• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesalahan nalar kebijakan publik

Dalam dokumen Ruang Publik dan Pemberdayaan Masyarakat (Halaman 137-142)

Genesisis kebijakan publik berkaitan dengan pengenalan problem pu blik.

Apa yang dianggap sebagai problem publik dan bagaimana problema publik didifinisikan akan sangat tergantung dari cara pembuat kebijakan menangani isu atau kejadian. Ketika isu demoralisasi masyarakat dimaknai sebagai problem eksklusif keagamaan (Islam). Bagi pendukung, perilaku menyimpang yang terjadi dimasyarakat dianggap akibat tidak diterapkan- nya “Islam” dalam ranah negara (nasional dan daerah) dalam mengatur kehidupan dan aktivitas warganya.

116 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru

Kita semua bisa sepakat pada isunya, tetapi belum tentu sama dalam melihat persoalaan yang sebenarnya. Dengan kata lain apakah selama ini persoalan moralitas menjadi sesuatu yang ekslusif milik Islam. Nalar ekslusifitas Islam atas problem sosial akan menafikan kelompok agama lain yang hidup sebagai warga. Hal ini berimplikasi pada cara-cara ekslusif dari kelompok Islam tersebut untuk dipaksakan kepada kelompok agama lain.

Solusi demoralisasi kemudian sekadar dimaknai sepihak secara sim- bolik. Kualitas moral dan keimanan kemudian diatur dengan mengangkat simbol-simbol keagamaan (Islam). Seperti kasus kerusakan moral pemer- intah (patologi birokrat), pelacuran, sek bebas dikalangan remaja dan orang tidak puasa dipersempit maknanya dalam simbol agama, sehingga solusi yang diambil sekedar cover, seperti sistem rekruitmen pegawai diwajibkan bisa membaca Al-qur’an, kewajiban sholat berjamaah bagi aparat, wajib pakai jilbab, tidak boleh keluar malam, tidak boleh buka warung pada bu- lan ramadhan.14 Dalam ranah kebijakan publik bagaimana semestinya se- buah problem publik didefinisikan. Apa yang kemudian disebut masalah publik perlu dipahami oleh pembuat kebijakan. Masalah publik merupakan masalah warga masyarakat tanpa memandang latarbelakang agama (juga suku/etnis) sehinggga kebijakan sebagai solusi pemerintah atau negara untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak boleh ekslusif atau bias dan dikriminatif pada kelompok keyakinan dan agama yang lain.

Negara dalam hal ini tidak dapat memaksakan penerapan syariat Islam bagi warganya, tetapi justru seharusnya memberikan jaminan per- lindungan warganya yang beragama Islam dan agama lain sesuai dengan keyakinan dan pandangan keagamaan yang mereka pilih secara sadar dan sukarela dan bukannya sebagai kewajiban keberagamaan yang diinstruksi- kan oleh lembaga negara. Dalam konteks inilah perangkat negara melalui kebijakan yang dibuat melakukan proses limitisasi individualuntuk memi- liki pandangan dan tafsir mengenai suatu ajaran keagamaannya.

Ide kebijakan publik mengandung anggapan bahwa ada suatu ruang atau domain dalam kehidupan yang bukan privat atau mengindividu, tetapi

Sesat Nalar Kebijakan: Membaca Kebijakan Diskriminatif ... 117

milik bersama atau milik umum.15 Publik itu sendiri berisi aktivitas ma- nusia yang dianggap perlu untuk diatur atau diintervensi oleh pemerintah atau setidaknya oleh tindakan bersama. Pertanyaannya kemudian apakah cara beragama perlu diatur atau dintervensi oleh pemerintah, bukannya agama terkait hubungan privat dengan Tuhannya (Islam: Allah). Artinya aktivitas beragama merupakan manifestasi kepatuhan individu atas perin- tah Tuhan bukan kepatuhan terhadap perintah negara atau pemerintah atau sekelompok orang yang memiliki tafsir tertentu atas agama.

Bagaiamana hubungan kepentingan individu dan publik ini bisa ter- kait. Dimana domain kepentingan publik sebagai ruang lingkup kebijakan publiknya. Disinilah peran negara atau pemerintah melalui kebijakan yang dibuat dapat memberikan jaminan sehingga individu bisa mengambil pili- han untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan untuk aktivitas keagamaannya. Jadi yang harus diatur adalah kepastian akan ruang bagi kebutuhan setiap individu untuk untuk berkeyakinan dan beragama sesuai cara dan penghayatan kegamaannya.

Misalnya, jika pemerintah (pemerintah daerah) menginginkan ada- nya peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada warganya. Ru- ang lingkup kebijakan yang dibuat bukan menentukan ritual atau tafsir keagamaannya (yang besifat tunggal) yang dipaksakan kepada yang lain atau membuat yang lain terpaksa. Melainkan pemerintah dapat memberi- kan fasilitas supaya warga bisa belajar dan menjalankan cara-cara beritual atau menghayati keagamaannya. Pemerintah dapat membuat kebijakan seperti penyediaan bahan-bahan referensi keagamaan yang memadai (bagi semua agama), baik di kantor pemerintahan, sekolahan atau juga tempat umum berupa perpustakaan umum. Pemerintah dapat memberikan waktu/

kesempatan yang sama dan lebih lama bagai semua warga, seperti pela- jar dan mahasiswa untuk memperdalam penghayatan keagamaannya. Juga menyediakan dan menerjunkan tenaga-tenaga dakwah (ustad/dai, pendeta/

romo, bedande, biku) yang lebih banyak untuk memberikan pemahaman tentang keagamaan kepada umatnya masing-masing.

118 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru

Pembuat kebijakan (policy maker) harus memahami dimana do- main sebuah kebijakan publik. Apa masalah publiknya, apa yang membuat hal tersebut menjadi masalah kebijakan dan bagaimana masalah tersebut dapat menjadi agenda pemerintah.16 Selanjutnya proses menentukan atau mengembangkan pilihan-pilhan atau alternatif-alternatif untuk memecah- kan masalah tersebut dapat dilakukan dengan cermat, dengan memperhati- kan partispasi semua kelompok masyarakat, bukan kelompok tertentu saja.

Bukan seperti yang terjadi, bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat selalu diakui sebagai suatu kesepakatan bersama yang diwakili oleh wakil- wakil rakyat dalam Dewan perwakilan. Ketika proses perumusannya seringkali melibatkan ulama atau kelompok Islam, seolah telah mewakili seluruh pemikiran hukum islam di suatu wilayah. Sehingga produk ke- bijakan tersebut menjadi satu-satunya model rujukan dalam menentukan standar pelaksanaan praktek keagamaan yang dapat diterima dan dipan- dang sah secara hukum di sebuah wilayah/daerah. Tak pelak, pada saat kebijakan seperti ini diberlakukan seluruh warga masyarakat di wilayah tersebut dipaksa untuk menyesuaikan diri dan mematuhi sepenuhnya ke- tentuan ketentuan dalam peraturan kebijakan itu.17

Kenyataan seperti ini jelas membatasi hak individu yang dilindungi oleh konstitusi bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya dan setiap oarang berhak atas kebebasan meyakini ke- percayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai hati nuraninya.18 Selain itu jika kita menengok sebuah kosep dalam khasanah hukum Islam hal ini bertentangan dengan prinsip takhyir, yaitu sebuah konsep yang mem- benarkan seorang muslim untuk memilih dan mengikuti satu pendapat di- antara berbagai pendapat hukum yang ada. Negara dengan kebijakannya tersebut telah merampas hak individu muslim untuk melakukan takhayyur.

Alih-alih melindungi dan menjamin hak warga, kebijakan berbasis syariat dalam praktenya justru menimbulkan kesewenang-wenangan, diskriminasi serta membatasi aktifitas pada warga.19

Inilah apa yang disebut Marcuse dengan istilah “rasionalitas tekno- logis” atau Istilah Jurgen Habermas “kesadaran teknokratis”20. Pemerin-

Sesat Nalar Kebijakan: Membaca Kebijakan Diskriminatif ... 119

tah (pembuat kebijakan) melalui rasionalitas teknologisnya melakukan pengaturan, penataan termasuk moralitas, keimanan dan keagamaan pada masyarakat dengan sifat teknis, produktif, terukur. Warga yang bermoral, beriman adalah mereka yang pakai jilab, pandai baca al-Quran, sholat ja- maah. Pelacur adalah mereka (perempuan) yang keluar malam, perempuan yang duduk di tempat sepi. Bila menggunakan analisis oposisi biner-nya Derida,21 maka interpretasi beriman dan bermoral (berjilbab, lancar/tulis baca alqur’an, sholatnya berjamaah, perempuan yang tidak keluar malam dan tidak berada di tempat sepi) selalu dilawankan dengan tidak beriman dan bermoral (tidak berjilab, tidak lancar baca/tulis alqur’an, sholatnya tidak berjamaah, perempuan yang keluar malam dan berada di tempat sepi). Sehingga solusi untuk mengatasi demoralitas dan keimanan adalah mewajibkan pakai jilbab, mewajibkan baca alqur’an, mewajibkan sholat berjamaah bagi warga dan aparatnya (baik Islam, dan non Islam). Begitu juga untuk mengatasi pelacuran, tangkap mereka (perempuan) yang keluar malam dan yang berada ditempat sepi.

Kebijakan berbasis syariat juga menunjukkan adanya eksklusfitas kepentingan atas kelompok muslim atas kelompok keagamaan lain. Am- bisi untuk memaksakan pandangan-pandangan keagamaannya ke dalam regulasi negara dan memberlakukannya untuk seluruh warga setempat akan menimbulkan dampak negatif bagi jaminan hak-hak kelompok ke- agamaan lainnya. Hal ini telah terjadi proses pemingiran kelompok ke- agamaaan lain dan menghalangi, membatasi hak hak mereka dalam proses pembuatan keputusan. Kelompok keagamaan lain akan merasakan sebagai

“out sider” atau sebagai warga negara tidak penuh, jika terus berlangsung mereka merasakan menjadi “other” atau bukan sebagai warga negara.

Logika kebijakakan seperti ini bergerak dengan membatasi diri pada

“liyan”, menutup diri pada pluralitas hidup. Eksistensi atas Identitas diper- tahankan dengan “meniadakan” yang lain.22 Menurut Theodore Adorno, logika seperti ini disebut dengan logika “identitas”, yaitu upaya menia- dakan perbedaan. Sedangkan Derida menyebutnya dengan “metafisik ke- hadiran”. Derida menegaskan logika ini dapat menyebakan kekerasan.23

120 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru

Seperti penyerangan terhadap kelompok yang mempunyai kepercayaan atau tafsir lain terhadap keagamaan bahkan eskpresi atau tindakan orang yang dianggap lain.

Logika identitas mendasarkan argumen pada origin (keaslian metaf- isik)24 dan tidak mempertimbangkan proses bentukan sejarah, kronologi masyarakat atau proses yang terus berkembang. Sebuah hasrat yang mem- perlihakan keinginan identitas keaslian, kemurnian, kesakralan. Logika ini mengekspresikan sebuah konstruksi makna dan cara berfikir yang sama- memaksa orang untuk berfikir sama, mereduksi kekayaan makna atas ke- benaran pada satu makna “kebenaran”. Hasrat ini akan menjerumuskan orang pada jurang kekerasan, seperti kasus penyerangan terhadap kelom- pok Ahmadiyah.

Logika kebijakan yang dibangun atas dasar logika identitas seperti ini sangat berbahaya dalam kontek integrasi kebangsaan. Sebab dengan logika ini otonomi daerah dilihat dalam cakrawala yang sempit, yang menghasilkan tafsir yang sempit pada prinsip-prinsip otonomi. kebijakan daerah akan mendorong sikap egoisme kelompok agama-suku-ras, primo- dialisme, ekslusivitas teritorial,serta sikap intoleransi terhadap orang atau kelompok lain.

Dalam dokumen Ruang Publik dan Pemberdayaan Masyarakat (Halaman 137-142)