TEOLOGI ANTIKORUPSI DI SEKOLAH
Skema 5: Siklus Penelitian Tindakan
D. Kerangka Teoretik
1. Taksonomi Benjamin S Bloom
Taksonomi berarti sejumlah prinsip klasifikasi atau struktur. Sedang
“domain” secara sederhana dapat diartikan sebagai kategori. Benjamin S Bloom membuat taksonomi pendidikan dalam tiga domain yang saling terkait, yaitu:2
a. Domain kognitif (cognitive domain) berupa kemampuan intelektual (intellectual capability), misalnya adalah pengetahuan dan aspek berpikir.
b. Domain afektif (affective domain) berupa perasaan, emosi, dan perilaku.
Misalnya adalah sikap dan rasa.
c. Domain psikomotorik (psychomotor domain) berupa keprigelan dan keterampilan fisik. Misalnya adalah keterampilan atau kemampuan berbuat.
Klasifikasi di atas menimbulkan variasi konsep ringkas yang terangkum dalam tiga domain, misalnya keterampilan-pengetahuan-sikap (Skills- Knowledge-Attitude) atau berbuat-berpikir-merasa (Do-Think-Feel), dan lain- lain.
Sejak itu beberapa pakar pendidikan mempelajari karya Bloom, terutama pada domain ketiga yaitu domain psikomotorik atau keterampilan. Pada awalnya Bloom mengidentifikasinya dalam pengertian yang luas dan belum dijelaskan secara rinci. Agaknya dalam hal ini Bloom dan rekannya merasa bahwa lingkungan akademis tak cukup mampu menganalisis dan menciptakan struktur yang tepat untuk kemampuan fisik atau domain psikomotorik. Dalam kasus ini, Bloom meninggalkan celah bagi ilmuwan lainnya untuk melengkapi rincian domain psikomotorik tersebut. Model ini kemudian dikembangkan
2 Lihat Benjamin S Bloom dkk, Taxonomy of Educational Objectives: Handbook I, The Cognitive Domain. 1956. Lihat juga Anderson, Krathwohl dkk, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing:
A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. 2001. Bandingkan juga dengan Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h.41-42. Lihat juga Peter J Hills, A Dictionary of Education (London: Routledge & Keagan Paul, 1982), h.86.
oleh beberapa kontributor pada tahun-tahun selanjutnya, seperti Anderson, Krathwhol, Masia, Simpson, Harrow dan Dave. Tiga nama yang terakhir ini masing-masing telah mengembangkan versi ketiga yaitu domain psikomotorik.
Tiap domain dalam taksonomi Bloom dibuat atas anggapan bahwa domain tersebut disusun berdasarkan tingkat kesulitannya. Premis utama dalam taksonomi Bloom menyatakan bahwa tiap domain atau tingkat haruslah dikuasai terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke domain berikutnya. Dengan demikian, tiap domain merupakan tingkatan perkembangan belajar, dimana makin tinggi domainnya makin tinggi pula tingkat kesulitannya.
2. Aliran Pendidikan
Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik dalam kajian filosofisnya dapat ditinjau dalam beberapa aliran pendidikan, yaitu:3
a. Aliran Nativisme yang memandang manusia belajar dari bakat, kesanggupan, dan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya sejak lahir. Sifat- sifat pembawaan inilah yang berpengaruh dalam pertumbuhan manusia selanjutnya, sedangkan pendidikan dan lingkungan tidaklah berpengaruh.
Aliran ini dipelopori oleh Arthur Schopenhauer.
b. Aliran Empirisme yang memandang manusia belajar dari pengalaman, bukan dari faktor keturunan. Pendidikan dan lingkungan memegang peran penting dalam pertumbuhan manusia. Aliran yang dipelopori oleh John Locke ini berbeda sekali dengan aliran nativisme yang menilai pertumbuhan manusia dari faktor dalam diri manusia atau pembawaan.
Aliran empirisme justru menilai faktor luar amat berengaruh.
c. Aliran Konvergensi yang memandang manusia belajar dari faktor pembawaan atau bakat sekaligus faktor pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Dengan demikian, aliran konvergensi berupaya memadukan dan menggabungkan dua aliran sebelumnya. Aliran ini dirintis oleh William Stern.
d. Aliran Behaviorisme yang memandang manusia dari sisi perbuatan dan tingkah lakunya. Pengalaman batin dikesampingkan, sedang yang diamati adalah perubahan gerakan dan perilaku semata. Bahwa perbuatan manusia itu digerakkan oleh refleks, dan pendidikan melalui pembiasaan amat berpengaruh bagi terjadinya perubahan tingkah laku manusia. Aliran ini didukung oleh William James, Thorndike, dan Watson.
3. Analisis Studi Keislaman
Taksonomi pendidikan yang dibuat berdasarkan tiga domain, yakni domain kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta aliran pendidikan nativisme, empirisme, konvergensi, dan behaviorisme hendak dianalisis dalam studi keislaman secara integratif-interkoneksitas. Teori studi keislaman yang hendak diterapkan dalam hal ini adalah yang dirintis oleh M. Amin Abdullah lalu dikembangkan sebagai kerangka dasar keilmuan dan pengembangan
3 Lihat Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h.291-299.
kurikulum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Teori ini membagi wilayah studi keislaman dalam tiga bagian, yaitu:4
a. hadlarah al-nash, yakni kemajuan ilmu yang bersumber dari nash (agama).
b. hadlarah al-‘ilm, yakni kemajuan ilmu kealaman dan kemasyarakatan.
c. hadlarah al-falsafah, yakni kemajuan ilmu etika dan falsafah.
Dengan demikian, bila taksonomi pedidikan berserta filosofinya di atas dianalisis berdasarkan ketiga teori wilayah studi keislaman ini maka akan tanpak seperti dalam bagan berikut.
Bagan 1:
Interkoneksitas Studi Keislaman dengan Taksonomi dan Aliran Pendidikan
Bagan di atas menjelaskan bagaimana studi keislaman dilakukan secara integratif-interkoneksitas dengan disiplin lainnya. Hadlarah al-nash yang merupakan pengembangan ilmu-ilmu agama dari dasar nash Alquran dan Hadis terpadu dan terkait secara keilmuan dengan hadlarah al-‘ilm yang merupakan pengembangan ilmu pendidikan dengan tiga domainnya, yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Begitu pula kaitannya dengan hadlarah al-falsafah yang merupakan basis pengembangan filosofis aliran pendidikan nativisme, empirisme,
4 Lihat Pokja Akademik, Kerangka Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2004), h.8. Lihat juga M. Amin Abdullah dll, Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum (Yogyakarta: Suka Press, IAIN Sunan Kalijaga, 2003), h.13-16. Lihat juga M. Amin Abdullah, “Desain Pengembangan Akademik IAIN Menuju UIN Sunan Kalijaga: Dari Pola Pendekatan Dikotomis-Atomistik ke Arah Integratif Interdiciplinary” dalam Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2005), h.263-266.
Hadlarah al-nash
Hadlarah al-‘ilm Hadlarah
al-falsafah
Alquran dan Hadis
Kognitif Afektif psikomotor
nativisme empirisme konvergensi
behaviorisme Studi keislaman
konvergensi, dan behaviorisme. Penelitian ini menggunakan kerangka teoretik di atas untuk mengembangkan pendidikan Islam.