Bentuk-bentuk ketidakadilan gender
4. Perempuan dan environment security
Kegiatan industry, terutama sektor perkebunan, pertanian, dan pertam- bangan yang dilakukan perusahaan raksasa dan TNCs menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Penebangan hutan besar-besaran oleh industri kayu untuk memenuhi kebutuhan ekspor, eksploitasi berlebihan atas air, dan proyek penghutanan kembali yang tidak tepat juga semakin memperburuk kondisi lingkungan yang ada. Penggunaan pupuk dan obat- obatan kimia dalam produksi pertanian (revolusi hijau) menyebabkan ke-
42 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
seimbangan organis tanah terganggu. Aliran-aliran beracun seperti dioksin, pestisida, organoklorin, minyak, asam, alkali, dan logam berat dari pabrik, pertambangan telah mengkontaminasi banyak wilayah di Indonesia.
Akibat yang ditimbulkan akibat kerusakan hutan diantaranya adalah masyarakat yang sebelumnya memiliki sumber-sumber air bersih, ketika terjadi kekeringan, mereka harus mengambilnya di tempat yang jauh, sedangkan beban mengambil air banyak dilakukan oleh perempuan dan anak. Bahkan saat ini 20 % masyarakat Indonesia tidak menggunakan air bersih,19 dan ini berdampak pada kesehatan reproduksi perempuan, juga menyebabkan penyakit kulit, muntaber, dan penyakit menular lainnya mewabah. Perempuan juga kehilangan sumber pendapatan ekonomi dari hasil-hasil hutan yang selama ini dikelola secara bersama oleh masyarakat.
Bagi perempuan kerusakan lingkungan di kawasan industri Mobil Oil (Aceh), Freeport (Papua), Newmont Minahasa (Sulawesi Utara), dan Newmont Nusa Tenggara (NTB) berdampak berlipat ganda dan berefek domino ketika model kekerasan yang patriarkhi dan militeristik berpadu dengan faktor kekuatan modal internasional. Di desa Buyat Pantai, Su- lawesi Utara, lokasi pembuangan limbah penambangan emas PT Newmont Minahasa misalnya, beberapa perempuan dan anak-anak seperti kehilang- an harapan hidup karena tidak mampu lagi menghadapi proses pemiskinan akibat hancurnya perairan tempat menangkap ikan.20 Bagi perempuan ke- hilangan wilayah kelola memiliki dampak pada semakin tingginya beban kerja dan menurunkan pendapatan yang berdampak pada kesehatan, pen- didikan, dan kekerasan. Perempuan dalam masyarakat patriarki merupa- kan tulang punggung mengelola rumah tangga sehingga merupakan pihak yang paling merasakan penderitaan tersebut.
Dalam aturan hukum pengelolaan lingkungan hidup, seperti kasus terbitnya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 yang memberikan ijin kepada pe- rusahaan tambang untuk membuka tambang terbuka di kawasan hutan lindung berdampak pada kerusakan lingkungan dan lebih jauh berdampak pada penderitaan perempuan.21 Permasalahan lingkungan lain yang harus dihadapi perempuan diantaranya adalah drainase masih buruk, buruknya
Ancaman Human Security Perempuan dan Civil Society Indonesia 43
pengelolaan sampah, juga kurangnya penanganan banjir dan bencana lain akibat kerusakan lingkungan.
5. Perempuan dan community security
Komnas Perempuan mencatat selama tahun 2009, kekerasan terhadap perempuan di ranah komunitas paling banyak terjadi di wilayah Jawa 3429 kasus, Sumatera 1305 kasus dan NTT 858 kasus. Selebihnya, kekerasan berbasis komunitas ini juga dijumpai di berbagai wilayah lain: NTB 420 kasus, Sulawesi 322 kasus, Kalimantan 121 kasus, Papua 9 kasus, Bali 70 kasus, Aceh 50 kasus dan Maluku 99 kasus.22 Ancaman ini berupa tindakan diskriminatif terhadap komuniutas perempuan yang dilakukan oleh budaya tertentu, agama tertentu, maupun oleh negara melalui beberapa perangkat aturannya.
6. Perempuan dan personal security
Tenaga Kerja Indonesia yang tersebar di 30 negara dengan jumlah seki- tar 8.739.046 orang, pada 2009 telah menyumbang pemasukan total 6.615.718.900,56 dolar AS. 97, 2% tenaga kerja Indonesia di luar negeri adalah perempuan.23 BNP2TKI pada tahun 2009 menangani sekitar 7.709 kasus. Dari jumlah itu, terdapat 5.403 kasus deportasi dari Malaysia, dan 644 kasus PHK sepihak yang terjadi di Aljazair sebagai akibat krisis glo- bal. Kasus di Timur Tengah jumlahnya 1.634 kasus.24 LSM Migrant Care melaporkan jumlah pekerja migran yang meninggal dunia saat bekerja di luar negeri pada tahun 2009 mencapai 1.018 orang, 67 % di antaranya meninggal dunia di Malaysia. Sedikitnya 2.878 pekerja migran mengalami kekerasan pada tahun yang sama.25
Dalam kasus traficking, perempuan dan anak perempuan merupa- kan 80 persen dari sekitar 800.000 orang diperdagangkan setiap tahun, dan mayoritas (79%) adalah mereka yang diperdagangkan untuk dieksploitasi seksual.26
KDRT juga merupakan salah satu ancaman personal security perempuan Indonesia. Data tahun 2009 menunjukkan adanya 25.522 ka- sus KDRT yang ditangani oleh 215 lembaga, termasuk institusi penegak
44 Civil Society; Pemikiran Kaum Pergerakan Menuju Jalan Baru
hukum, rumah sakit, dan organisasi masyarakat pengada layanan.27 KDRT yang dialami perempuan mayoritas adalah kekerasan ekonomi yaitu se- banyak 6.800 orang dari 46.882 kasus kekerasan terhadap istri dan ma- yoritas korban kekerasan seksual adalah perempuan di bawah umur, yaitu sebanyak 469 orang dari 1.870 kasus.28
Dalam catatan tahunan pada tahun 2008, Komisi Nasional Perem- puan mencatat peningkatan jumlah kekerasan meningkat 213 persen dan mencapai angka 54.425 kasus. Sedangkan pada tahun 2009 angka kekerasan mencapai 143.586 orang, angka ini meningkat sebesar 263%
dibandingkan tahun 2008.29 Hal ini diperparah dengan posisi perempuan yang lemah di hadapan hukum terutama dalam kasus perkosaan, perzinah- an, kekerasan, warisan, dan pekerjaan.
7. Perempuan dan political security
Meski jumlah perempuan di Indonesia lebih banyak dari laki-laki, namun kenyataannya angka keterwakilan perempuan di DPR masih rendah. Jum- lah penduduk Indonesia 240 juta, jumlah perempuan dari total populasi adalah 51%. Indonesia menempati urutan 93 dalam Gender Related Index dan urutan 96 dalam Gender Empowerment Measure. Jumlah perempuan anggota DPR untuk periode 2009-2014 di Indonesia saat ini berjumlah 101 orang atau 18,4% meningkat dari tahun 2004-2009 lalu yang berjumlah 62 orang atau 11,27% dengan 14 % perempuan yang duduk sebagai pa- jabat publik, dan 48% perempuan yang bekerja sebagai tenaga teknis dan profesional.30 Hal ini berimbas pada kebijakan dan keputusan politik yang mengabaikan suara perempuan.
Ancaman political security yang dialami perempuan Indonesia beru- pa kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara, atau yang terjadi karena kebijakan diskriminatif, atau pengabaian yang dilakukan oleh negara, dalam beragam bentuknya. Selama tahun 2009, 54 korban melaporkan ke- kerasan yang terkait dengan political security, 29 kasus dari NTB, 12 dari Jawa Timur, 6 dari Jawa tengah, dan beberapa dari Sumatera, NAD, Bang- ka dan Belitung. Sedangkan tindak kekerasan yang dialami oleh korban
Ancaman Human Security Perempuan dan Civil Society Indonesia 45
mencakup: intimidasi, pengabaian, pengejaran PSK, perceraian sepihak dengan saksi palsu, pelarangan ikut ujian nasional karena hamil, pelecehan seksual yang dilakukan oleh aparat negara, penyiksaan dan penganiayaan oleh aparat negara.31
Ancaman political security yang lain adalah banyaknya perda dis- kriminatif di berbagai wilayah di Indonesia. Komisi Nasional Perempuan bahkan menemukan terdapat sekitar 154 Perda yang diskriminatif selama sepuluh tahun terakhir. Dari jumlah itu, 64 di antaranya merupakan per- aturan yang merugikan langsung perempuan. Perda diskriminasi perem- puan tersebut berupa ketentuan wajib berjilbab bagi pegawai. Terdapat 21 daerah yang mengeluarkan peraturan daerah tentang tata cara berpakaian dengan kewajiban mengenakan jilbab bagi pegawai negeri. Ketentuan wajib berjilbab tersebut dinilai melanggar jaminan kebebasan berekspresi bagi perempuan. Komnas Perempuan juga mencatat terdapat 38 kebijakan daerah berupa aturan pemberantasan prostitusi yang dinilai diskriminatif karena mengkriminalisasikan perempuan. Terdapat juga empat kebijakan daerah tentang buruh migran yang merugikan perempuan.32