• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Responden Penelitian

BAB IV GAMBARAN UMUM

B. Karakteristik Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah pengunjung wisata suku Baduy dengan total responden sebanyak 330 responden.

1. Karakteristik responden berdasarkan usia

Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan usia disajikan dalam tabel 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4. 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Usia Frekuen si

Persenta se

16-20 70 21.67%

21-25 166 51.39%

26-30 47 14.55%

31-35 11 3.41%

36-40 11 3.41%

41-45 11 3.41%

46-50 3 0.93%

51-55 3 0.93%

56-60 1 0.31%

Total 323 100.00%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa mayoritas responden berusia 21-25 tahun sebanyak 166 orang (51,39%). Selanjutnya, usia responden 16-20 tahun sebanyak 70 orang (21,67%). Kemudian, responden dengan usia 26-30 tahun sebanyak 47 orang (14,55%).

Frekuensi responden yang berusia 31-35 tahun sebanyak 11 orang (3,41%). Jumlah responden yang berusia 36-40 tahun sebanyak 11 orang (3,41%). Responden yang berusia 41-45 tahun sebanyak 11 orang (3,41%). Selanjutnya responden yang berusia 46-50 tahun sebanyak 3 orang (0,93%). Kemudian responden yang berusia 51-55 tahun sebanyak

3 orang (0,93%) dan responden yang berusia 56-60 tahun sebanyak 1 orang (0,31%).

2. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan dalam tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4. 2 Karakteristik Responden Berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 173 53,56%

Perempuan 150 46,44%

Total 323 100%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa responden terbanyak dengan jenis kelamin laku-laki sebanyak 173 orang (53,56%) dan responden perempuan sebanyak 150 orang (46,44%).

3. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan pendidikan disajikan dalam tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4. 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan (Tahun) Frekuensi Persentase

SMP (9 tahun) 15 4,64%

SMA (12 tahun) 190 58,82%

Diploma III (15 tahun) 10 3,1%

Sarjana 1 (16 tahun) 108 33,44%

Total 323 100%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa mayoritas responden memiliki latarbelakang pendidikan SMA sebanyak 190 orang (58,82%), responden dengan pendidikan Sarjana1 sebanyak 108 orang (33,44%), responden dengan pendidikan SMP sebanyak 15 orang (4,64%) dan responden dengan pendidikan Diploma III sebanyak 10 orang (3,1%).

4. Karakteristik responden berdasarkan pendapatan

Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan pendapatan disajikan dalam tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4. 4 Karakteristik Responden Berdasarkan pendapatan

Pendapatan

Frekuens

i persentase Rp400.000,00-Rp1.000.000,00 70 21,7%

Rp1.000.001,00-Rp2.000.000,00 111 34,4%

Rp2.000.001,00-Rp3.000.000,00 127 39,3%

Rp3.00.001,00-Rp4.000.000,00 2 0,6

> Rp4.000.001,00 13 4

Total 323 100,00%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pendapatan Rp2.000.001,00-Rp3.000.000,00 sebanyak 127 orang (39,3%). Responden dengan pendapatan Rp1.000.001- Rp2.000.000,00 sebanyak 111 orang (34,4%). Responden dengan pendapatan Rp400.000,00–Rp1.000.000,00 sebanyak 70 orang (21,7%).

Kemudian, responden dengan pendapatan >Rp4.000.001,00 sebanyak 13 orang (4%) dan responden dengan pendapatan Rp3.000.001,00- Rp4.000.000,00 sebanyak 2 orang (0,6%).

5. Karakteristik kesediaan responden berdasarkan WTP

Hasil analisis karakteristik responden berdasarkan kesediaan membayar Willingness to Pay disajikan dalam tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4. 5 Karakteristik Kesediaan Responden berdasarkan WTP

WTP Frekuensi Persentase

Bersedia 317 98,14%

Tidak Bersedia 6 1,86%

Total 323 100%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa mayoritas responden bersedia membayar Willingness to Pay sebanyak 317 orang (98,14%) dan responden yang tidak bersedia membayar Willingness to Pay sebanyak 6 orang (1,86%).

Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo, yaitu dengan cara kesediaan responden membayar sebesar Rp8.000,00 untuk pelestarian lingkungan. Dalam penelitian ini menggunakan sampel 323 dari 330 sampel dikarenakan ada data yang dioutlier, variabel terikat dan variabel bebas yang ada dalam penelitian ini akan diolah menggunakan SPSS 27 dengan analisis regresi logistik.

A. Deskriptif Statistik

Hasil pengolahan data primer dalam penelitian ini akan menjelaskan variabel-variabel penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 323 responden.

Tabel 5.1 menjelaskan deskripsi statistik variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan Tabel 5.1 responden termuda berusia 25 tahun dan responden tertua berusia 64 tahun.

Tabel 5. 1 Deskriptif Statistik

Variabel MIN MAX Mean Std. Deviasi

Usia 16 56 24,64 6,897

Pendidikan 9 16 13,29 2,096

Pendapatan 400000 8000000 2224195,05 1424427,466

Asal_pengunjung 8 100 61,01 25,130

Sikap Ekowisata 0 1 0,73 0,444

Frekuensi Kunjungan 1 9 2,32 1,747

Tingkat_kepuasan 0 1 0,87 0,333

52

WTP 0 1 0,98 0,135 Sumber: data diolah, 2023

Usia terendah responden yaitu 16 tahun dan tertinggi 56 tahun. Usia memiliki nilai rata-rata 24,64 dan standar deviasi 6,897. Pendidikan terendah yang ditempuh oleh responden adalah 9 tahun (SMP) dan pendidikan tertinggi yang ditempuh responden adalah 16 tahun (Sarjana1). Pendidikan dengan rata- rata sebesar 13,29 dan memiliki standar deviasi 2,096. Pendapatan terendah responden yaitu Rp400.000,00 dan pendapatan tertinggi sebesar Rp8.000.000,00 Nilai rata-rata pendapatan yaitu Rp2.224.195,00 dan standar deviasi pendapatan yaitu Rp1.424.427,00. Asal pengunjung diukur dengan kilometer (km) dimana pengunjung dengan jarak terdekat yaitu 8 km dan terjauh 100km. Nilai rata-rata 61,01 dan standar deviasi 25,130.

Sikap ekowisata merupakan variabel dummy dimana angka 1 yaitu melakukan dan angka 0 menunjukkan tidak melakukan. Nilai rata-rata 0,73 dan memiliki standar deviasi 0,444. Frekuensi kunjungan terendah responden yaitu 1 dan frekuensi terbanyak adalah 9. Frekuensi kunjungan dengan rata-rata sebesar 2,32 dan memiliki standar deviasi 1,747. Tingkat kepuasan pengunjung merupakan variabel dummy dimana angka 1 menunjukkan puas dan angka 0 menunjukkan tidak puas. Nilai rata-rata 0,87 dan memiliki standar deviasi 0,333. Willingness to pay atau kesediaan membayar adalah variabel dummy.

Angka 1 menunjukkan kesediaan responden membayar sebesar Rp8.000,00 dan angka 0 menunjukkan ketidaksediaan responden membayar sebesar

Rp8.000,00. Willingness to Pay memiliki nilai rata-rata 0,98 dan memiliki nilai standar deviasi 0,135.

B. Hasil Uji Regresi Logistik

Regresi logistik adalah teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Untuk menentukan komponen yang memengaruhi willingness to pay pelestarian suku Baduy di kampung Cibeo, analisis regresi logistik digunakan.

Metode analisis statistika yang dikenal sebagai regresi logistik digunakan untuk menjelaskan hubungan antara peubah respons (dependen variabel) dari dua atau lebih kategori dengan satu atau lebih peubah penjelas (independen variabel).

1. Uji Ketepatan Klasifikasi

Uji ketepatan klasifikasi digunakan untuk menentukan ketepatan dari model regresi sehingga dapat diketahui peluang Willingness to Pay terhadap pelestarian lingkungan suku Baduy di kampung Cibeo.

Tabel 5. 2 Hasil Uji Ketepatan Klasifikasi

Observed

Predicted WTP (Rp8.000,00)

Percentage Correct Tidak

Bersedia Bersedia

Step 1

WTP (Rp8.000,00)

Tidak

Bersedia 1 5 16,7

Bersedia 0 317 100,0

Overall Percentage 98,5

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa prediksi responden yang bersedia membayar Rp8.000,00 sebanyak 317. Hal ini sesuai dengan observasi langsung yang menunjukkan bahwa responden yang bersedia membayar Rp8.000,00 sebanyak 317 orang. Responden yang tidak bersedia membayar Rp8.000,00 sebanyak 6 orang, sedangkan pada hasil observasi langsung responden yang tidak bersedia membayar Rp8.000,00 sebanyak 1 orang. Hasil uji ketepatan klasifikasi adalah 98,5% artinya dalam 100 observasi terdapat 98% ketepatan klasifikasi oleh model regresi logistik.

2. Uji Hosmer dan Lemeshow

Uji Hosmer dan Lemeshow pada regresi logistik digunakan untuk menilai ketepatan model. Pengujian ini dengan melihat nilai goodness of fit test yang diukur dengan nilai chi square pada tingkat signifikansi 0,05.

Keputusan penerimaan hipotesis yaitu H0 diterima jika nilai sig > 0,05 artinya model regresi fit atau sesuai dengan data dan H0 ditolak jika nilai sig

< 0,05 artinya model regresi tidak fit atau tidak sesuai dengan data (Lamidi, 2007).

Tabel 5. 3 Uji Hosmer dan Lemeshow Hosmer and Lemeshow Test Ste

p

Chi-suare df Sig.

1 0,432 8 1,000

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa nilai chi square sebesar 0,432 dengan nilai signifikansi 1,000 > 0,05 artinya bahwa usia, pendidikan,

pendapatan, asal pengunjung, sikap ekowisata, frekuensi kunjungan dan tingkat kepuasan dapat memprediksi nilai observasinya.

3. Uji Determinasi R2

Uji Nagelkerke Square digunakan utuk mengetahui persentase kecocokan model. Persentase kecocokan dalam Nagelkerke Square berkisar antara 0 hingga 1. Nilai 1 pada Nagelkerke Square menunjukkan kecocokan sempurna antara variabel dependen dan variabel independent, sedangkan nilai 0 menunjukkan tidak terdapat hubungan antara variabel dependen dan variabel independent.

Tabel 5. 4 Hasil Uji Nagelkerke Square Model Summary

Ste p

-2 Log likelihood Cox & Snell R Square

Nagelkerk e R Square

1 32,788a 0,080 0,474

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa Nagelkerke Square sebesar 0,474 atau 47,4%. Artinya variabel independent yang ada dalam penelitian ini dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 0,474 atau 47,4% Sedangkan sisanya 0,534 atau 53,4% dijelaskan oleh varibel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4. Uji Signifikansi

a. Uji Signifikansi Simultan (Overall Test)

Uji signifikansi simultan bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel dependen terhadap varibel independen secara bersama-sama.

Hasil uji signifikansi simultan yaitu:

Tabel 5. 5 Hasil Uji Simultan Omnibus Test of Model Coefficients

Chi-square df Sig.

Step

1 Step 26,930 7 0,000

Block 26,930 7 0,000

Model 26,930 7 0,000

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa nilai chi square sebesar 26,930 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Artinya bahwa variabel usia, pendidikan, pendapatan, asal pengunjung, sikap ekowisata, frekuensi kunjungan dan tingkat kepuasan bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.

b. Uji Signifikansi Parsial (Partial Test)

Uji signifikansi parsial dalam regresi logistik bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen. Kriteria lolos uji signifikansi yaitu jika nilai signifikansi < 0,05 maka pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen signifikan, jika nilai signifikansi > 0,05 maka pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen tidak signifikan. Hasil uji signifikansi dalam penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 5. 6 Hasil Signifikansi dan Koefisien Regresi

Variabel B Sig. Exp(B)

Usia -0,133 0,047 0,875

Pendidikan 0,988 0,038 2,687

Pendapatan -0,989 0,129 0,372

Asal_pengunjung -0,069 0,090 0,934 Sikap_ekowisata 0,322 0,781 1,379 Frekuensi_kunjungan -0,832 0,020 0,435 Tingkat_kepuasan 2,621 0,020 13,751

Constant 4,224 0,419 50,817

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 5.6 menunjukkan hasil uji signifikansi, adapun variabel yang berpengaruh terhadap willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo yaitu usia, pendidikan, asal pengunjung, frekuensi kunjungan dan tingkat kepuasan. Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh terhadap willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo yaitu pendapatan dan sikap ekowisata.

1) Variabel usia

Signifikansi variabel usia yaitu 0,047 < 0,05 dan nilai koefisien sebesar -0,133. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel usia berpengaruh negatif terhadap willingness to pay. Nilai exp (B) sebesar 0,875. Sehingga variabel usia berpengaruh negatif dan signifikan

terhadap willingness to pay, artinya responden yang berusia lebih tua akan memiliki kesediaan membayar lebih kecil 0,875 kali dibandingkan responden yang berusia lebih muda.

2) Variabel Pendidikan

Signifikansi variabel pendidikan yaitu 0,038 < 0,05 dan nilai koefisien sebesar 0988. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh positif terhadap Willingness to Pay. Nilai exp (B) sebesar 2,687. Sehingga variabel pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay, yang berarti ketika pendidikan responden semakin tinggi maka kesediaan responden membayar sebesar 2,687 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang berpendidikan lebih rendah.

3) Variabel pendapatan

Signifikansi variabel pendapatan yaitu 0,129 < ,05 dan nilai koefisien sebesar -0,989 serta nilai exp (B) sebesar 0,372. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay.

4) Variabel asal pengunjung

Signifikansi variabel asal pengunjung yaitu 0,090 > 0,05 dan nilai koefisien sebesar -0,084 serta nilai exp (B) sebesar 0,920. Hal tersebut variabel asal pengunjung berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay.

5) Variabel sikap ekowisata

Signifikansi variabel sikap ekowisata yaitu 0,781 > 0,05 dan nilai koefisien sebesar 0,322 serta nilai exp (B) sebesar 1,379. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel sikap ekowisata berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay.

6) Variabel frekuensi kunjungan

Signifikansi variabel frekuensi kunjungan yaitu 0,020 > 0,05 dan nilai koefisien sebesar -0,832. Nilai exp (B) sebesar 0,435. Sehingga variabel frekuensi kunjungan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay, artinya responden yang memiliki frekuensi lebih tinggi akan memiliki kesediaan membayar lebih kecil 0,435 kali dibandingkan responden yang memiliki frekuensi lebih rendah.

7) Variabel tingkat kepuasan

Signifikansi variabel tingkat kepuasan yaitu 0,020 < 0,05 dan nilai koefisien sebesar 2,621. Nilai exp (B) sebesar 13,751. Sehingga variabel tingkat kepuasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay, yang artinya semakin tinggi tingkat kepuasan maka kesediaan membayar 13,751 kali lebih tinggi.

c. Pembahasan

1. Pengaruh usia terhadap Willingness to Pay

Berdasarkan hasil pengolahan regresi logistik, variabel usia berepngaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay

wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diswandi et al (2018), Acevedoa et al (2018), Adamu et al (2018), zhang dan li (2020), Sardana (2019), Borzykowski et al (2017), Ntanos et al (2018) yang menyatakan bahwa usia berpengaruh negatif terhadap willingness to pay. Hal ini menunjukan seiring dengan bertambahnya usia, maka tingkat kedewasaan dan kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan juga meningkat. Pengunjung tidak hanya menikmati wisata alam yang ada saat ini tetapi juga memikirkan pelestarian lingkungan wisata kampung Cibeo untuk kedepannya. Dengan demikian menjadikan usia berpengaruh terhadap willingness to pay wisata kampung Cibeo.

2. Pengaruh pendidikan terhadap Willingness to Pay

Berdasarkan hasil pengolahan regresi logistik, variabel pendidikan berepngaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diswandi et al (2018), Acevedo et al (2018), Zhang dan Li 2020, Araújo, et al (2022), Sardana (2019), Adamu, et al (2018), Ntanos et al (2018), Saptutyningsih dan Selviana (2017) yang menyatakan bahwa Pendidikan berpengaruh positif terhadap

willingness to pay. Hal ini menunjukan ketika seseorang memiliki wawasan yang lebih luas maka tingkat kesadaran akan pentingnya pelestarian kualitas lingkungan agar semakin baik. Tingkat pendidikan yang tinggi akan menciptakan suatu pemikiran yang lebih maju akan kelestarian lingkungan dengan mengetahui dampak- dampak yang akan diperoleh jika merusak lingkungan, sehingga akan menghasilkan perubahan lingkungan yang lebih baik.

3. Pengaruh pendapatan terhadap willingness to pay

Berdasarakan hasil pengolahan data variabel pendapatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diswandi et al (2018), Acevedo et al (2018), Zhang dan Li 2020, Araújo, et al (2022), Sardana (2019), Adamu, et al (2018), Ntanos et al (2018), Saptutyningsih dan Selviana (2017) yang menyatakan bahwa pendapatan tidak berpengaruh terhadap willingness to pay. Artinya, dalam penelitian ini tingkat pendapatan pengunjung tidak dapat mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan seseorang tidak berperan penting dalam kesediaan seseorang untuk membayar willingness to pay.

Besar atau kecilnya pendapatan seseorang maka tidak mempengaruhi kesediaan membayar lebih untuk pelestarian

lingkungan kampung Cibeo. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasiani, Mulyani & Yuniarti (2013) yang dimana variabel pendapatan tidak berpengaruh terhadap kesediaan membayar willingness to pay dalam upaya pengelolaan objek wisata Taman Alun Kapuas Pontianak, Kalimantan Barat.

4. Pengaruh asal pengunjung terhadap willingness to pay

Berdasarakan hasil pengolahan data variabel asal pengunjung berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini tidak selajan dengan penelitian yang dilakukan oleh Acevedo et al (2018) yang menyatakan bahwa asal pengunjung atau jarak berpengaruh negatif terhadap willingness to pay. Artinya, dalam penelitian ini jika asal pengunjung atau jarak jauh atau dekat tidak mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo.

Sedangkan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Sari (2017) yang dimana variabel asal pengunjung berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi willingness to pay pengunjung objek wisata Umbul Ponggok.

5. Pengaruh sikap ekowisata terhadap willingness to pay

Berdasarakan hasil pengolahan data variabel sikap ekowisata berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay

wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Araújo et al (2022), Lu et al (2014) yang menyatakan bahwa sikap ekowisata berpengaruh terhadap willingness to pay. Artinya, dalam penelitian ini sikap ekowisata pengunjung tidak mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo. Sikap ekowisata kegiatan pariwisata yang dilakukan oleh pengunjung untuk menjaga kelestarian alam, sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengunjung wisata kampung Cibeo belum sepenuhnya memiliki sikap ekowisata atau sikap ekowisata pengunjung masih rendah. Pengunjung kurang memperhatikan aspek alam untuk jangka Panjang. Sehingga dalam penelitian ini sikap ekowisata tidak berpengaruh terhadap willingness to pay.

6. frekuensi kunjungan terhadap willingness to pay

Berdasarakan hasil pengolahan data variabel frekuensi kunjungan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diswandi et al (2018), Borzykowski et al (2017), Saptutyningsih (2013) yang menunjukan bahwa frekuensi kunjunga berpengaruh positif terhadap willingness to pay. Hasil

koefisien frekuensi kunjungan menunjukan nilai negatif, hal ini menunjukan semakin sering seseorang berkunjung ke objek wisata tersebut maka akan menimbulkan rasa bosan dan mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay semakin rendah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Pantari dan Saptutyiningsih (2016) yang dimana variabel frekuensi kunjungan berpengaruh signifikas dan berpengaruh negatif terhadap besarnya willingness to pay perbaikan kualitas lingkungan di Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta.

7. Pengaruh tingkat kepuasan terhadap willingness to pay

Berdasarakan hasil pengolahan data variabel tingkat kepuasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay wisatawan dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zhang dan Li (2020) yang menyatakan bahwa tingkat kepuasan berpengaruh positif terhadap willingness to pay. Artinya, dalam penelitian ini tingkat kepuasan pengunjung mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo. Tingkat kepuasan merupakan tingkatan dimana seseorang merasa puas atau senang karena ekspektasi sesuai dengan realita yang dirasakan. Dengan demikian, apa yang dibayangkan oleh pengunjung terealisasi saat berwisata di kampung Cibeo sehingga pengunjung merasa puas. Semakin tinggi kepuasan

pengunjung maka semakin bersedia membayar willingness to pay dalam upaya pelestarian lingkungan wisata kampung Cibeo.

A. Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di wisata kampung Cibeo mengenai Willingness to Pay (WTP) untuk pelestarian lingkungan kampung Cibeo dengan sampel penelitian sebanyak 323 responden, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Nilai Willingness to Pay pelestarian lingkungan wisata kampung Cibeo sebesar Rp8.000,00. Terdapat 317 responden yang bersedia membayar willingness to pay dan 6 responden yang tidak bersedia membayar willingness to pay.

2. Variabel usia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay, artinya semakin muda usia pengunjung maka akan semakin bersedia bersedia membayar willingness to pay pelestarian wisata kampung Cibeo.

3. Variabel pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay, artinya semakin tinggi pendidikan responden maka akan mempengaruhi kesediaan membayar willingness to pay pelestarian wisata kampung Cibeo.

4. Variabel pendapatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay, artinya besar atau kecilnya pendapatan seseorang maka tidak mempengaruhi kesediaan membayar lebih untuk pelestarian lingkungan kampung Cibeo.

67

5. Variabel asal pengunjung berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay, artinya jauh atau dekatnya jarak pengunjung ke tempat wisata tidak mempengaruhi kesediaan pengunjung untuk membayar willingness to pay.

6. Variabel sikap ekowisata berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap willingness to pay, artinya pengunjung wisata kampung Cibeo belum sepenuhnya memiliki sikap ekowisata. Pengunjung kurang memperhatikan aspek alam untuk jangka Panjang. Sehingga dalam penelitian ini sikap ekowisata tidak berpengaruh terhadap willingness to pay.

7. Variabel frekuensi kunjungan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay, Artinya, semakin tinggi frekuensi kunjungan mempengaruhi kesediaan membayar willingness to Pay pelestarian lingkungan kampung Cibeo.

8. Variabel tingkat kepuasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay, artinya semakin tinggi kepuasan yang dirasakan pengunjung maka akan meningkatkan kesediaan untuk membayar willingness to pay.

B. Keterbatasan

1. Penelitian ini dilakukan di wisata kampung Cibeo, untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan penelitian di tempat lain untuk menjadi perbandingan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sehingga penelitian selanjutnya akan menjaadi lebih baik.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah atau mengganti variabel penelitian, agar dapat lebih spesifik dalam menganalisis objek penelitian.

3. Metode dalam penelitian ini yaitu CVM yang memiliki kelemahan akan adanya bias yang disebabkan oleh kesalahan strategi rancangan penelitian.

C. Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa saran untuk untuk pengelola tempat wisata maupun untuk penelitian selanjutnya, yaitu:

1. Variabel usia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo.

Hal ini dapat dimanfaatkan oleh pengelola untuk menambah sarana dan prasarana untuk menarik minat wisatawan yang berusia lebih muda, sehingga mereka merasa nyaman saat berkunjung.

2. Variabel pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hal ini dapat digunakan oleh pengelola untuk meningkatkan fasilitas yang ditawarkan kepada pengunjung dengan tujuan pendidikan. Misalnya, mereka dapat membuat tempat khusus untuk belajar tentang berbagai jenis tumbuhan sehingga pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan tetapi juga memperoleh pengetahuan yang membuat mereka ingin kembali ke objek wisata Kampung Cibeo.

3. Variabel frekuensi kunjungan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap willingness to pay dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hal ini dapat dijadikan masukan bagi pengelola untuk menata kembali seperti jalan ataupun spot foto dengan tujuan wisatawan yang datang ke objek wisata kampung Cibeo tidak merasa bosan dan ingin datang kembali.

4. Variabel tingkat kepuasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap willingness to pay dalam upaya pelestarian lingkungan di ekowisata Kampung Cibeo. Hal ini dapat dijadikan masukan bagi pengelola untuk mempercantik lingkungan objek wisata agar pengunjung yang puas dengan pengalamannya tertarik dan ingin kembali lagi ke desa Cibeo.

Dokumen terkait