BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Penyajian Hasil Pene;itian
1. Deskripsi Kegiatan Siklus I
Peneliti melakukan komunikasi dengan guru mata pelajaran sosiologi sekaligus mendiskusikan permasalahan yang telah dihadapi.
Selanjutnya peneliti dan guru bidang studi bersangkutan, mencoba untuk mencarikan sebuah solusi atas permasalahan yang dihadapi.
48
Dalam tahap ini peneliti juga melakukan telaah kurikulum yang telah berlaku disekolah tersebut yang telah menjadi tempat penelitian.
Pada proses penelaahan kurikulum tersebut, maka telah ditetapkan pokok bahasan perilaku menyimpang (Cross Boys) sebagai salah satu pokok bahasan yang dianggap menarik untuk diajarkan pada tingkatan psikis siswa kelas X IPS. Pokok bahasan tersebut akan diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script sebagai alternatif munculnya motivasi, komunikasi yang efektif dan pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
Pada kegiatan selanjutnya peneliti mencoba untuk membuat skenario rancangan pembelajaran, agar mempermudah mendapatkan data yang bersifat akurat, peneliti menambahkan bahan penunjang yaitu lembar observasi, alat evaluasi, dan deskripsi tentang kejadian yang telah dialami setelah proses pembelajaran. Kegiatan ini termuat dalam setiap siklus yang telah diterapkan oleh peneliti.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan.
Dalam tahap pelaksanaan pada penelitian ini meliputi penyajian langkah-langkah pembelajaran cooperative script, penerapan model pembelajaran cooperative script dalam hubungannya dengan materi yang disajikan yaitu perilaku menyimpang (Cross Boys) adapun penyajian tersebut ialah sebagai berikut :
1. Langkah-langkah metode Cooperative Script adalah sebagai berikut:
a) Guru membagi siswa untuk berpasangan
b) Guru membagikan wacana atau materi tiap siswa untuk dibaca dan dibuatkan ringkasan.
c) Guru dan siswa menetapkan siapa yang terlebih dahulu menjadi pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
d) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar:
1) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap.
2) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
e) Bertukar peran, semula menjadi pembicara ditukar menjadi pendengar begitupun dengan sebaliknya.
f) Guru membantu siswa membuat kesimpulan.
g) Penutup.
1. Pertemuan ke-1
Pelaksanaan tindakan pada pertemuan ke-1 meliputi kegiatan awal 10 menit diantaranya : guru memberikan salam, guru berdoa, kerapian dan absensi siswa.
Kegiatan inti 70 menit, peneliti membagikan materi dan membentuk pasangan kemudian dilanjutkan dengan menetapkan pembicara dan pendengar secara bergantian. Dalam kegiatan ini, peneliti memberikan instruksi kepada siswa bahwa setelah membaca materi yang diberikan, siswa membuat ikhtisar atau ringkasan materi. Pada saat kegiatan berlangsung peneliti mengamati aktivitas siswa dan membuat catatan kecil tentang proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Setelah kegiatan selesai, guru mempersilahkan kepada kelompok berpasangan tersebut untuk menguraikan apa yang diperoleh selama pembelajaran. Hal tersebut.
Secara bergantian dilakukan oleh siswa tersebut.
Akhir dari pertemuan I ini selama 10 menit, guru memberikan evaluasi berdasarkan materi pelajaran yang diajarkan. Siswa memberikan kesimpulan kemudian ditambahkan oleh guru agar lebih kompleks.
2. Pertemuan ke-2
Pada pertemuan ke-2 ini, peneliti melakukan hal yang sama dengan pertemuan pertama. Namun pada pertemuan ini, peneliti lebih mengintensifkan waktu pada lanjutan penguasaan materi.
meliputi kegiatan awal 10 menit diantaranya : guru memberikan salam, guru berdoa, kerapian dan absensi siswa.
Kegiatan inti 70 menit, peserta didik diberikan kesempatan untuk mencatat pokok wacana / materi pada setiap subtopik. Selanjutnya peserta didik di arahkan untuk merangkai atau menambahkan beberapa konjungsi sehingga menjadi susunan kalimat yang efektif. Setelah penyempurnaan tersebut di anggap selesai, peneliti kembali memberikan arahan kepada peserta didik untuk belajar menyampaikan secara lisan. dari beberapa fase yang diterapkan, peneliti kembali mengarahkan kepada peserta didik untuk tampil di depan secara berpasangan sesuai petunjuk yang termuat dalam cooperative script. Dari proses itu, peserta didik yang awalnya pembicara telah diberikan kesempatan untuk menjadi pendengar. Si pendengar berfungsi untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap sehingga pembicara dapat menyempurnakan ringkasannya. Setelah tahap tersebut sudah dilaksanakan, peneliti kembali menyempurnakan kesimpulan terhadap materi yang dipelajari.
Akhir dari pertemuan II ini selama 10 menit, guru memberikan evaluasi berdasarkan materi pelajaran yang diajarkan. Siswa memberikan kesimpulan kemudian ditambahkan oleh guru agar lebih kompleks.
3. Pertemuan ke-3
Meliputi kegiatan awal 10 menit diantaranya : guru memberikan salam, guru berdoa, kerapian dan absensi siswa.
Kegiatan inti 70 menit, seperti pada pertemuan sebelumnya, pertemuan ketiga ini peneliti kembali memberlakukan pasangan siswa sebelumnya. Beberapa kegiatan tetap dilaksanakan seperti yang tertuang didalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun peneliti kembali meminta peserta didik untuk tampil di depan, bagi siswa yang belum sempat tampil pada pertemuan 1 dan 2. akhir dari kegiatan ini peneliti memberikan kesempatan kepada kelompok yang di anggap sudah menguasai materi untuk tampil kembali. Setelah itu peneliti memberikan hadiah. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi proses pemantapan.
Akhir dari pertemuan III ini selama 10 menit, guru memberikan evaluasi berdasarkan materi pelajaran yang diajarkan. Siswa memberikan kesimpulan kemudian ditambahkan oleh guru agar lebih kompleks, gur menyuruh siswa untuk mempelajari ulang materi dari pertemuan pertama sampai ketiga.
4. Pertemuan ke-4
Kegiatan awal 10 menit. Guru mempersiapkan kelas untuk ulangan tes. Guru menjelaskan tujuan ulangan tes.
Kegiatan inti 70 menit. Guru membagikan soal yang telah disiapkan.
Siswa mengerjakan soal yang telah dibagikan oleh guru. Siswa mengumpulkan pekerjaan kepada guru untuk dinilai.
Kegiatan akhir 10 menit. Siswa dan guru membahas bersama soal- soal yang telah dikerjakan. Akhir pembelajaran dengan membaca doa
Pada prinsipnya, peneliti akan mengakhiri siklus I apabila semua peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 4 Pasangkayu memperoleh nilai di atas standar yang sudah ditetapkan. Namun, apabila hal tersebut justru terjadi sebaliknya maka peneliti harus melaksanakan siklus ke II.
a. Hasil Observasi/Evaluasi 1. Hasil Observasi
Penyajian hasil survei yang dilakukan selama proses pembelajaran dalam siklus I dapat dilihat secara rinci dalam tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Aktivitas Siswa. Adapun isi tabel ialah sebagai berikut:
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
No Komponen yang Diamati Pertemuan ∑ X%
1 2 3 4
1 Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
20 20 23 T
E S
S I K L U S I
63 87,50 2 Siswa yang bertanya materi pelajaran
yang belum dimengerti
2 3 1 6 8,33
3 Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat guru menjelaskan
5 2 2 9 12,50
4 Siswa yang aktif dalam menjawab pertanyaan
3 5 7 15 20,83
5 Siswa yang mengerjakan PR 15 21 24 60 83,33
2. Hasil Evaluasi
Pada bagian evaluasi ini, peneliti juga menyajikan nilai statistik yang telah ditentukan pada siklus I, dimana seluruh rangkaian pembelajaran yang telah dilakukan digambarkan seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2: Statistik Skor Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Pasangkayu Sulawesi Barat pada Tes Akhir
Siklus I
Statistik Nilai Statistik
Subyek 24
Skor Ideal 100
Skor Tertinggi 75
Skor Terendah 50
Rentang Skor 25
Skor Rata-Rata 62,58
Standar Deviasi 7,47
Apabila hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran sosiologi dikelompokkan ke dalam empat bagian, maka diperoleh distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Persentase Skor Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X IPS SMA Negeri 4 Pasangkayu Kecamatan Baras Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat
Akhir Siklus I
Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
90 – 100 Sangat tinggi - -
70 – 89 Tinggi 6 25,00
60 - 69 Sedang 13 54,17
40 – 59 Rendah 5 20,83
0 – 39 Sangat rendah - -
Jumlah 24 100
Berdasarkan tabel 4.1 dan 4.2, maka dapat disimpulkan bahwa skor rata- rata hasil belajar siswa kelas X IPS SMA Negeri 4 Pasangkayu Kecamatan Baras Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat pada pokok bahasan perilaku menyimpang dalam siklus I sebesar 62,58 berada pada kategori
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Sangat Rendah
Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
rendah. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa dari 24 siswa yang menjadi subjek penelitian, 5 siswa (20,83%) memperoleh skor berada dalam kategori rendah sedangkan 13 siswa (54,17%) memperoleh skor berada dalam kategori sedang.
Berikut ini adalah gambar grafik diagram batang dari hasil belajar dari siklus I sebagai berikut:
Gambar 4.1. Diagram Batang Hasil Belajar Siklus I
b. Refleksi
Siklus I diadakan 3 kali pertemuan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian ulangan harian atau tes evaluasi siklus. Materi yang akan diajarkan pada siklus I adalah perilaku menyimpang. Proses belajar mengajar pada siklus I adalah sebagai berikut:
0 10 20 30 40 50 60
Sangat Rendah
Rendah Sedang Tinggi Sangat
Tinggi
1) Pada pertemuan pertama, guru menyampaikan bahwa metode pembelajaran yang akan diterapkan selama penelitian ini yaitu metode pembelajaran Cooperative Script.
2) Guru menyampaikan langkah-langkah dalam pembelajaran yang harus diikuti oleh siswa, serta menginformasikan bahwa setiap siswa diharapkan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
3) Guru memulai pelajaran dengan menyampaikan materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran, dan memotivasi siswa agar mengikuti pelajaran dengan sungguh- sungguh.
4) Guru membagi siswa secara berpasang-pasangan, dengan ketentuan bahwa ada pembicara dan pendengar. Selanjtnya pembicara dan pendengar secara bergantian akan menguraikan ikhtisar yang dibuat berdasarkan materi yang diberikan.
5) Setiap kelompok yang berpasangan menguraikan ikhtisar yang dibuat dan secara bergantian berperan sebagai pendengar dan pembicara.
6) Guru memonitoring kelompok yang berpasangan tersebut dan membantu memberikan solusi serta membimbing siswa yang belum memahami materi dan tugas yang diberikan.
7) Guru memanggil kelompok yang berpasangan untuk tampil di depan.
8) Guru meminta si pendengar untuk memberikan pertanyaan, tanggapan, dan kritikan terhadap sipembicara begitu pun sebaliknya.
9) Selanjutnya guru meminta kepada kelompok pasangan lain untuk ikut aktif dalam sesi tersebut. Selanjutnya guru juga mempersilahkan kepada
kelompok lain untuk memberikan pertanyaan, sanggahan, atau solusi atas materi yang dipersentasikan.
Pada umumnya, setiap pertemuan akhir, guru selalu memberikan tugas mengenai materi yang telah dipelajari dan menambahkan tugas di rumah dengan tujuan mempermudah pemahaman siswa untuk pertemuan selanjutnya.
10. Pada pertemuan kedua dan ketiga pada dasarnya hampir sama dengan pertemuan I, yaitu memberikan suatu contoh peristiwa terkait dengan perilaku menyimpang. Selanjutnya peneliti membagi siswa dalam beberapa pasangan sebagai pendengar dan pembicara. Setelah itu barulah membagikan materi pokok bahasan sesuai dengan jumlah pasangan.
Dalam proses ini, siswa dengan cermat mengidentifikasi pokok-pokok materi kemudian dituliskan dalam bentuk iktisar dan akan dipersentasikan di depan kelas. Pada akhir proses siswa menyimpulkan materi tersebut dan disempurnakan oleh peneliti. Perlakuan ini akan terangkum dalam lembar observasi siswa. Berikut data yang diperoleh selama siklus I berlangsung (3 kali pertemuan).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam perlakuan yang diberikan kepada siswa belum dikategorikan sebagai titik keberhasilan. Indikasinya ialah masih terdapat siswa yang berada posisi rendah. Hal ini ditandai dengan pemahaman siswa yang kurang dalam menelaah atau menganalisis materi yang diberikan. Selain itu kemampuan siswa dalam memberikan uraian belum maksimal.
Pada akhir siklus I, guru memberikan tes hasil belajar sosiologi dan berusaha memperketat pengawasan dengan harapan bahwa hasil yang diperoleh adalah hasil yang murni dan betul-betul mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang diberikan. Meskipun demikian, masih ada siswa yang berusaha meniru pekerjaan temannnya disebabkan oleh kebiasaan mereka sebelumnya.
Berdasarkan hasil yang diperoleh selama siklus I, yang belum menunjukkan hasil yang maksimal, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan ke siklus berikutnya.
Sehubungan dengan uraian pada siklus I yang belum mencapai target penelitian maka, peneliti berinisiatif untuk melakukan tindakan selanjutnya yang biasa disebut dengan siklus II.
Dalam siklus II peneliti mengintensifkan kegiatan proses pembelajaran dengan tujuan target harus tercapai. Oleh karena itu, peneliti melakukan pendekatan persuasif terhadap siswa yang berada pada kategori rendah. Selain itu, peneliti memberikan teknik persentasi, teknik bicara dan membantu memediasi, mengorganisir, dan menyusunkan kalimat yang efektif untuk di pelajari pada saat melakukan persentasi.