BAB VI DESAIN RISET
Bagan 2: Format Laporan Penelitian
C. Uraian Materi
utamanya, serta memahami literatur yang terkait dan metodologi yang tepat.
Kualitas proposal penelitian tidak hanya tergantung pada proyek yang diusulkan, melainkan juga kualitas penulisan proposal. Proyek penelitian yang baik bisa saja menolak proposal yang Anda ajukan karena penulisannya kurang baik.
metode penelitian meliputi desain, prosedur, sampling dan instrument lain yang hendak digunakan.
3. Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisi argumenasi pentingnya penelitian tersebut dilaksanakan dalam hubungannya dengan ilmu, pemecahan masalah, kebijaksanaan atau berkaitan dengan pembangunan. Argumentasi tersebut bisa dilihat dari fakta empiris atau deduksi teori. Uraian pendahuluan sebenarnya bertujuan untuk meyakinkan penyandang dana atau penentu kebijaksanaan mengenai perlunya penelitian tersebut. Di lain pihak, pendahuluan juga berfungsi sebagai latar belakang untuk perumusan masalah penelitian. Oleh sebab itu dalam pendahuluan harus mengantarkan pembaca kepada permasalahan yang akan diteliti. Dengan kata lain mampu menjabarkan apa dan mengapa judul dan makna yang terkandung di dalamnya perlu diteliti.
Tujuan utama pendahuluan adalah untuk menyediakan latar belakang yang diperlukan atau konteks problem penelitian Anda. Bagaimana membingkai problem penelitian merupakan masalah yang amat penting dalam penulisan proposal. Jika problem penelitiannya dibingkai dalam konteks umum, kajian pustaka yang membingungkan, maka problem penelitiannya bisa nampak tidak penting dan menarik. Walaupun begitu, jika pertanyaan yang sama ditempatkan dalam konteks yang sangat fokus dan wilayah penelitian yang ada, maka siknifikansi penelitiannya menjadi jelas.
Sayangnya, tak ada aturan yang ketat tentang bagaimana membingkai pertanyaan penelitian seperti halnya tidak ada penjelasan tentang bagaimana menulis paragraph pembuka yang menarik dan informatif. Banyak hal tergantung pada kreativitas Anda serta kemampuan Anda untuk berpikir secara jelas dan mendalam atas pemahaman wilayah penelitian tersebut.
Pendahuluan berawal dengan pernyataan umum dari wilayah permasalahan penelitian dengan focus pada problem penelitian tertentu yang diikuti dengan penjelasan rasional dan justifikasi kajian yang diusulkan.
Secara umum, bagian pendahuluan memuat:
a. Pernyataan problem penelitian yang sering dinyatakan sebagai tujuan penelitian.
b. Memuat konteks dan tahapan pertanyaan penelitian dengan cara menunjukkan keperluan dan kepentingannya.
c. Menyatakan dasar pemikiran dari kajian yang diusulkan dan menyatakan secara jelas mengapa hal itu penting dilakukan.
d. Secara ringkas menuraikan isu utama dan sub-problem yang hendak diarahkan dalam penelitian.
e. Mengidentifikasi variabel bebas dan terikat dari penyelidikan yang dilakukan. Boleh juga menentukan gejala yang ingin dikaji.
f. Nyatakanlah hipotesis atau teori Anda (jika ada). Bagi jenis penelitian eksploratori atau fenomenologi, mungkin tidak memerlukan hipotesis.
g. Buatlan batasan proposal penelitian Anda agar fokusnya menjadi jelas.
4. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan kelanjutan dari uraian pendahuluan.
Artinya, spesifikasi atau penajaman uraian pendahuluan terhadap hakikat masalah yang diteliti. Perumusan masalah diawali dengan identifikasi atau analisis masalah, menetapkan ruang lingkup masalah yang diteliti, membatasi masalah dan merumuskan pertanyaan penelitian. Dengan uraian tersebut pembaca tahu apa yang akan diteliti.
5. Kajian Pustaka dan Kerangka Teoretik
Kajian pustaka atau literature review merupakan kegiatan mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi pengetahuan. Mengapa suatu penelitian memerlukan kajian pustaka? Secara teoretik, orang yang hendak melakukan penelitian tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa menguasai bidang, cara dan prosedur penelitian. Untuk itu ia harus banyak membaca dan mengkaji berbagai literatur sehingga dapat diketahui sejauh mana masalah penelitiannya tersebut pernah diteliti oleh orang-orang sebelumnya. Jika melalui kajian pustaka tersebut diketahui bahwa ternyata permasalahan yang dirasakan sebagai masalah penelitiannya sudah terdapat dalam buku-buku karena sudah terbukti melalui prosedur ilmiah, maka calon peneliti tersebut sebaiknya melepaskan keinginannya untuk melakukan penelitian tentang masalah tersebut agar apa yang ia lakukan tidak mengulang-ulang atau tanpa arti.
Dalam kajian pustaka dijelaskan kedudukan masalah ditinjau dari khazanah pengetahuan. Artinya permasalahan tersebut dapat dijelaskan maknanya dari sudut ilmu pengetahuan. Variabel yang berkenaan dengan masalah dikaji secara rasional bahkan kalau ada didukung dengan data empirik dari hasil penelitian yang relevan. Kajian pustaka yang terkait dengan permasalahan dan variabel yang diteliti membentuk suatu kerangka pemikiran untuk menurunkan hipotesis, jika penelitian tersebut menggunakan hipotesis.
Namun, tidak selalu penelitian harus menguji hipotesis.
Kadangkala kajian pustaka dimasukkan dalam bagian pendahuluan.
Namun, kebanyakan peneliti lebih memilih menempatkannya pada bagian tersendiri sehingga dapat melakukan review pustaka secara mendalam. Kajian pustaka memiliki beberapa makna utama, yaitu:
a. Memastikan bahwa peneliti tidak “menemukan kembali roda”.
b. Menghargai mereka yang sudah meletakkan dasar-dasar dan usaha sebelumnya bagi penelitian.
c. Menyatakan pengetahuan peneliti tentang problem penelitian.
d. Menyatakan pemahaman terhadap isu dan teori yang terkait dengan rumusan masalah penelitian.
e. Menunjukkan kemampuan peneliti dalam menilai secara kritis terhadap informasi literatur yang sesuai.
f. Menunjukkan kemampuan peneliti untuk mengintegrasikan dan melakukan sintesa terhadap literatur yang ada.
g. Menyediakan teori baru atau mengembangkan model baru sebagai kerangka konseptual bagi penelitian.
h. Meyakinkan pembaca bahwa proposal penelitian tersebut dapat menghasilkan kontribusi yang berarti dan substansial bagi kepustakaan, misalnya dengan menyelesaikan teori penting atau mengisi kesenjangan yang ada dalam pustaka.
Kebanyakan kajian pustaka yang dilakukan oleh peneliti menghadapi beberapa masalah sebagai berikut:
a. Lemahnya organisasi dan struktur kalimat
b. Kurang fokus, kesatuan dan koherensi
c. Mengulang-ulang dan terlalu verbalistik
d. Terperangkap pada mengutip lembaran yang berpengaruh atau terkait saja
e. Terperangkap pada menjelaskan perkembangan terkini saja
f. Terperangkap pada penilaian kritis pada lembaran yang dikutip
g. Mengutip referensi yang tidak relevan atau tidak penting
h. Amat tergantung pada sumber sekunder
Ada cara lain untuk mengorganisasi kajian pustaka. Peneliti bisa menggunakan format penulisan sub-heading untuk kajian pustaka. Misalnya saja, setelah menyampaikan arti pentingnya wilayah penelitian dan perkembangan terkini, peneliti bisa meneruskan beberapa sub-bagian tentang isu terkait, seperti: model teori, pengukuran instrumen, perbedaan jender dan lintas-budaya, dan lain-lain. Penting diingat bahwa dalam hal ini sedang menyampaikan kisah kepada para pendengar. Usahakan menyampaikannya menarik. Jangan membosankan, sebab hal itu bisa membawa pada penolakan atas seluruh isi proposal.
Dari kegiatan pengkajian pustaka dapat ditemukan berbagai konsep, terutama sekali adalah teori yang dibutuhkan dalam penelitian yang akan dilaksanakan. Teori biasanya berhubungan dengan subyek tertentu dalam cakupan bidang ilmu tertentu yang dinisbatkan dengan perumus teori itu.
Teori merupakan serangkaian pernyataan sistematik yang bersifat abstrak tentang subyek tertentu. Subyek itu dapat berupa pemikiran, pendapat, nilai- nilai, norma-norma, pranata-pranata sosial, peristiwa dan perilaku manusia. Ia dijadikan landasan dalam perumusan kerangka berpikir.
Kerangka berpikir dapat berupa kerangka teori dan dapat pula berbentuk kerangka penalaran logis. Kerangka teori itu merupakan uraian ringkas tentang teori yang digunakan dan cara menggunakan teori itu dalam menjawab pertanyaan penelitian. Kerangka penalaran logis merupakan urutan berpikir logis, sebagai suatu ciri cara berpikir berpikir ilmiah yang akan
digunakan, dan cara menggunakan logika tersebut dalam memecahkan masalah. Kerangka berpikir itu bersifat operasional yang diturunkan dari satu atau beberapa teori, atau dari pernyataan yang logis. Ia berhubungan dengan masalah penelitian dan menjadi pedoman dalam perumusan hipotesis yang akan diajukan. Bila penelitiaannya terkait dengan anak, maka kerangka teoretiknya bisa mengemukakan berbagai teori perkembangan anak menurut berbagai tokoh dan literatur.
6. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian pada dasarnya adalah rumusan apa yang ingin dicapai dari penelitian tersebut. Sudah barang tentu tujuan penelitian harus sejalan atau konsisten dengan masalah yang diteliti. Artinya, ada kesamaan makna antara tujuan dengan masalah penelitian. Perbedaan terletak dalam rumusan atau redaksinya. Tujuan penelitian juga bisa dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum mengacu pada makna yang tersirat dalam judul, sedangkan tujuan khusus mengacu pada pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.
7. Manfaat Penelitian
Sebenarnya manfaat penelitian bisa disatukan dengan tujuan penelitian, yakni dijelaskan setelah tujuan penelitian dirumuskan. Namun, bisa pula dipisahkan dengan maksud memberi penekanan apa manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian tersebut. Hal ini penting bagi pemberi dana, agar hasil penelitian tersebut dapat digunakan bagi kepentingannya. Penelitian bisa berguna untuk pemecahan masalah, perumusan kebijakan, pengembangan ilmu, memperbaiki suatu model kerja yang lebih efektif dan lain-lain, tergantung pada masalah dan lingkup penelitiaannya. Yakinkan pada pemberi dana atau penentu kebijakan bahwa hasil penelitian ini ada manfaatnya baik langsung ataupun tidak bagi kepentingannya. Sering sekali diterimanya usulan penelitian bergantung pada manfaat yang diperoleh dari penelitian tersebut, sebelum menilai usulan penelitian secara keseluruhan.
8. Metodologi Penelitian
Seringkali dijumpai adanya pemahaman yang rancu terhadap metode dan metodologi penelitian. Metode penjelaskan cara, jenis, dan pendekatan yang ditempuh dalam melaksanakan penelitian, sedang metodologi tidak hanya menjelaskan cara, jenis dan pendekatan penelitian yang diterapkan melainkan pula menjelaskan kelebihan dan kekurangan, keunggulan dan kelemahan metode penelitian yang dipilih serta cara peneliti dalam mengatasi keterbatasan metode penelitian tersebut. Misalnya saja, jika peneliti menetapkan jenis penelitian studi kasus, maka dalam konteks metodologi penelitian ia perlu menjelaskan kelebihan dan kekurangan, keunggulan dan kelemahan studi kasus yang yang tetapkan tersebut berdasarkan kondisi yang dihadapi, serta mengemukakan bagaimana cara peneliti mampu mengatasi keterbatasan studi kasus tersebut.
Uraian tentang metodologi penelitian menjelaskan bagaimana prosedur penelitian itu akan dilaksanakan. Artinya, bagaimana cara memperoleh data empiris untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis. Unsur yang harus ada pada metodologi penelitian adalah metode dan desain penelitian, instrumen/alat pengumpul data, sampel penelitian dan teknik analisis data. Metode penelitian adalah pendekatan yang dipilih dalam memecahkan masalah penelitian. Misalnya menggunakan survey, studi kasus, ex-post facto, eksperimen, operational research, evaluasi dan lain-lain.
Instrumen adalah alat untuk memperoleh data empiris yang beguna untuk menjawab masalah penelitian. Sampel berkenaan dengan sumber data, yakni unit/kesatuan sumber data itu diperoleh. Teknis analisis data berkenaan dengan mengolah, menyusun, menafsirkan dan menganalisis data agar dapat menjawab pertanyaan penelitian, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan penelitian.
Jelas sekali bahwa peneliti belum memperoleh hasil penelitian saat proposal diajukan, bahkan si peneliti masih perlu punya ide tentang jenis data yang akan dikumpulkan dan prosedur statistik apa yang akan digunakan untuk menjawab masalah penelitian atau uji hipotesis. Karenanya penting sekali menjelaskan dampak yang akan dihasilkan dari proposal penelitian tersebut.
Metodologi penelitian itu merupakan bagian yang penting mengingat di dalamnya menjelaskan bagaimana rencana penelitian tersebut dilaksanakan untuk menjawab problem penelitian. Metodologi penelitian akan membekali rencana kerja dan menjelaskan kegiatan yang diperlukan bagi penyelesaian proyek penelitian. Masalah penelitian bisa saja dijawab dengan menggunakan penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Walaupun begitu, mengingat umumnya ahli psikologi masih bias terhadap penelitian kualitatif, khususnya jenis fenomenologi, maka seorang peneliti perlu menjustifikasi metode kualitatif apa yang diterapkan. Lagipula, karena belum ada aturan yang mapan dalam analisis kualitatif, maka metode penelitian tersebut perlu dielaborasi lebih lanjut lagi dari pada sekedar yang dibutuhkan bagi penelitian kuantitatif. Utamanya, proses koleksi data dalam penelitian kualitatif memiliki pengaruh lebih terhadap hasil penelitian bila dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Itulah alasan lain mengapa perlu mendeskripsikan bagaimana cara seorang peneliti mengumpulkan dan menganalisis data.
Dalam kajian kuantitatif, bagian metode penelitian umumnya meliputi penjelasan atas pertanyaan sebagai berikut:
a. Rancangan penelitian, apakah telaah angket ataukan percobaan laboratorium? Desain penelitian mana yang dipilih?
b. Subyek atau partisipan penelitian, yaitu orang yang hendak ikut serta dalam penelitian. Jenis prosedur sampling apa yang digunakan?
c. Instrumen. Jenis pengukuran instrumen atau kuisioner apa yang digunakan? Mengapa memilihnya? Apakah instrument tersebut cukup valid dan realible?
d. Prosedur. Apa rencana peneliti dalam melaksanakan penelitiannya?
Kegiatan apa saja yang terkait? Berapa lama?
9. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan menguraikan secara runtut bagaimana pembahasan hasil penelitian ditulis secara sistematis mulai dari bab pertama sampai akhir. Hubungan antar bab perlu diperhatikan secara seksama agar dapat diketahui kesinambungan pembahasannya secara logis mulai dari judul sampai kesimpulan. Kadang kala sistematika pembahasan ini dinyatakan dalam bentuk outline pembahasan. Namun demikian, perlu ditekankan di sini bahwa sistematika dan outline pembahasan dalam pelaksanaannya tidaklah kaku, melainkan dapat mengalami perubahan sesuai dengan keadaan.
Betapapun, sistematika itu dibuat secagai acuan yang kalau toh mengalami perubahan tidaklah terlalu jauh. Mulai dari judul, rumusan masalah, pembahasan sampai pada kesimpulan hasil penelitian, semuanya perlu konsisten dan dibahas secara sistematis.
10. Jadwal Waktu Penelitian
Berisi uraian berapa lama penelitian itu dilaksanakan sampai selesai laporan hasil penelitian. Setelah lamanya ditentukan, dibuat atau dirinci penggunaan waktu untuk setiap kegiatan penelitian dalam unit hari, minggu atau bulan. Kegiatan yang ditempuh biasanya ada beberapa tahap yakni tahap persiapan penelitian, tahap pengumpulan data di lapangan, tahap analisis data, tahap penulisan laporan. Setiap tahap dirinci berapa lama diperlukan dan apa kegiatannya. Untuk itu perlu dibuat jadual kegiatan dan waktu yang diperlukan.
11. Personalia Penelitian
Perlu dijelaskan siapa tim yang terlibat dalam penelitian dan bagaimana organisasinya. Tentukan siapa ketua peneliti dan tenaga penelitinya, kalau perlu ada sekretaris dan bendahara. Sebaiknya tim peneliti tidak tidak lebih dari empat orang, kecuali untuk penelitian besar dan waktunya cukup lama.
Seringkali ketua peneliti dan tim peneliti diminta curriculum vitaenya, dan dilampirkan dalam usulan penelitian. Isinya identitas diri dan pengalaman penelitian, karya tulis, serta lain-lain yang dianggap perlu. Tujuannya untuk melihat kemampuan peneliti sehubungan dengan usulan penelitian yang diajukannya.
12. Perkiraan Biaya
Taksir biaya penelitian perlu dikemukakan agar dapat diketahui seberapa besar anggaran yang dibutuhkan untuk penelitian tersebut sampai selesai.
Usahakan biaya yang dibutuhkan tadi realistik dan bukan dibuat-buat atau mengada-ada. Biasanya setiap penyandang dana penelitian telah memiliki standar untuk setiap kegiatan penelitian, bahkan untuk setiap proporsi kegiatan. Penyusun usulan penelitian perlu cermat dalam memperkirakan biaya agar jangan sampai kekurangan sehingga bisa menghambat penyelesaian penelitiannya. Dengan demikian biaya yang telah disetujui
cukup untuk melaksanakan penelitian dan tidak ada alasan apa pun atas keterlambatan penelitian yang disebabkan oleh biaya. Bila penelitian tersebut disusun dalam rangka penulisan paper, skripsi, tesis atau disertasi, taksir biaya ini tidak harus dilampirkan ke lembaga dimana ia melakukan studi, namun itu bukan berarti tidak perlu memperkirakan biaya yang dibutuhkan. Taksir biaya untuk keperluan penelitian dalam rangka penulisan paper, skripsi, tesis dan disertasi tetap diperlukan agar peneliti yang bersangkutan dapat mengukur perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penelitiannya sekaligus melihat kemampuan dirinya sendiri.
13. Lampiran
Usulan penelitian perlu melampirkan daftar pustaka dan curriculum vitae peneliti. Pokok-pokok atau komponen yang dijelaskan di atas hampir ditemukan di setiap usulan atau rencana penelitian. Kalaupun ada perbedaan hanya soal istilah dan mungkin urutannya.
Tidak jarang dijumpai seorang peneliti menerima tawaran penelitian dalam waktu yang relatif singkat, sedang ia harus segera mempersiapkan rancangan dan proposal penelitian. Dalam kondisi demikian peneliti bisa saja tergesa-gesa dan menulis proposal penelitian apa adanya dengan niat untung-untungan barangkali proposal yang hendak diajukan itu dapat diterima. Walaupun isi proposal telah ditulis menurut ketentuan yang dipersyaratkan, masih sering dijumpai kesalahan umum seperti:
a. Kesalahan dalam mengungkapkan konteks yang tepat untuk merumuskan masalah.
b. Kesalahan dalam membatasi kondisi penelitian.
c. Kesalahan dalam menyatakan kajian pustaka.
d. Kesalahan dalam menyatakan secara akurat kontribusi penelitian secara teoretik maupun empirik oleh peneliti sebelumnya.
e. Kesalahan dalam menyatakan fokus masalah penelitian.
f. Kesalahan dalam mengembangkan argumen secara koheren dan persuasif dalam proposal penelitian.
g. Terlalu rinci dalam menjelaskan isu sepele, sebaliknya tidak cukup detail dalam menjelaskan isu utama.
h. Terlalu bertele-tele, ibarat “berjalan mengelilingi peta” dan tanpa pemahaman yang jelas. Proposal yang baik itu bergerak mengalir seperti aliran sungai.
i. Terlalu banyak kutipan yang tak fokus dan referensi yang tidak tepat.
j. Uraian terlalu panjang atau terlalu singkat.
Beberapa kesalahan yang sering dijumpai dalam menyusun rencana dan proposal penelitian di atas perlu dipertimbangkan sebelum peneliti menyusun rencana dan proposal penelitian. Terlebih lagi bila penelitian tersebut dilaksanakan oleh kelompok atau tim peneliti, bila tidak ada koordinasi yang baik
antara anggota peneliti maka kesalahan dalam menyusun rancangan dan proposal penelitian tersebut semakin banyak.