PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
1. Pembinaan Metode Bil Qolam Calon Guru di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo
Berdasarkan hasil observasi pada 5 Juni 2022 di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo diketahui bahwa agar mampu membaca al-quran dengan baik dan benar maka perlu adanya sebuah metode, yang mana di Lembaga ini dalam menggunakan metode pembelajaran al-quran yakni bil qolam ketika
67 Didik, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 7 Agustus 2022.
menyalurkan ilmunya harus memiliki sanad yang jelas. Untuk bisa mengajarkan metode bil qolam maka diperlukan adanya pembinaan bagi calon guru yang dalam penerapannya menggunakan irama/lagu Ros dan 4 nada serta memiliki 3 tingkatan kelas yang harus dijalani pada setiap pembelajarannya untuk mendapatkan sebuah syahadah yakni sanad keilmuan agar bisa dinyatakan layak sebagai guru dalam mengajarkan metode bil qolam.68
Dalam pembelajarannya, metode bil qolam ini menjadi salah satu panduan praktis belajar membaca al-quran dari KH Basori Alwi Singosari Malang yang terus dikembangkan dan disempurnakan dengan harapan dapat digunakan dengan mudah oleh masyarakat luas terutama pecinta al quran dan para pengajar/guru al-quran. Dan kini seperti di cabang daerah Sidoarjo sendiri LPPQ Al-Karim Sidoarjo telah memiliki peserta didik yang merupakan calon guru yang dalam penerapannya dengan sistem klasikal penuh dimana dalam 1 kelas hanya ada 1 guru dan 15 calon guru.69
Sehubungan dengan pendapat dari Dr. KH. M. Sholeh Qosim, M.Si selaku Direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo bahwa :
Asal mula lembaga ini memakai metode pembelajaran al-quran dengan menggunakan metode bil qolam adalah karena mandat.
Dari awal dapat mandat untuk ngeramut bil qolam. Jadi ini adalah sebuah amanah dari yai kami yaitu KH. Basori Alwi dan seiring
68 Obsevasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, 5 Juni 2022.
69 Observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, 12 Juni 2022.
dengan berjalannya waktu sudah banyak sumber daya manusia yakni guru yang telah mendapatkan syahadah dan beberapa calon guru dibawah binaan kami untuk bisa mengajarkan metode bil qolam. Karena dari segi materi mudah dipahami untuk semua kalangan usia maka ada beberapa perencanaan dalam pembelajaran bil qolam yakni kita rencanakan pada target, jenjang, dan juga karakteristik belajar metode. Untuk pembinaan bagi calon guru lebih menggunakan sistem klasikal yang memiliki 3 tingkatan kelas yang harus diikuti untuk bisa tuntas yaitu kelas tahqiq, jilid, dan taddarus dan menggunakan irama/lagu Ros, 4 nada. Dalam upaya mengajarkan pembelajaran bil qolam ini, kami menggunakan metode Jibril yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun dalam menyelesaikannya.70
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran yaitu dengan adanya sistem perencanan, pelaksanaan maupun evaluasi baik dalam lembaga formal maupun lembaga nonformal. Sama halnya dengan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo juga merupakan lembaga yang menerapkan metode pembelajaran bil qolam pada kegiatan membaca al-quran calon guru yang proses pembelajarannya memiliki perencanan, pelaksanaan, dan evaluasi. 71
Sebagaimana uraian diatas, tahap penerapan membaca al-qur’an bagi calon guru ini terdiri dari tiga tahap oleh Ustadz Suparman selaku ketua pembinaan guru meliputi;
a. Perencanaan pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo bahwa dalam pembinaan metode bil qolam bagi calon guru ini memiliki jenjang metode yaitu permulaan yakni tahqiq lalu jilid 1-4 dan melanjutkan
70 Sholeh Qosim, Diwawancarai oleh peneliti, Sidoarjo, 27 Mei 2022.
71 Observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, 19 Juni 2022.
taddarus setelah khatam jilid. Ada juga target metode dalam menguasai metode bil qolam yaitu secara tajwid dengan teori-praktek dan fashohah dengan praktek. Yang terakhir karakteristik metode yang harus dilaksanakan seperti sistem kelas klasikal penuh yaitu 1 kelas dengan 1 pendidik/tutor dan 15 calon guru. 72
Berikut penjelasan dari Dr. KH. M. Sholeh Qosim, M.Si selaku Direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo tentang perencanaan pembelajaran metode bil qolam bahwa :
Tahap dalam pembelajaran bil qolam ini salah satunya adanya perencanaan karena dalam sebuah pembelajaran itu memang komponen yang sangat penting untuk bisa dapat hasil yang maksimal. Dari situ, metode pembelajaran bil qolam ini juga memiliki perencanaan pembelajaran yaitu jenjang belajar, target belajar, dan karakteristik belajar. Dalam jenjangnya, calon guru harus menempuh 3 tingkatan kelas yaitu kelas tahqiq, kelas jilid. dan kelas taddarus. Calon guru menempuh kurang lebih 2 tahun untuk bisa menguaasai metode bil qolam. Kemudian dalam target belajarnya, harus bisa menguasai ilmu tajwid, ghorib, fashohah, manajemen kelas yakni mampu mengelola kelas saat mengajar. Ada juga karakteristik yang ada pada metode pembelajaran bil qolam ini salah satunya menggunakan sistem klasikal penuh yang dihadiri 1 guru dengan maksimal 15 calon guru di dalam kelas.73
Hal tersebut diperkuat dengan penjelasan Ustadz Suparman selaku ketua pembinaan calon guru di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo tentang perencanaan pembelajaran metode bil qolam bahwa :
72 Observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, 26 Juni 2022.
73 Sholeh Qosim, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 5 Juni 2022.
Dalam proses pembelajaran bil qolam ini lembaga kami punya perencanaan yang harus ada yaitu jenjang belajar untuk calon guru yang dimulai dari kelas tahqiq kurang lebih 3 bulan, kelas metodologi/jilid yang kurang lebih memakan waktu 6-8 bulan, kemudian menyelesaikan kelas taddarus selama kurang lebih 1 tahun. Maka dari itu ada pengelompokkan kelas sesuai dengan tingkatannya. Setelah kurang lebih 2 tahun dan dianggap layak mengikuti ujian munaqosah (kelulusan) untuk mendapat syahadah. Sampai mendapatkan sanad lalu lajut ke Tarjim dan Tafsir yang akan diajar sendiri oleh direktur kita yaitu yai sholeh. Selain jenjang dan target belajar yaitu harus menguasai ilmu tajwid, fashohah, ghorib, manajemen kelas. Ada juga karakteristik belajar yang diterapkan dalam pembelajaran ini yaitu menggunakan lagu/irama Ros dan 4 nada, dan Sistem klasikal penuh dengan rasio 1:1:15 yakni 1 kelas berisi 1 guru dan 15 murid.74
Sebagaimana yang telah diuraikan bahwa dalam perencanaan pembelajaran bil qolam tersebut antara lain dapat kita lihat jenjangnya seperti gambar berikut:
Gambar 4.1 : buku jilid yang harus ditempuh
Ternyata hal yang disampaikan oleh direktur dan ketua pembinaan calon guru ini dibenarkan oleh Ustadz Juari selaku pendidik/tutor kelas tahqiq di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo tentang perencanaan pembelajaran metode bil qolam bahwa :
74 Suparman, Diwawancarai oleh peneliti, Sidoarjo, 3 Juli 2022.
Di Lembaga kami memang ada perencanaan dalam pembelajaran metode bil qolam bagi calon guru. Jadi dari calon guru itu harus setidaknya menempuh kurang lebih 2 tahun untuk bil qolam ini supaya mendapatkan bekal yang maksimal saat terjun langsung untuk mengajar selain dari sanad keilmuan yang jelas. Perencanaannya mencakup target belajar, jenjang belajar, dan karakteristik belajar, itu harus dipenuhi. Jenjangnya kalau dalam metode bil qolam bagi siswa ada sampai 4 jilid.
Terhadap calon guru juga sama tetapi dalam kelasnya dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu kelas tahqiq, kelas jilid, dan kelas taddarus. Dan memiliki karakteristik belajar yaitu harus menggunakan system klasikal penuh yang berisi 1 pendidik/tutor dan maksimal 15 calon guru. Dan dalam targetnya calon guru harus mmenguasai ilmu tajwid, ghorib, dan manajemen kelas.75
Sehubungan dengan penjelasan ustadz Juari, hal yang sama diungkapkan oleh ustadz Didik selaku pendidik/tutor kelas jilid di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo tentang perencanaan pembelajaran bil qolam bahwa :
Calon guru yang mengikuti pembelajaran metode bil qolam harus mengikuti segala bentuk ketetapan dari Lembaga salah satunya dalam perencanaan pembelajarannya yaitu target, jenjang, dan karakteristik metode. Kalau dalam karakteristik belajarnya dalam kelas wajib ada 1 pendidik/tutor dengan 15 calon guru, dengan system klasikal penuh dan menggunakan irama/lagu Ros, 4 nada. Untuk jenjang belajarnya sama seperti yang diberikan oleh murid, maka pada calon guru juga ada jilid tetapi sebelum itu harus melalui kelas tahqiq baru kelas jilid kemudian kelas taddarus yang total keseluruhannya bisa menempuh sampai 2 tahun. Dan untuk target belajar ini calon guru harus bisa menguasai ilmu tajwid, fashohah, ghorib, serta manajemen kelas.76
75 Juari, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 17 Juli 2022.
76 Didik, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 7 Agustus 2022.
Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh Shofi selaku calon guru pada tingkatan kelas taddarus di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo tentang perencanaan pembelajaran metode bil qolam, mengatakan bahwa :
Selama saya belajar metode bil qolam sejauh ini sudah melakukan perencaan pembelajaran yang telah ditetapkan yaitu pada jenjangnya. Saya memulai dari yang paling awal yaitu kelas tahqiq kemudian kelas jilid (1-4), dan kelas taddarus dengan waktu yang saya gunakan sudah hampir 2 tahun ini.
Kemudian untuk targetnya calon guru seperti saya memang harus betul-betul menguasai ilmu tajwid, ghorib, dan yang tidak kalah penting yaitu manajemen kelas. Semua itu menjadi bekal agar bisa maksimal dalam mengajarkan metode bil qolam kelak. Ada juga karakteristik untuk belajar metode bil qolam ini salah satunya menggunakan irama/lagu Ros, 4 nada dan system klasikal penuh.77
b. Pelaksanaan
Tahap berikutnya yaitu mewujudkan apa yang telah direncanakan sebelumnya menjadi tindakan. Kegiatan pembelajaran berjalan sebagaimana biasanya yang terdiri dari pendahuluan, inti dan juga penutup. Dalam penerapan metode bil qolam pada kegiatan pembinaan bagi calon guru di LPPQ Al-Karim Sidoarjo adalah sesuatu yang sangat positif karena didalamnya membahas suatu kegiatan mendalami al-quran yang sangat bermanfaat dan berpahala. Sekaligus mempermudah calon guru dalam proses pembelajarana al-quran yang nantinya akan diajarkan kepada santrinya. Menanggapi pendapat di atas, Ustadz Suparman selaku ketua pembinaan guru di Lembaga
77 Shofi, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 28 Agustus 2022.
Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim menambahkan :
Pada dasarnya dalam pelaksanaan metode pembelajaran bil qolam pembagian durasi (alokasi belajar) nya sama dari kelas tahqiq, jilid, maupun taddarus yakni 60 menit materi inti dan 30 menit materi penunjang yang di dalam pembelajarannya menggunakan lagu atau irama ros dan 4 nada. Ini bukan merupakan metode tapi lebih ke pembelajaran bil qolam (Buku). Jadi ini pembelajaran pada buku bil qolam. LPPQ memakai bukunya pembelajaran bil qolam. Pada dasarnya pembelajaran alquran, yang bermutu haruslah ustadz/ah, seperti pembelajaran iqro, tilawati, tartil, itu kan bukunya, metodenya.
Bagaimana bisa mencapai target itu tergantung pada metode atau strategi dari ustadz/ahnya. Disini kita terapkan system klasikal penuh. Jika tidak bisa menggunakan metode Bersama maka harus klasikal atau semi klasikal, dan atau individu/privat.
Ditujukan pada peserta didik maupun calon guru itu sama saja, jadi dalam pembelajaran khususnya al-quran harus ada metode/strategi. Dalam pembelajaran itu nanti di kelas akan ada pendahuluan yaitu doa Bersama 10 menit, 30 menit materi inti, evalusi dan materi penunjang. Metode yang digunakan nurut seperti pusatnya di Malang yaitu metode Jibril atau bisa disebut juga dengan talqin ittiba’. Talqin ittiba’ sendiri ada langkahnya yaitu yang pertama guru baca santri menyimak, guru baca santri menirukan, santri pimpin baca yang lain menirukan, santri baca bersama guru menyimak.78
Seperti yang telah diuraikan, dari pembinaan metode bil qolam pada calon guru yaitu sebagaimana diketahui bahwa metode atau cara yang kita terapkan ketika pembelajaran berlangsung pasti memilih metode yang dapat memudahkan dan dimengerti oleh calon guru.
Seperti yang telah ada pada gambar berikut ini, pembinaan di kelas tahqiq, metodologi/jilid, maupun taddarus menerapkan sistem klasikal penuh dengan posisi calon guru duduk mengelilingi pendidik/tutor membentuk huruf U.
78 Suparman, Diwawancarai oleh peneliti, Sidoarjo, 3 Juli 2022.
Gambar 4.2
Pelaksanaan pembinaan metode bil qolam di LPPQ Al-Karim
Dengan dilaksanakannya pembelajaran metode bil qolam dengan metode Jibril atau biasa disebut dengan talqin ittiba’ dan juga sistem klasikal seperti gambar tersebut diharapkan calon guru mampu mencapai tujuannya dengan maksimal. Sebagaimana pendapat ustadz Juari selaku pendidik/tutor kelas tahqiq di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo mengatakan bahwa:
Pembelajaran dengan klasikal penuh disini kita terapkan guna untuk efesiensi waktu. Kalaupun sistem privat terlalu banyak waktu yang dibutuhkan tetapi hasil tidak maksimal dan kemampuan tidak sama. Jika menggunakan klasikal penuh, pelajaran lebih maksimal. Pada dasarnya semuanya sama, lebih diutamakan efesiensi diantaranya dengan waktu yang sama dan hasil yang sama. Jika tidak bisa maka cari solusi lain yakni sistem privat. Kalau semi klasikal itu ada yang klasikal juga ada yang privat. Yang paling maksimal itu ya klasikal penuh jadi seluruh santri dengan satu kelas, dengan satu guru, dengan materi yang sama, dan halaman yang sama. Hal yang sama juga berlaku bagi calon guru. Maka disini untuk kelas awal yaitu kelas Tahqiq adalah awal calon guru mengenal al-quran. Dalam pelaksanaannya itu ada pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Pertama dibuka dengan doa Bersama selama 1 menit dan yang dibaca itu doa-doa yang ada pada buku pegangan yang sudah diberikan kepada calon guru. Kegiatan inti yaitu materinya membaca surat-surat pendek atau juz 30. Tujuannya untuk membenarkan bacaan al-quran secara pelan meliputi
makhorijul hurf, sifatul hurf, dan lain sebagainya. Kemudian ada juga evaluasi di setiap pertemuan setelah mendapatkan materi yaitu mengulang kembali bacaan secara terpimpin diikuti seluruh calon guru. 79
Sebagaimana dengan pendapat ustadz Juari, hal yang sama diungkapkan juga oleh salah satu calon guru di kelas Tahqiq yang mengikuti pembelajaran metode bil qolam di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim yaitu Syifa Nur Aini mengatakan, bahwa:
Pelaksanaan selama saya ikut pembinaan ini menggunakan sistem klasikal penuh biar pencapaiannya maksimal. Jadi dalam pembelajaran ini harus ada 1 pendidik/tutor dengan maksimal 15 calon guru di dalam kelas. Dan selama pembelajaran kan biasanya disediakan meja, itu nanti duduk kita menghadap pendidik/tutor dengan posisi membentuk huruf U. Jadi konsepnya tidak lurus begitu bukan. Nah semua itu agar calon guru tetap bisa memperhatikan pendidik/tutor dan sebaliknya, juga agar bisa fokus. Selain itu disini menggunakan irama/lagu Ros 4 nada. Jadi saat pendidik mencontohkan, kita menirukan bacaan tersebut mbak, biasanya kita kenal dengan metode Jibril atau talqin ittiba’. Lalu kami ditunjuk bergantian untuk memimpin bacaan kemudian ditirukan oleh calon guru lainnya.
Saat itu posisi guru hanya menyimak tetapi Ketika kami ada salah dalam melafadzkan guru akan membetulkan bacaan kami.
Durasi waktunya kurang lebih ya 2 jam lah. Pendahuluannya 10 menit berdoa Bersama sesuai dengan buku panduan yang telah diberikan. Kemudian kegiatan intinya ya masuk pada materi itu, membaca surat-surat pendek atau Juz 30. Kemudian penutup.80 Seperti yang kita ketahui bahwa metode bil qolam ini mudah untuk diterapkan dan memiliki karakteristik yang dapat membedakan dengan metode yang lainnya khususnya bagi calon guru yang akan mengajarkan metode bil qolam. Ustadz Didik selaku pendidik/ tutor di
79 Juari, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 17 Juli 2022.
80 Syifa Nur Aini, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 14 Agustus 2022.
kelas Jilid juga menjelaskan terkait pelaksanaan pembelajaran bil qolam di LPPQ Al-Karim Sidoarjo, bahwa:
Kalau kelas jilid ini ada jilid 1-4. Setiap jilidnya membutuhkan sampai dengan 2 bulan untuk mempelajarinya. Pada jilid ini intinya pengenalan sebuah atau beberapa ayat yang dibacakan guru, lalu ditirukan oleh santri secara berulang-ulang. materinya sesuai dengan tingkat/jilid tersebut, ada hukum-hukum ilmu tajwid, seperi : bacaan mad, waqaf, dan ibtida’, hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati dan sebagainya. Pada kelas ini juga diajarkan tentang metode pembelajaran di dalam kelas, praktik mengajar, dan pengelolaan kelas. Pembelajaran ini juga sama, memiliki tatap muka cuma sekali dalam seminggu. ada evaluasinya juga setelah mendapatkan materi. Dan di dalamnya menggunakan system klasikal penuh, hanya 1 guru dalam 1 kelas dan dengan 15 calon guru.81
Gambar 4.3 Pelaksanaan Mikro Teaching
Sehubungan dengan penjelasan dan gambar tersebut, Laila selaku calon guru di kelas Jilid juga menjelaskan terkait pelaksanaan pembelajaran bil qolam di LPPQ Al-Karim Sidoarjo, berikut pernyataannya:
Biasanya pelaksanaannya itu sistem klasikal penuh, maksimal 15 orang di dalam kelas. Dan prosesnya mulai awal itu berdoa terlebih dahulu kemudian materi/pokok bahasan kurang lebih 30 menit. Nah di dalamnya menerapkan metode Jibril atau talqin ittiba’ (baca bersama) guru memimpin lalu murid menirukan. Setelah itu ada evaluasi di setiap pertemuan.
81 Didik, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 7 Agustus 2022.
Kebetulan pembelajaran ini memiliki tatap muka 1x dalam seminggu. Jadi evaluasi harian disini langsung setelah selesai dapat materi dengan cara baca pimpin yaitu seperti materi inti hanya saja kami satu per satu menunggu giliran memimpin bacaan kemudian diikuti yang lainnya. Setelah evaluasi ada 30 menit lagi untuk materi penunjang. Dalam baca pimpin itu kita pakai irama/lagu Ros, 4 nada. Dan untuk memaksimal tercapainya tujuan biasanya kita melaksanakan mikro teaching.
Jadi seolah-olah kita sudah menjadi guru dan yang lainnya adalah muridnya kemudian menuntun dan mengajarkan mereka dengan menggunakan talqin ittiba dan mengelola kelas.82
Pada pelaksanaan pembelajaran bil qolam ini memang terbagi menjadi 3 kelas yang harus diikuti calon guru dalam mendapatkan syahadah agar layak mengajarkan metode bil qolam nantinya. Hal ini dibedakan kelas tahqiq yang menjadi awal pengenalan calon guru terhadap surat-surat pendek atau Juz 30 kemudian jika sudah khatam melanjutkan ke kelas jilid 1-4 dan kemudian kelas taddarus yang merupakan membaca al-quran dengan tartil. Semua itu memiliki evaluasi tersendiri untuk bisa melanjutkan ke hasil akhir yaitu mendapatkan syahadah (sanad keilmuan).83
Sebagaimana dengan pemaparan tersebut, Shofi selaku calon guru di kelas taddarus di LPPQ Al-Karim Sidoarjo juga mengatakan bahwa :
Kalau taddarus juga sama saja. Dalam pelaksanaannya berdoa dulu kemudian masuk pada materi inti yaitu membaca al-quran dengan halaman tertentu yang dicontohkan guru dan murid menyimak. Setelah itu murid menirukan. Kemudian murid memimpin baca beberapa ayat lalu diikuti seluruhnya sambil disimak guru. Kemudian seperti itu bergantian sampai ayat tertentu. Kalau memang ada bacaan yang salah pasti guru
82 Laila, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 21 Agustus 2022.
83 Observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, 24 Juli 2022.
membenarkan dan jika kurang faham atau lupa guru akan menerangkan Kembali materi tersebut. sistemnya juga klasikal penuh dan memakai irama lagu Ros, 4 nada. Untuk materi penunjang ada bahasan tentang kitab risalatul quro wal khufadz selain dari buku pokok ilmu tajwid. Kita juga tetap ada pegangan buku latihan dasar baca huruf al quran dan kitab At- Tibyan.84
c. Evaluasi
Minggu, 31 Juli 2022 peneliti melakukan observasi kembali terkait evaluasi pembelajaran bil qolam di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Sidoarjo, dan pada tahap evaluasi ini terdapat evaluasi berupa penilaian seperti pembelajaran formal pada umumnya. Yang pertama yaitu Evaluasi Pre-tes yang ada pada kelas tahqiq. Setiap pertemuan di kelas tahqiq akan ada evaluasi yang menjadi tolak ukurnya menggunakan tes lisan dengan praktik membaca yaitu dengan membaca surat-surat pendek atau juz 30. 85
Sebagaimana yang telah diungkapkan ustadz Basir selaku pendidik/tutor di kelas Taddarus mengatakan bahwa :
Setelah pembelajaran diberikan selalu ada evaluasi yang mana evaluasi awal (pre-test) dilakukan pada saat kelas tahqiq dimana menggunakan tes lisan dengan praktik membaca yaitu dengan membaca surat-surat pendek, doa sehari-hari, dan lainnya.
Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan calon guru meningkat, tidak hanya dalam hal membaca al-quran. Jadi ada penilaian selayaknya dilakukan kepada anak-anak dan ada buku nilai untuk mengukur proses membaca calon guru menggunakan metode bil qolam. Terkait evalusi ini sangat dibutuhkan dan diterapkan melalui kartu evaluasi guru (KEG).86
84 Shofi, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 28 Agustus 2022.
85 observasi di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al- Karim Sidoarjo, 14 Juli 2022.
86 Basir, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 4 September 2022.
Kedua, Evaluasi formatif atau juga tes harian, yang ada pada kelas Jilid yang dilakukan setelah selesai pokok bahasan tertentu.
Dilaksanakan hingga mencapai ketentuan seperti telah habis halaman jilid. Karena itulah evaluasi sebagai tolak ukur dalam setiap proses pembelajaran evaluasi dapat menentukan seberapa calon guru dapat memahami materi yang sudah diterapkan ketika proses pembelajaran.
Sebagaimana pendapat ustadz didik selaku pendidik/tutor di kelas jilid mengatakan bahwa:
Dalam pembelajaran bil qolam pada proses akhirnya ini akan di evaluasi. Evaluasi yang diterapkan disini yaitu evaluasi awal (pre-test), evaluasi formatif (harian), Kemudian ada evaluasi sumatif atau kenaikan jilid. Jadi supaya tahu sampai dimana calon guru paham dengan seluruh pokok pembahasan yang telah diberikan selama 1 periode tertentu atau pada jenjang berikutnya. Dan yang terakhir barulah tahtim/wisuda. Jadi dilaksanakan ketika calon guru telah menyelesaikan semua rangkaian jilid yang dipelajari. Dalam tes munaqosah dapat diketahui, calon guru tersebut layak diwisudakan ataukah belum layak untuk wisuda. Setelah wisuda akan mendapatkan yang namanya syahadah.87
Gambar 4.4 : Kartu Evaluasi Calon Guru
87 Didik, Diwawancara oleh peneliti, Sidoarjo, 7 Agustus 2022.l