D. Defenisi Oprasional
3) Karakteristik Modul
Modul memiliki karakteristik self instruction, yaitu modul memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instruction, maka modul harus:
1) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat menggambarkan pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
2) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit- unit kegiatan yang kecil atau spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas.
3) Tersedia contoh dan ilustri yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran.
4) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan siswa.
5) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan siswa.
6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif.
7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
8) Terdapat informasi tentang rujukan atau pengayaan atau referensi yang mendukung materi.41
4) Chemo-Entrepreneurship (CEP)
Entrepreneur atau wirausaha ialah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekonomian.Orang tersebut bisa melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru ataupun bisa pula dilakukan dalam organisasi bisnis yang sudah ada. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan
40Ibid, hlm.16
41Daryanto.“Menyusun Modul”. (Yogyakarta: Gava Media, 2013) hlm. 9.
20
atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menetapkan cara kerja, teknologi dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.42
Konsep berbasis chemo-entrepreneurship (CEP) dalam modul ialah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia dikaitkan dengan objek nyata sehingga selain mendidik, dengan berorientasi CEP ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan menumbuhkan semangat wirausaha. Dengan berorientasi CEP dalam modul ini pelajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan suatu produk. Bila siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan peserta akan termotivasi untuk wirausaha.43
Hal ini berarti dengan adanya berbasis CEP dalam modul pembelajaran, siswa akan lebih memahami materi pelajaran kimia secara real. Karena dalam proses belajar, siswa banyak disuguhi teori yang dikaitkan dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari baik melalui inagurasi praktikum yang bermuatan life skill maupun melalui diskusi-diskusi formal yang dapat memicu daya pikir siswa. Berorientasi chemo-entrepreneurship (CEP) termasuk salah satu pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
42 Alma. ”Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum”.(Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 26
43Supartono, dkk.“Pembelajaran Kimia Menggunakan Kolaborasi Konstruktif dan Inkuiri Berorientasi Chemo-entrepreneurship (CEP)”.(Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 3, No 2, 2009), hlm. 476-483.
21
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa modul kimia berorientasi chemo-entrepreneurship ialah bahan ajar yang dapat menumbuhkan minat wirausaha dan meningkatkan pemahaman konsep siswa.Didalam modul juga sudah memiliki contoh pengaplikasian asam basa dalam kehidupan sehari-hari.
5) Life Skill
Istilah “skill” sering diartikan sebagai keterampilan, padahal keterampilan mempunyai makna yang sama dengan kecakapan fisik dan pekerjaan tangan.44Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.Hal ini menyebabkan life skill sering dimaknai hanya sebagai vocational skill, keterampilan kerja kejuruan atau kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa agar mereka dapat segera bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya.45
Menurut Kosasih, pendidikan kecakapan hidup atau life skill yang diberikansampai dengan jenjang sekolah menengah lebih berorientasi pada upayamempersiapkan siswa menghadapi era milenial. Pada intinya,pendidikan kecakapan hidup berorientasi pada: pembekalan dalam pengembangan kemampuan belajar, penyadaran dan kebersyukuran atas potensi diri dan keberanian menghadapi problema kehidupan46
Menurut Dirjen PLSP, istilah kecakapan hidup (life skills) diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang agar berani menghadapi problema hidup dan penghidupan
44 Kosasih, E. “Strategi belajar dan pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”. (Bandung: Yrama Widya, 2014) hlm. 36
45Mulyasa.“Pengembangan dan Implementasi kurikulum 2013”.(Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2014) hlm. 67
46Kosasih, E. “Strategi belajar dan pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”. (Bandung: Yrama Widya, 2014) hlm. 41
22
secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif yang dimana mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.47
Life skill sangat dibutuhkan seseorang terutama dalam dunia pekerjaan, serta dapat juga digunakan untuk melatih kecakapan personal seseorang.48 Pengertian dari life skill adalah kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang (peserta didik) dimanapun ia berada untuk menghadapi dan menjalankan kehidupan nyata dan memberikan bekal kepada siswa terutama dalam mengatasi berbagai persoalan hidup, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.49
Kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar yang perlu dinilai sejauh mana kesesuaiannya dengan kebutuhan mereka untuk dapat bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jenis- jenis kecakapan yang perlu dinilai, antara lain keterampilan diri (personal), keterampilan berpikir rasional, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional.50
Komponen life skill dibagi menjadi dua macam, yaitu general life skill (GLS) dan spesific life skill (SLS).
Masing-masing komponen dibagi menjadi sub komponen:
47Depdiknas, Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life skills) Melalui Pendekatan BroadBesed Education (Draft) (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2002), hlm. 24.
48Carroll, dkk.“Integrating Life skill Into Relationship And Mirrage Education:
The Essential Life skills For Military Families Program”. (Family relation, Vol. 62, No 4, 2013) hlm.559-570.
49Kusuma, dkk.“Penggunaan Pendekatan Chemo-entrepreneurship Berorientasi Green Chemistry Untuk Meningkatkan Kemampuan Life skill Siswa SMA”.(Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 1, No 3, 2009) hlm.366-372.
50Arifin.“Evaluasi Pembelajaran”. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm.
184
23
1) General life skill meliputi personal skill dan social skill a) Personal skill terdiri dari 2 komponen yang meliputi awarennes skill mencakup tentang penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan thinking skill mencakup kecakapan dalam menemukan informasi, mengolah, dan mengambil keputusan dalam memecahkan masalah secara kreatif.
b) Social skill mencakup kecakapan dalam berkomunikasi, baik komunikasi secara lisan maupun komunikasi tertulis dan kecakapan dalam bekerja sama dengan orang lain.
2) Spesific life skill meliputi academic skill dan vocational skill
a) Ademic skill terkait dengan kecakapan intelektual yang mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan hipotesis, dan kecakapan melaksanakan penelitian.
b) Vocational skill terkait dengan bidang pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu.51
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa life skill merupakan suatu pembelajaran yang merujuk pada kecakapan hidup seseorang terkait kecakapan dalam diri, komunikasi, bekerja dan memecahkan masalah guna menjalani kehidupannya.
c. Materi Asam dan Basa
Senyawa asam dan basa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari- hari dan dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan.Pada umumnya salah satu sifat asam ialah mempunyai rasa yang asam sementara basa mempunyai rasa pahit atau getir.Mengenali asam basa tidak harus dengan mecicipinya karena hal tersebut sangat berbahaya. Ada
51Supriatna, M. “Pengembangan Kecakapan Hidup di Sekolah”.(Jakarta:
Depdiknas, 2010), hlm 55.
24
bebarapa bahan asam basa yang bersifat beracun untuk tubuh kita