• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

L. Tipologi Konflik Sosial Nelayan

Charles (1992 dan 2001) membagi “komplik perikanan” (fishery conflict) menjadi empat tipe, yakni:

1. Fishery jurisdiction, meyangkut masalah siapa yang “ memiliki” sumber daya perikanan, siapa yang mengontrol akses kepada sumber daya tersebut, seperti apa bentuk pengelolaan yang optimal, dan apa peranan yang mestinya dimainkan oleh pemerintah;

2. Management mechanisms, menyanngkut isu-isu jangka pendek, khususnya konflik antara Nelayan dan pemerintah menyangkut tingkat produksi, proses konsultasi, dan penegakan hukum;

3. Internal allocation, menyangkut konflik yang muncul didalam suatu sistem perikanan, antara kelompok-kelompok pengguna dan alat

tangkap yang berbeda, maupun antara nelayan, pengelolah dan

“pemain” lainnya;

4. External allocation, mencakup konflik-konflik antara “pemain” di sektor perikanan secara internal dengan pihak luar, seperti armada Nelayan asing, pertanian, industri non-perikanan seperti pariwisata dan kehutanan.

Dalam tipologi Charles ini, tidak ada secara khusus disebut tipe konflik kelas; kemungkinan konflik kelas ini termasuk ke dalam tipe konflik yang ke tiga, yakni inter allocation. Menurut saya ini merupakan salah satu kelemahan yang cukup mendasar dalam tipologi ini.

Sementara itu, Satria dkk (2002:166-170) mengelompokkan empat tipe konflik di kalangan Nelayan, yakni:

a. Konflik kelas, yaitu konflik yang terjadi antara kelas sosial Nelayan akibat dominasi usaha bermodal dan usaha tradisional, seperti konflik antara nelayan tradisional dengan nelayan trawl;

b. Konflik orientasi, yaitu konflik yang terjadi antara Nelayan yang memiliki orientasi yang berbeda dalam pemanfaatan sumber daya, yaitu antara Nelayan yang memiliki orientasi jangka panjang dengan Nelayan yang berorientasi jangka pendek;

c. Konflik agraria, yakni konflik yang terjadi akibat perebutan fishing ground;

bisa terjadi baik antara kelas maupun intra-kelas dan antarNelayan dengan non-nelayan;

d. Konflik primordial, yaitu konflik yang terjadi akibat perbedaan idenditas atau sosial budaya, seperti etnik dan asal daerah.

Hemat saya tipologi konflik Nelayan yang dikemukakan oleh Satria dkk tersebut mencampuradukan antara basis terjadinya kelompok, seperti tipe no. 1, 2, dan no.3 dengan isu yang menjadi pokok persoalan dalam suatu konflik, seperti tipe konflik no.3.

Berdasarkan basis terbentuknya kelompok Nelayan yang berkonflik (conflik group) saya sendiri membagi konflik antara sesama Nelayan (konflik internal) menjadi tiga kategori saja, yakni:

1. Konflik kelas

Konflik kelas adalah konflik yang terjadi antara kelas Nelayan yang berbeda, misalnya antara buruh dengan pemilik maupun antara kelas Nelayan kecil dengan Nelayan besar-kapitalis.

2. Konflik identitas

Konflik identitas adalah konflik yang terjadi antara kelompok Nelayan berbasis identitas primordial seperti etnik dan asal daerah atau yang sering dikenal dengan istilah lokal versus pendatang. Selain itu, agama bisa juga dijadikan sebagai basis terbentuknya kelompok konflik primordial ini.

3. Konflik alat tangkap

Konflik alat tangkap adalah konflik yang terjadi antara kelompok Nelayan yang berbasis alat tangkap yang berbeda, tapi berada pada “tingkat” yang kurang lebih setara, seperti antara perengge dengan dogol, yang sama-

sama merupakan “Nelayan kecil”. Konflik alat tangkap ini dikenal dengan istilah “gear wars”

Perlu dicatat bahwa penggolongan ini tidak bersifat mutually exlusive, misalnya konflik kelas bisa sekaligus merupakan konflik alat tangkap.

Sementara itu, persoalan pokok yang menjadi isu dalam konflik-konflik tersebut bisa berupa perebutan wilayah tangkap (fishing ground) termasuk masalah zonasi, sistem bagi hasil (ekonomi), introduksi teknologi baru dan sebagainya. Tentu saja para Nelayan juga sering konflik dengan pihak- pihak non-nelayan seperti pertambangan, developer, pelayanan, pertamina, dan sebagainya, yang saya sebut sebagai konflik eksternal.

M. Nelayan di Indonesia dan Permasalahanya

Dilihat dari segi jumlah, sebagian besar Nelayan di Indonesia adalah Nelayan kecil dan buruh Nelayan. Ini sejalan dengan pendapat Bailey yang mengatakan bahwa sebagian besar Nelayan di Indonesia adalah “ small-scale producers” (Bailey 1988:25). Friedhelm Betke juga mengatakan hal yang sama. Menurut Betke, “ the majority of...marine fishermen in indonesia , though, may skill be categorized to as ‘artisanal’

or ‘small-scale’ producer, often also referred to as tradisional’...”(Betke 1988:53). Sebagai contoh, untuk perikanan laut (marine fisheries), berdasarkan besarnya usaha, pada tahun 2004 jumlah rumah tangga perikanan dan perusahaan perikanan tanpa perahu adalah 112.010 buah, perahu tanpa motor 233.233 buah. Perahu dengan motor tempel 152.875 buah, sedangkan yang menggunakan kapal motor sebanyak 111.457

buah (Departemen kelautan dan perikanan, 2006). Jika Nelayan tanpa perahu hingga yang menggunakan motor tempel di kategorikan sebagai Nelayan kecil, sedangkan Nelayan dengan kapal motor adalah Nelayan besar. Maka berarti 81,72% Nelayan di Indonesia pada tahun 2004 adalah Nelayan kecil. Sementara itu, data yang tersedia pada “kelautan dan perikanan dalam angka 2009” agak berbeda dengan data tahun 2004 tersebut. Data 2009 tersebut tidak lagi memuat jumlah rumah tangga perikanan /perusahaan perikanan tanpa perahu maupun kategori Nelayan (penuh dan sambilan). Pada tahun 2009 jumlah perahu tanpa motor adalah 205.460 buah, motor tempel sebanyak 233.530 buah dan kapal motor tersebut adalah berukuran kecil dibawah GT. Dengan demikian, hingga saat ini konfigurasi Nelayan di Indonesia masih didominasi oleh Nelayan kecil.

Sayangnya data tentang jumlah Nelayan berdasarkan kepemilikan alat produksi tidak tersedia, sehingga data tentang jumlah buruh Nelayan tidak diketahui secara pasti. Departemen Kelautan dan Perikanan hanya menyajikan data Nelayan berdasarkan tiga kategori, yakni Nelayan penuh, Nelayan sambilan utama, dan Nelayan sambilan tambahan. Untuk perikanan laut, pada tahun 2004 jumlah Nelayan penuh adalah 1.182.604 orang, Nelayan sambilan utama 826.206 orang, dan Nelayan sambilan tambahan sebanyak 337.972 orang (Departement kelautan dan perikanan 2006). Namun, bila data jumlah Nelayan ini dihubungkan dengan data jumlah kapal atau perahu penangkap ikan, maka kita bisa memperoleh

gambaran kasar tentang jumlah buruh Nelayan di Indonesia. Pada tahun 2004, untuk perikanan laut, jumlah kapal penangkap ikan di Indonesia adalah sebanyak 549.100 buah (Departemen Kelautan dan perikanan, 2006). Kalau saja diasumsikan bahwa satu buah kapal atau perahu kapal penangkap ikan itu dimiliki oleh satu orang Nelayan. Maka jumlah buruh Nelayan diIndonesia pada tahin 2004 adalah 1.685.672 orang (71,83%).

Ini tentu merupakan asumsi yang cukup “optimistis” karena dalam kenyataannya banyak sekali Nelayan/perusahaan perikanan laut yang memiliki lebih dari satu buah kapal atau perahu.

Berbagai pihak mengasosiasikan Nelayan dengan kemiskinan atau marginalitas. Pujo Semedi, misalnya mengatakan bahwa “ in Asia where agriculture takes pride of place as the dominan economic activity, fishing communities...are marginal” (Semedi 2003:15) sementara itu, Mubyarto, Soetrisno, dan Dove mengatakan bahwa “ keluarga Nelayan pada umumnya lebih miskin daripada keluarga petani atau pengrajin”

(Mubyarto, Soetrisno dan Dove 1984:16). Senada dengan itu, di KalimantanBarat, menurut kepala dinas kelautan dan perikanannya, sekitar 80% Nelayan yang ada di provinsi ini berada “ dalam kondisi miskin ” (kompas, 12/04/05 hal 28). Jika dikaji lebih dalam, sesungguhnya yang miskindan marginal itu terutama adalah Nelayan kecil dan buruh Nelayan. Maka, tepat yang dikatakan oleh Conner bailey bahwa “...most fishers are small-scale producer who are among the poorest of the poor in indonesian society” (Bailey,1988:25)

Para Nelayan kecil dan buruh Nelayan memang berada pada posisi yang lemah dan marginal. Dari segi permodalan, misalnya umumnya mereka sangat lemah. Akibatnya mereka kebanyakan sangat bergantung pada para pemilik modal (tauke), yang biasanya adalah pembeli ikan.

Karena ketiadaan modal, maka para Nelayan kecil ini sering kali meminjam dana dari tauke untuk biaya operasi penangkapan. Selain itu banyak pula Nelayan yang harus meminjam uang untuk membeli peralatan melaut seperti perahu atau alat tangkap. Utang ini sering berlanjut atau berakumulasi sehingga tidak terbayarkan. Dengan kata lain, para Nelayan kecil ini ” terjerat utang ”. Sebagai konpensasi bagi peminjaman modal ini, mereka harus menjual hasil tangkapannya kepada tauke yang meminjamkan modal tersebut. Disini posisi tawar para Nelayan kecil ini sangat lemah: mereka hanya bisa menerima saja harga yang ditetapkan oleh pihak tauke. Harga ini biasanya dibawah harga pasar.

Sebagai contoh di Banyuasing, Sumatera Selatan, “harga ikan kerapuyang di pasar mencapai Rp_ 80.000 per kilogram, hanya di hargai tauke Rp_67.000 per kilogram” (kompas 19/04/05 hal 31).

N. Kerangka pikir

Peran pemerintah Kecamatan terhadap Pemberdayaan masyarakat Nelayan di Kecamatan Liukang Tupabiring Utara Kabupaten Pangkep, memerlukan informasi yang lengkap tentang kondisi sosial ekonomi dan lingkungan di mana keputusan pengelolaan akan dijalankan. Pengelolaan ekosistem terumbu karang membutuhkan pemahaman yang akurat dari

pemangku kepentingan sehingga dapat tercapainya tujuan perlindungan ekosistem dan mamfaatnya secara lestari. Untuk mendukung peningkatan dan pengelolaan sumber daya laut. Dibutuhkan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk tetap memperhatikan terumbu karang di Kecamatan Liukang Tupabiring Utara Kabupaten Pangkep.

Peran pemerintah Kecamatan terhadap pemberdayaan masyarakat Nelayan di Kecamatan Liukang Tupabiring Utara Kabupaten Pangkep, merupakan bentuk pemberdayaan dari pihak yang berkaitan baik dari pemerintah setempat atau pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, untuk tetap memberikan perhatian yang maksimal terhadap pemberdayaan masyarakat khususnya masyarakat Nelayan. Adapun kerangka berpikir seperti bagan di bawah ini:

Kemampuan ekonomi RT

nelayan

Program pemberdayaan masyaraakat Kemampuan

pendidikan RT nelayan Peningkatan kemampuan

masyarakat miskin Kemampuan

kesehatan RT nelayan

Gambar 2.1 Skema kerangka pikir

Deskrifsi fokus penelitian sebagai berikut:

1. Peningkatan kemampuan masyarakat miskin adalah memberdayakan masyarakat dalam menghadapi kehidupan dan dalam hidup berdampingan dalam suatu desa sehingga bersatu satu sama lain.

2. Kemampuan ekonomi Rumah Tangga Nelayan adalah bagaimana tentang pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing rumah tangga dalam hidup keseharian.

3. Kemampuan pendidikan RT Nelayan adalah bagaimana tentang pendidikan masyarakat yang ada maupun yang akan datang untuk masyarakat desa mattiro Bombang.

4. Kemampuan kesehatan rumah tangga Nelayan adalah bagaimana tentang kesehatan masyarakat desa mattiro bombang dalam keseharian selama ini maupun akan datang.

5. Program pemberdayaan masyarakat adalah bagaimana masyarakat hidup dalam rangkaian masyarakat dengan cara mengajari tentang hal-hal yang membangun peradaban masyarakat, saling membantu sama lain demi terciptanya masyarakat yang madani.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang dipadukan dengan teknik triangulasi.

Pada tahap awal penelitian ini akan melakukan pencacahan terhadap penduduk miskin yang akan dijadikan subyek penelitian. Merumuskan solusi penyelesaian masalah penyebab kemiskinan rumah tangga.

Metode analisis utama yang digunakan adalah analisis data kualitatif.

Analisis data kualitatif diartikan sebagai usaha analisis berdasarkan kata- kata yang disusun ke dalam bentuk teks yang diperluas. Tahap pertama analisis data kualitatif yang dilakukan adalah sproses reduksi data yang terfokus pada pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar dari catatan lapangan. Dalam proses ini dipilih data yang relevan dengan fokus penelitian dan data yang tidak memenuhi kriteria ekskusi-inklusi. Proses reduksi data dilakukan bertahap selama dan sesudah pengumpulan data sampai laporan tersusun. Reduksi data dilakukan dengan cara membuat ringkasan data, menelusuri tema terbesar, dan membuat kerangka dasar penyajian data. Tahap kedua adalah penyajian data, yaitu penyusunan sekumpulan informasi menjadi pernyataan yang memungkinkan penarikan kesimpulan. Data disajikan dalam bentuk teks naratif, mulanya terpencar dan terpisah pada berbagai

333333358

sumber informasi, kemudian diklasifikasi menurut tema dan kebutuhan analisis. Pada tahap ini, hasil pengumpulan data dilapangan setelah direduksi, disusun dalam bentuk pernyataan yang bisa digunakan sebagai sumber informasi dalam penyusunan laporan. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan berdasarkan reduksi dan penyajian data. Penarikan kesimpulan berlangsung bertahap dari kesimpulan umum pada tahap reduksi data, kemudian menjadi lebih spesifik pada tahap penyajian data, dan lebih spesifik lagi pada tahap penarikan kesimpulan yang sebenarnya.

Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa analisis data kualitatif dalam penelitian ini bersifat menggabungkan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang dan bersiklus.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitan ini akan dilakukan pada Desa Mattiro Bombang Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara Kabupaten Pangkep.

Kabupaten tersebut dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan Kabupaten Pangkep dapat mewakili komunitas Nelayan yang masih minim pada kesejahteraan sebagai Nelayan lokal.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai bulan Oktober sampai bulan Januari tahun 2016.

C. Unit Analisis dan Penentuan Informan

Peneliti memilih masyarakat Desa Mattiro Bombang Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara Kabupaten Pangkep sebagai informan dengan alasan peneliti dapat mewawancarai masyarakat secara mendalam sehingga mendapatkan data yang benar-benar real atau nyata sesuai dengan keadaan masyarakat nelayan miskin yang sebenarnya. Adapun yang menjadi informan adalah yaitu

1. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep 2. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Pangkep 3. Kepala Dinas sosial dan Ketenagakerjaan Kabupaten Pangkep 4. Kepala Desa Mattiro bombang,

5. Tokoh-Tokoh dan Kelompok Masyarakat Desa Mattiro Bombang

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Wawancara

Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka, dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan (dialog) kepada responden sebagai nara sumber yang dianggap mengetahui dan memahami obyek dan permasalahan penelitian.

2. Observasi

Observasi yaitu peneliti akan melakukan pengamatan langsung aktifitas masyarakat sehari-hari utamanya kegiatan yang

menyangkut pemberdayaan masyarakat pesisir dalam berbagai aspek kehidupan sehingga menarik untuk mengkajinya (pra penelitian). Maupun pada saat penelitian yang sesungguhnya sebagai bahan banding terhadap teknik pengumpulan data lainnya.

3. dokumentasi

Merupakan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan bahan-bahan yang berupa buku-buku, gambar-gambar, dokumen atau bahan pustaka lainnya yang ada hubungannya dengan objek yang diteliti.

E. Teknik Analisis Data

Prinsip utama dalam analisa data adalah bagaimana menjadikan data atau informasi yang telah dikumpulkan disajikan dalam bentuk uraian dan sekaligus memberikan makna atau interprestasi sehingga informasi tersebut memiliki signifikan ilmiah atau teoritis.

Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Teknik analisa data ini menguraikan,

menafsirkan dan menggambarkan data yang terkumpul secara sistemik dan sistematik.

Teknik analisis data bertujuan untuk menganalisis data yang dikumpulkan, maka digunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu mengungkapkan data secara analisis dan dijelaskan secara mendetail berdasarkan temuan-temuan dilokasi penelitian. Atau teknik analisis secara pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia pada penelitian ini membuat suatu gambaran kompleks , meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998)

F. Pengecekan Keabsahan Data

Di dalam pengujian keabsahan data, metode penelitian kualitatif menggunakan validityas interbal (credibility) pada aspek nilai kebenaran, pada penerapannya ditinjau dari validitas eksternal (transferability), dan realibilitas (dependability) pada aspek konsistensi, serta obyektivitas (confirmability) pada aspek naturalis. Pada penelitian kualitatif, tingkat keabsahan lebih ditekankan pada data yang diperoleh. Melihat hal tersebut maka kepercayaan data hasil penelitian dapat dikatakan memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan sebuah penelitian.

Data yang valid dapat diperoleh dengan melakukan uji kredibilitas (validityas interbal) terhadap data hasil penelitian sesuai dengan prosedur uji kredibilitas data dalam penelitian kualitatif.

Adapun macam-macam pengujian kredibilitas, antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan membercheck.

1. Perpanjangan pengamatan

Hal ini dilakukan untuk menghapus jarak antara peneliti dan narasumber sehingga tidak ada lagi informasi yang disembunyikan oleh narasumber karena telah memercayai peneliti. Selain itu, perpanjangan pengamatan dan mendalam dilakukan untuk mengecek kesesuaian dan kebenaran data yang telah diperoleh.

Perpanjangan waktu pengamatan dapat diakhiri apabila pengecekan kembali data di lapangan telah kredibel.

2. Meningkatkan ketekunan

Pengamatan yang cermat dan berkesinambungan merupakan wujud dari peningkatan ketekunan yang dilakukan oleh peneliti. Ini dimaksudkan guna meningkatkan kredibilitas data yang diperoleh. Dengan demikian, peneliti dapat mendeskripsikan data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.

3. Triangulasi

Ini merupakan teknik yang mencari pertemuan pada satu titik tengah informasi dari data yang terkumpul guna pengecekan dan pembanding terhadap data yang telah ada.

a. Triangulasi Sumber, Menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh kemudian dideskripsikan dan dikategorisasikan sesuai dengan apa yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut. Peneliti akan melakukan pemilahan data yang sama dan data yang berbeda untuk dianalisis lebih lanjut.

b. Triangulasi Teknik, Pengujian ini dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan melakukan observasi, wawancara, atau dokumentasi. Apabila terdapat hasil yang berbeda maka peneliti melakukan konfirmasi kepada sumber data guna memperoleh data yang dianggap benar.

c. Triangulasi Waktu, Narasumber yang ditemui pada pertemuan awal dapat memberikan informasi yang berbeda pada pertemuan selanjutnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan berulang-ulang agar ditemukan kepastian data yang lebih kredibel.

4. Analisis kasus negatif

Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Dengan demikian temuan penelitian menjadi lebih kredibel.

5. Menggunakan bahan referensi

Bahan referensi adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Bahan yang dimaksud dapat berupa alat perekam suara, kamera, handycam dan lain sebagainya yang dapat digunakan oleh peneliti selama melakukan penelitian. Bahan referensi yang dimaksud ini sangat mendukung kredibilitas data.

6. Mengadakan Membercheck

Membercheck adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data atau informan. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh para pemberi data berarti datanya data tersebut valid.

Pelaksanaan membercheck dapat dilakukan setelah satu periode pengumpulan data selesai, atau setelah mendapat suatu temuan, atau kesimpulan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Desrkripsi Umum

Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan (Pangkep) yang membentangi di bagian Barat Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayahnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu pesisir, daratan tinggi, dan kepualauan.

Wilayah kepulauan di Kabupaten Pangkep terdiri dari 112 Pulau dengan 22 Pulau di antaranya yang belum berpenghuni. Kabupaten Pangkep terdiri dari 13 kecamatan yaitu Sembilan Kecamatan terdapat di daratan dan empat Kecamatan di Kepulauan. Sembilan Kecamatan yang terletak di daratan adalah Kecamatan Pangkajenne, Balloci, Bongoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri, Tondeng Tallasa, dan Mandalle, sedangkan Kecamatan yang terletak di kepualauan adalah Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kecamatan Liukang Tupabbiring Selatan, Liukang Tangaya Dan Liukang Kalmas.

Kabupaten Pangkep yang membentang sepanjang 45 km tepatnya berada pada 4,40o LS-8o LS dan 110o – 113o BT. Kabupaten ini memiliki luas wilayah daratan sebesar 1.112,29 km2 dan luas wilayah lautan mencapai 17.100 km2. Secara administratif, Kabupaten Pangkep berbatasan langsung dengan Kabupaten Barru (Sebelah Utara), Kabupaten Maros (Sebelah Selatan), Kabupaten Bone (Sebelum Timur) dan di sebelah Barat berbatasan dengan Pulau Kalimantan, Pulau Jawa,

Pulau Madura, Proponsi Nusa Tenggara Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Topografi Kabupaten Pangkep terdiri dari wilayah pengunungan dan daratan landai. Wilayah pengunungan memiliki ketinggian 50 -1000 meter dari permukaan laut, sedangakan wilayah daratan terdiri dari persawahan, tambak, rawa-rawa dan emapang. Sebagai wilayah dengan tingkat permukaan yang beragam, maka temperatur udara di Kabupaten Pangkep berdaa pada kisaran dari 21oC sampai dengan 31oC atau rata- rata mencapai 26,40oC dengan kecepatan angin dari tinggi sampai dengan sedang

Gambar 2 : Peta Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan (Pangkep)

2. Deskripsi Desa Mattiro Bombang

Desa Mattiro Bombang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara yang terletak di kawasan Kepulauan Pangkep.

Desa Mattiro Bombang terdiri dari empat Pulau yang berpenghuni dan

beberapa gusung karang.ke empat Pulau tersebut adalah Pulau Salemo, Pulau Sagara, Pulau Sabangko, Dan Pulau Sakuala dan terdiri dari 5 dusun, 5 RW/RK dan 14 RT . Secara administratif, Desa Mattiro Bombang berbatasan dengan Desa Pancana Kabupaten Barru (Sebelah Utara), Desa Mattiro Kanja (Sebelah Selatan), Desa Mattiro Walie ( Sebelah Barat), Dan Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang (Sebelah Timur).

Sebagian wilayah Kepulauan, Desa Mattiro Bombang bertopografi datar dan landai dengan rata-rata ketinggian mencapai kurang dari 50 meter dengan luas wilayah 22 km2. Secara geografis, Desa Mattiro Bombang juga merupakan salah satu desa yang terdekat dengan daratan kabupaten pangkep dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi

Desa Mattiro Bombang dapat dicapai dengan menggunakan mikrolet (pete-pete) dari Kota Pangkep sampai ke dermaga limbangan.

Setelah itu dilanjutkan dengan transportasi laut dengan ongkos Rp_10.000,- per orang. Sungai limbangan merupakan pintu utama transportasi publik dengan beberapa kapal beroperasi setiap hari sejak pukul 06.00 pagi sampai 17.00 sore. Perjalanan dari dermaga limbangan menuju desa mattiro bombang memakan waktu sekitar satu jam. Selain dermaga limbangan, Desa tersebut dapat juga dijangkau dari dermaga kasih kebo yang terletak di kecamatan ma’rang dengan waktu yang lebih singkat yaitu sekitar 30 menit akan tetapi sedikit lebih jauh dibandingkan dermaga limbangan kalau dari kota Pangkep.

Dokumen terkait