BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
6. Perilaku Menyimpang Cross boys
Kamus sosiologi (2010) Cross boys adalah anak laki-laki muda yang tergabung dalam suatu ikatan/organisasi formal atau semi formal dan
mempunyai tingkah laku yang kurang/tidak disukai oleh masarakat pada umumnya.
Perilaku nakal pada remaja bisa disebabkna oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
1) Faktor internal a) Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentunya perasaan atas konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran.
Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b) Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan tersesat pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengertahuannya.
2) Faktor eksternal a) Keluarga
Bagong suyanto (2004: 227) keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata social lainnya berkembang.
Sedangkan Horton dan Hunt dalam (Bagong Suyanto 2004: 227) istilah keluarga umumnya digunakan untuk menunjuk beberapa pengertian sebagai berikut: (1) suatu kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama; (2) suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah dan perkawinan; (3) Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak; (4) pasangan nikah yang mempunyai anak; dan (5) satu orang entah duda atau janda dengan beberapa anak.
Salah satu penyebab perilaku nakal pada remaja adalah Perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun,seperti terlalu memanjakan anak,tidak memberikan pendidikan agama,atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
1) Teman sebaya yang kurang baik
2) Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik
Kelompok seperti menjadi sebuah momok baru bagi masyarakat indonesia.hari ini. Sejumlah kasus penganiayaan, perampokan, narkoba, dan seks bebas adalah sederet catatan kecil kejahatan mereka untuk menebar teror di tengah masyarakat. Tak pelak jika banyak masyarakat yang geram dan menginginkan polisi untuk bertindak tegas memeberantas aksi kelompok seperti ini yang telah banyak meresahkan masyarakat.
Pada dasarnya, kelompok seperti ini dimulai dari hanya sekedar kumpul-kumpul sesama. Kemudian bermetamorfosis menjadi kelompok yang beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang.
Mereka membentuk gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman demi menancapkan identitas kelompok. Ngetrcak,kebut- kebutan, dan tawuran adalah upaya dalam pencaharian identitas mereka.
Menurut psikolog reza indagri, ada tiga faktor utama munculnya Cross Boys yaitu : Pertama, faktor pendorong yaitu psikologi anak-anak muda yang senang bergerombol dan membentuk geng karena memiliki kesamaan hobi. Kedua, faktor penarik, dimana ruang atau kanal untuk menyalurkan hobi atau atau aktivitas anak-anak muda tersumbat.
Sehingga yang muncul adalah kegiatan tang deskruktif dan kontraduktif dengan perkembangan psikologi remaja. Ketiga, lanjut dia, adalah vakumnya hukum atau lambannya respon dari aparat kepolisian.
Menurutnya kemunculan kelompok seperti itu tidak secara tiba-tiba.
Namun, butuh waktu panjang untuk berproses, berkonsilidasi untuk menjadi sebuah kelompok yang eksis.
Dewasa ini apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya penyakit sosial dalam masyarakat dan Jika saja polisi bersikap tegas sejak awal, keberadaan kelompok seperti ini tidak akan mengkhawatirkan. hal ini diperparah dengan respon hukum yang lambat. karena kelambanan aparat, sehingga kelompok seperti ini melakukan aksinya seperti perkelahian. polisi
hanya tertarik menangani kasus kriminal besar seperti korupsi, pembabakan hutan, dan narkoba.
b. bentuk-bentuk cross boys
Karl Max (Wulansari Dewi 2009) berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi.
1) Geng-geng dalam kapasitas besar
Fenomena seperti inilah yang paling sering kita dengar dalam media informasi maupun di koran beberapa kota besar indonesia yang sering melakukan penyimpangan mulai dari pencuruan, tawuran sampai pembunuhan. Misalnya geng motor.
2) Geng-geng dalam kapasitas kecil
Kelompok seperti ini dalam tahap ringan namun apabila tidak di antisipasi dengan cepat dan tepat maka akan menjadi masalah besar.
Umumnya kelompok seperti terdiri dari beberapa orang dan biasanya di kalangan pelajar di sekolah menengah maupun atas.
Berbeda halnya dengan cross boys dalam kelompok kecil, kelompok besar ini membutuhkan perhatian dan penanganan yang cepat karena dapat mengancam masyarakat yang ada disekitarnya.
c. Penyebab terbentuknya cross boys 1) Hobi dan kepentingan yang sama
Karena mereka sering bertemu dan hobi yang sama sehingga termotivasi untuk membentuk sebuah kelompok tertentu.
2) Hubungan batin yang kuat
Karena keakraban yang sudah kuat dan rasa perduli di anatara mereka semakain matang. Maka menjadi salah satu alasan tercetusnya ide untuk membentuk komunitas atau kelompok. Rasa solidaritas adalah hal lumrah atau biasa kita temukan dalam kehidupan. Misalnya dalam persahabatan rasa kesetiakawanan akan menjadi alasan mengapa persahabatn bisa menjadi kuat.
d. Cross Boys sebagai Perilaku Menyimpang
Secara umum, ada beberapa alasan mengapa Cross Boys termasuk kedalam perilaku menyimpang karena sering melakukan tindakan-tindakan perilaku menyimpang antara lain :
1) Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada.
2) Tindakan anti sosial atau asosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Bentuk tindakan asosial itu seperti menggunakan nakotika atau obat-obat terlarang.
3) tindakan-tindakan kriminal, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang. Tindakan criminal yang sering kita temui itu
misalnya : tawuran, pengeroyokan dan berbagai bentuk tindak kejahatan lainnya.
Cross boys termasuk kedalam penyimpangan kelompok (group deviation). Penyimpangan jenis ini dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama melakukan tindakan yang menyimpang contohnya pesta narkoba, perkelahian, tawuran dan sebagainya.
Cross boys biasanya sulit untuk dikendalikan, karena kelompok- kelompok seperti ini umumnya mempunyai nilai-nilai serta kaidah-kaidah sendiri yang berlaku bagi semua anggota kelompoknya. Sikap fanatic yang dimiliki setiap anggota terhadap kelompoknya menyebabkan mereka merasa tidak melakukan perilaku yang menyimpang. Hal tersebut menyebabkan penyimpangan kelompok lebih berbahaya dari pada penyimpangan individu.