i
PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERBANTUAN MODUL KIMIA BERORIENTASI CHEMO- ENTREPRENEURSHIP TERHADAP LIFE SKILL SISWA MA
AL-ISHLAHUDDINY
Oleh Rahayu 170109019
PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2022
ii
PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERBANTUAN MODUL KIMIA BERORIENTASI CHEMO- ENTREPRENEURSHIP TERHADAP LIFE SKILL SISWA MA
AL-ISHLAHUDDINY Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram
Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Rahayu 170109019
PROGAM STUDI TADRIS KIMIA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2022
iii
iv
v
vii
viii MOTTO
“Jika Kamu Tak Dapat Melakukan Hal Besar, Lakukan Dari Hal Kecil Namun Dengan Cara Yang Hebat”
-Napolean Hill-
ix
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk ibuku Sa’adiah dan Bapakku Haryanto, juga saudari-saudariku Dwi yuliana, Tri Yuliani, Ulfa, Risma Wati, Kazumi, Hanzo dan semua kucingku juga almamaterku, semua guru dan dosenku.”
x
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah, tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW., juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Amin.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaianproposal ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan pengahargaan setinggi-tinggi dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.
1. Bapak Lukman Taufik M.Ag. sebagai Pembimbing I dan Ibu Devi Qurniati, M.Pd. sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi yang mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan ditengahkesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan Skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;
2. Ibu Raehanah, M.Pd dan Ibu SulistiyanaM.Sisebagai penguji yang telah memberikan saran-saran konstruktif bagi penyempurnaan Skripsi ini.
3. Bapak Yahdi, M.Si. Sebagai ketua jurusan;
4. Bapak Dr. Jumarim, M.HI. Sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan;
5. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram 6. Segenap guru dan karyawan MA AL-Islahuddiny yang telah
menerima peneliti dengan baik selama melakukan penelitian 7. Ibuku tercinta Sa’adiah dan Ayahku Haryanto yang selalu memberi
semangat dan tak pernah letih dalam menasehati dan mendukung setiap langkah perjuangan.
xi
8. Kakak Yanto, adik Afrizal, Nanda, Alya, Risma, Aan, Junjun, Hafiza,yang selalu memberikan semangat dan mendoakan yang terbaik yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
9. Teman-teman pejuang skripsi Nur Sa’baniah Nurul Azurah, Siti Amina Tega, Rahmawati, Ningsih Sulastri, Wahyuni A. More, dan adik tercinta Azizah Gasim & Raudhatussa’adahSyamsudin
10. Teman-teman seperjuangan, terkhusus kelas Kimia B Angkatan 2017, terimakasih telah hadir dan menorehkan kenangan indah selama bersama. Terimakasih telah membantu selama peneliti di sini.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT., dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta.Amin.
Mataram, 15 Mei 2022 Penulis,
Rahayu
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN LOGO ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ... v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi
HALAMANPENGESAHAN ... vii
HALAMAN MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat ... 5
D. Definisi Operasional ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN .. 8
A. Kajian Pustaka dan Hipotesis Penelitian ... 8
1. Kajian yang Terdahulu ... .... 8
2. Kajian Teori ... .. 11
a. Model Project Based Learning ... .. 11
(1) Pengertian Model Project Based Learning ... .. 11
(2) Langkah-Langkah Model Project Based Learning13 (3) Kelebihan dan Kelemahan Project Based Learning .. 16
3.1 Kelebihan Model Project Based Learning . .. 16
3.2 Kelemahan Model Project Based Learning .. 17
xiii
b. Modul Kimia Berorientasi CEP ... .. 18
(1) Pengertian Modul ... .. 18
(2) Fungsi, Tujuan dan Kegunaan Modul ... .. 19
(3) Kareteristik Modul ... .. 20
(4) Chemo-Entrepreneurship ... .. 21
c. Life Skill ... .. 22
d. Materi Asam dan Basa ... .. 25
3. Kerangka Berfikir ... …39
4. Hipotesis ... .. 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42
A. Metode Penelitian ... 42
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 42
2. Populasi dan Sampel ... 42
3. Waktu dan Tempat Penelitian ... 43
4. Variabel Penelitian ... 43
5. Desain Penelitian ... 43
6. Instrumen Penelitian ... 44
7. Teknik Pengumpulan Data ... 49
8. Teknik Analisis Data... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54
A. Hasil Penelitian ... 54
B. Pembahasan ... 57
BAB V PENUTUP ... 62
A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63 LAMPIRAN
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Kisi-kisi Angket ... 45
Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Empiris ... 47
Tabel 3.3 Hasil Uji Reliabilitas ... 49
Tabel 3.4 Aspek Angket Life Skill ... 50
Tabel 4.1 Analisis Angket Life Skill ... 55
Tabel 4.2 Hasil Angket Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 55
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ... 58
Tabel 4.4 Hasil UjiMann-Whitney Test ... 59
xv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I Nilai Observasi Awal
LampiranII Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Kelas Kontrol) Lampiran III Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Kelas Eksperimen) Lampiran IV Kisi-Kisi Angket Life Skill Siswa
Lampiran V Instrumen Angket Life Skill Siswa Yang Valid Lampiran VI Hasil Data angket Life Skill Kelas Eksperimen Lampiran VII Hasil Data angket Life Skill Kelas Kontrol Lampiran VIII Hasil Nilai Per-Indikator Life Skill Lampiran IX Hasil Nilai Per-indikator Life Skill Lampiran X Hasil Nilai Per-indikator Life Skill Lampiran XI Output Hasil Uji Reabilitas
Lampiran XII Output Hasil Uji Normalitas Hasil Angket Life Skill Lampiran XIII Output Mann-whitney Test
Lampiran XIV Dokumentasi
xvi
PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING (PJBL) BERBANTUAN MODUL KIMIA BERORIENTASI CHEMO- ENTREPRENEURSHIP TERHADAP LIFE SKILL SISWA MA AL-
ISHLAHUDDINY
Oleh:
Rahayu NIM.170109019
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untk mengetahui pengaruh model pembelajaran project based learning berbantuan modul kimia berorientasi chemo- entrepreneurship terhadap life skill siswa MA AL-Ishlahuddiny Tahun ajaran 2021/2022. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain penelitian Quasi Eksperiment. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh dengan jumlah sampel 67 orang. Dengan kelas XI IPA1 sebagai kelas kontrol dan XI IPA2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan adalah life angket life skill. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh Model Project Based Learning (PjBL) Berbantuan Modul Kimia Berbasis Chemo-Entrepreneurship terhadap Life Skill Siswa MA Al-Ishlahuddiny tahun ajaran 2021/2022 dengan nilai sig 0.003<0.005.
Kata kunci: Modul kimia berbasis CEP, Life Skill, dan Project Based Learning,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu sains yang mengkaji tentang struktur materi dan perubahan-perubahan yang dialami materi dalam proses alamiah maupun eksperimen yang disusun. Ilmu kimia sebagai kajian berupa proses dan produk, yang semestinya mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam meningkatkan kecerdasan siswa. Belajar kimia dapat diartikan sebagai upaya untuk mengetahui berbagai gejala alam agar mendapatkan suatu hasil yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.
Oleh karena itu, pada pembelajaran kimia dapat dihubungkan langsung dengan berbagai objek atau fenomena yang bermanfaat di sekitar kehidupan manusia.1
Kegiatan pembelajaran yang dapat membuat memori siswa bertahan lebih lama adalah pembelajaran yang membuat siswa aktif dalam membangun dan mengaitkan konsep materi. Oleh karena itu perlu digunakan model pembelajaran yang didukung media pembelajaran yang secara optimal dapat melibatkan siswa secara aktif.
Aktif dalam hal ini tidak hanya dilihat dari kualitas hasil seperti prestasi belajar kognitif, namun juga dilihat secara keseluruhan dari kualitas proses yaitu aktivitas siswa serta kualitas hasil seperti prestasi belajar siswa ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di MA Al- Islahuddiny pada proses pembelajaran khususnya pada materi asam dan basa dilaksanakan dengancara pemberian materi secara teori kepada siswa melalui metode ceramah, tanya jawab, dan presentasi.
Pada kegiatan belajar mengajar guru kurang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari serta belum memberikan pengajaran terkait pembuatan produk dari aplikasi materi kimia. Siswa juga menganggap bahwa mata pelajaran kimia yang sulit. Upaya yang dapat dilakukan
1Teguh Wibowo & Ariyatun,”Penerapan Pembelajaran Berorientasi Chemo- entrepreneurship (CEP) terhadap Kreativitas Siswa SMA Modern Pondok Selamat pada Materi Kelarutan dan Ksp”, (JTK: Jurnal Tadris Kimia. Vol 3, Nomor 1. 2018), hlm 63.
2
untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menerapkan sebuah model pembelajaran yang inovatif.
Melalui pembelajaran yang dapat menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari serta menjadikan pengalaman sebagai suatu bekal untuk menjalankan kehidupannya.Salah satu model pembelajaran yang mampu menghubungkan muatan akademik dengan konteks kehidupan nyata, sehingga dapat membangkitkan antusiasme siswa untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran ialah project based learning. Pembelajaran project based learning lebih menekankan pada aktivitas siswa dan berfokus pada konsep inti dan prinsip suatu pelajaran yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah, penyelidikan serta kerjasama dalam menghasilkan suatu produk. Pembelajaran berbasis proyek, bukan hanya membangun konsep, namun juga menghasilkan produk sebagai hasil pemecahan masalah.2
Beberapa keunggulan yang diperoleh melalui pembelajaran berbasis proyek meliputi: (1) Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata yang kompleks yang membuat siswa dapat mendefiniskan isu atau permasalahan yang bermakna,3 (2) Meningkatkan motivasi belajar siswa,4 (3) meningkatkan prestasi akademis dan sikap.5 Disamping itu dengan pembelajaran yang sesuai dan kontekstual yang dikaitkan dengan permasalahan tersebut, beberapa keterampilan penting yang diperlukan siswa sekaligus juga dapat dibekalkan. Salah satu keterampilan penting yang diperlukan siswa untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan baru bagi siswa adalah kecakapan hidup atau life skill.
2Widi Purwianingsih,dkk, Peningkatan Life Skill Siswa SMA Melalui Pembelajaran Based Learning Daur Ulamg Limbah, (Bandung: Artikel Pemakalah Paralel, 2018), hlm. 525.
3Husnul Khotimah, dkk, “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning terhadap Kreatifitas Berpikir dan Literasi Sains Siswa SMAN 1 Gerung Tahun 2018/2019, (Kimia dan Pendidikan Kimia, Vol. 2, Nomor 1, Juni 2020), hlm. 18.
4Yeti Utami, “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Pemahaman Konsep Kimia dan Life Skill Siswa Kelas XI IPA SMA 1Kajen, (Skripsi, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang 2015), hlm .4.
5Retha dan Agung, “Keefektifan Strategi Pembelajaran Project Based Learning Berbantuan Modul Pada Hasil Belajar Kimia Siswa”, (Inovassi Pendidikan Kimia, Vol. 8, Nomor. 2, 2014), hlm. 1361.
3
Life skill dapat diartikan sebagai kecakapan hidup. Kecakapan hidup ialah kemampuan untuk membantu berperilaku tepat dan bijak dalam situasi yang berbeda dan berkomunikasi secara adaptif dengan diri sendiri dan orang lain.6 Kecakapan hidup dapat diartikan pula sebagai kemampuan non akademis, pengetahuan, sikap dan perilaku yang harus dipelajari agar sukses di masyarakat.
Dengan mempunyai keterampilan atau kecakapan hidup memungkinkan orang untuk dapat beradaptasi dan menguasai situasi kehidupan mereka di rumah, pekerjaan, sekolah dan konteks lain dimana mereka menemukan jati diri.7 Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami, dkk dimana pembelajaran berbasis project based learning (PjBL) merupakan salah satu pembelajaran yang dianggap dapat menggali perkembangan kecakapan hidup dan penguasaan konsep serta selaras dengan prinsip dasar pendekatan kontekstual, karena siswa tidak hanya dituntut untuk memahami suatu konten saja, namun juga agar terampil membuat proyek yang berhubungan dengan pengetahuan yang didapat seperti membuat produk akhir, sehingga memungkinkan siswa menjadi lebih aktif dalam proses belajar, saling bekerjasama dalam menyelesaikan suatu permasalahan, pembelajaran menjadi lebih menantang dan menyenangkan karena permasalahan yang diambil merupakan permasalahan yang siswa ketahui atau alami sendiri di lingkungan sekitarnya.8
Untuk mendukung proses pembelajaran PjBL yang dapat membantu siswa mengkaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata serta mengoptimalkan life skill siswanya ialah pembelajaran dengan adanya bantuan modul berorientasi chemo-entrepreneurship. Modul berorientasi chemo-entrepreneurship (CEP) merupakan modul yang dapat mengembangkan keterampilan siswa. Modul chemo-
6Widi Purwianingsih, dkk, “Peningkatan Life Skill Siswa SMA Melalui Pembelajaran Based Learning Daur Ulang Limbah”, (Bandung: Artikel Pemakalah Paralel, 2018), hlm. 524.
7Junge, dkk.Building life skills through after school participation in experimental and cooperative learning.(Child Study Journal.Vol. 33, No. 3.2003), hlm.
34.
8Utami, dkk, “Kontribusi Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Life Skill Siswa”.(Journal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 10, No. 1, 2016), hlm 1683 – 1691.
4
entrepreneurship (CEP) dikembangkan dengan mengaitkan langsung pada obyek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia. Modul ini memungkinkan siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan memotivasi untuk wirausaha. Dengan modul berorientasi chemo- entrepreneurship (CEP) yang dikaitkan dengan objek nyata, maka diharapkan pula siswa akan menjadi lebih paham terhadap pelajaran kimia yang cenderung abstrak dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk.9
Dengan adanya bahan ajar berupa modul pembelajaran kimia berorientasi chemo-entrepreneurship (CEP) diharapkan peserta didik mampu belajar mandiri serta mempunyai gambaran yang luas mengenai peluang usaha yang bisa dikembangkan. Hal ini dikarenakan banyak lulusan MA Al-Islahuddiny yang tidak melanjutkan keperguruan tinggi sehingga banyak menimbulkan pengangguran.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka peneliti akan melakukan penelitian pada siswa MA Al-islahuddiny Kediri, dengan Judul “Pengaruh Model Project Based Learning (PjBL) Berbantuan Modul Kimia Berbasis Chemo-Entrepreneurship terhadap Life Skill Siswa.
B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh model Project Based Learning (PjBL) berbantuan modul kimia berorientasi Chemo-entrepreneurship (CEP) terhadaplife skill siswa kelas XI MA Al-Ishlahuddiny?
2. Batasan Masalah
a. Subjek penelitian terbatas pada peserta didik MA Al- Islahuddiny kelas XI pada semester ganjil tahun ajaran 2021/2022.
b. Aspek yang diteliti life skill siswa setelah diterapkannya pembelajaran menggunakan PjBL berbantuan modul kimia berorientasi CEP. Pengukuran life skill siswa menggunakan instrumen lembar angket.
c. Materi pokok yang digunakan adalah Asam dan Basa.
9Ibid, hlm 20.
5 C. Tujuan dan Maanfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh model PjBL berbantuan modul kimia berorientasi CEP terhadap life skill siswa kelas XI MAAl- Islahuddiny pada materi Asam dan Basa
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Mengembangkan ilmu pengetahuan mengenai sikap wirausaha melalui penerapan pembelajaran dengan menggunakan model PjBL berbantuan modul kimia berorientasi CEPpada materi Asam dan Basa dengan produk sabun dan sunlight.
b. Manfaat Praktis
Adapun manfaat atau kegunaan penelitian ini ialah:
1) Bagi Guru
Guru dapat menerapkan model pembelajaran PjBL berbantuan modul kimia berorientasi CEP untuk memberikan pengaruh terhadap life skill siswa.
2) Bagi Sekolah
Dapat memberikan kontribusi dalam hal perbaikan sistem pembelajaran untuk meningkatkan life skill siswa.
3) Bagi Peserta Didik
Mendapatkan pengaruh terhadap life skill siswa kelas XI MA Al-Islahuddiny pada materi Asam dan Basa dengan pembelajaran PjBL berbantuan modul kimia berorientasi CEP.
4) Bagi Peneliti
a) Menambah pengetahuan dan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.
b) Mengetahui model Pelajaran Kimia yang cocok untuk peserta didik SMA/MA pada materi Asam dan Basa yang dapat berpengaruh terhadap life skill siswa.
D. Defenisi Oprasional
Untuk: lebih: terfokus-nya: penelitian: ini: maka: penulis:
menyusun: definisi: sebagai: berikut:
6
1. Model Project Based Learning (PjBL)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) ialah model pembelajaran yang berfokus pada kreativitas dan kebutuhan-kebutuhan yang bermakna bagi diri siswa. Siswa berkreasi dengan memanfaatkan pengalaman dan kemampuannya sendiri untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menghasilkan karya yang siswa anggap berguna bagi dirinya maupun orang lain.10 Dalam penelitian ini pengaplikasian pembelajaran berbasis proyek hanya berpusat pada siswa, dan melibatkan dalam kegiatan penyelidikan dan eksplorasi secara kelompok dan hanya dilakukan pada kelas eksperimen, sedangkan kelas kontrol hanya diberikan pembelajaran konvensional, dalam hal ini kita bisa melihat sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran PjBL.
2. Modul Chemo-Entrepreneurship (CEP)
Modul chemo-entrepreneurshi (CEP) dikembangkan dengan mengaitkan langsung pada obyek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia. Modul ini memungkinkan siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan memotivasi untuk wirausaha.11 Dalam penelelitian ini modul CEP digunakan sebagai bahan ajar pada saat dilakukannya pembelajaran berbasis proyek pada kelas eksperimen.Modul ini berisi materi asam dan basa serta memuat praktikum pembuatan sabun yang dimana merupakan salah satu contoh basa dalam kehidupan sehari-hari.Dengan adanya modul pembelajaran kimia berorientasi chemo-entrepreneurship (CEP) diharapkan peserta didik mempunyai gambaran yang luas mengenai peluang usaha yang bisa dikembangkan.Hal ini dikarenakan banyak lulusan SMA/MA sederajat yang tidak melanjutkan keperguruan tinggi sehingga banyak menimbulkan pengangguran.
10Kosasih, E. “Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”. (Bandung: Yrama Widya, 2014). Hlm 98.
11Supartono, dkk, “Pembelajaran Kimia Menggunakan Kolaborasi Konstruktif dan Inkuiri Berorientasi Chemoentrepreneurship (CEP).”(Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 3. No 2), hlm. 476-483.
7 3. life skill
Istilah “skill” sering diartikan sebagai keterampilan, padahal keterampilan mempunyai makna yang sama dengan kecakapan fisik dan pekerjaan tangan. Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, ada beberapa indikator yang diukur dalam life skill yaitu: personal skill, thiking skill, social skill, academic skill dan vocational skill.12 Dalam penelitian ini untuk mengukur life skill siswa dengan menggunakan angket, angket diberikan sesudah pembelajaran itu berlangsung.
12Ibid, hlm. 6.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka
1. Kajian Penelitian Yang Relevan
Dalam penelitian ini, peneliti menemukan karya ilmiah dengan Judul yang masih berkaitan dengan Judul penelitian ini yang dijadikan sebgai bahan acuan. Adapun hasil penelitian lain yang menjadi acuan penulis antara lain:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Erlinda Eka Kurniati yang berjudul “Pengaruh Model PembelajaranProject Based Learning (PjBL) Berorientasi Chemo-Entrepreneurship (CEP) Berbantuan e-LKPD Terhadap Keterampilan Proses Sains dan Sikap Berwirausaha Peserta Didik”. Metode penelitian yang disusun ialah penelitian kuantitatif, hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap keterampilan proses sains dan sikap wirausaha peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 15 Semarang ada materi hidronlisis garam.13
Persamaan pada penelitian ini terletak pada: (1) sama- sama menggunakan pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP), (2) menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Adapun perbedaan penelitian tersebut dengan yang dilakukan oleh peneliti ialah: (1) peneliti sebelumnya menggunakan e-LKPD dalam proses pembelajaran, sedangkan penelitian yang sekarang menggunakan modul kimia dalam proses pembelajaran, (2) penelitian sebelumnya lebih menekankan pada keterampilan proses sains dan sikap berwirausaha, sedangkan penelitian yang sekarang lebih menekankan pada life skill siswa.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Yeti Utami yang berjudul
“Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Pemahaman Konsep Kimia dan Life Skill Siswa Kelas XI IPA
13Erlinda Eka Kurniati, “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Berorientasi Chemo-Entrepreneurship (CEP) Berbantuan e-LKPD Terhadap Keterampilan Proses Sains dan Sikap Berwirausaha Peserta Didik”, Chemistry in education (Vol. 10, No 1, 2021), hlm 61.
9
SMA 1Kajen”. Metode penelitian yang disusun ialah penelitian kualitatif dan kuantitatif, hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap pemahaman konsep kimia dan life skill siswa.14
Persamaan pada penelitian ini terletak pada: (1) menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), (2) sama-sama menekankan pada life skill siswa.
Adapun perbedaan penelitian tersebut dengan yang dilakukan oleh peneliti ialah: (1) peneliti sebelumnya tidak menggunakan media dalam proses pembelajaran sedangkan peneliti menggunakan modul kimia berorientasi Chemo- Entrepreneurship, (2) lokasi penelitian sebelumnya berada di SMA 1 Kajen Semarang sedangkan lokasi peneliti yang sekarang berada di MA Al-Islahuddiny Kediri Lombok Barat.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Ersanghono k, dkk yang berjudul”Peningkatan Life Skill Mahasiswa kimia Berorientasi Chemo-Entrepreneurship (CEP) Melalui Pembelajaran Kooperatif STAD”. Metode penelitian yang disusun ialah penelitian kualitatif dan kuantitatif, hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap peningkatan life skill mahasiswa kimia.15
Persamaan pada penelitian ini terletak pada: (1) sama- sama menekankan pada life skill, (2) berorientasi Chemo- Entrepreneurship. Adapun perbedaan penelitian tersebut dengan yang dilakukan oleh peneliti ialah: (1) peneliti sebelumnya tidak menggunakan media dalam proses pembelajaran sedangkan peneliti menggunakan modul kimia berorientasi Chemo-Entrepreneurship, peneliti sebelumnya menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD sedangkan peneliti sekarang menggunakan model pembelajaran project based learning, (3) objek penelitian sebelumnya ialah mahasiswa UNNES sedangkan objek penelitian yang sekarang ialah siswa MA Al- islahuddiny Kediri.
14Yeti Utami, “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Pemahaman Konsep Kimia dan Life Skill Siswa Kelas XI IPA SMA 1 Kajen, (Skripsi, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang 2015), hlm 6.
15Ersanghono k, dkk, “Peningkatan Life Skill Mahasiswa kimia Berorientasi Chemo-Entrepreneurship (CEP) Melalui Pembelajaran Kooperatif STAD”, (Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 29, No. 2, 2011), hlm 133.
10
d. Penelitan yang dilakukan oleh Nuryahati Jonanda yang berjudul “Pengaruh Penerapan Model PjBL Pada Materi Hidrokarbon dan Minyak Bumi Terhadap Life Skill Pada Aspek Spesifik Life Skill Siswa”. Metode penelitian yang disusun ialah penelitian kuantitatif, hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap peningkatan life skill siswa.16
Persamaan pada penelitian ini terletak pada: (1) sama- sama menekankan pada life skill siswa, (2) menggunakan model PjBL. Adapun perbedaan penelitian tersebut dengan yang dilakukan oleh peneliti ialah: (1) peneliti sebelumnya tidak menggunakan media dalam proses pembelajaran sedangkan peneliti menggunakan modul kimia berorientasi Chemo-Entrepreneurship, (3) materi penelitian sebelumnya ialah Hidrokarbon dan Minyak Bumi sedangkan sedangkan penelitian sekarang menggunakan materi Asam dan Basa.
e. Penelitan yang dilakukan olehAgus Prayetno dkk yang berjudul
”Penerapan Modul Kimia Berpendekatan CEP untuk Meningkatkakn Kecakapan Hidup Dan Motivasi belajar”.
Metode penelitian yang disusun ialah penelitian kuantitatif, hasil penelitian ini terdapat pengaruh terhadap peningkatan life skill siswa.17
Persamaan pada penelitian ini terletak pada: (1) sama- sama menekankan pada life skill siswa, (2) menggunakan modul berorientasi CEP (3) menggunakan materi asam dan Basa. Adapun perbedaan penelitian tersebut dengan yang dilakukan oleh peneliti ialah: (1) peneliti sebelumnya melakukan pengembangan modul CEP sedangkan peneliti sekarangmenggunakan modul CEP untuk melihat pengaruhnya terhadap life skill. (2) lokasi penelitian yang berbeda.
16Nurhayati Junanda, 2020. Pengaruh Penerapan Model PjBL Pada Materi Hidrokarbon dan Minyak Bumi Terhadap Life Skill Pada Aspek Spesifik Life Skill Siswa.
(Skripsi.FTK UIN Sultan Syarif Kasim Riau), hlm. 7.
17Agus Prayetno dkk.”Penerapan Modul Kimia Berpendekatan CEP untuk Meningkatkakn Kecakapan Hidup Dan Motivasi Belajar”.(JISE, Vol. 6, Nomor 2, 2017), hlm. 139.
11 2. Kajian Teori
a. Model Project Based Learning
1) Pengertian Model Project Based Learning
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) ialah model pembelajaran yang berfokus pada kreativitas dan kebutuhan-kebutuhan yang bermakna bagi diri siswa. Siswa berkreasi dengan memanfaatkan pengalaman dan kemampuannya sendiri untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menghasilkan karya yang siswa anggap berguna bagi dirinya maupun orang lain.18
Grant mendefinisikan project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Siswa secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis proyek terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan.19Pembelajaran berbasis proyek berpusat pada siswa, dan melibatkan dalam kegiatan penyelidikan dan eksplorasi secara kelompok.20
Menurut Afriana, pembelajaran berbasis proyek merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Pengalaman belajar peserta didik maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.21
18Kosasih, E. “Strategi belajar dan pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”(Bandung: Yrama Widya, 20140), hlm. 98.
19Grant, M.M. “Getting A Grip of Project Based Learning : Theory, Cases and Recomandation”. North Carolina :Meredian A Middle School Computer Technologies.
(Vol, Nomor 1, 2002), hlm 3.
20 Chanlin, L. J. Technology Integration Applied To Project-Based Learning In Science. Innovation is Education and Teaching International,(Vol. 45, Nomor 1, 2008), hlm. 55- 65.
21Afriana, Jaka. Project Based Learning (PjBL). Makalah untuk Tugas Mata Kuliah Pembelajaran IPA Terpadu.Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana.(Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2015), hlm 46
12
Sedangkan Made Wena (dalam Lestari) mengemukakan bahwa model Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengelola pembelajaran dikelas dengan melibatkan kerja proyek.
Kerja proyek merupakan suatu bentuk kerja yang memuat tugas-tugas kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang dan menuntun peserta didik untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan peserta didik untuk bekerja secara mandiri.22
Model pembelajaran berbasis proyek merupakan suatu inovasi pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa dan berfokus pada konsep inti dan prinsip suatu pelajaran yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah, penyelidikan serta kerjasama dalam menghasilkan suatu produk.23 Pembelajaran berbasis proyek merupakan pendekatan yang lebih menekankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan baru), dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.24
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek hanya berpusat pada siswa dan guru hanya menjadi fasilitator dikelas.
22Lestari, Tutik. Peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Dasar menyajikan ContohContoh Ilustrasi Dengan Model Pembelajaran Project Based Learning dan Metode Pembelajaran Demonstrasi Bagi Siswa Kelas XI Multimedia SMK Muhammadiyah Wonosari.(Skripsi.Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, 2015), hlm 14.
23Damiri, D. J. “Implementation Project Based Learning on Local Area Network Training. International Journal of Basic And Applied Science”, (Vol. 1, Nomor 1, 2012), hlm. 83-88.
24Aqib, Z. “Model-Model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif)”.(Bandung: Yrama Widya. 2013), hlm. 21
13
2) Langkah-langkah pembelajaran Project Based Learning Adapun langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek.25
a) Penentuan proyek
b) Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek c) Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek
d) Penyelesaian proyek dengan fasilitas dan monitoring e) Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil
proyek
f) Evaluasi proses dan hasil proyek
Tahap-tahap proses pembelajaran berbasis proyek lainnya meliputi:
a) Persiapan
Tahap persiapan diawali dengan penjelasan guru tentang materi yang dipelajari yang diikuti dengan instruksi tugas proyek.Pada tahap ini meliputi langkah menentukan proyek, memilih tema proyek untuk menghasilkan produk, merancang langkah-langkah penyelesaian proyek dari awal sampai akhir serta menyusun jadwal pelaksanaan proyek.26
b) Pelaksanaan proyek
Tahapan ini merupakan tahapan utama pembelajaran dan terdiri dari beberapa aktivitas yang berkenaan dengan persiapan dan langkah penting pengerjaan suatu proyek. Tahapan ini meliputi: (a) pembentukan kelompok dan pemilihan proyek, (b) pengumpulan informasi, (c) langkah kerja proyek.27 c) Evaluasi
Dalam tahap ini peserta didik melakukan uji coba produk untuk mengetahui ketercapaian tujuan
25Kemdikbud.Buku Guru Ilmu Pengetahuan Sosial.(Jakarta: Kemendikbud, 2014), hlm. 12.
26Ibid, hlm 16
27 Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif dan Kontekstual, (Surabaya: PT Kharisma Putra Utama, 2010), hlm. 56.
14
proyek serta mengetahui kelebihan dan kelemahannya.28
Peran guru pada pembelajaran proyek adalah sebagai fasilitator, pemandu, serta pemberi informasi dalam kegiatan siswa mengerjakan proyek.Guru juga harus memiliki keterampilan sebagai seorang pemimpin dalam menyampaikan arahan serta meyakinkan siswa dalam menemukan ide atau gagasan.29
Karakteristik pembelajaran berbasis proyek menurut Buck Institute for Education, yaitu sebagai berikut:30
a) Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja.
b) Pembelajaran merancang proses untuk mencapai hasil.
c) Pembelajaran bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan.
d) Ada evaluasi secara kontinu.
e) Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan.
f) Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya.
g) Kelas memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
Pembelajaran berbasis proyek mampu mengoptimalkan daya kreativitas dan eksplorasi siswa serta peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing yang efektif.31 ini terjadi melalui interaksi siswa secara individu dalam kelompok maupun antar kelompok.Pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan aktivitas dan
28Ibid, hlm. 55.
29Kubiatko & Vaculova.Project-Based Learning: Characteristic and the Experiences With Apllication In The Science Subject. Energy Education Science and Technology Part B: Social and Educational Studies, (Vol 3, No 1, 2011), hlm 65-74.
30Wiyarni & Parnata.“Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Perkuliahan Workshop Pendidikan Kimia Untuk Meningkatkan Kemandirian DanPrestasi Belajar Mahasiswa”.(Skripsi.FMIPA.Universitas Negeri Yogyakarta, 2007), hlm. 23.
31Muliastawan, dkk.“Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Pemahaman Konsep dan Keterampilan Memperbaiki Sistem Transmisi Di SMK.E- Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha”.Program Studi Teknologi Pembelajaran, (Vol. 4, Nomor 1, 2014), hlm 13.
15
keterlibatan siswa dalam pembelajaran, meningkatkan hasil belajar siswa, membekali kreativitas dan karya siswa, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, bermanfaat serta lebih bermakna.32
3) Kelebihan dan Kelemahan Model Project Based Learning
Manfaat/kelebihan model PjBL dalam meningkatkan motivasi siswa, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, meningkatkan kolaborasi, meningkatkan keterampilan mengelola sumber, meningkatkan keaktifan siswa meningkatkan keterampilan siswa dalam mencari informasi, mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, memberikan pengalaman dalam membuat alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas, menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa sesuai dunia nyata, dan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.33
a) Manfaat/kelebihan dari model PjBL sebagai berikut:34 (1) Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan
mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting;
(2) Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah;
(3) Membuat siswa lebih aktif dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks;
(4) Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama;
(5) Mendorong siswa mempraktikan keterampilan berkomunikasi;
32Purworini.“Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai Upaya Mengembangkan Habit of Mind Studi Kasus di SMP Nasional KPS Balikpapan”.(Jurnal Pendidikan Inovatif, Vol 1, No 2, 2006), hlm 17-19.
33Widyantini, Theresia. “Penerapan Model PembelajaranProject Based Learning dalam Materi Pola Bilang Kelas VII”.2014, hlm 5-6.
34Riduwan Abdullah Sanisx. “Inovasi Pembelajaran”. (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 177.
16
(6) Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber daya;
(7) Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasi waktu, dan mengelola sumber daya seperti peralatan dan bahan untuk menyelesaikan tugas;
(8) Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata;
(9) Melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata;
(10) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.
b) Kelemahan model PjBL sebagai berikut:35
(1) Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan produk;
(2) Membutuhkan biaya yang cukup;
(3) Membutuhkan guru yang terampil dan mau belajar;
(4) Membutuhkan fasilitas, peralatan, dan bahan yang memadai;
(5) Tidak sesuai untuk siswa yang mudah menyerah dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan;
(6) Kesulitan melibatkan semua siswa dalam kerja kelompok.
Mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang guru harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
35Ibid, hlm. 12.
17
sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa PjBL ialah pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dimana dapat membangun dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan mengeksplorasi dan memecahkan sebuah masalah didunia nyata secara mandiri.
b. Modul Berorientasi Chemo-Entrepreneurship 1) Pengertian Modul
Modul ialah sebuah bahan ajar cetak yang tersusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka, agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari pendidik.36 Menurut Mulyasa modul merupakan salah satu paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan serta dirancang secara sistematis untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar.37
Menurut Vembriarto modul adalah suatu praktek pengajaran yang memuat satu unit konsep dari bahan ajar.
Pengajaran modul merupakan suatu proses pengajaran individual yang memungkinkan siswa menguasai satu unit bahan pelajaran sebelum dia beralih kepada unit berikutnya. Modul disajikan dalam bentuk yang bersifat self-instructional. Masing-masing siswa dapat menentukan kecepatan dan intensitas belajarnya masing-masing dirumah mapun disekolah.38
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa modul ialah bahan ajar yang digunakan oleh guru yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup
36Prastowo.”Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif”.(Yogyakarta: Diva Press, 2011) hlm. 106.
37Mulyasa,E. “Konsep Karekteristik dan Implementasi”. (Bandung: Remaja Rosdakarya) hlm. 43-45.
38Vembriarto.(1976). “Pengantar Pengajaran Modul”.(Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita)hlm, 22.
18
isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri, belajar sesuai dengan kecepatan masing- masing individu secara efektif dan efisien.Pada penelitian ini modul asam dan basa disusun oleh peneliti agar lebih ringkas, sistematis, dan menarik.
2) Fungsi, Tujuan dan Kegunaan Modul
Sebagai salah satu bentuk bahan ajar, modul memiliki fungsi sebagai bahan ajar mandiri, pengganti fungsi pendidik, sebagai alat evaluasi, dan sebagai bahan rujukan bagi siswa. Adapun tujuan penyusunan atau pembuatan modul antara lain: (1) agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik (yang minimal), (2) agar peran pendidik tidak terlalu dominan dan otoriter dalam kegiatan pembelajaran, (3) melatih kejujuran siswa, (4) mengakomodasi berbagai tingkat dan kecepatan belajar siswa, dan (5) agar siswa mampu mengukur sendiri tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari.39
Kegunaan modul dalam proses pembelajaran antara lain sebagai penyedia informasi dasar, karena dalam modul disajikan berbagai materi pokok yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut, sebagai bahan instruksi atau petunjuk bagi siswa, serta sebagai bahan pelengkap dengan ilustrasi dan foto yang komunikatif. Disamping itu, kegunaan lainnya ialah menjadi petunjuk mengajar yang efektif bagi pendidik serta menjadi bahan untuk berlatih bagi siswa dalam melakukan penilaian sendiri (self assessment).Pemakaian modul dapat membantu siswa belajar secara kontekstual karena mereka dapat belajarsecara mandiri untuk menghubungkan konsep-
39Ita Masithoh Wikhdah. “Pengembangan Modul Larutan Penyangga Berorientasi Chemo-entrepreneurship (CEP) untuk Kelas XI SMA/MA”.(Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang, 2015) hlm 32.
19
konsep pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan sehari- hari.40
3) Karakteristik Modul
Modul memiliki karakteristik self instruction, yaitu modul memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instruction, maka modul harus:
1) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat menggambarkan pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
2) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit- unit kegiatan yang kecil atau spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas.
3) Tersedia contoh dan ilustri yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran.
4) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan siswa.
5) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan siswa.
6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif.
7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
8) Terdapat informasi tentang rujukan atau pengayaan atau referensi yang mendukung materi.41
4) Chemo-Entrepreneurship (CEP)
Entrepreneur atau wirausaha ialah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekonomian.Orang tersebut bisa melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru ataupun bisa pula dilakukan dalam organisasi bisnis yang sudah ada. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan
40Ibid, hlm.16
41Daryanto.“Menyusun Modul”. (Yogyakarta: Gava Media, 2013) hlm. 9.
20
atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menetapkan cara kerja, teknologi dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.42
Konsep berbasis chemo-entrepreneurship (CEP) dalam modul ialah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia dikaitkan dengan objek nyata sehingga selain mendidik, dengan berorientasi CEP ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan menumbuhkan semangat wirausaha. Dengan berorientasi CEP dalam modul ini pelajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan suatu produk. Bila siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan peserta akan termotivasi untuk wirausaha.43
Hal ini berarti dengan adanya berbasis CEP dalam modul pembelajaran, siswa akan lebih memahami materi pelajaran kimia secara real. Karena dalam proses belajar, siswa banyak disuguhi teori yang dikaitkan dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari baik melalui inagurasi praktikum yang bermuatan life skill maupun melalui diskusi-diskusi formal yang dapat memicu daya pikir siswa. Berorientasi chemo-entrepreneurship (CEP) termasuk salah satu pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
42 Alma. ”Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum”.(Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 26
43Supartono, dkk.“Pembelajaran Kimia Menggunakan Kolaborasi Konstruktif dan Inkuiri Berorientasi Chemo-entrepreneurship (CEP)”.(Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 3, No 2, 2009), hlm. 476-483.
21
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa modul kimia berorientasi chemo-entrepreneurship ialah bahan ajar yang dapat menumbuhkan minat wirausaha dan meningkatkan pemahaman konsep siswa.Didalam modul juga sudah memiliki contoh pengaplikasian asam basa dalam kehidupan sehari-hari.
5) Life Skill
Istilah “skill” sering diartikan sebagai keterampilan, padahal keterampilan mempunyai makna yang sama dengan kecakapan fisik dan pekerjaan tangan.44Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.Hal ini menyebabkan life skill sering dimaknai hanya sebagai vocational skill, keterampilan kerja kejuruan atau kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa agar mereka dapat segera bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya.45
Menurut Kosasih, pendidikan kecakapan hidup atau life skill yang diberikansampai dengan jenjang sekolah menengah lebih berorientasi pada upayamempersiapkan siswa menghadapi era milenial. Pada intinya,pendidikan kecakapan hidup berorientasi pada: pembekalan dalam pengembangan kemampuan belajar, penyadaran dan kebersyukuran atas potensi diri dan keberanian menghadapi problema kehidupan46
Menurut Dirjen PLSP, istilah kecakapan hidup (life skills) diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang agar berani menghadapi problema hidup dan penghidupan
44 Kosasih, E. “Strategi belajar dan pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”. (Bandung: Yrama Widya, 2014) hlm. 36
45Mulyasa.“Pengembangan dan Implementasi kurikulum 2013”.(Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2014) hlm. 67
46Kosasih, E. “Strategi belajar dan pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013”. (Bandung: Yrama Widya, 2014) hlm. 41
22
secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif yang dimana mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.47
Life skill sangat dibutuhkan seseorang terutama dalam dunia pekerjaan, serta dapat juga digunakan untuk melatih kecakapan personal seseorang.48 Pengertian dari life skill adalah kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang (peserta didik) dimanapun ia berada untuk menghadapi dan menjalankan kehidupan nyata dan memberikan bekal kepada siswa terutama dalam mengatasi berbagai persoalan hidup, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.49
Kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar yang perlu dinilai sejauh mana kesesuaiannya dengan kebutuhan mereka untuk dapat bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jenis- jenis kecakapan yang perlu dinilai, antara lain keterampilan diri (personal), keterampilan berpikir rasional, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional.50
Komponen life skill dibagi menjadi dua macam, yaitu general life skill (GLS) dan spesific life skill (SLS).
Masing-masing komponen dibagi menjadi sub komponen:
47Depdiknas, Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life skills) Melalui Pendekatan BroadBesed Education (Draft) (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2002), hlm. 24.
48Carroll, dkk.“Integrating Life skill Into Relationship And Mirrage Education:
The Essential Life skills For Military Families Program”. (Family relation, Vol. 62, No 4, 2013) hlm.559-570.
49Kusuma, dkk.“Penggunaan Pendekatan Chemo-entrepreneurship Berorientasi Green Chemistry Untuk Meningkatkan Kemampuan Life skill Siswa SMA”.(Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 1, No 3, 2009) hlm.366-372.
50Arifin.“Evaluasi Pembelajaran”. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm.
184
23
1) General life skill meliputi personal skill dan social skill a) Personal skill terdiri dari 2 komponen yang meliputi awarennes skill mencakup tentang penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan thinking skill mencakup kecakapan dalam menemukan informasi, mengolah, dan mengambil keputusan dalam memecahkan masalah secara kreatif.
b) Social skill mencakup kecakapan dalam berkomunikasi, baik komunikasi secara lisan maupun komunikasi tertulis dan kecakapan dalam bekerja sama dengan orang lain.
2) Spesific life skill meliputi academic skill dan vocational skill
a) Ademic skill terkait dengan kecakapan intelektual yang mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan hipotesis, dan kecakapan melaksanakan penelitian.
b) Vocational skill terkait dengan bidang pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu.51
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa life skill merupakan suatu pembelajaran yang merujuk pada kecakapan hidup seseorang terkait kecakapan dalam diri, komunikasi, bekerja dan memecahkan masalah guna menjalani kehidupannya.
c. Materi Asam dan Basa
Senyawa asam dan basa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari- hari dan dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan.Pada umumnya salah satu sifat asam ialah mempunyai rasa yang asam sementara basa mempunyai rasa pahit atau getir.Mengenali asam basa tidak harus dengan mecicipinya karena hal tersebut sangat berbahaya. Ada
51Supriatna, M. “Pengembangan Kecakapan Hidup di Sekolah”.(Jakarta:
Depdiknas, 2010), hlm 55.
24
bebarapa bahan asam basa yang bersifat beracun untuk tubuh kita
1) Sifat Asam Basa
Asam dan basa telah dikenal sejak zaman dahulu.
Asam (acid) berasal dari bahasa Latin yaitu acetum yang berarti cuka, sedangkan basa (alkali) berasal dari bahasa arab yang berarti abu. Basa biasanya digunakan dalam membuat sabun.Asam dan basa dapat saling menetralkan.Asam banyak ditemukan di alam dalam buah- buahan, misalnya asam sitrat yang terkandung dalam buah jeruk yang berfungsi memberikan rasa limun yang tajam.
Contoh lain yaitu cuka yang mengandung asam asetat. Basa adalah suatu zat yang dapat menetralkan asam.Secara kimiawi, asam dan basa saling berlawanan.Basa berasa pahit dan licin.
Meskipun asam dan basa dapat dibedakan dari rasanya, tetapi tidak disarankan untuk mencicipi asam atau basa yang ada di laboratorium.Asam dan basa dapat dibedakan menggunakan zat tertentu yang disebut indikator. Larutan asam dan basa dapat diperoleh dengan cara melarutkan asam atau basa secara langsung ke dalam air. Selain itu, larutan ini juga dapat diperoleh melalui reaksi antara senyawa oksida dengan larutan asam. Reaksi antara oksida asam dengan air akan menghasilkan larutan asam, sedangkan reaksi antara oksida basa dengan air akan menghasilkan larutan basa. Larutan basa juga dapat dihasilkan dari reaksi antara logam reaktif dengan air.
2) Teori Asam dan Basa
Terdapat tiga teori asam basa menurut para ilmuan, yaitu menurut Svante August Arrhenius, Johannes Nicoulaus Bronsted, Thomas Martin Lowry, dan Gilbert Newton Lewis.
a) Teori Asam Basa Arrhenius (1859-1927)
Menurut Svante Arrhenius, asam ialah zat yang menghasilkan ion Hidrogen (H+) atau ion H3O+ dalam air, karena mengalami ionisasi, contohnya HCl.
25
Sedangkan basa ialah zat yang menghasilkan ion OH- dalam air karena mengalami ionisasi, contohnya NaOH.
Contoh umum asa basa Arrhenius HCl -> H++ Cl- (Asam) NaOH -> Na++ OH- (Basa)
Jumlah ion H+ yang dihasilkan oleh satu molekul asam disebut sebagai valensi asam, sedangkan jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut sebagai valensi basa
b) Teori Asam Basa Bronsted-Lowry
Teori asam basa yang dikemukakan oleh Arrhenius memiliki kelemahan dalam menjelaskan fakta-fakta baru, seperti dalam menjelasan sifat asam dan basa pada larutan yang pelarutnya bukan air.
Sebagai contoh, asam asetat bersifat asam jika dilarutkan dalam air, tetapi sifat asam tersebut tidak muncul ketika asam asetat dilarutkan dalam benzena.Begitu juga dengan ammonia (NH3) yang dilarutkan dalam natrium amida (NaNH2) yang bersifat basa meskipun ammonia (NH3) tidak mengandung ion OH-.
Menurut Bronsted-Lowry, asam ialah zat yang dapat memberikan ion hidrogen yang bermuatan (+) sedangkan basa diartikan sebagai zat yang dapat menerima ion H+ itu sendiri.
Berdasarkan teori asam dan basa Bronsted- Lowry, suatu zat bersifat asam atau basa dengan melihat kemampuan zat tersebut dalam serah terima proton dalam larutan. Pelarut tidak terbatas pada pelarut air saja, melainkan juga pelarut lain seperti alkohol, ammonia cair, dan eter. Contoh reaksi
- HCl (asam 1) + H2O (basa 2) ⇌ H3O+(asam 2) + Cl- (aq) (Basa 1)
- CH3COOH (asam 1) + H2O (basa 2) ⇌ CH3COO- (aq) (basa 1) + H3O+(asam 2)
26
Dari reaksi di atas, dapat diketahui bahwa HCl dan CH3COOH adalah asam karena memberikan ion H+(proton) kepada H3O, sehingga HCl dan CH3COOH disebut sebagai donor proton. Adapun Cl- dan CH3COO- adalah basa karena menerima ion H+ (proton) dari H3O+, sehingga Cl- dan CH3COO- disebut sebagai akseptor proton. Basa tersebut adalah basa konjugasi.Sementara itu, H3O+ adalah asam konjugasi.Pasangan HCl dan Cl- dan CH3COOH dan CH3COO- adalah pasangan asam basa konjugasi.
Beberapa spesi dalam reaksi asam basa dapat berperan sebagai asam atau basa.Suatu spesi yang dapat bereaksi sebagai asam atau basa dan bergantung pada jenis pereaksinya yang dinamakan amfiprotik.
c) Teori Asam Basa Gilbert Newton Lewis
Hampir bersamaan dengan Bronsted-Lowry, Lewis mendefinisikan asam sebagai penerima pasangan elektron, dan basa adalah pendonor pasangan elektron.Teori Lewis memiliki beberapa kelebihan dari teori Bronsed-Lowry yaitu teori Lewis memungkinkan penggolongan asam-basa digunakan dalam reaksi- reaksi yang tidak terdapat H+ maupun OH-. Berikut contoh asam basa menurut Lewis
Dari contoh diatas, yaitu reaksi antara BF3 (Boron triflorida) dengan NH3 (ammonia), BF3adalah asam Lewis karena menerima sepasang elektron dari NH3, sedangkan NH3 ialah Basa Lewis karena memberikan pasangan elektron bebas ke BF3. Konsep asam basa yang dikembangkan oleh Lewis berdasarkan pada ikatan kovalen koordinasi. Atom/spesi yang memberikan pasangan elektron di dalam membentuk ikatan kovalen koordinasi akan bertindak sebagai basa, sedangkan atom, molekul, atau spesi yang menerima pasangan elektron disebut sebagai asam.
Zat ammonia yang berupa basa biasanya digunakan sebagai obat-obatan, bahan campur pupuk
27
urea (CO(NH2)2, membuat hidrazin (N2H4) sebagai bahan bakar roket dan bahan dasar peledak. Selain itu jika amnonia dilarutkan dalam air maka dapat digunakan sebagai pembersih alat perkakas rumah tangga.
3) Konsep PKW, pH dan hubungan antara pOH a) Tetapan kesetimbangan Air
Diibaratkan sebuah air yang ditambahkan dengan jeruk lemon yang bersifat asam, maka kesetimbangan airnya akan berubah. Artinya H+ dan OH-akan berubah. Pada penambahan jeruk atau zat asam, H+akan meningkat, sehingga larutan air akan bersifat asam. Sedangkan pada penambahan zat basa, OH-akan meningkat juga. Karena Kw adalah (tetap pada suhu tertentu) maka H+ akan bersifat basa. Dalam hal ini besarnya nilai H+akan menentukan apakah larutan tersebut bersifat asam, basa atau netral.
Air ialah elektrolit yang sangat lemah karena sebagian kecil dari molekul air terionisasi dengan reaksi:
H2O(I) ⇌ H+(aq) + OH-(aq)
Reaksi ionisasi ini merupakan reaksi kesetimbangan sehingga berlaku hukum kesetimbangan:
K =
Air murni mempunyai konsentrasi yang tetap sehingga hasil kali dari konsentrasi air murni dengan K akan menghasilkan nilai yang tetap.
K[H2O] = [H+] [OH-]
Dengan nilai K[H2O] tetap, maka ketetapan kesetimbangan air dinyatakan sebagai tetapan ionisasi air dan di beri lambang Kw
Kw[H+] [OH-]
28
Dari penjabaran kesetimbangan air dapat disimpulkan bahwa yang menentukan tingkat keasaman suatu larutan adalah besarnya suatu larutan.
b) Derajat Keasaman (pH) serta hubungan dengan pOH Pada tahun 1910, seorang ahli dari Denmark, Soren Lautiz Sorensen memperkenalkan suatu bilangan yang sederhana yang diperoleh dari hasil logaritma konsentrasi H+ yang kemudian dikenal dengan skala pH untuk menyatakan tingkat atau derajat keasaman suatu larutan. Derajat keasaman (pH) adalah sifat kimia yang penting, seperti dalam darah dan cairan tubuh manusia. Darah memiliki pH antara 7,35-7,45.
Perubahan pH yang sangat kecil dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ tubuh sehingga keseimbangan asam basa darah dikendalikan secara seksama.
Kelebihan asam dalam tubuh akan dibuang sebagian besar dalam bentuk amonia oleh ginjal. Ginjal mampu mengubah jumlah asam maupun basa yang dibuang. Proses tersebut biasanya berlangsung selama beberapa hari. Asam lambung memilki rumus kimia HCl atau asam klorida yang bersifat asam. Kadar HCl dalam tubuh sekitar 0,5% dari total getah lambung.
Pada dinding lambung mucus yaitu lendir yang berfungsi untuk melindungi lambung.Jika jumlah lendir terlalu sedikit ataupun sebaliknya, dapat mengakibatkan luka pada dinding lambung. Gejala asam lambung tersebut yang menyebabkan munculnya penyakit maag.
Harga pH sendiri berkisar antara 1 – 14 dan untuk larutan asam berlaku rumus sebagai berikut
pH = -log [H+]
Adapun cara untuk menentukan nilai konsentrasi OH- dalam sebuah larutan basa dapat digunakan rumus sebagai berikut:
Kw = -log [H+ ] + (-log [OH-] )