PRIORITAS NASIONAL DAN PRIORITAS NASIONAL LAINNYA
B. PRIORITAS NASIONAL LAINNYA
2.13 PRIORITAS NASIONAL LAINNYA: BIDANG PEREKONOMIAN
2.13.2 KERJA SAMA EKONOMI INTERNASIONAL Kebijakan
Kebijakan dalam kerja sama ekonomi internasional diarahkan untuk: (1) Memanfaatkan momentum Keketuaan dan Ketuanrumahan Indonesia pada kedua forum World Trade Oragnization (WTO) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk membawa kepentingan nasional dan mendorong aktivitas perekonomian domestik; (2) Mendorong terciptanya sistem perdagangan multilateral dan regional yang saling menguntungkan dan nondiskriminatif dengan tetap mengedepankan kepentingan untuk meningkatkan ekonomi nasional; (3) Meningkatkan
2-124 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA
koordinasi antar-K/L untuk mendorong pencapaian Scorecard ASEAN Economic Community (AEC); serta (4) Melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian Scorecard AEC secara berkala oleh Pemerintah Indonesia.
Hasil Pelaksanaan
Dalam rangka peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan internasional, telah terpenuhi target 117 persen atau 260 dokumen perundingan perdagangan internasional pada tahun 2012. Indonesia akan terus meningkatkan peranannya dalam proses perundingan WTO. Saat ini, Indonesia selalu aktif dalam pembahasan green room, yakni diskusi tertutup diantara pemain kunci WTO untuk mengatasi kebuntuan perundingan. Kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri WTO IX pada Desember 2013, di Bali, merupakan salah satu upaya Indonesia untuk mengatasi kebuntuan perundingan Doha Development Agenda (DDA). Apabila kebuntuan terus berlangsung, maka kepentingan Indonesia yang diperjuangkan bersama negara lainnya juga akan sulit untuk dicapai. Saat ini, perundingan masih berlangsung di Geneva untuk mempersiapkan deliverables selama ketuanrumahan Indonesia tahun 2013, yang mencakup isu runding least developed countries (LDC) package, trade facilitation, dan isu pertanian. Keputusan Presiden tentang Pembentukan Panitia Nasional Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri WTO IX Tahun 2013 telah ditetapkan pada tanggal 8 Mei 2013. Saat ini sedang dilakukan finalisasi terhadap Rancangan Keputusan Menteri Perdagangan dan Ketua Tim Pelaksana tentang Tim Pelaksana dan Satuan Tugas Penyelenggaraan KTM WTO IX.
Di bawah keketuaan Indonesia pada tahun 2013, anggota APEC menyetujui usulan Indonesia agar tema pokok APEC tahun 2013 adalah Resilient Asia-Pacific, Engine of Global Growth (Asia- Pasifik yang Berdaya-tahan sebagai Mesin Pertumbuhan Dunia) dengan 3 prioritas, yaitu: (1) Attaining the Bogor Goals; (2)
BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-125 Sustainable Growth with Equity; dan (3) Promoting Connectivity.
Tema ini diusulkan dengan pertimbangan bahwa proses integrasi ekonomi yang berlangsung saat ini tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif, tetapi juga mengundang tantangan baru antara lain bagi usaha kecil menengah, pebisnis pemula, wanita pengusaha, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan oleh proses globalisasi. Oleh karena itu, apabila APEC ingin mempertahankan atau meningkatkan kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi dunia, APEC harus dapat mengembangkan program kerja yang dapat menjembatani jurang perbedaan. Dengan demikian, terwujud suatu komunitas yang memiliki daya tahan yang tinggi menghadapi gejolak perekonomian dunia.
APEC Ministers Responsible for Trade Meeting telah diselenggarakan pada tanggal 20-21 April 2013, di Surabaya. Hasil pertemuan tingkat menteri ini akan dirumuskan menjadi butir-butir kesepakatan APEC Leaders pada pertemuan APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM) yang akan dilaksanakan pada tanggal 7- 8 Oktober 2013, di Bali.
Indonesia saat ini terus meningkatkan kesiapan dalam mewujudkan AEC tahun 2015. Kerja sama ASEAN menuju AEC berbeda dari kerja sama lain dalam bentuk free trade agreement.
ASEAN Economic Community merupakan bagian dari upaya pembentukan ASEAN Community yang terdiri dari: (1) Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN; (2) Masyarakat Ekonomi ASEAN; dan (3) Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN. Para pemimpin ASEAN telah menyepakati AEC Blueprint, yang memberikan rincian langkah-langkah strategis beserta empat fase kerangka waktu pencapaiannya. Pada setiap fase dijabarkan langkah-langkah yang harus ditempuh pada keempat pilar AEC, yakni: (1) Pasar tunggal dan basis produksi regional; (2) Kawasan yang berdaya saing; (3) Kawasan dengan pembangunan yang berkeadilan; dan (4) Kawasan
2-126 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA
yang terintegrasi dengan perekonomian dunia. Untuk mengevaluasi pelaksanaan AEC Blueprint, ASEAN menerapkan mekanisme scorecard yang intinya mengukur tingkat pencapaian setiap negara anggota ASEAN maupun ASEAN secara kolektif untuk keempat fase di atas. Selama periode 2008 hingga Februari 2013, Indonesia mencatatkan tingkat implementasi sebesar 81 fase, yaitu telah melaksanakan 290 dari 358 langkah menuju AEC 2015.
Disamping itu, Indonesia saat ini merupakan country coordinator untuk ASEAN RCEP, yang merupakan prakarsa terbesar kedua setelah AEC 2015 dan direncanakan untuk diimplementasikan pada tahun 2016. Terkait dengan hal tersebut, RCEP Joint Statement The First Meeting of Trade Negotiating Committee yang merupakan negosiasi tahap pertama antara 10 negara anggota ASEAN dengan 6 negara mitra dagang ASEAN, yaitu Australia, Cina, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru telah diselenggarakan di Brunei Darussalam untuk menyelesaikan format RCEP pada tahun 2015.
Dalam kerangka ASEAN pada tahun 2012 telah ditandatangani sejumlah perjanjian, yaitu: (1) ASEAN Agreement on Movement of Natural Person; (2) Protocol to Incorporate Technical Barriers to Trade And Sanitary and Phytosanitary Measures into the Agreement on Trade in Goods of the Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation Between the Association of Southeast Asian Nations and the People's Republic of China; serta (3) The Third Protocol to Amend the ASEAN-China Framework Agreement.
Sejumlah MoU, agreement, dan protocol kerja sama bilateral telah ditandatangani pada tahun 2012, antara lain: (1) MoU between the Ministry of Trade (MoT) of the Republic of Indonesia and the Ministry of Foreign Affairs Trade and Integration of the Republic of Ecuador on Trade and Investment Cooperation; (2) MoU between MoT of the Republic of Indonesia and Ministry of Foreign Trade
BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-127 and Tourism of the Republic of Peru on Trade Promotion Activities;
(3) MoU between MoT of the Republic of Indonesia and the Ministry of Commerce of the Kingdom of Cambodia on Rice Trade;
(4) MoU Among The Governments of the participating member states of ASEAN on The Second Pilot Project for The Implementation of a Regional Self-Certification System; (5) MoU antara Indonesia-Vietnam yang merupakan kesepakatan Pemerintah Vietnam memperpanjang masa penyediaan beras untuk Indonesia dari 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2017; serta (6) Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Pakistan.
Dalam kerja sama ekonomi yang komprehensif, Indonesia sedang melanjutkan perundingan dalam kerangka Indonesia-EFTA CEPA yang telah memasuki rangkaian perundingan putaran ke-7, dan Indonesia-Australia CEPA yang telah menyelesaikan rangkaian perundingan putaran pertamanya.
Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut
Permasalahan dalam pelaksanaan kerja sama internasional antara lain pemenuhan scorecard AEC 2015 yang masih memerlukan koordinasi yang intensif antar-K/L. Selain itu, sosialisasi dan dukungan kepada dunia usaha perlu lebih ditingkatkan agar pemanfaatan AEC untuk kepentingan nasional menjadi optimal.
Terkait dengan kerja sama internasional, kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah KTM WTO IX merupakan kontribusi Indonesia untuk ikut membangun sistem perdagangan multilateral yang lebih adil. Diharapkan dengan tumbuhnya kembali kepercayaan terhadap sistem yang dibangun di bawah WTO ini kecenderungan ke arah proteksionisme akan dapat dikurangi dan semua negara kembali pada disiplin yang ditegakkan oleh perjanjian-perjanjian WTO. Hal ini dapat dicapai apabila mandat dari DDA dapat diwujudkan, yakni sistem perdagangan multilateral yang lebih akomodatif terhadap kebutuhan negara-negara berkembang dan LDC. Pengajuan diri
2-128 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA
Indonesia sebagai tuan rumah ini merupakan langkah yang strategis sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam melakukan upaya penguatan sistem perdagangan multilateral, serta untuk meningkatkan peran diplomasi perdagangan dalam hal penyelesaian permasalahan dan sengketa perdagangan internasional.
Keketuaan dan ketuanrumahan Indonesia dalam APEC 2013 akan dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama untuk mengedepankan kepentingan Indonesia dalam konteks kawasan Asia Pasifik.
Pencapaian prioritas APEC tahun 2013 tersebut perlu didukung oleh deliverables yang sesuai dan konsisten. Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia akan mengawal pencapaian deliverables selama proses rangkaian pertemuan tingkat subfora dan fora hingga pertemuan tingkat menteri dan pemimpin ekonomi. Untuk itu, koordinasi dan komunikasi yang intensif antara instansi pemerintah terkait menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan.
2.13.3 KETENAGAKERJAAN