• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Tentang Menghafal Al-Qur‟an

Dalam dokumen pelaksanaan metode jarimatika qur'an (Halaman 34-51)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Kajian Tentang Menghafal Al-Qur‟an

Kata menghafal dalam bahasa Arab artinya “tahfidz”. Arti Tahfidz merupakan bentuk masdar dari haffaza, asal dari kata hafiza-yahfazu yang artinya “menghafal19”. Tahfidz menurut Quraisy Syihab terambil dari tiga huruf yang mengandung makna memelihara dan mengawasi. Dari makna ini kemudian lahir kata menghafal, karena yang menghafal memelihara dengan baik ingatannya. Juga makna “tidak lengah”, karena sikap ini mengantar kepada keterpeliharaan, dan “menjaga”, karena penjagaan adalah bagian dari pemeliharaan dan pengawasan. Kata hafidz mengandung arti penekanan dan pengulangan pemelihara, serta kesempurnaannya. Ia juga bermakna mengawasi. Allah Swt. memberi

19Ibrahim Anis, dkk., Al-Mu‟jam Al-Wasit, (Mesir : Dar al-Ma‟arif, 1392 H.), hal. 185

tugas kepada malaikat Raqib dan Atid untuk mencatat amal manusia yang baik dan buruk dan kelak Allah akan menyampaikan penilaian-Nya kepada manusia. Sedang kata Al-Qur‟an merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril as.

yang ditilawahkan secara lisan, diriwayatkan kepada kita secara mutawatir. 20

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran menurut Bruner adalah peserta didik belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan masalah dari guru berfungsi sebagai motivator bagi peserta didik dalam mendapatkan pengalaman yang memungkinkan mereka menemukan dan memecahkan masalah. 21

Pembelajaran Al-Qur‟an adalah bagian dari upaya untuk mempersiapkan sejak dini agar peserta didik memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur‟an Hadits melalui kegiatan pendidikan. 22

Secara etimologi Al-Qur‟an berasal dari bahasa arab dalam bentuk kata benda abstrak mashdar dari kata (Qara'a-yaqra'u Qur'anan) yang berarti bacaan. Sebagian pendapat yang lain berpendapat bahwa lafazh Al- Qur‟an bukanlah berasal dari qara'a melainkan isim alam (nama sesuatu)

20M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar „Ulum Al-Qur‟an/Tafsir, (Jakarta :Bulan Bintang, 1992), cet. ke-XIV, hal. 1

21Saminanto, Ayo Praktik Penelitian …, hlm. 100

22Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur‟an …, hlm.60

bagi kitab yang mulia sebagai mana nama kitab taurat, injil dan zabur.23 Berikut adalah beberapa pendapat ulama‟ tentang definisi Al-Qur‟an.24

Al-Qur‟an dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Al-Qur‟an layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing. tidak ada bacaan seperti Al-Qur‟an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan hanya sejarah secara umum tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim dan saat turunnya sampai kepada sebab-sebab serta waktu diturunkan. Al-Qur‟an adalah kitab yang teratur tata cara membacanya, yang mana yang dipendekkan, diperpanjang, dipertebal atau diperhalus, dimana tempat yang terlarang atau boleh untuk berhenti, bahkan sampai diatur lagu dan iramanya sampai pada etika membacanya.25

2. Tujuan Menghafal Al-Qur’an

Adapun tujuan pembelajaran Al-Qur‟an adalah agar peserta didik mampu membaca, menulis, menghafal, mengartikan, memahami dan terampil melaksanakan isi kandungan Al-Qur‟an dalam kehidupan sehari- hari sehingga menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Inti ketakwaan itu ialah berakhlak mulia dalam pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.26

23Muhammad Yasin dan Ade Jamarudin, Studi Al-Qur‟an (Riau: CV Asa Riau, 2016) 1.

24Munawir husni, studi keilmuan Al-Qur‟an , (yogyakarta: pustaka diniyah, 2016), 3.

25Sa'dullah,9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur‟an (Jakarta: Gema Insani, 2014) 2

26Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur‟an …, hlm.59

Banyak ayat Al-Qur‟an dan hadist Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan para hafidz Al-Qur‟an dan pahala yang akan dianugerahkan kepada mereka. Di antara keutamaan itu antara lain :

a. Orang-orang yang mempelajari, menghafal dan mengamalkan Al- Qur‟an termasuk orang-orang pilihan Allah SWT untuk menerima warisan kitab suci Al-Qur‟an. Dalam Tafsir Al-Lubab karya M.

Quraish Shihab membaca ataupun menghafal Al-Qur‟an hendaknya diikuti dengan pengkajian maknanya serta pengamalan tuntunannya.

Membaca dan menghafalkan Al-Qur‟an akan membawa manfaat dan mendapat pahala.27 Sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Fathir 35:

32.













































Artinya: "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Q.S. al- Fathir/35: 32)".28

b. Orang-orang yang mempelajari, menghafal dan mengamalkan Al- Qur‟an, maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan dipakaikan

27M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2012), 302.

28Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Jakarta: Putra Perja, 1979) jil. III, 439.

mahkota yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari yang masuk di dalam rumah-rumah di dunia.

c. Menghafal Al-Qur‟an adalah keistimewaan umat Islam, karena Allah telah menjadikan umat terbaik di kalangan manusia dan memudahkannya untuk menjaga kitab-Nya, baik secara tulisan maupun hafalan.29 Hal tersebut dijelaskan dalam Tafsir Al-Lubab karya M.Quraish Shihab bahwa salah satu keistimewaan Al-Qur‟an adalah keterpeliharanya dalam dada kaum muslim. Tidak ada satu kitab yang demikian besar dihafal oleh jutaan orang, bahkan oleh anak- anak kecil, sebagaimana Al-Qur‟an. Tidak ada juga satu kitab yang dibaca secara keliru, walau satu huruf, oleh siapapun yang mengundang sekian banyak orang secara spontan untuk membetulkannya.30 Sebagaimana firman Allah:































Artinya: "Sebenarnya, Al-Qur‟an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu,. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.

(Q.S. al-Ankabut 29: 49)."31 3. Startegi Menghafal Al-Qur’an

Menghafal Al-Qur‟an urgen untuk dikembangkan di setiap lembaga pendidikan Islam baik sekolah maupun madrasah karena

29Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Menghafal Al-Qur‟an Itu Mudah, (Jakarta: Pustaka at- Tazkia, 2008), 10.

30M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2009). 118.

31Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan terjemahannya, 1990, Yayasan Penerbitan Kitab Suci Al-Qurán, Jakarta,. III, 403).

merupakan usaha menjaga orisinalitas Al-Qur‟an yang mutlak menjadi kewajiban bagi umat Islam, membentuk pribadi mulia dan meningkatkan kecerdasan. Terbentuknya pribadi mulia dan cerdas, yakni pribadi yang takwa kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan menjadi tujuan pendidkan dan karakteristik sebuah lembaga pendidikan Islam yang maju. Suksesnya program tahfidz Al-Qur‟an di sebuah lembaga pendidikan Islam menjadi jembatan menuju tercapainya keunggulan keunggulan terhadap disiplin ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu, mensukseskan program tahfidz Al-Qur‟an bagi lembaga pendidikan adalah hal yang penting.

Selain syarat-syarat menghafal Al-Qur‟an juga terdapat beberapa strategi yang dianggap penting untuk membantu mempermudah dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, strategi itu antara lain sebagai berikut:32

a. Strategi pengulangan ganda.

b. Tidak pernah beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang dihafal benar-benar terhafal.

c. Menghafal urutan-urutan yang dihafalnya dalam satu kesatuan jumlah setelah benar-benar hafal ayatnya.

d. Menggunakan satu jenis mushaf saja.

e. Memahami ayat-ayat yang dihafalnya.

f. Memperhatikan ayat-ayat yang serupa.

32Ahsin al-hafidh, Bimbingan praktis Menghafal Al-Qur‟an, (Jakarta: Bumi Angkasa, 2000), 56- 61.

g. Disetorkan kepada seseorang yang mampu menghafal Al-Qur‟an.

h. Adab menghafal Al-Qur‟an.

4. Faktor pendukung Pembelajaran Menghafal Al-Qur’an

Terdapat beberapa manfaat dan keutamaan tentang kedudukan para penghafal Al-Qur‟an di antaranya. Pertama, menghafal Al-Qur‟an berarti menjaga otentisitas Al-Qur‟an yang hukumnya fardhu kifayah, sehingga orang yang menghafal Al-Qur‟an dengan hati bersih dan ikhlas mendapatkan kedudukan yang sangat mulia di dunia dan di akhirat, karena mereka merupakan makhluk pilihan Allah. Jaminan kemuliaan ini antara lain bahwa orang yang Al-Qur‟an akan memberi syafaat baginya, menghafal Al-Qur‟an merupakan sebaik-baik ibadah, selalu dilindungi malaikat, mendapat rahmat dan ketenangan, mendapat anugerah Allah, dan menjadi hadiah bagi orang tuanya. Kedua, menghafal Al-Qur‟an membentuk akhlak mulia baik bagi pribadi sang hafidz maupun menjadi contoh bagi masyarakat luas. Al-Qur‟an merupakan “hudan li annas”

(petunjuk bagi manusia). Semakin dibaca, dihafal dan dipahami, maka semakin besar petunjuk Allah didapat. Petunjuk Allah berupa agama Islam berisi tentang aqidah, ibadah dan akhlak. Akhlak merupakan inti dari agama yang menjadi misi utama Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT. Akhlak yang baik menjadi ukuran kebaikan seseorang yang dengan akhlak baik itu ia menjadi manusia yang ideal. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasyidin, manusia yang ideal adalah manusia yang mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal, sehingga beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya, mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya, berkepribadian, bermasyarakat, dan berbudaya. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki akhlak yang baik maka akan menjadi orang yang tidak berguna bahkan bisa membahayakan orang lain. Inilah yang diderita oleh mayoritas manusia saat ini, yakni sebuah penyakit yang disebut “split personality” (kepribadian ganda) dimana antara ucapan dan perbuatannya berbeda

Upaya untuk meningkatkan kualitas hafalan bagi penghafal Al- Qur‟an perlu adanya sesuatu yang menunjang, adapun faktor pendukung dalam menghafal Al-Qur‟an adalah sebagai berikut :

a. Faktor Kesehatan b. Faktor Psikologis c. Motivasi

d. Kecerdasan

e. Faktor Lingkungan f. Usia yang ideal g. Manajemen waktu

5. Faktor Penghambat dalam Pembelajaran Menghafal Al-Qur’an Meskipun Allah telah memudahkan hamba-Nya untuk menghafal dan mempelajari Al-Qur‟an, namun pada kenyataannya masih banyak orang sulit menghafal Al-Qur‟an. Antusiasme yang berkembang di

sekolah-sekolah formal untuk membuka program pembelajaran hafalan Al-Qur‟an pada kenyataannya masih belum sepenuhnya berhasil dalam mencapai target, bahkan banyak menuai kegagalan. Beberapa penyebab kegagalan dalam penerapan pembelajaran tahfidz Al-Qur‟an di sekolah formal antara lain:

a. Lemahnya manajemen tahfidz yang diterapkan oleh lembaga pendidikan. Manajemen ini meliputi manajemen waktu, tempat dan lingkungan, serta materi hafalan. Terkait waktu, yakni sulitnya membagi dan mengatur waktu antara jam pelajaran sekolah/madrasah dengan jam pelajaran menghafal menjadi penghambat bagi para calon penghafal. Apalagi jika terjadi di perguruan tinggi dimana masing- masing mahasiswa sering mengalami kesamaan jam kuliah dengan dengan jam menghafal. Mengenai tempat dan lingkungan yang biasanya menjadi masalah adalah kurang nyamannya tempat tersebut.

Suasana gaduh dan bising bisa mengganggu konsentrasi penghafal Al- Qur‟an. Sedangkan mengenai materi hafalan tidak ditentukan secara berkala misalnya, materi harian, materi mingguan, materi bulanan, materi semesteran dan materi tahunan.

b. Kurang aktifnya peran pengasuh/ustadz dalam membimbing dan memotivasi siswa penghafal Al-Qur‟an. Kesibukan guru tahfidz yang berlebihan menyulitkan para penghafal untuk menambah hafalan atau mengulangi hafalannya secara face to face. Di samping itu, kurangnya motivasi guru sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hafalan

para penghafal. Hal ini bisa berawal dari kurangnya tenaga guru tahfidz yang dimiliki lembaga atau motivasi yang jarang diberikan oleh pihak atasan.

c. Mekanisme dan metode yang diterapkan oleh ustadz tahfidz. Umi Kaltsum mengamati biasanya para instruktur tahfidz hanya menekankan pada “menambah hafalan”, misalnya 1 hari 1 atau 2 ayat, tanpa ada penekanan untuk takrir atau mengulang ayat-ayat yang telah dihafal. Akibatnya secara kuantitas, jumlah hafalan siswa bertambah, akan tetapi sering lupa terhadap ayat-ayat yang telah dihafal sebelumnya. Selain itu, menghafal terlalu cepat tanpa disertai tartil juga bisa menimbulkan rasa bosan pada penghafal.

d. Lemahnya dukungan orang tua. Orang tua biasanya merasa kasihan terhadap anaknya yang sepertinya terlalu dibebani dengan tugas-tugas berat baik mengenai tugas pelajaran di sekolah/madrasah maupun hafalan Al-Qur‟an, sehingga tidak ada upaya mereka untuk membimbing anaknya dengan menyimak hafalannya di rumah.

Kadang-kadang mereka juga menganggap bahwa program tahfidz di sekolah hanyalah program ekstrakurikuler sehingga tidak penting untuk dilakukan dengan serius.

e. Lemahnya kontrol dan motivasi atasan. Pihak kepala sekolah/

madrasah sebagai pimpinan hanya menyerahkan kepada instruktur sepenuhnya baik mengenai pola atau metode yang diterapkan tanpa

mengadakan kontrol dan evaluasi dari pimpinan sendiri33 Kontrol biasanya tetap dilakukan tetapi melalui salah satu wakilnya atau pihak lain yang ditunjuk. Di samping itu, kepala sekolah/madrasah juga jarang memberikan motivasi secara langsung, baik kepada guru tahfidz maupun kepada siswa penghafal Al-Qur‟an. Hal ini menjadi sangat berpengaruh kepada kondisi lancarnya pembelajaran program tahfidz Al-Qur‟an di sekolah karena kurangnya tanggung jawab tersebut.

6. Metode Menghafal Al-Qur’an a. Metode menghafal

Ditinjau dari segi bahasa, kata metode berasal dari kata yunani

”methodos” yang terdiri dari”meta” yang berarti “melalui” dan

“hodos” yang berarti “jalan”.34

Metode adalah cara atau siasat yang dipergunakan dalam pengajaran. Sebagai strategi, metode ikut memperlancar ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Penerapan metode ini akan nyata jika guru atau ustadz memilik metode yang tepat dengan tingkat kemampuan yang hendak dicapai oleh tujuan pembelajaran35

Metode adalah cara untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Sebagaimana dijelaskan J.R David dalam

33Lilik Umi Kaltsum, “Fenomena Menghafal Al-Qur‟an”, http://lilikimzi. wordpress.com. diakses 27 Agustus 2015

34Mangun Budiyanto dan Syamsul, Strategi dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,(

Yogyakarta: Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UIN sunan Kalijaga, 2017), 66.

35Saiful Bari Djamarah, 2005, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Renika Cipta, Jakarta: hlm. 70

bukunya yang berjudul Teaching Strategies For College Class (1976) dinyatakan bahwa metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.36

Fungsi metode pembelajaran yaitu untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh semangat sehingga materi dapat dengan mudah disampaikan oleh pendidik kepada peserta didik.

Belajar memerlukan metode-metode khusus untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran yang efektif dan efesien. Untuk itu keahlian pendidik didalam mengelola proses pembelajaran sangatlah penting.

Yaitu bagaimana cara seorang pendidik menguasai kondisi kelas sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.37

Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasikan lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tatapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.38

Selain di implementasikan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas, metode juga sangat cocok untuk diterapkan dalam menghafal, salah satunya dalam menghafal Al-Qur‟an. Ada beberapa

36Abdul Majid, Strategi Pembelajaran,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2015), 193.

37Nursalim, Manajemen Belajar dan Pembelajaran, ( Yogyakarta: Lontar Mediatama, 2018), 118.

38Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2015), 21.

metode yang digunakan dalam menghafal Al-Qur‟an, antara lain adalah:

1) Metode sema‟an/tasmi‟

Cara mendengarkan kepada santri lain, dan santri lain menyimak untuk membetulkan apabila ada bacaan yang kurang tepat. Dalam metode ini biasanya dilakukan oleh dua santri yang secara bergantian dalam membaca dan menyimak hafalan.

2) Metode kitabah

Metode kitabah adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara menulis terlebih dahulu ayat-ayat Al-Qur‟an yang hendak dihafalkan. Dalam metode ini ada beberapa tahapan yang dilalui santri sebelum memulai menghafal, tahapan tersebut adalah membaca, menulis kemudian menyerahkan hasil tulisan kepada kyai atau guru untuk dikoreksi, baru menghafal tulisan tersebut yang telah dikoreksi.

3) Metode tikrar

Metode tikrar adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara mengulang satu halaman yang hendak dihafalkan hingga 10-15 kali, di ulang-ulang baru kemudian dihafalkan hingga hafal.

4) Metode yaqro‟

Metode yaqro‟ adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara membaca secara berulang-ulang ayat yang hendak dihafal,

sambil melihat artinya sehingga lebih mudah menghafal dengan mengetahui arti ayat yang dihafalkannya.39

5) Metode talaqqi

Metode talaqqi adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara belajar secara langsung dengan seorang guru atau kiai, sehingga antara santri dan kiai dapat berinteraksi secara privat, metode ini akan lebih memudahkan bagi santri dalam mempelajari makhorijul huruf yang dicontohkan oleh guru atau kiai.

6) Metode wahdah

Metode wahdah adalah metode menghafalkan Al-Qur‟an dengan cara menghafalkan ayat demi ayat dalam Al-Qur‟an, untuk mencapai suatu hafalan setiap ayat bisa dibaca berulang-ulang hingga ayat yang dikehendaki mampu dihafalkan.

7) Metode jibril

Metode jibril adalah metode mengafalkan Al-Qur‟an dengan cara santri atau peserta didik menirukan ayat yang dibacakan oleh kyai atau guru sebagai pusat pembelajaran, dalam metode ini biasanya kyai atau guru juga memberikan penjelasan tentang ayat yang dibacanya.

8) Metode sorogan

Metode sorogan adalah metode menghafal Al-Qur‟an dengan cara santri atau peserta didik menghafalkan secara mandiri ayat

39Ika Romika Mawaddati, “Metode Menghafal Al-Qur‟an di Pesantren Tahfidzul Qur‟an Nahdhatut Thalabah Kesilir Wuluhan Jember” , Journal Education Research and Development 5, no. 1 (2020): 49-50..

atau surat dalam Al-Qur‟an yang dikehendaki, kemudian menyetorkan hafalanya kepada kyai atau ustadz pembimbingnya.

9) Metode jama‟

Metode jama‟ adalah metode yang menghafal Al-Qur‟an dengan cara menghafal secara bersama-sama. Biasanya metode ini dlakukan oleh santri di dalam aula kemudian para santri menghafal secara bersama-sama ayat atau surat yang dikehendaki.40

D. Kajian Teori Tentang Metode Jarimatika Qur’an Dalam Menghafal Al- Qur’an

Metode yang merupakan salah satu pendukung dalam kesuksesan proses belajar mengajar diartikan sebagai jalan yang harus ditempuh agar pengajaran dapat berjalan efektif, memberi pengaruh dan mampu memberikan perubahan kepada peserta didik.

Metode penyampaian yang baik dan efektif akan sangat menentukan hasil belajar. Pesan pembelajaran yang disampaikan guru akan mudah diterima oleh peserta didik. Dengan demikian akan sangat berkorelasi dengan tercapainya tujuan pembelajaran.

Menghafal Al-Qur‟an merupakan suatu proses mengingat dan materi yang dihafalkan harus sempurna, karena ilmu tersebut dipelajari untuk dihafalkan bukan untuk difahami. Namun setelah hafalan Al-Qur‟an tersebut sempurna, maka selanjutnya ialah diwajiban untuk mengetahui isi kandungan yang ada didalamnya. Seseorang yang berniat untuk menghafalkan Al-Qur‟an

40Mustofa, “ Pengaruh Metode Menghafal dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Menghafal Al Quran”, Alim: Journal Of Islamic Education 2, no. 2 (2020), 171-170.

disarankan untuk mengetahui materi-materi yang berhubungan dengan cara menghafal.41

Jika metode pembelajaran dan penghafalan Al-Qur‟an dilembaga tahfidz masih monoton dan tidak mengalami perkembangan, maka akan memudarkan semangat para santri atau murid dalam menghafalkan Al-Qur‟an.

Menurut pendapat sebagian masyarakat menghafal Al-Qur‟an merupakan aktivitas sulit dan dirasa sangat memberatkan. Dengan ini maka diperlukan metode menghafal Al-Qur‟an yang mudah dan mengasyikan.

Metode yang mampu mensugesti bahwa menghafal Al-Qur‟an itu menyenangkan. Kegiatan tadabur Al-Qur‟an ini dapat dilakukan oleh siapapun sekalipun diajarkan kepada anak usia dini. Seiring dengan berkembangnya kreasi-kreasi baru dalam metode dan teknik pengajaran yang dikembangkan oleh para praktisi di bidang Pendidikan Islam, metode-metode dalam pembinaan hafalan Al-Qur‟an juga ikut mengalami perkembangan. Metode- metode atau teknik baru yang ditujukan untuk mempermudah peserta didik dalam menghafalkan ayat-ayat Al-Qur‟an bermunculan. Salah satu diantaranya adalah metode jarimatika Al-Qur‟an yang tengah diajarkan di MI Bait Qur‟ani.

Sebagai metode menghafal Al-Qur‟an, metode jarimatika Qur‟an mempunyai pendekatan khusus yang dapat memberikan stimulus besar kepada para murid untuk senang menghafal Al-Qur‟an menggunakan jari-jari tangan.

Metode ini mulai dikenal oleh beberapa lembaga tahfidz dan sudah diterapkan

41Wiwi Alwiyah Wahid, Panduan Menghafal Al-Qur‟an Super Kilat, (Yogyakarta: Diva Press, 2015), h.14

kepada peserta didik mengenai metode menghafal Al-Qur‟an semudah menggerakan jari tangan. Metode jarimatika Qur‟an ini merupakan metode menghafal Al-Qur‟an dengan teknik khusus menggunakan bantuan jari-jemari.

Metode ini awal mulanya diajarkan kepada keluarganya, yakni putra putrinya. Yang kemudian secara langsung diterapkan di Pondok Pesantren Al- Falah Klompangan Ajung Jember, sehingga kemudian diajarkan di masyarakat luas. Dikemas dalam bentuk Workshop dan pelatihan para guru Al-Qur‟an di beberapa daerah di Indonesia. Metode jarimatika Qur‟an ini resmi dijadikan sebagai metode menghafal Al-Qur‟an di Hafidz Indonesia RCTI pada tahun 2014. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang ini, penulis ingin mengetahui bagaimana cara menghafal Al-Qur‟an semudah menggerakan jari tangan menggunakan metode jarimatika Qur‟an.

Dalam dokumen pelaksanaan metode jarimatika qur'an (Halaman 34-51)

Dokumen terkait