• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Interaksi Sosial

1. Pengertian Interaksi Sosial

Secara bahasa sosial berarti sesuatu yang berkenaan dengan orang lain atau masyarakat. Sosial juga bisa berarti suka memperhatikan kepentingan umum, seperti suka menolong, menderma, dan sebagainya. Area utama dari perkembangan sosial adalah pertemanan. Dalam pertemanan anak ingin bisa bermain sebanyak mungkin dengan temantemannya. Pengalaman sosial yang dimiliki anak dapat dilihat dari respon yang dimiliknya dalam pertemanan. Anak juga mulai memahami bahwa fungsi pertemanan adalah untuk berbagi, memberi dukungan, dan bergantian. Dalam pertemanan anak juga akan mendapatkan pengalaman sosial. Sedari usia dini, pengalaman sosial tersebut memainkan peranan yang penting dalam menentukan hubungan sosial anak kelak.14

Interaksi secara umum dapat diartikan sebagai kegiatan saling berhubungan ataupun saling bereaksi yang terjadi pada dua orang atau lebih, sedangkan sosial berkenaan dengan masyarakat. Pada dasarnya, manusia itu adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang memerlukan orang lain untuk keberlangsungan hidup yang dijalaninya. Manusia berusaha menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, baik itu dengan orang yang lebih tua atau dengan yang lebih muda, bahkan dengan teman seusianya atau dengan teman sebaya.

13 Mega Sriulina Sihaloho, Evie A A Suwu, and Rudy Mumu, ‗Kajian Game Online Terhadap Anak Di Bawah Umur Di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado (Studi Kasus Pada Anak Di Bawah Umur 12 Tahun)‘, Jurnal Holistik, 13.1 (2020), 8

<https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/view/29450>.

14 Antonius Purwanto Suryaningsih, Rudi Mumu, ‗Jurnal Ilmiah Society‘, Journal Ilmiah Society, 2.1 (2022), 1–10.

Interaksi sosial merupakan perwujudan dari hubungan atau interaksi sosial. Dapat diambil kesimpulan interaksi sosial adalah hubungan atau komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan untuk saling mempengaruhi satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicon).

Adapun Muhibin mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan sosial self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Sedangkan menurut Hurlock mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial.15

Disimpulkan dari beberapa penjelasan di atas bahwasannya interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Dalam hubungan ini, individu atau kelompok dapat saling bekerja sama atau bahkan berkonflik secara formal maupun informal, langsung maupun tidak langsung sebagai bentuk interaksi.

2. Ciri-ciri Interaksi Sosial

Charles P. Loomis mencantumkan ciri penting dari interaksi sosial, yaitu:

1. Jumlah pelaku lebih dari seorang, bisa dua atau lebih.

2. Adanya komunikasi antara para pelaku dengan menggunakan simbol- simbol.

15 Ansyah, Safitri, and Zwagery,Hubungan Persepsi Co-Parenting Dengan Interaksi Teman Martapura the Relationship of Co-Parenting Perception With the Peer Interaction‘, Jurnal Kognisia, (2019), 15–25.

.

3. Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lampau, kini dan akan datang, yang menentukan sifat dari aksi yang sedang berlangsung.

4. Adanya tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidak sama dengan yang diperkirakan oleh para pengamat.

Apabila interaksi sosial itu diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk waktu yang lama, maka akan terwujud hubungan sosial (sosial relation).

Secara teoritis, sekurang-kurangnya ada dua syarat bagi terjadinya suatu interaksi sosial, yaitu terjadinya kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung kepada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pada sesuatu atau kelakuan orang lain

3. Aspek-Aspek Interaksi Sosial

George C. Homans menyebutkan aspek-aspek dalam proses interaksi sosial, yaitu:

1. Motif atau Tujuan yang Sama Suatu kelompok dapat terbentuk atas dasar motif atau tujuan yang sama dan tidak terbentuk secara spontan saja. 16

2. Suasana Emosional yang Sama Dalam suatu kelompok setiap anggota memiliki emosional yang sama. Motif atau tujuan dan suasana emosional yang sama dalam suatu kelompok disebut sentiment.

3. Ada Aksi atau Interaksi Tiap anggota kelompok harus saling berinteraksi satu sama lain atau dapat bekerja sama. Aksi merupakan tingkah laku dari setiap anggota kelompok. Dalam kehidupan

16 Shokhibul Mighfar, ‗SOCIAL EXCHANGE THEORY : Telaah Konsep George C. Homans Tentang Teori Pertukaran Sosial‘, LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan, 9.2 (2015), 259–82

<https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v9i2.98>.

berkelompok, setiap aksi anggota kelompok akan menimbulkan interaksi pada anggota kelompok lain, kemudia interaksi tersebut menimbulkan sentiment pada masing-masing anggota kelompok.

4. Proses segitiga dalam interaksi sosial (Aksi, Interaksi, dan Sentimen), kemudian menciptakan bentuk piramida, dimana pimpinan kelompok dipilih secara spontan dan wajar serta pimpinan menempati puncak piramida tersebut.

5. Dipandang dari sudut totalitas dari setiap anggota kelompok berada dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan secara terus menerus.

6. Hasil penyesuaian dari tiap anggota kelompok terhadap lingkungannya tanpa tingkah laku anggota kelompok yang seragam.

Tingkah laku yang seragam inilah yang disebut sistem internal, yang meliputi perasaan, pandangan, sikap dan didikan yang seragam dari anggota-anggota kelompok. Berdasarkan dari uraian diatas tentang aspek-aspek dalam proses interaksi sosial dapat disimpulkan bahwa dalam proses interaksi sosial terdapat beberapa aspek yaitu terdapat motif atau tujuan yang sama dimana suatu kelompok harus memiliki tujuan yang sama, suasana emosional yang sama yakni setiap anggota kelompok harus memiliki emosional yang sama, ada aksi atau interaksi yaitu setiap anggota kelompok harus dapat berinteraksi. 17

17 Shokhibul Mighfar, ‗SOCIAL EXCHANGE THEORY : Telaah Konsep George C. Homans Tentang Teori Pertukaran Sosial‘, LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan, 9.2 (2015), 259–82.

<https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v9i2.98>.

4. Faktor-Faktor Interaksi Sosial

Faktor-faktor yang mempengaruhi berlangsungnya interaksi sosial, baik secara tunggal maupun secara bergabung ialah:

a. Faktor imitasi, faktor imitasi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positif dari faktor imitasi bahwa dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.

b. Faktor sugesti, faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya sendiri yang kemudian diterima oleh pihak lain, proses sugesti terjadi apabila orang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa.

c. Faktor identifikasi, identifikasi merupakan kecendrungan atau keinginan dalam diri individu untuk menjadi sama dengan pihak lain.

Identifikasi bersifat lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat berbentuk atas dasar proses identifikasi.

d. Faktor simpati, faktor simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Didalam proses simpati ini perasaan sangat memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak yang lain dan untuk bekerja sama dengan pihak tersebut.18

Disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial yakni yang pertama, faktor imitasi Faktor imitasi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Kedua, faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang

18 Riska Ramadhani, ‗Pengaruh Interaksi Sosial Terhadap Perkembangan Moral Siswa Di Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 3 Pekanbaru‘, Skripsi (universitas islam sultan syarif kasim riau, 2019).

berasal dari dirinya sendiri yang kemudian diterima oleh pihak lain. Ketiga, faktor identifikasi merupakan kecendrungan atau keinginan dalam diri individu untuk menjadi sama dengan pihak lain. Keempat, faktor simpati faktor simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.

5. Bentuk Interaksi Sosial

Proses sosial berpangkal pada interaksi sosial yang dapat terjadi baik antar-perorangan maupun kelompok dalam masyarakat. Setiap proses sosial akan menghasilkan interkasi sosial. Adapun proses terjadinya interaksi sosial dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu interaksi sosial asosiatif dan interaksi ansial disosiatif.

a. Interaksi sosial Asosiatif

Interaksi sosial asosiatif adalah mengakomodasi semua kepentingan, kekurangan, dan kelebihan dari tiap individu. Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat dibagai atas: bentuk kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.19

1. Kerja sama (cooperation) adalah suatu usaha bersama antar-individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama timbul ketika orang-orang menyadari adanya kepentingan yang sama pada saat bersamaan, dan mempunyai pengertian bahwa kepentingan yang sama tersebut lebih mudah dicapai apabila dilakukan bersama sama 2. Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian sosial dalam

interaksi antar-individu dan antar-kelompok untuk meredakan pertentangan.

19 A Khoirunisa, Analisis Interaksi Sosial Anak Usia Dini Dengan Teman Sebaya Di Tk Dian Ekawati Kelompok B Pada Masa Pandemi Covid-19, (Skripsi Pendidikan Islam Anak Usia Dini), Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 2021, hal 18-19.

3. Asimilasi adalah proses pertemuan antara dua kebudayaan atau lebih yang saling berinteraksi dan lambat laun membentuk kebudayaan yang benar-benar baru dan unsur kebudayaan yang lams hilang dan lebur.

b. Interaksi Sosial Disosiatif

Interaksi sosial ini merupakan bentuk interaksi sosial yang menghasilkan sebuah perpecahan. Dengan adanya proses disosiatif menunjuk kehidupan masyarakat tidak bersifat statis, Proses-proses disosiatif terdapat tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi dan pertentangan atau konflik.

1. Persaingan adalah suatu perjuangan dari berbagai pihak untuk menenpai tujuan tertentu.

2. Kontravensi adalah usaha untuk merintangi atau menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain.

3. Pertentangan atau konflik merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuanya dengan jalan menentang pihak lawan, yang disertal dengan ancaman dan kekerasan .

Bentuk interaksi sosial peserta didik secara spesifik terkait hubungan interaksi sosial anak dengan teman sebayanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Interaksi individu dengan individu. Dalam mekanismenya, interaksi ini dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan yang mengakibatkan munculnya beberapa fenomena, seperti jarak sosial, perasaan simpati dan antipasti, intensitas dan frekuensi interaksi.20

20 Ahmad Novel, ‗Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan Terhadap Teman Sebaya Di Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi Pasar Minggu‘, Skripsi (UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA, 2018).

2. Pola ini merupakan bentuk hubungan antara individu dengan individu sebagai anggota suatu kelompok yang menggambarkan mekanisme kegiatan kelompoknya. Dimana setiap perilaku didasari kepentingan kelompok, diatur dengan tata cara yang ditentukan kelompoknya.

3. Interaksi kelompok dengan kelompok. Hubungan ini mempunyai ciri-ciri khusus berdasarkan pola yang tampak. Pola interaksi antar kelompok dapat terjadi karena etnis, ras dan agama termasuk juga didalamnya perbedaan jenis kelamin, usia, institusi, partai, organisasi dan lain-lain.21

Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial terbagi menjadi 2 yakni pertama, Interaksi sosial asosiatif yakni bentuk interaksi yang bersifat mengarah pada bentuk penyatuan. Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat dibagai atas: bentuk kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Kedua, Interaksi sosial disosiatif interaksi sosial ini merupakan bentuk interaksi sosial yang menghasilkan sebuah perpecahan. Dengan adanya proses disosiatif menunjuk kehidupan masyarakat tidak bersifat statis, Proses-proses disosiatif terdapat tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi dan pertentangan atau konflik. Serta bentuk interaksi sosial dengan teman sebaya ada tiga yakni

21 Ika Rahmawati, ‗Hubungan Interaksi Teman Sebaya Dengan Motivasi Belajar Siswa Di Malang‘, Skripsi Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2016, 28–29.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait