Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut
2.15 PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA
BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-147 C. PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO
Perkembangan ekonomi makro dari tahun 2012 hingga semester I tahun 2013 tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi dunia. Pada tahun 2012 krisis ekonomi di Eropa masih belum berhasil dipulihkan dan bahkan makin meluas. Dengan berlanjutnya krisis tersebut, ekspor barang dan jasa ke Eropa hanya mencapai USD20,9 miliar.
Meskipun masih stabil, hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dan hanya mencapai 6,2 persen. Dari sisi stabilitas, rata-rata harian nilai tukar rupiah mencapai Rp9.380 per USD, terdepresiasi 6,8 persen dibandingkan tahun 2011. Laju inflasi mencapai 4,3 persen, atau meningkat sebesar 0,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu cadangan devisa Indonesia mencapai USD112,8 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2011. Stabilitas perekonomian Indonesia tercermin pula dari perbaikan tingkat kepercayaan. Pada tahun 2012, indeks kepercayaan konsumen meningkat menjadi 166,4 dibandingkan tahun 2011 yang besarnya 116,6.
Terjaganya stabilitas ekonomi, mendorong membaiknya kualitas pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2011, pengangguran terbuka yang mencapai 7,7 juta orang (6,6 persen), pada tahun 2012 dapat diturunkan menjadi 7,2 juta orang (6,1 persen). Sementara itu, jumlah penduduk miskin yang pada tahun 2012 adalah sebanyak 28,6 juta orang (11,7 persen), kemudian menurun menjadi 28,1 juta orang (11,4 persen) pada bulan Maret 2013.
2-148 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA
hanya mencapai 3,1 persen (IMF, Juli 2013), relatif sama dibanding tahun 2012 sebesar 3,1 persen (IMF, Juli 2013).
Proses pemulihan perekonomian dunia masih dibayangi resiko global. Dalam jangka pendek, resiko terutama berhubungan dengan perkembangan kawasan Eropa yang masih belum stabil, termasuk ketidakpastian karena pengaruh krisis di Siprus, serta masalah politik di Italia. Dalam jangka menengah, resiko terkait dengan proses penyesuaian yang panjang, karena lemahnya kelembagaan dan krisis yang belum usai di kawasan Eropa, serta tingginya defisit fiskal di Amerika Serikat dan Jepang.
Perekonomian di negara-negara maju mulai mengalami penguatan sejak triwulan I tahun 2013, meskipun perekonomian di kawasan Eropa masih belum pulih. Pada periode tersebut pertumbuhan Amerika Serikat mencapai 1,8 persen (q-t-q at anual rate, BEA, US), meskipun terjadi kenaikan payroll tax yang cukup tinggi. Kebijakan moneter dan fiskal Jepang yang longgar mendorong perekonomian Jepang tumbuh sebesar 1,0 persen (q-t-q) atau 4,1 persen (at annual rate) pada triwulan I tahun 2013.
Sementara itu, perekonomian Kawasan Eropa menurun sebesar 0,2 persen (y-o-y; Eurostat) pada triwulan I tahun 2013. Namun demikian, proses perbaikan di Kawasan Eropa mulai terjadi, yang ditunjukkan oleh meningkatnya produksi sektor industri sebesar 2,0 persen pada triwulan I tahun 2013.
Di negara berkembang, terutama di Asia Timur dan Pasifik, proses pemulihan ekonomi terjadi sejak triwulan IV tahun 2012 yang tumbuh 8,4 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi di Asia Selatan terus mengalami penurunan, dengan pertumbuhan hanya mencapai 4,7 persen pada triwulan IV tahun 2012. Selama beberapa bulan pada tahun 2013, kecepatan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang menunjukkan perlambatan, terutama di Asia Timur dan Pasifik.
Pertumbuhan di Cina dan di Indonesia mengalami perlambatan, dan di Malaysia dan Thailand mengalami kontraksi. Di kawasan Asia
BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-149 lain, kinerja ekonomi cukup beragam. Pertumbuhan ekonomi di Chili, Meksiko, dan Afrika Selatan mengalami perlambatan, sedangkan pertumbuhan di Philipina, Lituania, Peru, Turki dan Ukraina menunjukkan proses penguatan. Sementara itu, India mengalami penurunan pertumbuhan pada triwulan I tahun 2013, yaitu hanya tumbuh 4,8 persen, dan hingga bulan Febuari 2013 ekonomi di Afrika mengalami kontraksi.
Beragamnya kinerja ekonomi di negara berkembang dapat dilihat dari perkembangan produksi di sektor industri. Aktivitas sektor industri melemah di Asia Timur dan Pasifik (8,6 persen), di Eropa dan Asia Tengah (2,4 persen), dan sedikit menurun di Asia Selatan. Namun demikian, di Amerika Latin dan Karibia tumbuh sebesar 0,5 persen.
Sementara itu, pasar keuangan dunia menunjukkan proses perbaikan, yang tercermin dari perbaikan menuju kesinambungan fiskal dan upaya pembenahan institusi keuangan di kawasan Eropa, serta keyakinan pasar bahwa The European Central Bank (ECB) akan membantu kawasan Eropa bila terjadi krisis keuangan.
Perbaikan pasar keuangan tersebut terjadi dalam tahun 2012, meskipun terjadi beberapa masalah di beberapa negara, antara lain, pemilihan umum di beberapa negara Eropa, potensi krisis perbankan di Slovenia, krisis di Siprus, dan terdapatnya pertumbuhan ekonomi yang rendah di beberapa negara.
Membaiknya pasar keuangan dunia sejalan dengan langkah- langkah kebijakan moneter yang longgar oleh The Federal Reserve Amerika Serikat, The Bank of England, ECB, dan The Bank of Japan. Kebijakan ini mendorong berkurangnya nilai yield surat utang jangka panjang dan harga aset beresiko, termasuk saham, obligasi, dan utang perbankan di negara berkembang. Selanjutnya, hingga bulan Mei 2013, terjadi aliran modal masuk cukup besar ke negara berkembang, yang ditunjukkan dengan meningkatnya pinjaman perbankan dan saham internasional dibanding dua tahun sebelumnya.
2-150 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA
Setelah mengalami kontraksi dalam beberapa bulan terakhir, perdagangan dunia mengalami proses pemulihan, yang ditunjukkan dengan meningkatnya total volume ekspor dan impor pada triwulan I tahun 2013 sebesar 5,0 persen dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya impor di negara berkembang, yang naik sebesar 18,0 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada triwulan I tahun 2013. Selanjutnya, meningkatnya permintaan dunia, termasuk di negara maju juga mendorong meningkatnya ekspor negara berkembang secara keseluruhan. Pada triwulan I tahun 2013, negara berkembang mengalami kenaikan ekspor sebesar 15,5 persen.
Meskipun perekonomian global membaik, harga barang komoditi mengalami penurunan, yang antara lain disebabkan oleh naiknya pasokan barang komoditi tersebut. Ekspektasi harga komoditi terus mengalami penurunan. Bank Dunia memperkirakan, harga minyak terus menurun, yaitu dari USD 102 per barel pada tahun 2013 menjadi USD 101 per barel pada tahun 2014. Harga logam diperkirakan akan turun sebesar 1,3 persen pada tahun 2013 dan meningkat kembali sebesar 0,8 persen pada tahun 2014, yang mencerminkan naiknya pasokan logam dan berkurangnya penggunaan logam karena menurunnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang, terutama Cina. Harga barang makanan diperkirakan mengalami penurunan sebesar 5,5 persen pada tahun 2013, dan 4,0 persen pada tahun 2014. Hal ini merefleksikan perbaikan kondisi pasokan barang makanan dan berkurangnya biaya produksi dikarenakan rendahnya harga energi dan pupuk.
Meskipun telah terjadi stimulus moneter di negara maju dan percepatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2012, tekanan inflasi relatif rendah. Namun demikian, pada beberapa negara Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan inflasi mengalami sedikit kenaikan.
BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA 2-151 Secara umum inflasi di negara maju rendah, dan tekanan inflasi di Cina juga mulai mereda. Namun demikian inflasi cenderung meningkat di Indonesia dan Laos sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan kebijakan ekonomi makro yang cenderung ekspansif, dan relatif tinggi di Vietnam. Di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Selatan, harga meningkat, dimana di Timur Tengah dan Afrika Utara kenaikan harga mencerminkan upaya untuk mengurangi beban fiskal karena adanya subsidi, dan kenaikan harga di Afrika Selatan disebabkan naiknya harga yang diatur pemerintah.
Sebaliknya, inflasi menurun di negara berkembang di kawasan Eropa Timur hingga mendekati 7,0 persen dari 8,5 persen hingga 9,0 persen pada masa krisis.
Kebijakan moneter di negara berkembang cenderung ekspansif. Sejak bulan Januari 2013, The Reserve Bank of India memotong suku bunga secara kumulatif sebanyak 75 basis poin, walaupun tekanan inflasi tetap tinggi. Di Meksiko, bank sentral memotong suku bunga 50 basis poin, dan Bank of Columbia juga melakukan pemotongan suku bunga hingga 100 basis poin. Suku bunga juga diturunkan di Albania, Azerbaijan, Belarus, Georgia, Kenya, Mongolia, Sri Lanka, Thailand, Turki, Uganda dan Vietnam.
Hanya lima negara di negara berkembang (Brazil, Mesir, Gambia, Ghana dan Tunisia) yang menaikkan suku bunga pada tahun 2013.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2013 diperkirakan relatif sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 3,1 persen (IMF, Juli 2013). Namun sejak awal tahun 2013 terjadi proses transisi dalam pemulihan ekonomi, sehingga pada tahun 2014 diperkirakan pertumbuhan akan mencapai 3,8 persen.
Resiko tetap membayangi proses pemulihan ini, yaitu dalam jangka pendek terdapat resiko kawasan Eropa yang belum stabil, sedangkan resiko dalam jangka panjang adalah proses penyesuaian yang lambat di Kawasan Eropa dan defisit fiskal yang melebar di Amerika Serikat dan Jepang.
2-152 BAB 2 PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA