120 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
Seperti penyerangan terhadap kelompok yang mempunyai kepercayaan atau tafsir lain terhadap keagamaan bahkan eskpresi atau tindakan orang yang dianggap lain.
Logika identitas mendasarkan argumen pada origin (keaslian metaf- isik)24 dan tidak mempertimbangkan proses bentukan sejarah, kronologi masyarakat atau proses yang terus berkembang. Sebuah hasrat yang mem- perlihakan keinginan identitas keaslian, kemurnian, kesakralan. Logika ini mengekspresikan sebuah konstruksi makna dan cara berfikir yang sama- memaksa orang untuk berfikir sama, mereduksi kekayaan makna atas ke- benaran pada satu makna “kebenaran”. Hasrat ini akan menjerumuskan orang pada jurang kekerasan, seperti kasus penyerangan terhadap kelom- pok Ahmadiyah.
Logika kebijakan yang dibangun atas dasar logika identitas seperti ini sangat berbahaya dalam kontek integrasi kebangsaan. Sebab dengan logika ini otonomi daerah dilihat dalam cakrawala yang sempit, yang menghasilkan tafsir yang sempit pada prinsip-prinsip otonomi. kebijakan daerah akan mendorong sikap egoisme kelompok agama-suku-ras, primo- dialisme, ekslusivitas teritorial,serta sikap intoleransi terhadap orang atau kelompok lain.
Sesat Nalar Kebijakan: Membaca Kebijakan Diskriminatif ... 121
Ketika subyektifitas warga negara tidak lagi meng-Indonesia, se- sungguhnya tidak ada lagi yang disebut Indonesia sebagai masyarakat.
Sebab masyarakat hanya ada jika ia dapat merefleksikan (aturan, norma, hukum dalam bentukan sejarah dan kronologi masyarakat itu) pada indi- vidu-individu. Jika tidak inilah sebuah pengingkaran dari pembentukan subyketifitas itu sendiri.
Artinya, seperti apa yang dikatakan oleh Jacques Lacan (1984), pada saat kita membicara hasrat, angan-angan, imaginasi individu maka harus terkait didalamnya hasrat, angan-angan dan imaginasi kolektif (desireide
alsimagination collective).26 Hasrat27 kolektif ini seharusnya digerakkan kearah sifat yang konstruktif (membangun sebuah bangsa).
Sayangnya dalam era otonomi daerah, melalui kuasa kebijakan, seperti perda berbasis syariat yang dibuat, tanpa disadari telah memba- wa bangsa ini pada perangkap primodialisme, kesukuan, kepercayaan keagamaan yang sempit, egoisme kelompok, chauvinisme yang perpaku pada dogma. Penciptaan imaginasi destruktif terjadi karena-khususnya para pemangku kepentingan pemerintahan baik nasional dan daerah (pres- iden/gubernur/bupati, DPR/DPRD, polisi, kejaksaan, pengadilan) dan mungkin juga masyarakat (tokoh/Ormas, LSM,Parpol)-sedang mengalami kondisi psikis “diri minimal” (the minimal self).28 Para “diri” ini sedang mengembangkan hasrat, angan-angan dan imaginasi yang minimal, hanya sekedar untuk mempertahankan hudup. Mereka terbelenggu oleh hasrat, angan-angan dan imaginasi yang sempit dan dangkal, terkungkung dan ter- jerat dalam kepentingan sempit kelompok, partai, golongan, suku, agama atau kedaerahan.
Penutup
Memang, pemimpin seperti Soekarno, Gus Dur dan tokoh pluralis lainnya memiliki imaginasi kolektif yang konstruktif dan tajam untuk membangun masa depan kebangsaan. Bagi mereka imaginasi kolektif kebangsaan ini- lah yang akan menciptakan bangsa indonesia sebagai bangsa yang maju dan besar. Sebuah bangsa tidak akan pernah beranjak maju jika kita selalu
122 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
dalam suasana me(di)-intimidasi, me(di)-tindas, me(di)-gusur. Bangsa ini sebaliknya akan semakin carut-marut dan berada dalam ke-“sumpek”-an.
Sayangnya hal ini belum banyak dipahami oleh sebagian besar para pe- mimpin dan penentu kebijakan publik ditingkat pusat juga daerah.
Dalam konteks inilah gerakan pluralis memiliki makna gerakannya khususnya dalam era desentralisasi. Dus, Dalam ranah praktis, gerakan pluralis harus menyentuh pada ranah kebijakan. Karena pada ruang ke- bijakan khususnya ditingkat lokal/daerah akan dapat menyentuh praktek kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan nilai- nilai pluralitas dalam obyektifitas keberagaman itu sendiri. Pengawalan terhadap gelagat kebijakan yang tidak sensitif (baca: anti) pluralistas atau diskriminatif menjadi pemaknaan pada wilayah aksi bagi aktivis (akade- misi, LSM, tokoh) terhadap berjalannya prinsip-prinsip pluralism di ten- gah pluralitas masyarakat bangsa.
Kepustakaan
Yasraf Amir Piliang. 2000. HiperMoralitas: Mengadili BayangBayang.
Yogyakarta: Belukar
_______________. 2000. Harapan Positif, Membangun Imaginasi Kolek- tif Bangsa dalam Kompas, 30 Oktober 2000
Gadis Arivia. 2007. Pijakan Keberagaman: Sexual Difference, dalam ju
rnal perempuan edisi 54, Merayakan Keberagaman. Jakarta: YJP dan Ford Foundation
Franz Magnis Suseno. 2000. 12 Tokoh Abad Ke20. Kanisius: Jakarta Christopher Norris. 2006. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques De
rida. Yogyakarta: Ar-Rusz Media
Thomas R Dye. 1981. Understanding Public Policy. Prentice Hall New Jersey, Chapter 1.
Hadi Makmur. 2009. Hegemoni Budaya Reinventing Government; Kajian Model Administrasi Publik Dalam Perspektif Poskolonial, dalam
Sesat Nalar Kebijakan: Membaca Kebijakan Diskriminatif ... 123
Jurnal Kultur, 3(1)/Maret/2009, Puslit Budaya Jawa Dan Madura- Lemlit Universitas Jember
F Budi Hardiman. 2009. Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengeta
huan Dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas (Edisi Ketiga).
Yogyakarta: Kanisius
Wayne Parson. 2005. Public Policy: Pengantar Teori Dan Praktek Analisi Kebijakan. Jakarta: Kencana
Laporan Tahunan The Wahid Institute. 2008. Pluralisme beragama/ber
keyakinan di Indonesia, Menapaki Indonesia Yang Kian Retak. Ja- karta: The Wahid Institute & Yayasan TIFA
Komnas Perempuan. 2009. Laporan Tahunan Tanggal 23/3/09 dalam www.
komnasperempuan.or.id. Diakses 16 Januari 2011.
Gaventa, J. 1980. Power And Powerlessness: Quiescence And Rebellion In Appalachian Valley, Clarendon Press, Oxford.
Suaedy “perda syariat Islam tidak meneyelesaikan masalah sosial” di http/www.wahidinstitute.org/indonesia/content/blogcategory/1/54/.
Diakses 1 Januari 2011.
Rumadi. 2008. Regulasi (bernuansa) Keagamaan, dalam jurnal perempuan edisi 60.
Kompas. 2011. Kekerasan Meningkat, Demokrasi Terancam http://nasi
onal.kompas.com/read/2010/12/15/22321416/ . Diakses 11 Pebruari 2011.
1 Menurut UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, diskriminasi adalah:“setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasar- kan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggu- naan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.”
124 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
2 Perkembangan jumlah kekerasan berlatar belakang agama terus mengalami pening- katan yang cukup signifikan. Selama Tahun 2008 terjadi 227 kasus. Sedangkan pada tahun 2009, di Jawa Barat saja terdapat 114 kasus, dan tahun 2010 mencapai117kasus.
Lihat, Laporan Tahunan The Wahid Institute, 2008, Pluralisme beragama/berkeyaki
nan di Indonesia, Menapaki Indonesia Yang Kian Retak, The Wahid Institute & yayas- an TIFA, Jakarta. Juga lihat Data Aliansi Kebangsaan untuk Kerukunan Beragama (AKUR) “Kekerasan Meningkat, Demokrasi Terancam” http://nasional.kompas.com/
read/2010/12/15/22321416/ (diakses 11/2/2011).
3 Penulis menggunakan istilah berbasis syariah. Dalam pemberitaan secara umum seringkali menggunakan istilah “perda syariat”. Karena sebagian besar perda yang di- maksud tidak secara jelas menggunakan istilah syariat Islam dan juga muatannya tidak mencerminkan keutuhan pengertian syariat islam itu sendiri.TetapiPenyebutan perda syariat tidah sepenuhnya salah karenakita akan dapat menemukan bahwa ada kepent- ingan ideologis tertentu yang diusung untuk menegakkan norma-norma ke-islam-an melalui perda tersebut. Selain itu bahwa para pembuat kebijakan daerah tersebut mem- benarkan bahwa perda-perda tersebut berangkat dari aspirasi sekelompok umat islam di daerah yang menuntut penerapan secara resmi syariat Islam
4 Jika Menyitir pendapatnya Dye, kebijakan adalah apapun pilihan yang dilakukan atau- pun yang tidak dilakukan oleh pemerintah terkait masalah masyarakat., lihat Thomas R Dye, 1981, Understanding Public Policy, Prentice Hall, New Jersey, Chapter 1.
5 Hasil penemuan lain, seperti disebutkan Robin L Bush bahwa sampai pada 2008, per- aturan daerah bernuansa agama, terdapat di 52 kabupaten diseluruh Indonesia. Ini be- lum termasuk surat keputusan Bupati/walikkota dan Gubernur. lihat Rumadi, 2008, Regulasi (bernuansa) keagamaan, dalam Jurnal Perempuan edisi 60.hal 96.
6 Rumadi, Ibid., hlm. 96-99.
7 Kebijakan ini sudah tampak kepentingan agamanya, tidak bisa dipungkiri simbol- simbol Islam mendominasi. Meskipun kebijakan ini hanya ditujukan hanya kepada muslim,tetapi implementasinya kelompok non-muslim terkena dampaknya.misalnya implementasi Perbub Cianjur no 15/2006 tentang pakaian dinas harian PNS dilingkun- gan pemerintah Kabupaten Cianjur misalnya, meskipun sangat tipikal untuk orang Is- lam, karena yang mengeluarkan pemda dan ditujukan kepada semua pegawai. Padahal tidak semua pegawai beragama Islam.
8 Kebijakan daerah ini didasarkan atas SKB menteri keagamaan, Mendagri Dan Kejak- saan Agung no 3 tahun 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota dan atau anggota pengurus jemaat ahmadiyah indonesia dan warga masyarakat.
9 Dalam pasal 28 UUD hasil amandemen, disampaikan secara jelas; 1) setiap orang ber- hak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya (pasal 28A), 2) setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum (pasal 28D;3), 3) setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya (pasal 28E:1), 4) setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya (pasal 28E:2), 5)setiap orang berhak atas perlindungan diri, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasai, 6) setiap orang berhak bebas dari perlakuakn yang
Sesat Nalar Kebijakan: Membaca Kebijakan Diskriminatif ... 125
bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu (28I:2)
10 Lihat tulisannya Suaedy “Perda syariat Islam tidak meneyelesaikan masalah sosial” di http/www.wahidinstitute.org/indonesia/content/blogcategory/1/54/.
11 Hasil penelitian ini dilakukan untuk melihat peta problem perda-perda berdimensi agama sebagai bentuk kebijakan publik di Kalimantan Selatan, lihat dalam Arskal Salaim. Ibid., hlm. 15.
12 Lihat Naskah pidato yang disampaikan oleh ketua komnas perempuan dalam acara laparan tahunan tanggal 23/3/09 www.komnasperempuan.or.id (diakses 16 januari 2011).
13 Inilah yang dijabarkan oleh Gaventa sebagai dimensi ketiga kekuasaan, apa yang disuarakan oleh pemegang kekuasaan (powerholder) yang memiliki otoritas baik ke- agamaan, pemerintah dan politik dalam arena pembuatan keputusan mungkin tidak merefleksikan konflik kepentingan riil, tetapi mereka mengartikulasi simbol, norma, atau mitos yang menyembunyikan konflik laten. Lihat Gaventa, J, 1980, power and powerlessness; quiescence and rebellion in Appalachian valley, Clarendon Press, Ox- ford. hlm.12
14 Lihat seperti, Perbup bupati Cianjur no 15/2006 tantang pakaian dinas harian pega- wai negeri sipil dan SE no 025/3645/2001 tentang sholat berjamaan dan busana mus- limah bagi aparat wanita, SE bupati Tasikmalaya no 451/Se/04/sos/2001 tentang upaya peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan, perda kabupaten Pasuruan no 4/2006 tentang penagturan membuka rumah makan, rombong dan sejenisnya pada bulan ro- madhan, Intruksi Bupati Sukabumi no 04/2004, tentang pemakaian busana muslim bagi siswa dan mahasiswa di Sukabumi, perda sukabumi no 8/2005 tentang pelarangan pelarangan pelacuran, pasal 4 tentang larangan setiap orang yang anggapan ia pelacur (baca tafsir; yang menganggap siapa?) dilarang berada di jalan umum, lapangan, rumah penginapan, kontrakan, warung kopi, tempat hiburan, tempat tontonan, disudut jalan- lorong dan tempat lain di daerah.
15 Istilah publik dan privat berawal dari istilah res publica dan res privaPenjelasan tentang
“privat” dan “individu” dalam ranah kebijakan dapat dibaca dalam Wayne Parson, Pub
lic Policy; Pengantar Teori Dan Praktek Analisi Kebijakan, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 2-10.
16 Pertanyaan-pertanyaan ini dalam ilmu kebijakan publik sebagai tahapan formulasi ma- salah (problem formulation).
17 Lihat kejadian akibat kebijakan kewajiban membayar zakat bagi seluruh pegawai neg- eri sipil dan guru di kabupaten Lombok Timur, dengan cara pemotongan gaji secara otomatis setiap bulan sebesar 2,5 persen dari total jumlah gaji bulanan yang diterima.
18 Lihat; UUD 45 amandemen pasal 28 E 1-2.
19 Kasus yang sempat menjadi perhatian dalam media masa, yang menimpa pada Lilis yang ditangkap pada saat menunggu kendaraan umum pada malam hari selepas pu- lang kerja. Ia ditangkap karena dituduh sebagai pelacur hanya dengan bukti didalam tasnya terdapat kosmetik, meski ia menolak tuduhan sebagai pelacur oleh pengadilan Tangerang dinyatakan bersalah dan menghukunya dengan denda, karena tidak mampu membayar denda sebesar Rp 300.000 diganti penjara selama tiga hari. Bila kita jua menggunakan pendekatan hukum islam sendiri tidakan pemerintah tangerang tersebut masuk dalam kategori qadzaf yaitu tuduhan pada seseorang berbuat zina tanpa disertai
126 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
pembuktian yang memadai, dan pelaku qadzaf justru yang seharusnya mendapatkan hukuman. Lihat “Batas Niat Baik Dan Komoditas Politik”, Gatra, 20/3/2006.
20 Rasionalitas teknologis (oleh H Marcuse ) dan “kesadaran teknokratis” (Jurgen Haber- mas) adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan kegelisahannya atau kritiknya atas fenomena masyarakat modern yang dominan menggunakan nalar positivistik- kuantitatif, terukur, rasio telah menjadi intrumental dan buta. Lihat: F Budi Hardiman, 2009, Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas (edisi ketiga), (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 76-77.
21 Lihat Christopher Norris, 2006, Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derida, Ar- Rusz Media, yogyakarta juga lihat Hadi Makmur, 2009, Hegemoni Budaya Reinvent- ing Government; kajian model administrasi publik dalam perspektif poskolonial, dalam Jurnal Kultur, 3(1)/Maret/2009, pusat penelitian budaya Jawa dan Madura-Lemlit Uni- versitas Jember. hlm. 47.
22 Bahasa ini digunakan oleh Jean Paul Sarte, untuk menjelaskan esksitensialisme dalam kerangka fenomenologis. Lihat; Franz Magnis Suseno, 12 tokoh abad ke20, (Jakarta:
Kanisius, 2000), hlm. 75.
23 Gadis Arivia, 2007, Pijakan Keberagaman, Sexual Difference, Dalam Merayakan Ke- beragaman, dalam Jurnal Perempuan edisi 54, YJP didukung Ford Foundation, Jakarta, hlm. 7-16
24 Ibid hal. 13
25 Istilah ini meminjam dari Yasraf amir Piliang, HiperMoralitas; Mengadili Bayang
Bayang, (Yoyakarta: Belukar, 2000), hlm.140.
26 Di sitir dari tulisan Yasraf Amir Piliang, Harapan Positif, Membangun Imaginasi kolek- tif bangsa dalam Kompas, 30 Oktober 2000.
27 Menurut Jacques Lacan, terdapat dua jenis hasrat, 1) hasrat “menjadi” (to be), yaitu hasrat mengidentifikasi diri dengan “sang lain”, 2) hasrat “memiliki” (to have), yaitu hasrat untuk tujuan mencapai kepuasan.
28 Istilah ini dipakai oleh Cristhoper Lach (1984) dalam tulisannya berjudul The Minimal Self: Psychic Survival ini troubled times, yang disitir oleh Yasraf Amir Piliang, 2000.
-oo0oo-