• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJA SAMA PEMERINTAH DAN SWASTA Kebijakan

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 92-118)

PRIORITAS NASIONAL DAN PRIORITAS NASIONAL LAINNYA

A. PRIORITAS NASIONAL

2.5 PRIORITAS NASIONAL 5: KETAHANAN PANGAN Kebijakan pembangunan ketahanan pangan sesuai RPJMN

2.6.5 KERJA SAMA PEMERINTAH DAN SWASTA Kebijakan

Arah kebijakan dalam penyediaan infrastruktur melalui skema KPS antara lain: (1) Melanjutkan reformasi strategis kelembagaan dan peraturan perundang-undangan pada sektor dan lintas sektor yang mendorong pelaksanaan KPS; (2) Mempersiapkan

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-59 proyek KPS secara matang; (3) Meningkatkan pemahaman dan kapasitas aparat instansi penanggungjawab dan tenaga konsultan dalam menyiapkan dan mentransaksikan proyek KPS; serta (4) Menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung investasi dalam pembangunan dan pengoperasian proyek KPS termasuk menyediakan dana pendukung pelaksanaaan KPS di dalam APBN.

Hasil Pelaksanaan

Capaian pembangunan infrastruktur melalui skema KPS hingga Juni 2013 antara lain: (1) Beroperasinya proyek SPAM Kabupaten Tangerang; (2) Sepuluh proyek jalan tol sedang dalam proses konstruksi; (3) Ditandatanganinya perjanjian kerja sama pembangunan PLTU Jawa Tengah yang saat ini sedang dalam proses penyelesaian pemenuhan pembiayaan (financial close); (4) 17 proyek KPS sedang dalam proses transaksi; (5) 36 proyek KPS sedang dalam proses persiapan; (6) Beroperasinya PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan anak perusahaannya PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) serta PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII); (7) Tersedianya land revolving fund, land capping fund serta land acquisiton fund; (8) Diberikannya fasilitas penyiapan proyek (Project Development Facility) oleh beberapa lembaga donor (ADB, JICA, dan AusAID); (9) Diterbitkannya Permenkeu No.3/2012 tentang Tata Cara Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Fasilitas Dana Geothermal (FDG); dan (10) Direvitalisasinya Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI); (11) Diterbitkannya Permenkeu No.223/2012 terkait Viability Gap Fund (VGF); (12) Diterbitkannya UU No.2/2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum serta aturan turunannya; (13) Diterbitkannya Permen PPN No.3/2012 tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur; (14) Diterbitkannya Permen PPN No.6/2012 tentang Tata Cara Penyusunan Daftar Rencana

2-60 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

Proyek Infrastruktur; serta (15) Diperbaharuinya Buku Rencana Proyek Kerja sama Pemerintah dan Swasta (PPP Book) yang merupakan media informasi bagi pihak swasta tentang status masing- masing proyek KPS serta alat monitoring perkembangan proyek KPS di bidang infrastruktur saat ini dalam proses finalisasi akhir.

Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut

Permasalahan pembangunan KPS, antara lain: (1) Kurangnya informasi mengenai proyek; (2) Sulitnya penerapan peraturan terkait dengan KPS oleh para Penanggung Jawab Proyek Kerja sama (PJPK); (3) Rendahnya kapasitas aparatur dan kelembagaan dalam melaksanakan KPS; (4) Belum optimalnya dokumen perencanaan proyek KPS bidang infrastruktur; (5) Kurang memadainya pendanaan PT SMI dan anak perusahaannya PT IIF serta PT PII;

serta (6) Belum adanya mekanisme pemberian insentif bagi PJPK dalam melaksanakan KPS.

Langkah tindak lanjut yang perlu dilakukan, antara lain: (1) Meningkatkan kemampuan dan kapasitas kelembagaan PJPK; (2) Mempersiapkan proyek KPS yang akan ditawarkan secara matang;

(3) Memutakhirkan dan menyempurnakan mekanisme penyusunan daftar proyek pemerintah yang dapat dikerjasamakan dengan swasta;

(4) Mengoptimalkan peran dan kapasitas kelembagaan khususnya KKPPI sebagai champion; (5) Meningkatkan kemampuan keuangan dari PT SMI dan anak perusahaannya PT IIF serta PT PII; (6) Pengintegrasian sistem pembiayaan dan penganggaran KPS dalam sistem perencanaan dan penganggaran pemerintah; serta (7) Mengembangkan mekanisme pemberian insentif melalui sistem perencanaan dan penganggaran kepada PJPK untuk mendorong dan melaksanakan proyek KPS.

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-61 2.7 PRIORITAS NASIONAL 7: IKLIM INVESTASI DAN

IKLIM USAHA

Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha saat ini, terutama ditujukan untuk meningkatkan investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan tingkat kemudahan berusaha.

Kebijakan

Kebijakan yang menjadi fokus dalam iklim investasi dan iklim usaha adalah: (1) Penyederhanaan prosedur investasi dan usaha di seluruh Indonesia, (2) Mendorong pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), (3) Meningkatkan efektivitas pelaksanaan pengembangan Kerja sama Pemerintah dan Swasta (KPS) terutama investasi di bidang infrastruktur dan energi, (4) Meningkatkan kerja sama pemerintah pusat dan daerah dalam pengawasan atas pelaksanaan investasi di seluruh Indonesia, (5) Meningkatkan efektivitas strategi promosi investasi, dan (6) Meningkatkan upaya penyebaran investasi dan alih teknologi.

Dalam hal pertanahan, kebijakan yang dilakukan antara lain:

(1) Pembuatan peta pertanahan, (2) Percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah (legalisasi aset), (3) Penanganan sengketa, konflik dan perkara pertanahan, dan (4) Peningkatan akses layanan pertanahan melalui Layanan Rakyat untuk Sertifikasi Tanah (LARASITA). Selain itu seluruh provinsi dan kabupaten/kota didorong untuk menyelesaikan RTRW agar memudahkan penentuan lokasi investasi termasuk rencana pengembangannya.

Kebijakan untuk mensukseskan implementasi Sistem Logistik Nasional (Sislognas) sesuai Perpres No.26/2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sislognas adalah mengintegrasikan Program Pengembangan Sistem Logistik ke dalam unsur konektivitas dalam MP3EI, terutama untuk meningkatkan kelancaran arus barang dan

2-62 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

menurunkan disparitas harga antarwilayah, sehingga daya saing perekonomian Indonesia akan meningkat.

Terkait ketenagakerjaan, kebijakan yang dilakukan, antara lain penyempurnaan peraturan ketenagakerjaan yang dapat memberi iklim yang kondusif agar tercipta kesempatan kerja seluas-luasnya dan menjaga harmonisasi hubungan antara pekerja dengan pengusaha, melalui penguatan kelembagaan hubungan industrial.

Hasil Pelaksanaan

Krisis hutang di beberapa negara anggota Uni Eropa sejak awal 2010 dan proses pemulihan ekonomin yang masih tersendat merupakan sumber dari lambatnya pemulihan ekonomi global. The International Monetary Fund pada bulan April 2013 memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 sebesar 3,3 persen, sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya mencapai 3,2 persen. Dalam kondisi ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 masih dalam tingkat yang cukup tinggi, walaupun sedikit melambat dari 6,5 persen menjadi 6,2 persen. Dibandingkan dengan beberapa negara lainnya, Indonesia termasuk masih kuat bertahan dan stabil dengan rata-rata pertumbuhan 6,3 persen selama 3 tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2013 meningkat 5,9 persen dibandingkan tahun 2012 pada semester yang sama. Dukungan internal masih terjaga dengan investasi berupa PMTB yang meningkat sebesar 5,2 persen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.7.1.

Kondisi bisnis dan perekonomian Indonesia pada triwulan II 2013 yang ditunjukkan oleh Indeks Tendensi Bisnis/ITB memperlihatkan perkembangan positif. Indeks pada triwulan II mencapai 103,9, meningkat dari triwulan I yang hanya mencapai 102,3 (Tabel 2.7.2). Prospek bisnis pada triwulan III 2013

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-63 diperkirakan lebih meningkat lagi dengan nilai 106,0. Peningkatan tertinggi pada sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dengan nilai indeks 108,5.

TABEL 2.7.1 PDB DAN PMTB

TAHUN 2009-SEMESTER I 2013 (PERSEN)

Uraian

Tahun

2009 2010 2011 2012 Smt 1 2013

Pertumbuhan PDB 4,6 6,2 6,5 6,2 5,9

Pertumbuhan PMTB (y-o-y)

Total PMTB 3,3 8,5 8,8 9,8 5,2

a. Bangunan 7,1 7,0 6,7 7,5 6,9

b. Mesin dan Perlengkapan Dalam

Negeri -0,8 5,5 0,3 3,4 2,1

c. Mesin dan Perlengkapan Luar

Negeri -10,8 19,6 21,4 14,2 -1,9

d. Alat Angkutan Dalam Negeri -0,7 12,4 2,0 21,6 15,1

e. Alat Angkutan Luar Negeri -4,8 9,2 16,7 28,9 -2,2

f. Lainnya Dalam Negeri 6,5 -4,2 2,8 5,9 23,7

g. Lainnya Luar Negeri -11,5 14,3 4,9 19,7 -1,8

Share terhadap PDB

PMTB 31,1 32,0 32,0 33,2 32,3

a. Bangunan 26,6 27,5 27,3 28,0 27,5

b. Mesin dan Perlengkapan Dalam

Negeri 0,4 0,4 0,3 0,3 0,3

c. Mesin dan Perlengkapan Luar

Negeri 2,3 2,5 2,7 3,0 2,7

d. Alat Angkutan Dalam Negeri 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3

e. Alat Angkutan Luar Negeri 0,9 0,8 0,8 1,0 0,9

f. Lainnya Dalam Negeri 0,5 0,5 0,4 0,4 0,5

g. Lainnya Luar Negeri 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2

Sumber: Badan Pusat Statistik

2-64 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

TABEL 2.7.2

INDEKS TENDENSI BISNIS TAHUN 2013

Sektor Triwulan

I

Triwulan II

Perkiraan Triwulan

III 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan,

dan Perikanan

112,3 102,8 105,1

2. Pertambangan dan Penggalian 103,2 100,1 103,7

3. Industri Pengolahan 99,0 103,8 107,2

4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 96,0 105,8 106,7

5. Konstruksi 98,8 104,8 106,7

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 99,5 105,5 108,5 7. Pengangkutan dan Komunikasi 105,2 104,2 106,6 8. Keuangan, Real Estat, dan Jasa

Perusahaan

108,7 104,0 103,4

9. Jasa-Jasa 98,4 103,9 105,8

Indeks Tendensi Bisnis 102,3 103,9 106,0 Sumber: Badan Pusat Statistik

TABEL 2.7.3

PERINGKAT DAYA SAING TAHUN 2009-2013

Negara Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

Singapura 1 1 1 1 1

Malaysia 21 23 23 14 12

Thailand 12 12 16 17 18

Vietnam 91 93 90 99 99

Filipina 141 144 134 136 138

Indonesia 129 122 126 130 128

Sumber: Bank Dunia

Berdasarkan laporan Doing Business 2013 (Tabel 2.7.3), peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik dua tingkat dari 130 menjadi 128 dari 185 negara yang disurvei. Peningkatan terjadi karena 5 dari 10 indikator yang dijadikan dasar penilaian mengalami

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-65 perbaikan, antara lain: indikator memperoleh pasokan listrik (getting electricity) dan perdagangan lintas perbatasan (trading across border).

Sementara itu, aliran modal masuk dalam Foreign Direct Investment (FDI) pada triwulan I 2013 mencapai USD3,6 miliar menurun dari USD4,5 miliar pada periode yang sama tahun 2012.

Namun karena aliran FDI yang keluar lebih kecil, maka masih terjadi surplus pada direct investment yang mencapai USD3,4 miliar dari USD1,6 miliar atau meningkat 118 persen (y-o-y).

Di sisi ekspor, berkurangnya permintaan dunia juga menyebabkan turunnya harga produk ekspor sehingga berdampak pada penurunan nilai ekspor. Dalam tahun 2012, nilai total ekspor dan ekspor nonmigas turun masing-masing sebesar 6,6 persen dan 5,5 persen. Demikian pula dalam semester I 2013, nilai total ekspor dan ekspor nonmigas juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 6,1 persen dan 2,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbagai langkah kebijakan investasi telah disusun dan dituangkan dalam RKP 2012 dan 2013 telah menghasilkan sejumlah capaian berikut.

Peningkatan daya saing investasi dan usaha melalui pemberian kemudahan memulai berusaha diwujudkan dengan telah terbangunnya 468 PTSP di 33 provinsi, 339 kabupaten, 93 kota, dan 3 Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dengan adanya PTSP, target untuk memperoleh Surat Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Perusahaan masing-masing dapat diterbitkan dalam waktu 3 hari kerja secara gratis. Bahkan di beberapa daerah sudah dapat diterbitkan secara paralel dan ditandatangan secara elekronik sehingga tidak memerlukan waktu yang lama.

Penyederhanaan prosedur dalam bidang penanaman modal, dilakukan dengan terhubungnya SPIPISE di 60 kabupaten/kota

2-66 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang 2012-2013, dari 183 provinsi dan kabupaten/kota di tahun 2010.

Penyediaan fasilitas tax holiday diberikan untuk mobil hemat energi dan harga terjangkau, melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.

41/2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai pajak penjualan atas barang mewah.

Dengan terbitnya PP tersebut, kendaraan bermotor yang termasuk program mobil hemat energi dan harga terjangkau, selain sedan atau station wagon, akan mendapatkan fasilitas Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak sebesar nol persen dari harga jual. Pajak nol persen tersebut diberikan untuk motor bahan bakar cetus api dengan kapasitas silinder 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar setaranya. Selain itu fasilitas ini juga untuk motor nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan kapasitas isi silinder sampai 1.500 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar setaranya.

Percepatan realisasi penyediaan infrastruktur melalui skema KPS telah memasuki tahapan akhir lelang dan satu kegiatan lainnya sedang memasuki proses perijinan lokasinya.

Sementara itu, terkendalanya beberapa kegiatan untuk mendukung percepatan target produksi minyak disebabkan oleh masih rendahnya sinergi pusat dan daerah. Beberapa kegiatan minyak dan gas sektor hulu terpaksa tidak dapat diteruskan karena penyegelan yang dilakukan oleh pemerintah daerah akibat belum diterbitkannya ijin pengeboran dari pemerintah daerah. Berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas setidaknya terdapat 7 jenis ijin kontrak kerja sama untuk survei awal, 25 jenis perijinan untuk untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi, dan 25 jenis ijin untuk mengebor di sumur pengembangan.

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-67 Upaya untuk meningkatkan kepastian penyediaan lahan khususnya untuk mendukung pembangunan infrastruktur dilakukan dengan menerbitkan UU No.2/2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Terkait dengan penyelesaian RTRW, terdapat 14 provinsi, 236 kabupaten, dan 62 kota yang telah selesai menyusun RTRW.

Kawasan Ekonomi Khusus telah ditetapkan di dua lokasi yakni Sei Mangkei di Sumatera Utara sebagai kawasan industri sawit dan turunannya, melalui PP No.29/ 2012 dan Tanjung Lesung di Banten sebagai kawasan wisata, melalui PP No.26/2012. Selanjutnya, Dewan Nasional KEK (2012) telah memilih 13 usulan pembentukan KEK melalui proses penilaian terhadap 67 usulan pembentukan KEK yang diajukan oleh pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan badan usaha. Dua usulan KEK sudah memasuki tahap paling maju, yaitu Bitung dan Palu.

Dalam upaya menarik investor asing dan mempertemukan investor Indonesia dengan investor asing, telah dilakukan upaya promosi berupa Penyelenggaraan Gelar Potensi Investasi Daerah, Marketing Investasi Indonesia, Penyelenggaraan Seminar Investasi dan Temu Usaha, Penyelenggaraan dan Promosi Investasi serta Penyelenggaraan talkshow Investasi.

Target kegiatan legalisasi aset tahun 2012 sekitar 1,1 juta bidang, dan hingga akhir Desember 2012 realisasi penerbitan sertifikat tanah sekitar 934 ribu bidang (86,7 persen).

Peningkatan pelayanan perijinan perdagangan untuk memperlancar aktivitas ekspor dan impor dilakukan dengan menerapkan single entry and exit point, pelayanan perijinan perdagangan secara elektronik melalui INATRADE (e-licencing), kepemilikan hak akses bagi pengguna jasa pelayanan serta integrasi sistem perijinan perdagangan luar negeri dengan sistem National Single Window (NSW). Saat ini, seluruh perijinan impor telah dapat

2-68 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

diakses secara online melalui website INATRADE dengan menggunakan hak akses. Seluruh perijinan ini telah diintegrasikan ke dalam sistem NSW pada tahun 2013 dengan target waktu penyelesaian pelayanan perijinan melalui online selama 4 hari.

Total perizinan perdagangan luar negeri yang telah dapat dilakukan melalui INATRADE adalah 89 perijinan yaitu 53 perijinan impor (telah dapat dilakukan secara online) dan 36 perijinan ekspor.

Dengan penerapan sistem ini, waktu persetujuan permohonan perijinan menjadi sekitar 1−6 hari kerja.

Peningkatan manajemen layanan bagi para eksportir dilakukan dengan meningkatkan fasilitas pada Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) di daerah, melalui sarana otomasi dan sistem elektronik. Dari keseluruhan IPSKA (85) yang ada, saat ini sudah dapat terintegrasi dengan sistem INATRADE, sedangkan 57 IPSKA lainnya saat ini sudah dapat mengajukan permohonan penerbitan SKA secara online melalui internet. Hal ini, selain meningkatkan pelayanan bagi para eksportir juga sesuai dengan komitmen Indonesia pada ASEAN Economic Community.

Penyempurnaan fitur NSW dengan Single Sign On dan Indonesia National Trade Repository (INTR) memungkinkan dilakukannya penyampaian data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information), pemrosesan data, dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), dan pembuatan keputusan secara tunggal untuk pemberian ijin kepabeanan dan pengeluaran barang (single decision making for customs release and clearance of cargoes). Saat ini fasilitas tersebut baru diterapkan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian (Karantina Pertanian), Badan Pengawas Tenaga Nuklir, dan Kementerian Kesehatan.

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-69 Fitur INTR yang disediakan di Portal INSW juga diharapkan akan memberikan kemudahan bagi pengguna jasa NSW untuk mengetahui ketentuan dalam melakukan kegiatan ekspor-impor di Indonesia seperti perijinan, persyaratan, dan tarif secara rinci, sehingga fasilitas ini memberikan kepastian dalam melakukan kegiatan perdagangan luar negeri. Saat ini terdapat sembilan pelabuhan laut/udara internasional di Indonesia yang menggunakan sistem NSW, termasuk Pelabuhan Laut Merak Banten, Dry-Port Cikarang, Bandara Juanda, dan Bandara Halim Perdanakusumah.

Dalam kaitan itu sebagai pegangan bagi petugas pemeriksa di Pelabuhan dan Bandar Udara termasuk bagi para pelaku usaha, telah diterbitkan Perpres No.35/2012 tentang Perubahan Atas Perpres No.10/2008 tentang Penggunaan Sistem Elektronik Dalam Kerangka Indonesia National Single Window, sehingga portal INSW akan menjadi acuan tunggal (single reference) peraturan dan ketentuan ekspor-impor.

Pada Pertemuan Kelompok Teknik ASEAN Single Window (ASW) ke-22 bulan Februari 2013, di mana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah, disepakati bahwa Launching ASW Website dilaksanakan pada saat Pertemuan ke-10 ASEAN Single Window Steering Committee pada bulan April 2013 di Filipina.

Investasi membawa perkembangan baik terhadap lapangan kerja formal. Tahun 2012-2013, kesempatan kerja formal bertambah 3,5 juta. Proporsi pekerja formal meningkat dari 37,3 persen menjadi 40,0 persen (Gambar 2.7.1). Perkembangan penyerapan tenaga kerja dari investasi (PMA dan PMDN) dapat dilihat pada Tabel 2.7.4.

Upah pekerja nominal rata-rata mengalami peningkatan, yaitu sekitar Rp.1,6 juta per bulan pada Agustus 2012 atau meningkat lebih dari 6,0 persen di bandingkan tahun 2011. Sejalan dengan itu, upah riil pekerja meningkat pada tahun 2012, yaitu kenaikan upah minimum nasional sebesar hampir 10,0 persen dengan indeks harga

2-70 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

konsumen meningkat sekitar 4,4 persen. Pada tahun 2013, kenaikan upah minimum sangat bervariasi antarprovinsi dan antarkabupaten/kota. Provinsi DKI Jakarta, upah minimum provinsi (UMP) mengalami kenaikan 43,0 persen, yaitu menjadi Rp.2,2 juta.

Provinsi kalimantan Timur, UMP sebesar Rp.1,8 juta atau meningkat hampir 50,0 persen. Selanjutnya, UMP pada beberapa provinsi juga meningkat seperti Sumatera Barat meningkat 17,0 persen menjadi Rp.1,4 juta, Provinsi Jambi meningkat 13,0 persen menjadi Rp.1,3 juta, Provinsi Kalimantan Selatan meningkat 9,2 persen menjadi Rp.1,4 juta, dan Sumatera Utara meningkat 8,8 persen menjadi Rp.1,3 juta. Beberapa kabupaten/kota yang upah minimumnya meningkat signifikan termasuk Kota Bekasi meningkat 47,0 persen menjadi Rp.2,1 juta, Kabupaten Bogor meningkat 57,5

GAMBAR 2.7.1

PEKERJA FORMAL DAN INFORMAL TAHUN 2009-2013

Sumber: BPS, Sakernas

30,5% 31,4% 34,2% 37,3% 40,0%

69,5% 68,6%

65,8%

62,7%

60,0%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

0 10 20 30 40 50 60 70 80

2009 2010 2011 2012 2013

Juta orang

Formal (dalam juta) Informal (dalam juta) % Formal %Informal

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-71 persen menjadi Rp.2,0 juta, Kota Bogor meningkat 70,5 persen menjadi Rp.2,0 juta, Kota Cilegon meningkat 64,1 persen menjadi Rp.2,2 juta, dan Kabupaten Karawang meningkat 57,0 persen menjadi Rp.2,0 juta.

TABEL 2.7.4

PENYERAPAN TENAGA KERJA INDONESIA DARI INVESTASI (PMA DAN PMDN)

TAHUN 2009-2013 (RIBU ORANG)

No. Uraian Tahun

2009 2010 2011 2012 2013*)

1. PMA 488,0 631,4 820,3 745,8 600,0

2. PMDN 182,5 412,9 398,6 543,7 388,3

Total 670,5 1.044,4 1.218,9 1.289,5 988,3

3. ∆ PMA 125,4 143,4 125,7 -11,3 139,4

4. ∆ PMDN 49,3 230,4 -10,1 140,9 139,0

∆ Total 174,6 373,8 115,5 129,6 278,4

Sumber: BKPM

Catatan: *) Realisasi Semester I dan penghitungan perubahan menggunakan Realisasi Semester I 2012

Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut

Berbagai kebijakan untuk mendukung investasi telah dilaksanakan, namun berbagai kendala yang masih dihadapi antara lain adalah:

Pertama, permasalahan dalam penyelenggaraan PTSP antara lain adalah: (1) Masih belum semua daerah melakukan pelayanan dengan kualitas prima, secara cepat, mudah, transparan; (2) Masih banyaknya PTSP yang memiliki kewenangan terbatas karena: bentuk kelembagaan yang belum berupa badan; dan belum semua PTSP menerima pendelegasian sepenuhnya untuk wewenang perijinan dari kepala daerahnya; serta (3) Sebagian PTSP belum didukung oleh perangkat teknologi informasi (TI) yang memadai dan sumber daya manusia (SDM) yang menguasai perijinan dan TI.

2-72 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA

Kedua, masih banyaknya peraturan daerah yang membebani investor karena adanya duplikasi dan tumpang tindih peraturan sehingga menyebabkan ketidakpastian hukum dan duplikasi pembayaran pajak pusat dan daerah.

Ketiga, kegiatan-kegiatan infrastruktur dan energi dengan skema pendanaan KPS yang telah ditetapkan namun masih belum sepenuhnya dapat menarik investor karena masih rumitnya peraturan dan belum adanya kepastian garansi untuk investor.

Keempat, perlunya percepatan penyelesaian infrastruktur di KEK Sei Mangke dan Tanjung Lesung.

Kelima, aktivitas promosi masih perlu lebih difokuskan pada peningkatan peran kantor investasi di luar negeri, agar: (1) Kantor investasi di luar negeri dapat lebih berperan dalam menarik investor dari negara bersangkutan; dan (2) Lebih melibatkan peran daerah dalam kegiatan promosi investasi untuk mendorong pengembangan potensi investasi daerah.

Keenam, daya saing ekonomi Indonesia dinilai masih kurang kondusif, berdasarkan World Economic Forum 2012: The Global Competitiveness Report 2012 – 2013, Indonesia berada pada posisi 50 atau turun 4 peringkat dibandingkan tahun 2011. Posisi Indonesia berada di bawah Singapura (2), Malaysia (25), Brunei Darussalam (29), dan Thailand (38). Menurut laporan tersebut, faktor penghambat dunia usaha di Indonesia adalah ketidakefisienan birokrasi pemerintah, korupsi, rendahnya ketersediaan infrastruktur, etika kerja yang kurang baik, aturan tenaga kerja yang membatasi, inflasi, akses permodalan, ketidakstabilan kebijakan, dan beberapa faktor penghambat dunia usaha lainnya.

Ketujuh, terkait dengan pertanahan, permasalahannya adalah minimnya cakupan peta dasar yang tersedia; dan terbatasnya akses internet untuk LARASITA.

BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-73 Kedelapan, pada akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013, banyak timbul persoalan perburuhan seperti penentuan upah minimum dan isu outsourcing. Berkembangnya isu-isu perburuhan memerlukan perhatian dan upaya sungguh-sungguh untuk menjaga agar kondisi pasar tenaga kerja dapat dipertahankan, terutama pekerja semi skill dan pekerja muda yang umumnya terkena dampak terbesar jika terjadi situasi yang kurang mendukung iklim ketenagakerjaan. Masih lemahnya perundingan antara serikat pekerja dan pengusaha menjadi salah satu penyebab kurang harmonisnya hubungan antara pemberi kerja dan pekerja, yang menjadi kendala dan persoalan tersendiri karena dapat menghambat tercapainya suatu kesepakatan kerja bersama antara pekerja dan pengusaha. Pemerintah berperan untuk memfasilitasi perundingan antara kedua pihak agar kapasitasnya dapat menjadi kuat untuk merespon kebutuhan para anggotanya.

Upaya tindak lanjut yang diperlukan antara lain: (1) Pelaksanaan sosialisasi tentang pentingnya peran PTSP yang didukung oleh peraturan daerah dan SDM yang handal, serta perangkat TI yang memadai; (2) Penyediaan perangkat peraturan KPS yang transparan mulai dari proses pengajuan sampai dengan pengelolaan, serta garansi dan asuransi terhadap kelangsungan kegiatan tersebut; (3) Penyelesaian peraturan pelaksana terkait pertanahan sehingga dapat segera dapat memberikan kepastian dalam proses pengadaan lahan; (4) Pengembangan KEK yang dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan swasta dan dengan pemangku kepentingan lainnya, serta penyelesaian peraturan terkait KEK terutama mengenai: fasilitas fiskal di KEK, Lembaga Kerja sama Tripartit Khusus di KEK, Dewan Pengupahan KEK, Forum Serikat Buruh KEK, serta pelimpahan beberapa kewenangan Kementerian Perdagangan kepada KEK; (5) Pelaksanaan promosi investasi yang melibatkan daerah potensial sehingga terjadi sinergi antara pusat dan daerah yang lebih baik dan sektor yang lebih terarah; (6) Penyederhanaan berbagai perangkat peraturan untuk

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 92-118)