2. Penyaringan
9.5 Justifikasi pemilihan lokasi industri
h) Ketersediaan Bahan Baku
Asumsi kebutuhan bahan baku per produksi/hari = 42kg. Berdasarkan data dari dinas pertanian Kota Malang, Malang memiliki 7 titik lokasi budidaya sirih cina yang sudah terdata (di Kec Blimbing dan Sukun), jika diakumulasikan Kota Malang mampu menyediakan sirih cina 2,6ton/hari, angka ini termasuk banyak mengingat daun sirih cina merupakan tanaman yang masih jarang dibudidaya secara komersil di Kota Malang. Berikutnya, Kecamatan Singosari memiliki 15 lokasi kebun untuk budidaya sirih cina, dan mampu menyediakan sirih cina 5,82ton/hari. Kota batu memiliki beberapa petani serta lahan budidaya sirih cina dan mampu menyediakan daun sirih cina sebesar 3,72ton/hari
Skoring :
Mampu menyediakan >5 ton = 100 Mampu menyediakan 2.5-5 ton = 80 Mampu menyediakan 1-2.5 ton = 60 Mampu Menyediakan 500kg-1ton = 40 Mampu menyediakan 0-500kg = 20
i) Kedekatan dengan Lokasi Produksi
Asumsi jarak minimal dengan pasar (Pusat Kota) adalah6km.Kota Malang (Kec Lowokwaru) memiliki jarak dengan pasar <3km. Berikutnya Kecamatan Singosari memiliki jarak dengan pasar industri sebesar 11km dan Kota Batu memiliki jarak dengan lokasi pasar sebesar 33 km. Jika ditinjau dari potensial pasar, Kota Malang dan Kabupaten Malang memiliki potensi yang lebih unggul jika dibandingkan dengan Kota Batu karena merupakan daerah urban dengan jumlah penduduk yang tinggi dan memiliki jumlah penduduk berusia dibawah 40 tahun yang cukup banyak, yang mana cocok dengan target konusmen dari produk Peperomia Mask. Kota Malang memiliki jumlah penduduk usia 18-35 tahun sebesar 59% dari total jumlah penduduk 895.387, Kabupaten memiliki jumlah penduduk usia 18-35 tahun sebesar 61% dari total penduduk 1.654.448 jiwa, Kota Batu memiliki jumlah penduduk usia 18-35 tahun sebesar 39% dari total penduduk 165.393 jiwa.
Skoring :
Jarak 0-10 km = 100 Jarak 11-20 km = 80 Jarak 21-30 km = 60 Jarak 31-40 km = 40 Jarak >40 km = 20
j) Ketersediaan Tenaga Kerja
Kota Malang memiliki penduduk usia kerja sebanyak jiwa 425.368 dengan jumlah penduduk pengangguran sebesar 6000 jiwa,Kabupaten Malang memiliki penduduk usia kerja sebanyak 857.593 jiwa. Kota Batu memiliki penduduk usia kerja sebanyak 183.415 jiwa, Ditinjau dari segi komunitas masyarakat dan perilaku tenaga kerja, Kota Malang dan Kabupaten Malang mampu menyediakan tenaga kerja yang relatih, terdidik dan terampil. Jika di asumsikan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk inustri Peperomia Mask sebanyak 153 tenaga kerja, maka jumlah penduduk usia produktif dari ketiga alternatif lokasi tersebut sudah sangat memenuhi angka permintaan tenaga kerja
Skoring :
Mampu memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 100% = 100 Mampu memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 80% = 80
Mampu memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 60% = 60 Mampu memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 40% = 40 Mampu memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 20% = 20
k) Ketetersediaan infrastuktur / fasilitas penunjang
Kota Malang memiliki infrastruktur yang baik, kondisi jalan juga dekat dengan jalan raya, beraspal, dan mudah dilewati kendaraan besar, selain itu kota Malang mempunyai beberapa indsutri pendukung yang berkaitan dengan produksi Peperomia Mask, yaitusupplierbahan baku tambahan kosmetik dan laboratorium uji, Kota Malang tergolong sebagai daerah urban sehingga untuk harga lahan lebih mahal jika dibandingkan dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu yang merupakan daerah sub urban. Kota Batu memiliki kondisi infrastruktur yang cukup baik, namun tidak begitu dekat dengan jalan raya, dan kondisi jalan belum beraspal. Kab Malang memiliki infrastruktur yang baik, kondisi jalan juga dekat dengan jalan raya, beraspal, dan mudah dilewati kendaraan besar
Skoring :
Kondisi infrastruktur sangat baik = 100 Kondisi infrastruktur baik = 80
Kondisi infrastruktur cukup baik = 60 Kondisi infrastruktur kurang baik = 40 Kondisi infrastruktur sangat kurang baik = 20
l) Kemudahan Transportasi
Asumsi akses transportasi yang dibutuhkan yaitu jalanan beraspal, dekat dengan jalan raya. Kota Malang memiliki akses transportasi yang mudah, jalan raya beraspal, memiliki akses jalan tol, dan berada di pusat pasar. Kab Malang memiliki akses transportasi yang mudah, jalan raya beraspal, dan memiliki jarak <11km dari lokasi pasar. Kota Baru memiliki akses transportasi cukup mudah, namun jalan tidak beraspal, dan berjarak >30km dari lokasi pasar
Skoring :
Akses transportasi sangat mudah = 100 Akses transportasi mudah = 80
Akses transportasi cukup mudah = 60 Akses transportasi kurang mudah = 40 Akses transportasi sangat kurang mudah = 20
m) UMR
- Asumsi UMR ideal
- Kota Malang memiliki UMR sebesar 2.900.502 - Kab Malang memiliki UMR sebesar 3.068.275 - Kota Batu memiliki UMR sebesar 2.575.616
Skoring :
UMR < Rp 2.000.000 = 100
UMR Rp. 2000.000-2.300.000 = 80 UMR Rp 2.300.000-2.900.000 = 60 UMR Rp 3.000.000-3.500.000 = 40 UMR Rp. 3.600.000-3.900.000 = 20 n) Kondisi geografis
Asumsi kondisi geografis yang baik untuk lokasi produksi Peperomia Mask adalah daerah dengan iklim dan temperatur stabil dan kondisi tanah landai (bukan tanah gerak). Kota Malang memiliki ketinggian 440-667 mdpl, dan memiliki iklim yang sejuk yaitu 16-23oC serta kondisi tanah yang landai. Kondisi geografis kota Malang untuk lokasi produksi adalah sangat baik. Kab Malang memiliki ketinggian 400-700 mdpl, dan beriklim sejuk serta kondisi tanah yang landai. Kondisi geografis kab Malang untuk lokasi produksi adalah baik. Kota Batu memiliki ketinggian 871 mdpl dengan kemiringan 25-40%, memiliki suhu udara sejuk, namun memiliki tekstur tanah yang tidak terlalu keras. Kondisi geografis kota Batu untuk lokasi produksi adalah kurang baik.
Skoring :
Kondisi geografis sangat baik = 100 Kondisi geografis baik = 80
Kondisi geografis cukup baik = 60 Kondisi geografis kurang baik = 40
Kondisi geografis sangat kurang baik = 20 9.2 Desain Layout
9.2.1. OPC dan Tipe Layout 9.2.1.1. OPC
Proses produksi “Peperomia Night Mask” digambarkan melalui Operation Process Chart, mulai dari awal proses produksi hingga akhir yakni proses pengemasan.
Operation proses chart merupakan instrumen yang digunakan untuk menggambarkan untuk menggambarkan atau memetakan proses operasi dan juga pemeriksaan (inspeksi) yang terjadi dalam satu alur proses produksi dari awal hingga menjadi produk jadi.
Dalam OPC terdapat beberapa simbol yakni lingkaran, persegi, dan segitiga. Simbol lingkaran merupakan simbol yang menjelaskan terkait kegiatan operasi ketika bahan mengalami perubahan sifat, simbol persegi merupakan simbol yang menjelaskan kegiatan pemeriksaan (inspeksi) yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ataupun
kualitas pada bahan yang diproses, dan simbol terakhir yakni segitiga yang menjelaskan tentang kegiatan penyimpanan produk jadi setelah diolah. Kegiatan operasi dan inspeksi dapat dilakukan bersamaan yang digambarkan dengan simbol persegi dengan lingkaran di dalamnya. Dalam OPC terdapat penomoran yang dituliskan berurutan berdasarkan urutan prosesnya. Pada kegiatan operasi akan ditulis dengan huruf O kemudian urutan kegiatan pada operasi, begitu pula dengan inspeksi yang dituliskan dengan huruf I kemudian urutan kegiatan pada inspeksi (Ningtyas dkk, 2012).
Pada pembuatan “Peperomia Night Mask” terdapat 1 bahan utama yakni daun sirih cina (Peperomia pelucida L.), 3 bahan tambahan alami, dan 4 bahan aktif. Dalam operation process chart pembuatan masker tersebut terdapat 4 kegiatan operasi, 6 kegiatan operasi yang disertai inspeksi dan 1 kegiatan penyimpanan. Bahan baku yang terletak di paling kanan merupakan bahan baku utama yakni daun sirih cina. Bahan baku daun sirih cina melalui proses pencucian menggunakanconveyordanwater spray selama 10 menit yang merupakan kegiatan operasi dan inspeksi dengan penomoran O-1 dan I-1, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan menggunakancabinet dryer dengan waktu 40 menit yang merupakan kegiatan operasi dan inspeksi dengan penomoran O-2 dan I-2, selanjutnya yakni proses penghalusan menggunakan blender selama 10 menit yang merupakan kegiatan operasi dengan penomoran O-3, proses selanjutnya yakni perendaman dengan menggunakan tangki perendaman selama 100 menit yang merupakan kegiatan operasi dengan penomoran O-4, lalu dilakukan penyaringan dengan menggunakan DSM Screen selama 20 menit yang merupakan kegiatan operasi beserta inspeksi dengan penomoran O-5 dan I-3. Proses selanjutnya yakni maserasi dengan menggunakan rotary evaporator selama 120 menit yang merupakan kegiatan operasi dan inspeksi dengan penomoran O-6 dan I-4, lalu dilanjutkan dengan proses pendinginan menggunakan cooling tank selama 100 menit yang merupakan kegiatan operasi dan inspeksi dengan penomoran O-7 dan I-5, kemudian proses pencampuran 1 yakni pencampuran bahan tambahan alami meliputi aloevera extract, honey extraxt, dan almond oil dengan waktu 30 menit yang merupakan kegiatan operasi dengan penomoran O-8, setelah itu dilanjutkan dengan pencampuran 2 yakni pencampuran bahan aktif meliputi glycerin, niacinamide, collagen peptide, danphenoxyethanoldengan waktu 30 menit yang merupakan kegiatan operasi dengan penomoran O-9, lalu dilanjutkan pada proses pengemasan dengan
menggunakan filling machine selama 20 menit yang merupakan kegiatan operasi dan inspeksi dengan penomoran O-10 dan I-6, setelah dilakukan pengemasan maka produk akan disimpan.
9.2.1.2. Tipe Layout
Tata letak fasilitas pada ruang produksi “Peperomia Night Mask” yaitu tipe product layout. Hal ini dikarenakan penataan ruangan dan mesin disesuaikan dengan aliran produksi dan pada setiap proses memiliki mesinnya masing-masing. Menurut Sofyan dan Syarifuddin (2015), padalayout ini fasilitas-fasilitas disusun sesuai dengan aliran proses produksinya. Pada tipe product layout mmiliki keuntungan yang diantaranya yakni aliran material yang sederhana dan langsung menuju proses selanjutnya, persediaan bahan baku dalam proses yang rendah karena langsung diolah ke proses selanjutnya, total waktu produksi per unit yang rendah, dan dapat menggunakan mesin otomatis karena aliran bahan sudah tentu. Layout pada ruang produksi masker ini disusun secara berurutan yakni diawali oleh mesin conveyor dan water spray yang merupakan proses pencucian, lalu dilanjutkan pada proses pengeringan dengan cabinet dryer, proses penghalusan dengan blender, proses perendaman dengan tangki perendaman, proses penyaringan dengandsm screen, proses maserasi dengan rotary evaporator, proses pendinginan dengan cooling tank, proses pendinginan 1 dan pendinginan 2 dengan tangkimixing, dan yang terakhr yakni proses pengemasan menggunakanfilling machine.
9.2.2. Routing Sheet
Bahan Komposisi Presentase
Daun Sirih Cina 21 0,35
Aloe Vera Extract 18 0,3
Ekstrak Madu 6 0,1
Sweet Almond oil 3 0,05
Glycerin 6 0,1
Niacinamide 3 0,05
Collagen 1,5 0,025
Phenoxy ethanol 1,5 0,025
Total 60 1
Kapasitas Produksi 60
Efisiensi 0,85
Pada routing sheet terdapat beberapa tabel yang menjabarkan bahan yang dibutuhkan beserta komposisi dan presentasenya, nama operasi beserta fasilitas mesin yang digunakan, kapasitas teoritis, kapasitas aktual, jumlah yang diharapkan, jumlah yang diperhitungkan dan jumlah fasilitas mesin aktual.