• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAUR TATA USAHA DAN UMUM

BAB V: PENUTUP

A. Data Umum Desa Nongkodono 1. Profil Desa Nongkodono

6. KAUR TATA USAHA DAN UMUM

SUSANTI

7. KAUR KEUANGAN LENY RHOSYDHA, S. Sos

8. KAUR PERENCANAAN SUMADI

9. KASI PEMERINTAHAN JEMONO

10. KASI KESEJATERAAN SUPENO

11. KASI PELAYANAN BARDI

35 Hasil Transkip Wawancara, Nomer 02/W/03-3/2023.

44

1. Visi dan Misi Kepala Desa Dalam Pembangunan a. Visi Desa Nongkodono

Hal terpenting dalam rumusan kebijakan pembangunan adalah kejelasan mengenai apa yang akan diwujudkan dalam masa pemerintahan. Visi Kabupaten Ponorogo menjadikan PONOROGO LEBIH MAJU, BERBUDAYA DAN RELIGUS. Merupakan Visi Desa Nongkodono yaitu “MAJU BERSAMA MEMBANGUN DESA” jadi intinya maju bersama-sama masyarakat untuk membangun Desa Nongkodono demi kebaikan Desa Nongkodono Kedepannya. Agar menjadi Nongkodono yang berbudaya, berpendidikan dan religus.36

b. Misi Desa Nongkodono

Misi adalah rumusan umum yang merupakan perwujudan visi pembangunan Desa Nongkodono dalam periode pemerintahan Bapak Jemadi yang mana dijabarkan kedalam 7 (tujuh) misi dijalankan secara continue dan dinamis serta sinergis untuk merealisasikan Visi Desa Nongkodono menjadi kegaiatan nyata yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya. Untuk meralisasikan Visi Desa Nongkodono antara lain:

1) Menciptakan Aparat Pemerintahan Desa di dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selalu dengan niat yang tulus dan ikhlas serta (BERSIH).

36 Dokumen Sekilas Desa Nongkodono Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo, (Ponorogo: 2014),6.

45

2) Menciptakan suasana masyarakat yang aman dan kondusif di lingkungan masing-masing (AMAN).

3) Berusaha menciptakan pelaksanaan kegiatan dan pembangunan serta kehidupan masyarakat berdasarkan perundang-undang yang berlaku (RAPI).

4) Menjalankan roda pemerintahan dengan selalu luas pandangan, menampung masukan masyarakat, tidak picik (lebar/lapang dada) (OMBER).

5) Menciptakan masyarakat Nongkodono yang mandiri tanpa menggantungkan kepada pihak lain serta tidak ditekan dan diatur pihak lain (KUAT).

6) Mencipatakan masyarakat yang amanah yang didasari nilai- nilai kejujuran dan keikhlasan serta dapat dipercaya (AMANAH).

7) Menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang harmonis dan seimbang baik lahir maupun batin (HARMONIS).37 Adapun untuk mencapai hasil yang diinginkan yaitu agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat meningkat, hal pertama yang harus dilakukan Pemerintah Desa Nongkodono adalah: melaksanakan transparansi kepada masyarakat terhadap segala hal, utamanya terhadap semua dana yang menyangkut kepentingan masyarakat mulai yang berjumlah kecil maupun jumlah yang besar.

37 Dokumen Sekilas Desa Nongkodono Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo, (Ponorogo: 2014),6.

46 2. Sejarah Desa Nongkodono

Nongkodono awalnya berupa hutan lebat. Orang yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah mbah Kruwet selanjutnya diikuti oleh mbah Suto. Mbah Kruwet merupakan sepuh, asal muasal dipanggil mbah kruwet juga cukup unik. Mbah Kruwet memiliki postur tubuh yang kurus, orang jawa menyebut kuru. Selain itu mbah kruwet juga berumur panjang atau dalam bahasa jawa dipanggil awet, gabungan dari kuru dan awet tersebut menjadi Kruwet. Nama itulah yang menjadi nama panggilan orang ynag telah membuka hutan pertama kali untuk menjadi Desa Nongkodono. Asal kata dari bauh Nongko. 38

Mbah Kruwet memiliki tanaman buah nangka, orang jawa menyebut nongko. Tanamannya sangat lebat dan berbuah besar-besar.

Pada sauatu hari Ratu Sinuhan Paku Buwono datang kerumah mbah Kruwet. Mbah Kruwet sendiri belum tahu jika yang bertamu kerumahnya merupakan Ratu. Mbah Kruwet menghidangkan buah nangka dan mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang disajikan kepada tamunya. Mbah Suto yang tahu kalau dirumah mbah kruwet sedang ada tamu, ia ikut menemui tamu tersebut dan memberikan hidangan yang sama, yaitu buah nangka.39

Ratu Sinuhun Paku Buwono bertanya kepada mbah kruwet “pak nangka ini kamu jual atau hanya diberikan saja?”, pertanyaan yang sama juga turut dilontarkan kepada mbah Suto, namun mbah suto menjawab

38 Hasil Transkip Wawancara, Nomer 02/W/03-3/2023.

39 Hasil Transkip Wawancara, Nomer 02/W/03-3/2023.

47

“sebagian saya makan lainya saya jual”, kemudian Ratu Sinuhun Paku Buwono berkata “ kalau buah nangka kamu berikan maka buah akan semakin lebat dan umurnya panjang, tetapi kalau kamu jual maka buah tidak berbuah dan pohonya akan mati.” Apa yang diucapkan Ratu Sinuhun Paku Buwono ternyata benar, setelah beberapa tahun kemudian pohon buah nangka milik mbah Kruwet berbuah lebat sedangkan pohon buah nangka mbah Suto berguguran dan secara perlahan mati. Dari kata nangka (nongko) dan memberi (dono) maka tercetuslah nama Nongkodono. Desa Nongkodono terbagi dalam beberapa Dusun, Yaitu:40

a. Dusun Gilang

Disebut dukuh atau dusun Gilang disebabkan karena di dusun ini terdapat peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih ada, yaitu batu Gilang. Konon, apabila ada binatang atau suatu terbang di atas lempengan batu itu, sesuatu itu akan jatuh. Dengan adanya batu tersebut, nama Gilang diabadikan sampai sekarang menjadi dukuh Gilang. Sealin itu, di dukuh ini terdapat perkuburan umum tempat para sesepuh desa yang membuka desa pertama kali dimakamkan, ada Eyang Suto Wedono dan beberapa sahabatnya. Ada juga makan kepala desa yang pernah menjabat di Nongkodono.

Di dusun Gilang juga terdapat Jeron Gobyok, yakni lahan petilasan atau bekas tempat tinggal Eyang Suto Wedono. Disebut Jeron Gebyok karena jalan menuju rumah itu panjang dalam bahasa jawa, disebut

40 Lina Mitra Nurhandayani, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Gadai Berantai Kendaraan Bermotor (Ponorogo, Skripsi 2020).

48

Jeru dan dinding rumahnya terbuat dari papan atau gobtok. Ada juga sarpon atau pasar pon. Konon, gerumbulan yang ada di pojok desa adalah pasaar. Pasar tersebut memiliki aktivitas satu kali setiap lima hari, yaitu setiap hari Pon (hitungan hari jawa).

Gerumbulan tersebut sebagai pintu gerbang masuk desa dan sekarang dipindah ke Condong atau pasar Condong, sementara wilayah Sarpon sekarang dibangun Polindes dan rencana ke depannya akan dibangun taman desa.41

b. Dusun Krajan

Krajan merupakan pusat pemerintahan, maka dinamakan Krajan atau tempat kerajaan. Wilayah dusun Krajan terbagi dua, yaitu Prigi dan Condong. Asal muasal daerah Prigi belum diketahui secara jelas.

Namun, di saerah tersebut terdapat peninggalan sumur tua yang terletak di pinggir jalan. Konon, siapa saja yang mengambil air di sumur tersebut dan digunakan untuk mandi, maka bisa awt muda.

Sementara daerah Condong bermakna senang atau suka. Dulu di daerah tersebut terdapat sebuah jembatan yang bernama Petung, karena digunakan sebagai tempat bertemunya oarang dari berbagai daerah untuk transaksi jual beli, lalu pada tahun 1960 dibuatkan lokasi pasar Condong. Selanjutnya pasar Pon dijadikan satu di pasar Condong.42

41 Hasil Transkip Wawancara, Nomer 02/W/03-3/2023.

42 Dokumen Sekilas Desa Nongkodono Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo, (Ponorogo: 2014),6.

49 c. Dusun Candi

Disebut dusun candi disebabkan karena di tempat ini terdapat sebuah gundukan batu bata merah. Tumpukan batu tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sejak zaman kerajaan majapahit dan dijadikan sebagai tempat ibadah atau pemujaan. Oleh sebab itu, dusun tersebut dinamai Dusun Candi. Di Dusun Candi juga makam tua yang bernama makam kerang. Disebut makam kerang karena pohon yang ditanam dan tumbuh di area makam tersebut pasti mati atau dalam bahasa jawa disebut “Ngarang”.

Selain itu dusun candi dikenal dengan daerah Genjahan, dulu tempat tersebut menjadi langganan banjir karena terletak bersebelahan dengan sungai Bedah dan airnya selalu menggenai tempat tersebut, hal itu membuat masyarakat sekitar selalu berfikir, bagaimana caranya menanam tanaman yang cepat panen sebelum tergenang air.

Ditemukanlah tanaman Genjah (cepet pane), sehingga masarakat memanen tanaman genjah dan istilah tersebut digunakan untuk menyebut wilayah Genjahan.

Dokumen terkait