• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANTANGAN EKSTERNAL…

Tahap 2 Kadar air

188 Tabel 1. Kadar air pada beberapa sampel biji pala

No Sumber biji pala Kadar air (%, v/b) Kadar aflatoksin B1 (ppb) 1.

2.

3.

4.

5.

Biji pala, pedagang - 1 (pasar Bogor) Biji pala, pedagang - 2 (pasar induk Jakarta) Biji pala, eksportir - 1 (asal Sulut)

Biji pala, eksportir - 2

Biji pala, pengeringan aliran udara panas

13,20 12,65 12,10 10,80 8,47

28,46 16,65 4,03 3,37 1,38

Tahap 2

189

dikupas. Peningkatan kadar aflatoksin selama penyimpanan juga ditunjukkan oleh komoditas jagung dan kacang tanah yang mengalami penyimpanan (Fachleny, 2006).

Kadar aflatoksin pada biji pala yang dikupas jauh lebih besar dibanding pada biji yang tidak dikupas dan semakin meningkat dengan makin lamanya penyimpanan. Hal ini kondisi fisik atau biji dikupas lebih meningkatkan kepekaan biji terhadap serangan jamur lebih mudah terkontaminasi aflatoksin (Keenan and Savage, 1994). Kadar aflatoksin terendah pada biji pala kupas sebesar 2,81 ppb. Angka ini lebih rendah dari hasil analisis Uni Eropa yaitu 5 ppb.

Kadar minyak atsiri

Kadar minyak atsiri pada biji pala tidak kupas dan dikupas dengan penyimpanan sampai 3 bulan disajikan pada Tabel 4. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan tidak berpengaruh terhadap kadar minyak atsiri terhadap kedua jenis perlakuan biji pala.

Tabel 4. Pengaruh kadar minyak atsiri terhadap penyimpanan biji pala tidak dikupas dan dikupas Lama penyimpanan (bulan) Kadar minyak atsiri (%)

Tidak dikupas Dikupas

0 1 2 3

8,19 a 8,23 a 8,26 a 8,28 a

8,41 a 8,38 a 8,34 a 8,33 a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95%

Kadar oleoresin

Kadar oleoresin biji pala tidak dikupas dan dikupas dengan penyimpanan selama 3 bulan dapat disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, kadar oleoresin pada biji pala yang tidak dikupas dan dikupas tidak berbeda nyata terhadap lama penyimpanan.

Tabel 5. Pengaruh kadar oleoresin terhadap penyimpanan biji pala tidak dikupas dan dikupas Lama penyimpanan (bulan) Kadar oleoresin (%)

Tidak dikupas Dikupas

0 1 2 3

15,66 a 15,52 a 15,54 a 15,36 a

15,92 a 15,73 a 15,72 a 15.65 a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95%

KESIMPULAN DAN SARAN

Pengupasan tempurung pada biji pala kering dapat berpengaruh terhadap masuknya aflatoksin. Biji pala yang masih bertempurung lebih tahan terhadap serangan aflatoksin. Lama penyimpanan dan kondisi tempat penyimpanan juga dapat berpengaruh terhadap munculnya cemaran aflatoksin. Biji pala kering yang dikemas dan disimpan pada ruangan yang bersih dengan suhu 25-30°C dan kelembaban udara 70- 75% dapat mempertahankan biji pala dari cemaran aflatoksin. Kandungan minyak atsiri dan oleoresin dalam biji pala yang disimpan tidak mengalami perubahan.

UCAPAN TERIM KASIH

Terima kasih kepada bapak Mamun atas bantuan semuanya hingga sampai menjadi tulisan.

190 DAFTAR PUSTAKA

Anderson, H.W.; Nehring, E.W. 1975. Aflatoxin Contamination of Corn in The Field. J.Agric. Food. Chem.

23: 775-782.

Bhatnagar, D., J. Cary, K. Ehrlich, J. Yu and T. Cleveland. 2006. Understanding The Genetics of Regulation of Aflatoxin Production and Aspergillus flavus Development. Mycopath 162: 155-166.

Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri. Ekspor 2018. http://www.bps.go.id. Diakses tanggal 11 April 2019.

Ditjenbun. 2013. Statistik Perkebunan Indonesia 2010. Pala (Nutmeg). Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta.

Demaegdt H., B. Daminett, A. Evrard, M.L. Scippo, M. Muller, L. Pussemier, A. Callebaut and K.

Vandermeiren. 2016. Endocrine Activity of Mycotoxins and Mycotoxins Mixtures Food and Chemical Toxicology 96: 107-116

Fachleny, N. 2006 Tiga Jenis Bahan Kemasan Plastik:Pengaruhnya Terhadap Serangan Cendawan Pascapanen dan Kontaminasi Aflatoxin Pada Kacang Tanah. Departemen Biologi, Fakultas Pertanian, IPB.

Gustriyeni dan H. Muchtar. 2004. Teknologi Proses Pembuatan Cabe Black Gambir (Gambir Gelamai) Padang: Komunikasi. No, 180. Baristand Industri Padang.

ICAR. 1987. Aflatoxin in Groundnuts. ICAR. New Delhi.

Keenan, J.L. and G.P. Savage. 1994. Mycotoxins in Groundnut with Special Reference to Aflatoxin. P.

509-551. In J. Smartt (Eds.). The Groundnut Crop. Chapman and Hall. London, United Kingdom Klich, M.A. 2007. Aspergillus flavus: The Major ;Producer of Aflatoxin. Molecular Plant Pathol 8:713-722.

Paramawati, R., P. Widodo, U. Budiarti and Handaka. 2006. The Role of Postharvest Machineries and Packaging in Minimizing Aflatoxin Contamination in Peanut. Indonesian J. Agric. Sci. 7(1): 15-19.

Rustom, I.Y.S. Lopez-leipa, M.H. and Nair, B.M. 1993. Effect of pH and Heat Treatment on The Mutagenic Activity of Peanuts Beverages Contaminated with Aflatoxin B1. Food Chem. 46: 37-42.

Richard, J.L. 2007. Some Major Mycotoxins and Their Mycotoxicoses-An Overview. International Journal Food Microbiology 119: 3-10

Trumpy, S. 2012. Possible Ways to Prevent and Control Mycotoxins in Indonesian Nutmeg. Webb Jamer, Italy

191

USAHATANI MINA MENDONG DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI Suyudi*, Hendar Nuryaman

Fakultas Pertanian, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

*Email: [email protected]

ABSTRAK

Mendong merupakan jenis tanaman perkebunan yang budidayanya dilakukan pada lahan sawah. Usahatani mina mendong adalah suatu usaha pertanian yang memadukan budidaya ikan dengan budidaya tanaman mendong dalam satu hamparan lahan sawah. Usahatani ini menghasilkan dua produk pemanenan yaitu ikan dan mendong, dengan demikian usahatani sistem diversifikasi ini dapat mengurangi risiko dan ketidakpastian dalam kegiatan usahatani.

Usahatani ini dapat menambah ketersediaan pangan, khususnya protein hewani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan usahatani mina mendong ditinjau dari aspek teknis dan kelayakan usahatani serta kontribusi penerimaan per komoditas terhadap penerimaan usahatani mina mendong. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus pada seorang petani yang melaksanakan budidaya mina mendong di Desa Kamulyan Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya mina mendong yang dilakukan petani dengan sistem diversifikasi merupakan suatu usaha menanam ikan sekaligus menanam mendong dalam satu hamparan lahan sawah yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lahan.

Usahatani mina mendong sistem diversifikasi layak untuk diusahakan dengan R/C sebesar 1,39. Kontribusi produksi ikan dan mendong yang dihasilkan terhadap penerimaan total sistem diversifikasi usahatani mina mendong sebesar 35,71 persen dan 64,29 persen.

Kata kunci: mina mendong, usahatani, diversifikasi, kontribusi

PENDAHULUAN

Desa Kamulyan merupakan salah satu desa di Kecamatan Manonjaya yang berupaya mengembangkan tanaman perkebunan komoditas mendong. Hasil produksi berupa mendong kering sebagai bahan baku tikar dan bahan baku handycraf. Desa Kamulyan terletak di ketinggian wilayah sekitar 350 m dpl, dengan rata-rata suhu harian pada kisaran 26-32°C, rata-rata curah hujan per tahun antara 1.297-1.925 mm (Desa Kamulyan. 2018)

Mina mendong merupakan budidaya petanian dan perikanan secara terintegrasi yang dapat meningkatkan produktifitas lahan sawah yaitu meningkatkan pendapatan petani, diversifikasi hasil pertanian dan perikanan, meningkatkan kesuburan tanah dan air serta dapat mendukung ketahanan pangan dalam menyumbangkan asupan gizi berupa karbohidrat dan protein hewani. Mina mendong dapat meningkatkan keseimbangan dan perbaikan ekologi sebab hama pada tanaman mendong merupakan pakan alami bagi ikan sebagai predator dan kotoran ikan merupakan pupuk alami bagi tanaman mendong.

Adanya simbiosis mutualisme antara mendong dan ikan dapat mendukung ketersediaan pangan dan perbaikan lingkungan, sehingga mina mendong merupakan salah satu sistem pertanian berkelanjutan.

Selanjutnya Atikah (2013) menyatakan bahwa pola usahatani mina padi dapat memperkecil resiko kehilangan sumber penghasilan, karena dari sistem ini tidak mengandalkan pada satu sumber saja, sehingga kegagalan salah satu jenis usaha tidak akan mempengaruhi pendapatan petani.

Ketahanan pangan adalah kondisi dimana kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat dapat terpenuhi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya (Martami, 2015). Sedangkan menurut Irawan (2013) yang dimaksud ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketersediaan pangan dapat berasal dari produksi domestik atau sumber lain (Irawan, 2013). Ketahanan pangan juga mendukung Nawa Cita ke 7 yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Pendapatan petani merupakan ukuran penghasilan yang diterima oleh petani dari usahataninya.

Dalam analisis usahatani, pendapatan petani digunakan sebagai indikator penting karena merupakan sumber utama dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari (Suharyanto et al, 2004). Pendapatan

Dokumen terkait