BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
1. Partisipasi Perempuan Pekerja
Peran serta perempuan dalam bekerja menekuni sesuatu atau beberapa pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian (keterampilan) tertentu yang dimilikinya untuk mencapai suatu kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan atau jabatan. Pekerjaan yang dilakukannya ialah pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. Artinya bahwa bukan kaum Adam saja yang dapat bekerja di luar atau berpartisipasi bekerja di luar rumah, tetapi kaum perempuan juga mampu untuk melakukan pekerjaan.
Dalam hal ini, seorang perempuan yang berpartisipasi dalam hal pekerjaan yang tentunya membantu suaminya maka perempuan disini
membantu suaminya dalam hal pekerjaan wajib dan pekerjaan sampingan diantaranya:1
a. Membantu suami dalam urusan rumah tangga
Peran, kedudukan dan tugas perempuan sebagai ibu adalah sebagai “Ratu Keluarga” oleh karena itu, seorang ibu mempunyai tugas-tugas yang tidak kalah pentingnya dengan tugas-tugas seorang laki-laki sebagai bapak atau sebagai pencari nafkah.
Seorang ibu adalah sebagai pemelihara rumah tangga, sebagai pengasuh serta pendidik terhadap anak-anaknya, mulai bayi itu dikandungnya sampai usia dewasa. Tidak jarang orang menyatakan bahwa fungsi seorang ibu/perempuan hanya sekedar manak (beranak), macak (bersolek, berdandan, berhias), masak (menanak).
Di dalam keluarga, suami sebagai seorang pemimpin, peranan yang lebih tua sedangkan istri sebagai seorang yang dipimpin, pasif atau sebagai yang lebih muda, hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang ibu terpusat pada pemeliharaan kepentingan-kepentingan intern dari rumah tangga, terutama dalam mengasuh anak.
Selanjutnya ia mempunyai tugas untuk membantu suami. Sejak bangun tidur dini hari, para perempuan biasanya memasak, mencuci perabot dapur, dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Selanjutnya mereka menyiapkan keperluan anak-anak yang masih sekolah. Setelah semuanya selesai, mereka langsung berangkat
1 Hardjito Notopuro, Peranan Wanita Dalam Masa Pembangunan Di Indonesia, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1979), 43
bekerja di Gudang. Mulai dari jam 06.00-16.00 WIB sesampainya di rumah mereka tidak sempat istirahat, karena pekerjaan lainnya sudah menunggu. Mereka harus mengambil air, membersihkan rumah, dan mencuci baju.2
b. Membantu suami dalam mencari nafkah/bekerja
Pada umumnya masyarakat berpendapat bahwa tempat perempuan di rumah. Perempuan bukanlah pencari nafkah karena yang mencari nafkah adalah laki-laki atau suami. Walaupun perempuan bekerja dan memperoleh penghasilan yang memadai, ia tetap berstatus “membantu suami”. Dalam hal ini perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga saja , tetapi juga ikut serta mencari nafkah. Bahkan banyak keluarga yang hidupnya tertumpu pada hasil keringat perempuan.3 Perempuan sesungguhnya merupakan sumber daya ekonomi yang tak kalah penting dibandingkan dengan pria.
Keberadaan perempuan dalam rumah tangga bukan sekedar sebagai pelengkap fungsi reproduksi saja, namun lebih dari itu terbukti memberikan sumbangan yang besar bagi kelangsungan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga serta masyarakat. Sekurang-kurangnya ada dua tolak ukur yang memperlihatkan fungsi dan arti penting perempuan. Pertama, kesediaan perempuan melaksanakan tugas-tugas domestik rumah tangga. Harus diakui bahwa hanya karena kesediaan
2 Netta R. Wolfman, Peran Kaum Wanita, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 5.
3 Mayling Oey Grdiner Dkk, Perempuan Dulu dan Kini, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
1996), 234.
perempuan melaksanakan tugas-tugas domestik yang menyebabkan anggota keluarga lain khususnya suami dapat mencari nafkah dan melakukan aktivitas ekonomi yang lebih potensial. Kedua, dapat ditunjukkan dari makin meningkatnya keterlibatan atau tingkat partisipasi kerja perempuan.4
Dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, maka peran perempuan mengalami perkembangan yang cukup cepat.
Namun perlu dicermati bahwa perkembangan perempuan tidaklah
“mengubah” peranannya yang “lama” yaitu peranan dalam lingkup rumah tangga (peran reproduktif). Maka dari itu, perkembangan peranan perempuan ini sifatnya menambah, dan umumnya perempuan mengerjakan peranan sekaligus untuk memenuhi tuntutan pembangunan. Untuk itulah maka beban kerja perempuan terkesan berlebihan. Karena adanya anggapan bahwa kaum perempuan bersifat memelihara, rajin dan tidak akan menjadi kepala rumah tangga.
Tanggungjawab di rumah tangga, tidak serta merta membebaskan perempuan mencari nafkah karena kebutuhan ekonomi yang mendesak dan dengan alasan membantu suami para perempuan ikut berpartisipasi dalam bekerja. Anggapan bahwa mencari nafkah utama adalah laki-laki, mengakibatkan pekerjaan yang dilakukan perempuan dianggap sebagai pekerjaan sampingan setelah pekerjaan di rumah
4 Bagong Suyanto dan Emy Susanti Hendrarso, Wanita Dari Subordinasi Dan Marginalisasi Menuju Ke Pemberdayaan, (Surabaya; Airlangga University Press, 1996), 47.
tangga. Perempuan yang bekerja di luar rumah haruslah seizin suami, jadi meskipun ia ingin bekerja di luar rumah, jika suaminya tidak mengizinkan maka dia tidak akan bekerja.5 Selain hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang istri sebagai pemandu rumah tangga seorang istri masih mempunyai tugas juga untuk membantu suami dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya, misalnya di ladang, demikian pula menjahit, membatik. Bahkan ada pula seorang istri atau ibu rumah tangga ada yang menambah pendapatan keluarga dengan usaha dengan kecil-kecilan, bekerja pada orang, bekerja pada suatu perusahaan sebagai karyawan maupun bekerja di suatu instansi sebagai guru, dosen dan lain sebagainya.6 Perempuan yang bekerja merupakan salah satu bentuk mobilitas sosial perempuan. Mobilitas sosial yang dilakukan berdasarkan kemampuan dan potensi baik secara pendidikan maupun kemandirian belum mencapai presentase yang sama dengan laki-laki. Umumnya mobilitas sosial perempuan masih mengikuti pola tradisional. Di lain pihak perempuan yang bekerja untuk menopang penghasilan keluarga memiliki beban kerja uang sangat berat, karena di samping bekerja di sektor formal ataupun informal masih harus menyelesaikan domestik tanpa bantuan dan campur tangan lelaki. Selain harus bekerja domestik, mereka harus bekerja mencari nafkah.7
5 Linda Dwi Eriyanti, Perempuan Buruh Perkebunan, (Deka Publishing, 2013), 108.
6 Hardjito Notopuro, Peranan Wanita Dalam Masa Pembangunan Di Indonesia, 45.
7 Trisakti Handayani, Sugiarti, Konsep dan Teknik Penelitian Gender, (Malang: UMM Pres, 2002), 13.
Islam telah menjamin hak perempuan untuk bekerja sesuai dengan tabiatnya dan aturan-aturan syari‟at dengan tujuan untuk menjaga kepribadian dan kehormatan perempuan. Meskipun demikian, istri harus memiliki keyakinan bahwa yang utama dengan perempuan polisi, dosen, dan lain-lain.8
2. Dasar Hukum Perempuan Bekerja
Islam adalah agama yang menghargai kerja, ketekunan dan kerja keras. Sebagai khalifah di muka bumi, maka manusia sangat dianjurkan untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan. Sejarah perjalanan Rasulullah telah membuktikan adanya partisipasi kaum perempuan dalam peperangan, dengan tugas mengurus masalah pengobatan, menyediakan alat-alat, dan mengangkut prajurit yang terluka. Selain itu, telah terbukti bahwa terdapat sebagian perempuan yang menyibukkan diri dalam perniagaan dan membantu suami dalam mencari nafkah. Islam membatasi hak-hak perempuan bekerja sesuai dengan tabiat dan kodrat kewanitaannya, seperti menjadi guru, perawat, dokter, psikiater, yang menghargai kerja, ketekunan dan kerja keras. Sebagai khalifah dimuka bumi, maka manusia sangat dianjurkan untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan. Dalam Al-Qur‟an surah At-Taubah ayat 105, dijelaskan:
8 Husein Syahatan, Ekonomi Rumah Tangga, (Jakarta: GEMA INSANI PRESS, 1998), 64-65.
Artinya: “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. At-Taubah: 105)9
Dari ayat di atas dijelaskan bahwasanya dalam Islam dianjurkan untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak ada perbedaan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan dalam bekerja hanya saja ada batasan-batasan perempuan bekerja karena seorang perempuan masih memiliki tanggungan untuk mengurus rumah tangganya perempuan dalam hal bekerja hanya membantu suaminya dalam mencari nafkah.
Semua umat Islam mempunyai hak untuk bekerja dan mendapatkan laba dari usahanya. Islam telah memberikan hak untuk melakukan pekerjaan yang halal bagi setiap individu asalkan memenuhi persyaratan baik laki-laki maupun wanita berhak atas hasil dari apa yang ia kerjakan.
Pada dasarnya laki-laki dan perempuan, mempunyai kedudukan yang sama. Artinya, bahwa laki-laki boleh bekerja dan perempuan juga boleh bekerja. Kalau laki-laki bekerja tidak terlalu banyak permasalahan yang muncul, karena memang laki-laki mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah. Paling tidak persyaratan yang harus diperhatikan oleh
9Al-Qur’an, 203.
laki-laki dalam pekerjaan adalah bahwa pekerjaan itu dibolehkan oleh syara‟ (aturan Allah dan Rasul-Nya) dan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami.
Sedangkan bagi perempuan yang bekerja di luar rumah (berkarir) masih terjadi perbedaan pendapat antara satu dengan yang lainnya (pro- kontra). Pro kontra tersebut, antara lain:10
a. Perempuan Karir Yang Tidak Terikat Dengan Tali Perkawinan
Bagi seorang perempuan karir yang belum menikah atau pernah menikah tetapi cerai atau talak maka diperbolehkan bekerja di luar rumah (sebagai wanita karir) dengan syarat pekerjaan itu diperbolehkan oleh syara‟ dan juga sesuai dengan harkat dan martabat seorang wanita. Misalnya berkarir menjadi seorang guru, bidan, perawat, pedagang. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena ayahnya meninggal dunia, atau menjadi guru untuk mencerdaskan putra-putri bangsa dan negara dan sebagainya.
Akan tetapi, ketika pekerjaan yang dilakukannya itu bertentangan dengan syara‟ atau bertentangan dengan harkat dan martabat kewanitaannya, misalnya berkarir sebagai wanita penghibur, penari dibar dengan membuka aurat dan membangkitkan nafsu birahi penghuninya, maka karir yang demikian adalah dilarang atau haram hukumnya.
10 Sri Lum‟atus Sa‟adah, Wanita Karir, 135.
b. Karir Yang Terikat Dengan Tali Perkawinan
Bagi seorang istri yang menginginkan dirinya bekerja mencari nafkah di luar rumah (wanita karir) diperbolehkan dengan syarat sebagai berikut:11
1) Jenis pekerjaan yang sesuai dengan ketentuan syara‟ dan sejalan dengan harkat dan martabat kewanitaannya.
2) Suaminya tidak mampu lagi untuk mencari nafkah. Ini berarti bahwa seorang suami tidak mampu lagi untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sementara itu kebutuhan keluarga harus tetap terpenuhi atau tercukupi.
3) Kebutuhan keluarga meningkat, artinya ketika suami sudah bekerja tetapi penghasilan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan keluarganya (kurang sekali), misalnya penghasilan tiap harinya Rp 3.000.000 sedangkan kebutuhan keluarga tiap hari Rp 10.000.000, maka posisi istri dalam hal ini diperbolehkan bekerja dengan maksud untuk menyelamatkan keluarga dari transaksi hutang.
4) Mendapat izin dari suaminya, artinya semua kegiatan yang terjadi di dalam keluarga merupakan tanggung jawab suami. Termasuk dalam hal ini adalah urusan pekerjaan (mencari nafkah) merupakan tanggung jawab suami.
11 Sri Lum‟atus Sa‟adah, Wanita Karir, 136-137.
5) Istri tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga (misalnya memberikan kasih sayang kepada suami dan anak-anak, menyusui dan lain sebagainya). Artinya ketika istri bekerja (sebagai wanita karir) maka sang istri tidak boleh meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.
Kewajiban istri, selain taat kepada suami, adalah berhias dan mempercantik diri untuk kepentingan suami sehingga suami merasa gembira serta tidak mengajaknya untuk melakukan dosa. Istri harus dapat memelihara dan menjaga rumah, baik ketika suami bepergian maupun ketika berada di rumah sebab istri adalah penjaga harta suaminya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas pemeliharaanya.
Oleh karena itu, keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja, tanpa adanya kepentingan, dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengurangi hak berumah tangga dan hak suami. Sesungguhnya Allah telah menciptakan wanita hanya untuk menjadi istri bagi suaminy, yang diantara keduanya diikat oleh tali penghubung berdasarkan rasa kasih dan sayang. Oleh karena itu, seorang istri di tuntut agar dapat melayani suaminya, menggaulinya dengan baik, dan mentaati kecuali dalam perbuatan maksiat, bahkan untuk berjimak sekalipun.12
3. Hak dan Kewajiban Perempuan
Adapun hak-hak kaum perempuan (istri) dalam keluarga adalah sebagai berikut:
12 Husen Syahatan, Ekonomi Rumah Tangga, 130-131
a. Hak untuk mendapatkan mahar
Mahar adalah nama sesuatu benda yang wajib diberikan oleh seorang pria terhadap wanita yang disebut dalam akad nikah sebagai pernyataan persetujuan antara pria dan wanita itu untuk hidup bersama sebagai suami istri.
b. Hak untuk mendapatkan nafkah
Nafkah menurut bahasa adalah keluar dan pergi. Sedangkan menurut istilah adalah pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh orang yang wajib memberi nafkah pada seseorang.
Dalam pengertian di atas dijelaskan bahwasanya nafkah adalah suatu yang diberikan oleh seorang suami kepada istriya, sebagai bentuk tanggung jawab dalam melakukan pernikahan.
c. Hak menerima warisan
Pentingnya kesejahteraan wanita dalam Islam ditunjukkan dengan kebahasaannya mereka untuk mewarisi. Berkaitan dengan hak waris bagi seorang perempuan dalam Islam menetapkan waris perempuan adalah setengah dari bagian laki-laki.
d. Hak mendapatkan perlakukan yang baik ( Mu’asyarah Bi al Ma’ruf) Mua’syarah berasal dari usyrah, yang secara literal berarti keluarga, kerabat, teman dekat. Dalam hal ini dapat dikatakan mua’syarah adalah suatu pertemanan, kekerabatan, dan
kekeluargaan.13 Sesuai dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 34
Artinya: “Oleh sebab itu, perempuan yang saleh ialah yang patuh dengan ketulusan hati kepada Allah dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka”(Qs. An Nisa: 34)14
Adapun kewajiban istri dalam keluarga diantaranya:15 1) Kewajiban menjaga kehormatan diri dan keluarga
Dalam al-Qur‟an surat an Nisa ayat 34 tersebut di atas juga diterangkan bahwa istri wajib memelihara diri dibelakang suami terutama ketika si suami ketika bepergian, dan si istri jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kecurigaan suami sehingga suami tidak tenang perasaannya dalam bepergian.
2) Kewajiban mengatur rumah tangga
Hukum Islam bersifat toleran dalam menetapkan bahwa suami dan istri harus bekerja sama dalam manajemen kehidupan keluarga sehari-hari. Dalam sunnah telah diikrarkan tentang pembagian tugas untuk suami istri sebagaimana yang dikehendaki oleh fitrah.
13Ibid; 11-44.
14Al-Qur’an, 84.
15 Sri Lum‟atus Sa‟adah, Wanita Karir, 44-53.
3) Kewajiban mendidik dan merawat anak
Selain kewajiban istri sebagai pengatur rumah tangga, maka seorang istri sebagai ibu juga berkewajiban mendidik dan merawat (mengasuh) anak-anaknya.
Islam memandang posisi seorang perempuan dalam peranannya sebagai seorang ibu adalah posisi yang paling penting.
Dalam beberapa ayat al-Qur‟an, Allah SWT memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Hak dan kewajiban yang melekat pada seorang istri dalam rumah tangga. Kita melihat bahwa munculnya kewajiban itu sendiri. Dengan kata lain hak dan kewajiban itu adalah saling melekat dan melengkapinya. Oleh karena itu, hak dan kewajiban seorang istri dalam rumah tangga tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dan juga tidak dapat digantikan oleh yang lainnya.
4. Peran Perempuan Dalam Perekonomian Keluarga
Keterlibatan perempuan di sektor pasar kerja (sektor publik) merupakan tuntutan pembangunan dan hal yang tidak dapat dipungkiri lagi dalam modernisasi. Tanpa keterlibatan itu sulit bagi kaum perempuan untuk merubah dan memperbaiki nasib dan memperbaiki kualitas hidup. Keterlibatan dalam pasar kerja diharapkan secara lambat laun dapat memperbaiki status perempuan. Di dalam dunia kerja memungkinkan perempuan untuk memperbaiki keterampilan mutu kehidupan ketimbang tetap bertahan di sektor domestik. Pembangunan
dan modernisasi membuka kesempatan bagi kaum perempuan untuk memasuki sektor publik (modern) untuk mendapatkan upah. Peluang itu dapat membantu kaum perempuan keluar dari kungkungan sektor domestik atau sektor tradisional (pertanian) biasanya bekerja untuk keluarga tanpa upah. 16
Peluang kerja upahan sektor modern membuka kemungkinan bagi kaum perempuan untuk menentukan pilihan-pilihan yang baik dalam upaya mengembangkan diri serta memperbaiki kondisi kehidupan antara lain dengan meningkatkan pendidikan dan keterampilan. Peluang kerja yang tersedia bagi perempuan adalah pekerjaan-pekerjaan tidak menuntut pendidikan dan keterampilan. Justru, industri-industri merekrut pekerja perempuan dari pedesaan kurang berpendidikan kebanyakan berasal dari keluarga miskin.
Dengan adanya peluang keterlibatannya kaum perempuan di pasar kerja untuk mendapatkan upah. Dengan demikian mereka memberikan pembangunan ekonomi. Dalam hal ini berakar pada teori ekspansi kapitalis (imperialis) yang dibangun dari sejarah industri negara maju. Kaum perempuan di Negara berkembang dimanfaatkan sebagai pekerja pabrik yang memang dibutuhkan pekerjaan yang tidak bisa digantikan dengan mesin. Tanpa mengecilkan arti sumbangan dari sektor yang lain dapat dikatakan bahwa keterlibatan perempuan di pasar kerja telah memberikan sumbangan dalam meningkatkan perekonomian.
16 Nursyahbani, Dkk, Potret Perempuan (Tinjauan Politik, Ekonomi, Hukum Dizaman Orde Baru),
(Yogyakarta: Pusat Studi Wanita, 2001), 47-49..
Pemanfataan sumber daya manusia perempuan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi juga dapat dicermati dari strategi pengaruh tenaga kerja perempuan untuk memasuki pasar kerja internasional.
Perempuan cenderung diletakkan sebagai bagian dari alat produksi dalam upaya proses akumulasi modal. Keterlibatan perempuan di pasar kerja hanya bagian dari strategi untuk membantu memicu pertumbuhan ekonomi. Potensi sumber daya perempuan yang cukup besar dimanfaatkan untuk menarik investor menanamkan modalnya, peluang perempuan untuk memasuki sektor publik (pekerja pabrik) terbuka lebar.17
Dari pernyataan di atas dapat dilihat bahwasanya peran perempuan dalam meningkatkan perekonomian sangat terbuka lebar di sektor publik, perempuan juga sangat berpengaruh besar dalam meningkatkan perekonomian terutama di dalam keluarganya sendiri dalam rangka membantu suaminya. Perempuan-perempuan disini memiliki kesempatan yang besar dalam berkontribusi di sektor publik untuk memanfaatkan kemampuan dan keterampilannnya yang dimilki.
5. Kesejahteraan Keluarga
Kesejahteraan adalah suatu keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram. Sedangkan kesejahteraan keluarga adalah yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spritual maupun materi yang layak.
17 Nursyahbani, Dkk, Potret Perempuan (Tinjauan Politik, Ekonomi, Hukum Dizaman Orde Baru),
47-50.
a. Pengertian Kesejahteraan
1. Kesejahteraan adalah mencakup tidak hanya pemenuhan kebutuhan pokok tetapi juga keseluruhan aspek kualitas hidup manusia. Setidaknya terdapat tiga elemen kunci untuk memaknai kesejahteraan: (1) Kesejahteraan tidak sekedar pendapatan ekonomi, (2) kesejahteraan menekankan pada aspek sosial atau umum sebagai lawan pendekatan indivudualisme, (3) kesejahteraan merupakan sistem yang integrasi dengan kebijakan- kebijakan lainnya atau tidak berdiri sendiri.18
2. Kesejahteraan masyarakat adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan dasar tercermin dari rumah yang layak, tercukupinya kebutuhan sandang, dan pangan, biaya pendidikan dan kesehatan yang murah dan berkualitas atau kondisi dimana setiap individu mampu memaksimalkan utilitasnya pada tingkat batas anggaran tertentu dan kondisi dimana tercukupinya kebutuhan jasmani dan rohani.19 3. Kesejahteraan masyarakat menunjukkan ukuran hasil
pembangunan masyarakat dalam mencapai kehidupan yang lebih baik meliputi; a) peningkatan kemampuan dan pemerataan distribusi kebutuhan dasar seperti makanan, b) peningkatan tingkat kehidupan, tingkat pendapatan, pendidikan lebih baik, dan peningkatan atensi terhadap budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,
18M. Dawam Raharjo, Transformasi Kesejahteraan (Pemenuhan Hak Ekonomi Dan Kesehatan Semesta), (Jakarta: LP3ES, 2016), 1.
19 Menurut Suryanto Di Buku Karangan Adi Fahruddin, Pengantar Kesejahteraan Sosial (Bandung:
PT Refika Aditama, 2012), 10.
dan c) memperluas skala ekonomi dan ketersediaan pilihan sosial dari individu dan bangsa.
4. Kesejahteraan masyarakat adalah kondisi ekonomi yang baik karena berlakunya aturan dalam perekonomian yang mengatur aktivitas dari semua pihak dan pembagian pendapatan masyarakat sebagian hasil kegiatan ekonomi tersebut.
5. Kesejahteraan masyarakat adalah jumlah dari pilihan yang dimiliki masyarakat dan kebebasan untuk memilih diantara pilihan-pilihan tersebut dan akan maksimum apabila masyarakat dapat membaca, makan, dan memberikan hak suaranya.
6. Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.20
7. Kesejahteraan sosial didefinisikan sebagai kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dari segi sosial melalui pemberian bantuan kepada orang yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan didalam beberapa bidang seperti kehidupan keluarga dan anak, kesehatan, penyesuaian, sosial, waktu senggang, standar-standar kehidupan, dan hubungan-hubungan sosial.21
20 Adi Fahrudin Nugroho, Pengantar Kesejahteraan Sosial, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012),
10.
21T Sumarno Nugroho, Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial , (Yogyakarta: PT. Hanindita, 1987), 28-31.
8. Kesejahteraan adalah maslahah yaitu memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Dalam aktivitas produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyertakan kemaslahatan.22
9. Peneliti menekankan pada terpenuhinya kebutuhan dasar tercermin dari rumah yang layak, tercukupinya kebutuhan sandang, dan pangan, biaya pendidikan dan kesehatan yang murah dan berkualitas atau kondisi dimana setiap individu mampu memaksimalkan utilitasnya pada tingkat batas anggaran tertentu dan kondisi dimana tercukupinya kebutuhan jasmani dan rohani.
Dengan alasan karena peneliti melihat kehidupan para pekerja Gudang Tembakau Pengola S.K PTPN X Kebun Kertosari Ajung Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember kebutuhan sandang pangannya terpenuhi, pendidikan sudah semakin meningkat walaupun masih minim yang melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi, masalah kesehatan para pekerja juga lambat laun teratasi dan kebutuhannya sedikit demi sedikit terpenuhi.
b. Model kesejahteraan keluarga
Model ini dikembangkan oleh BKKBN untuk memetakan tahapan keluarga sejahtera, dengan pengertian dan indikator yang ditentukan sebagai berikut:23
22Nur Chamid, Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2010), 284.
23M. Arif Mufraini, Akuntansi Dan Manajemen Zakat (Mengkomunikasikan Kesadaran Dan Membangun Jaringan), (Jakarta: KENCANA, 2006), 188-190.