunakan jenis penelitian kuantitatif, sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Kedua, pada lokasi penelitian yaitu lokasi penelitian terdahulu di SDIT hidayatullah Yogyakarta, sedang penelitian ini di SDN 43 Ampenan. Ketiga, pada waktu penelitian yaitu peneliti sebelumnya melaksanakan penelitian pada tahun 2016, sedangkan penelitian ini pada tahun 2022.

15 Rosalin Helga Amazona, “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu Hidayatullah Yogyakarta” (Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2016), hlm ii

(28)

12 F. Kerangka Teori

1. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter sejatinya sudah dilakukan sejak abad terdahulu, namun pada abad 21 ini pendidikan karakter lebih dimunculkan lagi seiring dengan kebutuhan zaman. Salah satu dari tujuan pendidikan nasional tertuang pada pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 yakni mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Dari tujuan pendidikan Nasional tersebut pendidikan tidak hanya membentuk insan yang cerdas secara intelektual, namun juga cerdas dalam berkepribadian dan berkarakter.16 Seyogyanya pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kita semua sehingga mampu memberikan pengaruh yang besar dalam mencapai tujuan pendidikan karakter tersebut. Karakter yang kuat akan membentuk suatu mentalitas yang kukuh serta melahirkan spirit dan memiliki sikap pantang menyerah.

Pengertian pendidikan karakter menurut Zubaedi:

Pendidikan karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen disekolah baik dari aspek isi kurikulum (the content of the curriculum), proses pembelajaran (the process of instruction), kualitas hubungan (the quality of relationship), penanganan mata pelajaran (the handling of discipline), pelaksanaan aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.17

16 Jamal, Ma’mur Asmani, Panduan.. hlm 29.

17 Zubaidi, Desain Pendidikan Karakter. (Jakarta: Kencana, 2012). Hlm 14

(29)

13

Raharjo juga menjelaskan tentang pendidikan karakter yakni,

Pendidikan karakter sebagai suatu proses pendidikan secara holistis yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.18

Sedangkan Creasy mengartikan,

Pendidikan karakter sebagai upaya mendorong peserta didik tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berpikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.19

Dari penjelasan tersebut pendidikan karakter tidak hanya berbicara sebatas memberikan dan menerima ilmu tentang nilai-nilai yang baik, tetapi lebih pada menjadikan nilai-nilai tersebut tertanam dan menyatu dalam pikiran dan tindakan.

Suyanto juga menyebutkan bahwa pendidikan karakter melibatkan tiga aspek yakni pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).20 lebih lanjut Thomas lickona menjelaskan pendidikan karakter dengan ketiga aspek tersebut akan efektif. Pendidikan karakter diimplementasikan secara sistematis dan berkelanjutan akan menjadikan anak cerdas emosinya. Dengan kecerdasan emosi inilah akan menjadikan pondasi penting dalam mempersiapkan anak menuju kemasa

18 ibid., hlm.16 19 Ibid., hlm 16

20 Jamal, Ma’mur Asmani, Panduan.. hlm 31.

(30)

14

depan yang cerah selain itu akan menjadi senjata dalam menghadapi segala macam tantangan kehidupan.21

Sedangkan berdasarkan dokumen kementerian pendidikan Nasional,

Pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.22

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter sebagai upaya penanaman kecerdasan. Bukan hanya kecerdasan secara intelektual namun lebih dalam kepada penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur dalam berinteraksi baik dengan Tuhan, diri sendiri, anatarsesama, dan lingkungannya. Nilai-nilai luhur tersebut yakni seperti kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan berfikir, dan berfikir logis. Untuk itu penanaman pendidikan karakter membutuhkan proses seperti tauladan, dan pembiasaan dan pembudayaan peserta didik khususnya dilingkungan sekolah.23

b. Tujuan Pendidikan Karakter

Sejatinya pendidikan di dunia ini memiliki dua tujuan yakni menjadikan manusia cerdas (smart) dan menjadi manusia yang baik

21 Ibid.

22 Ni Putu Suwardani, “Quo Vadis” Pendidikan Karakter dalam Merajut Harapan Bangsa yang Bermartabat, ( Denpasar- Bali: UNHI PRESS, 2020), Hlm. 33

23 Zubaidi, Deasain., Hlm 17

(31)

15

(good).24 Menjadikan manusia yang baik maka pendidikan karakter adalah kuncinya. Pendidikan karakter sejatinya tujuannya untuk memperbaiki tingkah laku peserta didik supaya beretika dan bermoral yang baik dalam bermasyarakat.25

Pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang dengan standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.26

secara terperinci pendidikan karakter memiliki lima tujuan yakni:

Pertama, mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai penerus bangsa.

Keempat, mengembangkan manusia menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.27

24 Ni Putu Suwardani, “Quo., Hlm. 31

25 Sofyan Mustoip, dkk, Implementasi Pendidikan Karakter, (Surabaya: CV. Jakad Publishing, 2018) hlm. 59

26 Jamal, Ma’mur Asmani, Panduan.. hlm 43.

27 Zubaidi, Deasain., Hlm. 18.

(32)

16 c. Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1990-an. Sejak zaman pra- kemerdekaan, pendidikan karakter dilakukan dalam bentuk pendidikan agama dan moral baik di sekolah maupun di pesantren. Hingga pada 2 Mei 2010, Menteri Pendidikan Nasional RI saat itu pada acara peringatan Pendidikan Nasional, secara resmi mencengangkan penerapan pendidikan karakter di Indonesia.28 Sejarah pendidikan karakter pada lembaga sekolah disebabkan karena berbagai masalah yang terjadi, seperti pendidikan karakter hanya di terapkan pada mata pelajaran agama, PKN, atau pada mata pelajaran tertentu saja. Sehingga penerapan pendidikan karakter tidak terlaksana secara optimal, sehingga pemerintah menerapkan pendidikan karakter harus terintegrasi pada mata pelajaran yang lainnya.29

Lebih lanjut lagi seiring dengan berkembangnya zaman yang di barengi dengan perkembangan pemikiran, Indonesia memasukkan penerapan pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan yang dicanangkan dalam UUD tahun 2003 selanjutnya tahun 2010 dan pengaplikasiannya di tahun 2013. Sehingga lahirnya kurikulum kurikulum yang berbasis karakter atau disebut dengan K-13.30

Lickona berpendapat bahwa sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan watak dan karakter peserta didik.

School must help children understand core values, adopt or commit to them, and then act upon them in their own lives. Artinya, dalam pendidikan karakter, sekolah harus mendorong peserta didik untuk mampu memahami nilai-nilai moral yang baik (moral knowing),

28 Rahmat Rifai Lubis, Historisitas., hlm. 71.

29 Ibid.

30 Ibid., hlm. 73.

(33)

17

mampu merasakan nilai-nilai luhur itu hingga ke lubuk hati yang paling dalam (moral feeling), dan akhirnya memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan apa yang diketahui dan dirasakannya itu kedalam tindakan nyata sehari-hari apapun profesinya (moral behavior).

Sekolah merupakan tempat yang sangat efektif untuk menginternalisasi pendidikan karakter terhadap peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan (SKL).31

Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dilakukan dengan beberapa diantaranya:

1) Mengajarkan

Mengajarkan berarti memberikan pemahaman pada peserta didik tentang struktur nilai tertentu tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan, pemanfaatannya, kegunaan dan kerugiannya.

Dalam konsep mengajarkan juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk serta berperan aktif seperti mengajukan apa yang dipahami dan menceritakan pengalaman. Jadi dengan cara tersebut akan mudah memberikan pengajaran pada peserta didik dengan sesuai yang sudah tidak asing lagi baginya.

2) Keteladanan

Keteladanan merupakan hal paling penting dalam pendidikan karakter di sekolah yang perlu dilakukan oleh guru. dalam peribahasa dikatakan “keteladanan akan lebih mantap daripada hanya sekedar ucapan” artinya dengan memberikan keteladanan atau memberikan

31 Ni Putu Suwardani, “Quo., Hlm. 101.

(34)

18

contoh tingkah laku secara langsung akan lebih mudah untuk diterima dan diikuti oleh peserta didik dari pada sekedar diperintah hanya dengan ucapan saja. Untuk itu guru harus sebagai pemberi teladan di sekolah harus terlebih dahulu mempunyai karakter yang akan diajarkan, sering dikatakan juga bahwa seorang guru adalah yang digugu ucapannya dan ditiru perilakunya oleh peserta didik. Namun keteladanan bukan hanya diberikan oleh peserta didik namun keteladanan datang dari seluruh warga sekolah atau kependidikan lainnya.

3) Praksis prioritas

Artinya pendidikan dituntut untuk mampu membuat verifikasi sejauh mana prioritas yang telah direncanakan telah dapat berjalan atau direalisasikan.

4) Refleksi

Refleksi disini merenungkan apa yang telah dipelajarinya atau bercermin dari sesuatu yang telah dialami. Dengan begitu dengan metode refleksi akan membantu peserta didik atau tenaga pengajar dapat mengupgrade diri dari keadaan sebelumnya yang tidak sesuai.32 2. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Konsep dasar pendidikan karakter di sekolah berlandaskan pada visi, misi, dan tujuan sekolah. Sesuai dengan prinsip implementasi pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dirancang oleh kemendiknas

32 Rohendi E, “Pendidikan Karakter di Sekolah”, Edu Humaniora jurnal pendidikan Dasar Kampus Cibiru, Vol 1, Nom 3, 2016

(35)

19

tahun 2010, tujuan sekolah atau madrasah diimplementasikan melalui 1) kurikulum dan program sekolah 2) budaya sekolah baik di lingkungan guru maupun siswa, 3) pengembangan diri melalui program pembiasaan dan pengembangan minat dan bakat siswa.33

a. Kurikulum atau program sekolah

Ada beberapa pengembangan kurikulum yang bisa dilakukan diantaranya: Pertama, Lebih memaksimalkan proses integrasi nilai-nilai karakter dalam semua mata pelajaran, baik mata pelajaran secara konten mengajarkan nilai-nilai karakter dan kebajikan seperti mata pelajaran PAI, maupun materi yang tidak secara konten mengajarkan nilai-nilai karakter seperti matematika, dan lain-lainnya. Kedua, Memaksimalkan program pembiasaan baik yang bersifat ritual maupun non-ritual selama proses pembelajaran. Yang dimaksud disini yaitu misal pembiasaan do’a sebelum memulai pembelajaran, pembacaan do’a sehari-hari, ayat-ayat pendek diawal pembelajaran. Guru selain sebagai pendamping mata pelajaran tetapi juga memberikan pemaknaan yang bisa dipetik oleh peserta didik. Kegiatan-kegiatan tersebut jika dilakukan sebagai bentuk kebiasan akan lebih mudah membekas dan diteladani oleh siswa/siswi.

Ketiga, Memberikan penekanan kembali kepada para pengajar PAI dan PKN untuk tidak terjebak pada materi-materi yang sifatnya kognitif dan hafalan semata, karena pada dasarnya materi pelajaran PAI dan PKN secara substantif lebih pada penanaman (inculcation approach) dan

33Rahmat Kamal, “Implementasi Pendidikan Karakter Di SD/MI”. Jurnal Madaniyah, Hal 28-32

(36)

20

pengalaman-pengalaman nilai-nilai karakter (action learning approach).

Maksudnya disini mata pelajaran PAI dan PKN menjadi pemegang peran paling besar dalam penanaman nilai-nilai karakter. yang menjadi kekhawatiran juga disini yaitu hasil dari setelah mempelajari mata pelajaran tersebut jangan sampai ketika ulangan atau belajar memiliki nilai yang tinggi namun gagal dalam penanaman nilai pada peserta didik.

Keempat, Memaksimalkan kembali proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dalam setiap mata pelajaran sehingga akan memberikan kesan yang mendalam.

Kelima, Memaksimalkan kembali proses komunikasi antara guru dengan orang tua siswa untuk memantau sejauh mana perkembangan siswa atau putra-putri mereka. Keenam, Memaksimalkan hadiah terhadap sejumlah prestasi siswa tidak hanya dibidang akademik akan tetapi juga di bidang ibadah dan akhlak keseharian dengan cara mengolah sejumlah data dari buku evaluasi siswa dan juga data dari hasil komunikasi aktif dengan para orang tua tentang laporan ibadah dan akhlak keseharian siswa.

b. Budaya sekolah

Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antaranggota kelompok masyarakat sekolah.34

34 Sri Judiani, “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Edisi khusus III, Oktober 2010, hlm. 286

(37)

21

Lingkungan merupakan salah satu faktor besar yang bisa mempengaruhi siswa. Salah satunya lingkungan sekolah, siswa-siswi akan belajar dari lingkungan yang mana dia tempati, inilah yang kemudian harus kita sadari untuk menciptakan sebuah budaya dan kultur sekolah yang positif bagi perkembangan karakter siswa. Menciptakan budaya di sekolah atau madrasah tentu harus diawali adanya keteladanan dari guru dan orang-orang yang berada didalam lingkungan sekolah.

Budaya sekolah ini secara umum cakupannya yakni ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial di sekolah.35 Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.36

c. Pengembangan diri

Pengembangan diri disini maksudnya yaitu berbagai macam program tambahan atau pengembangan diluar jam pembelajaran yang dilaksanakan oleh pihak sekolah untuk menunjang pembentukan karakter siswa. Dalam program pengembangan dir, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan melalui pengintegrasian dalam kegiatan

35 Said Hamid; dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta:

kemendiknas Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, 2010) hlm 14-19 36 Ibid.

(38)

22

sehari-hari disekolah yakni seperti pada kegiatan rutin sekolah, kegiatan spontan, keteladanan dan pengkondisian.

Pertama, kegiatan rutin sekolah contohnya kegiatan upacara, pemeriksaan kebersihan, kegiatan ibadah, berdo’a, dan mengucap salam.

kedua, kegiatan spontan biasanya pada saat guru mengetahui adanya tingkah laku peserta didik yang tidak baik sehingga guru harus mengoreksi atau memberikan arahan pada peserta didik tersebut.

Contohnya ketika siswa buang sampah sembarangan, berkata-kata kotor, berkelahi, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh dan yang lainnya. Ketiga, keteladanan ini merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain memberikan contoh yang baik untuk diteladani oleh peserta didik. Misalnya dalam hal berpakaian rapi, datang tepat waktu, berkata sopan, kasih sayang, jujur, menjaga kebersihan, saling membantu dan perilaku yang baik lainnya. Keempat, pengkondisian ini misalnya sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter yang mendukung kegiatan itu seperti toilet yang selalu bersih, bak sampah yang ada di berbagai tempat, teratur dan disiplin.37

Ada beberapa contoh pembiasaan karakter yang dapat dilakukan di sekolah sebagai berikut38:

37 Ibid.

38 Evina Cinda Hendriana, Arnold Jacobs, “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Melalui Keteladanan dan Pembiasaan”, Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, Vol. 1, Nomor 2, September 2016, hlm. 28-29

(39)

23

a. Religi: 1) berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, 2) merayakan hari-hari besar keagamaan, 3) melaksanakan ibadah

b. Jujur: 1) menyediakan fasilitas tempat, dan pengumuman barang temuan atau hilang, 2) transparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala, 3) larangan menyontek.

c. Toleransi: 1) memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas, 2) memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus, 3) bekerja dalam kelompok yang berbeda.

d. Disiplin: 1) memiliki catatan kehadiran, 2) memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin, 3) memiliki tata tertib sekolah, 4) menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib, 5) membiasakan hadir tepat waktu.

e. Kerja keras: 1) menciptakan suasana kompetisi yang sehat, 2) memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar, 3) menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.

f. Kreatif: 1) menciptakan situasi belajar yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif, 2) memberikan tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang otentik maupun modifikasi.

g. Mandiri: menciptakan suasana sekolah yang membangun kemandirian peserta didik.

h. Demokrasi: 1) mengambil keputusan secara bersama melalui musyawarah dan mufakat, 2) pemilihan pengurus kelas secara terbuka, 3)

(40)

24

mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.

i. Rasa ingin tahu: 1) menciptakan suasana kelas yang mengandung rasa ingin tahu , 2) tersedia media komunikasi dan informasi.

j. Semangat kebangsaan: 1) melakukan upacara rutin sekolah, 2) melakukan upacara hari-hari besar Nasional, 3) menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan Nasional, 4) memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah, 5) mengikuti lomba pada hari besar Nasional, 6) bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial- ekonomi.

k. Cinta tanah air: 1) menggunakan produk buatan dalam negeri, 2) menyediakan informasi tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia, 3) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, 4) memajang foto presiden, wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia (gambar pakaian adat, tarian adat, rumah tradisional, senjata tradisional, dan alat musik tradisional).

l. Menghargai prestasi: 1) memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik, 2) memajang tanda-tanda penghargaan prestasi, 3) menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.

m. Bersahabat/komunikatif: 1) berkomunikasi dengan bahasa yang santun, 2) pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik, 3) pembelajaran dialogis, 4) guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik.

(41)

25

n. Cinta damai: 1) menciptakan suasana kelas yang damai, 2) membiasakan perilaku yang anti kekerasan, 3) pembelajaran yang tidak bisa gender, 4) kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.

o. Gemar membaca: 1) program wajib baca, 2) frekuensi kunjungan perpustakaan, 3) menyediakan fasilitas suasana menyenangkan untuk membaca, saling tukar bacaan, 4) pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi.

p. Peduli lingkungan: 1) pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah, 2) tersedianya tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, 3) menyediakan kamar mandi dan air bersih, 4) pembiasaan hemat energi, 5) membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik, 6) menyediakan peralatan kebersihan.

q. Peduli sosial: 1) memfasilitasi kegiatan yang bersifat sosial, 2) melakukan aksi sosial, 3) menyediakan fasilitas untuk menyumbang, 4) berempati kepada sesama warga sekolah, 5) membangun kerukunan warga kelas.

r. Tanggung jawab: 1) melakukan tugas tanpa disuruh, 2) pelaksanaan tugas piket secara teratur, 3) peran serta aktif dalam kegiatan sekolah, 4) mengajukan usul pemecahan masalah.

(42)

26

3. Faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Akhlak

Ada beberapa faktor pendukung implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak dibawah ini:39

a. Lingkungan sekolah yang mendukung program-program pelaksnaan proses pembelajaranpembinaan akhlakul karimah diantaranya:

Pelaksanaan proses pembelajaran dan proses pembiasaan akhlakul karimah diantaranya: pelaksanaan sholat dhuha, sholat berjamaah Zuhur dan Ashar, tahfiz dan tahsin di musholla, masjid atau aula sekolah, media pembelajaran dan sarana prasarana yang lain yang menunjang proses pembelajaran.

b. Dalam pelaksanaan pendidikan Islam yang paling utama adalah karakter pendidik yang mencerminkan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari- harinya. Proses pelaksanaan pendidikan akhlak (sikap jujur) sangatlah penting dalam pembentukan karakter, diantaranya karakter pendidik sebagai qudwah hasanah bagi peserta didik. Artinya pendidik yang mengajar disekolah memiliki uswah hasanah yang baik bagi peserta didik seperti memiliki kompetensi kepribadian Islami dan mempunyai kompetensi keshalihan.

c. Kerjasama antar sekolah dengan orang tua peserta didik dalam mengevaluasi pendidikan akhlak peserta didik dalam kegiatan sehari-hari,

39 Hasnan Syarief, “Implementasi Pendidikan Karakter Siswa Perguruan Islami An-Nizam Medan”, Jurnal EduTech, Vol. 3, No. 1, Maret 2017, hlm. 84-85

(43)

27

ketika di sekolah, di rumah dan di lingkungan masyarakat menggunakan buku kegiatan peserta didik.

Menurut pendapat lain faktor pendukung pendidikan karakter diantaraya:

a. Antusiasi dan semangat siswa

Antusiasi dan semangat peserta didik sangat mendukung dalam kegiatan pengembangan diri. Dengan begitu peserta didik dapat mengembangkan karakternya masing-masing dalam kehidupan sehari-harinya.

b. Kerjasama dan Kekompakan Semua Pihak

Dengan adanya kerjasama dan kekompakan semua pihak akan mnimbulkan rasa memiliki semua dalam semua pihak.

c. Dukungan Orang Tua

Dukungan orang tua sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter yang telah diintegrasikan dalam mata pelajaran dan kegiatan lainnya. Dukungan orang tua dapat berupa memberikan teladan yang baik dan mengawasi anak-anaknya ketika di rumah, memberikan suasana yang kondusif bagi siswa yang membiasakan kebaikan di rumah, seperti memberikan dukungan kepada anak yang berperilaku baik dan memberikan teguran pada anak-anak yang berperilaku tidak baik

d. Keteladanan Guru

Keteladanan guru sangat penting seperti memberikan contoh berpakaian rapi, sopan, bersih, dan berkata-kata baik. Sehingga akan menimbulkan prilaku-prilaku yang baik bagi peserta didik.

e. Komunikasi yang Baik Antar Peserta Didik dan Guru

(44)

28

Dengan adanya komunikasi yang baik akan memudahkan dalam mengetahui permasalahan yang terjadi terhadap perkembangan karakter peserta didik didalam walaupun luar sekolah.

f. Alokasi Waktu yang Cukup

Alokasi waktu yang cukup akan memudahkan peserta didik mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

g. Sarana dan Prasarana yang Cukup Mendukung dalam melaksanakan pendidikan Karakter

Dengan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang makan akan membantu peserta didik dalam mengembangkan karakternya.40

4. Hubungan pendidikan karakter dengan Pembinaan akhlak

Pendidikan karakter hakikatnya merupakan pengintegrasian antara kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Lickona mengatakan pendi dikan karakter merupakan upaya membantu peserta didik untuk memahami, peduli dan berbuat atau bertindak berdasarkan nilai-nilai dan etika. Pendidikan karakter merupakan pendidikan budi pekerti plus dengan melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).41

Berbicara tentang akhlak selalu berkesinambungan dengan dengan kehendak dan adat (kebiasaan). Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang akhlak yakni:

Akhlak adalah hay’at atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan

40 Tim Penyusun Kemendiknas, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Pusat Kurikulum dan Pembukuan, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas. 2011) hlm. 13

41 Zubaidi, Desain., Hlm 41-42

(45)

29

pertimbangan dan pemikiran. maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, ia dinamakan akhlak yang baik tetapi jika ia menimbulkan tindakan yang jahat maka ia dinamakan akhlak yang buruk.42

Sedangkan Muhyiddin ibnu Arabi mengatakan:

Akhlak merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu.

Keadaan pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan. 43

Sedangkan menurut Dr. Ahmad Muhammad Al-Hufi:

Akhlak adalah adat yang dengan sengaja dikehendaki keberadaannya.

Dengan kata lain, akhlak adalah azimah (kemauan yang kuat ) tentang sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, sehingga menjadi adat atau kebiasaan yang mengarah pada kebaikan atau keburukan.44

Jadi dapat disimpulkan dari definisi para ahli di atas, akhlak sesungguhnya berakar dari dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Ia telah menjadi sebuah kebiasaan, sehingga kebiasaan yang lama kelamaan menjadi kebiasaan yang spontan dilakukan. Contohnya akhlak seorang anak yang dibiasakan sikat gigi sebelum tidur, membaca basmallah sebelum melakukan pekerjaan, dan lain sebagainya jika dilakukan secara terus menerus maka lama kelamaan akan menjadi kegiatan yang akan spontan dilakukan.

Berperilaku baik atau berakhlakul karimah tentunya membutuhkan sebuah usaha dari seseorang. Diantaranya yakni melakukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan. Untuk itulah dalam membentuk akhlakul

42 Munir Shamsul Amir, Ilmu Akhlak., (Jakarta: Hamzah, 2016). Hlm 1-5 43 Ibid.

44 Ibid.

(46)

30

karimah pendidikan karakter merupakan jalan yang harus ditempuh.

Pendidikan karakter tidak terlepas dari pengembangan diri, moral dan kebiasaan yang baik. Pendidikan karakter dikatakan sebuah sistem yang membekali peserta didik mengenai nilai, norma, dan pengetahuan yang menimbulkan kesadaran sehingga akan menjadi insan yang kamil.45

Karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Karakter diartikan juga sebagai akhlak, sehingga dikatakan bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berahklak dan sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak berakhlak.46Hadirnya pendidikan karakter dikatakan sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia. Untuk itu, perlu dicetuskan pendidikan karakter bangsa sebagai wujud pendidikan karakter kepada peserta didik.47 Pendidikan karakter berkaitan dengan nilai-nilai adat yang baik, sikap positif yang mengandung pengetahuan, bertujuan untuk memberikan peserta didik dalam mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab.

45 Badawi, “Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Akhlak Mulia di Sekolah”, Seminar Nasional Pendidikan, Edisi Oktober, Hlm 207

46 Syamsul Sanusi, “Hubungan Pendidikan Karakter Dengan Budi Pekerti Siswa di SMP Negeri 2 Galesong Kabupaten Takalar”, Seminar Nasional, Oktober 2016, Hlm 124

47 Ibid.,125

(47)

31

Dalam pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang buruk dan mana yang salah tetapi juga menanamkan kebiasan baik sehingga menjadikan peserta didik paham mana yang kebiasaan yang baik dan buruk, serta merasakan mana kebiasaan baik dan biasa melakukannya. Sehingga pendidikan karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang terus dipraktikkan agar peserta didik mampu memahami, merasakan dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan tanpa harus didoktrin apalagi diperintah secara paksa. 48

Sehingga Pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak mulia merupakan suatu keniscayaan. Budi pekerti dan akhlak mulia merupakan karakter dari yang mempengaruhi peradaban, harkat dan martabat manusia.

berakhlak mulia berarti ia berkarakter. Pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak mulia inilah yang akan menjadi pondasi pembangunan manusia seutuhnya.49

G. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian mengenai implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan tahun 2021 menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dikarenakan penelitian yang dipilih membutuhkan pengkajian dan penginterpretasian arti dari data berdasarkan fenomena yang terjadi dilapangan. Menurut Erikson dalam buku Anggito dan Setiawan, menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan penelitian yang berusaha untuk menemukan dan menggambarkan

48 Ibid.,128

49 Badawi, “Pendidikan., hlm 216

(48)

32

secara naratif kegiatan dan akibat dari tindakan yang dilakukan selama melakukan penelitian. 50

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif. Tujuan dari penggunaan pendekatan tersebut untuk penginterpretasian arti dari data berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan mengenai Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif kedudukan peneliti sebagai instrumen kunci penelitian karena peneliti menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian. Peneliti sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis data dan pada akhirnya p eneliti menjadi pelapor hasil penelitian.51 Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lokasi penelitian mutlak diperlukan. Peneliti terjun ke lokasi penelitian bertujuan untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat mengenai Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Akhlakul Karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

3. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di SDN 43 Ampenan. Adapun alasan untuk melakukan penelitian disini yaitu karena di SDN 43 Ampenan juga

50 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat: CV Jejak, 2018), hlm. 7.

51Ibid.,, hlm. 168.

(49)

33

menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut diharapkan dapat membentuk akhlakul karimah peserta didik. Untuk itu peneliti merasa perlu meneliti lebih dalam tentang bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam membentuk akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik di SDN 43 Ampenan.

4. Sumber Data

Untuk mendapatkan data valid yang dapat mendukung penelitian yang dilakukan maka diperlukan sumber data yang dipercaya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya “Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh”.52 Sumber data dibagi menjadi dua yakni sumber primer dan sumber sekunder.53

Sumber data primer adalah data yang langsung diberikan oleh sumber data kepada peneliti.54 Adapun sumber primer dalam penelitian ini adalah:

a. Peserta didik SDN 43 Ampenan.

b. Kepala sekolah SDN 43 Ampenan c. Guru di SDN 43 Ampenan

Sedangkan sumber data sekunder adalah data yang tidak langsung diberikan oleh sumber data melainkan melalui orang lain maupun dokumentasi.55 Sehingga sumber sekunder dalam penelitian ini berupa dokumentasi atau

52Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2014), hlm. 172.

53Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm. 308.

54Ibid.

55Ibid., hlm. 308-309.

(50)

34

data-data tertulis yang terkait dengan implementasi pendidikan karakter dalam pembinaan akhlakul karimah dan faktor pendukung Implementasi Pendidikan Karakter dalam pembinaan akhlakul karimah peserta didik.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian tentunya dibutuhkan berbagai macam data yang dapat mendukung keberlangsungan penelitian itu sendiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan data, maka diperlukan berbagai teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah, observasi, wawancara dan dokumentasi. Lebih jelasnya maka peneliti akan memaparkannya sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara teliti dan pencatatan dengan sistematis.56 Observasi dari segi pelaksanaan pengumpulan data dibedakan menjadi dua, yakni observasi partisipan dan observasi non partisipan.57 Adapun pengertian observasi partisipan dan observasi non partisipan sebagai berikut:

1) Observasi partisipan, dalam observasi ini peneliti terlibat atau ikut serta dalam kegiatan yang sedang diamati atau sumber data yang digunakan dalam penelitian.58

56Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), cet ke-3, hlm. 143.

57Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan…, hlm. 204.

58Ibid.

Gambar

Tabel 2.1   Daftar Sarana dan Prasarana SDN 43 Ampenan, 40.

Referensi

Dokumen terkait

Kepala Sekolah Rekomendasi hasil tindak lanjut penelitian ini bagi kepala sekolah, kepala sekolah agar dapat konsisten mendampingi guru dalam menerapkan pendidikan karakter sehingga

Penelitian ini memiliki ujuan yakni guna mengulas bagaimana peran kepala sekolah dalam aspek pengimplementasian Pendidikan karakter di sekolah dengan metode penelitian

Metode tersebut bisa membangkitkan keinginan para anak-anak untuk melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya dan orang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Marzuki, “metode reward adalah

Kesimpulan Berdasarkan paparan data dan hasil temuan serta pembahasan tentang strategi kepala sekolah SMKN 1 Kopang dalam mengembangkan budaya religius di sekolah, maka peneliti dapat

Tidak hanya di lingkungan sekolah saja mereka melaksanakan pendidikan karakter Namun di luar mereka juga melaksanakan dan ada pada diri siswa tersebut.14 Adapun hasil wawancara

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah belum memberikan efek yang signifikan terhadap kinerja guru.5 Ori Eyal 2011 menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan

MTs Negeri 2 Sleman merupakan salah satu sekolah yang menerapkan berbagai kegiatan positif dalam menanamkan pendidikan karakter di dalam jiwa peserta didik melalui implementasi

Dari hasil wawancara dengan Bapak kepala sekolah, staf guru, wali siswa, dan siswa itu sendiri peneliti dapat menyimpulkan bahwa, pelaksanaan pendidikan keberlanjutan maupun langkah