BAB 1 KONSEP DASAR PENELITIAN 1
C. Teknik Pengumpulan Data 58
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
61 61
Hal pertama yang penting untuk dipahami dalam pengumpulan data adalah memahami instrumen penelitian. Instrumen penelitian
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
62 62
yang paling lazim digunakan dalam penelitian pemasaran syariah ada- lah kuesioner, baik kuesioner daring ataupun luring. Mari kita pahami bersama mengenai kuesioner.
Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan seorang peneliti dalam mengembangkan kuesisoner. Menurut Hartono (2018), ada beberapa ta- hapan dalam mengembangkan kuesioner. Berikut penjelansannya ma- sing-masing.
a. Memahami Latar Belakang Survei
Tahap awal dalam mengembangkan kuesioner adalah memahami latar belakang survei. Dengan memahami latar belakkang, tujuan yang ingin dicapai, serta pertanyaan-pertanyaan penelitian akan membuat peneliti bisa menyusun hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian telah dibahas dibagian sebelumnya.
b. Mengembangkan Kerangka Konseptual dan Operasional Kuesioner Dari hipotesis-hipotesis yang sudah disusun di tahap pertama ter- sebut, maka penelitian dilanjutkan dengan mengembangkan konsep.
Proses mengembangkan konsep (konseptualisasi) merupakan sebuah proses pembentukan konsep dan definisi subdomain. Konsep biasanya belum bisa diukur dengan jelas. Konsep tersebut kemudian dijabarkan dalam definisi operasional sehingga bisa diukur. Operasionalisasi ini merupakan terjemahan dari konsep teoretis ke dalam variabel yang di- amati dengan menentukan Indikator empiris untuk konsep dan subdo- main.
Ada dua teori yang bisa menjadi penghubung antara teori (konsep) dengan variabel yang diamati (operasionalisasi). Teori tersebut adalah pendekatan yang dipicu oleh theory driven yang mendefinisikan konsep- konsep secara teoretis dan memisahkannya topik yang dibahas dalam subdomain yang terpisah, serta pendekatan operasionalisasi yang dipi- cu secara empiris atau melibatkan kelompok observasi.
3. Melakukan Purwa Uji atau yang Sering Lebih Dikenal dengan Pre-Test
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
63 63
Melakukan purwa uji ini sangat penting dilakukan sebelum mela- kukan pengumpulan data. Banyak yang akan dihemat jika purwa uji ini dilakukan. Bayangkan jika purwa uji ini tidak dilakukan terlebih dahulu,
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
64 64
dan ternyata setelah kuesioner disebar terdapat kesalahan-kesalahan.
Maka yang akan terjadi, peneliti akan rugi biaya dan waktu yang telah dikeluarkan. Jika peneliti melakukan purwa uji terlebih dahulu, maka peneliti bisa melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada kuisioner- nya sehingga bisa diperbaiki terlebih dahulu.
Dari purwa uji ini, peneliti juga bisa mendapatkan validitas dan re- liabilitas kuesioner yang dibuatnya. Jika sudah valid dan reliabel, maka peneliti kemudian bisa melakukan pengumpulan data dengan menggu- nakan kuesioner tersebut.
4. Menulis Item-item Pertanyaan dalam Kuesioner
Menulis item pertanyaan merupakan fase yang penting untuk di- perhatikan karena pertanyaan yang dibuat oleh peneliti berpengaruh pada perilaku responden dalam menjawab pertanyaan tersebut. Pada akhirnya, tentu ini akan berpengaruh pada kualitas data yang dikum- pulkan oleh peneliti.
Adapun jenis pertanyaan yang ada di dalam kuesioner sebagai ber- ikut:
Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan tentang fakta. Contohnya, ke- tika peneliti akan meneliti dampak iklan produk halal di media sosial, maka di awal penelitian biasanya peneliti akan menanyakan kepemilik- an handphone atau aplikasi marketplace yang diunduh oleh responden.
Hal itu merupakan fakta, sehingga pertanyaan itu disebut pertanyaan faktual.
Pertanyaan perilaku, yaitu pertanyaan yang memerlukan informa- si tentang aktivitas. Contohnya, “apakah Anda berniat untuk membeli produk halal “X” ini?”
Pertanyaan pendapat, yaitu pertanyaan untuk mengukur pendapat subjektif responden. Biasanya, peneliti menggunakan kata setuju dan tidak setuju, baik dan buruk, dan kata-kata lain sejenisnya. Dalam per- tanyaan pendapat ini, tak jarang peneliti menggunakan skala dalam menanyakannya. Contoh penskalaan adalah ketika kita akan menanya- kan kesetujuan responden, peneliti akan mengembankannya menjadi sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, sangat setuju. Contoh
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
65 65
tersebut menggunakan lima skala. Namun tidak jarang juga penelitian yang menggunakan tujuh skala atau sepuluh skala.
Pertanyaan hipotesis, yaitu pertanyaan mengenai “apa yang Anda
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
66 66
akan lakukan, jika…”
Selain jenis pertanyaan, peneliti juga harus mengetahui mengenai format pertanyaan. Format pertanyaan ada dua. Pertama, pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka memungkinkan responden untuk menggu- nakan kata-katanya sendiri dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.
Contohnya:
“Apa pendapat Anda mengenai produk halal X Ini?”
Responden akan bebas menjawab pertanyaan tersebut dengan kata- katanya sendiri. Kedua, pertanyaan tertutup. di pertanyaan dengan jenis ini, responden akan menjawab sesuai dengan jawaban yang sudah dise- diakan oleh peneliti. Misalnya, ketika diajukan pertanyaan yang sama dengan di atas, maka di pertanyaan tertutup ini responden akan menja- wab pertanyaan tersebut dengan opsi jawaban sangat tidah baik, tidak baik, netral, baik, atau sangat baik. Responden bisa memilih jawaban yang menurutnya paling tepat.
Selain jenis dan format pertanyaan, peneliti harus memperhatikan hal-hal ini agar pertanyaan yang dibuat lebih efektif.
a. Bahasa
Pemilihan bahasa yang tepat sangat berpengaruh pada jawaban yang didapat oleh responden. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi res- ponden yang terkadang dari strata yang berbeda, baik pendidikan, usia, dan lain sebagainya. Pertanyaan yang sama, jika diajukan ke responden dengan strata yang berbeda, maka pemahamannya juga terkadang akan berbeda. Untuk itulah peneliti harus jeli dalam hal ini.
b. Kata-kata
Tips yang disarankan untuk peneliti dalam memilih kata-kata ada- lah menggunakan kata yang mudah, jelas, dan meminimalisasi penggu- naan kata-kata berbau teknis atau asing. Selain itu peneliti juga harus menghindari kata-kata yang ambigu.
c. Panjang Kalimat
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
67 67
Tips yang disarankan dalam bagian ini adalah peneliti sebaiknya menggunakan kalimat yang pendek dan mudah dipahami. Caranya ada- lah dengan meminimalisasi penggunaan kata-kata yang sulit dipahami
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
68 68
sehingga pembaca bisa berkonsentrasi pada inti pertanyaan.
d. Penekanan Kata (tone)
Dalam sebuah teks tertulis, penekanan kata (tone) bisa terlihat dari tata tulis, seperti penggunaan huruf kapital atau huruf kecil, penggu- naan tanda baca, dan lain sebagainya. Peneliti harus memperhatikan hal-hal ini karena akan berpengaruh pada penekanan kata yang keluar ketika kalimat tersebut dibaca.
Selain hal-hal yang disarankan, adapula hal-hal yang harus dihidari oleh peneliti dalam menyusun kalimat pada kuesioner. Pertama, hindari menanyakan beberapa pertanyaan dalam satu pertanyaan sekaligus.
Misalnya:
“Apakah Anda setuju jika produk “x” ini tergolong produk halal dan ramah lingkungan? Mengapa”
Kedua, sebisa mungkin hindari penggunaan pertanyaan subjektif.
Definisi pertanyaan subjektif telah dibahas di bagian sebelumnya. Peng- gunaan pertanyaan subjektif ini bisa diminimalisasi dengan menyedia- kan jawaban yang bisa dipilih responden.
Ketiga, sebisa mungkin menghindari pertanyaan dengan tujuan ter- tentu.
Misalnya:
“Produk X termasuk produk halal dan ramah lingkungan?”
Sebaiknya diganti dengan:
“Produk x termasuk produk yang ….”
Dan disediakan pilihan jawaban:
a. halal
b. halal dan ramah lingkungam c. ramah lingkungan
Keempat, hindari pertanyaan negatif karena akan membuat tujuan survei menjadi tidak tercapai.
Contoh pertanyaan negatif sebagai berikut:
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
69 69
“Apa yang membuat produk Anda tidak laku di pasaran?”
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
70 70
Sebaiknya diganti dengan pertanyaan positif seperti:
“Faktor apa yang membuat penjualan produk Anda meningkat?”
e. Mendesain Visual
Mendesain visual sebuah kuesioner tidak terlepas dari elemen de- sain visual. Elemen desain visual terdiri dari tata letak kuesioner, jenis huruf, besar huruf, struktur tugas, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini akan sangat membantu menstimulasi responden.
Tiga tingkat desain yang sering digunakan sebagai berikut:
1. Tingkat emosional
Yaitu responden yang mengisi kuesioner menghasilkan reaksi po- sitif atau negatif (emosi) dengan tanpa alasan. Desain visual yang ditampilkan oleh peneliti harus bisa mengatasi hal ini.
2. Tingkat fungsional
Yaitu apakah responden yang mengisi kuesioner tersebut sudah se- suai dengan apa yang menjadi tujuan peneliti. Desain visual harus mampu membuat sebuah kuesioner bisa tersampaikan sesuai de- ngan tujuannya.
3. Tingkat reflektif
Yaitu mengenai tingkat partisipasi responden dalam menjawab per- tanyaan-pertanyaan yang diajukan. Desain visual yang baik mampu mendorong responden untuk berpartispasi dalam penelitian.
f. Meminta Ulasan Pakar
Hal terakhir yang perlu dilakukan dalam mengembangkan kuesio- ner adalah meminta ulasan pakar. Jika peneliti merupakan mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, maka pakar yang dimaksud bisa supervisor atau dosen pembimbing. Tujuan dari menerima saran dari pakar adalah untuk mendapatkan informasi bahwa kuesioner yang disusun telah sesuai dengan tujuan analitis.
Setelah memahami tentang pengembangan kuesioner, maka hal yang perlu diketahui berikutnya oleh peneliti adalah mengenai peng- gunaan kuesioner. Di bagian purwa uji, validitas dan reliabilitas diuji dengan panel pakar, sedangkan diuji instrumen, validitas dan reliabili-
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
71 71
tas diuji dengan responden-responden. Dengan kata lain, uji instrumen dilakukan melalui dua tahap, yaitu uji pilot (pilot test) dan uji lapangan
METODOLOGI PENELITIAN: Manajemen Pemasaran dan Bisnis Islam BAB 7 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
72 72
(field test). Uji lapangan akan dibahas di bab selanjutnya mengenai vali- ditas dan reliabilitas. Dalam penulisan artikel di jurnal, biasanya yang ditampilkan juga uji validitas dan reliabilitas dari field test.
Pada bagian ini akan membahas mengenai uji instrumen lewat pi- lot tes. Uji pilot dilakukan dalam dua kali. Uji pilot pertama, dilakukan dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa item-Item kuesioner yang te- lah dibuat mencukupi, dapat dipahami, dan benar. Uji pilot yang kedua merupkan uji pilot dengan skala penuh untuk menguji tingkat reliabili- tas lebih lanjut dengan menggunakan responden-responden yang latar belakangnya sama dengan populasi.