BAB I PENDAHULUAN
F. Kajian Pustaka
2. Kepala Madrasah
a. Pengertian Kepala Madrasah
Kepala Madrasah yang terdiri dari kata kepala dan sekolah. Yang mana kepala secara etimologi organ tubuh yang paling atas, berkepala memiliki kepala, mengepalai; memimpin sesuatu.33
Sedangkan sekolah adalah suatu tempat untuk menuntut ilmu secara formal.34 Jadi Kepala Madrasah adalah pemimpin sebuah institusi, organisasi, tempat menuntut ilmu formal.
Sedangkan Rohiat, mengatakan “Kepala Madrasah sebagai manajer bertugas sebagai pelaksana kurikulum, pengatur personil, fasilitas, keuangan, ketatausahaan sekolah, pemelihara tata tertib serta hubungan sekolah dan masyarakat”.35
32Ibid, h. 63
33 Imam Taufik, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Ganeca Exact, 2010), h. 657
34Ibid, h.945
35 Rohiat, Kecerdasan Emosional Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2008), h. 14
Kepala Madrasah adalah sosok yang memegang peranan penting dalam perkembangan sekolah, maka ia harus berjiwa pemimpin untuk mengatur bawahanya seperti guru-guru, pegawai TU, dan pegawai-pegawai lainya.
Selain itu, ia juga mengatur siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat dan orang tua siswa. Tercapai tidaknya tujuan sekolah sepenuhnya bergantung pada kebijakan Kepala Madrasah kepada bawahanya.
Kepala Madrasah dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberi kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang kemajuan program sekolah.
b. Syarat-Syarat Kepala Madrasah
Dalam sejarah peradaban manusia sudah banyak bukti bahwa salah satu faktor yang menentukan keberhasilan organisasi adalah kuat lemahnya kepemimpinan, dalam hal ini berarti semuanya bertumpu pada seorang pemimpin sebagai pengendali dan penentu arah yang akan ditempuh oleh organisasi menuju suatu tujuan. Oleh karena itu Perumus serta penentu strategi dan taktik adalah pimpinan dalam organisasi harus memiliki syarat- syarat yang kuat sehingga dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Menurut Pesyaratan untuk menjadi Kepala Madrasah, tercantum dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 Tentang Syarat-syarat Kepala
Madrasah pasal 2, apabila memenuhi persyaratan umum dan persyaratan khusus:
1. Persyaratan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau nonkependidikan perguruan tinggi yang terakreditasi;
c. berusia setinggi-tingginya 56 (lima puluh enam) tahun pada waktu pengangkatan pertama sebagai Kepala Madrasah/madrasah;
d. sehat jasmani dan rohani berdasarkan surat keterangan dari dokter Pemerintah;
e. tidak pernah dikenakan hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
f. memiliki sertifikat pendidik;
g. pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah/madrasah masing-masing, kecuali di taman kanakkanak/raudhatul athfal/taman kanak-kanak luar biasa (TK/RA/TKLB) memiliki pengalaman mengajar sekurang- kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA/TKLB;
h. memiliki golongan ruang serendah-rendahnya III/c bagi guru pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi guru bukan PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang dibuktikan dengan SK inpasing;
i. memperoleh nilai amat baik untuk unsur kesetiaan dan nilai baik untuk unsur penilaian lainnya sebagai guru dalam daftar penilaian prestasi pegawai (DP3) bagi PNS atau penilaian yang sejenis DP3 bagi bukan PNS dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan
j. memperoleh nilai baik untuk penilaian kinerja sebagai guru dalam 2 (dua) tahun terakhir.
2. Persyaratan khusus guru yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala Madrasah/madrasah meliputi:
a. berstatus sebagai guru pada jenis atau jenjang sekolah/madrasah yang sesuai dengan sekolah/madrasah tempat yang bersangkutan akan diberi tugas tambahan sebagai Kepala Madrasah/madrasah;
b. memiliki sertifikat Kepala Madrasah/madrasah pada jenis dan jenjang yang sesuai dengan pengalamannya sebagai pendidik yang diterbitkan oleh lembaga yang ditunjuk dan ditetapkan Direktur Jenderal.
c. Khusus bagi guru yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala Madrasah/madrasah Indonesia luar negeri, selain memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) butir a dan b juga harus memenuhi persyaratan khusus tambahan sebagai berikut:
d. memiliki pengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai Kepala Madrasah/madrasah;
e. mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan atau bahasa negara dimana yang bersangkutan bertugas;
f. mempunyai wawasan luas tentang seni dan budaya Indonesia sehingga dapat mengenalkan dan mengangkat citra Indonesia di tengah-tengah pergaulan internasional.36
Dalam menjabat sebagai Kepala Madrasah di lembaga pendidikan biasanya mempunyai syarat-syarat formal diantaranya adalah :
1) Pendidikan atau ijazah
2) Pengalaman yang dinyatakan dalam golongan atau kepangkatan Pegawai Negeri.
36Permendiknas nomor 28 tahun 2010
3) Umur dan lain-lain.37
Menurut Permendiknas, persyaratan Kepala Madrasah dalam menjalankan tugas dan fungsi kepemimpinanya yakni :
1) Memiliki kecerdasan dan intelegensi yang cukup baik.
2) Teliti menghadapi dan menganalisis masalah yang dihadapi anggotanya.
3) Percaya diri sendiri dan bersifat membership.
4) Cakap bergaul dan ramah tamah.
5) Kreatif, penuh inisiatif, berhasrat untuk maju dan menjadi lebih baik.
6) Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa.
7) Ahli dan terampil dalam bidangnya.
8) Suka menolong, memberi petunjuk, menghukum dengan konsekwen dan bijak.
9) Semangat dalam mengabdi dan memiliki kesetiaan tinggi.
10) Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
11) Jujur, rendah hati, dapat dipercaya dan sederhana.
12) Bijak dan adil.
13) Disiplin.
14) Berwawasan luas.
15) Sehat jasmani dan rohani.38
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat menjadi Kepala Madrasah dapat memenuhi syarat formal seperti Pendidikan atau ijazah, pengalaman kerja dan umur, dan memenuhi skill dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pemimpin seperti kecerdasan, kemantapan emosional, memiliki akhlak yang mulia, pengetahuan yang luas dan sehat jasmani dan rohani.
c. Fungsi dan Tugas Kepala Madrasah
Masalah kepemimpinan dalam peningkatan prestasi, hendaknya dikaitkan dengan peranan Kepala Madrasah dan kedudukan pimpinan lainya
37 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Madrasah Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h.103
38Ibid. h. 103
yang relavan dan peranan kepemimpinan khusus yang berhubungan dengan staf, siswa, orang tua siswa dan orang lain di luar komunitas sekolah.
Ari H. Gunawan, menyatakan “dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya, proses kepemimpinan dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan yang terkecil dan lunak yaitu melalui bujukan, ajakan, sugesti, persuasi dan sebagainya sampai kepada tingkat yang terkeras seperti menakut-nakuti, menggertak, memaksa dan sebagainya”.39
Menurut Mulyasa dalam menjalankan tugasnya, Kepala Madrasah setidaknya mempunyai tugas-tugas sebagai berikut :
1) Sebagai edukator (pendidik)
Ia harus memiliki strategi yang inovatif dan efektif untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya.
Menciptakan iklim yang kondusif, memberi nasehat, memberi dorongan serta menyajikan model pembelajaran yang menarik seperti team teaching, moving class dan mengadakan program akselerasi bagi siswa yang cerdas di atas normal. Menurut Sumijo, Kepala Madrasah seharusnya berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan empat macam nilai yaitu : pembinaan mental, moral, fisik dan artistik.40 2) Sebagai Manajer
Dalam peran ini, Kepala Madrasah harus merencanakan, mengornisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota dan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan. Ia juga dituntut untuk memberdayagunakan tenaga pendidikan untuk
39Ari H. Gunawan, Administrasi Sekolah (Jakarta : Rineka Cipta, 1996), hal. 219.
40 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h.103
bekerjasama, memberi kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya dan mendorong untuk melibatkan diri dalam seluruh kegiatan sekolah.41
3) Sebagai Administrator
Pada masalah administrasi, ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan keadministrasian mengenai pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Intinya ia harus memiliki kemampuan mengelola kurikulum, administrasi peserta didik, personalia, sarana dan prasarana, kearsipan serta keuangan.42
4) Sebagai Supervisor
Kegiatan vital yang dilaksanakan dalam sekolah adalah kegiatan pembelajaran. Di dalamnya terdapat aktifitas organisasi sekolah yang akan bermuara pada pencapaian efesiensi dan efektifitas pembelajaran.
Oleh karena itu salah satu tugas Kepala Madrasah adalah sebagai supervisor yang mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.43
5) Sebagai leader
Sebagai leader,Kepala Madrasah harus mampu memberi petunjuk serta pengawasan guna meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, berkomunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas.
Menurut Wahjosumijo, Kepala Madrasah sebagai leader harus mempunyai kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.44
6) Sebagai Innovator
Strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari ide baru, kegiatan yang integratif, memberi
41Ibid. h. 103
42Ibid. h. 107
43Ibid, h. 111
44Ibid, h. 115
teladan dan memberi inovasi model-model pembelajaran adalah tugas Kepala Madrasah sebagai inovator.45
7) Sebagai Motivator
Motivasi yang ditumbuhkan oleh Kepala Sekolah dapat dilakukan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyedian berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar.
Oleh karena itu ia harus memiliki strategi yang tepat untuk memotivasi tenaga-tenaga kependidikan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.46
Dalam menjalankan kinerjanya, Kepala Madrasah harus selalu berada dalam koridor prinsip. Nilai-nilai yang terkandung di dalam prinsip-prinsip tersebut akan menjadi pedoman utama untuk melaksanakan tugas fungsionalnya, agar dapat berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh masyarakat, organisasi, maupun secara nasional.
Perilaku kepemimpinan akan mempengaruhi perilaku orang merupakan fenomena sesesorang dalam mempengaruhi orang lain yang terjadi dalam konteks intraksi. Dalam pendekatan perilaku, kepemimpinan dinyatakan sebagai sejumlah deskripsi perilaku dalam interaksi dengan bawahannya.47
Hal ini tidak terlepas dari kepandaian menjalin hubungan dengan bawahanya berupa hubungan kemanusian yang harmonis dan mendukung terciptanya suasana kerjasama yang mantap yang bekerja secara efektif.
45Ibid. h. 118
46Ibid. h. 120
47 Yoyon Bachtiar, Kepemimpinan dan Kewirausahaan, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2009), h. 59
3. Prestasi Belajar a. Pengertian Belajar
Sofan Amri, mengatakan “belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”.48
Abin Syamsuddin mengukitp pendapat Hilgard,“bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu”.49
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat dipahami belajar pada hakikatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang dalam memenuhi kebutuhanya untuk menghasilkan perubahan-perubahan positif yang diinginkan dalam dirinya. Dengan adanya perubahan tersebut seseorang terdorong untuk menghasilkan prestasi yang merupakan kebutuhan manusia untuk berada di atas orang lain.
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Mc Celland, ada beberapa pendekatan yang dapat membangkitkan ambisi prestasi pada anak, diantaranya adalah :
1) Menanamkan sedini mungkin cara bernalar aktif dengan berpikir logis dan sistematis pada anak.
2) Membiasakan belajar mandiri
3) Menciptakan lingkungan yang kondusif 4) Mengembangkan jiwa kompetitif 5) Mengembangkan rasa percaya diri 6) Mengembangkan mutu pergaulan31
48 Sofan Amri, Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Meenengah Dalam Teori, Konsep dan Analisis, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya, 2013), h. 219
49 Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul, (Bandung: PT. Remaja Roasdakarya, 2009), h. 157
b. Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Ada beberapa faktor baik terpisah maupun bersama-sama yang dapat memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar yaitu : bahan atau materi yang dipelajari, lingkungan, faktor instrumental dan kondisi peserta didik.
Ada beberapa komponen yang terlibat dalam pembelajaran yang memberi pengaruh pada prestasi sebagaimana diungkapkan oleh Maknun yaitu :
1) Masukan mentah yang menunjuk pada karakteristik individu yang memungkinkan mudah tidaknya proses pembelajaran.
2) Masukan instrumental yang menunjuk pada kualifikasi dan kelengkapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti guru, bahan atau sumber metode dan program.
3) Masukan lingkungan yang menunjuk pada situasi, keadaan fisik dan suasana sekolah serta hubungan antar pengajar dan teman.32
Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari diri siswa (internal) maupun dari luar diri siswa (eksternal) oleh karena itu guru harus mengenalkan faktor-faktor tersebut kepada siswa dalam rangka mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin. Kedua faktor tersebut adalah :
1. Faktor yang berasal dari diri (internal)
a) Faktor jasmaniah baik yang bawaan maupun dari perolehan sendiri seperti halnya kelainan pada beberapa anggota tubuh
b) Faktor psikologis baik yang bawaan maupun dari perolehan sendiri yang terdiri dari :
1) Faktor intelektif yang berupa faktor potensial yaitu kecedasan dan bakat serta kecakapan nyata berupa prestasi yang diraih.
2) Faktor nonintelektif berupa unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri.
3) Faktor kematangan fisik maupun psikis 2. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal)
a) Faktor sosial terdiri dari : 1) Lingkungan keluarga 2) Lingkungan sekolah 3) Lingkungan masyarakat 4) Lingkungan kelompok
b) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
c) Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.
d) Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.33
Sedangkan Nur Munajat, mengutip pendapat Sumadi,“bahwa prestasi siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor bahan yang diajarkan, metode mengajar, pengajar, lingkungan fisik, lingkunagan sosial, peralatan, kondisi fisik individu, kebiasaan belajar, dan kondisi psikis yaitu kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi”.50
50 TIM Redaksi, Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. III No. 2 , ( Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Kalijaga, 2006), h. 142
Prestasi belajar yang baik bertumpu pada peserta didik, bagaimana ia mampu berusaha dengan kemauan, minat, ketekunan, tekad dan cita-cita yang tinggi dengan berusaha seoptimal mugkin.
Dalam belajar peserta didik juga harus memperhatikan cara belajar yang dipergunakan agar lebih memuaskan.Peningkatan prestasi belajar perlu memperhitungkan keadaan jasmani, sosial emosional, lingkungan, memulai pelajaran, membagi pekerjaan, kontrol, sikap yang optimis, penggunaan waktu, cara mempelajari buku, kecepatan dalam membaca.
Dalam masalah belajar, peserta didik juga harus belajar secara otodidak tidak dengan cara cramming atau belajar ketika ada ujian atau tes.
Oleh karena itu seorang pendidik selalu senantiasa membuat strategi dan metode agar peserta didik dapat belajar secara bertahap dan konsisten.
Selain itu hal yang sangat esensial sangat perlu diperhatikan oleh setiap pendidik dan peserta didik yaitu kesiapan mental dan fisik dalam belajar.
Untuk memperlancar belajar dan prestasi belajar ada beberapa tips yang bisa dipergunakan yaitu :
1) Hendaknya membuat kelompok belajar agar dalam belajar dapat saling tukar menukar pemikiran.
2) Beban pekerjaan yang diberikan pada peserta didik segera mungkin dikerjakan.
3) Menumbuhkan rasa positive thinking dalam interaksi pembelajaran.
4) Memperbanyak referensi bahan bacaan yang berkaitan dengan pelajaran.
5) Merawat dengan baik alat-alat belajar.
6) Selalu menjaga kesehatan dengan tidur teratur, istirahat dan asupan gizi yang mencukupi.
7) Meluangkan waktu sebaik-baiknya untuk refresing.
8) Mempersiapkan diri untuk belajar minimal seminggu sebelum ujian berlangsung.
c. Macam-Macam Prestasi Belajar Siswa
Muhibbin menyatakan, “pada prinsipnya, pengungkapan prestasi belajar ideal meliputi segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan cipta dan rasa, dan karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indicator (penunjuk adanya prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis ptestasi yang hendak diukur.51
Secara garis besarnya prestasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu prestasi akademik dan non akademik.
1) Prestasi Akademik
Secara akademik prestasi atau keberhasilan biasanya diukur dengan evaluasi. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Dalam hubungannya dengan prestasi akademik ini, dalam Winkel Benyamin S. Bloom mengatakan, prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah
51Syah,Muhibbin. Psikologi Belajar. (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2008), h. 91
kognitif terdiri atas : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.52
2. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yangmenekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, danketerampilan berpikir.Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama adalah berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).
1. Pengetahuan (Knowledge)
2. Pemahaman (Comprehension)
3. Aplikasi (Application)
4. Analisis (Analysis)
5. Sintesis (Synthesis)
6. Evaluasi (Evaluation)
7. Affective Domain.53
3. (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hail belajar atau kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. Taksonomi tujuan pendidikan ranah afektif terdiri dari aspek:
a) Penerimaan (Receiving/Attending)
b) Tanggapan (Responding)
c) Penghargaan (Valuing)
d) Pengorganisasian (Organization)
e) Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex).54
4. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku- perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.55 2) Prestasi Non Akademik
Prestasi non akademik adalah prestasi yang diraih siswa di luar kegiatan akademik misalnya prestasi dalam bidang olaraga, alimpiade,atau yang lainnya.
52Winkel, W.S. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.( Jakarta: Gramedia, 2007), h.26
53Ibid. h. 247
54Ibid. h.248
55Ibid, h. 249