• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan peraturan menteri agama (pma)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penerapan peraturan menteri agama (pma)"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PERATURAN MENTERI AGAMA (PMA) NOMOR 30 TAHUN 2005 TENTANG WALI HAKIM TERKAIT PERALIHAN WALI NASAB TERHADAP WALI

HAKIM DALAM PROSES PERNIKAHAN

(Studi Kasus KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura)

SKRIPSI

Haji Achmad Siddiq Jember

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) Fakultas Syariah

Program Studi Hukum keluarga h satu persyaratan

memperolehgelar Sarjana Hukum (S.H.) Fakultas Syariah

Program Studi Hukum Keluarga

Oleh:

Yeni Yenubah Nim: S20181048

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS SYARIAH

NOVEMBER 2022

(2)

ii

PENERAPAN PERATURAN MENTERI AGAMA (PMA) NOMOR 30 TAHUN 2005 TENTANG WALI HAKIM TERKAIT PERALIHAN WALI NASAB TERHADAP WALI

HAKIM DALAM PROSES PERNIKAHAN

(Studi Kasus KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) Fakultas Syariah

Program Studi Hukum keluarga

Oleh:

Yeni Yenubah Nim: S20181048

Disetujui Pembimbing

Fathor Rahman, S.H.I., M.Sy.

NIP. 19840605 201801 1 001

(3)

iii

PENERAPAN PERATURAN MENTERI AGAMA (PMA) NOMOR 30 TAHUN 2005 TENTANG WALI HAKIM TERKAIT PERALIHAN WALI NASAB TERHADAP WALI

HAKIM DALAM PROSES PERNIKAHAN

(Studi Kasus KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura)

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu Persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)

Fakultas Syari‟ah

Program Studi Hukum Keluarga Hari : Senin

Tanggal : 21 November 2022 Tim Penguji

Ketua Sekertaris

Inayatul Anisah. S.Ag, M.Hum. Rina Suryanti, S.H.I., M.Sy.

NIP. 197403291998032001 NIP. 198801112020122006 Anggota :

1. Dr. Busriyanti, M.Ag. ( )

2. Fathor Rahman, S.H.I., M.Sy. ( )

Menyetujui, Dekan Fakultas Syariah

Prof.Dr. Muhammad. Noor Harisuddin, M.Fil.I NIP. 197809252005011002

(4)

iv MOTTO





































































Artinya: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(5)

v

PERSEMBAHAN

Pertama puji syukur atas rahmad serta karunia yang telah Allah SWT karuniakan sehingga penulis memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas akhir secara maksimal. Karya say aini dipersembahkan kepada seluruh orang yang memiliki peranan penting dalam penulisan ini yakni:

1. Kedua orangtua, Mamak Subaidah dan Bapak Idris yang sangat berjasa selama hidup saya serta selalu memberikan dukungan juga doa serta motivasi dan membimbing hidup saya dengan sebaik baiknya juga kepada keluarga besar Bani Bura‟ie.

2. Staf KUA Arosbaya yang sudah memperlancar serta memberi dukungan serta mempermudah dalam proses penyelesaian skripsi.

3. Sinta Nuriyah selaku teman seperjuangan dan satu bimbingan yang telah melimpahkan seluruh upaya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada saya. Juga teman baik saya, Nabila, yang sudah mendukung memberikan motivasi kepada saya

4. Teman teman AS 2 angkatan 2018 UIN KHAS JEMBER yang tiada henti mendukung dan memotibasi saya agar skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

5. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in me, I wanna thank me for doing all ths hard work, I wanna thank me for having no days off, I wanna thank me for never quitting, for just being me at all times.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, rasa syukur yang teramat besar penulis panjatkan teruntuk Allah SWT atas segala rahmat, taufiq maupun karunianya sehingga dalam hal mengenai semua proses mulai awal sampai akhir ini dalam penyelesaian skripsi dengan judul “Penerapan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim Terkait Peralihan Wali Nasab Terhadap Wali Hakim Dalam Proses Pernikahan (Studi Kasus KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura)” sebagai satu satu dari sekian syarat untuk mendapatkan gelar sarjana mampu penulis selesaikan dengan baik. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita pada jalan yang penuh barokah ini.

Penyelesaian penulisan karya akhir ini tidak lepas dari berbagai dukungan para pihak. Maka dari itu penulis sangat bersyukur dan mengucapkan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada :

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M. Fil.I. selaku Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

3. Wakil Dekan I Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yakni Dr. Muhammad Faisol, S.S., M.Ag.

4. Wakil Dekan II Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yakni Dr. Sri Lumatus Sa‟adah, M.H.I.

(7)

vii

5. Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yakni Martoyo, S.H.I., M.H.

6. Ibu Inayatul Anisah, S.Ag., M.Hum selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

7. Bapak Fathor Rahman, S.H.I., M.Sy. selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang sudah sudi meluangkan waktu, tenaga, dan ketabahan dalam memberikan arahan kepada penulis.

8. Seluruh dosen serta staff akademik Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Jember, 16 September 2022 Penulis,

Yeni Yenubah NIM.S20181048

(8)

viii ABSTRAK

Yeni Yenubah, 2022: Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim Terkait Peralihan Wali Nasab Terhadap Wali Hakim Dalam

Proses Pernikahan (Studi Kasus KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura)

Kata Kunci: PMA Nomor 30 Tahun 2005, Peralihan Wali, Wali Nasab, Wali Hakim

Perwalian dalam pernikahan merupakan salah satu hal yang mendapat banyak sorotan dalam isu perkawinan di Indonesia, baik dari siapa wali nikah, bagaimana urutan wali, apa saja jenis wali, dan bagaimanakah peran wali dalam pelaksanaan pernikahan dan mewajibkan wali tersebut menjadi syarat pernikahan.

Di PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang perwalian menyebutkan bahwasanya calon mempelai perempuan dapat mengganti walinya atau walinya di wakilkan kepada hakim, dalam hal ini dapat disebut sebagai wali hakim. Calon mempelai perempuan tersebut diperbolehkan menggunakan wali hakim apabila syarat-syarat yang sudah di tetapkan telah terpenuhi sepenuhnya dalam peraturan yang ada.

Fokus Penelitian Diantaranya yaitu: 1) Bagaimana proses pelaksanaan peralihan wali nasab kepada wali hakim di KUA Arosbaya? 2) Bagaimana penerapan PMA Nomor 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya? Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum. Lokasi penelitian terletak di KUA Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura. Data primer dan sekunder penulis gunakan sebagai sumber penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan penulis ialah hasil wawancara, kemudian observasi dan dilanjutkan dengan kajian dokumen.

Penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut: 1) Proses pelaksanaan peralihan wali nasab kepada wali hakim di KUA Arosbaya adalah dengan cara setiap orang yang ingin mengajukan wali hakim maka langsung menghadap kepada kepala KUA saja kemudian Kepala KUA akan mencatatnya pada buku besar yang ada di KUA. 2) Penerapan PMA No. 30 tahun 2005 tentang Wali Hakim di KUA Arosbaya menurut penulis tidak terlaksana secara maksimal. Hal ini dikarenakan ada beberapa miss-konsepsi yang terjadi di berapa masyarakat Arosbaya. Pasal 3 PMA No.30/2005 menjelaskan bahwa hak dalam perwalian kepala KUA bukan untuk mewakili akan tetapi menggantikan wali yang berhalangan hadir, sementara masyarakat tidak memahami hal tersebut. Dan juga beberapa substansi yang terdapat pada PMA No. 30/2005 juga masih ada yang tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan.

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Definisi Istilah ... 11

F. Sistematika Pembahasan ... 13

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 15

A. Penelitian Terdahulu ... 15

B. Kajian Teori ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 40

(10)

x

B. Lokasi Penelitian ... 41

C. Subyek Penelitian ... 41

D. Teknik Pengumpulan Data ... 43

E. Teknik Analisa Data ... 44

F. Keabsahan Data ... 45

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 45

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 47

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 47

B. Penyajian Data Dan Analisis ... 50

C. Pembahasan Temuan ... 53

BAB V PENUTUP ... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(11)

xi

DAFTAR TABEL

N0. Uraian Hal 2.1 Kajian Tedahulu ... 22 2.2 Perbandingan PMA No 2 Tahun 1987 dan PMA No 30 Tahun 2005 39 2.3 PMA No 2 Tahun 1987 dan PMA No 30 Tahun ... 39 4.1 Jumlah Lembaga Pendidikan Formal Kecamatan Arosbaya ... 47 4.2 Keadaan Umum ... 49

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

N0. Uraian Hal 4.1 Foto KUA Arosbaya ... 49

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keberadaan manusia yang memiliki kodrat sebagai makhluk sosial tentu sudah sewajarnya melakukan interaksi timbal balik antar manusia dimana dalam hal ini juga manusia sebagai makhluk yang memiliki akal yang sempurna dalam berfikir tidak bisa menampik bahwa semua yang dilakukan oleh manusia pasti membutuhkan manusia yang lain. Maka dengan hal ini ia tidak dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya sendiri sehingga akan senantiasa bersama dan bergantung pada individu yang lain. Dalam hal tersebut sesuai dimana manusia sendiri adalah makhluk sosial sehingga hakikatnya manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berpasang pasangan, bukan hanya manusia saja melainkan segala makhluk hidup di ciptakan untuk berpasang pasangan.

Dalam Islam nikah adalah akad perkawinan sedangkan dalam Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2019 atas perubahan terhadap Undang-Undang No.

1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa perkawinan digambarkan sebagai sebuah hubungan dan keterikatan dalam bentuk lahir maupun batin dalam hal ini terjadi antara laki-laki dan perempuan didalam sebuah hubungan suami istri. Tujuannya agar membentuk keluarga yang bahagia dengan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.1 Dengan di perintahkan serta di anjurkannya pernikahan, pernikahan sendiri memiliki

1 Tim Redaksi Aulia, Kompilasi Hukum Islam, (Bandung: Nuansa Aulia, 2017), 73.

(14)

tujuan dan syarat-syarat sehingga di harapkan bagi pasangan suami istri dapat memenuhinya untuk mencapai keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Perwalian dalam pernikahan merupakan salah satu topik yang menjadi bahan perbincangan dalam isu perkawinan, mulai dari siapa wali nikah, bagaimana urutan wali, apa sajakah jenis wali, dan bagaimanakah peran wali ketika pernikahan dilaksanakan sampai apakah perempuan hadir sebagai wali nikah dan mewajibkan wali tersebut dijadikan sebagai tolak ukur syarat sah dalam suatu pernikahan. Dalam perkawinan menjadi mutlak hukumnya agar wali hadir dan ada sebab terjadinya akad nikah ialah karena adanya wali dan mempelai pria. Pria tersebut bukan pengantin wanita.2

Keberadaan wali nikah merupakan unsur penting dalam pelaksanaan pernikahan di dalam Islam. Wali nikah dapat diartikan dan dipahami sebagai orang yang memiliki hak untuk menikahkan seorang perempuan, atau merupakan seorang pengasuh pengantin wanita ketika menikah. Di sisi lain banyak dalil menjelaskan perempuan tidak diperbolehkan untuk melaksanakan akad buat dirinya sendiri juga orang lain, namun wajib baginya agar dinikahkan oleh orang yang menjadi walinya atau menggunakan seseorang wali yang mampu mewakili dirinya. Hak perwalian yang terjadi sebab suatu hal bisa dipindah tangankan pada wali yang lain entah berasal nasab dipindahkan kepada nasab, juga berasal nasab ke hakim. Suatu pernikahan yang diadakan tanpa kehadiran wali nasab bagi perempuan yang memiliki perselisihan dengan seseorang yang menjadi walinya sebab alasan tertentu

2 Ahmad Munawar, “Sahnya Perkawinan Menurut Hukum Positif Yang Berlaku Di Indonesia”, Jurnal Hukum Al’Adl Volume VII No. 13 (2015), 87.

(15)

3

maupun dikarenakan seseorang yang menjadi walinya berhalangan tidak bisa hadir, atau karena seseorang yang menjadi walinya masih belum memenuhi syarat yang telah ditetapkan maka pernikahannya dapat dilangsungkan oleh seorang wali hakim.

Para ulama menyatakan pendapat bahwa tidak diperbolehkan apabila seorang wali memiliki keinginan untuk enggan dan tidak sudi menikahkan seorang perempuan yang telah berada di dalam perwaliannya juga dilarang baginya untuk menyakiti maupun memberikan larangan bagi perempuan itu untuk kawin. Jikalau seorang wali tidak mau menjalankan kewajibannya untuk menikahkan perempuan yang berada dalam perwaliannya maka perempuan tersebut memiliki hak untuk mengadu kepada hakim agar dinikahkan oleh hakim tersebut. Akan tetapi jika wali hakim tidak ada karena sulit dijangkau oleh pemerintah maka wajib hukumnya agar wali nikah tetap ada. Oleh karena itu mau tidak mau kedua mempelai harus menunjuk seseorang agar dijadikan sebagai wali. Seseorang yang dijadikan wali layaknya tokoh agama maupun seseorang yang memiliki pengetahuan dan memahami terkait hukum perkawinan dalam agama Islam atau biasa disebut sebagai wali muhakkam.

Di jelaskan juga apabila wali nasab tidak ada maka perwalian tersebut jatuh dan diberikan kepada seorang wali hakim kemudian jika wali hakim yang berada di wilayah tersebut berhalangan hadir maka perwalian tersebut dipindah tangankan ke wali hakim lainnya. Dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 dijabarkan bahwa yang dimaksud dengan wali hakim ialah seorang Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan yang

(16)

telah ditunjuk dan diamanatkan oleh Menteri Agama agar berperan menjadi seorang wali nikah untuk calon pengantin perempuan yang tidak memiliki seorang wali. Selanjutnya pada Pasal 3 telah disebutkan jikalau Kepala KUA kecamatan tidak dapat hadir dalam suatu pernikahan sebagai wali hakim maka kepala bidang Urusan Agama Islam pada KUA tersebut dimana ditugaskan atas amanat Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota agar menunjuk dan memerintahkan satu penghulu yang berada dalam kecamatan tersebut atau wilayah terdekat supaya menjadi wali hakim dalam kurun waktu sementara.3

Dalam Pasal 23 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan juga: ayat (1) wali hakim mampu berperan sebagai seorang wali dalam pernikahan jikalau wali nasab telah dinyatakan tidak ada ataupun telah dikonfirmasi tidak memungkinkan menghadirinya ataupun tidak ada yang mengetahui dimana tempat tinggalnya ataupun ghaib atau adhal ataupun enggan, sedangkan pada ayat (2) wali adhol atau berarti enggan sehingga wali hakim bisa bertindak apabila sudah mendapatkan putusan terkait wali tersebut.4

Di Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang Perwalian menyebutkan bahwasanya calon mempelai perempuan diperbolehkan mengganti walinya atau walinya di wakilkan pada hakim, dalam hal ini disebut juga wali hakim.5 Calon mempelai perempuan tersebut dapat menggunakan wali hakim apabila syarat-syarat yang telah di tetapkan telah

3 Sekretariat Negara Republik Indonesia, Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim, Pasal 3.

4 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, 8

5 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005.

(17)

5

terpenuhi sepenuhnya dalam peraturan perundang-undangan yang telah terbentuk. Pada Peraturan Menteri Agama di jelaskan bahwa wali hakim adalah kepala KUA yang sudah ditunjuk serta dilimpahi wewenang oleh Kementerian Agama supaya mengemban tugas menjadi seorang wali hakim dalam pernikahan, bukan sebagai wali nasab atau wali adhol dengan kewenangan agar menikahkan calon mempelai tersebut.

Namun penulis telah menemukan suatu jawaban dari kejanggalan yang masih belum diketahui yakni ketika akad dalam pernikahan terdapat sesuatu yang berbeda, seperti yang sudah dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (2) telah disebutkan bahwa:

(2) “Wali Hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali”.

Dari ayat di atas nampak jelas bahwasanya suatu pernikahan bagi calon mempelai perempuan yang mengunakan wali hakim yakni Kepala KUA kecamatan daerah tempat tinggalnya, bukan seorang penghulu yang mempunyai wewenang untuk bertindak sebagai seorang penghulu saja.

Layaknya yang diucapkan oleh informan peneliti yakni bapak Nasrul Hakim dalam agenda wawancara yang telah peneliti lakukan tentang pelaksanaan kehadiran wali hakim yang berada di KUA yakni:

“wali nasab itu walinya adalah bapaknya, atau kakeknya keatas lalu setelahnya saudaranya ke pamannya kemudian ke sepupu, dikarnakan sebagian besar pekerjaan masyarakat Arosbaya adalah berlayar atau ke luar negeri maka menggunakan wali hakim. Dapat diartikan bahwa wali hakim adalah kepala KUA atau penghulu yang ditunjuk dan diamanahi apabila satu-satunya kepala KUA itu berhalangan maka bisa menunjuk penghulu, akan tetapi yang paling berhak tetap Kepala

(18)

KUA sebagai wali hakim sehingga selain kepala KUA tidak ada yang berhak kecuali ditunjuk oleh kepala KUA itu sendiri”.6

Dari penjelasan informan tersebut, penghulu mempunyai tugas sebagai pengawasan dalam nikah maupun rujuk berdasarkan agama Islam serta kegiatan kepenghuluan. Hal ini berarti bukan wali hakim yang hadir dalam akad untuk menikahkan calon mempelai, namun tugas penghulu yang dilimpahkan wewenang agar menjadi wali hakim yakni petugas yang sudah diberikan kewenangan oleh Kementerian Agama sebagai pengganti kepala KUA apabila tidak mampu hadir dalam sebuah akad nikah. Sudah disebutkan dan dijabarkan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 di Pasal 3 ayat (2):

(2) “Apabila Kepala KUA kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhalangan atau tidak ada, maka Kepala Seksi yang membidangi tugas Urusan Agama Islam atas nama Kepala Kantor Departemen Agama kabupaten/kota diberi kuasa untuk atas nama Menteri Agama menunjuk salah satu penghulu pada kecamatan tersebut atau terdekat untuk sementara menjadi wali hakim dalam wilayahnya”

Oleh sebab itu peneliti telah menemukan bahwasanya pengimplementasian dari Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim di KUA Kecamatan Arosbaya, nampaknya masih jauh dari kata efektif ketika melaksanakan berbagai tugasnya sebab tidak dilaksanakannya bentuk peraturan yang ada dengan baik.

Konsekuensi dari penyalahgunaan atas unsur yang dijelaskan dalam pasal 1 ayat (2) Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan yang telah ditunjuk dan diamanahi oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali hakim

6 Nasrul Hakim, diwawancara oleh peneliti, 14 Mei 2022.

(19)

7

dalam pernikahan bagi calon mempelai yang dinyatakan tidak mempunyai wali sedangkan di KUA yang diteliti oleh penulis menunjuk begitu saja tanpa diberi kuasa untuk menggantikan keberadaan kepala KUA yang tidak bisa hadir menjadi seorang wali hakim mempelai wanita.

Seperti yang terjadi di Desa Glaga Kecamatan Arosbaya, Bangkalan yang awalnya mendaftarkan diri untuk melakukan nikah dengan memenuhi persyaratan untuk menjadi wali nasab dan disertai juga dengan meminta untuk menjadi wali hakim dari pihak KUA jika wali nasab tersebut berhalangan hadir karena berada jauh diluar negeri. Tetapi ketika didalam persyaratan pihak KUA memberikan tanggung jawab sebagai wali hakim kepada Kepala KUA dan waktu tanggal pelaksanaan pernikahan yang datang untuk mengawinkan bukan kepala KUA yang telah ditunjuk dan diamanahi oleh Kementerian Agama. Kepala KUA yang berhalangan hadir sedangkan wali nasab si mempelai Wanita ini berhalangan hadir padahal si mempelai wanita ini sudah meminta kerabat dekatnya untuk menjadi wali nasab tetapi semuanya sedang berhalangan hadir sehingga digantikan dengan wali hakim dan jika wali nasab tidak bisa hadir maka disinilah wali hakim baru mampu bertindak jikalau terdapat putusan yang berasal dari Kementerian Agama.

Namun demikian jika kedua mempelai ini beragama Islam ketika sudah mantap untuk menikah maka tetap dibutuhkan kehadiran wali. Dan hukum nikah dari sebuah pernikahan tanpa dihadiri wali dari pihak calon pengantin perempuan pada dasarnya pernikahan itu dinyatakan tidak sah. Apabila seluruh wali nasab tidak ada ataupun tidak mau (enggan) maka mempelai

(20)

wanita diperbolehkan mengajukan untuk menggunakan wali hakim di Pengadilan Agama.

Berdasarkan isi Pasal 23 ayat (1) dan (2) dalam KHI jo PMA Nomor 2 Tahun 1987 disebutkan untuk menentukan wali yang adhal atau disebut juga wali hakim yang bertugas untuk bertindak sebagai seorang wali nikah setelah adanya putusan Pengadilan Agama yang bertengangan dengan wali tersebut.

Selanjutnya teruntuk mereka yang berstatus sebagai seorang muslim atau beragama Islam atas izin dari orang tua nikahnya yang enggan menolak dengan mengajukan permohonan agar wali hakim yang diamanahi sebagai pengganti dari wali nasabnya yang adhal dalam pelaksaanaan akad nikah maka hal tersebut jika tidak dilakukannya adanya surat dari putusan pengadilan agama maka status pernikahan tersebut telah dinyatakan batal demi hukum atau dinyatakan tidak sah dalam perkawinannya.

Dalam hal tersebut maka kedudukan wali hakim dalam pernikahan yakni sebagai seseorang yang melaksanakan ijab pada saat akad nikah yang berkedudukan sebagai seorang pengganti dari wali nasab, sehingga keberadaan wali dalam suatu pernikahan sangat penting yang dimana diketahui bahwasanya seorang yang sudah menjadi wali dalam pernikahan ialah wali nasab sehingga apabila wali tersebut tidak hadir sebab halangan tertentu atau enggan seperti yang sudah tertera pada KHI Pasal 23 maka seorang wali hakimlah yang memiliki hak untuk menikahkannya, pernikahan menggunakan wali hakim dalam pernikahan dianggap sah apabila perpindahan

(21)

9

dalam perwalian tersebut sudah sesuai dengan hukum yang berlaku terkait wali hakim.

Seperti hadist Rasullah bersabda:

ةأرما اميا :مّلسو هيلع هَّللا ىّلص هَّللا لوسر لاق :تلاق اهنع هَّللا يضر ةشئاع نع ،اهجرف نم لختسا امب رهملا اهلف اهب لخد نإف ،لطاب اهحاكنف اهيلو نذإ ريغب تحكن اسنلالاا هبرخا( هل يلو لا نم يلو ناطلسلافا ورجتشا نإف نابح نباو وبا هححصو ىء

)مكاحلاو

Artinya: Dari “Aisyah R.A ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda siapapun perempuan yang menikah dengan tidak seijin walinya, maka batallah pernikahannya., dan jika ia telah disetubuhi, maka bagi perempuan itu berhak menerima mas kawin lantaran ia telah menghalalkan kemaluannya, dan jika terdapat pertengkaran antara wali-wali, maka sultanlah yang menjadi wali bagi orang yang tidak mempunyai wali”.

Penulis memilih meneliti di KUA Arosbaya karena KUA Arosbaya memiliki tingkat penggunaan wali hakim yang cukup banyak, dalam rentang waktu tahun 2005-2020 tercatat ada 265 pengantin yang telah menggunakan wali hakim. Hal yang mendasari penggunaan wali hakim di daerah Arosbaya adalah karena banyak yang bekerja sebagai TKI di luar negeri. Karena banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai TKI hal ini menjadikan satu problem tersendiri ketika seorang wali nasab memiliki tanggungan untuk menikahkan anaknya yaitu jauhnya jaraknya wali tentu akan menjadi penghalang wali nasab pada saat ingin menikahkan anaknya, sehingga sulit untuk menghadirkan wali nasab. Peralihan wali nasab kepada wali hakim tentu memiliki ketentuan yang sudah diatur dalam hukum islam, serta peralihan ini juga telah dibuat satu norma untuk diperhatikan oleh setiap orang yang ingin

(22)

melakukan peralihan kepada wali hakim yang diatur dalam Peraturan Menteri Agama No. 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim. Karena pentingnya memahami akan ketentuan terkait peralihan wali hakim, hal ini menjadi membuat peneliti tertarik untuk mengangkat problematika ini menjadi sebuah penelitian, mengingat banyaknya kasus peralihan wali hakim yang terjadi di Arosbaya.

Penjelasan diatas, memberikan peneliti gambaran terkait problematika peralihan wali hakim yang terjadi di Arosbaya, sehingga peneliti tertarik untuk menjadikannya sebuah penelitian yang berjudul “Bagaimana Penerapan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim Terkait Peralihan Wali Nasab Terhadap Wali Hakim Dalam Proses Pernikahan Di KUA Kecamatan Arosbaya”.

B. Fokus Penelitian

Seperti apa yang telah dijabarkan pada latar belakang di atas muncullah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pelaksanaan peralihan wali nasab kepada wali hakim di KUA Arosbaya ?

2. Bagaimana penerapan PMA Nomor 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya ? C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin peneliti wujudkan dari penelitian ini yakni:

1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan peralihan wali nasab kepada wali hakim di KUA Arosbaya

(23)

11

2. Untuk mengetahui penerapan PMA Nomor 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat yang dibagikan menjadi 2 (dua) yakni, ditinjau dari segi teoritis dan segi praktis,

1. Segi Teoritis

Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan ini diharapkan digunakan sebagai penambah wawasan untuk pengembangan ilmu mengenai konsep peralihan wali nasab, serta dapat menjadi acuan referensi bagi penelitian selanjutnya.

2. Segi Praktis

a. Hasil yang sudah didapatkan dari penelitian ini mampu digunakan bagi kepentingan masyarakat umum untuk mengetahui lebih detail tentang peralihan wali nasab.

b. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan penambah ilmu serta wawasan bagi penulis dan juga pembaca tentang konsep peralihan wali nasab.

E. Definisi Istilah 1. Pernikahan

Dalam KBBI pernikahan berasal dari kata “nikah” yang berarti suatu akad atau ikatan yang dilaksanakan berlandaskan ketentuan hukum

(24)

serta agama.7 Pengertian pernikahan juga diatur dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 atas perubahan dari Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, di mana pada Pasal 1 dijelaskan “Perkawinan ialah sebuah hubungan dan keterikatan dalam bentuk lahir maupun batin dalam hal ini terjadi antara laki-laki dan perempuan didalam sebuah hubungan suami istri. Tujuannya agar membentuk keluarga yang bahagia dengan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.”8

Menurut salah satu ulama fiqih Sulaiman Rasjid pengertian pernikahan ialah akad yang dibolehkannya melakukan pergaulan atau hubungan suami istri dan memberikan batasan pada hak serta kewajiban juga tolong menolong yang terjadi antara laki-laki dan juga perempuan yang bukan mahram.9

Pernikahan adalah suatu kebutuhan hidup yang dibutuhkan manusia mulai zaman dahulu kala, hari ini serta masa yang akan datang.

Ikatan pernikahan dalam agama Islam dipandang sebagai ikatan suci juga dianggap sebagai perjanjian yang berisi suatu magis. Oleh karena itu pernikahan merupakan suatu ibadah dalam agama Islam.10

2 . Wali

7 “Pernikahan”, KBBI Daring, diakses pada tanggal 29 September 2021, https://kbbi.kemdikbud.go.id/

8 Setneg RI, Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2019 tentang perubahan dari undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan.

9 Ali Manshur, Hukum Dan Etika Pernikahan Dalam Islam, (Malang: UB Press, 2017), 41.

10 Busriyanti dan Siti Muslifah, “Ketahanan Keluarga Melalui Konseling Pra Nikah Di Kabupaten Jember (Analisis Pendekatan Maqasid al-Syari‟ah Jamal al-Din Atiyah)”, (Laporan Hasil Penelitian : Institut Agama Islam Negeri Jember, 2019), 1.

(25)

13

Secara terminologi pengertian wali menurut para fuqaha yang diformulasikan oleh Abdurrahman al-Jaziri ialah seseorang yang mengakadkan suatu pernikahan sehingga akad tersebut sah, sedangkan nikah yang dilangsungkan tanpa adanya wali hukumnya tidak sah.

Pengertian dari wali yakni dari ayah dan seterusnya, menurut Amir Syarifuddin, wali adalah seseorang yang mempunyai kuasa serta kedudukan tersebut mempunyai wewenang untuk bertindak atas nama orang lain.11

3. Wali Hakim

Wali hakim ialah orang yang ditunjuk oleh pemerintah ataupun lembaga masyarakat supaya menjadi Qadi serta dilimpahkan wewenang agar menjadi wali pada suatu pernikahan.12

4. Wali Nasab

Wali nasab yakni seorang anggota lelaki yang masih memiliki pertalian keluarga dan masih mempunyai ikatan darah dengan calon mempelai perempuan.13

F. Sistematika Pembahasan

Dalam sistematika bahasan ini di kumpulkan dalam lima bab, dengan bahasan yang utuh sehingga saling berkesinambungan antara bab yang satu dengan bab lainnya sehingga dapat mempermudah dalam penulisan,

11 Rizka Verawati, “Wali Nikah Dalam Perspektif Hadist” (Skripsi: UIN Raden Intan Lampung, 2020), 20.

12 Aspandi, “Pernikahan Berwalian Hakim Analisis Fiqih Munakahat dan Kompilasi Hukum Islam”, Jurnal Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, Volume 5, No 1 (July 2017), 92.

13 Harjan Syuhada Sungarso, Fiqih Madrasah Aliyah, (Jakarta:Bumi Akasara, 2021), 131.

(26)

pembahasan serta pemahaman dalam penelitian ini. Dengan uraian sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan. Dalam bab ini berisikan mengenai konteks pelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian yang ingin dicapai, manfaat adanya penelitian, kemudian definisi istilah serta sistematika pembahasan. Dalam bab ini peneliti menjelaskan secara global serta dasar dari isi dalam penelitian ini.

Bab II : Kajian Pustaka. Pada bab ini berisikan mengenai penelitian terdahulu dan kajian teori yang mempunyai hubungan yang erat terkait permasalahan yang akan peneliti teliti, juga dengan adanya penelitian terdahulu ini peneliti berharap sebagai penguat dalam penelitian yang akan peneliti lakukan.

Bab III : Metode penelitian. Dalam bab ini berisikan tentang metode- metode yang digunakan oleh peneliti untuk menjawab setiap masalah yang akan peneliti teliti.

Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan. Pada bagian bab ini berisi tentang hasil yang sudah peneliti peroleh dari hasil pengumpulan data sehingga membahas sampai tuntas tentang permasalahan di peneltian ini, sehingga dalam bab ini hasil yang diperoleh peneliti dijabarkan secara detail terkait permasalahan tersebut.

Bab V : Penutup. Bagian ini berisikan terkait kesimpulan atas jawaban dari permasalahan yang sudah dipaparkan dalam penelitian ini beserta penutup dengan saran-saran.

(27)

15 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini, penulis gunakan untuk mempermudah dalam penyusunan penelitian, juga bisa menjadi sebuah tolak ukur yang bertujuan supaya terhindar dari duplikasi atau pengulangan penelitian yang sama dari peneliti sebelumnya.

1. Denesa Anggita Putri, Alasan Penetapan Penghulu Memindahkan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Terhapat Status Anak Ibu (Studi Kasus Kantor Urusan Agama Kecamatan Kaligondang, Purbalingga Pada Tahun 2019- 2020).14

Dalam penelitian tersebut beberapa wali calon mempelai wanita keberatan dikarenakan tidak dapat menikahi putri mereka salah satunya adalah pak Sudirno, wali mempelai wanita yang bernama Febi Tiurmayanti, menentang putrinya ketika berkeinginan untuk menggunakan wali hakim. Keterpaksaan tersebut dikarenakan harus mengikuti nasehat dari qayim. Penulis menggunakan penelitian yuridis empiris dengan penggunaan metode pendekatan sosiologi, di mana pendekatan penelitian tersebut menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat secara terperinci dan fenomena yang terjadi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan seorang penghulu dan hak milik wali sebagai ayah yang

14 Denesa Anggita Putri, “Alasan Penetapan Penghulu Memindahkan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Terhapat Status Anak Ibu (Studi Kasus Kantor Urusan Agama Kecamatan Kaligondang, Purbalingga Pada Tahun 2019-2020)”. (Skripsi: Universitas Islam Negeri Prof. KH.

Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2021)

(28)

berkeinginan untuk mengawinkan anaknya, secara khusus menyelenggarakan praktek perkawinan dengan menggunakan hakim perwalian di Kantor Urusan Agama Kec. Kaligondang bertentangan dengan aturan hukum yang sudah ada. Upaya yang digunakan agar memperoleh sumber data primer, maka penulis melaksanakan wawancara tatap muka dengan Kepala KUA dan juga para pelaku perkawinan yang menggunakan hakim perwalian. Pada sumber data sekunder diambilkan dari catatan surat permohonan dari hakim wali KUA Kecamatan Kaligondang. Kemudian penggunaan metode penelitian adalah deskriptif analisis yang dilaksanakan dengan dikumpulkannya data maupun wawancara kemudian penulis melaksanakan analisa hasil wawancara dan data yang diperoleh.

2. Faizatul Lailiyah, Analisis Yuridis Terhadap Akad Nikah Dengan Wali Hakim Tanpa Penetapan Wali Adol Oleh Pengadilan Agama Di KUA Ngasem Bojonegoro.15

Dalam penelitian tersebut menggunakan Hasil dari penelitian lapangan tersebut menjawab pertanyaan tentang cara melangsungkan akad nikah dengan wali hakim tanpa ketentuan Wali yang sah oleh pengadilan agama KUA Ngasem kabupaten Bojonegoro dan analisis hukum pelaksanaan akad nikah dengan wali hakim Wali tanpa identifikasi Wali adhol oleh pengadilan agama Di KUA kabupaten Ngasem Bojonegoro.

Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara kemudian data yang

15 Faizatul Lailiyah, “Analisis Yuridis Terhadap Akad Nikah Dengan Wali Hakim Tanpa Penetapan Wali Adol Oleh Pengadilan Agama Di KUA Ngasem Bojonegoro”. (Skripsi:

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2019).

(29)

17

terkumpul diolah dan dianalisis dengan metode analisis deskriptif dengan pola pikir deduktif kemudian data dianalisis secara hukum dengan undang- undang yang ada terkait perkawinan disimbolkan dengan wali hakim hasil penelitian menunjukkan bahwa yang pertama akad nikah yang di tandatangani oleh pihak calon mempelai perempuan memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan yakni Wali nasab tidak diketahui keberadaannya atau gaib hal ini dilakukan oleh calon mempelai perempuan supaya perkawinan cepat dilaksanakan dan tanpa pengajuan permohonan perkara Wali adhol ke pengadilan agama ketentuan di sini calon pengantin memberikan pernyataan bahwa wali nikah tidak diketahui lurah atau kepala desa setempat sebaiknya akad nikah yang berakhir dengan wali hakim tanpa menyebutkan identitas Wali di KUA kabupaten Ngasem bertentangan dengan pasal 23 ayat 1 yang menyatakan bahwa:

Hakim baru bertindak sebagai wali nikah apabila Wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adol atau enggan dan ayat 2 dalam hal wali adhol atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah setelah adanya putusan pengadilan agama peraturan ini sesuai dengan pasal 2 PMK nomor 30 tahun 2005 tentang wali hakim dan pasal 12 PM nomor 19 tahun 2018 tentang pencatatan perkawinan.

(30)

3. Elfa Erfiana, Tinjauan Maslahat Al Mursalat Terhadap Penerapan Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali.16

Dalam penelitian ini dilatar belakangi oleh Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim dalam Pasal 2 Ayat (1) Mempelai wanita yang berada di luar negeri dan Pasal 3 Ayat (3) tentang calon mempelai wanita yang berada di daerah terpencil yang menggunakan wali hakim. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kemaslahatan yang ditimbulkan dari peraturan tersebut terhadap pihak mempelai terutama bagi calon mempelai wanita. Metode penelitian yang digunakan penulis merupakan penelitian pustaka menggunakan metode kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data adalah dokumentasi atau pengumpulan data penelitian yang menggunakan buku-buku sebagai sumber datanya yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini juga menggunakan sumber-sumber ilmiah lainnya yang relevan dengan pembahasan dalam penelitian ini, seperti skripsi,tesis, jurnal dan lain sebagainya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terkait penunjukan Wali Hakim terhadap calon mempelai wanita yang berada di luar negeri telah memberikan kemaslahatan yang bersifat hajiyat. Sebab persoalan-persoalan yang dibutuhkan manusia untuk menghilangkan kesulitan dan kesusahan hidup. Terkait untuk calon mempelai wanita yang berada di wilayah terpencil juga bersifat hajiyat yang berarti ketentuan

16 Elfa Erfiana, Tinjauan Maslahat Al Mursalat Terhadap Penerapan Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2021).

(31)

19

hukum yang disyaratkan untuk meringankan dan memudahkan kepentingan-kepentingan manusia ialah semua keringanan yang dibawa oleh ajaran Islam.

4. Muhammad Sulhi Mahbub, Upaya Pembatalan Pernikahan Atas Kesalahan Penetapan Wali Hakim Oleh Wali Nasab (Studi Kasus Pernikahan dengan Akta 04/04/I/2012 di KUA Kecamatan Pabelan. 17

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif sosiologis. dengan melakukan penelitian di KUA kabupaten Pabelan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumen. Data yang diperoleh telah diperiksa keabsahannya. Selama pengumpulan data, data dianalisis. Data yang terkumpul, disajikan berdasarkan klasifikasi sehingga pola atau struktur tujuan studi dijelaskan dan kemudian di interpretasikan untuk memperoleh tanggapan dari tujuan studi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat kesimpulan bahwa praktik perkawinan di KUA Kabupaten Pabelan mengikuti prosedur yang tercantum dalam Buku Pegangan Pegawai Negeri Sipil Departemen Agama. Telah terjadi ketidakakuratan data wali nikah karena kurangnya due diligence, faktor kesengajaan dan ketidaktahuan publik.

Upaya yang dilakukan oleh wali nasab melibatkan kesalahan dalam penetapan perwalian oleh hakim, khususnya yang mengharuskan wali untuk membatalkan perkawinan. sedangkan peran KUA adalah memanggil

17 Muhammad Sulhi Mahbub, “Upaya Pembatalan Pernikahan Atas Kesalahan Penetapan Wali Hakim Oleh Wali Nasab (Studi Kasus Pernikahan dengan Akta 04/04/I/2012 di KUA Kecamatan Pabelan)”, (Skripsi: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, 2016).

(32)

penipu, meninjau tuntutan administratif para penipu, mengajukan permohonan pembatalan dan pembaruan akad nikah.

5. M. Abdul Ghofur, Studi Komparasi Perwakilan Perwalian Dalam Pandangan Imam Taqiyyudin Al Hishni Dan Syeikh Ibrahim Al-Bajuri.18

Dalam penelitian ini digunakan penelitian pustaka atau biasa disebut dengan Library Research dimana juga mengggunakan KHI, Buku Imam Taqiyyudin yaitu Kifayatul akhyar dan kitab kitab Hasyiyah al

„alamah Syaikh Ibrahim al-Bajuri terkait kosep wali nikah salinan sebagai data primer, sedangkan metode penelitian pada skripsi ini adalah dengan teknik dokumentasi dan analisis data yang dimulai dengan melaksanakan tahap reduksi data, kemudian dilanjut pada tahap display data dan kesimpulan serta verifikasi.

Hasil dari penelitian ini adalah 1) imam Taqiyyudin menjelaskan ketika seorang wali sudah mewakilkan atau menyerahkan perannya pada orang lain supaya melaksanakan akad nikah dan wali juga menghadiri majlis maka pernikahan tersebut tidak sah. 2) Syeikh Ibrahim al-Bajuri ala Syarhi al „Alamah ibn Qsim yakni tidak sah kehadiran wali yang telah mewakilkan itu apabila dia sebagai saksi. 3) perbedaan pendapat dari keduanya pada saat kehadiran muwakkil dan muwakkil saat akad berlangsung, dalam pandangan imam Taqiyyudin dan Syeikh Ibrahim al- Bajuri tentang perwakilan perwalian tidak dibahas dalam hukum positif.

Sehingga tidak di pertentangkan bahkan keduanya bisa diakomodir.

18 M. Abdul Ghofur, “Studi Komparasi Perwakilan Perwalian Dalam Pandangan Imam Taqiyyudin Al Hishni Dan Syeikh Ibrahim Al-Bajuri”, (Skripsi: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, 2019).

(33)

21

6. Muhammad Alfin, Pelaksanaan Perahilan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Berdasarkan PMA nomor 30 Tahun 2005 Pasal 2 tentang wali Hakim:

Studi Kasus di KUA Kecamatan Ujung Berung Bandung. Dalam penelitian ini di latar belakangi oleh pasangan pengantin di KUA Kecamatan Ujung Berung Bandung sebanyak 19 pasangan pada tahun 2017 dimana peralihan wali nasabnya pada wali hakim tidak sesuai dengan peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 pasal 2 dimana pada masing masing pasangan tersebut mempunyai alasan masing-masing terkait peralihan wali tersebut. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami terkait peralihan wali nasab terhadap wali hakim, proses peralihan wali nasab pada wali hakim serta peralihan wali nasab pada wali hakim di PMA Nomor 30 Tahun 2005 pasal 2 di KUA Kecamatan Ujung Berung Bandung.19

7. Nur Imania, Perempuan Sebagai Wali Nikah Dalam Pandangan Madzhab Syafi‟I Dan Madzhab Hanafi Serta Relevansinya Dengan Tuntutan Kesetaraan Gender Di Indonesia. 20

Pada skripsi terdahulu ini berlatar belakang tentang konsep wali dalam hukum islam yang masih menggunakan patriakhi hal tersebut menjadi pertanyaan bagi muslim wanita, mengapa wanita tidak di beri hak tentang kewalian, hingga pada saat ini banyak sekali tuntutan kesetaraan

19 Muhammad Alfin, “Pelaksanaan Perahilan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Berdasarkan PMA nomor 30 Tahun 2005 Pasal 2 tentang wali Hakim: Studi Kasus di KUA Kecamatan Ujung Berung Bandung”, (Skripsi: UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2019).

20Nur Imania, “Perempuan Sebagai Wali Nikah Dalam Pandangan Madzhab Syafi‟I Dan Madhab Hanafi Serta Relevansinya Dengan Tuntutan Kesetaraan Gender Di Indonesia”, (Skripsi:

IAIN Jember, 2019).

(34)

gender di Indonesia sedang ramai di perbincangkan antara laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian terdahulu bertujuan untuk mengetahui konsep wali nikah menurut Imam Syafi‟I dan Imam Abu Hanifah bagi perempuan serta kesetaraan gender di Indonesia.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Judul Perbedaan Persamaan

1. Denesa Anggita Putri

Alasan Penetapan Penghulu Memindahkan Wali Nasab Kepada Wali HakimTerhapat Status Anak Ibu (Studi Kasus Kantor Urusan Agama Kecamatan Kaligondang, Purbalingga Pada Tahun 2019-2020)

pada kajian terdahulu meneliti penetapan

penghulu dan

perpindahan wali nasab pada walihakim pada status anak ibu sedangkan, yang akan penulis teliti yakni peralihan wali nasab pada PMA No 30 Tahun 2005

Sama-sama meneliti mengenai

perpindahan wali nasab dan wali hakim

2. Faizatul Lailiyah

Analisis Yuridis

Terhadap Akad Nikah Dengan Wali Hakim Tanpa

Penetapan Wali Adol Oleh

Pengadilan Agama Di KUA Ngasem Bojonegoro

pada penelitian terdahulu mengenai analisis yuridis pada akad nikah wali yang adhol tanpa penetapan dari Pengadilan Agama sedangkan pada penelitian ini adalah penerapan terkait peralihan wali nasab pada wali hakim dan terletak pada lokasi penelitiannya dimana pada penelitian terdahulu di KUA Ngasem Bojonegoro sedangkan yang akan

sama-sama meneliti tentang akad nikah dengan wali hakim

(35)

23

peneliti teliti di KUA Arosbaya

3. Elfa Erfiana Tinjauan Maslahat Al Mursalat Terhadap Penerapan Peraturan Menteri

Agama Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali

Terletak pada metode penelitiannya yakni pada penelitian yang nantinya peneliti teliti menggunakan metode kualitatif sedangkan pada kajian pustaka menggunakan metode pustaka.

sama-sama mengkaji pada PMA No 30 Tahun 2005

4. Muhammad Sulhi Mahbub

Upaya Pembatalan Pernikahan Atas Kesalahan Penetapan Wali Hakim Oleh Wali Nasab (Studi Kasus

Pernikahan dengan Akta 04/04/I/2012 di KUA

Kecamatan Pabelan).

Pada penelitian terdahulu mengenai upaya pembatalan suatu pernikahan atas wali hakim dan pada penelitian yang akan peneliti teliti yakni penerapan perpindahan wali nasab pada wali hakim.

sama-sama mengenai

tentang wali dalam

pernikahan

5. M.Abdul Ghofur

Studi Komparasi Perwakilan Perwalian Dalam Pandangan Imam

Taqiyyudin Al Hishni Dan Syeikh Ibrahim Al-Bajuri

Perbedaannya yakni pada focus utama penelitian dimana di penelitian terdahulu membahas konsep perwalian perwakilan pemikiran imam Taqiyyudin dan Syeikh Ibrahim al-Bajuri sedangkan dalam penelitian yang akan peneliti teliti mengenai peralihan peran dan kehadiran wali nasab pada wali hakim dalam PMA Nomor 30 Tahun 2005, juga yang menjadi pembeda adalah

Persamaan yang ditemukan dalam penelitian ini dan penelitian

terdahulu ialah kesamaan topik permasalahan yang membahas tentang

perwalian

(36)

penggunaan metode penelitian menggunakan kualitatif sedangkan pada penelitian terdahulu menggunakan metode pustaka

6. Muhammad Alfin

Pelaksanaan Perahilan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Berdasarkan PMA nomor 30 Tahun 2005 Pasal 2 tentang wali Hakim:

Studi Kasus di KUA

Kecamatan Ujung Berung Bandung

Perbedaannya adalah pada penelitian ini hanya memfokuskan pada pasal 2 PMA No.

30/2005, di objek penelitian. Sedangkan pada penelitian ini tidak hanya fokus pada pasal 2 saja akan tetapi memfokuskan terkait peralihan serta penunjukan wali secara keseluruhan di KUA Arosbaya

Persamaan sama sama meneliti tentang peralihan wali nasab terhadap wali hakim

7. Nur Imania Perempuan Sebagai Wali Nikah Dalam Pandangan Madzhab Syafi‟I Dan Madhab Hanafi Serta

Relevansinya Dengan Tuntutan Kesetaraan Gender Di Indonesia

Mengkaji pandangan Imam Syafi‟i dan Imam Hanafi, sedangkan pada penelitian ini PMA Nomor 30 Tahun 2005, dan juga pada penelitian terdahulu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan.

Sama-sama membahas tentang wali

(37)

25

B. Kajian Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Wali Hakim a. Pengertian wali

Perwalian yang dimaksud dalam suatu perkawinan ialah bentuk wewenang dari sekelompok orang yang diberikan teruntuk orang yang sempurna sebab cacat tertentu dari orang yang dikendalikan untuk keuntungan mereka.21

Muhammad Jawwad Mughniyyah berpendapat wali yakni kekuasaan atau otoritas syar‟i atas seseorang yang di berikan kepada seorang yang sempurna untuk menutupi kekurangan tertentu yang ada pada orang lain demi suatu kemaslahatan khalayak umum.22

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa wali yakni seseorang yang sempurna yang digunakan sebagai pengganti untuk seseorang untuk kemaslahatan.

b. Dasar hukum wali nikah

Wali menurut Fiqih juga merupakan suatu wilayah dimana suatu kekuasaan dan perlindungan dimana wali ialah penguasaan penuh atas seseorang yang sudah diberikan agama untuk melindungi atau memiliki kuasa atas orang maupun barang.23

Disisi lain menurut hukum islam, wali adalah sesuatu yang harus terpenuhi oleh mempelai wanita dalam melakukan perkawinan

21 Muhammad Jawad Mughniyah, Terjemahan Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta: Penerbit Shaf, 2011), 374.

22 Mughniyah, Terjemahan Fiqih Lima Madzab, 345

23 Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang 1993), 92.

(38)

sebab wali adalah rukun dalam pernikahan, imam syafii menegaskan bahwa dalam perkawinan harus ada wali jikalau tidak ada maka perkawinan tersebut berstatus tidak sah.24

c. Syarat-syarat wali nikah

Ada beberapa syarat supaya menjadi wali yang sah bagi perempuan, antara lain:

1) Laki-Laki

Dalam Islam, perwalian sepenuhnya diserahkan kepada laki-laki. Kemudian tidak dapat ditransfer dari ibu wanita, nenek atau saudara perempuan biologis. Hal ini karena wali pada hakikatnya adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan wewenang atas wanita yang akan dinikahinya.

2) Agama yang sama

Ketika seseorang menikah dan menikah harus satu agama, yaitu Islam dan Islam, tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk menikah dengan seorang Kristen.

3) Berakal

Ayah yang gila tidak berhak menjadi wali bagi putrinya yang telah membuat perjanjian. Memang, kelayakan wali adalah wajar, dan kondisi gila dengan dalih ketidaksempurnaan tidak mungkin tercapai.

24 M. Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996), 53.

(39)

27

4) Baligh

Dalam perkawinan, persetujuan adik laki-laki adalah wali, tetapi adik laki-laki harus dalam keadaan baligh.

5) Kebebasan / merdeka

Dalam syariat ini, seorang budak tidak dianggap sah jika ia menjadi wali untukseorang budak tidak dianggap sah jika ia menjadi wali untuk menikahi putrinya meskipun ia seorang Muslim dan cukup umur.25

d. Macam-macam Wali.

Berikut berbagai macam wali yang terdapat dalam suatu pernikahan di antaranya:

1) Wali nasab ialah mereka yang termasuk keluarga dari pihak mempelai perempuan dan berwenang bertindak sebagai wali untuk menentukan wali nasab. Dalam wali nasab berbeda pendapat, perbedaan ini dikarenakan tidak adanya petunjuk dari hadist maupun Al-Qur'an sehingga jumhur ulama membaginya menjadi dua kelompok:

a) Wali terdekat (wali qorib) adalah sosok ayah kemudian ketika ayah tidak ada dipindah tangankan kepada kakek sebab kedua orang tersebut memiliki hak yang mutlak atas pernikahan anak perempuan.

25 Sutomo Abu Nashr, Serial Hadist Nikah 5 Wali Nikah, (Jakarta: Lentera Islam), 15.

(40)

b) Wali jauh (Wali ab`ad) adalah wali yang masih berada dalam garis keturunan orang tua, tidak termasuk ayah dan kakek serta anak dan cucu. Wali dalam garis kerabat ini ialah mereka selain ayah dan kakek juga selain anak dan cucu

2) Wali hakim yakni seseorang yang sudah ditunjuk dan diamanahi oleh pemerintah agar bertindak menjadi wali dalam perkawinan.

Wali hakim mampu bertugas untuk menggantikan posisi wali nasab apabila tidak terdapat wali nasab dari pihak pengantin perempuan.

Hal tersebut diatur juga dalam pasal 1 ayat 2 PMA No 30 Tahun 2005 menyatakan bahwasanya “wali hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali”.26

3) Wali muhakkam yakni orang yang ditunjuk dan dimintai tolong oleh calon pasangan agar bertindak menjadi wali saat akad nikah mereka berlangsung. Mereka yang dapat disebut sebagai wali muhakkam yaitu seseorang yang memiliki kedudukan di lingkungannya serta dihormati maupun disegani terlebih dalam urusan munakahat dengan pandangan yang luas dan mengerti terkait agama Islam serta laki-laki.27

26 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim, Pasal 1 ayat 2.

27 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, (Yogyakarta: Deepublish, 2021). 77-79.

(41)

29

Dalam KHI Pasal 20 wali pada suatu pernikahan terbagi ke dalam dua jenis yakni: wali nasab dan wali hakim.28

e. Orang-orang yang berhak menjadi wali

Dalam Islam berikut urutan orang yang berhak menjadi wali dalam suatu pernikahan:

1) Ayah kandung pengantin ialah wali yang paling utama dan yang mempunyai hak dengan syarat anak wanita itu tidak lahir diluar nikah.

2) Kakek atau ayah dari ayah.

3) Apabila perempuan yang dinikahkan merupakan seorang janda yang menjadi urutan selanjutnya si kakek yakni anak dari si wanita.

4) Selanjunya cucunya (jikalau ia janda) dan ke bawah seterusnya dengan syarat mendahulukan dari yang terdekat.

5) Jikalau bukan seorang janda, aturan setelah kakek yakni saudara laki-laki sekandung, seperti abang, adik laki-laki yang berstatus seayah dan seibu

6) Selanjutnya yakni saudara sebapak atau saudara satu ayah namun beda ibu

7) Berikutnya yaitu anak yang berasal dari saudara laki-laki atau keponakan dan dilanjutkan ke bawah seterusnya namun dengan

28 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, 6.

(42)

catatan harus mendahulukan saudara sekandung bukan saudara seayah.

8) Urutan terakhir barulah paman sekandung atau saudara yang berasal dari bapak, lalu paman sebapak atau saudara yang berasal dari bapak, selanjutnya anak lelaki dari paman atau sepupu lelaki yang berasak dari pihak keluarga bapak.29

f. Wali Hakim

1) Pengertian wali hakim

Pengertian wali hakim yakni orang yang diberikan tugas dari pemerintah ataupun lembaga masyarakat untuk menjadi Qadhi dimana mendapatkan wewenang dalam menjadi wali pada perkawinan.30

Sehingga wali nikah pada umumnya ditunjuk oleh pemerintah untuk mewakili dan berperan sebagai wali dalam pemerintahan. Wewenang wali hakim disini adalah dapat menjadi pengganti wali nasab apabila calon pengantin tidak mempunyai wali nasab.31

Sedangkan dalam pasal 1 ayat 2 PMA No 30 Tahun 2005 menjelaskan jika wali nikash yakni seorang Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan dimana ditunjuk oleh Menteri Agama agar

29 @TweetNikah, Aku, Kau & KUA Edisi Revisi, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013), 129.

30Aspandi, Pernikahan Berwalian Hakim Analisis Fiqih Munakahat dan Kompilasi Hukum Islam, 92.

31 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, 77-79.

(43)

31

bertugas menjadi wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak memiliki wali.32

2) Syarat-syarat wali hakim

a) Keberadaan wali tidak diketahui.

b) Wali yang akan menjadi pasangan sendiri sementara wali yang setara dengannya tidak ada

c) Lokasi wali yang jauh diperbolehkannya qasar, namun dengan jarak 92,5 km

d) Wali sedang dipenjara serta sebagai tahanan tidak dapat ditemui e) Wali melakukan haji atau umrah

f) Mempelai tersebut anak hasil zina sehingga hanya bernasab pada ibunya

g) Walinya gila atau fasik.33 3) Dasar Hukum Wali Hakim

اَذِا َّنُهَجاَوْزَا َنْحِكْنَّ ي ْنَا َّنُهْوُلُضْعَ ت َلََف َّنُهَلَجَا َنْغَلَ بَ ف َءۤاَسِّنلا ُمُتْقَّلَط اَذِاَو ِفْوُرْعَمْلاِب ْمُهَ نْ يَ ب اْوَضاَرَ ت َكِلٰذ ۗ

ُظَعْوُ ي هِب ِهّٰللاِب ُنِمْؤُ ي ْمُكْنِم َناَك ْنَم ۗ

ِرِخْٰلاا ِمْوَ يْلاَو ِلٰذ ۗ

ُرَهْطَاَو ْمُكَل ىٰكْزَا ْمُك َنْوُمَلْعَ ت َلا ْمُتْ نَاَو ُمَلْعَ ي ُهّٰللاَو ۗ

Artinya: “Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

32 Setneg RI, PMA No. 30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim, Pasal 1 ayat 2.

33 Sudarto, Buku Fikih Munakahat, 77-79.

(44)

Wali hakim adalah wali di mana seseorang calon mempelai sudah tidak mempunyai wali, atau wali yang tidak ingin menikahkan calon mempelai wanita. Wali hakim di perbolehkan mengambil sikap apabila wali maqrab tidak ada maupun tidak hadir dalam akad ketika di langsungkan. Seperti dalam riwayat Aisyah ra. Berkata:

Artinya: “perempuan mana saja yang menikah dengan izin walinya, maka pernikahannya batil, batil, batil,. Jika dia digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar akibat persetubuhan yang dilakukan kepadanya. Jika mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”.

Dalam hadist diatas menyatakan pernikahan harus dengan adanya wali namun apabila adanya perselisihan anatara wali dan calon mempelai maka sultan atau kepala negara yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut. Sebab tanpa adanya wali pernikahan itu tidak di nyatakan sah.34

g. Peralihan wali nasab ke wali hakim

Mengutip dari Kompilasi Hukum Islam (KHI) peran dari wali hakim dapat bertindak menjadi wali nikah apabila wali nasab tidak dapat menghadiri pernikahan atau keberadaannya tidak diketahui. Pada perwalian yang walinya adhal wali hakim dapat bertindak menjadi wali nikah berdasarkan putusan pengadilan agama maupun pejabat

34 Soraya Devy dan Mohammad Syakirin Bin Zahari, “Status Hukum Pernikahan Yang Dilaksanakan Oleh Wali Hakim Luar Negeri ( Studi Kasus di Mahkamah Syariah Negeri Kelantan”, Jurnal Media Syariah dan Hukum Uin Ar-Raniry, Vol.20, No. 1 (2018) 44-45.

(45)

33

yang diamanati oleh pihak pengadilan agama.35 Sedangkan apabila calon mempelai wanita tidak memiliki wali untuk menikahkan maka dalam artian tidak memiliki wali nasab maka boleh untuk menikahkan.

Namun apabila wali nasabnya juga tidak memenuhi kualifikasi atau mafqud maka pernikahan tersebut dapat menggunakan wali hakim.

Adanya peralihan pada hak wali nikah dalam ilmu fiqih disebut dengan intiqal wali nikah berdasarkan hak perwalian. Sebab perpindahan wali kepada wali yang lain dapat disebabkan oleh suatu hal dimana dapat terjadi pada wali nasab ke wali hakim maupun peralihan hak perwakilan kepada wali yang berhak mempunyai alasan-alasan seseorang tidak dapat dijadikan sebagai wali.36 Misalnya seperti penyandang disabilitas dan orang yang udzur sesuai dengan Pasal 22 yang ditulis dalam Kitab Al-Bajuri. Serta dijelaskan dalam Pasal 23 ayat 1 mengenai ketentuan wali hakim yang terbaru dimana dapat menjadi wali nikah apabila sama sekali tidak ada wali nasab atau walinya sedang bepergian jauh, ingatannya terganggu, wali nasab yang sulit ditemui, serta wali yang sedang haji dan tidak bisa menjadi wali nikah.37 Sedangkan dalam Ayat 2 pada pasal di Kitab Qalyubi wa Umairah dijelaskan ketidakinginan wali dalam menjadi wali nikah diatur oleh hakim setelah kedua calon mempelai dan wali nikah

35 Departemen Agama, Modul Peningkatan Keterampilan Pegawai Pencatat Nikah Seri B: Fikih Munakahat, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2002), 19.

36 Iffah Muzammil, Fiqh Munakahat: Hukum Pernikahan dalam Islam, (Tangerang:

TSmart, 2019), 18.

37 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1981) 61.

(46)

dipertemukan. Kemudian hakim memberikan tugas kepada wali untuk menikahkan yang selanjutnya ditolak oleh wali tersebut.38

Penyebab adalanya peralihan wali dari wali nasab ke wali hakim dijelaskan secara terstruktur pada PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim sesuai Pasal 23 KHI. Penolakan ini disebabkan adanya anak yang dihasilkan dari luar pernikahan (anak tidak sah).

Dalam penjelasan Pasal 43 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 anak yang lahir diluar pernikahan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan pihak keluarga ibunya baik berdasarkan Hukum Islam serta Kompilasi Hukum Islam. Didalamnya telah dijelaskan bahwa peralihan hak wali ke wali nasab kemudian ke wali hakim pada pernikahan perempuan disebabkan wali adhal perlu menunggu putusan pengadilan agama.39 Status hukum yang diatur dalam Pasal 23 Ayat 1 KHI adalah wali hakim dapat berperan sebagai wali nasab dimana tidak sesuai Al Aqrab atau Al Ab‟ad bahkan tidak mungkin menghadirkan wali nikah yang berada di tempat yang jauh. Sedangkan menurut konteks Fiqih Syafi‟i yang dapat menjadi kuasa untuk wali nikah dapat menyerahkan wewenang kepada wali hakim. Pasal 23 Ayat 2 yang menetapkan sebagai wali hakim pada umumnya

38 Sayyid Sabiq, Terjemahan Fiqh Sunnah Jilid VII, (Bandung: PT. al-Maarif, 1998), 25.

39 Jamaluddin dan Nanda Amalia, Buku Ajar: Hukum Perkawinan, (Sulawesi: Unimal Press, 2016), 65.

(47)

35

ditetapkan oleh KUA yang hanya berperan menjadi wali hakim sesuai dengan putusan pengadilan agama.40

2. Pembaruan Hukum tentang Wali Hakim pada PMA Nomor 2 tahun 1987 dan PMA nomor 30 tahun 2005

Perkawinan merupakan rangkaian hubungan yang mengandung aura positif dengan menjalani kehidupan yang lebih lanjut antara seorang lelaki dengan seorang perempuan agar dapat membentuk dan mewujudkan sebuah keluarga yang penuh dengan nilai sakinah, mawaddah dan warohmah dihadapan Allah SWT. Wali nikah yang sah ialah orang tua dari seorang perempuan yang memang sudah memiliki kedudukan sebagai seorang wali. Oleh karena itu sudah seharusnya untuk berpihak dan sudi untuk mejadi wali nikah bagi anak perempuannya agar terlaksanakannya tujuan dari sebuah perkawinan yang positif sesuai dengan apa yang menjadi kehendak anaknya sehingga tujuan dalam perkawinan tersebut mampu terwujud.41

Dalam Pasal 23 ayat (1) dan (2) dalam KHI jo Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1987 yang menentukan dalam hal adanya wali adhal atau keadaan seseorang yang enggan untuk menjadi seorang wali maka wali hakim yang ditunjuk dapat bertindak setelah adanya putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut. Bagi mereka atau kedua calon mempelai yang berstatus sebagai muslim atau agama Islam atas izin dari

40 Hasballah Thaib, Hukum Keluarga Dalam Syariat Islam, (Medan: Universitas Dharmawangsa, 1983) 53.

41 Rustam, “Analisis Hukum Kedudukan Wali Hakim Dalam Pelaksanaan Perkawinan”, Al ‘Adl Vol. 13, No. 1 (Januari 2020), 57.

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2  Perbandingan
Tabel 4.2  Keadaan Umum

Referensi

Dokumen terkait

wali hakim merupakan wali yang lebih jauh hanya berhak menjadi wali apabila wali yang dekat tidak ada atau tidak memenuhi syarat-syarat wali.67 Hal ini ada kemungkinan bahwa

Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pangenan menolak dan melarang masyarakat yang berada di wilayah kerjanya untuk melakukan taukil wakil wali dalam pernikahan di karenakan:

6 Wali Hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai perempuan yang

Dengan adanya pembuatan Sistem Informasi Pengolahan Data Pernikahan Pada kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pangkalan Baru, maka kesimpulan yang dapat penulis

Peran Majelis Agama Islam dalam pernikahan beda agama antara laki-laki muslim dengan perempuan Ahl al-Kitāb , yaitu menerima pendaftaran nikah, menjadi wali hakim

Penggunaan Sistem aplikasi administrasi pernikahan pada Kantor Urusan Agama (KUA) Selat di Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas dengan cara online berbasis Web

Dengan adanya penelitian dan pembuatan Sistem Informasi Pengolahan Data Pernikahan Pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Girimaya, maka kesimpulan yang dapat penulis ambil :

Dengan adanya penelitian dan pembuatan Sistem Informasi Administrasi Pernikahan Pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Besar, maka kesimpulan yang