• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Teori

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 37-52)

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Wali Hakim a. Pengertian wali

Perwalian yang dimaksud dalam suatu perkawinan ialah bentuk wewenang dari sekelompok orang yang diberikan teruntuk orang yang sempurna sebab cacat tertentu dari orang yang dikendalikan untuk keuntungan mereka.21

Muhammad Jawwad Mughniyyah berpendapat wali yakni kekuasaan atau otoritas syar‟i atas seseorang yang di berikan kepada seorang yang sempurna untuk menutupi kekurangan tertentu yang ada pada orang lain demi suatu kemaslahatan khalayak umum.22

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa wali yakni seseorang yang sempurna yang digunakan sebagai pengganti untuk seseorang untuk kemaslahatan.

b. Dasar hukum wali nikah

Wali menurut Fiqih juga merupakan suatu wilayah dimana suatu kekuasaan dan perlindungan dimana wali ialah penguasaan penuh atas seseorang yang sudah diberikan agama untuk melindungi atau memiliki kuasa atas orang maupun barang.23

Disisi lain menurut hukum islam, wali adalah sesuatu yang harus terpenuhi oleh mempelai wanita dalam melakukan perkawinan

21 Muhammad Jawad Mughniyah, Terjemahan Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta: Penerbit Shaf, 2011), 374.

22 Mughniyah, Terjemahan Fiqih Lima Madzab, 345

23 Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang 1993), 92.

sebab wali adalah rukun dalam pernikahan, imam syafii menegaskan bahwa dalam perkawinan harus ada wali jikalau tidak ada maka perkawinan tersebut berstatus tidak sah.24

c. Syarat-syarat wali nikah

Ada beberapa syarat supaya menjadi wali yang sah bagi perempuan, antara lain:

1) Laki-Laki

Dalam Islam, perwalian sepenuhnya diserahkan kepada laki-laki. Kemudian tidak dapat ditransfer dari ibu wanita, nenek atau saudara perempuan biologis. Hal ini karena wali pada hakikatnya adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan wewenang atas wanita yang akan dinikahinya.

2) Agama yang sama

Ketika seseorang menikah dan menikah harus satu agama, yaitu Islam dan Islam, tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk menikah dengan seorang Kristen.

3) Berakal

Ayah yang gila tidak berhak menjadi wali bagi putrinya yang telah membuat perjanjian. Memang, kelayakan wali adalah wajar, dan kondisi gila dengan dalih ketidaksempurnaan tidak mungkin tercapai.

24 M. Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996), 53.

27

4) Baligh

Dalam perkawinan, persetujuan adik laki-laki adalah wali, tetapi adik laki-laki harus dalam keadaan baligh.

5) Kebebasan / merdeka

Dalam syariat ini, seorang budak tidak dianggap sah jika ia menjadi wali untukseorang budak tidak dianggap sah jika ia menjadi wali untuk menikahi putrinya meskipun ia seorang Muslim dan cukup umur.25

d. Macam-macam Wali.

Berikut berbagai macam wali yang terdapat dalam suatu pernikahan di antaranya:

1) Wali nasab ialah mereka yang termasuk keluarga dari pihak mempelai perempuan dan berwenang bertindak sebagai wali untuk menentukan wali nasab. Dalam wali nasab berbeda pendapat, perbedaan ini dikarenakan tidak adanya petunjuk dari hadist maupun Al-Qur'an sehingga jumhur ulama membaginya menjadi dua kelompok:

a) Wali terdekat (wali qorib) adalah sosok ayah kemudian ketika ayah tidak ada dipindah tangankan kepada kakek sebab kedua orang tersebut memiliki hak yang mutlak atas pernikahan anak perempuan.

25 Sutomo Abu Nashr, Serial Hadist Nikah 5 Wali Nikah, (Jakarta: Lentera Islam), 15.

b) Wali jauh (Wali ab`ad) adalah wali yang masih berada dalam garis keturunan orang tua, tidak termasuk ayah dan kakek serta anak dan cucu. Wali dalam garis kerabat ini ialah mereka selain ayah dan kakek juga selain anak dan cucu

2) Wali hakim yakni seseorang yang sudah ditunjuk dan diamanahi oleh pemerintah agar bertindak menjadi wali dalam perkawinan.

Wali hakim mampu bertugas untuk menggantikan posisi wali nasab apabila tidak terdapat wali nasab dari pihak pengantin perempuan.

Hal tersebut diatur juga dalam pasal 1 ayat 2 PMA No 30 Tahun 2005 menyatakan bahwasanya “wali hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali”.26

3) Wali muhakkam yakni orang yang ditunjuk dan dimintai tolong oleh calon pasangan agar bertindak menjadi wali saat akad nikah mereka berlangsung. Mereka yang dapat disebut sebagai wali muhakkam yaitu seseorang yang memiliki kedudukan di lingkungannya serta dihormati maupun disegani terlebih dalam urusan munakahat dengan pandangan yang luas dan mengerti terkait agama Islam serta laki-laki.27

26 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim, Pasal 1 ayat 2.

27 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, (Yogyakarta: Deepublish, 2021). 77-79.

29

Dalam KHI Pasal 20 wali pada suatu pernikahan terbagi ke dalam dua jenis yakni: wali nasab dan wali hakim.28

e. Orang-orang yang berhak menjadi wali

Dalam Islam berikut urutan orang yang berhak menjadi wali dalam suatu pernikahan:

1) Ayah kandung pengantin ialah wali yang paling utama dan yang mempunyai hak dengan syarat anak wanita itu tidak lahir diluar nikah.

2) Kakek atau ayah dari ayah.

3) Apabila perempuan yang dinikahkan merupakan seorang janda yang menjadi urutan selanjutnya si kakek yakni anak dari si wanita.

4) Selanjunya cucunya (jikalau ia janda) dan ke bawah seterusnya dengan syarat mendahulukan dari yang terdekat.

5) Jikalau bukan seorang janda, aturan setelah kakek yakni saudara laki-laki sekandung, seperti abang, adik laki-laki yang berstatus seayah dan seibu

6) Selanjutnya yakni saudara sebapak atau saudara satu ayah namun beda ibu

7) Berikutnya yaitu anak yang berasal dari saudara laki-laki atau keponakan dan dilanjutkan ke bawah seterusnya namun dengan

28 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, 6.

catatan harus mendahulukan saudara sekandung bukan saudara seayah.

8) Urutan terakhir barulah paman sekandung atau saudara yang berasal dari bapak, lalu paman sebapak atau saudara yang berasal dari bapak, selanjutnya anak lelaki dari paman atau sepupu lelaki yang berasak dari pihak keluarga bapak.29

f. Wali Hakim

1) Pengertian wali hakim

Pengertian wali hakim yakni orang yang diberikan tugas dari pemerintah ataupun lembaga masyarakat untuk menjadi Qadhi dimana mendapatkan wewenang dalam menjadi wali pada perkawinan.30

Sehingga wali nikah pada umumnya ditunjuk oleh pemerintah untuk mewakili dan berperan sebagai wali dalam pemerintahan. Wewenang wali hakim disini adalah dapat menjadi pengganti wali nasab apabila calon pengantin tidak mempunyai wali nasab.31

Sedangkan dalam pasal 1 ayat 2 PMA No 30 Tahun 2005 menjelaskan jika wali nikash yakni seorang Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan dimana ditunjuk oleh Menteri Agama agar

29 @TweetNikah, Aku, Kau & KUA Edisi Revisi, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013), 129.

30Aspandi, Pernikahan Berwalian Hakim Analisis Fiqih Munakahat dan Kompilasi Hukum Islam, 92.

31 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, 77-79.

31

bertugas menjadi wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak memiliki wali.32

2) Syarat-syarat wali hakim

a) Keberadaan wali tidak diketahui.

b) Wali yang akan menjadi pasangan sendiri sementara wali yang setara dengannya tidak ada

c) Lokasi wali yang jauh diperbolehkannya qasar, namun dengan jarak 92,5 km

d) Wali sedang dipenjara serta sebagai tahanan tidak dapat ditemui e) Wali melakukan haji atau umrah

f) Mempelai tersebut anak hasil zina sehingga hanya bernasab pada ibunya

g) Walinya gila atau fasik.33 3) Dasar Hukum Wali Hakim

اَذِا َّنُهَجاَوْزَا َنْحِكْنَّ ي ْنَا َّنُهْوُلُضْعَ ت َلََف َّنُهَلَجَا َنْغَلَ بَ ف َءۤاَسِّنلا ُمُتْقَّلَط اَذِاَو ِفْوُرْعَمْلاِب ْمُهَ نْ يَ ب اْوَضاَرَ ت َكِلٰذ ۗ

ُظَعْوُ ي هِب ِهّٰللاِب ُنِمْؤُ ي ْمُكْنِم َناَك ْنَم ۗ

ِرِخْٰلاا ِمْوَ يْلاَو ِلٰذ ۗ

ُرَهْطَاَو ْمُكَل ىٰكْزَا ْمُك َنْوُمَلْعَ ت َلا ْمُتْ نَاَو ُمَلْعَ ي ُهّٰللاَو ۗ

Artinya: “Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

32 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim, Pasal 1 ayat 2.

33 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, 77-79.

Wali hakim adalah wali di mana seseorang calon mempelai sudah tidak mempunyai wali, atau wali yang tidak ingin menikahkan calon mempelai wanita. Wali hakim di perbolehkan mengambil sikap apabila wali maqrab tidak ada maupun tidak hadir dalam akad ketika di langsungkan. Seperti dalam riwayat Aisyah ra. Berkata:

Artinya: “perempuan mana saja yang menikah dengan izin walinya, maka pernikahannya batil, batil, batil,. Jika dia digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar akibat persetubuhan yang dilakukan kepadanya. Jika mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.

Dalam hadist diatas menyatakan pernikahan harus dengan adanya wali namun apabila adanya perselisihan anatara wali dan calon mempelai maka sultan atau kepala negara yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut. Sebab tanpa adanya wali pernikahan itu tidak di nyatakan sah.34

g. Peralihan wali nasab ke wali hakim

Mengutip dari Kompilasi Hukum Islam (KHI) peran dari wali hakim dapat bertindak menjadi wali nikah apabila wali nasab tidak dapat menghadiri pernikahan atau keberadaannya tidak diketahui. Pada perwalian yang walinya adhal wali hakim dapat bertindak menjadi wali nikah berdasarkan putusan pengadilan agama maupun pejabat

34 Soraya Devy dan Mohammad Syakirin Bin Zahari, “Status Hukum Pernikahan Yang Dilaksanakan Oleh Wali Hakim Luar Negeri ( Studi Kasus di Mahkamah Syariah Negeri Kelantan”, Jurnal Media Syariah dan Hukum Uin Ar-Raniry, Vol.20, No. 1 (2018) 44-45.

33

yang diamanati oleh pihak pengadilan agama.35 Sedangkan apabila calon mempelai wanita tidak memiliki wali untuk menikahkan maka dalam artian tidak memiliki wali nasab maka boleh untuk menikahkan.

Namun apabila wali nasabnya juga tidak memenuhi kualifikasi atau mafqud maka pernikahan tersebut dapat menggunakan wali hakim.

Adanya peralihan pada hak wali nikah dalam ilmu fiqih disebut dengan intiqal wali nikah berdasarkan hak perwalian. Sebab perpindahan wali kepada wali yang lain dapat disebabkan oleh suatu hal dimana dapat terjadi pada wali nasab ke wali hakim maupun peralihan hak perwakilan kepada wali yang berhak mempunyai alasan-alasan seseorang tidak dapat dijadikan sebagai wali.36 Misalnya seperti penyandang disabilitas dan orang yang udzur sesuai dengan Pasal 22 yang ditulis dalam Kitab Al-Bajuri. Serta dijelaskan dalam Pasal 23 ayat 1 mengenai ketentuan wali hakim yang terbaru dimana dapat menjadi wali nikah apabila sama sekali tidak ada wali nasab atau walinya sedang bepergian jauh, ingatannya terganggu, wali nasab yang sulit ditemui, serta wali yang sedang haji dan tidak bisa menjadi wali nikah.37 Sedangkan dalam Ayat 2 pada pasal di Kitab Qalyubi wa Umairah dijelaskan ketidakinginan wali dalam menjadi wali nikah diatur oleh hakim setelah kedua calon mempelai dan wali nikah

35 Departemen Agama, Modul Peningkatan Keterampilan Pegawai Pencatat Nikah Seri B: Fikih Munakahat, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2002), 19.

36 Iffah Muzammil, Fiqh Munakahat: Hukum Pernikahan dalam Islam, (Tangerang:

TSmart, 2019), 18.

37 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1981) 61.

dipertemukan. Kemudian hakim memberikan tugas kepada wali untuk menikahkan yang selanjutnya ditolak oleh wali tersebut.38

Penyebab adalanya peralihan wali dari wali nasab ke wali hakim dijelaskan secara terstruktur pada PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim sesuai Pasal 23 KHI. Penolakan ini disebabkan adanya anak yang dihasilkan dari luar pernikahan (anak tidak sah).

Dalam penjelasan Pasal 43 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 anak yang lahir diluar pernikahan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan pihak keluarga ibunya baik berdasarkan Hukum Islam serta Kompilasi Hukum Islam. Didalamnya telah dijelaskan bahwa peralihan hak wali ke wali nasab kemudian ke wali hakim pada pernikahan perempuan disebabkan wali adhal perlu menunggu putusan pengadilan agama.39 Status hukum yang diatur dalam Pasal 23 Ayat 1 KHI adalah wali hakim dapat berperan sebagai wali nasab dimana tidak sesuai Al Aqrab atau Al Ab‟ad bahkan tidak mungkin menghadirkan wali nikah yang berada di tempat yang jauh. Sedangkan menurut konteks Fiqih Syafi‟i yang dapat menjadi kuasa untuk wali nikah dapat menyerahkan wewenang kepada wali hakim. Pasal 23 Ayat 2 yang menetapkan sebagai wali hakim pada umumnya

38 Sayyid Sabiq, Terjemahan Fiqh Sunnah Jilid VII, (Bandung: PT. al-Maarif, 1998), 25.

39 Jamaluddin dan Nanda Amalia, Buku Ajar: Hukum Perkawinan, (Sulawesi: Unimal Press, 2016), 65.

35

ditetapkan oleh KUA yang hanya berperan menjadi wali hakim sesuai dengan putusan pengadilan agama.40

2. Pembaruan Hukum tentang Wali Hakim pada PMA Nomor 2 tahun 1987 dan PMA nomor 30 tahun 2005

Perkawinan merupakan rangkaian hubungan yang mengandung aura positif dengan menjalani kehidupan yang lebih lanjut antara seorang lelaki dengan seorang perempuan agar dapat membentuk dan mewujudkan sebuah keluarga yang penuh dengan nilai sakinah, mawaddah dan warohmah dihadapan Allah SWT. Wali nikah yang sah ialah orang tua dari seorang perempuan yang memang sudah memiliki kedudukan sebagai seorang wali. Oleh karena itu sudah seharusnya untuk berpihak dan sudi untuk mejadi wali nikah bagi anak perempuannya agar terlaksanakannya tujuan dari sebuah perkawinan yang positif sesuai dengan apa yang menjadi kehendak anaknya sehingga tujuan dalam perkawinan tersebut mampu terwujud.41

Dalam Pasal 23 ayat (1) dan (2) dalam KHI jo Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1987 yang menentukan dalam hal adanya wali adhal atau keadaan seseorang yang enggan untuk menjadi seorang wali maka wali hakim yang ditunjuk dapat bertindak setelah adanya putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut. Bagi mereka atau kedua calon mempelai yang berstatus sebagai muslim atau agama Islam atas izin dari

40 Hasballah Thaib, Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, (Medan: Universitas Dharmawangsa, 1983) 53.

41 Rustam, “Analisis Hukum Kedudukan Wali Hakim Dalam Pelaksanaan Perkawinan”, Al ‘Adl Vol. 13, No. 1 (Januari 2020), 57.

orang tua nikahnya yang enggan menolak yang bersangkutan dengan mengajukan permohonan wali hakim agar menjadi penganti wali nasabnya sebab adhal ketika diberlangsungkannya akad nikah.42

Di kalangan para fuqaha muncul berbagai perbedaan pendapat yang berkaitan dengan sebab dan akibat terjadinya suatu perkawinan dengan menggunakan wali hakim. Diatur dalam Peraturan Menteri Agama nomor 2 tahun 1987 pasal 2 ayat 1 yang menjelaskan: “Teruntuk calon mempelai perempuan yang akan melangsungkan pernikahan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau diluar negeri ektra teritorial Indonesia yang tidak memiliki wali nasab ataupun wali nasabnya dinyatakan belum memenuhi persyaratan yang diberikan atau mafqud ataupun yang adhal, maka pernikahannya harus dilaksanakan menggunakan wali hakim”.

Tujuan utama melalui adanya pernikahan akan terwujud dan wali hakim bertujuan agar mempermudah dan memperingankan selama berlangsungnya sebuah perkawinan untuk wanita yang tidak memiliki seorang wali agar dapat terwujudnya kemaslahatan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam perkawinan.43

Ketika tugas seorang wali hakim telah rampung yakni untuk menikahkan mempelai wanita yang beracu pada penetapan yang ditetapkan oleh hakim Pengadilan Agama. Penetapan tersebut berisi

42 Aulia Muthiah, Hukum Islam Dinamika Seputar Hukum Keluarga”, (Yogyakarta:

Pustaka baru press, 2017), 29.

43 Jaih Mubarok, Pembaharuan Hukum Perkawinan Di Indonesia, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015), 66.

37

bahwasanya wali nasab dari calon pengantin perempuan telah dinyatakan adhal maka sudah kewajiban sebagai wali hakim agar dicabut kembali oleh hakim Pegadilan Agama. Hal tersebut yang diatur didalam PMA nomor 2 tahun 1987 pasal 6 yang menjabarkan beberapa hal seperti berikut:

a. sebelum dilangsungkannya sebuah akad nikah oleh wali hakim agar dimintakan atau ditawari kembali kepada wali nasab calon mempelai perempuan untuk menikahkan calon pengantin perempuan, meskipun telah ditetapkan putusan dari pengadilan agama terkait adhalnya wali.

b. jikalau wali nasabnya masih dalam kondisi adhal maka wali hakim harus membantu melangsungkan akad nikah tersebut.

Pernikahan yang menggunakan wali hakim haruslah dikarenakan atau disebabkan berbagai factor yang telah ditentukan oleh hukum yang sesuai degan penulis teliti bahwa adanya sebab terjadinya wali hakim dikarenakan wali adhal maka terlebih dahulu pasangan mengajukan permohonan pernikahan degan wali hakim, dan setelah permohonan dikabulkan maka wali hakim tersebut dapat menjadi wali nikah yang sudah diatur di dalam PMA nomor 30 tahun 2005 tentang wali hakim dengan menggunakan wali hakim sendiri sah baik dimata hukum maupun agama sesuai dengan adanya sebab dan syarat-syarat dalam permohonan penggunaan wali hakim yang ditunjukkan oleh para calon pasangan.44 Berdasarkan dari pembahasan ini bahwa pernikahan menggunakan wali

44 Rustam, “Analisis Hukum Kedudukan Wali Hakim Dalam Pelaksanaan Perkawinan”,65.

hakim adalah sah dan apabila pengajuan dan pembahasanya dengan menggunakan wali hakim maka harus sesuai dan tidak bertentangan dengan hukum yakni dengan terpenuhinya berbagai persyaratan agar pernikahan tersebut mampu dinyatakan sebagai pernikahan yang sah sesuai dengan ajaran agama Islam.45 Selain harus memenuhi hukum Islam juga sesuai dengan berbagai ketentuan yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan.46

Pembaharuan terhadap peraturan terkait wali hakim sebenarnya adalah sebuah proses melengkapi dari apa yang telah ada. Adapun komparasi dari PMA No. 2 tahun 1987 dan PMA no 30 tahun 2005 adalah terletak pada beberapa substansi pasalnya, sementara dari susunan masih terdapat kesamaan. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut; Pertama, pada Pasal 2 ayat 3 yang didalam PMA No. 30/2005 sudah dihapuskan;

Kedua, Pasal 3 PMA No. 2/1987 telah ditambah pada PMA No. 30/2005 yaitu dijaarkan dalam pasal 1, 2 dan 3. Ketiga, Pasal 5 6 dan 7 dalam PMA No. 2/1987 dirubah dalam PMA No. 30/2005 menjadi disederhanakan hanya sampai pada pasal 6 Bab V Penutup.

45 Jamaluddin dan Nanda Amalia, Buku Ajar: Hukum Perkawinan, 69.

46 Martiman Prodjohamidjojo, Hukum perkawinan Indonesia, (Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2002), 141.

39

Tabel 2.2 Perbandingan

BAB PMA No 2 Tahun 1987 PMA No 30 Tahun 2005

1. Ketentuan Umum Ketentuan Umum

2. Penetapan Adhalnya Wali Penetapan Wali Hakim 3. Penunjukan Wali Hakim Penunjukan dan Kedudukan

4. Akad Nikah Akad Nikah

5. Penutup Penutup

Tabel 2.3 Perbedaan

No. PMA No 2 Tahun 1987 PMA No 30 Tahun 2005 1. Pasal 2 (3) Pasal 3 (1), (2), (3) 2. Pasal 7 (1), (2) Pasal 6 (1), (2), (3)

40

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 37-52)

Dokumen terkait