• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi relasional: dari aku, keluargaku, dan kampungku

Dalam dokumen Ruang Publik dan Pemberdayaan Masyarakat (Halaman 43-46)

Bagian tulisan ini menggambarkan sebuah perubahan pada diri perempuan peserta Sekolah Perempuan yang memberikan pengaruh pada perubahan anggota keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Lederach me- nyebutnya sebagai perubahan pada tingkat relasional.

Dari sisi perubahan personal, saya mengamati bahwa “rasa ta- kut” menjadi ancaman besar para perempuan. Rasa takut dapat merusak hubungan antar individu. Rasa takut juga bisa memangkas potensi-potensi perempuan. Perubahan pada tingkat individu meliputi upaya meminimali- sir kerusakan ditingkat individu akibat dari konflik, dan mengembangkan potensi diri menjadi lebih baik terkait dengan emosi, intelektual maupun spiritual. Termasuk didalamnya adalah mengubah rasa takut menjadi ener- gi positif untuk kerjasama melakukan perubahan. Proses Sekolah Perem- puan membantu para perempuan menemukan kembali rasa percaya diri mereka yang terkubur oleh rasa takut. Percaya diri merupakan kunci dari upaya pembebasan diri dari “rasa takut” dan segala bentuk ketertindasan.

Percaya diri dalam diri perempuan muncul sebagai manifestasi dari menin- gkatnya daya intelektualitas dan spiritualitas mereka. Saya melihat tingkat perubahan personal, pada level terbebas dari “rasa takut” untuk merdeka dalam hal menyampaikan pendapat, sangat bisa dilihat di Jakarta, Bogor dan Poso.

22 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru

Para ibu sudah tidak takut lagi berkomunikasi dengan suami dan bahkan pejabat kampung karena merasa lebih nyaman dengan “bekal”

yang diberikan di Sekolah Perempuan. Namun, ada jenis rasa takut yang masih bersemayam di benak para peserta SP di Poso, yaitu “rasa takut”

berpendapat pada atasan. Focus Group Discussion (FDG) pada 19 Desem- ber 2010 dengan anggota SP Pamona, menegaskan bahwa rasa takut ma- sih ada karena lingkungan yang dianggap tidak setara. Konstruksi relasi hirarkis dalam gereja, banyak terefleksi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Para ibu butuh waktu yang agak panjang untuk membiasakan sebuah relasi egaliter dengan para pejabat gereja, ketika berada diluar struktur gereja.

Perubahan relasional dikategorikan di dalam rumah dan masyara- kat. Kekuatan pendekatan pada kelompok ibu rumah tangga adalah po- tensi efek domino terhadap keluarga. Konstruksi gender istri harus ijin dan lapor suami setelah melakukan aktifitas di luar rumah, dimanfaatkan untuk mentransfer ilmu yang didapat. Pengenalan setiap individu yang berbeda dalam kelompok yang berlatar belakang perbedaan etnik, kepercayaan dan agama, diwadahi oleh kurikulum, mampu membantu setiap individu lebih mengenal dengan baik bukan saja pada karakter orang tersebut tetapi juga nilai-nilai dan praktek kebiasaan yang dipercaya pada ethnic, kepercayaan dan agama tertentu.

Pada tingkat ini, saya melihat ada dua capaian yang terus berkem- bang yaitu kemampuan setiap individu untuk mengenali alur-alur komu- nikasi efektif dengan anggota kelompok, suami, anak-anak dan juga ma- syarakat. Bahkan, dalam konteks Kampung Sawah, upaya yang dilakukan oleh Muji, Tuminah, Ratimah dan Patmi dalam mempromosikan dialog dan musyarakat setiap ada perselisihan, dilakukan dalam rangka memban- gun interdependensi (ketergantungan) dengan meminimalisir sedemikian rupa terjadinya perpecahan. Perubahan prilaku suami-suami di Pamona dan Malei untuk tidak melakukan kekerasan terhadap istri dan anak, san- gat menggembirakan, meskipun masih dilandasi oleh “rasa takut” dijerat hukum.

Transformasi Sosial: Perempuan Akar Rumput Membangun Perdamaian 23

Yang kedua, kemampuan para peserta SP dalam menyambungkan alur-alur komunikasi dengan kelompok-kelompok berbeda agama dan ke- percayaan. Kunjungan ke Ahmadiyah di Jakarta dan Bogor, silaturahmi di berbagai gereja beraliran berbeda di Pamona dan kunjungan ke kelompok Muslim, adalah upaya untuk menyuburkan solidaritas dan membangun ke- percayaan yang utuh di masyarakat. Meskipun ini membutuhkan tantangan sendiri di kelompok Muslim karena penolakan Ahmadiyah masih sangat kuat di Poso.

Meskipun perubahan struktural belum terlihat. Namun bibit-bibit yang telah disemai dengan mendekatkan diri dan mempromosikan ke giatan di level kelurahan di Loji-Bogor, bisa diharapkan mampu mempengaruhi kebijakan untuk melindungi masyarakat dari segala bentuk kekerasan ber- basis agama karena politisasi agama. Tabungan keliling yang diinisiasi di Jakarta dan Bogor telah menjaring sekitar 90 orang perempuan baik menjadi media efektif untuk menyebarkan pesan perdamaian dan menjadi mekanisme kontrol efektif para perempuan untuk mengikis prasangka.

Kolektor, seseorang yang ditugasi memungut uang yang akan ditabung, secara konsisten mendatangi satu persatu anggota. Hasil tabungan bisa se- cara langsung dinikmati oleh para ibu untuk membayar uang sekolah anak, berobat, membayar utang dan sebagainya. Praktek ini berhasil sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan para ibu rumah tangga pada rentenir.

Perubahan lain yang mencolok pada solidnya bangunan solidaritas mereka antar perempuan. Penggalangan dana untuk Merapi cukup membuktikan kesolidan para ibu untuk mau memikirkan saudara-saudari yang tertimpa kemalangan.

Di Poso, upaya pengenalan budaya lokal dalam sesi belajar juga disiapkan untuk melakukan perubahan pada level budaya. Revitalisasi budaya bukan hanya pada mempopulerkan seni tradisi saja, tetapi juga mesentral kan berbagai macam aturan adat menjadi lebih berfungsi. Ter- utama lebih bisa memposisikan perempuan secara adil. Kasus KDRT yang menimpa salah satu anggota SP di Pamona, memberikan pelajaran pada kita untuk melakukan mainstreaming gender di lembaga adat. Hukum adat

24 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru

juga harus ramah untuk perempuan. Revitalisasi tampaknya butuh waktu panjang, namun demikian kelompok anak-anak muda dalam sanggar Lin- tunyadi berhasil mengukuhkan komitmenya untuk melestarikan budaya Poso dengan menyabet juara I pada Festival Danau Poso (FDP) yang dige- lar pertengahan 4-10 Agustus2010.

Transformasi kepemimpinan perempuan: kolektif V.S

Dalam dokumen Ruang Publik dan Pemberdayaan Masyarakat (Halaman 43-46)