• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kerangka Konseptual

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan penafsiran antara peneliti dan pembaca, maka peneliti akan menguraikan deskripsi fokus dalam skripsi ini. Semua ini diupayakan mengingat persoalan pengertian dan penafsiran merupakan masalah yang

37Ridhwan, ‘Keparcayaan Masyarakat Bugis Pra Islam’. Jurnal: Ekspose, Vol.17,1 (2018), h.490

27

hakiki dan permasalahan yang paling awal untuk dapat memahami lebih mendalam terhadap pokok pikiran yang dikembangkan, deskripsi konseptual terdapat dalam judul “Akulturasi Tradisi Maddoja Bine Terhadap Masyarakat Bugis Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru”.

1. Tradisi (Al-‘Urf)

Kata ‘Urf berasal dari kata ‘arafa-ya’rifu yang mempunyai derivasi kata al- ma’ruf yang berarti sesuatu dikenal/diketahui.38Urf secara etimologi berarti “yang baik”, juga berarti perulangan atau berulang-ulang.39 Adat berasal dari kata ‘ada- ya’udu yang mempunyai derivsi kata al-‘adab yang berarti sesuatu yang diulang- ulang (kebiasaan).40 Adat juga diambil dari al-Mua’awadah yang berarti mengulang- ulang.41 Tradisi dalam Islam disebut ‘Urf bermakna sebagai kebiasaan yang ada dalam masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun-temurun dengan tidak mempunyai sanksi.

Tradisi merupakan warisan nenek moyang yang menjadi rujukan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat dari generasi ke generasi. Warisan yang diturunkan tersebut dapat berupa nilai-nilai luhur ataupun kebiasaan yang dianggap memiliki makna yang berguna bagi seseorang secara pribadi ataupun bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi yang dijalankan secara turun-temurun dapat menjadi ciri khas

38Jaya Miharja, ‘Kaidah-Kaidah Al-‘Urf Dalam Bidang Muamalah’. Jurnal: Pendidikan dan Kajian Keislaman.Vol4,1 (2011), h.105

39Sulfan Wandi, ‘Eksistensi ‘Urf Adat Kebiassaan Sebagai Dalil Fiqh’. Jurnal: Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 2.1 (2018)., h.182. . http://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/samarah

40Jaya Miharja, ‘Kaidah-Kaidah Al-‘Urf Dalam Bidang Muamalah’. Jurnal: Pendidikan dan Kajian Keislaman.Vol4,1 (2011), h.105

41Sulfan Wandi, ‘Eksistensi ‘Urf Adat Kebiassaan Sebagai Dalil Fiqh’. Jurnal: Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 2.1 (2018), h.182. http://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/samarah

kebudayaan kelompok masyarakat tertentu sehingga menjadi sebuah kearifan lokal yang dapat terus dilestarikan budaya masyarakat.42

Dalam tradisi intelektual Islam, adat atau tradisi memiliki tempatnya tersendiri, terutama tradisi dan nilai-nilai kebaikan. Misalnya dalam khasanah fiqhi disebutkan bahwa jual beli salam (pesanan) adalah adat kebiasaan masyarakat yang diakomodasi fiqhi Islam. Ijarah atau upah mengupah juga diantaranya, apa yang menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan ijarah.

Sama halnya dengan tradisi Maddoja Bine merupakan kebiasaan masyarakat suku Bugis yang sudah ada sejak lama yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Tradisi Maddoja Bine merupakan kebiasaan masyarakat yang mengandung nilai-nilai yang baik di dalamnya dan bisa dipetik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat diperkuat dengan adanya kaidah Ushul Fiqhi yang ada di dalam tradisi:

“Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”

Dapat disimpulkan bahwa sebagai masyarakat Bugis tidak menjadi masalah jika mempertahankan budaya (tradisi) lama, selama masih memiliki nilai yang baik dan jika ingin mengambil budaya (tradisi) baru yang memiliki nilai jauh lebih baik dari tradisi lama hal ini juga tidak menjadi masalah. Yang perlu diingat bahwa belum tentu tradisi yang lama sudah tidak memiliki nilai yang baik lagi sehingga kita mudah melupakan tradisi lama tersebut hanya karena kita sudah mengambil tradisi baru yang nilainya lebih baik dari tradisi lama.

Kaidah Ushul Fiqhi yang sering dikutip dengan pelestarian nilai-nilai bagus dan bagaimana kita mensikapi dengan perubahan budaya maupun arus pergerakan budaya

42Husairi Muh. Amin. ‘Tradisi Ma’Gawe Samampa Di Desa Pattimang Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara (Analisis Maqashid Al-Syari’ah)’. (Tesis: IAIN PALOPO, 2020), h.28

29

yang ada. Salah satu khazanah dalam Islam yang harus terus diaktualisasikan sehingga menjadi dalam kaidah-kaidah Ushul Fiqhi, tetapi dapat di implementasikan untuk pemecahan permasalahan yang lebih luas sehingga bisa lebih di implementasikan.43

Dalam hukum Islam, ‘Urf menempati posisi yang penting dalam penetapan hukum. Hal ini karena ‘Urf menjadi kebiasaan yang berlaku di masyarakat secara membudaya ditengah-tengah masyarakat. Adat dan ‘Urf menjadi pertimbangan dalam penetapan hukum yang telah dirumuskan menjadi kaidah umum, yaitu; al-adah muhakkamah dan al-Tsabit bi al-urfi al-Tsabit bi al-nash.44

‘Urf adalah adat kebiassaan yang berlaku di sebuah daerah dan dijadikan salah satu pertimbangan hukum Islam. ‘Urf digunakan sebagai salah satu acuan dalam madzhab fiqh sehingga diktum-diktum fiqh didasarkan pada realitas adat istiadat yang ada. Sehingga muncul kaidah: al-‘adatu muhakkamah, ats-tsabitu bi al-‘urfi ka ats- tsabiti bin nasshi ma lam yukhalif shar’an, kullu ma warada bis shar’u wala dlabita lahu fihi wala fil lughati yurjau fihi ila al-‘urfi.45

‘Urf dibagi menjadi dua berdasarkan pandangan syara’ yaitu;’Urf shahih dan

‘Urf fasid. ‘Urf shahih, ialah kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan nash, tidak menghilangkan kemaslahatan mereka, dan tidak pula membawa mudlarat bagi mereka. Sedangkan ‘Urf fasid, ialah

43http://www.google.com/amp/s/zulfa4wliya.wordpress.com/2015/05/09/aplikasi-kaidah-ushul- fiqhi/amp/

44Khimatun Amalia, ‘Urf Sebagai Metode Penetapan Hukum Ekonomi Islam’. Jurnal: As- Salam I Vol 9.1(2020), 77-78

45M. Noor Harisudin, ‘Urf Sebagai Sumber Hukum Islam (Fiqh) Nusantara’. Jurnal: Al-Fikr Vol. 20.1 (2016), h.67

kebiasaan yang bertentangan dengan hukum syara’ dan kaidah-kaidah dasar yang ada dalam syara’.46

Peneliti menyimpulkan bahwa tradisi Maddoja Bine termasuk ke dalam ‘Urf shahih karena berlangsung ditengah masyarakat tanpa adanya pertentangan nash karena mereka mengambil hal yang baik dalam tradisi ini. Trdisi Maddoja Bine tidak akan dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan nash karena tradisi ini memiliki manfaat baik yang dapat dipetik oleh masyarakat seperti halnya bersabar, ramah, dan masih banyak lagi manfaat baiknya. Hal-hal yang baik tidak akan bertentangan dengan agama selama tradisi ini bermanfaat bagi masyarakat yang menjalankannya. Tradisi akan dianggap bertentangan dengan agama jika memiliki manfaat buruk bagi yang menjalankannya.

Kebiasaan dapat dikatakan sebagai ‘Urf jika memenuhi tiga syarat menurut Ahmad Azhar Basyir, yaitu; adanya kemantapan jiwa, sejalan dengan pertimbangan akal sehat, dan dapat diterima oleh watak pembawaan manusia.47 Dapat disimpulkan bahwa tradisi Maddoja Bine yang dilakukan oleh masyarakat dapat dikatakan sebagai

‘Urf karena mereka melakukannya sesuai dengan kemantapan jiwa, pelaksanaannya dapat diterima akal sehat yaitu mengungkapkan rasa syukur atas apa yang telah diberikan melalui Sangiang Serri, dan tradisi ini dapat diterima oleh watak manusia sebagaimana dengan tiga syarat yang telah dikemukakan oleh Ahmad Azhar Basyir.

2. Akulturasi

Akulturasi dapat didefinisikan sebagai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari

46Novi Arizatul Mufidoh, “Al-‘Urf Dan al-‘Adah; Local Wisdom Mwnjawab Problematika Hukum Islam”. (Skripsi: UIN WALISONGO SEMARANG, 2019), h.8

47Khimatun Amalia, ‘Urf Sebagai Metode Penetapan Hukum Ekonomi Islam’. Jurnal: As- Salam I Vol 9.1(2020), h.77

31

suatu kebudayaan dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.48

Menurut Koentjaraningrat, akulturasi merupakan proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan satu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing lamlaun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya keperibadian kebudayaan itu.

Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India.49 Akulturasi menunjuk pada perubahan yang dialami oleh seseorang akibat kontak dengan budaya yang lainnya sekaligus akibat keikusertaan dalam proses akulturasi yang memungkinkan budaya dan kelompok etnis menyesuaikan diri dengan budaya yang lainnya.

Semakin kuat hubungan dan kesesuaian dengan tradisi setempat, makin mudah pula sistem akulturasi yang akan berlangsung. Misalnya pada acara

Mabarazanji” di masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Pada masa pra-Islam, kegiatan ini belum menggunakan kitab al-Barazanji dan biasanya menggunakan naskah cerita yang telah temurun disana, yakni naskah “La Galigo” dan “Meong Palo Karellae”.50

48Rangga firmansyah,‘Konsep Dasar ASIMILASI & AKULTURASI Dalam Pembelajaran BUDAYA’. Article: Telkom University, (2016), h.2-3

49Suhardi,“Komunikasi antar Budaya: Akulturasi, Asimilasi dan Problematika” (Skripsi:

Universitas Islam Negeri Ar-RannyBanda Aceh, 2017), h.20

50Abdul Fattah, ‘Mabbarazanji: Tradisi Membaca Kitab Barazanji Dalam Upaya Meneladani Kehidupan Nabi Muhammad SAW’. Jurnal: Studi Keislaman, Vol.7,1 (2021), h.54

3. Maddoja Bine

Maddoja Bine dalam bahasa Bugis berarti begadang untuk benih padi, ia adalah ritual yang dilangsungkan menjelang menurunkan benih padi di sawah.

Maddoja Bine dilakukan saat Sanro Wanua telah menentukan hari yang baik melalui Pappijeppu. Rangkaian ritual Maddoja Bine dimulai dari Mappalece Bine, Mappangolo, Massure’, hingga ritual Mappasili.

Dalam Mappalece Bine (Merayu Benih) dalam bentuk pelaksanaannya masyarakat memberikan seserahan yang berupa cermin (camming), sisir (jakka), bedak (bedda’), lipstik (gincu/dencong), dan cilla’.51Hal ini bermakna bahwa masyarakat meyakini kalau Dewi Padi (Sangiang Serrie) berwujud perempuan sehingga hal ini dilakukan sebagai alat untuk merayu agar benih yang akan ditanam akan sesuai dengan harapan petani. Mappangolo (Berdo’a). Mappangolo merupakan salah satu warisan leluhur masyarakat yang masih dipegang teguh hingga saat ini.

Dalam tradisi ini peneliti menyakini bahwa terdapat nilai-nilai atau unsur-unsur yang mengarah ke Islam. Tradisi ini juga tumbuh karena kemampuan kaum muslimin yang mengekspresikan nilai-nilai Islam dalam berbagai kehidupan salah satunya adalah pelstarian tradisi Maddoja Bine. Walau Islam sudah berlangsung cukup lama, belum juga bisa mengubah cara berpikir penduduk yang masih kuat mempertahankan kebudayaan atau tradisi asli yang dilestarikannya. Berbagai kepercayaan animisme dan dinamisme serta Hindu-Budha yang diganti dengan simbol-simbol Islam.52

51Andi Anizha Ramadhani, et als., ‘Keberadaan Pengetahuan Lokal Masyarakat Tani Di Era Revolusi Hijau (Studi Kasus Petani Padi Desa Carebbu Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan)’. Jurnal: Sosial Ekonomi Pertanian. Vol.16,2 (2020), h.151

52Jurna Petri Roszi dan Mutia, ‘Akulturasi Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Keagamaan dan Pengaruhnya terhadap Perilaku-Perilaku Sosial’. Jurnal: Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Vol.

3.2(2018), h.193

33

Menurut Mulyana, istilah nilai dari bahasa Inggris “Value”, bahasa latin

Valere”, bahasa Prancis Kuno “Valoir” secara umum memakai pengertian keberhargaan atau kebaikan. Muliadi mengatakan nilai yang terdapat pada sesuatu yang terwujud (dalam aspek material semata), tetapi sesuatu yang tidak berwujud, seperti nilai religious, nilai filosofis, dan nilai etis. Sedangkan menurut Wiranta bahwa aspek nilai dan penilaian baru akan dapat dilakukan secara maksimal apabila telah diwujudkan dalam simbol-simbol tertentu. Pada hakikatnya nilai adalah kepercayaan-kepercayaan bahwa cara hidup yang diidealisasi adalah cara yang terbaik bagi masyarakat.

4. Fungsi Maddoja Bine

Fungsi utama pelaksanaan Maddoja Bine adalah sebagai ritual. Ritual pada umumnya merupakan kegiatan kolektif, ditujukan kepada yang gaib, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu kemujaraban dan pertolongan. Ritual biasanya menggunakan bahasa atau tanda simbolik, sesajen, dengan pelaku dan penontonnya yang hadir sebagai partisipan.53 Selain berfungsi sebagai ritual, Maddoja Bine juga mengembang beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut.

a. Fungsi Sosial

Hal ini dapat terlihat saat pelaksanaan Maddoja Bine yang secara komunal/kolektif melibatkan berbagai lapisan masyarakat karena sebelum melaksanakan Maddoja Bine, beberapa ritual pertanian dilakukan seperti Tudang Sipulung (duduk bersama bermusyawarah). Dengan melakukan tradisi Maddoja Bine,

53A.Sulkarnaen, ‘Kelanjutan Tradisi Lisan Maddoja Bine Dalam Konteks Perubahan Sosial Masyarakat Bugis (The Continuation Of Maddoja Bine Tradition In The Context Of Bugis Society Social Change)’. Jurnal: Masyarakat Indonesia Vol. 43.2 (2017), h.266

masyarakat di ingatkan agar senantiasa menjaga keharmonisan relasi sosial di antara mereka sebagaimana yang disyaratkan Sangiang Serri.

b. Fungsi Edukatif

Maddoja Bine dapat menjadi media pendidikan melalui transformasi nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya. Di samping itu, dalam tahap pelaksanaan Maddoja Bine biasanya diawali dengan Mattangak Esso (mencari hari baik) yang didasarkan pada pengetahuan perbintangan (astronomi), keadaan cuaca, peredaran musim.

Pengetahuan semacam ini dapat ditemukan dalam Lontaraq Pananrang, yang mengungkapkan tentang tanda-tanda hujan dan panas sekaligus serta sebab musabab timbulnya gangguan musim.

c. Sebagai Sarana Komunikasi

Maddoja Bine menjadi sarana komunikasi ritual, menempatkan Patotoe (Dewata Seuwae, Tuhan Yang Esa) sebagai pusat pengaturan kosmos.54 Dalam konteks ini, Maddoja Bine mempunyai tujuan utama agar manusia dapat menjalin hubungan dengan Patotoe (Tuhan Yang Esa), sang penentu nasib. Hubungan yang terjadi, yakni antara manusia (petani) dengan Patotoe merupakan hubungan yang bersifat vertikal, yaitu yang berkuasa dan yang dikuasai. Hubungan yang terjalin dengan baik akan menimbulkan dampak yang baik bagi petani. Begitu pula dengan hubungan baik yang tercipta antara petani dengan entitas gaib lainnya, akan menghindarkan petani dari “gangguan” makhluk gaib/halus tersebut.

Selain itu, Maddoja Bine sebenarnya juga menjadi sarana komunikasi horisontal dengan sesama manusia. Relasi horisontal yang baik pada akhirnya akan

54A.Sulkarnaen, ‘Kelanjutan Tradisi Lisan Maddoja Bine Dalam Konteks Perubahan Sosial Masyarakat Bugis (The Continuation Of Maddoja Bine Tradition In The Context Of Bugis Society Social Change)’. Jurnal: Masyarakat Indonesia Vol. 43.2 (2017), h.267

35

menciptakan keharmonisan sosial dalam masyarakat. Keharmonisan sosial yang terbangun dengan baik menjadi prasyarat Sangiang Serri bersedia tinggal di satu daerah, sebagaimana yang ceritakan dalam Sureq Meong Paloe Karellae.

Meong Mpalo Karellae adalah kucing belang loreng merah, sedangkan Sureq Meong Mpalo Karellae adalah naskah yang menceritakan tentang kisah seekor kucing yang setia menemani Sangiang Serri (Sang Hyang Seri atau dewi padi yang menjelma sebagai tanaman padi)55 dalam melakukan perjalanan dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya.

D. Kerangka Berfikir

Banyak diantara masyarakat Bugis di Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barruyang sampai saat ini masih ada tidak melakukan tradisi Maddoja Bine. Karena masalah kepraktisan serta kurangnya pengetahuan tradisi tersebut.

Tradisi Maddoja Bine merupakan salah satu aspek kebudayaan, sudah banyak mengalami kelangkaan sebagai kuatnya pengaruh sistem nilai yang datang dari luar yang merupakan satu ancaman punahnya warisan budaya dari leluhur.

Karna semakin majunya zaman serta pengaruh globalisasi membuat masyarakat ingin mengikuti perkembangan zaman sehingga mereka lupa akan tradisi yang harus mereka lakukan sebagai penghormatan kepada leluhurnya atas tradisi yang diberikan.Hal ini terjadi bukan karena mereka lupa akan tetapi mereka tidak mengetahui dan memahami bahwa tradisi Maddoja Bine merupakan tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Bugis. Maka dari itu diperlukan pemahaman yang dalam tentang tradisi Maddoja Bine dalam masyarakat Bugis Desa Lipukasi agar

55https://attoriolong.com/2019/06/kisah-meong-palo-karellae-di-barru/

kedepannya bisa melestarikan tradisi ini bahkan menurunkannya secara turun temurun.

Kerangka Pikir

Teori Tindakan Sosial: (Max Weber) Akulturasi Tradisi Maddoja Bine Masyarakat Bugis Desa Lipukasi Kec. Tanete Rilau

Kab. Barru

Perubahan Sosial Tradisi Maddoja Bine

Teori Akulturasi Teori Asimilasi

37 BAB III

METODE PENELITIAN

Untuk mempermudah penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode penelitian Kualitatif untuk menyelesaikan penelitian yang ada di kalangan masyarakat Bugis desa Lipukasi. Metode kualitatif yang diambil peneliti lebih berfokus kepada wawancara atau interview, dibandingkan kuantitatif yang menggunakan angka-angka atau angket.

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang diambil peneliti adalah kulaitatif, yang dimana peneliti harus hadir pada saat melakukan penelitian yang menggunakan penelitian kulaitatif.

Peneliti tidak boleh di wakilkan untuk kegiatan seperti ini, jadi peneliti wajib datang ke lokasi penelitian untuk mendapatkan informasi mengenai tradisi Maddoja Bine dari masyarakat yang melaksanakannya.

Untuk memahami lebih jauh tentang Tradisi Maddoja Bine Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru peneliti menggunakan beberapa pendekatan sehingga mampu memahami gejala yang ada. Adapun pendekatan yang dimaksud antara lain:

1. Pendekatan Antropologi Agama

Antropologi dalam bahasa Yunani terdapat dua kata yaitu, anthropos berarti manusia, sedaangkan logos berarti studi. Jadi, antropologi merupakan suatu studi disiplin ilmu yang berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada henti-hentinya tentang makhluk manusia.56 Antropologi secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang

56 Pebri Yanasari, ‘Pendekatan Antropologi Dalam Penelitian Agama Bagi Sosil Worker’.

Jurnal: Pengembangan Masyarakat Islam, Vol.4, 2 (2019), h.229

mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu yang pengetahuan yang mengkaji masalah manusia dan budayanya.57

Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik dan sistem mengikat seluruh anggota masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawaban. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiolin ilmu antropologi dalam melihat sesuatu masalah digunakan untuk memahami agama.

Antropologi Agama merupakan ilmu yang mempelajari manusia khususnya tentang asal usul, aneka warna bentuk fisik masyarakat, adat istiadat, kepercayaan serta kebudayaan yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Melalui pendekatan antropologi agama ini, merupakan salah satu cara memahami pandangan masyarakat terhadap tradisi Maddoja Bine’ dengan wujud praktik ‘keagamaan dengan melihat wujud keagamaan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat di Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru.

2. Pendekatan Sejarah

Sejarah berasal dari bahsaa Arab “Syajarah” yang artinya pohon, menurut istilah berkaitan dengan kekayaan bahwa sejarah menyangkut tentang syajarat al- nasab, pohon genealogis yang dalam masa disebut keluarga (familyhistiry), atau kata kerja syajara juga punya arti to happen, to occurred dan todevelop.

57Pebri Yanasari, ‘Pendekatan Antropologi Dalam Penelitian Agama Bagi Sosil Worker’.

Jurnal: Pengembangan Masyarakat Islam, Vol.4, 2 (2019), h.229

39

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.58 Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idelis dengan yang ada di alam empiris dan historis.59

Sejarah merupakan sebuah peristiwa atau kisah yang terjadi pada masa lampau.

Pendekatan sejarah merupakan salah satu pendekatan yang diambil oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya yang berkaitan dengan kejadian-kejadian masa lampau salah satunya tradisi Maddoja Bine yang pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat di daerah Sulawesi Selatan tepatnya Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Dalam hal ini peneliti mengkaji tentang tradisi ini sebagai objek kajian yang dapat disusun menjadi data fragmentaris sehingga dapat dianalisis dan dapat ditafsirkan.

Tata cara menggunakan pendekatan sejarah peneliti terdahulu harus menyadari sebagai bahan pokok di dalamnya. Sehingga harus mengetahui bahwa dalam penggunaan pendekatan sejarah beberapa implementasi dari tahapan yang tercakup dalam metode sejarah.60

58Mokh. Fatkhur Rokhzi, ‘Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam’. Jurnal: Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam Vol. 3.1 (2015), h.92

59Mokh. Fatkhur Rokhzi,‘Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam’, h.93

60Mochammad Arfoni, ‘Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam’. Jurnal: Madaniyah, Vol.9, 2 (2019), h.273

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Desa Lipukasi dulunya kerajaan kecil yang ada di daerah Barru yang diperintah oleh seorang Ratu. Penduduk disana mayoritas beragama Islam dan memiliki beberapa tradisi yang masih dijalankan salah satunya adalah Tradisi Maddoja Bine.

Peneliti akan melakukan penelitian yang ada di daerah Barru tepatnya Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru.

Alasan peneliti mengambil penelitian di Desa Lipukasi karena tidak banyak memakan biaya bisa dikatakan bahwa lokasi penelitian ini merupakan tempat tinggal (kampung halaman ) peneliti, sehingga memudahkan melakukan penelitian di daerah tersebut. Desa ini merupakan salah satu tempat penelitian yang dipilih oleh peneliti karena masyarakat masih menjalankan yang namanya tradisi nenek moyang, yaitu Tradisi Maddoja Bine. Yang akan peneliti wawancarai adalah masyarakat yang paham betul mengenai tradisi Maddoja Bine, dan masyarakat yang masih melakukan tradisi tersebut.

2. Waktu Penelitian

Peneliti akan melakukan Penelitian setelah proposal diseminarkan dan mendapat surat izin untuk meneliti, selama kurang lebih dua bulan lamanya (disesuaikan dengan kebutuhan) untuk memperoleh informasi dan pengumpulan data.

Dalam waktu yang sudah ditentukan peneliti harus pandai memanfaatkan waktu yang telah diberikan.

C. Fokus Penelitian

Judul dari penelitian ini adalah “Akulturasi Tradisi Maddoja Bine Terhadap Masyarakat Bugis Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru”. Oleh

Dokumen terkait