BAB IV BAB IV
B. Karakteristik Informan (Istri Nelayan)
Julukan bagi mereka sudah barang tentu sea nomads, karena pada mulanya mereka memang hidup terapung-apung diatas rumah perahu.
Pada informan pertama adalah ibu Sridewi istri nelayan tersebut, tingkat pendidikanya yang tertinggi adalah lulusan SMA status suaminya sebagai pa‘ggai di kapal hal mana ketika suaminya pergi melaut maka sebagai ibu rumah tangga yang membantu suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka maka istri nelayan tersebut selain dia menjual ikan dari hasil banyak tangkapan suaminya juga melakukan pekerjaan lain, sebagai perempuan pencari nafkah adalah menjual kue-kue tradisional yang dibuat sendiri kemudian ia menjual di rumahnya sendiri meskipun demikian sebagai ibu rumah tangga tidak mengabaikan pekerjaannya yang harus ia selesaikan di rumah, memelihara anak mengurus rumah tangga dan lain-lain sebagainya. Aktivitas ibu rumah tangga tersebut, ketika suaminya kembali dari melaut maka ikan yang di bawa dari hasil melaut itu, istri nelayan tersebut lalu membawanya kepasar dan di jual kepada penjual ikan yang ada di Pasar.
Istri nelayan ini dalam kehidupan sosial ekonominya dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang hidupnya pas-pasan tidak ada yang nampak istimewa di dalam rumahnya, namun keunikan yang ia miliki adalah bahwa pekerjaan ini ia tekuni kurang labih 25 (duapuluh lima tahun) tahun dalam arti sejak Ayahnya masih hidup, telah menekuni pekerjaan ini sebagai pelaut dan sebagai penjual ikan yang merupakan sumber mata pencaharian utama di keluarga nelayan tesebut.
Pada informan kedua adalah ibu Hj. Esse. Berusia (49 Tahun) istri nelayan tersebut adalah dari segi pendidikan, istri nelayan ini hanya tamatan SD tetapi dilihat dari segi kegiatannya sebagai istri nelayan yang membantu suami dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga dalam melaksanakan kegiatannya sebagai penjual
ikan yang berhasil, karena menjalankan kegiatannya berbeda dengan istri nelayan perempuan lainnya hal ini juga dapat dilihat dari latar belakang kehidupan sosial- ekonomi rumah tangga kedua orang tua mereka di masa lalu, hal mana pekerjaan ini, dilakasanakan dari turun temurun jadi pengalaman ibu Hj Esse ini dari segi aktivitas berbeda dengan istri nelayan lainnya karena fasiltas yang mereka gunakan sudah cukup memadai, demikian juga posisi suaminya adalah sebagai juragan dan juga sebagai pemilik kapal.
Jumlah kapal yang dimiliki berjumlah enam buah satu kapal yang sementara diservis kemudiaan kelima kapal tersebut masih operasional kemudian sebelum suaminya melaut akomodasi yang harus disiapkan serta mengkondisiskan dana kurang lebih sepuluh juta untuk akomodasi kapal karena selain dari bekal untuk dikonsumsi para nakhoda kapal juga harus mempersiapkan kebutuhan kapal seperti mesin bahan bakarnya adalah (solar), Es batu yang harus dikondisikan sejumlah empat ratus lima puluh balok sampai enam ratus lima puluh balok per-kapal yang harga nominal es batu tersebut adalah sebanyak sebelas ribu rupiah perbaloknya dan kebutuhan lainya seperti gula pasir kopi dan rokok, yang tidak kalah pentingnya adalah surat-surat perizinan operasional kapal mereka yang mana yang jumlah nominalnya juga tidak sedikit yaitu sebesar dua juta tiga ratus ribu perkapal yang limit operasionalnya berlaku sampai tiga bulan saja, rentang waktu yang mereka gunakan untuk melaut adalah maksimal dua minggu daerah yang merupakan tujuan aktifitas nelayan tersebut adalah sampai di Sulawesi Tenggara yakni Kendari meskipun demikian penghasilan Hj Esse tersebut adalah dapat dikatakan sebagai
sangat memadai karena dengan aktifitasnya melaut ia memperoleh penghasilan variatif dengan nila nominal sebesar tiga pulu empat juta perkapal hangga tiga puluh enam juta bahkan sampai dua ratus juta persekali melaut. Informan ketiga ini bernama Syamsiar berusia 33 tahun, mempunyai anak dua orang status pekerjaan dan posisi suaminya di kapal adalah sebagai Sawi atau ABK, waktu yang digunakan melaut adalah tujuh hari sampai lima belas hari dengan nominal penghasilannya adalah lima juta hingga lima belas juta per-res ketika suaminya kembali dari melaut maka istri nelayan tersebut mencatat ikan yang diperoleh suaminya kemudian memerintahkan karyawannya untuk membawa ke daerah lain untuk dijual jenis ikan yang dijual ke Bone adalah seperti ikan tre, ikan layang, ikan cakalang, ikan tuna dari beberapa jenis ikan ini terhimpun dalam berapa jenis ikan.
Kalau jumlah pasokan ikannya banyak maka ikan tersebut disuplai ke daerah lain bahkan ke Makassar. Istri nelayan ini di kehidupannya dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang biasa-biasa saja. Fasilitas rumah yang ia gunakan masih sangat sederhana, adapun perabot yang mereka miliki seadanya kemudian di lingkungan masyarakatnya terhimpun pada suatu kelompok kecil yang ia biasa sebut
―arisan keluarga‖ dalam arti bergantian memiliki barang perabot rumah berdasarkan kebiasaannya mereka mengikuti kegiatan dengan ―arisan‖ demikian pula kendaraan yang dimilikinya dengan sistem kredit dengan kapasita anggota komunitas tersebut adalah sebanyak sepuluh orang. Fasilitas melaut yang ia miliki adalah satu unit kapal kecil (lopi) dengan kapasitas dua mesin empat slinder.
Innforman ke empat bernama Hj. Anti umur (32 tahun) Posisi suaminya sebagai juragan dan sebgai pemilik kapal (bos) adalah sebagai pengelolah dan pengawas di kapal mengontrol semua kegiatan di kapal baik dari Bos maupun dari anggota kapal kegiatan melaut bagi juragan adalah merupakan suatu kegiatan rutinitas yang wajib ia lakukan demi untuk menghidupi keluarga mereka. Oleh karena aktivitas melaut ini juragan lakukan demi untuk pemenuhan kebutuhan keluarga mereka untuk mengetahui tentang banyaknya jumlah ikan yang mereka peroleh dari melaut hal ini dapat diketahui dari jarak wilayah yang menjadi tujuannya misalnya kalau rumponnya dekat maka secara logika pelaut pasokan ikan yang diperoleh kurang tetapi kalau rumpon jauh maka menurut lagika mereka maka jumlah pasokan ikannya banyak dengan hal tersebut juga mempengeruhi penghasilan istri nelayan sebagai penjual ikan, meskipun demikian bahwa sesungguhnya rentang waktu yang mereka gunakan juga mempengaruhi jarak yang mereka tempuh kalau rumpon dekat maka limit waktu yang digunakan juga tidak terlalu lama, paling lama sepekan tetapi ketikan rumponnya jauh maka limit waktu yang mereka gunakan lima belas hari hingga dua puluh hari. Meskipun demikian istri nelayan tersebut menjual ikannyapun tidak serumit yang dilakukan oleh istri nelayan lainnya, ―mengapa‖ ibu Hj Anti ini ia menjual ikan di rumahnya dan kemudian ikannya ia suplai ke daerah lain bahkan sampai ke Makassar oleh itu istri nelayan tersebut dalam melakukan aktivitasnya kurang mengalami hambatan karena dari waktu dan tujuan yang digunakan tidak mengurangi tugas rutinitasnya sebagai istri nelayan, dan sekaligus sebagai perempuan yang mempunyai beban kerja berganda, sebagai istri dan juga sebagai perempuan
pencari nafkah di lingkungan keluarganya. Kesibukan istri nelayan ini adalah merupakan aktivitas keseharian yang ia tekuni kurang lebih 10 tahun lamanya dan dikehidupan sosial ekonominya terkesan hidupnya sudah mapan. Kemudian dari segi penghasilan istri nelayan tersebut memperoleh penghasilan sebesar minimal tujuh juta hingga sepuluh juta dan maksimal lima belas juta sampai dua puluh juta per-res.
Pada informan ke lima Hj. Jumatan berumur 36 tahun Bahwa sesungguhnya istri nelayan pada masyarakat Lonrae di Kecamatan Taneteriattang Timur.
Dilihat dari tingkat pendidikan mereka secara kasak mata peneliti menilai bahwa keberhasilan nelayan khususnya di Kelurahan Lonrae Kecamatan Taneteriattang Timur, tidak dapat diukur dari tinngkat pendidikan mereka karena secara faktual mayoritas istri nelayan tidak mengecap pendidikan yang tinggi, dan keunikannya justru istri nelayan tersebut hanya tamatan SD tetapi suaminya dapat meraih suatu prestise yang cukup mengharuhkan sehingga kesuksesan yang diperoleh tersebut merupakan keberhasilan yang luar biasa, dalam hal ini, suaminya berprestasi dalam menjalakan usahanya sebagai nelayan dan mendapat penghargaan mulai dari Gubernur bersama-sama Bupati daerah setempat sebagai ―nelayan Teladan di tingkat Nasional‖ (Bapak H. Abbas, 2012) ini mendapat penghargaan dari menteri Perikanan dan Kelautan (Ibu Zuzi bersama kepala Negara Bapak Jokowi, (2014). Istri nelayan ini di kehidupan sosial ekonominya dapat dikategorikan sebagai masyarakat nelayan yang sukses dan kehidupannya cukup mapan, fasilitas yang ia gunakan cukup memadai, nelayan kalau kita menilai secara kasak mata dan kehidupan dikeluarga nelayan ini, pada umumnya khusus warga masyarakat kabupaten Bone dapat di sebut
sebagai warga masyarakat Bone yang sukses dan dapat diteladani. Selain dari hidupnya berkecukupan tetapi juga dari segi tutur kata dan perbuatannya mencerminkan kepribadian yang terbaik, yang wajib dimiliki oleh seluruh masyarakat Bone dan bahkan seluruh lapisan masyarakat indonesia secara global.
informan ke enam bernama Muliati (33 ) tahun, istri nelayan tersebut adalah berprofesi sebagai penjual ikan dan juga memilki kegiatan atau pekerjaan tambahan dalam hal ini istri nelayan tersebut dalam menjalankan aktivitas sehariannya selain menjual ikan juga melakukan kegiatan arisan baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk barang sesuai dengan kebutuhan dari para istri nelayan tersebut.
Demikian juga dikemukakan bahwa kegiatan suami istri neleyan tersebut ia sebagai juragan dan juga sebagai bos (pemilik kapal). Nilai banyaknya pasokan ikan yang diperoleh dari melaut itu tergantung dari jarak tujuan mereka melaut, kalau rumponnya jauh maka menurut logika nelayan bahwa kemungkinan besar pasokan ikan dapat mereka peroleh dalam jumlah banyak. Demikian juga sebaliknya jika jarak atau rumpon dekat maka jumlah pasokan berkurang meskipun sesungguhnya banyak tidaknya yang diperoleh para nelayan tidak terlepas dari hari keberuntungan mereka kalau pada hari itu adalah merupakan hari keberuntungan nelayan tersebut maka walaupun tidak dalam jumlah waktu yang lama nelayan tersebut kembali ke rumahnya. Istri nelayan ini di kehidupan sosial ekonominya termasuk kategori masyarakat yang cukup lumayan mamadai, bila dibanding dengan masyarakat nelayan sebagian yang ada di wilayahnya hal ini dapat dibedakan dari segi fasilitas yang ia pakai cukup lumayan sudah memadai hal dapat dilihat dari aktivitas
kesehariannya bukan hanya mengurus ikan untuk dijual tetapi juga melakukan aktivitas lain dalam hal ini yakni membeli fasilitas dapur dan perabot rumah tangga lainnya, untuk kemudian dijual dalam bentuk kredit kepada tetangganya yang berkecimpun dalam komunitasnya. Hal ini ia lakukan sebagai salah satu bentuk bisnis yang ia bangun yang oleh istri nelayan tersebut dianggap sebagai ―pekerjaan hobby‖
juga dapat membantu kebutuhan ekonomi rumah tangga di lingkungan keluarga mereka.
Informan ke tujuh Hj. Juharna (37) tahun suaminya adalah sebagai Juragan yang telah dikarunia empat orang anak dan ia mulai merintis usahanya sejak tahun 2004. Dalam menjalankan aktivitas nelayan tersebut yakni ketika ia hendak melaut hal yang utama mereka siapkan adalah bekal, jadi segala bentuk kebutuhan di kapal semua terpenuhi kebutuhan di kapal misalnya mesin, solar, sembilan bahan pokok lainnya yang mereka butuhkan selama melaut area yang menjadi tujuan mereka apakah jaraknya jauh ataukah rumpon dekat.
Aktivitasnya sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca ketika cuaca buruk maka yang menjadi tujuannya adalah hanya rumpon yang terdekat yang mereka kunjungi misalnya Kubaena, tetapi akativitas suaminya sebagai nelayan ketika mereka hendak melaut dan cuaca yang mendukung maka rumpon yang mereka kunjungi adalah Wanci, Buton, istri nelayan tersebut ketika suaminya kembali dari melaut maka ikan yang di bawah suaminya ia jual di pasar
Atau mengundang pedagang ikan datang membeli di rumhnya untuk kemudian dijual kembali ke konsumen. Istri nelayan ini di kehidupan sosial-ekonomi dapat
dikategorikan sebagai mayarakat nelayan yang sukses karena diantara nelayan lainnya termasuk masyarakat nelayan yang senior di wilayahnya,pekerjaan ini ia lakukan sejak orang tua terdahulu menekuni pekerjaan ini, oleh karena masyarakat ini melakukan pekejaan sebagai pelaut dan penjual ikan adalah merupakan pekerjaan yang wajib ia lakukan yang merupakan warisan yang membudaya dilingkungan keluarga mereka, bukan hanya dari fihak suaminya tetapi juga dari fihak keluarga besar istri nelayan tersebut, yang telah menekuni pekejaan ini.
Informan ke delapan bernama Risma (40) tahun, pendidikan tamat SMP dengan jumlah keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak sebanyak tujuh orang dengan jumlah anggota tersebut tetapi anak yang pertama ikut juga membantu orang tuanya sebagai pelaut masing-masing penghasilan mereka adalah lima ratus ribu perminggu oleh karena kedudukan suaminya hanya sebagai anggota maka pembagian yang diperoleh pasokan ikan juga dalam jumlah terbatas kerena suami daripada istri nelayan tersebut hanya sebagai anggota di kapal. Demikian juga bekal yang mereka harus siapkan adalah kurang lebih dua ratus ribu rupiah per-tujuh hari. Kemudian rumpon yang menjadi tujuan mereka adalah rumpon dekat misalnya kubaena. Istri nelayan ini di kehidupan sosial-ekonominya termasuk masyarakat nelayan yang hidupnya sangat sederhana tetapi di lingkungan keluarga mereka terkesan tingkat persatuan dalam keluarga mereka nampak kelihatan, hal ini dapat dilihat karena ketika hendak melaksanakan hajatan semua rumpun keluarganya semua pada datang membantu apakah dalam bentuk tenaga ataupun dalam bentuk berupah hadiah
bingkisan atau berupa uang tunai sesuai dengan keikhlasan mereka membantu sanak keluarganya.
Informan ke sembilan bernama Pawahidah (37) tahun, kemuadian ia menggeluti pekerjaan ini sebagai penjual ikan kurang lebih tujuh tahun karena demikian juga kedudukan suaminya di kapal adalah sebagai Paccaming dalam arti bahwa tugas susminya adalah sebagai bekerja sebagai pengontrol di subuh hari di atas kapal atau ia menggunjung rumponya dengan melingkari rumpon tersebut. Demikian juga waktu yang mereka gunakan tujuh hari sampai lima belas hari pada saat pergi melaut kemudian hasil tangkapan ikannya itu di jual di pasar. Oleh karena hasil yang diperoleh juga sangat terbatas hanya berkisar lima ratus ribu sampai dua juta rupiah per sekali melaut. Kemudian meskipun penghasilan mereka pas-pasan tapi itupun masih bisa membeli motor dengan sistem kredit demikian juga perabot rumah yang ia membeli dengan sistem arisan atau dengan kredit pula.
Informan ke sepuluh bernama Hj Syamsiar (33) tahun, dengan jumlah anggota keluarga sebanyak empat orang terdiri dari Ayah-ibu kemudian anak dua orang.
Tamatan SMA, penghasilan mereka adalah lima juta sampai tujuh juta per sekali melaut atau per-res. Demikian juga modal yangmereka gunakan adalah sebesar lima juta sampai tujuh juta rupiah. Kemudian jenis ikan yang mereka peroleh dari melaut bervariasi antaranya ikan tuna, ikan cakalang ikan layang dia jual di pasar sedang ikan tuna ia jual di kota Malassar.