• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data Dan Analisis

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 62-65)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data Dan Analisis

(1) satu orang kepala, (2) penghulu dan 4 pelaksana yang menjalankan tugas.

Jumlah minimal personalia di KUA sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan tupoksi KUA yang mencakup bukan hanya di bidang pelayanan dan pencatatan Nikah dan Rujuk, akan tetapi KUA juga berkewajiban dalam penyelengggaraan Dokumen dan Statistik, Pembinaan Kemasjidan, Zakat, Wakaf, Baitul Mal dan Ibadah Sosial serta pembinaan Keluarga Sakinah ( Keluarga Sejahtera ).

Adapun jumlah minimal pegawai di KUA memiliki keterkaitan yang erat dengan pelaksanaan tupoksi pada KUA dimana tidak hanya terpaku pada pelayanan dan pencatatan nikah serta rujuk tetapi juga melaksanakan penyelenggaraan dokumen pembinaan kemasjidan, baitul maal, wakaf, zakat, serta ibadah sosial maupun memberikan pembinaan keluarga sejahtera.

7. Susunan organisasi KUA

a. Mohammad Sus, SH (Kepala KUA Arosbaya) b. Mohammad Agus Salim (Petugas Tata Usaha) c. Slamet Adi Dya. P (Honorer)

d. Musarrofah R (Honorer)

51

tanggal, bulan) yang sama. Salah satu dari pasangan tersebut penulis teliti yakni pada pasangan Sudi dan Siti Ruqiyah yang pelaksanaan pernikahannya menggunakan wali hakim pada akhir tahun 2009. Hasil tersebut setelah penulis mendatangi rumahnya adalah bahwa benar pada saat pelaksanaan dalam perkawinannya menggunakan wali hakim dimana pada saat itu juga Kepala KUA berhalangan hadir sehingga akad tersebut dilakukan oleh Penghulu KUA Arosbaya sendiri. Penulis juga melakukan perbincagan dengan Siti Ruqiyah dimana penulis bertanya “mengapa dalam pernikahan tersebut menggunakan wali hakim?” beliau menjawab “polanah ketepaan jiyah tang bapak bedeh e Malaysia” (karna pada saat itu ayah saya berada di Malaysia) lalu penulis juga kembali menanggapi hal tersebut dengan bertanya “kemana saudara yang lain yang bisa menjadi wali selain bapak?” lalu menjawab “adek lok andik sekaleh mek kareh tang bapak tok gik ruah lok bisa mole derih Malaysia pas ngkok akabin”(tidak ada wali yang lain selain bapak saya karna pada saat itu bapak saya juga tidak bisa pulang). Kemudian penulis kembali bertanya “siapa wali hakim tersebut” dan dijawab yakni “H. Junaidi”. Hal tersebut juga sesuai dengan yang sudah penulis ketahui bahwa pada saat pelaksanaan pernikahan tersebut menggunakan wali hakim dimana wali tersebut bukan Kepala KUA, melainkan penghulu di KUA Arosbaya.

Menurut penjelasan Kepala KUA pada saat itu yakni bapak H. Nasrul Hakim, SH., MSi

“Dalam hal adanya perpindahan wali nasab kepada wali hakim dalam PMA No 30 Tahun 2005 sudah dijelaskan harus memenuhi syarat- syarat atau sebab tertentu yang sudah tertera dalam peraturan

tersebut”.56 Dalam hal itu juga dijelaskan oleh bapak Mohammad Agus Salim “Seperti yang sudah diketahui dalam pelaksanaan pernikahan sampai wali dalam pernikahan sudah diatur masing-masing sehingga dalam melakukannya terlebih tentang wali hakim harus benar-benar disebabkan oleh hal tertentu yang sudah tertera dalam PMA No 30 Tahun 2005 seperti walinya berhalangan, adhal, ataupun walinya tidak ada sehinnga dalam pernikahan tersebut menggunakan wali hakim”.57 Oleh sebab itu dapat disimpulkan dari paparan tersebut yakni apabila seseorang tersebut menikah menggunakan wali hakim berarti walinya tidak ada dan sebagainya. Wali nikah adalah seseorang yang masih dalam nasab dan tidak bisa berpindah kepada orang lain kecuali ada hal yang dapat dibenarkan.

“Dalam pernikahan menggunakan wali hakim itu tidak selalu dikarnakan anak diluar nikah akan tetapi bisa dikarnakan walinya adhal, adabul wali, walinya tidak memenuhi syarat, mafqud dan lain sebagainya, akan tetapi di daerah Arosbaya ini sebagian besar masyarakat Arosbaya yang menggunakan wali hakim dalam pernikahannya disebabkan oleh walinya berada di luar teritorial Indonesia untuk mencari nafkah. Orang Madura itu memang mencari nafkah atau bekerja itu diluar negeri jadi alasan adamul wali juga sedikit”.58

Dalam penjelasan mas Agus juga menekankan ada banyak calon yang pernikahanya menggunakan wali hakim di KUA Arosbaya mengenai wali hakim sendiri adalah kepala KUA Arosbaya sendiri sekaligus penghulu kecuali apabila kepala KUA tersebut menunjuk seseorang untuk menggantikannya hal ini juga sudah dijelaskan dan sesuai PERMA No 30 Tahun 2005.59

“Wali nasab itu walinya yakni berupa bapaknya, atau kakeknya keatas lalu kemudian saudaranya ke pamannya kemudian ke sepupu itu wali nasab dikarenakan pekerjaan sebagian besar masyarakat Arosbaya adalah berlayar maka dari itu perlu adanya wali hakim. Wali hakim disini kepala KUA atau penghulu dimana ditunjuk apabila satu - satunya kepala KUA itu berhalangan maka yang berhak menjadi

56 Nasrul Hakim, di wawancarai oleh penulis, Bangkalan 14 Mei 2022

57 Mohammad Agus Salim, diwawancaraai oleh penulis, Arosbaya 17 Mei 2022

58 Mohammad Sus, di wawancarai oleh penulis, Arosbaya 17 Mei 2022

59 Mohammad Agus Salim, Wawancara 17 Mei 2022

53

pengganti wli hakim yaitu kepala KUA jadi selain kepala KUA tidak berhak menjadi wali hakim kecuali ditunjuk oleh kepala KUA itu sendiri.”60

“Mengenai proses perpindahan wali nasab ke wali hakim itu otomatis kepala KUA itu merangkap menjadi wali hakim kecuali walinya adhol yakni walinya tidak mau untuk mengakadkan atau walinya mafkud jadi otomatis kepala KUA dapa menjadi wali pada pernikahan”.61

“Apabila walinya adhol maka harus ada penetapan dari pengadilan agama kalau walinya tidak ada. Contohnya juga seperti anaknya mau menikah sedangkan orang tuanya berada di Bawean dan menunggu untuk menyebrang itu lama akan tetapi wali tersebut sudah benar-benar rela dan juga ikhlas maka boleh menyerahkan kepada wali hakim namun pelu persyaratan adanya surat pernyataan dari desa jika benar bahwa wali tersebut memang ada halangan.”62

Kesimpulan dari wawancara tersebut yakni bahwa dalam hal peralihan wali dalam pernikahan di KUA Arosbaya secara otomatis Kepala KUA berperan sebagai wali hakim pada pernikahan yang akan berlangsung kecuali apabila walinya adhol maka perlu surat dari Pengadilan Agama.

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 62-65)

Dokumen terkait