BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
C. Pembahasan Temuan
53
pengganti wli hakim yaitu kepala KUA jadi selain kepala KUA tidak berhak menjadi wali hakim kecuali ditunjuk oleh kepala KUA itu sendiri.”60
“Mengenai proses perpindahan wali nasab ke wali hakim itu otomatis kepala KUA itu merangkap menjadi wali hakim kecuali walinya adhol yakni walinya tidak mau untuk mengakadkan atau walinya mafkud jadi otomatis kepala KUA dapa menjadi wali pada pernikahan”.61
“Apabila walinya adhol maka harus ada penetapan dari pengadilan agama kalau walinya tidak ada. Contohnya juga seperti anaknya mau menikah sedangkan orang tuanya berada di Bawean dan menunggu untuk menyebrang itu lama akan tetapi wali tersebut sudah benar-benar rela dan juga ikhlas maka boleh menyerahkan kepada wali hakim namun pelu persyaratan adanya surat pernyataan dari desa jika benar bahwa wali tersebut memang ada halangan.”62
Kesimpulan dari wawancara tersebut yakni bahwa dalam hal peralihan wali dalam pernikahan di KUA Arosbaya secara otomatis Kepala KUA berperan sebagai wali hakim pada pernikahan yang akan berlangsung kecuali apabila walinya adhol maka perlu surat dari Pengadilan Agama.
rukun yakni dengan adanya wali dalam pernikahan yang bertugas untuk menihkahkannya.
Sehingga perwalian pada sebuah perkawinan menjadi poin krusial dan syar‟i untuk seluruh manusia dimana diberikan kepada seseorang yang sempurna.64
Dalam akad perkawinan kedudukan wali hakim yakni sebagai pengganti terhadap wali bagi calon mempelai perempuan untuk melaksanakan pernikahan yakni dalam bentuk akad ketika wali perempuan tidak ada atau wali perempuan tersebut berhalangan dengan alasan tertentu atau juga wali calon mempelai wanita tersebut tidak ingin menjadi wali nikah bagi anaknya. Sehingga wali hakim perlu untuk mengisi kekosongan wali nasab yang adhal dengan adanya permohonan wali yang kemudian diputuskan pihak pengadilan agama jika wali calon mempelai perempuan adhal. Oleh karena itu kedudukan serta wewenang wali hakim dalam pernikahan sama dengan wali nasab.
Dengan demikian dalam Peraturan Mentrei Agama nomor 30 tahun 2005 secara rinci telah mengatur terkait syarat bagi seseorang untuk menjadi wali yang sah bagi perempuan yang akan menikah. Ketentuan wali hakim juga diuraikan pada peraturan tersebut yang masih berlu hingga saat ini mengikuti aturan diatasnya.
Dari hasil wawancara oleh pihak KUA Arosbaya sebagai penghulu dengan tugas yang diberikan oleh Kementerian Agama dimana
64 Mughniyah, Fiqih Lima Madzab, 374.
55
menggantikan kedudukan Kepala KUA ketika tidak dapat hadir saat akad nikah. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 30 tahun 2005 ayat 3 dan ayat 2 dengan uraian jika Kepala KUA Kecamatan tidak dapat hadir maka dapat digantikan oleh kepala seksi yang membidangi kemudian menunjuk salah satu penghulu di kantor kecamatan terdekat untuk menjadi wali hakim di wilayah tersebut.
Berdasarkan analisis tersebut penulis dapat menmgetahui bahwa adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim di KUA kecamatan Arosbaya masih kurang efektif terutama dalam pelaksanaan tugas yang ada sebab belum sesuai pelaksanaannya dengan peraturan yang ada. Terutama dalam peraturan yang diatur dalam PMA Nomor 30 tahun 2005 tentang Wali hakim di KUA Arosbaya.
Dalam hal ini penulis menemukan fakta dalam pelaksanaan akad dalam perkawinan bahwa ada yang berbeda, dalam pasal 1 ayat (2) telah dibahas jika wali hakim adalah Kepala KUA dimana dapat bertindak menjadi wali dalam pernikahan untuk mempelai yang tidak memiliki wali.
Berdasarkan uraian diatas di yakini bahwa pernikahan bukan hanya tentang suatu kebutuhan jasmani melakinkan juga dengan kebutuhan rohani, sehingga hal ini juga relevan pada QS. Ar-Rum Ayat 21, dimana pernikahan adalah suatu ikatan lahir dengan hubungan suatu hukum suami istri untuk hidup bersama dimana ikatan tersebuat adalah formal serta nyata baik bagi yang mengikatnya maupun masyarakat, dengan ikatan formal tesebut berarti sudah melaksanakan akad dengan ketentuan islam maupun agama lainnya.
Sedangkan dalam ikatan bathin pernikahan yakni dimana dua orang antar laki-laki maupun perempuan dengan memutuskan untuk menjalin pernikahan sesuai kemauan sendiri-sendiri dan tanpa ada paksaaan.
Dari setiap pernikahan di syaratkan adanya wali bagi kaum wanita.
Jika dalam pernikahan tidak memenuhi persyaratan terkait wali nikah bagi wanita maka pernikahan tersebut dianggap batal. Sehingga peran wali nikah sangat penting terutama dengan adanya orang tua kandung. Apabila orang tua tidak dapat hadir atau berhalangan maka dapat diwakilkan pada kakek, paman, bahkan saudara laki-laki yang masih satu nasab dengan calon mempelai perempuan. Kemudian jika semua pihak berhalangan maka dapat diwakilkan oleh wali hakim agar pernikahan dapat tetap berjalan.
Alasan yang dapat digunakan dalam mengajukan permohonan wali nikah oleh calon mempelai perempuan untuk mendapatkan wali hakim telah dibahas oleh berbagai ahli hukum. Kedudukan wali hakim adalah wali yang sangat jauh dimana hanya berhak menjadi wali ketika wali yang dekat atau senasab tidak ada dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi wali hakim.
Sehingga dari kemungkinan tersebut wali yang berhak menjadi wali untuk calon mempelai wanita yang kehabisan wali adalah wali hakim. Hal ini dapat dilaksanakan akad atas perkawinan menggunakan wali hakim dari wilayah tersebut.
Hal tersebut telah diatur dasar hukum wali hakim pada pernikahan berdasarkan riwayat Aisyah ra. Yang berkata:
57
مِلَِوْلا اَهْحِكْنُ ي َْلَ ٍةَأَرْما اَميَُّأ : .م.ص للها لوسر لاق :تلاق اهنع للها يضر ةشئاع نع ِإَف اَهْ نِم َباَصَأ اَِبِ اَهُرْهَم اَهَلَ ف اَهَ باَصَأ ْنِإَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ِن
مِلَِو ُناَطْلمسلاَف اوُرَجَتْشا ُ َل َِلَِو َ ْنَم
Artinya: ”perempuan mana saja yang menikah dengan izin walinya, maka pernikahannya batil, batil, batil,. Jika dia digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar akibat persetubuhan yang dilakukan kepadanya. Jika mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.”
Dalam hadist tersebut menyatakan bahwa pernikahan harus dengan adanya wali namun apabila adanya perselisihan antara wali dan calon mempelai kemudian kepala negara (pemerintah) atau pihak yang menjadi wali pernikahan dapat menjadi wali pengganti. Sebab tanpa adanya wali pernikahan itu tidak dapat dinyatakan sah.
Sedangkan dalam Peraturan Menteri Agama nomor 30 tahun 2005 dijelaskan syarat-syarat permohonan wali hakim yang diatu sebagai berikut:
a. Ditujukan untuk calon mempelai wanita yang hendak menikah didalam atau diluar negeri selama berada di wilayah terororial Indonesia
b. Tidak memiliki nasab yang berhak menikahkan
Maksud disini adalah seluruh wali nasab yang ada dan berhak menikahkan telah meninggal dunia.
c. wali nasabnya tidak memenuhi syarat
yakni seperti wali tersebut gila, belum baligh dan lain sebagainya, sehingga tidak dapat menjadi wali dalam pernikahan tersebut.
d. Mafqud
Mafqud yang dimaksud disini adalah seseorang yang hilang disuatu tempat atau tidak diketahui di mana keberadaannya secara jelas sehingga tidak bisa dipastikan masih hidup atau tidak. Wali mafqud adalah di mana wali nasab telah menghilang dari keluarga dan tidak diketahui dimana atau kapan akan kembali, menghilangnya wali bisa terjadi sebab disengaja atau dengan beberapa alasan yang lain.
e. Berhalangan
Di mana berhalangan hadir apabila wali tersebut berada dijarak diperbolehkannya qasar yakni menurut jumhur ulama 92,5 km. atau wali tersebut sedang melakukan haji dan umrah.
f. Adhal
Pengertian wali adhal adalah wali yang tidak mau menikahkan calon mempelai wanita yang telah baligh dan berakal serta telah memiliki calon mempelai laki-laki. Berdasarkan permasalahan tersebut maka yang memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi wali hakim adalah penuasa negeri dalam hal ini pemerintah. Selain itu tidak dipebolehkan pihak tertentu baik itu tokoh terpandang yang telibat dan betindak menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali. Sebab tidak ada hak dan kewajiban untuk menikahkan sehingga apabila dilanggar tentu akan berdosa.
Berdasarkan uraian PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim dalam Pasal 2 Ayat 1 dibahas bahwa memenuhi persyaratan memiliki makna sesuai dengan hukum islam. Sedangkan makna dari wali yang
59
berhalangan adalah terdapat wali namun tidak dapat ditemui atau ditahan bahkan sulit dihubungi atau sebagainya.
Sedangkan untuk mengganti Kepala KUA yang tidak dapat hadir menjadi wali hakim maka perlu mengeluarkan surat keterangan secara tertulis yang berasal dari KUA agar mendapatkan pengganti sementara untuk menjadi wali hakim pernikahan. Sebab hal ini dapat dijadikan sebagai bukti yang kuat dan sah untuk menggantikan Kepala KUA saat absen menjadi wali hakim dimana hal ini diperkuat dengan surat dari Dirjem Bimas Islam (No.DJ.II.2/1/PW.01/949/2008) agar terlaksananya tugas sebagai wali hakim.
2. Penerapan PMA Nomor 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya
Dalam hal ini yang dimaksud dengan penerapan adalah perihal tentang terkait pelaksanaan juga dalam memperaktikan suatu hal. Dalam penerapan PMA ini adalah suatu pelaksanaan Peraturan Pemerintah tersebut di KUA Arosbaya terkait wali hakim baik dalam proses pelaksanaannya ataupun memperaktikan peraturan tersebut apakah sudah sesuai atau tidak.
Dalam hal itu maka menurut pendapat Imam Syafi‟i, Imam Maliki dan Imam Hambali bahwasannya apabila terdapat perempuan yang sudah baligh serta berakal sehat dimana belum pernah melakukan pernikahan maka hak untuk menikahkan perempuan tersebut adalah walinya dan apabila perempuan tersebut sudah pernah melakukan pernikahan atau janda maka hak itu ada pada keduanya, maksud keduanya disini adalah wali tersebut tidak dapat mengawinkan janda apabila belum mendapat
persetujuannya dan juga sebaliknya janda tersebut tidak dapat menikah apabila tidak ada persetujuan wali tersebut oleh sebab itu hak akad adalah wali. Sedangkan menurut pendapat imam Hanafi bahwa perempuan yang sudah baligh serta berakal sehat diperbolehkan memilih suaminya sendiri dan diperbolehkan untuk melakukan akad nikah sendiri baik itu seorang janda atau bukan. Menurut pendapatnya juga tidak ada yang berhak atau wewenang atas hal tersebut dengan syarat laki-laki pilihannya sepadan serta mahar yang diberikan cukup dari mahar mitsil, sehingga apabila tidak sesuai dengan persyaratannya maka wali perempuan itu diperbolehkan menentangnya dan dapat meminta qadi untuk membatalkan pernikahan tersebut. 65
Dalam QS. Ar-Rum Ayat 21 dijelaskan pula jika manusia diciptakan berpasang-pasang sesuai dengan jenisnya untuk memberikan kasih sayang antar sesama. Adapun artinya adalah: “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang”.
Pernikahan itu sendiri sangat sakral sehingga dalam setiap perbuatan sudah diatur jelas baik dalam hukum islam maupun hukum umum, dikarenakan pernikahan itu juga disebut perjanjian sehingga setiap pernikahan harus dihadapkan pencatatan agar mendapat suatu kepastian hukum, di Indonesia segala hal yang menyangkut tentang penduduk itu
65 Mughniyah, Fiqih Lima Madzab, 375.
61
harus dicatat. Peraturan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk.
Adapun wali nikah adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah pernikahan bagaimanapun kondisi wali nikahnya maka harus tetap berpartisipasi atau pernikahannya diserahkan kepada wali hakim. Apabila wali hakim tidak dapat untuk hadir ke pernikahan disebabkan oleh lokasi yang pelosok maka dapat berupa wali nasab yang memiliki hubungan darah dengan calon mempelai perempuan agar dapat melangsungkan pernikahan.
Sedangkan wali nikah dalam undang-undang perkawinan dijelaskan jika rukun dalam perkawinan salah satunya adalah adanya wali nasab yang derajatnya lebih tinggi untuk didahulukan. Namun jika wali nasab berhalangan hadir maka dapat diserahkan kepada pihak yang memenuhi syarat sebagai wali nikah sehingga perlu adanya ikrar di majelis jika telah diserahkan kewaliannya kepada seseorang yang dipercaya.66
Namun apabila wali nasab tidak ada atau tidak memenuhi persyaratan maka hal ini menjadi suatu masalah sebab tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai wali. Sehingga calon mempelai wanita perlu membuat surat pernyataan jika sudah tidak memiliki wali atau walinya tidak memenuhi syarat sehingga disebut sebagai wali afdhal. Maka calon mempelai perempuan perlu melampirkan putudan pengadilan agama terkait wali yang afdhal kepada kepala KUA untuk dijadikan wali hakim pada pernikahannya.
66 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995). 66
Kemudian kepala PPN perlu melakukan survey untuk menguji validitas dari calon mempelai perempuan yang sudah tidak memiliki wali nikah melalui kedua mempelai atau menelusuri melalui perangkat desa untuk memeriksa kebenarnya. Indonesia telah memiliki undang-undang perkawinan yang mengatur prinsip-prinsip sebagai landasan hukum pada bidang berkawinan yang dapat menjadi pedoman bagi masyarakat luas serta bagi umat muslim yang telah ditetapkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 terkait Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam bagi umat muslim. Selain itu permasalahan wali hakim juga telah diatur dalam PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim dimana Kepala KUA berwenang dalam menjadi wali hakim. Apabila wali hakim berhalangan dalam melaksanakan tugas- tugasnya maka hal tersebut harus dikembalikan kepada pemerintah serta Menteri Agama melalui Bimas Islam Kemenag di Kabupaten yang bersangkutan. Kemudian dikeluarkan surat tugas dengan menunjukkan wali hakim pada penghulu setempat dengan meninjau lokasi sehingga perkawinan tetap terlaksana.
Kedudukan Peraturan Menterei menjadi salah satu instrumen hukum dimana sangat diperlukan ketika berada di lingkungan masyarakat serta digunakan sebagai pelaksana peraturan perundang-undangan yang mengikat. Selanjutnya menteri mengeluarkan peraturan yang menjadi dasar kebijakan permerintah untuk menjalankan apa yang diperbolehkan dan tidak dalam undang-undang. Salah satunya tindakan menteri dalam mengatur
63
ataupun mengeluarkan peraturan sesuai dengan dasar tertib penyelenggaraan pemerintah untuk kemudahan dalam menjalankan prosedur.
Sedangkan konsekuensi dari adanya kewenangan yang tidak sah maka bermakna batal demi hukum seperti halnya konsekuensi yuridis atas perilaku hukum pada pemerintah yang dinyatakan batal demi hukum.
Melalui kewenangan yang tidak sah serta tidak sesuai dengan syarat yang berlaku maka ketentuan tersebut perlu diperbaiki sesuai perbuatan pemerintah yang dinyatakan sah.
Mengutip PMA Nomor 30 Tahun dimana telah dijelaskan mengenai penunjukan serta kedudukan wali dalam pernikahan yang dijelaskan dalam pasal 3 yakni:
a. Adapun KUA kecamatan yang bersangkutan dapat ditunjuk menjadi wali hakim agar menikahkan calon mempelai wanita sesuai dengan peraturan pada Pasal 2 ayat 1.
b. Jika Kepala KUA berhalangan dalam hadir sesuai dengan ayat 1 maka dapat digantikan oleh salah satu penghulu dengan syarat dari kepala seksi yang membidangi tugas urusan agama islam dengan mengatasnamakan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota.
c. Untuk daerah terpencil dengan transportasi yang minim maka Kepala Departemen Agama dapat mengamanatkan pembantu penghulu di tingkat kecamatan untuk menjadi wali hakim sesuai dengan wilayahnya.67
67 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim, Pasal 3.
Terkait keabsahan PMA Nomor 30 Tahun 2005 itu seperti yang sudah dijelaskan dalam pasal 3 dimana hak dalam perwalian kepala KUA bukan untuk mewakili akan tetapi menggantikan wali yang berhalangan hadir yang ketentuan tersebut sudah dijelaskan pula dalam PMA Nomor 30 Tahun 2005. selain di bolehkan mengganti posisi wali hakim di karenakan alasan tertentu, dengan syarat seseorang dapat menggantikan kealpaan wali hakim apabila pemerintah selaku sulthan mengizinkan.
Melalui penjelasan tersebut dapat dinyatakan bahwa penerapan PMA No 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya masih tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
65 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Proses pelaksanaan peralihan wali nasab kepada wali hakim di KUA Arosbaya adalah dengan cara setiap orang yang ingin mengajukan wali hakim maka langsung menghadap kepada kepala KUA saja kemudian Kepala KUA akan mencatatnya pada buku besar yang ada di KUA.
2. Penerapan PMA No. 30 tahun 2005 tentang Wali Hakim di KUA Arosbaya menurut penulis tidak terlaksana secara maksimal. Hal ini dikarenakan ada beberapa miss-konsepsi yang terjadi di berapa masyarakat Arosbaya. Pasal 3 PMA No.30/2005 menjelaskan bahwa hak dalam perwalian kepala KUA bukan untuk mewakili akan tetapi menggantikan wali yang berhalangan hadir, sementara masyarakat tidak memahami hal tersebut. Dan juga beberapa substansi yang terdapat pada PMA No. 30/2005 juga masih ada yang tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan.
B. Saran
Peneliti memberikan dua saran yang diharapkan diperhatikan untuk beberapa pihak yaitu sebagai berikut:
1. Untuk staf KUA Arosbaya hendaknya perlu meningkatkan ketelitian dan sikap hati-hati dalam melaksanakan tugas maupun wewenangnya.
Meskipun masyarakat kurang mengerti terkait peraturan yang berlaku
sudah sewajarnya pihak KUA lebih peduli dan tahu hal yang tidak dan boleh untuk dikerjakan.
2. Sebaiknya perlu dilakukan sosialisasi atau penyuluhan oleh pihak yang berwenang untuk memberikan pemahaman tentang wali hakim untuk masyarakat
67
DAFTAR PUSTAKA
Buku
@TweetNikah, Aku, Kau & KUA Edisi Revisi, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013.
Bachtiar, Metode Penelitian Hukum, Pamulung: UNPAM PRESS, 2019.
Departemen Agama RI, Alqur’an Terjemah, Jakarta: Kementrian Agama, 2005.
Departemen Agama, Modul Peningkatan Keterampilan Pegawai Pencatat Nikah Seri B: Fikih Munakahat, Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2002.
Djamal, M. Paradigma Penelitian Kualitatif , Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.
Emzir, Metedologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
Ishaq, Metode Penelitian Hukum Dan Penulisan Skripsi, Tesis, Serta Disertasi, Bandung: Alfabeta, 2017.
Jamaluddin dan Nanda Amalia, Buku Ajar: Hukum Perkawinan, Sulawesi:
Unimal Press, 2016.
Mamik, Metodologi Kualitatif, Sidoarjo: Zifatama, 2015.
Manshur, Ali, Hukum Dan Etika Pernikahan Dalam Islam, Malang: UB Press, 2017.
Mubarok, Jaih. Pembaharuan Hukum Perkawinan Di Indonesia, Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2015.
Mughniyah, Muhammad Jawad, Terjemahan Fiqih Lima Mazhab, Jakarta:
Penerbit Shaf, 2011.
Muhaimin, Metode Penelitian Hukum, Mataram: UNPRAM PRESS, 2020.
Mukhtar, Kamal Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang 1993.
Muslifah, Siti dan Busriyanti, “Ketahanan Keluarga Melalui Konseling Pra Nikah Di Kabupaten Jember (Analisis Pendekatan Maqasid al-Syari‟ah Jamal al-Din Atiyah)”, Laporan Hasil Penelitian : Institut Agama Islam Negeri Jember, 2019.
Muthiah, Aulia. Hukum Islam Dinamika Seputar Hukum Keluarga, Yogyakarta:
Pustaka baru press, 2017.
Muzammil, Iffah, Fiqh Munakahat: Hukum Pernikahan dalam Islam, Tangerang:
TSmart, 2019.
Nashr, Sutomo Abu, Serial Hadist Nikah 5 Wali Nikah, Jakarta: Lentera Islam, 2019.
Prodjohamidjojo, Martiman Hukum perkawinan Indonesia, Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2002.
Sabiq, Sayyid Terjemahan Fiqh Sunnah Jilid VII, Bandung: PT. al-Maarif, 1998.
Sudarto, Buku Fikih Munakahat, Yogyakarta: Deepublish, 2021.
Sungarso, Harjan Syuhada, Fiqih Madrasah Aliyah, Jakarta:Bumi Akasara, 2021.
Tim Redaksi Aulia, Kompilasi Hukum Islam, Bandung: Nuansa Aulia, 2017.
Thaib, Hasballah Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, Medan: Universitas Dharmawangsa, 1983.
Yunus, Muhammad Hukum Perkawinan Dalam Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1981.
Jurnal
Aspandi, “Pernikahan Berwalian Hakim Analisis Fiqih Munakahat dan Kompilasi Hukum Islam”, Jurnal Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, Volume 5, No 1 (July 2017).
Devy dan Mohammad Syakirin Bin Zahari, Soraya “Status Hukum Pernikahan Yang Dilaksanakan Oleh Wali Hakim Luar Negeri ( Studi Kasus di Mahkamah Syariah Negeri Kelantan”, Jurnal Media Syariah dan Hukum Uin Ar-Raniry, Vol.20, No. 1 (2018).
Munawar, Ahmad, “Sahnya Perkawinan Menurut Hukum Positif Yang Berlaku Di Indonesia”, Jurnal Hukum Al’Adl Volume VII No. 13 (2015), 87.
Rustam, “ANALISIS HUKUM KEDUDUKAN WALI HAKIM DALAM PELAKSANAAN PERKAWINAN”, Al ‘Adl Vol. 13, No. 1 (Januari 2020), 57.
Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 atas perubahan dari undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan
69
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim
Peraturan Menteri Agama nomor 2 tahun 1987 tentang Wali Hakim Skripsi
Denesa Anggita Putri. (2021). Alasan Penetapan Penghulu Memindahkan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Terhapat Status Anak Ibu (Studi Kasus Kantor Urusan Agama Kecamatan Kaligondang, Purbalingga Pada Tahun 2019-2020). Skripsi, Universitas Islam Negeri Prof. KH.
Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Elfa Erfiana (2020). Tinjauan Maslahat Al Mursalat Terhadap Penerapan Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim.
Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.
Faizatul Lailiyah. (2019). Analisis Yuridis Terhadap Akad Nikah Dengan Wali Hakim Tanpa Penetapan Wali Adol Oleh Pengadilan Agama Di KUA Ngasem Bojonegoro. Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
M. Abdul Ghofur. (2019). Studi Komparasi Perwakilan Perwalian Dalam Pandangan Imam Taqiyyudin Al Hishni Dan Syeikh Ibrahim Al-Bajuri.
Skripsi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Muhammad Alfin. (2019). Pelaksanaan Perahilan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Berdasarkan PMA nomor 30 Tahun 2005 Pasal 2 tentang wali Hakim: Studi Kasus di KUA Kecamatan Ujung Berung Bandung.
Skripsi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Muhammad Sulhi Mahbub. (2016). Upaya Pembatalan Pernikahan Atas Kesalahan Penetapan Wali Hakim Oleh Wali Nasab (Studi Kasus Pernikahan dengan Akta 04/04/I/2012 di KUA Kecamatan Pabelan).
skripsi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
Nur Imania. (2019). Perempuan Sebagai Wali Nikah Dalam Pandangan Madzhab Syafi‟I Dan Madhab Hanafi Serta Relevansinya Dengan Tuntutan Kesetaraan Gender Di Indonesia. Skripsi, IAIN Jember.
Rizka Verawati. (2020).Wali Nikah Dalam Perspektif Hadist.Skripsi, UIN Raden Intan Lampung. http://repository.radenintan.ac.id/13777/.
WEB
KBBI Daring, Diakses dan Dikutip dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/ pada tanggal 29 September 2021, Pukul 09.07 WIB.