• Tidak ada hasil yang ditemukan

نَم مُكيرَخ «

B. Kajian Teori

1. Metode Pembelajaran Al-Qur’an

a. Pengertian Metode Pembelajaran Al-Qur’an

Komponen yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya untuk menciptakan proses belajar mengajar yang lebih optimal maka diperlukan seperti: tujuan pembelajaran, bahan ajar, metode, alat, dan evaluasi.21

Metode pembelajaran adalah cara kerja yang bersistem untuk mempermudah terjadinya proses pembelajaran sehingga kompetensi dan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara semestinya. Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh seorang pendidik untuk mengimplementasikan rencana yang telah tersusun dalam bentuk

21 Andi Prasetyo, Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tematik terpadu, (Jakarta: Prenademedia Group, 2015), 240.

kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh peserta didik.22

Beragam metode pembelajaran digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar, pembelajaran al-quran khususnya. Dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kemampuan membaca al-quran peserta didik agar sesuai dengan kaidah yang ada. Salah satu dari sekian banyak metode tersebut antara lain adalah metode al-baghdadiyah, metode qiro’ati, metode iqro’, metode tilawati, metode ummi, metode yanbu’a, dan metode bil qolam.

Metode belajar al-quran yang beragam ini kemudian dipakai dan diterapkan di berbagai daerah tanah air bahkan luar negeri. Sebuah metode pembelajaran al-quran pada umumnya berupa materi panduan, namun untuk mengetahui apakah metode tersebut dijalankan dengan baik dan memberikan pengaruh kepada santri harus dilakukan serangakaian test untuk mengujinya, dan dari hasil pengujian tersebut dapat diperoleh gambaran sejauh mana metode tersebut memberikan pengaruh kepada santri.

b. Macam Metode Pembelajaran Al-Quran 1) Metode Baghdadiyah

Metode yang pertama muncul dan berkembang di Indonesia yang tersusun (tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses ulang atau lebih kita

22 Sukarno, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Surabaya : Elkaf, 2012), 86.

kenal dengan sebutan metode alif, ba’, ta’.23 Buku metode ini hanya terdiri dari satu jilid dan biasa dikenal dengan sebutan al-quran kecil.

Metode ini diterapkan oleh para ustadz atau kiyai di mushola, masjid, rumah-rumah dengan metode yang tradisional.

Kelebihan metode baghdadiyah antara lain yakni Santri akan mudah dalam belajar karena santri sudah hafal huruf-huruf hijaiyah sebelum diberikan materi, selain itu santri yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak menunggu orang lain.

Kekurangan metode baghdadiyah antara lain yaitu membutuhkan waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah dahulu dan harus dieja, Santri kurang aktif karena harus mengikuti ustadz- ustadznya dalam membaca, kurang variatif karena menggunakan satu jilid saja.

2) Metode Qiro’ati

Metode qiroati adalah salah satu metode pembelajaran al-qur’an yang praktis yang dikenalkan dan dipopulerkan oleh KH. Dahlan Salim Zarkasyi pada tahun 1963 di Semarang. Pada awalnya terdapat 10 jilid kemudian diringkas menjadi 6 jilid untuk usia TK, 4 jilid untuk SD, 3 jilid untuk usia SMP/SMA. Dan 2 jilid untuk usia mahasantri. Metode qiroati dalam praktiknya langsung memasukkan

23 Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, (Jakarta:Pustaka Alfabet, 2005), 392.

dan mempraktekkan bacaan al-qur’an sesuai tartil, sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam ilmu tajwid.24

Kelebihan metode qiroati antara lain yaitu praktis, mudah dipahami, dan dilaksanakan oleh murid. Selain itu dalam metode ini terdapat prinsif untuk Ustadzah dan murid. Murid aktif dalam belajar membaca, ustadzah hanya menjelaskan pokok pembahasan dan memberikan contoh. Walaupun murid belum mengenal tajwid tetapi sudah membaca al-qur’an secara tajwid karena belajar ilmu tajwid.

Pada metode ini setelah khatam meneruskan lagi bacaan ghorib. Jika murid sudah lulus jilid VI beserta ghoribnya, maka dites bacaannya kemudian santri mendapat syahadah jika lulus test.

Kekurangan metode qiroati antara lain yaitu murid tidak bisa membaca dengan mengeja. Selain itu murid kurang menguasai huruf hijaiyah secara urut dan lengkap. Bagi murid yang tidak aktif akan semakin tertinggal. Bagi murid yang tidak lancar lulusannya juga agak lama karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh bulan dan tahun.

3) Metode Iqro’

Metode iqro’ adalah suatu metode membaca al-qur'an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid di mulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna. Dalam prakteknya

24 Imam Murjito. Pedoman Metode Praktis Pengajaran Ilmu Al-Quran Qiroati, (Semarang : Raudhatul Mujawwidin, 2000), 9.

tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca huruf al-quran dengan fasih). Bacaan langsung tanpa dieja. Metode iqro’ ini disusun oleh Ustadz As’ad Human yang berdomisili di Yogyakarta. 25

Kelebihan metode iqro’ antara lain yaitu menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santri yang dituntut aktif.

Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilidnya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).

Selain itu komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan sanjungan/pujian, perhatian dan penghargaan. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sistem tadarrus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.

Kekurangan metode iqro’ antara lain yaitu bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan sejak dini. Selain itu. tidak ada media belajar dan tidak dianjurkan menggunakan irama murottal.

4) Metode Tilawati

Metode Tilawati dalam pembelajaran membaca al-quran yaitu suatu metode atau cara belajar membaca al-quran dengan ciri khas menggunakan beberapa lagu, namun pada umumnya lagu yang digunakan adalah lagu rost dan menggunakan pendekatan yang

25 As’ad Humam. Buku Iqro. (Balai Litbang LPTQ Yogyakarta: Nasional Team Tadarus “AMM

”, 1990)

seimbang antara pembiasaan melalui klasikal dan kebenaran membaca melalui individual dengan tehnik baca simak.26

Kelebihan metode tilawati antara lain yaitu adanya alat-alat penunjang pembelajaran al-quran metode tilawati dilengkapi dengan beberapa media pembelajaran yang efisien dan efektif. Dilengkapi dengan lantunan lagu rost dari jilid 1-6 dan menggunakan lagu nahawan untuk pengembangan. Media pembelajarn berupa peraga tilawati mulai jilid 1-6. Dilengkapi dengn kaset pembelajaran jilid 1-6.

Menerapkan strategi belajar klasikal-individual secara seimbang dan proposional, sehingga KBM lebih efisien, dan pengelolaan siswa menjadi lebih baik.

Kekurangan metode tilawati antara lain yaitu bagi guru yang akan menggunakan metode ini harus mengikuti pelatihan dan membaca tartil. Selain itu, dengan pendekatan irama lagu rost yang digunakan dalam metode ini dikhawatirkan tidak terjaga secara intensif. Pada huruf-huruf yang pelafalannya agak sulit tidak boleh menggunakan pendekatan, jadi sejak awal siswa harus bisa melafalkan huruf dengan baik, benar dan fasih. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca al-quran, karena harus dengan tilawah sekaligus.

5) Metode Ummi

Metode ummi adalah sebuah metode atau cara praktis membaca al- quran dengan baik dan benar. Dasar metode ummi adalah direct

26 Hasan Abdurrahim, Dkk. Strategi Pembelajaran Al-Quran Metode Tilawati, (Surabaya : Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah, 2010), 9.

method (metode langsung tidak banyak penjelasan), repeatation (diulang-ulang) dan kasih sayang tulus.27

Kelebihan metode ummi antara lain yaitu memiliki nada yang khas dalam pembelajaran al-qurannya. Selain itu, mudah, menyenangkan, dan menyentuh hati karna metode pembelajaran seperti pendekatan ibu. Sistem pembelajarannya berjenjang dengan baik, tidak asal- asalan, dan juga Sertifikasi guru.

Kekurangan metode ummi antara lain yaitu buku jilid pembelajarannya terlalu banyak ada 8 jilid. Waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama dalam pembelajarannya. Buku metode ummi tidak dijual bebas.

6) Metode Yanbu’a

Metode ini merupakan rumusan para kiai al-quran yang merupakan tokoh pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an putra K.H. Arwani Amin Al-Kudsy (Alm) yang bernama: K.H. Agus M. Ulin Nuha Arwani, K.H. Ulil Albab Arwani dan K.H. M. Manshur Maskan (Alm). Keistimewaan metode ini terletak pada sanadnya yang bersambung kepada para ahli al-quran dan huffazh yang berguru pada Kiai Arwani Kudus dan karenanya memiliki sanad keilmuan hingga Nabi Muhammad Saw.

Awalnya, pembuatan metode ini diawali dorongan para alumni agar memiliki ikatan kedekatan pada Pesantren Tahfidz Yanbu’ul

27 Masruri and Yusuf, Metode Ummi Belajar Mudah Membaca A-Quran, (Surabaya: Lembaga Ummi Foundation, 2007 ), 40.

Qur’an. Yanbu’a yang berati sumber yang mengambil dari kata Yanbu’ul Qur’an yang berarti sumber al-quran, nama yang sangat di gemari oleh seorang guru besar al-quran Al Muqri’ simbah KH. M.

Arwani Amin, 7 yang silsilah keturunanya sampai pada Pangeran Diponegoro. (M. Sya’roni Ahmadi dalam sambutan sesepuh, Yanbu’a Jilid 1).28

Mulai terbit awal 2004 dan terdiri dari 6 jilid materi utama disusul buku pegangan pengajar dan buku materi hafalan, metode ini menekankan penggunaan Mushaf Rasm Usmani ala Timur Tengah yang banyak dipakai di negara-negara Islam.

Kelebihan metode yanbu’a antara lain yaitu tidak hanya metode baca tulis tetapi juga menghafal bagi peserta didik. Metode yanbu’a menggunakan tulisan Rosm Usmany. Contoh-contoh huruf yang sudah digandeng semuanya berasal dari al-quran. Terdapat materi menulis arab jawa pegon. Terdapat tanda-tanda yang menunjukan materi pokok pembelajaran. Tidak sembarangan orang bisa mengajarkannya, harus orang yang sudah mendapatkan izin atau rekomendasi dari gurunya. Metode ini menekankan pada pembelajaran makhorijul huruf yang berbeda dengan metode lain, terletak pada pelafalannya dan keluarnya huruf pada bibir.

28 Arwani and Nuha. Thoriqoh Baca Tulis dan Menghafal Al-Qur`an Yanbua, (Kudus: Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an Kudus), 2004.

Kekurangan metode yanbu’a yaitu kurangnya pembinaan bagi para guru. Kurang ketatnya aturan terhadap siapa saja yang diperbolehkan mengajar.

2. Metode Bil Qolam

a. Sejarah Metode Bil Qolam

Kata Bil Qolam diambil dari firman Allah SWT dalam surat al-

’Alaq ayat 3-4 :

















Bil qolam adalah sebuah metode buku panduan praktis belajar membaca al-quran dengan susunan kata-kata Arabi yang dimulai dengan mengenalkan bunyi huruf mulai dari satu huruf, dua huruf, dan tiga huruf sampai pada satu kata bahkan satu ayat, dengan menggunakan instrumen empat lagu khas Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) Singosari, kota Malang dengan menggunakan metode Jibril yang selanjutnya lebih dikenal dengan metode PIQ.29

Berawal dari usulan KH Mudatsir dari Madura kepada KH Basori Alwi Singosari Malang, yang pada saat itu di pondok Pesantren KH Mudatsir telah menggunakan salah satu buku pembelajaran al-quran, namun isinya (maddah) nya belum menggunakan istilah kata bahasa arab seperti مَتَم. Akhirnya, KH. Mudatsir meminta kepada KH. Basori Alwi untuk membuat dan menyusun buku panduan belajar praktis

29 Tim Bil Qolam, Bil Qolam Al-Musamma Metode Praktis Belajar Al-Quran, (Aula Pustaka : Malang. 2014), 1.

membaca al-quran yang kata-katanya menggunakan bahasa arab.

Akhirnya terbitlah buku metode bil qolam yang disusun oleh tim yang terdiri dari santri-santri senior pada masa itu.

Selanjutnya, atas permintaan dan dorongan dari berbagai pihak, terutama dari para alumni senior yang konsis menggunakan buku bil qolam ini agar buku bil qolam juga bisa berkembang dan dapat tersebar lebih luas lagi di seluruh lapisan masyarakat. Serta dapat digunakan pula di lembaga-lembaga formal seperti; SD/MI, SMP/MTS, MA/SMA bahkan tingkat perguruan tinggi. Begitu pula metode bil qolam dapat digunakan di lembaga non formal, yaitu: Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) dan untuk orang tua/usia lanjut.

Sehingga buku metode bil qolam ini terus dikembangkan dan disempurnakan dengan harapan buku ini dengan mudah dapat digunakan oleh masyarakat luas terutama pecinta al-quran dan para pengajar/ guru al qur’an.

b. Tahap Metode Bil Qolam 1) Perencanaan pembelajaran

Perencanaan merupakan keselurahan proses pemikiran dan penentuan semua aktifitas yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Definisi lain dari perencanaan yaitu kegiatan yang meliputi: pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan

pembelajaran dan penentuan strategi kebijakan, program, prosedur, metode, dan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.30

Dalam proses manajerial perencanaan atau biasa disebut dengan planning selalu diletakkan pada posisi yang utama, karena perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang akan dilaksanakan.31

a) Karakteristik Metode

Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari demografi seperti jenis kelamin, umur serta status sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya. Karakteristik inilah yang membedakan metode bil qolam dengan metode belajar al-quran lainnya. Karateristik atau ciri khas metode bil qolam yakni :32

(1) Menirukan atau talqin, yaitu murid menirukan bacaan gurunya. Dengan demikian metode bil qolam bersifat teacher centris, dimana guru adalah sumber belajar atau pusat informasi dalam proses pembelajaran.

30 Sugeng Listyo Prabowo, Perencanaan Pembelajaran (Malang:UIN Maliki Press, 2010), 1.

31 Bahar Agus Setiawan, Transformational Leadership: Ilustrasi di Bidang Organisasi Pendidikan (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013).

32 Moch Dzulfikar Arif, Anwar Sadullah, Adi Sudrajat, Penerapan Metode Bil Qolam Dalam Pembelajaran Al Quran Di SMAI Al Maarif Singosari Malang, Jurnal Pendidikan Islam, Vol 6 No 5 2021.

(2) Sistem klasikal penuh dengan rasio 1:1:15 (1 kelas 1 guru 15 murid). Menggunakan lagu tartil 4 nada lagu rost (khas PIQ/KH.M. Basori Alwi)

(3) Cara belajar menyenangkan karena secara penuh metode bil qolam mengguanakan lagu.

(4) Evaluasi tersetruktur dan terencana.

(5) Pembinaan guru lewat tahsin tilawah dan TOT yang bekelanjutan.

(6) Pendampingan oleh tim quality control sampai pasca wisuda.

(7) Santri maupun calon guru yang sudah khatam diarahkan pada program Tahfidz Al-Qur’an, Qiro’ah bi Attaghoni., Penguasaan bahasa arab dan nahwu, Penguasaan kitab kuning.

b) Jenjang Metode

Pada dasarnya, klasifikasi jenjang pembelajaran yang ditentukan di sebuah Lembaga Pendidikan bersifat kondisional dan institusional (bergantung pada keadaan dan kebijakan lembaga). Namun secara umum, jenjang pendidikan yang digunakan dalam penerapan metode bil qolam untuk murid terbagi menjadi empat macam, yaitu: Bil Qolam Jilid I, Bil Qolam Jilid II, Bil Qolam Jilid III, Bil Qolam Jilid IV. Setelah khatam buku bil qolam dilanjutkan dengan metode lanjutan juz 30 dan masuk pada al-quran.

Berbeda dengan murid, untuk calon guru dalam pembinaan metode bil qolam dimulai dari permulaan yakni kelas tahqiq, kemudian buku metode bil qolam jilid 1-4 setelah itu menyelesaikan al-quran 30 juz. Pada jenjang tahqiq membutuhkan sekitar 4-6 bulan. Sedangkan untuk mengkhatamkan empat jilid metode bil qolam yaitu delapan bulan.

Kemudian dilanjutkan ke jenjang brikutnya yaitu metode lanjutan juz 30 dan masuk pada al-quran. Dalam metode lanjutan ini waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan al-quran yaitu sepuluh bulan sampai satu tahun. Sehingga dalam keseluruhan penyelesaian jenjang metode bil qolam memerlukan waktu maksimal dua tahun.

c) Target Metode

Ruang lingkup pengajaran al-quran yang lebih banyak berisi pengajaran keterampilan khusus yang memerlukan banyak latihan dan pembiasaan.Berikut ini isi pengajaran al-quran meliputi sebagai berikut:

(1) Pengenalan huruf hijaiyah, yaitu huruf-huruf Arab dari Alif sampai dengan Ya.

(2) Cara membunyikan masing-masing huruf hijaiyah dan sifat- sifat huruf itu, dibicarakan dalam ilmu Makhraj.

(3) Bentuk dan fungsi tanda baca, seperti syakal, syaddah, tanda panjang (mad), tanwin dan sebagainya.

(4) Bentuk dan fungsi tanda baca berhenti baca (waqaf), seperti waqaf mutlak, waqaf jawaz dan sebagainya.

(5) Cara membaca, melagukan dengan bermacam-macam irama dan bermacam-macam qiraat yang dimuat dalam ilmu qira’at.

(6) Adapun tilawah, yang berisi tata cara dan etika membaca al- qur’an sesuai dengan fungsi bacaan sebagai ibadah.33

Berdasarkan penjelasan diatas, dalam membaca al-quran calon guru harus mengetahui dan menguasai al-quran agar santri dapat membedakan dari masing-masing kaidah atau hukum bacaan dalam membaca al-quran.

Ciri-ciri seseorang dikatakan menguasai al-quran yaitu apabila dia telah sesuai dengan indikator-indikator sebagai berikut:34

(a) Menguasai Ilmu Tajwid

Tajwid menurut istilah adalah ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf maupun hukum- hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum madd dan lain sebagainya.35

Ilmu tajwid berarti ilmu yang berguna untuk mengetahui bagaimana cara melafalkan bacaan al-quran yang benar dan

33 Zakiah, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), 91.

34 Aquami, Korelasi antara Kemampuan Membaca Al-Quran dengan Keterampilan Menulis Huruf Arab pada Mata Pelajaran Al-Quran Hadits di Madrasah Ibtidaiyah Quraniah 8 Palembang, Jurnal Pendidikan Vol. 3, No.1, Juni 2007.

35 Moch Dzulfikar Arif, Anwar Sadullah, Adi Sudrajat, Penerapan Metode Bil Qolam Dalam Pembelajaran Al Quran Di SMAI AL Maarif Singosari Malang. Jurnal Pendidikan Islam. Vol 6 No 5 2021.

dibenarkan. Sedangkan menurut para ulama yang dimaksud dengan ilmu tajwid adalah pengetahuan mengenai kaidah-kaidah membaca al-quran dengan baik dan benar.36

(b) Kelancaran membaca Al-Quran

Kelancaran berasal dari kata dasar lancar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak tersangkut; tidak terputus;

tidak tersender; fasih; tidak tertunda-tunda.37 Yang dimaksud adalah membaca al-quran dengan Fasih.

(c) Ketepatan membaca Al-Quran

Sesuai dengan kaidah ilmu tajwid Perkatan tajwid artinya membaguskan.38 Makharijul huruf adalah membaca huruf-huruf sesuai dengan tempat keluarnya huruf seperti tenggorokan, ditengah lidah, antara dua bibir dan lain-lain. Adapun tujuan ilmu tajwid adalah untuk memelihara bacaan al-quran dari kesalahan membaca. Meskipun mempelajari ilmu tajwid adalah fardu kifayah, tetapi membaca al-quran dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya fardhu `ain. 39 Hal ini tidak lain agar dalam membaca al-quran bisa baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

(d) Tartil dalam membaca

Tartil berarti bagus, rapi, dan terartur susunannya. Menurut Sayyidina Ali r.a. tartil adalah membaguskan huruf dan

36 Abdul Chaer, Al-Quran Dan Ilmu Tajwid, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 11.

37 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 633.

38 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, 94.

39 Abdul Chaer, Al-Quran dan Ilmu Tajwid, 12.

mengetahui tempat berhenti saat membaca al-quran.40 Dalam membaca al-quran, tartil merupakan suatu keharusan yang harus di miliki bagi setiap orang yang hendak membaca al-quran. Tartil merupakan bagian penting yang harus di terapkan ketika seseorang akan membaca al-quran.

Sebagaimana pemaparan diatas pembinaan calon guru dalam kurun waktu maksimal dua tahun di targetkan dapat menguasai metode bil qolam. Adapun target kualitas dari metode bil qolam yakni:

(1) Tajwid (teori praktek), meliputi : Makhorijul Huruf, Sifatul Huruf, Ahkamul Huruf, Ahkamul Mad Wal Qosr.

(2) Fashohah (praktek), meliputi : Waqfu Wal Ibtida’ , Muro’atul Huruf Wal Harokat , Muro’atul Ayat Wal Kalimat, Bacaan tidak miring, Bacaan tidak tawallud, Adabut tilawah.

(3) Ghoroib dan musykilat (teori-praktek).

(4) Khatam Al-Quran 30 Juz secara tartil dan tadarrus.

(5) Mempunyai pengetahuan agama.

(6) Berakhlakul karimah berpedoman kepada al-quran dan Sunnah.

(7) Berakidah Ahlissunnah wal Jama'ah.

40 Mukhlishoh Zawawie, Pedoman Membaca, Mendengar, dan Menghafal Al-Quran, 43.

2) Pelaksanaan pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran memuat tiga kegiatan penting yaitu:41

a) Pendahuluan

Dalam pendahuluan, seorang pendidik melakukan kegiatan membuka pembelajaran dengan salam dan berdoa.

b) Kegiatan Inti

Penerapan pembinaan metode bil qolam calon guru menggunakan metode jibril atau talqin ittiba’, mikro teaching, dan pengelolaan kelas.

Metode jibril sebuah alternatif sistem pembelajaran baca tulis al-qur'an di Pesantren Ilmu Al-Qur'an Singosari Malang.

Metode jibril adalah metode yang dilatar belakangi oleh perintah Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan al-qur'an yang di wahyukan melalui malaikat jibril.

Intisari teknik dari metode jibril adalah talqin ittiba’. Bermula dengan membaca suatu ayat, atau lanjutan atau waqaf, lalu ditirukan oleh seluruh orang-orang yang mengaji. Sehingga mereka dapat menirukan bacaan guru dengan pas.42

41 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar, (Bandung: Sinar Baru, 2010), 134.

42 Zumrotul Fitriyah. Metode Jibril Sebuah Alternatif Sistem Pembelajaran Baca Tulis Al-Quran di PIQ Malang. (Skripsi UINMA. 2008), 15

c) Penutup

Dalam kegiatan penutup, seorang pendidik menutup materi untuk mengakhiri proses pembelajaran.

3) Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal yang telah dimiliki siswa dari hal yang telah diajarkan oleh guru. 43 Evaluasi menempati urutan terakhir dalam belajar. Dalam pelaksanaan pembelajaran langkah pokok yang dilakukan dalam keseluruhan proses program pengajarn antara lain:44

a) Evaluasi Awal (per-tes)

Pre-tes adalah tes yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan calon guru sebelum memulai proses pembelajaran dengan metode bil qolam. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dalam membaca al-qur’an dengan fasih dan lancar.

b) Evaluasi Formatif

Tes formatif atau juga tes harian, adalah tes yang dilakukan setelah selesai pokok bahasan tertentu. Maksud tes formatif adalah untuk menetahui seberapa jauh pokok bahasan yang baru saja diberikan telah diserap. Berdasarkan evaluasi ini, pendidik dapat memahami kemajuan dan perkembangan pemahaman calon guru untuk kemudian diberikan materi selanjutnya.

43 Kadek Ayu Astiti, Evaluasi pembelajaran, (Yogyakarta: Anggota IKAPI, 2017), 3.

44 Rina Febriana, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2019), 1.