BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya
Keuangan Perusahaan Dengan Sistem Du Pont (Studi Kasus pada Industri Manufaktur Sektor Barang Konsumsi Peralatan Rumah Tangga yang Terdaftar di BEI Periode 2010-2012)
perusahaan menggunakan metode Du Pont System
Meivilana obyek yang diteliti adalah Industri Manufaktur Sektor Barang Konsumsi Peralatan Rumah Tangga.
Sedangkan pada penilitian ini obyek yang diteliti adalah perusahaan industri Sektor Makanan dan Minuman
jarang dilakukan. Alasannya belum tentu kondisi stabilitas selama 10 sd.
12 tahun kedepan sama seperti 12 tahun yang lalu. Dalam penilaian suatu kondisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang turut menyebabkan perubahan pada kondisi keuangan seperti kondisi mikro dan makro ekonomi yang baik yang terjadi ditingkat domestik dan internasional. 20 ada empat rasio keuangan yang paling dominan yang diajdikan rujukan untuk melihat kondisi kinerja suatu perusahaan, yaitu : a) Rasio Likuiditas (liquidity ratio)
Rasio likuiditas adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini penting karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan perusahaan. Rasio ini mengukur pada kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap hutang lancarnya (utang yang dimaksud disini adalah kewajiban perusahaan). Rasio likuiditas secara umum ada dua yaitu current ratio dan quick ratio (acit test ratio).
1. Rumus current ratio
2. Rumus quick ratio
20 Irham Fahmi, Analisis Kinerja Keuangan, (Bandung : Alfabeta, 2017), 44-45.
b) Rasio Leverage (leverage ratio)
Rasio Leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrim) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang. Rumus rasio leverage sebgai berikut :
1. Total debt to total asset ratio
Debt ratio =
2. Debt to equity
Debt to equity =
3. Time interest earned ratio
Time interest earned ratio =
4. Fixed charge coverage ratio
Fixed charge coverage ratio =
c) Rasio Aktivitas (aktivity ratio)
Rasio Aktivitas adalah untuk mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya. Rasio aktifitas dinyatakan sebagai perbandingan penjualan dengan berbagai
elemen aktiva. Elemen aktiva sebagai pengguna dana seharusnya bisa dikendalikan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Semakin efektif dalam memanfaatkan dana semakin cepat perputaran dana tersebut, karena rasio aktivitas umumnya diukur dari perputaran masing-masing elemen aktiva. Rasio aktivitas meliputi perputaran persediaan, perputaran piutang, perputaran aktiva, dan perputaran aktiva tetap.
Rumus rasio aktivitas :21
1. Perputaran persediaan =
2. Perputaran piutang =
3. Perputaran akiva tetap =
4. Perputaran aktiva =
d) Rasio Profitabilitas (profitability ratio)
Rasio Profitabilitas adalah rasio yang mengukur efektifitas manajmen secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjulan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Rasio profitabilitas secara umum ada tiga,
21 Sutrisno, Manajamen Keuangan,: Teori, Konsep dan Aplikasi (Yogyakarta : Ekonisa, 2008),219- 221.
yaitu net profit margin, return on assets (ROA), return on equity (ROE),
1. Net profit margin
2. Return on assets
3. Return on equity
b. Du Pont System
Sekitar tahun 1919 perusahaan Du Pont Corporation mempelopori salah satu metode analisa kinerja perusahaan yang sampai dengan saat ini dikenal dengan nama Du Pont Analysis. Analisa du pont system adalah analisa yang mencakup seluruh rasio aktivitas dan margin keuntungan atas penjualan untuk menunjukkan bagaimana rasio ini mempengaruhi profitabilitas. Du Pont sendiri adalah nama perusahaan yang mengembangkan sistem ini, sehingga disebut sebagai sistem Du Pont.
Menurut Syamsudin analisis du pont adalah ROI yang dihasilkan melalui perkalian antara keuntungan dari komponen-komponen sales serta efisiensi penggunaan total aset didalam menghasilkan keuntungan tersebut. Sedangkan pendapat Sutrisno adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengontrol perusabahan dalam rasio aktivitas dan net
profit margin dan seberapa besar pengaruhnya terhadap ROI. Menurut Syafarudin analisis du pont penting bagi manjer untuk mengetahui faktor mana yang paling kuat pengaruhnya antara profit margin dan total asset turnover terhadap ROI. Disamping itu dengan menggunakan analisis ini, pengendalian biaya dapat diukur dan efisiensi perputaran aktiva sebagai akibat turun naiknya penjualan dapat diukur.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa analisis du pont system merupakan analisis yang mencakup rasio aktivitas dan margin keuntungan atas penjualan untuk menentukan profitabilitas yang dimiliki perusahaan. Dari analisis ini juga dapat diketahui efisiensi atas penggunaan aktiva perusahaan. Yang dapat diuraikan dengan menggunakan analisis du pont adalah ROI (Return On Investment) yang merupakan angka pembanding atau rasio antara laba yang diperoleh perusahaan dengan besarnya total aktiva perusahaan. Analisis ini biasanya digunakan oleh perusahaan besar. Diharapkan melalui du pont system perusahaan pusat dapat menilai kinerja keuagan divisi atau dapartemen atau pusat investasi berdasarkan ROI yang dicapai.22
Ada beberapa kegunaan dari menganalisis laporan keuangan dan kinerja keuangan perusahaan dengan meode du pont system yaitu :23 a. Sebagai salah satu kegunaannya yang bersifat prinsipal yaitu sifatnya
yang menyeluruh.
22 https://www.scribd.com/doc/107015926/Analisis-Du-Pont-System.
23 Dede Irmaningsih, Analisis Du Pont System untuk Mengukur Kinerja Perusahaan,(Skripsi Universitas Lampung,Fakultas Ilmu Soial dan Ilmu Politik,2017),47-48.
b. Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk yang dihasilkan perusahaan sehingga dapat diketahui produk yang potensial.
c. Untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan suatu unit atau bagian.
d. Dapat digunakan untuk keperluan kontrol dan perencanaan, misalnya digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi du pont system antara lain:
1. Net Profit Margin
Net profit margin adalah merupakan ratio antara laba bersih (net profit) yaitu penjualan sesudah dikurangi dengan seluruh expenses termasuk pajak dibandingkan dengan penjualan. Semakin tinggi net profit margin, semakin baik operasi suatu perusahaan. Suatu net profit margin yang dikatakan baik akan sangat tergantung dari jenis industri didalam mana perusahaan berusaha. 24
Kalkulasi net profit margin adalah sebagai berikut :
Tingkat efisiensi penggunaan modal dapat diketahui dalam Net Profit Margin adalah dengan membandingkan komponen pembentuk
24 Lukman Syamsuddin, Manajemen Keuangan Perusahaan : Konsep Aplikasi dalam:
Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan (Jakarta : Rajawali Pers, 2009), 62-63.
profit margin dengan pendapatan usaha. Adapun komponen profit margin tersebut antara lain:25
a) Harga pokok produksi, yaitu semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang akan digunakan untuk diciptakan barang- barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
b) Biaya operasional, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan diluar kegiatan produksi. Biaya operasional ini dapat berupa biaya administrasoi dan umum dan biaya pemsaran atau penjualan.
2. Total Assets Turnover
Total Assets Turnover menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan volume penjualan tertentu. Semakin tinggi total assets turnover berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva didalam menghasilkan penjualan. Dengan perkataan lain, jumlah assets yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila total assets turnovernya ditingkatkan atau diperbesar. Total assets turnover ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan , tetapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva didalam perusahaan.
Perhitungan Total Assets Turnover dilakukan sebagai berikut :
25 Rangga Rudvi Harditama “Analisis Efesiensi Kinerja Perusahaan Melalui Pendekatan Sitem Du Pont Pada PT HM SAMPOERNA Tbk”, (Skripsi, Universitas Jember, 2014), 9.
Tingkat efisiensi penggunaan modal dalam total assets turnover dapat diketahui melaui pendekatan sistem du pont adalah dengan melihat tingkat efisiensi komponen pembentuk total assets turnover melalui tingkat perputaran masing-masing komponen aset tersebut.
Adapun komponen pembentukan total assets turnover adalah26 : a) Aset Tetap
Aset tetap merupakan kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya nampak atau kongkrit. Analisis aset tetap perusahaan setelah dikurangi akumulasi penyusutan aset tetap dan menilai keefektifan penggunaan aset tetap melalui perputaran aset tetap.
Adapun tingkat perputaran aset tetap dapat dihitung dalam rumus sebgai berikut :
Tingkat perputaran aset tetap :
b) Aset Lain-Lain
Aset lain-lain merupakan kekayaan atau aset perusahaan yang tidak dapat atau belum dapat dimasukkan dalam klasifikasi- klasifikasi aset sebelumnya. Analisis aset lain-lain digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan kemampuan aset lain-lain yang diinvestasikan dalam perusahaan dalam menghasilakan pendapatan
26 Rangga Rudvi Harditama “Analisis Efesiensi Kinerja Perusahaan Melalui Pendekatan Sitem Du Pont Pada PT HM SAMPOERNA Tbk”, (Skripsi, Universitas Jember, 2014), 10-11.
usaha yaitu dengan membagai pendapatan usaha dengan komponen aset lain-lain tersebut sehingga dapat diketahui sebrapa besar peranan didalam permodalan aktif perusahaan.
c) Total Investment ( Total Aset)
Total investment atau total aset merupakan jumlah keseluruhan harta atau aset yang dimiliki perusahaan yang terdiri dari aset lancar, aset tetap dan aset lain-lain. Analisis total investment digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai kegiatan produksi maupun kegiatan operasionalnya sehari-hari dengan menggunakan seuruh aset dan memperlihatkan seberapa besar jumlah aset maupun menghasilkan pendapatan usaha. Adapun total investement dapat dihitung dalam rumus:
Total investment = Aset Lancar + Aset Tetap + Aset Lain-Lain 3. Return On Investment
Return on Investment (ROI) merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan. Semakin tinggi ratio ini, semakin baik keadaan suatu perusahaan. 27 ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
Return On Investment dihitung sebagai berikut :
27 Lukman Syamsuddin, Manajemen Keuangan Perusahaan : Konsep Aplikasi dalam:
Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan (Jakarta : Rajawali Pers, 2009), 63.
4. Return On Equity
Return On Equity ( ROE) merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham prefen) atas modal yang mereka investasikan didalam perusahaan. Secara umum tentu saja semakin tinggi return atau penghasilan yang diperoleh semakin baik kedudukan pemilik perusahaan. 28 Return On Equity dihitung sebagai berikut :
c. Keunggulan Analisis Du Pont System
Adapun keunggulan analisis du pont system antara lain:29
1. Sebagai salah satu teknik analisis keuangan yang sifatnya menyeluruh dan manajemen dapat mengetahui tingkat efisiensi pendayagunaan aktiva.
2. Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga diketahui produk mana yang potensial.
28 Ibid, 64.
29 Rangga Rudvi Harditama “Analisis Efesiensi Kinerja Perusahaan Melalui Pendekatan Sitem Du Pont Pada PT HM SAMPOERNA Tbk”, (Skripsi, Universitas Jember, 2014), 11-12.
3. Dalam menganalisis laporan keuangan menggunakan pendekatan yang lebih integratif dan menggunakan laporan keuangan sebagi elenb analisisnya.
d. Kinerja Keuangan Perusahaan
Kinerja perusahaan umumnya diukur berdasarkan penghasilan bersih (laba) atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan persaham (earning per share). Unsur yang berkaitan langsung dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah penghasilan dan beban. Pengakuan dan pengukuran penghasilan dan beban, dan karenanya juga penghasilan bersih (laba), tergantung sebagian pada konsep modal dan pemeliharaan modal yang digunakanperusahaan dalam penyusunan laporan keuangan. Unsur penghasilan dan beban didefinisikan sebagai berikut :
1. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akutansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
2. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akutansi dalam bentuk arus keluar dan berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.
Penghasilan dan beban dapat disajikan dalam laporan laba rugi dengan beberapa cara yang berbeda demi untuk menyiadakan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi. 30
Kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Dengan adanya standar rasio keuangan, perusahaan dapat menetukan apakah kinerja keuangan baik atau tidak. Penilaian ini dilakukan dengan membandingkan rasio keuangan yang diperoleh dengan standar rasio keuangan yang ada. Pada umumnya, kinerja keuangan perusahaan dikategorikan baik jika besarnya rasio keuangan perusahan bernilai sama dengan atau diatas standar rasio keuangan.
Selain membandingkan rasio keuangan dengan standar rasio, kinerja keuangan juga dapat dinilai dengan membandingkan rasio keuangan tahun yang dinilai dengan rasio keuangan pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan membandinkan rasio keuangan pada beberapa tahun penilaian dapat dilihat bagaimana kemajuan ataupun kemunduran keuangan sesuai dengan kegunaan masing-masing rasio tersebut. 31
30 Lukas Setia Atmaja, Manajemen Keuangan (Edisi Revisi), (Yogyakarta : Andi,2002),23-24.
31 http://fadhilanalisis.blogspot.co.id/2011/10/ananlisis-laporan-keuangan.html?m=1
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan mempunyai beberapa tujuan, diantaranya :
1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemmpuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.
2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
3. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan rantabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selma periode tertentu yang dibandingkan dengan penggunaan aset atau ekuitas secra produktif.
4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan prusahaan dalam menjalankan dana mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang diukur dari kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secra teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami kesulitan atau krisis keuangan.
Ada lima (5) tahap dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu :
1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan.
2. Melakukan perhitungan.
3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.
4. Melakukan penfsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.32
32 Irham Fahmi, Analisis Kinerja Keuangan, (Bandung : Alfa Beta, 2017), 3-4.
A. Gambaran Objek Penelitian
Industri makanan dan minuman adalah salah satu indsutri yang berkembang sangat pesat diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai jenis makanan dan minuman dengan tampilan yang menarik terus diproduksi demi meningkatkan nilai estetika dan daya tarik konsumen. Proses produksi makanan dan minuman meliputi pemilihan bahan baku, menjadi barang jadi yang berupa makanan dan minuman. Perusahaan manufaktur identik dengan pabrik yang mengaplikasikan mesin-mesin, peralatan, dan tenaga kerja. Di indonesia terdapat banyak sekali perusahaan manufaktur. Berikut adalah beberapa kelompok perusahaan menufaktur yang sudah go public dan menjadi kriteria yang digunakan dalam penulisan skripsi ini
1. Profil Perusahaan Makanan dan Minuman di BEI a. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)
PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 yang pada awalnya didirikan pada tanggal 26 Januari 1990 dengan nama PT Asia Intiselera. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun1990. Yang pada walnya hanya bergerak dibisnis makanan. Sejalan dengan proses transformasi bisnis perusahaan ini telah menjadi salah satu perusahaan yang termasuk dalam indeks
kompas 100. Pada tahun 2011, Tiga Pilar Sejahtera Food menjadi salah satu perusahaan yang termasuk dalam daftar “A List of the Top 40 Best Performing Listed Company” dari majalah Forbas Indonesia dan pada 2012, Tiga Pilar Sejahtera Food mendapatkan penghargaan Indonesia Best Corporate Transformation dari majalah SWA. Selain itu, Tiga Pilar Sejahtera Food juga dianugerahi penghargaan Asia’s Best Companies 2014 kategori Best Small Cap dari Finance Asia dan termasuk dalam daftar 20 Rising Global Stars dari Forbas Indonesia pada 2014.
Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan meliputi usaha dibidang perdagangan, industri, perternakan, perkebunan pertanian, perikanan, dan jasa. Sedangkan usaha entitas anak meliputi usaha industri mie dan perdagangan mie, khususnya mie kering, mie instan dan bihun, snack, industri biskuit, peremen, perkebunan kelapa sawit,dan distribusi beras. Tiga Pilar Sejahtera Food hadir dalam industri makanan dengan kesadaran bahwa industri ini harus dihadapi dengan inovasi dan penciptaan produk yang berkualitas serta berdaya saing tinggi. Dalam upaya mengukuhkan keberadaan perusahaan, Tiga Pilar Sejahtera Food memposisikan diri untuk menjadi perusahaan pengolahan pangan dengan teknologi modern. Diiringi dengan komitmen yang kuat dan inovasi yang dijalankan secra berkelanjutan, kontribusi perusahaan terhadap perolehan industri akan semakim meningkat.
Kantor pusat perusahaan berada di Jakarta. Lokasi pabrik mie kering, biskuit dan permen terletak di sragen Jawa Tengah. Usaha perkebunan kelapa sawit terletak dibeberapa lokasi Sumatera dan Kalimantan. Usaha pengelolaan dan distribusi beras terletak di Cingakreng, Jawa Barat dan Sragen, Jawa Tengah.33
b. PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO)
PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) didirikan pada tanggal 3 Juni 1997. Kantor pusat Tri Banyan Tirta terletak di Kp. Pasir Dalem Desa Babakan Pari, Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Tujuan perusahaan adalah membangun Alto Natural Spring Water sebagai produk lokal dengan kualitas standar internasional.
Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, ruang lingkup kegiatan ALTO adalah bergerak dalam bidang industri air mineral (air minum) dalam kemasan plastik, makanan, minuman dan pengalengan atau pembotolan serta industri bahan kemasan.
Pada tanggal 28 Juni 2012, Tri Banyan Tirta memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan penawaran umum perdana saham ALTO (IPO) kepada masyarakat sebanyak 300.000.000 dengan nilai nominal Rp. 100 per saham dengan harga penwaran Rp.210 per saham. Saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2012. 34
33 Dokumentasi Sejarah. Data diambil dari PTTiga Pilar Sejahtera Food Tbk, 01 Oktober 2018.
34 Dokumentasi Sejarah. Data diambil dari PTTri Banyan Tirta Tbk, 01 Oktober 2018.
c. PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA)
PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) dahulu bernama Cahaya Kalbar Tbk, didirikan 03 Februari 1968 dengan nama CV Tjahaja Kalbar bergerak pada bidangn produksi lemak di Indonesia dan meiliki tiga pabrik produksi yaitu: Pluit Jakarta, Pontianak dan Cikarang. Mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1971 di Pontianak. Wilmar Cahaya Indonesia adalah perusahaan dibawah Wilmar International Limited (WIL) Group. WIL adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Singapura. Entitas induk perusahaan adalah Tradesound Investment Limited dan entitas induk utamanya adlah Wilmar International Limited.
Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha perusahaan meliputi bidang industri minyak nabati (minyak kelapa sawit beserta produk turunannya), biji tengkawang, minyak tengkawang dan dan minyak nabati spesialitas untuk industri makanan dan minuman, termasuk perdagangan umum, impor dan ekspor, dan berdagang hasil bumi, hasil hutan, berdagang barang-barang keperluan sehari-hari. Saat ini produk utama yang dihasilkan CEKA adalah Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel serta turunannya. Pada 10 Juni 1996, Wilmar Cahaya Indonesia memperoleh pernyataan efektif dari menteri keuangan untuk melalukan penawaran umum perdana saham CEKA (IPO) kepada masyarakat.
Kantor pusat perusahaan terletak dikawasan industri Jababeka II, Jl. Industri Selatan 3 Blok GG No.1, Cikarang, Bekasi 17550, Jawa Barat, lokasi pabrik perusahaan terletak dikawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat dan Kalimantan Pontianak, Kalimantan Barat35. d. PT Delta Djakarta Tbk (DLTA)
PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) merupakan salah satu anggota dari San Miguel Group, Filipina. Induk usaha Delta Djakarta adalah San Miguel Malaysia. sedangkan induk investment Holdings, Inc, berkedudukan di Filipina dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1933. Dalam perkembangannya kepemilikan dari pabrik ini telah mengalami beberapakali perubahan sehingga berbentuk PT Delta Djakarta pada tahun 1970. Kantor pusat DLTA dan pabriknya berlokasi di Jl. Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur- Jawa Barat.
Tahun 1990an penanam modal asing mengalir deras ke Indonesia. Pada masa inilah San Miguel Corporation, berpusat di Filipina menjadi pemegang saham pengendali Delta. Perusahaan dituntut tetap eksis dalam kondisi politik apapun. Pergantian pemerintahan dari Belanda, Jepang, ke RI telah dilalui Delta Djakarta.
Delta Djakarta Go Public di bursa efek Indonsia sejak 1984.
Berdasarkan anggaran adasar perusahaan, ruang lingkup kegiatan Delta Djakarta yaitu terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merk Anker, Carlsberg, San
35 Dokumentasi Sejarah. Data diambil dari PTWilmar Cahaya Indonesia Tbk, 01 Oktober 2018.
Miguel, San Mig Light dan Kuda Putih. Delta Djakarta juga memproduksi dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merk Sodaku.36
e. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). (dulunya PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk, PT. Gizindo Primanusantara, PT.
Indosentra Pelangi, PT. Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT.
Ciptakemas Abadi) yang didirikan pada tahun 1990 oleh Sudono Salim dengan nama Panganjaya Intikusuma, merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia.
Perusahaan ini kemudian diganti dengan nama Indofood pada tahun 1990.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan makanan dan minuman yang didirikan pada tahun 1971. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk terus mengalami kemajuan, hal ini dibuktikan dengan adanya pesebaran distribusi produk yang di pasarkan. Saat ini, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk memiliki 36 pabrik, lebih dari 10 merk dengan 150 rasa dan tipe distributor yang melayani hampir 150.000 outlet.
Indofood mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa dan bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh
36 Dokumentasi Sejarah. Data diambil dari PTDelta Djakarta Tbk, 01 Oktober 2018.