BAB II KAJIAN TEORITIS
C. Investasi
1. Pengertian Investasi
Investasi berasal dari bahasa Inggris investment dari kata dasar invest yang berarti menanam, atau istathmara dalam bahasa Arab, yang berarti
20 www.bnisyariah.co.id, akses pada Minggu, 07 Desember 2019 pukul 08:12, n.p.
19
menjadikan berbuah, berkembang dan bertambah jumlahnya.21 Secara istilah, investasi adalah barang tidak bergerak atau barang milik perseorangan atau perusahaan yang dimiliki dengan harapan untuk mendapatkan pendapatan periodik atau keuntungan atas penjualan dan pada umumnya dikuasai untuk periode yang relatif panjang.22
Definisi yang sama diungkapkan Kasmir dan Jakfar, dimana investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu relatif panjang dalam berbagai bidang usaha atau proyek yang membutuhkan dana dengan tujuan memperoleh keuntungan.23
Dalam perhitungan pendapatan nasional, pengertian investasi adalah pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan-peralatan produksi dengan tujuan untuk mengganti dan terutama menambah barang- barang modal dalam perekonomian yang akan digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa di masa depan.24
Pada dasarnya adalah memanfaatkan sumber daya (uang atau barang) untuk memperoleh keuntungan atau tambahan manfaat darinya. Investasi berarti penundaan komsumsi saat ini untuk komsumsi di masa yang akan datang. Investasi diawali dengan mengorbankan kegiatan komsumsi saat ini untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa depan.
21 Muhammad Syafi’I Antonio, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager, (Jakarta: ProLM Centre & Tazkia Multimedia, 2007), h.68.
22 Ivan Rahmawan, Kamus Istilah Akuntansi Syariah. (Cet. I; Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h.75.
23 Kasmir dan Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Revi, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2015), h.105.
24 Dewi Maharani, Analisis Pengaruh Investasi Dan Tenaga Kerja Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Di Sumatera Utara, (Sumatera Utara 2016), Intiqad: Jurnal Agama Dan Pendidikan Islam, h.68.
Pada umumnya, investasi dibedakan menjadi dua, yaitu investasi pada aset keungan dan investasi pada aset riil. Aset keungan diperoleh pada lembaga keuangan, misalnya perbankan dan pasar modal. Deposito, saham, dan sukuk adalah contoh-contoh investasi pada aset keuangan. Sementara tanah, properti, logam mulia, dan pabrik atau perusahaan adalah contoh- contoh investasi pada aset riil.
Investasi pada dasarnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa datang.25Investasi dapat memiliki tiga aspek sebagai berikut, yaitu :
a. Aspek uang (yang ditanamkan) dan (yang diharapkan), sehingga untuk menilai (kekayaan) yang akan datang. Maka untuk menilai (kelayakan) investasi digunakan juga konsep uang.
b. Aspek waktu (sekarang dan masa yang akan datang) oleh karena itu untuk menilai investasi juga digunakan aspek waktu.
c. Aspek manfaat. Dari aspek manfaat ini maka penilaian kelayakan investasi juga harus melihat manfaat dan biaya yang ditimbulkannya dengan menggunakan azas manfaat atau cost benefit ratio.
Motivasi dan Aspek yang mempengaruhi Investasi :
1) Investasi Karena suatu keharusan atau kebutuhan, adalah investasi yang terjadi secara otomatis sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup
25 Didit Herlianto,Manajemen Investasi plus Jurus Mendeteksi Investasi Bodong (Yogyakarta : Gosyen Publishing,2013), h.48.
21
seseorang atau sekelompok orang, atau suatu organisasi, bahkan Negara.
Investasi jenis ini di dorong oleh kebutuhan di masa depan.
2) Investasi karena harapan, adalah investasi yang di sengaja karena ada harapan mendapatkan manfaat atau laba. Investasi ini dapat dilakukan oleh orang perorangan, sekolompok orang, atau suatu organisasi karena keinginan di masa depan.26
Dalam perspektif Islam, investasi kegiatan yang sangat dianjurkan karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya transaksi jual-beli, simpan-pinjam, sewa-menyewa, gadai, dan kegiatan ekonomi lainnya. Dalam sebuah riwayat hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda,
ِراَنيِ دلا ُدْبَع َسِعَت ِمَه ْرِ دلا ُدْبَع َسِعَت
Terjemahnya:
“Merugilah hamba dinar, merugilah hamba dirham.” (HR. Bukhari).
Maksud dari kata “hamba dinar” dan “hamba dirham” adalah orang yang begitu terobsesi dengan uang sampai-sampai mereka melakukan berbagai cara untuk memilikinya dan kemudian menimbunnya. Hadits tersebut mengisyaratkan sebuah perintah agar umat Islam tidak menumpuk kekayaan.
Sebaliknya mereka diperintahkan untuk memutar atau memperdayakannya dalam bentuk investasi atau bisnis nyata. 27
26 Henry faizal Noor,Investasi : Pengelolaan Keuangan Bisnis dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat (Jakarta : PT.Indeks,2008), h.6.
27 Wiku Suryomurti, Super Cerdas Investasi Syariah Hidup Kaya Raya Mati Masuk Surga, (Jakarta: QultumMedia, 2011), h.71.
Investasi bisa dikatakan sebagai kegiatan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya atau modal yang ada untuk menciptakan suatu proses produksi sehingga menghasilkan komoditas yang dapat dipertukarkan. Investasi bertujuan untuk mendatangkan manfaat bagi pemilik sumber daya maupun pengelolaannya, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang.
Dalam berinvestasi, kita patut meneladani prinsip-prinsip moral yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW. Prinsip-prinsip moral tersebut adalah 4 sifat utama Nabi, yaitu:
a. Shiddiq (berkata benar)
Investasi dilakukan pada aset yang kondisi dan asal muasalnya disampaikan secara benar, demikian pula proses pengelolaannya dan pembagian hasilnya;
b. Amanah (dapat dipercaya)
Artinya, investasi dikembangkan oleh orang-orang yang mampu mengemban amanah;
c. Tabligh (menyampaikan)
Bisa diartikan sebagai transparansi atau goog governance. Dalam investasi, pihak-pihak yang berkepentingan harus saling terbuka dan tidak menyembunyikan informasi;
d. Fathanah (pandai)
Dengan pengetahuan investasi yang baik dan kecerdasan mengelola aset investasi yang tinggi, potensi risiko yang dapat mengakibatkan kerugian akan dapat diminimalisasi.
23
Demikian sifat-sifat yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW yang kita jadikan sebagai suri tauladan dalam segala aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam berinvestasi.
Disamping itu, dalam melakukan investasi, kita juga harus memperhatikan hal-hal berikut:
1) Turut berusaha memakmurkan bumi dengan ilmu yang dimiliki;
2) Mendorong kemajuan di bidang produksi dan investasi di sektor riil;
3) Aset investasi dan pengelolaannya harus disesuaikan dengan kemampuan kita;
4) Islam menyukai kemudahan, oleh sebab itu, jangan mempersulit urusan.
Sebisa mungkin kita harus menghindari kemudharatan dan memaksimalkan kemaslahatan. 28
2. Tujuan Investasi
Tujuan orang melakukan investasi pada dasarnya adalah untuk mengembangkan dana yang dimiliki atau mengharapkan keuntungan di masa depan. Secara umum tujuan investasi memang mencari untung, tetapi bagi perusahaan tertentu kemungkinan ada tujuan utama yang lain selain untuk mencari untung. Pada umumnya tujuan investasi adalah sebagai berikut:
a. Untuk memperoleh pendapatan yang tetap dalam setiap periode, antara lain seperti bunga, royalty, dividen, atau uang sewa dan lain-lainnya.
b. Untuk membentuk suatu dana khusus, misalnya dana untuk ekspansi, kepentingan sosial.
28 Muhammad Nafik HR, Bursa Efek Dan Investasi Syariah, (Jakarta: Serambi 2009), h.96.
c. Untuk mengontrol atau mengendalikan perusahaan lain, melalui kepemilikan sebagai ekuitas perusahaan tersebut.
d. Untuk menjamin tersedianya bahan baku untuk mendapatkan pasar untuk mendapatkan produk yang dihasilkan.
e. Untuk mengurangi persaingan perusahaan-perusahaan yang sejenis, Untuk menjaga hubungan antar perusahaan.29
3. Dasar Hukum Investasi dalam Islam
Islam adalah agama yang pro-investasi, karena di dalam ajaran Islam sumber daya (harta) yang ada tidak hanya disimpan tetapi harus diproduktifkan, sehingga bias memberikan manfaat kepada umat 30. Hal ini berdasarkan firman Allah swt:
ْوُد َن ْوُكَي َلَ ْي ََ
كْمُكْنِم ِءۤاَيِنْغَ ْلَا َنْيَب ۢ اةَل
Terjemahnya:
“supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian”. (QS. al-Hasyr [59]: 7).
Oleh sebab itu dasar pijakan dari aktivitas ekonomi termasuk investasi adalah Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Selain itu, karena investasi merupakan bagian dari aktivitas ekonomi (muamalah māliyah), sehingga berlaku kaidah fikih, muamalah, yaitu “pada dasarnya semua bentuk muamalah termasuk di dalamnya aktivitas ekonomi adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” (Fatwa DSN-MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000).
29 Henry faizal Noor,Investasi : Pengelolaan Keuangan Bisnis dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat (Jakarta : PT.Indeks,2008), h.6.
30 Taufik Hidayat, Buku Pintar Investasi Syariah, (Jakarta: Mediakita, 2011), h.78.
25
a. Investasi Menurut Al-Qur’an 1) QS. al-Baqarah [2]: 261
َس َعۡبَس ۡتَتَبۢۡنَا ٍۃَّبَح ِْ َثَمَک ِہّٰللا ِْ ۡيِبَس ۡیِف ۡمُہَلا َو ۡمَا َن ۡوُقِفۡنُي َنۡيِذَّلا ُْ َثَم ِ ْ ُک ۡیِف َْ ِباَن
ٍۃَلُب ۢۡنُس
ٌمۡيِلَع ٌعِسا َو ُہّٰللا َو ؕ ُءٓاَشَّي ۡنَمِل ُفِع ٰضُي ُہّٰللا َو ؕ ٍۃَّبَح ُۃَئاِ م
Terjemahnya:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”
Ayat ini secara implisit memberikan informasi akan pentingnya berinvestasi, dimana ayat itu menyampaikan betapa beruntungnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Orang yang kaya secara financial (keuangan) kemudian menginfakkan hartanya untuk pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu melalui usaha produktif, maka sesungguhnya dia sudah menolong ribuan, bahkan ratusan ribu orang miskin untuk berproduktif ke arah yang lebih baik lagi.31
2) QS. al-Nisa [4]: 9
لٱ ۟اوُقَّتَيْلَف ْمِهْيَلَع ۟اوُفاَخ اافَٰع ِض اةَّي ِ رُذ ْمِهِفْلَخ ْنِم ۟اوُك َرَت ْوَل َنيِذَّلٱ َشْخَيْل َو ۟اوُلوُقَيْل َو َهَّل
ااديِدَس الَ ْوَق
Terjemahnya:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
31 Indah Yuliana, Investasi Produk Keuangan Syariah, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h.126.
Ayat ini dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk tidak meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah, baik lemah moril maupun materil. Secara tersirat ayat ini memerintahkan kepada umat untuk meningkatkat kehidupan ekonomi melalui investasi jangka panjang.
Investasi ini akan diwariskan kepada keturunannya untuk mencukupi kehidupan sampai ia layak berusaha sendiri/mandiri.
3) QS. al-Hasyr [59]: 18
ّٰللا َّنِاۗ َهّٰللا اوُقَّتا َو ۚ ٍدَغِل ْتَمَّدَق اَّم ٌسْفَن ْرُظْنَتْل َو َهّٰللا اوُقَّتا اوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰي اَمِبۢ ٌرْيِبَخ َه
َن ْوُلَمْعَت
Terjemhnya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Ayat ini secara ekplisit memerintahkan manusia untuk selalu berinvestasi baik dalam bentuk ibadah maupun kegiatan muamalah māliyah untuk bekalnya di akhirat nanti. Investasi adalah bagian dari muamalah māliyah, sehingga kegiatannya mengandung pahala dan bernilai ibadah bila diniatkan dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah.
Berdasarkan uraian ayat-ayat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam memandang investasi sebagai hal yang sangat penting sebagai langkah atisipatif terhadap kejadian di masa depan. Seruan bagi orang-orang yang beriman untuk mempersiapkan diri (antisipasi) di hari esok mengindikasikan bahwa segala sesuatunya harus disiapkan dengan
27
penuh perhitungan dan kecermatan. Dalam perspektif ekonomi, hari esok dalam ayat-ayat di atas bisa dimaknai sebagai masa depan (future).
b. Investasi menurut Sunnah Nabi saw
Menurut catatan sejarah, saat masih kecil nabi Muhammad saw. pernah mengembala ternak penduduk Mekkah. Nabi saw. pernah berkata kepada para sahabatnya “semua nabi pernah menggembala”. Para sahabat bertanya,
“Bagaimana denganmu, wahai Rasulallah?” Beliau menjawab, “Allah SWT.
tidak mengutus seorang nabi melainkan dia pernah menggembala ternak”.
Para sahabat kemudian bertanya lagi, “Engkau sendiri bagaimana wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku dulu menggembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirāṭ”
Profesi berdagang Rasulullah SAW. dimulai sejak beliau berusia 12 tahun, ketika ikut magang (internship) kepada pamannya untuk berdagang ke Syiria. Ketika muda, Rasulullah SAW. pernah juga mengelola perdagangan milik seseorang (investor) dengan mendapatkan upah dalam bentuk unta.
Karir profesional Rasulullah SAW. dimulai sejak Muhammad muda dipercaya menerima modal dari para investor yaitu para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup mengelola sendiri harta mereka. Mereka menyambut baik seseorang untuk menjalankan bisnis dengan uang atau modal yang mereka miliki berdasarkan kerjasama muḍarabah (bagi hasil).32 Nabi Muhammad SAw, dalam menjalankan bisnisnya senantiasa memperkaya dirinya dengan
32 Afzalurrahman, Muhammad as a Trader (Muhammad Sebagai Seorang Pedagang).
(Jakarta: Yayasan Swarna Bhumi, 2000), h.70.
kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat- sifat mulia lainnya, sampai dijuluki sebagai orang yang terpercaya (al-Amīn).
Para pemilik modal di Mekkah semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan nabi saw. salah seorang pemilik modal tersebut adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan berdasarkan muḍarabah (bagi hasil). Dalam hal ini, Khadijah bertindak sebagai ṣaḥib al-māl (pemilik modal) dan nabi Muhammad saw. sebagai muḍarib (pengelola).33
Bahkan sebelum menikah, beliau diangkat menjadi manajer perdagangan Khadijah ke pusat perdagangan Habashah di Yaman dan 4 kali memimpin ekspedisi perdagangan ke Syria dan Jorash di Yordania. 34
Dengan demikian, nabi Muhammad saw. memasuki dunia bisnis dan perdagangan dengan cara menjalankan modal orang lain (investor), baik dengan upah (fee based) maupun dengan sistem bagi hasil (profit sharing).
Profesi ini kurang lebih bertahan selama 25 tahun, angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan Muhammad saw. yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun. Salah satu hadis beliau yang masyhur mengenai investasi dan perserikatan adalah:
لا َلاَق" :م لَس َو ِهْيَلَع هللا ى لَص هللا ُلوُس َر َلاق :لاق ُهْنَع ُهَّللا َي ِض َر َةرْي َرُه يبَأ ْنَع ُهَّل
اَمِهِنْيَب ْنِم ُتْج َرَخ َناَخ اذإَف ،ُهَب ِحاَص اَمُهُدَحَأ ْنُخَي ْمَل اَم ِنْيَكْي ِرَّشلا ُثِلاَث انَأ :ىلاعَت"
ُهَح حَص َو َد ُواد وبأ ُها َو َر
ُمِكاَحْلا .
33 Muhammad Syafi’I Antonio, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager, (Jakarta: ProLM Centre & Tazkia Multimedia, 2007), h.98.
34 Afzalurrahman, Muhammad as a Trader (Muhammad Sebagai Seorang Pedagang).
(Jakarta: Yayasan Swarna Bhumi, 2000), h.107.
29
Terjemahnya:
“Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Allah berfirman:
Aku menjadi orang ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada temannya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka (HR. Abu Dawud dan dinilai shahih oleh al- Hakim).
Berdasarkan paparan di atas, praktik investasi sudah ada sejak nabi Muhammad SAW, bahkan beliau secara langsung terjun dalam praktik binis dan investasi. Beliau memberikan contoh bagaimana mengelola investasi hingga mengasilkan keuntungan yang banyak. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman beliau yang lama sebagai pedagang dan pengelola bisnis (muḍarib). Nabi SAW. mempraktikkan bisnis dengan sangat profesional, tekun, ulet dan jujur serta tidak pernah ingkar janji kepada pemilik modalnya (investor).35
Kegiatan investasi juga dipraktikkan di jaman amirul mukminin, Umar bin Khattab dimana ia pernah berkata, “Siapa saja yang memiliki uang, hendaklah ia menginvestasikannya dan siapa yang memiliki tanah hendaklah ia menanaminya (mengelolanya).”36
Oleh sebab itu, investasi dalam ajaran Islam tidak dilarang, bahkan dianjurkan supaya memberikan dampak dan manfaat yang luas dengan terciptanya lapangan pekerjaan dan lapangan usaha baru.
4. Tipe Investor menurut Profil Resiko
Tipe-tipe Investor menurut profil resiko dalam berinvestasi dapat digolongkan sebagai berikut:
35 Muhammad Syafi’I Antonio, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager, (Jakarta: ProLM Centre & Tazkia Multimedia, 2007), h.56.
36 Taufik Hidayat, Buku Pintar Investasi Syariah. (Jakarta: Mediakita, 2011), h.11.
a. Devensive
Investor tipe ini adalah investor yang berusaha mendapatkan keuntungan dan menghindari resiko sekecil apapun dari Investasi yang dilakukannya. Investor jenis ini tidak memiliki cukup keyakinan dalam spekulasi, dan memilih waktu yang tepat untuk berinvestasi sehingga kemungkinan resiko yang akan muncul sangat kecil.
b. Conservative
Conservative, investor tipe ini biasanya melakukan investasi untuk meningkatkan kualtitas kehidupan keluarga dan berinvestasi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Misalnya untuk meningkatkan pendidikan anak di perguruan tinggi atau mempersiapkan bekal hidup di masa tua.
Walaupun investor conservative ini sering melakukan investasi, akan tetapi investor ini pada umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk melakukan analisa dan mempelajari portofolio investasinya.37
5. Faktor-Faktor yang Dipertimbangkan dalam Berinvestasi
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam berinvestasi diantaranya:
a. Financial Asset
1) Tujuan Investasi, Investor harus menentukan tujuan yang ingin dicapai. Umumnya, tujuan utama orang berinvestasi adalah mencari keuntungan atau tambahan penghasilan pada masa yang akan datang.
2) Kenali karakter, umumnya karakter investor terdiri dari tiga karakter, pengambil resiko (risk taker), penghindar resiko (risk avoider), dan
37 Adi Setiawan Marsis, Rahasia Terbesar Investasi : agar Kekayaan anda berkembangbiak lebih cepat (Yogyakarta : Second Hope,2013), h.82.
31
netral. Karakter Investor akan berpengaruh terhadap perilaku dalam berinvestasi karakter tersebut menetukan strategi yang tepat dalam berinvestasi.
3) Pelajari Keuangan (Modal) Besar kecilnya modal tergantung dari kebutuhan dan kemampuan seorang investor. Semakin besar kebutuhan untuk modal, maka semakin besar pula keuntungan yang diharapkan nantinya.
4) Jenis Investasi yang dipilih Untuk memilih jenis investasi, Investor perlu membuat rencana tentang pengeluaran jangka waktu investasi, pendek, menengah, panjang. Setiap pengeluaran membutuhkan sejumlah uang yang sumber pendapatannnya harus dicari. Dengan mengetahui jumlah pengeluaran, baik pengeluaran jangka pendek maupun jangka panjang, investor dapat menentukan jenis investasi yang ingin dilakukan. Jangka waktu investasi dapat membantu dalam menentukan berapa besar resiko yang dapat ditanggung. Pada umumnya, orang yang berinvestasi untuk jangka panjang menanggung resiko yang lebih besar. Hal ini disebabkan investai saham mengalami fluktuasi yang tinggi dari waktu ke waktu.
5) Keuntungan dan resiko Besar kecilnya keuntungan dari hasil investasi tergantung dari besar kecilnya tujuan dan kemampuan seseorang untuk mewujudkannya dan harus ada keselarasan antara keuntungan dan kemampuan yang dimiliki dalam menentukan tujuan. Resiko selalu
mengikuti investasi, baik investasi yang mendapatkan keuntungan besar dan kecil.
6) Evaluasi kinerja keuangan memilih satu jenis investasi berdasarkan keuntungan yang tinggi. Data historis membuktikan bahwa investasi yang mempunyai kinerja yang bagus pada masa lalu tidak selalu memberikan kinerja sama pada masa yang akan datang.
7) Lakukan diversifikasi Salah satu untuk mencapai tingkat keuntungan yang baik secara konsisten adalah diversifikasi atau berinvestasi pada lebih dari satu investasi. Diversifikasi merupakan sebuah cara untuk mengendalikan resiko karena walaupun berinvestasi pada beberapa jenis investasi beresiko tinggi, bila nilai salah satu investasi tersebut menurun, investasi yang lain mungkin naik.38