BAB 1 KONSEP DASAR PENELITIAN 1
C. Jenis-jenis Hipotesis 39
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
39 39
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
40 40
dan “tesis” artinya “kebenaran”. Secara keseluruhan hipotesis berarti di bawah kebenaran, kebenaran yang masih berada di bawah (belum tentu
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
41 41
benar) dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang disertai dengan bukti-bukti, hipotesis adalah kebenaran yang masih le- mah sehingga memerlukan pembuktian atau pengujian.
2. Hipotesis
Statistik
Adalah pernyataan atau dugaan mengenai keadaan populasi yang sifatnya masih sementara atau lemah kebenarannya. Pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. Hipotesis statistik hanya di- gunakan jika kita mengambil sampel dari populasi, diuji menggunakan statistic inferensial, yang tujuannya untuk menguji apakah sampel me- wakili populasi atau tidak. Hipotesis statistik tidak wajib dilakukan jika:
[1] kita mengambil data dari populasi (sensus), atau [2] kita tidak ingin melakukan generalisasi untuk membuktikan apakah sampel mewakili populasi atau tidak.
Hipotesis statistik dapat berbentuk suatu variabel seperti binomial, poisson, dan normal atau nilai dari suatu parameter, seperti rata-rata, varians, simpangan baku, dan proporsi. Hipotesis statistik harus diuji, karena itu harus berbentuk kuantitas untuk dapat diterima atau dito- lak. Hipotesis statistik akan diterima jika hasil pengujian membenarkan pernyataannya dan akan ditolak jika terjadi penyangkalan dari pernya- taannya.
Benar atau salahnya suatu hipotesis tidak akan pernah diketahui dengan pasti, kecuali dengan memeriksa seluruh populas. Tentunya ini akan sangat sulit dilakukan dan bahkan mustahil dilakukan, mengingat keterbatasan yang ada (tenaga, biaya, waktu dan lainnya). Dengan de- mikian, kita hanya bisa mengambil sampel atau contoh acak saja dan menggunakan informasi yang ada untuk menerima atau menolak hi- potesis.
Perlu ditegaskan bahwa penerimaan suatu hipotesis statistik me- rupakan akibat tidak cukupnya bukti untuk menolaknya dan tidak ber- implikasi bahwa hipotesis itu benar. Penolakan suatu hipotesis berarti menyimpulkan bahwa hipotesis itu salah sedangkan penerimaan suatu hipotesis semata-mata mengimplikasikan bahwa kita tidak mempunyai bukti untuk memercayai sebaliknya.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
42 42
Contoh hipotesis statistik:
Hipotesis statistik adalah hipotesis yang dibuat atau digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Di bawah ini adalah contoh hipotesis sta-
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
43 43
tistik, yaitu:
H0 : Tidak ada hubungan positif antara pelatihan pembuatan adminis-
trasi kelas dan kinerja guru;
H1 : Ada hubungan positif antara pelatihan pembuatan administrasi
kelas dan kinerja guru.
3. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan hipotesis yang menggambarkan sebuah kelompok atau variabel tanpa menghubungkan dengan varia- bel lain. Hipotesis deskriptif juga mampu memberikan gambaran atau deksripsi tentang sampel penelitian, contoh:
- Hipotesis deskriptif (1): 70% peduduk di perdesaan bekerja sebagai petani.
- Hipotesis deskriptif (2): 80% perempuan yang telah menikah dan berumur 40 tahun ke atas mulai merasakan gejala menopause.
Dari kedua contoh hipotesis di atas merupakan hipotesis yang meng- gambarkan sebuah kelompok tanpa menghubungkan dengan variabel lainnya. Dan hipotesis deskriptif menggambarkan sampel penelitan, yaitu:(1)penduduk perdesaan; dan (2) perempuan yang telah menikah dan berumur 40 tahun ke atas.
4. Hipotesis asosiasitf
Hipotesis asosiatif merupakan jenis hipotesis yang menjelaskan hubungan antarvariabel. Hipotesis ini dalam sebuah penelitian selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menjelaskan hubungan an- tar duavariabel atau lebih. Contoh jenis kelamin memengaruhi prestasi belajar.
Karakteristik hipotesis asosiatif yang baik, antara lain:
1. Mempunyai minimal dua variabel yang dihubungkan.
2. Menunjukkan hubungan sebab akibat atau pengaruh memengaruhi di antara dua variabel atau lebih.
3. Menunjukkan perkiraan atau prediksi mengenai hasil yang diharap- kan.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
44 44
4. Menghubungkan secara logis antara masalah penelitian dengan teori.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
45 45
5. Dapat diuji kembali dalam fakta-fakta empiris dan menunjukkan kebenaran atau kesalahan.
Contoh hipotesis asosiatif:
H0(1) : variabel hijrah intention tidak berpengaruh positif terhadap ke- putusan menjadi nasabah bank syariah.
Ha(1) : variabel hijrah intention berpengaruh positif dan signifikan ter- hadap keputusan menjadi nasabah bank syariah.
H0(2) : variabel religiositas tidak berpengaruh positif terhadap hijrah intention nasabah bank syariah.
Ha(2) : variabel religiositas berpengaruh positif dan signifikan terhadap hijrah intention nasabah bank syariah;
H0(3) : variabel spiritualitas tidak berpengaruh positif terhadap kepu- asan konsumen dalam menggunakan produk-produk halal.
Ha(3) : variabel spiritualitas berpengaruh positif dan signifikan terha- dap kepuasan konsumen dalam menggunakan produk-produk halal.
Dari contoh ketiga hipotesis tersebut terlihat bahwa masing-masing hipotesis asosiatif menyatakan hubungan atau pengaruh antardua va- riabel. Dalam sebuah hipotesis asosiatif sifat atau arah hubungan an- tarvariabel didasarkan pada teori yang dijadikan landasan analisis hu- bungan antarvariabel yang dinyatakan dalam sebuah hipotesis. Selain didasarkan pada teori arah dan hubungan antarvariabel dalam hipotesis juga didasarkan pada hasil literature review dari penelitian-penelitian sebelumnya.
5. Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang menyatakan per- bandingan antara sampel atau variabel yang satu dengan variabel lain, contoh:
H0(1) : tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa laki-laki dan perempuan.
Ha(1) : terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa laki-laki dan perempuan.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
46 46
H0(2) : tidak terdapat perbedaan rata-rata terjadinya NPF antara data
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
47 47
keuangan perbankan syariah pada periode sebelum pandemic COVID-19 dengan sesudah pandemic COVID-19.
Ha(2): terdapat perbedaan rata-rata terjadinya NPF antara data keuang- an perbankan syariah pada periode sebelum pandemic COVID-19 dengan sesudah pandemic COVID-19.
H0(3) : tidak terdapat perbedaan tingkat adopsi mobile banking nasabah bank syariah pada periode sebelum pandemic COVID-19 dengan sesudah pandemic COVID-19
Ha(3) : terdapat perbedaan tingkat adopsi mobile banking nasabah bank syariah pada periode sebelum pandemic COVID-19 dengan sesu- dah pandemic COVID-19.
Dari ketiga contoh di atas dapat disimpulkan bahwa pada hipotesis komparatif, menyatakan suatu perbandingan antara sampel dari satu variabel dengan variabel lainnya.
a. Ciri-ciri Hipotesis yang baik
Ciri-ciri hipotesis menurut Donald (1982: 124), antara lain:
1. Hipotesis harus memiliki daya penjelas, yaitu hipotesis dikatakan baik jika didukung dengan penjelasan yang baik tentang masalah yang akan diteliti. Contoh: ketika spidol Anda tidak bisa lagi diguna- kan untuk menulis Anda memberikan hipotesis bahwa kursi Anda patah. Penjelasan ini tidak tepat dan tidak menunjang hipotesis. Hi- potesis yang menjelasan bahwa tinta spidol Anda habis adalah benar dan perlu diuji.
2. Hipotesis menjelaskan hubungan antarvariabel-variabel.
3. Hipotesis menjelaskan hubungan antarvariabel-variabel. Maksud- nya adalah meskipun ada pernyataan sebagai jawaban sementara akan tetapi tidak menunjukkan hubungan antarvariabel maka hipo- tesis itu tidak dapat diuji. Contoh: “mesin mobil ini tidak akan hidup dan mesin ini memiliki jaringan kabel-kabel” pernyataan ini tidak menunjukkan hubungan antarvariabel yang dapat diuji, namun jika pernyataan berbunyi “akan terdapat hubungan positif antara moti- vasi belajar dan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam,” maka hipo-
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
48 48
tesis ini memenuhi syarat yaitu memiliki hubungan antarvariabel yang dapat diuji.
4. Hipotesis harus dapat diuji, hipotesis yang baik harus dapat diuji.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
49 49
Peneliti dapat menarik kesimpulan dan perkiraan sedemikian rupa dari hipotesis yang dirumuskan. Contohnya “kerusakan mobil itu diakibatkan oleh dosa-dosa saya” merupakan hipotesis yang tidak dapat diuji di dunia ini. Artinya adalah jika variabel tidak dapat di- ukur maka peneliti tidak mungkin dapat menguji validitas hipotesis tersebut atau tidak dapat menguji hipotesis.
5. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada, artinya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum- hukum yang telah ada sebelumnya dan telah diakui validitasnya, contoh: “mesin mobil saya mati karena air akinya berubah menjadi emas” merupakan hipotesis yang tidak sesuai dengan apa yang telah diketahui orang tentang sifat-sifat benda, yaitu air aki yang berubah menjadi emas bertentangan dengan sifat benda. Sehingga hipotesis hendaknya dibuat sesuai dengan pengetahuan yang sudah mapan di bidang itu.
6. Hipotesis hendaknya dibuat sesederhana dan seringkas mungkin, tujuannya adalah agar mudah diuji dan memudahkan dalam penyu- sunan laporan.
b. Manfaat Hipotesis
Di bawah ini adalah beberapa manfaat dari hipotesis yaitu:
• Menjelaskan masalah penelitian.
• Menjelaskan variabel-variabel yang akan diuji.
• Pedoman untuk memilih metode analisis data.
• Dasar untuk membuat kesimpulan penelitian.
c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Fungsi Hipotesis
Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mengefektif- kan fungsi-fungsi hipotesis, yaitu:
1. Hipotesis disusun dalam kalimat deklaratif. Kalimat itu bersifat po- sitif dan tidak normatif. Istilah-istilah seharusnya atau sebaliknya tidak terdapat dalam kalimat hipotesis. Contoh: Anak-anak harus hormat kepada orangtua. Kalimat ini bukan hipotesis. Lain halnya jika dikatakan bahwa kepatuhan anak-anak kepada orangtua me- reka makin menurun.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
50 50
2. Variabel (variabel-variabel) yang dinyatakan dalam hipotesis adalah variabel yang operasional, dalam arti dapat diamati dan diukur.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 5 PENGEMBANGAN HIPOTESIS
51 51
3. Hipotesis menunjukkan hubungan tertentu di antara variabel-vari- abel.
D. PROSES PENYUSUNAN HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis dalam penelitian dengan menggunakan pendekatan ku- antitatif ada dua jenis, yaitu:
1. Hipotesis Nol (H0 )
Hipotesis nol adalah hipotesis yang menduga bahwa tidak ada pe- ngaruh antara dua variabel (antara variabel independen dan variabel dependen). Demikian juga bahwa tidak ada hubungan antardua variabel (antara variabel independen dan variabel dependen).
Contoh:
H0 = Variabel religiositas tidak berpengaruh terhadap variabel loyali- tas.
H0 = Variabel kualitas pelayanan tidak berpengaruh terhadap variabel kepuasan nasabah.
2. Hipotesis Alternatif (Ha )
Hipotesis alternatif adalah hipotesis yang menduga bahwa terdapat pengaruh antara dua variabel (antara variabel independen dan variabel dependen). Demikian juga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antardua variabel (antara veriabel independen dan variabel depanden).
Contoh:
Ha = Variabel religiositas berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel loyalitas.
Ha = Variabel kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel kepuasan nasabah.
Dari contoh di atas dapat kita bandingkan dan lihat perbedaan an- tara hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha). Dalam pengujian hi- potesis, maka yang kita uji adalah hipotesis alternatif.
6
VARIABEL &
INDIKATOR PENELITIAN
A. PENGERTIAN VARIABEL PENELITIAN
Fenomena ekonomi yang diukur disebut variabel. Secara teoretis, variabel adalah gejala yang nilainya bervariasi. Contoh: pendapatan, usia, jumlah penduduk, dan lain-lain.
1. Pembagian Variabel - Berdasarkan sifat
- Berdasarkan hubungan antarvariabel - Cara pengukuran
- Prioritas hubungan antar-indikator dengan variabel laten.
2. Jenis Variabel Berdasarkan Sifat
1. Variabel dikotomis (variabel diskrit), variabel yang mempunyai dua nilai kategori yang saling berlawanan. Disebut diskrit karena hanya memiliki suatu nilai tertentu. Contoh: variabel gender Laki-laki: 1 Perempuan: 2.
2. Variabel kontinu variabel yang dapat mempunyai nilai dalam satu interval tertentu yang memungkinkan untuk muncul suatu nilai yang tidak selalu bulat. Contoh: variabel berat badan. Berat badan si A : 50 kg. Berat badan si B : 68,2 kg.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
48 48
3. Jenis Variabel Berdasar Hubungan Antarvariabel 1. Variabel Independen
Variabel independent adalah variabel yang memengaruhi atau pe- nyebab besar kecilnya nilai variabel yang lain (variabel prediktor). Con- toh: Pengaruh inovasi terhadap kinerja organisasi. Inovasi merupakan variabel independen.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang variasinya dipengaruhi oleh variabel independen (variabel kriteria). Contoh: Pengaruh inova- si terhadap kinerja organisasi. Kinerja organisasi merupakan variabel dependent.
3. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang memperkuat atau mem- perlemah antara variabel independen dengan variabel dependen. Con- toh: pengaruh inovasi terhadap kinerja organisasi. Tetapi hubungan an- tara inovasi dengan kinerja organisasi ditentukan juga oleh intensitas persaingan. Intensitas persaingan disebut variabel moderator.
4. Variabel Intervening
Variabel intervening merupakan variabel antara yang dipengaruhi oleh variabel bebas tetapi memengaruhi variabel tergantung. Contoh:
Pengaruh inovasi terhadap keunggulan bersaing dan keunggulan ber- saing berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Keunggulan bersaing merupakan variabel intervening.
B. JENIS VARIABEL BERDASARKAN CARA PENGUKURAN
1. Variabel ObservedVariabel yang diukur secara langsung berdasarkan nilai skala yang ditunjukkan oleh alat ukur. Contoh: panjang jalan, luas bangunan, pen- dapatan keluarga.
2. Variabel Unobserved (Variabel Laten)
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
49 49
Variabel yang diukur melalui indikator yang digunakan untuk menggambarkan variabel tersebut. Contoh: loyalitas pelanggan, kepu-
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
50 50
asan kerja, komitmen, dan lain-lain.
C. JENIS VARIABEL BERDASARKAN PRIORITAS
HUBUNGAN INDIKATOR DENGAN VARIABEL LATEN
1. Variabel ReflektifDalam model penelitian reflektif, indikator dipandang sebagai vari- abel yang dipengaruhi oleh variabel laten.
X1
X2 Customers Satisfaction
X3
Gambar 7. Indikator Reflektif
Oleh karena itu, angka dalam indikator reflektif harus menunjuk- kan inter-corelation agar dapat diterima sebagai pengukuran.
2. Variabel Formatif
Dalam model penelitian formatif, indikator dipandang sebagai va- riabel yang memengaruhi variabel laten. Oleh karena itu, angka dalam indikator formatif, tidak harus menunjukkan pola inter-corelation agar dapat diterima sebagai pengukuran.
Variabel merupakan elemen yang sangat penting dalam sebuah penelitian, definisi yang jelas dari variabel yang akan digunakan akan
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
51 51
memudahkan peneliti untuk melakukan pengukuran atau measurement
terhadap variabel penelitian.
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
52 52
X1
X2 Customers Satisfaction
X3
Gambar 8. Indikator Formatif
Secara teoretis, para ahli telah mendefinisikan variabel sebagai ber- ikut:
- Hatch & Farhady (1981), variabel didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek di sini dengan objek yang lain.
- Kerlinger (1973), variabel merupakan konstruk (constructs) atau si- fat yang akan diteliti atau dipelajari. Sebagai contoh: tingkat religi- ositas, penghasilan, pendapatan, kepuasan, loyalitas, service quality, jenis kelamin, kinerja karyawan, gaya hidup konsumen, dan lain- lain. Suatu variabel dapat dikatakan suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Sehingga variabel dapat berupa suatu variasi.
- Kidder (1981), variabel adalah suatu kualitas (qualities) di mana peneliti melakukan eksplorasi dan penelitian untuk dapat menarik kesimpulan darinya.
Dalam penelitian sosial di bidang pemasaran, permasalahan utama yang sering kali dihadapi oleh seorang peneliti adalah pengukuran va- riabel laten atau konstruk. Dalam penyusunan indikator variabel yang harus jadi bahan pertimbangan penelitian adalah apakah indikator
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
53 53
menjadi penyebab (causing) dari variabel; atau disebabkan oleh varia-
bel (being caused).
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
54 54
IAIN
Terdapat dua tipe operasionalisasi atau pengukuran konstruk:
1. Konstruk reflektif, apabila perubahan dalam konstruk atau variabel dapat menyebabkan perubahan pada indikator-indikatornya.
Indikator 1 Indikator 2
Konstruk Reflektif
Gambar 9. Konstruk Reflektif
2. Konstruk formatif, apabila perubahan pada satu atau lebih indikator akan menyebabkan perubahan konstruk.
Indikator 1 Indikator 2
Konstruk Formatif
Gambar 10. Konstruk Formatif
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
55 55
Berikut adalah rule of tumb, apakah kita menggunakan pengukuran konstruk secara reflektif dan formatif (Hair dkk., 2013):
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
56 56
Tabel 2. Kriteria Pengukuran Konstruk
Kriteria Keputusan
Apakah indikator merupakan konsekuensi atau penyebab konstruk?
Jika konsekuensi: maka reflektif Jika penyebab: maka formatif Apakah konstruk merupakan sebuah sifat
yang menjelaskan indikator atau kombinasi dari indikator?
Jika sifat: maka reflektif Jika kombinasi: maka formatif
Apakah jika penilaian konstruk berubah maka semua indikator akan berubah dalam pola yang sama?
Jika ya: maka reflektif Jika tidak: maka formatif
Apakah indikator dapat dipertukarkan secara sama?
Jika ya: maka reflektif Jika tidak: maka formatif
Sebuah variabel memiliki atau dicerminkan indikator secara reflek- tif (disebut manifest) apabila indikator merupakan perwujudan/atau re- fleksi dari konstruknya. Contohnya variabel laten STRES KERJA. Varia- bel stres kerja dapat terefleksi dalam indikator-indikator seperti malas berangkat ke kantor, ingin pindah kerja dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Konstruk formatif mempunyai karakteristik bahwa perubahan da- lam indikator akan menyebabkan perubahan dalam konstruk. Misalnya, banyaknya target yang harus diselesaikan, sikap atasan, rendahnya gaji dan lingkungan kerja dapat menjadi indikator formatif stres pekerjaan.
Karakteristik indiator-indikator reflektif adalah mirip dan dapat di- pertukarkan (interchangeable). Dengan kata lain, kemiripan atau overlap antar indikator tidak menjadi masalah dan justru seharusnya dimak- simalkan oleh peneliti. Sehingga membuang salah satu atau beberapa indikator reflektif tidak akan memengaruhi atau mengubah konstruk karena masih ada indikator-indikator lain yang mempunyai karakter- istik sama.
Sebaliknya, indikator-indikator formatif umumnya memiliki kan- dungan yang berbeda. Masing-masing indikator bersifat unik dan tidak dapat dipertukarkan. Oleh karena itu, membuang salah satu atau bebe- rapa indikator formatif dapat menjadi masalah karena akan mengubah
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
57 57
esensi konstruk. Dalam pengukuran formatif, peneliti seharusnya beru- paya meminimalkan kemiripan atau overlap antar-indikator.
Metode pengukuran konstruk tergantung pada konseptualisasi kon-
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
58 58
struk dan tujuan penelitian. Sebagai contoh variabel laten kepuasan nasabah bank syariah. Variabel kepuasan nasabah bank Syariah dapat diukur secara reflektif maupun formatif.
Variabel Laten: Kepuasan Nasabah Bank Syariah
Indikataor Reflektif:
- Secara keseluruhan saya merasa puas dengan kualitas layanan bank syariah ini.
- Saya akan menyarankan teman dan kolega untuk menjadi nasabah bank syariah ini.
- Saya akan selalu menggunakan jasa dan layanan bank Syariah ini.
- Saya merasa nyaman dan aman menggunakan jasa layanan bank syariah ini.
Indikator Formatif:
- Lokasi bank syariah ini sangat mudah dijangkau oleh kendaraan umum.
- Fasilitas bank Syariah ini sangat bersih dan nyaman.
- Tingkat bagi hasil deposito bank Syariah ini sangat bagus.
- Seluruh karyawan bank syariah ini sangat ramah.
- Seluruh karyawan bank syariah ini sangat profesional.
Desain model pengukuran untuk variabel laten terbagi atas dua ya- itu bersifat reflektif atau formatif.
Bagaimana membedakan keduanya?
Hair et. al. (2006) dan Jogiyanto (2009) mengemukakan beberapa syarat untuk dapat membedakan kedua sifat tersebut yaitu:
a. Bagaimana hubungan kausalitasnya.
b. Bagaimana sifat kovarian di antara indikator.
c. Apakah ada sifat duplikasi yang kuat.
d. Apakah ada hubungan indikator pada berbagai variabel.
Cara menentukan sifat hubungan indikator dan variabel laten ter- sebut kadang kala bisa terlihat dengan mudah pada keempatnya kadang tidak. Berikut penjelasan dari keempat cara tersebut:
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
59 59
Pertama, hubungan kausalitasnya.
Indikator refleksif disebabkan oleh konstruk sedangkan indikator
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 6 VARIABEL & INDIKATOR PENELITIAN
60 60
formatif menyebabkan konstruk. Dapat pula diberi makna lain, apabi- la indikator tersebut cenderung bersifat penyusun, maka akan bersifat formatif, sedangkan bila indikator adalah hasil dari konstruk akan ber- sifat refleksif.
Kedua, sifat kovarian.
Pada hubungan refleksif, kovarian antar-indikator adalah tinggi karena seluruh indikator akan bergerak bersama, artinya perubahan satu indikator akan menyebabkan perubahan terhadap indikator lain- nya. Adapun pada sifat formatif, diharapkan tidak memiliki kovarian tinggi dan tidak bergerak bersama.
Ketiga, sifat duplikasi.
Apabila indikator memiliki kesamaan dasar konseptual (seluruh in- dikator mengindikasikan hal yang sama), maka akan bersifat refleksif.
Akibatnya menghilangkan satu indikator tidak mengubah arti konstruk secara materi.
Keempat, hubungan indikator pada berbagai variabel.
Pada sifat refleksif, semua indikator bisa berhubungan dengan va- riabel lain. Adapun pada hubungan formatif diharapkan terjadi pola hubungan yang berbeda dengan variabel lain.
7
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Katika peneliti mengumpulkan data, data yang terkumpul bisa beru- pa elemen data yang dapat diukur, tetapi bisa juga berupa elemen data belum dapat diukur. Untuk data yang belum bisa diukur ini, maka pe- neliti harus bisa membuat data yang belum bisa diukur ini menjadi ele- men-elemen data yang bisa diukur. Caranya adalah dengan mengurai- nya menjadi data yang dapat diukur. Untuk itulah, peneliti memerlukan skala untuk dapat mengerjakannya. Bab ini akan membahas mengenai pengolahan dan analisis data yang dimulai dari pengukuran terlebih dahulu.
A. PENGUKURAN
Pengukuran didefiniskan sebagai pemberian nilai dari sebuah ob- jek. Objek yang dimaksud di sini adalah sesusatu yang sedang diteliti oleh peneliti tersebut. Dalam penelitian manajemen pemasaran syariah, objek bisa berupa karyawan, manusia, pelanggan, dan lain sebagainya.
Pengukuran dilakukan pada properti di sebuah objek. Misalnya ketika penelitian sedang meneliti tentang pelanggan, maka yang diukur dalam penelitian ini bisa usia pelanggan, gaji pelanggan, keinginan pelanggan, atau kepercayaan pelanggan pada sebuah produk halal tersebut.
Pengukuran properti selanjutnya dibagi menjadi dua, yaitu pengu- kuran properti fisik dan pengukuran properti psikologis. Pengukuran properti fisik jauh lebih mudah untuk diukur maupun diobservasi. Con- toh pengukuran properti fisik dalam penelitian manajemen pemasar-