• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 55-59)

BAB III METODE PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

Pada teknik pengumpulan data terdapat prosedur yang sistematik dengan tujuan mendapat data yang diinginkan. Pengertian data yakni bahan penelitian berupa keterangan yang didapatkan dimana hasilnya relevan dengan obyek penelitian sesuai lokasi penelitian.51 Dikarenakan penelitian ini adalah kualitatif empiris maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

1. Teknik Pengolahan Data a. Wawancara

Pengertian wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab terhadap peneliti dan juga narasumber secara langsung dengan tatap muka agar data yang diperoleh terjamin keasliannya.

Disini peneliti melakukan wawancara dengan Kepala KUA Arosbaya sekaligus staf di KUA Arosbaya.

b. Observasi

Observasi yaitu teknik dalam pengumpulan data dimana peneliti perlu untuk mengevaluasi lapangan serta mengamati hal-hal yang memiliki keterkaitan dengan lokasi, kegiatan, ruang, waktu, peristiwa, serta perasaan.52

Peneliti juga melakukan observasi langsung ke lapangan yang bertempat di KUA Arosbaya.

51Mamik, Metodologi Kualitatif, 103.

52 Mamik, Metodologi Kualitatif, 104.

c. Kajian Dokumen

Kajian dokumen disini berisi tentang data yang ada dilapangan dimana dibutuhkan untuk kelengkapan dokumen sebagai penunjang penelitian yang dirasa perlu bagi peneliti..

E. Analisis Data

Adapun analisis data yakni proses menyusun dan mencari data yang dilakukan secara sistematis berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga dapat digunakan pada pengumpulan data oleh peneliti.

Hal ini dilakukan dengan cara memilih dan memilah data mana saja yang dianggap penting serta dapat diuraikan untuk mencapai kesimpulan yang sesuai serta mudah dipahami bagi pembaca.

Metode analisis data pada penelitian yang akan penulis gunakan adalah analisis kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Hubberman53. Yakni berupa pengumpulan data yang terbagi menjadi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Adapun langkah-langkah yang digunakan adalah:

1. Reduksi data adalah teknik analisis data dengan mengambil serta memilah data yang sesuai pada penelitian. Namun data-data tersebut tetap relevan dengan fokus pada abstraksi data sesuai hasil penelitian di lapangan.

2. Penyajian data adalah melakukan penyusunan berbagai informasi dalam bentuk pernyataan yang selanjutnya diklasifikasikan sesuai dengan fokus permasalahan.

53 Emzir, Metedologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 131.

45

3. Verifikasi atau Penarikan kesimpulan dilakukan secara sementara dimana dapat berubah sewaktu-waktu apabila tidak adanya bukti-bukti yang dapat memperkuat data berdasarkan tahap pengumpulan data selanjutnya .54 F. Keabsahan Data

Dilakukannya keabsahan data pada penelitian ini supaya bisa diakui keberadaannya bila penelitian tersebut dapat dibuktikan keasliannya, serta kebenarannya dalam metode penelitian tersebut. Sehingga penulis disini menggunakan teknik triangulasi data di mana dalam teknik ini perlu pemeriksaan kembali dalam keabsahan data sehingga dapat diakui kebenarannya. Disebutkan juga dengan teknik triangulasi sumber dimana berfungsi untuk menilai tingkat kredibilitas penelitian. Adapun cara yang digunakan dengan mengecek data pada beberapa sumber dengan harapan peneliti tidak hanya terpaku pada satu sumber namun dapat memanfaatkan berbagai sumber penelitian yang ada.55

G. Tahap-Tahap Penelitian

Dalam perencanaan pada tahap-tahap penelitian selanjutnya peneliti merumuskannya dalam beberapa tahap yakni:

1. Pra penelitian

a. Melaksanakan observasi ke KUA Arosbaya b. Menggagas judul penelitian

c. Menyiapkan surat izin penelitian lapangan d. Membuat matriks penelitian

54 Bachtiar, Metode Penelitian Hukum, (Pamulung: UNPAM PRESS, 2019), 171.

55 M. Djamal, Paradigma Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 93.

e. Membuat proposal

f. Mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan dalam penelitian dibawah dipersiapkan.

2. Penelitian

a. Mengumpulkan serta menyiapkan bahan yang di perlukan b. Menuju lokasi penelitian

c. Menyiapkan data yang relevan dengan fokus penelitian d. Menganalisis data dari lapangan penelitian

e. Membuat kesimpulan 3. Akhir penelitian

a. Konsultasi kepada pembimbing b. Melakukan revisi

c. Melaksanakan ujian akhir skripsi

d. Penyetakan, penjilidan dan lain sebagainya

47 BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Situasi Grafis KUA Arosbaya

Arosbaya merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur dimana secara administratif Kecamatan Arosbaya dibagi menjadi 18 desa seluas 4.245 Ha dengan ketinggian 4 m diatas permukaan laut. Adapun batas-batas Arosbaya saat ini sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Klampis. Kemudian disebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Geger serta disebelah selatan berbatasan dengan Burneh dan Bangkalan. Lalu sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa.

2. Jumlah Lembaga Pendidikan Formal

Di bidang pendidikan Kecamatan Arosbaya dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu adanya pendidikan formal dan pendidikan non formal.

Dalam pendidikan formal yakni meliputi pendidikan Taman Kanak-Kanak atau Raudlatul Athfal hingga meliputi Pendidikan Menengah Atas atau Madrasah Aliyah. Jumlah perinciannya dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1

Jumlah Lembaga Pendidikan Formal Kecamatan Arosbaya

No. Lembaga Pendidikan Jumlah

1 RA / TK 32

2 Sekolah Dasar 35

3 Madrasah Ibtidaiyah 2

4 Sekolah Menengan Pertama 2

5 Madrasah Tsanawiyah 3

6 Sekolah Menengah Umum 1

7 Madrasah Aliyah 3

3. Pendidikan Non Formal

Adapun pada pendidikan non formal pada umumnya berada di beberapa pondok pesantren. Pendidikan dalam pondok pesantren dilakukan dengan bentuk pengajian kitab kuning dengan menggunakan sistem andongan serta berbagai pendidikan kerampilansebagai penunjang pendidikan dalam rangka mengembangkan potensi kreatifitas santri.

Saat ini Kecamatan Arosbaya mempunyai kurang lebih 13 pesantren yang tersebar di wilayah Arosbaya. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa para Kiai selaku pemangku pondok pesantren memiliki tugas penting, oleh karena itu posisi kiai pondok pesantren menempati posisi yang stategis dalam peta kehidupan keagamaan masyarakat Kecamatan Arosbaya.

4. Keadaan Fisik KUA

Menurut data peneliti Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Arosbaya mempunyai sarana prasarana berupa gedung Balai Nikah yang terletak di Jalan Letkol Abd Hamid No. 54, Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia, No. tlp. 031. 3051641 dan Kantor Urusan Agama Arosbaya posisinya berdekatan dengan Masjid Besar Arosbaya.

49

Gambar. 4.1 Foto KUA Arosbaya

Gedung Balai Nikah KUA Kecamatan Arosbaya terletak di Desa Tengket Kecamatan Arosbaya, ± 15 km dari Kota Bangkalan kearah Utara.

5. Keadaan Umum

Tabel 4.2 Keadaan Umum

No. Keadaan Keterangan

1 Bangunan Kondisi Luas

Baru selesai di perbaiki 125 M2

2 Tanah Luas Status

150 M2

Milik Kemenag 3 Letak Kedudukan -

4 Alamat di Jalan Letkol Abd Hamid No.

54, Arosbaya, Kabupaten Bangkalan

Keadaan Umum KUA Arosbaya 6. Personalia

Berdasarkan Keputusan Mentri Agama RI (KMA) Nomor 18 Tahun 1975 tentang susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Agama pada Bagian LXV pasal 731 dijelaskan bahwa Kantor Urusan Agama terdiri atas:

(1) satu orang kepala, (2) penghulu dan 4 pelaksana yang menjalankan tugas.

Jumlah minimal personalia di KUA sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan tupoksi KUA yang mencakup bukan hanya di bidang pelayanan dan pencatatan Nikah dan Rujuk, akan tetapi KUA juga berkewajiban dalam penyelengggaraan Dokumen dan Statistik, Pembinaan Kemasjidan, Zakat, Wakaf, Baitul Mal dan Ibadah Sosial serta pembinaan Keluarga Sakinah ( Keluarga Sejahtera ).

Adapun jumlah minimal pegawai di KUA memiliki keterkaitan yang erat dengan pelaksanaan tupoksi pada KUA dimana tidak hanya terpaku pada pelayanan dan pencatatan nikah serta rujuk tetapi juga melaksanakan penyelenggaraan dokumen pembinaan kemasjidan, baitul maal, wakaf, zakat, serta ibadah sosial maupun memberikan pembinaan keluarga sejahtera.

7. Susunan organisasi KUA

a. Mohammad Sus, SH (Kepala KUA Arosbaya) b. Mohammad Agus Salim (Petugas Tata Usaha) c. Slamet Adi Dya. P (Honorer)

d. Musarrofah R (Honorer) B. Penyajian Data Dan Analisis.

Melalui data yang diperoleh dari KUA Arosbaya bahwa ada 265 pasangan pengantin yang menggunakan wali hakim dalam pernikahannya. Dari pasangan tersebut ada 3 pasangan calon pengantin yang pelaksanaan (hari,

51

tanggal, bulan) yang sama. Salah satu dari pasangan tersebut penulis teliti yakni pada pasangan Sudi dan Siti Ruqiyah yang pelaksanaan pernikahannya menggunakan wali hakim pada akhir tahun 2009. Hasil tersebut setelah penulis mendatangi rumahnya adalah bahwa benar pada saat pelaksanaan dalam perkawinannya menggunakan wali hakim dimana pada saat itu juga Kepala KUA berhalangan hadir sehingga akad tersebut dilakukan oleh Penghulu KUA Arosbaya sendiri. Penulis juga melakukan perbincagan dengan Siti Ruqiyah dimana penulis bertanya “mengapa dalam pernikahan tersebut menggunakan wali hakim?” beliau menjawab “polanah ketepaan jiyah tang bapak bedeh e Malaysia” (karna pada saat itu ayah saya berada di Malaysia) lalu penulis juga kembali menanggapi hal tersebut dengan bertanya “kemana saudara yang lain yang bisa menjadi wali selain bapak?” lalu menjawab “adek lok andik sekaleh mek kareh tang bapak tok gik ruah lok bisa mole derih Malaysia pas ngkok akabin”(tidak ada wali yang lain selain bapak saya karna pada saat itu bapak saya juga tidak bisa pulang). Kemudian penulis kembali bertanya “siapa wali hakim tersebut” dan dijawab yakni “H. Junaidi”. Hal tersebut juga sesuai dengan yang sudah penulis ketahui bahwa pada saat pelaksanaan pernikahan tersebut menggunakan wali hakim dimana wali tersebut bukan Kepala KUA, melainkan penghulu di KUA Arosbaya.

Menurut penjelasan Kepala KUA pada saat itu yakni bapak H. Nasrul Hakim, SH., MSi

“Dalam hal adanya perpindahan wali nasab kepada wali hakim dalam PMA No 30 Tahun 2005 sudah dijelaskan harus memenuhi syarat- syarat atau sebab tertentu yang sudah tertera dalam peraturan

tersebut”.56 Dalam hal itu juga dijelaskan oleh bapak Mohammad Agus Salim “Seperti yang sudah diketahui dalam pelaksanaan pernikahan sampai wali dalam pernikahan sudah diatur masing-masing sehingga dalam melakukannya terlebih tentang wali hakim harus benar-benar disebabkan oleh hal tertentu yang sudah tertera dalam PMA No 30 Tahun 2005 seperti walinya berhalangan, adhal, ataupun walinya tidak ada sehinnga dalam pernikahan tersebut menggunakan wali hakim”.57 Oleh sebab itu dapat disimpulkan dari paparan tersebut yakni apabila seseorang tersebut menikah menggunakan wali hakim berarti walinya tidak ada dan sebagainya. Wali nikah adalah seseorang yang masih dalam nasab dan tidak bisa berpindah kepada orang lain kecuali ada hal yang dapat dibenarkan.

“Dalam pernikahan menggunakan wali hakim itu tidak selalu dikarnakan anak diluar nikah akan tetapi bisa dikarnakan walinya adhal, adabul wali, walinya tidak memenuhi syarat, mafqud dan lain sebagainya, akan tetapi di daerah Arosbaya ini sebagian besar masyarakat Arosbaya yang menggunakan wali hakim dalam pernikahannya disebabkan oleh walinya berada di luar teritorial Indonesia untuk mencari nafkah. Orang Madura itu memang mencari nafkah atau bekerja itu diluar negeri jadi alasan adamul wali juga sedikit”.58

Dalam penjelasan mas Agus juga menekankan ada banyak calon yang pernikahanya menggunakan wali hakim di KUA Arosbaya mengenai wali hakim sendiri adalah kepala KUA Arosbaya sendiri sekaligus penghulu kecuali apabila kepala KUA tersebut menunjuk seseorang untuk menggantikannya hal ini juga sudah dijelaskan dan sesuai PERMA No 30 Tahun 2005.59

“Wali nasab itu walinya yakni berupa bapaknya, atau kakeknya keatas lalu kemudian saudaranya ke pamannya kemudian ke sepupu itu wali nasab dikarenakan pekerjaan sebagian besar masyarakat Arosbaya adalah berlayar maka dari itu perlu adanya wali hakim. Wali hakim disini kepala KUA atau penghulu dimana ditunjuk apabila satu - satunya kepala KUA itu berhalangan maka yang berhak menjadi

56 Nasrul Hakim, di wawancarai oleh penulis, Bangkalan 14 Mei 2022

57 Mohammad Agus Salim, diwawancaraai oleh penulis, Arosbaya 17 Mei 2022

58 Mohammad Sus, di wawancarai oleh penulis, Arosbaya 17 Mei 2022

59 Mohammad Agus Salim, Wawancara 17 Mei 2022

53

pengganti wli hakim yaitu kepala KUA jadi selain kepala KUA tidak berhak menjadi wali hakim kecuali ditunjuk oleh kepala KUA itu sendiri.”60

“Mengenai proses perpindahan wali nasab ke wali hakim itu otomatis kepala KUA itu merangkap menjadi wali hakim kecuali walinya adhol yakni walinya tidak mau untuk mengakadkan atau walinya mafkud jadi otomatis kepala KUA dapa menjadi wali pada pernikahan”.61

“Apabila walinya adhol maka harus ada penetapan dari pengadilan agama kalau walinya tidak ada. Contohnya juga seperti anaknya mau menikah sedangkan orang tuanya berada di Bawean dan menunggu untuk menyebrang itu lama akan tetapi wali tersebut sudah benar-benar rela dan juga ikhlas maka boleh menyerahkan kepada wali hakim namun pelu persyaratan adanya surat pernyataan dari desa jika benar bahwa wali tersebut memang ada halangan.”62

Kesimpulan dari wawancara tersebut yakni bahwa dalam hal peralihan wali dalam pernikahan di KUA Arosbaya secara otomatis Kepala KUA berperan sebagai wali hakim pada pernikahan yang akan berlangsung kecuali apabila walinya adhol maka perlu surat dari Pengadilan Agama.

C. Pembahasan Temuan

1. Proses Pelaksanaan Peralihan Wali Nasab Kepada Wali Hakim Di KUA Arosbaya

Syarat seseorang dapat menjadi wali nikah pada pernikahan seseorang adalah masih memiliki hubungan darah atau kerabat dari pihak laki-laki untuk menjadi wali dalam proses pernikahan sebagai bentuk dari keikhlasan juga kerelaannya. Sedangkan dalam KHI pasal 19 63 telah diuraikan bahwa seseorang yang ingin menikah wajib memenuhi salah satu

60 Nasrul Hakim, di wawancarai oleh penulis, Bangkalan 14 Mei 2022

61 Mohammad Sus, diwawancarai oleh penulis, Arosbaya 17 Mei 2022

62 Nasrul Hakim, di Wawancarai oleh penulis, Bangkalan 14 Mei 2022

63 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, 59.

rukun yakni dengan adanya wali dalam pernikahan yang bertugas untuk menihkahkannya.

Sehingga perwalian pada sebuah perkawinan menjadi poin krusial dan syar‟i untuk seluruh manusia dimana diberikan kepada seseorang yang sempurna.64

Dalam akad perkawinan kedudukan wali hakim yakni sebagai pengganti terhadap wali bagi calon mempelai perempuan untuk melaksanakan pernikahan yakni dalam bentuk akad ketika wali perempuan tidak ada atau wali perempuan tersebut berhalangan dengan alasan tertentu atau juga wali calon mempelai wanita tersebut tidak ingin menjadi wali nikah bagi anaknya. Sehingga wali hakim perlu untuk mengisi kekosongan wali nasab yang adhal dengan adanya permohonan wali yang kemudian diputuskan pihak pengadilan agama jika wali calon mempelai perempuan adhal. Oleh karena itu kedudukan serta wewenang wali hakim dalam pernikahan sama dengan wali nasab.

Dengan demikian dalam Peraturan Mentrei Agama nomor 30 tahun 2005 secara rinci telah mengatur terkait syarat bagi seseorang untuk menjadi wali yang sah bagi perempuan yang akan menikah. Ketentuan wali hakim juga diuraikan pada peraturan tersebut yang masih berlu hingga saat ini mengikuti aturan diatasnya.

Dari hasil wawancara oleh pihak KUA Arosbaya sebagai penghulu dengan tugas yang diberikan oleh Kementerian Agama dimana

64 Mughniyah, Fiqih Lima Madzab, 374.

55

menggantikan kedudukan Kepala KUA ketika tidak dapat hadir saat akad nikah. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 30 tahun 2005 ayat 3 dan ayat 2 dengan uraian jika Kepala KUA Kecamatan tidak dapat hadir maka dapat digantikan oleh kepala seksi yang membidangi kemudian menunjuk salah satu penghulu di kantor kecamatan terdekat untuk menjadi wali hakim di wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis tersebut penulis dapat menmgetahui bahwa adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim di KUA kecamatan Arosbaya masih kurang efektif terutama dalam pelaksanaan tugas yang ada sebab belum sesuai pelaksanaannya dengan peraturan yang ada. Terutama dalam peraturan yang diatur dalam PMA Nomor 30 tahun 2005 tentang Wali hakim di KUA Arosbaya.

Dalam hal ini penulis menemukan fakta dalam pelaksanaan akad dalam perkawinan bahwa ada yang berbeda, dalam pasal 1 ayat (2) telah dibahas jika wali hakim adalah Kepala KUA dimana dapat bertindak menjadi wali dalam pernikahan untuk mempelai yang tidak memiliki wali.

Berdasarkan uraian diatas di yakini bahwa pernikahan bukan hanya tentang suatu kebutuhan jasmani melakinkan juga dengan kebutuhan rohani, sehingga hal ini juga relevan pada QS. Ar-Rum Ayat 21, dimana pernikahan adalah suatu ikatan lahir dengan hubungan suatu hukum suami istri untuk hidup bersama dimana ikatan tersebuat adalah formal serta nyata baik bagi yang mengikatnya maupun masyarakat, dengan ikatan formal tesebut berarti sudah melaksanakan akad dengan ketentuan islam maupun agama lainnya.

Sedangkan dalam ikatan bathin pernikahan yakni dimana dua orang antar laki-laki maupun perempuan dengan memutuskan untuk menjalin pernikahan sesuai kemauan sendiri-sendiri dan tanpa ada paksaaan.

Dari setiap pernikahan di syaratkan adanya wali bagi kaum wanita.

Jika dalam pernikahan tidak memenuhi persyaratan terkait wali nikah bagi wanita maka pernikahan tersebut dianggap batal. Sehingga peran wali nikah sangat penting terutama dengan adanya orang tua kandung. Apabila orang tua tidak dapat hadir atau berhalangan maka dapat diwakilkan pada kakek, paman, bahkan saudara laki-laki yang masih satu nasab dengan calon mempelai perempuan. Kemudian jika semua pihak berhalangan maka dapat diwakilkan oleh wali hakim agar pernikahan dapat tetap berjalan.

Alasan yang dapat digunakan dalam mengajukan permohonan wali nikah oleh calon mempelai perempuan untuk mendapatkan wali hakim telah dibahas oleh berbagai ahli hukum. Kedudukan wali hakim adalah wali yang sangat jauh dimana hanya berhak menjadi wali ketika wali yang dekat atau senasab tidak ada dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi wali hakim.

Sehingga dari kemungkinan tersebut wali yang berhak menjadi wali untuk calon mempelai wanita yang kehabisan wali adalah wali hakim. Hal ini dapat dilaksanakan akad atas perkawinan menggunakan wali hakim dari wilayah tersebut.

Hal tersebut telah diatur dasar hukum wali hakim pada pernikahan berdasarkan riwayat Aisyah ra. Yang berkata:

57

مِلَِوْلا اَهْحِكْنُ ي َْلَ ٍةَأَرْما اَميَُّأ : .م.ص للها لوسر لاق :تلاق اهنع للها يضر ةشئاع نع ِإَف اَهْ نِم َباَصَأ اَِبِ اَهُرْهَم اَهَلَ ف اَهَ باَصَأ ْنِإَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ٌلِطاَب اَهُحاَكِنَف ِن

مِلَِو ُناَطْلمسلاَف اوُرَجَتْشا ُ َل َِلَِو َ ْنَم

Artinya: ”perempuan mana saja yang menikah dengan izin walinya, maka pernikahannya batil, batil, batil,. Jika dia digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar akibat persetubuhan yang dilakukan kepadanya. Jika mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.”

Dalam hadist tersebut menyatakan bahwa pernikahan harus dengan adanya wali namun apabila adanya perselisihan antara wali dan calon mempelai kemudian kepala negara (pemerintah) atau pihak yang menjadi wali pernikahan dapat menjadi wali pengganti. Sebab tanpa adanya wali pernikahan itu tidak dapat dinyatakan sah.

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Agama nomor 30 tahun 2005 dijelaskan syarat-syarat permohonan wali hakim yang diatu sebagai berikut:

a. Ditujukan untuk calon mempelai wanita yang hendak menikah didalam atau diluar negeri selama berada di wilayah terororial Indonesia

b. Tidak memiliki nasab yang berhak menikahkan

Maksud disini adalah seluruh wali nasab yang ada dan berhak menikahkan telah meninggal dunia.

c. wali nasabnya tidak memenuhi syarat

yakni seperti wali tersebut gila, belum baligh dan lain sebagainya, sehingga tidak dapat menjadi wali dalam pernikahan tersebut.

d. Mafqud

Mafqud yang dimaksud disini adalah seseorang yang hilang disuatu tempat atau tidak diketahui di mana keberadaannya secara jelas sehingga tidak bisa dipastikan masih hidup atau tidak. Wali mafqud adalah di mana wali nasab telah menghilang dari keluarga dan tidak diketahui dimana atau kapan akan kembali, menghilangnya wali bisa terjadi sebab disengaja atau dengan beberapa alasan yang lain.

e. Berhalangan

Di mana berhalangan hadir apabila wali tersebut berada dijarak diperbolehkannya qasar yakni menurut jumhur ulama 92,5 km. atau wali tersebut sedang melakukan haji dan umrah.

f. Adhal

Pengertian wali adhal adalah wali yang tidak mau menikahkan calon mempelai wanita yang telah baligh dan berakal serta telah memiliki calon mempelai laki-laki. Berdasarkan permasalahan tersebut maka yang memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi wali hakim adalah penuasa negeri dalam hal ini pemerintah. Selain itu tidak dipebolehkan pihak tertentu baik itu tokoh terpandang yang telibat dan betindak menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali. Sebab tidak ada hak dan kewajiban untuk menikahkan sehingga apabila dilanggar tentu akan berdosa.

Berdasarkan uraian PMA Nomor 30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim dalam Pasal 2 Ayat 1 dibahas bahwa memenuhi persyaratan memiliki makna sesuai dengan hukum islam. Sedangkan makna dari wali yang

59

berhalangan adalah terdapat wali namun tidak dapat ditemui atau ditahan bahkan sulit dihubungi atau sebagainya.

Sedangkan untuk mengganti Kepala KUA yang tidak dapat hadir menjadi wali hakim maka perlu mengeluarkan surat keterangan secara tertulis yang berasal dari KUA agar mendapatkan pengganti sementara untuk menjadi wali hakim pernikahan. Sebab hal ini dapat dijadikan sebagai bukti yang kuat dan sah untuk menggantikan Kepala KUA saat absen menjadi wali hakim dimana hal ini diperkuat dengan surat dari Dirjem Bimas Islam (No.DJ.II.2/1/PW.01/949/2008) agar terlaksananya tugas sebagai wali hakim.

2. Penerapan PMA Nomor 30 Tahun 2005 di KUA Arosbaya

Dalam hal ini yang dimaksud dengan penerapan adalah perihal tentang terkait pelaksanaan juga dalam memperaktikan suatu hal. Dalam penerapan PMA ini adalah suatu pelaksanaan Peraturan Pemerintah tersebut di KUA Arosbaya terkait wali hakim baik dalam proses pelaksanaannya ataupun memperaktikan peraturan tersebut apakah sudah sesuai atau tidak.

Dalam hal itu maka menurut pendapat Imam Syafi‟i, Imam Maliki dan Imam Hambali bahwasannya apabila terdapat perempuan yang sudah baligh serta berakal sehat dimana belum pernah melakukan pernikahan maka hak untuk menikahkan perempuan tersebut adalah walinya dan apabila perempuan tersebut sudah pernah melakukan pernikahan atau janda maka hak itu ada pada keduanya, maksud keduanya disini adalah wali tersebut tidak dapat mengawinkan janda apabila belum mendapat

Dalam dokumen penerapan peraturan menteri agama (pma) (Halaman 55-59)

Dokumen terkait