• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA

Strategi 1. Kekuatan

5.1 Kesimpulan

1. Dari aspek kesehatan bahwa pemanfaatan hasil pendapatan nelayan digunakan untuk mengikuti peserta asuransi Jaminan Kesehatan sebagaian responden mampu membayar asuransi jaminan kesehatan dan sekitar (16,6%) tidak mampu membayar Iutan Jaminan Kesehatan dan sekitar (83,3%) mampu membayar Asuransi jaminan Kesehatan . dan kelas perawatan yang dibayarkan oleh PT ASKES yang terbanyak jumlahnya adalah kelas rawat nginap kelas 3 sebesar (50%) dan frekuensi yang terendah pada kelas rawat 1 sebesar (10%).

2. Laporan penelitian ini menggambarkan secara umum baik letak atau posisi, keberadaan, fasilitas yang dimiliki, hasil kegiatan operasional dan produksi ikan tahun 2012, ditiga masing- masing PPI yaitu : PPI Donggala sebesar 1.016.025 Kg, PPI Paranggi sebesar 318.375 Kg, dan PPI Pagimana sebesar 422.990 Kg, masing-masing PPI tersebut di atas mengalami kenaikan produksi ikan pada tahun 2012.

3. Keberadaan 3 (tiga) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) tersebut dapat memberikan manfaat kepada seluruh komponen masyarakat nelayan, pihak swasta maupun instansi lainnya yang berkepentingan dibidang perikanan.

Dan sangat mengharapkan bagi para investor yang bergerak dibidang perikanan tangkap agar dapat menanamkan modalnya dengan menggunakan fasilitas PPI yang telah disiapkan, sekalipun masih dalam keterbatasan sarana.

4. Secara nyata dapat dilihat bahwa pembangunan dan pemanfaatan 3 (tiga) PPI unit UPT Pelabuhan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah telah memberikan dampak positif terhadap pelayanan masyarakat melalui penyedia jasa sarana dan prasarana PPI sehingga sangat menunjang bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya, yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya dan akan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan devisa Negara sesuai dengan tujuan MP3EI, Hal ini terlihat pada tahun 2012 ekxport lion tuna beku semakin meningkat 30% yang dilakukan perusahaan di Sulawesi Tengah yaitu: CV.IndonTropic dan PT.Banggai Central dengan tujuan Jepang 16.200 kg, Portugal 25.200 kg, Newyork USA (19.584 kg), Frace 19.927 kg, California 16.239 kg, Brisbane Australia (7530 kg), Los Angeles, USA

Korea 11.340 kg, dan Italy 1260 kg.

5. Hasil Perhitungan Maximum Economic Yield ( MEY) dan Maksimum Suistainable Yield (MSY) di tiga (3) lokasi penelitian yaitu Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kabupaten Donggala , Kabupaten Parimo dan Kabupaten Banggai. Hasil pelabuhan PPI Donggala CMSY = 27.91041 artinya pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis tuna (Decapterus macarellus Thunnus albares dan Cakalang Katsuwono pelamis di perairan Selat Makassar dikatakan sudah semakin membaik secara optimal dengan nilai ekonomi produktif harus didukung oleh sarana dan prasarana sepertinya penimpanan ikan berupa gudang, pabrik es serta alat penangkapan ikan, dan armada perikanan, dari hasil penelitian Estimasi Maximum Suistainable Yield (MSY) dengan menggunakan modal produksi surplus dari Scahefer. Hasil analisis SWOT 2007-2012, hal ini nampak bahwa faktor strateg iexternal peluang merupakan ancaman dalam unsur SWOT memberikan keterangan bahwa a). Dukungan pemerintah Daerah Dinas kelautan dan Perikanan nilai skor (0,39), masih relatif dibawah standard, pengelolaan tuna belum optimal masih banyak yang harus diperbaiki untuk peluang pengembangan usaha ikan tuna ke depan b).

Ancaman bencana alam nilai skor (0,36). Lembaga Keuangan penyedia modal perbankan (0,33%), masih dibawah standard, Total skoring peluang dan ancaman mempunyai nilai AXB = nilai 2,79 sektor perikanan penangkapan tuna di pelabuhan Bajo PPI Donggala pertumbuhan ekonomi produksi tuna semakin meningkat dibandingkan tahun 2007-2010. Total skoring tahun 2012 mencapai 2,79, nilai ini sudah semakin membaik dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di sektor perikanan tangkap dengan dapat memproduksi produk olahan tuna dan lion tuna ke luar negeri dan didukung permodalan dari pihak Perbankan (BRI), dan pembentukan Koperasi simpan pinjam, dan bantuan pemerintah dalam bentuk Koperasi Usaha Bersama, KUB) dan bantuan sarana peralatan penangkapan ikan.

Hasil perhitungan QSPM (Quantitatif, Strategi Plan Managemen), di pelabuhan PPI Donggala mempunyai nilai rata-rata skoring (13,7) lebih tinggi nilainya dibandingka PPI pelabuhan Paranggi Parimo. Keterangan yang diperoleh nilai dari peluang pengembangan usaha kedepan mempunyai nilai 12, dan untuk ancaman (threats) merupakan ancaman yaitu iklim nilai skoring (0,72) sangat berpengaruh pada pengembangan pengelolaan sumber daya ikan tuna pelgis di selat Makassar dan strenghts (kekuatan) yaitu infrastruktur pelabuhan sangat mendukung untuk pengelolaan ikan tuna yang optimal berada diatas standar QSPM. Seperti kekurangan sarana pabrik es, gudang penyimpanan stok ikan export ke luar negeri dan armada perikanan dan peralatan penangkapan ikan masih relatif dibawah standar QSPM dan sangat perlu dukungan dari Sektor Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.

6. Hasil perhitungan CMSY Pelabuhan PPI Paranggi Kabupaten Parimo nilai MEY -7.20556 artinya hasil yang diperoleh negatif yaitu pengelolaan tuna di pelabuhan PPI Paranggi belum optimal, salah satu disebabkan sarana tidak menunjang didalam pengelolaan sumberdaya perikanan tuna pelagis, dan pengadaan es batu belum optimal memenuhi pasokan tangkapan ikandan sangat terbatas untuk kebutuhan nelayan, penyediaan solar BBM, serta armada perikanan tangkap terbatas dan alat tangkap ikan tuna terbatas.

Hasil SWOT tahun 2012,

7. Dari hasil perhitungan unsur SWOT memperlihatkan hasil SWOT faktor strategi Internal bahwa pengembangan armada penangkapan tuna di PPI Paranggi Kabupaten Parigi Moutong, unsur kelemahan terdapat pada jaringan distribusi pemasaran yang mempunyai nilai skor tertinggi yaitu skor AXB= nilai skor 0,39 artinya berpindahnya barang niaga dari pusat produksi ke pusat konsumsi kadang-kadang membutuhkan waktu cukup lama. Adanya jarak waktu memungkinkan timbulnya berbagai risiko yang perlu ditangani berhubungan dengan biaya pemasaran yang harus dikeluarkan seperti pajak pelabuhan exportir. Tingkat biaya berpengaruh disebabkan oleh karena proses pemasaran antara lain pengangkutan, penyimpanan risiko, kerusakan , waktu kerja,grading dan lain-lain., dan jasa angkutan meminta biayaanya yang jumlahnya tidak sedikit. Faktor strategi external unsur SWOT lembaga keuangan penyedian modal kepada nelayan masih relatif rendah,nilai skoring 0,24 masih dibawah standard yang diharapkan dalam SWOT. Sektor perikanan Tuna di pelabuhan PPI masih kurang optimal hasilnya hal ini menandakan pertumbuhan ekonomi nelayan masih minus dan strategi perlu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia nelayan dan aparatur pemerintah Dinas Kelautan dan perikanan masih dibawah standard kualitas SDM, serta pelaku usaha bisnis dibidang perikanan tangkap tuna di pelabuhan PPI Kabupaten Parimo. Analisis QSPM rencana strategi mempunyai nilai skoring untuk kesempatan peluang pengembangan usaha kedepan sebesar nilai 1,08, dan daya dukung perbankan sangat perlu, masih relatif rendah dan modal nelayan terbatas sehingga sulit untuk meningkatkan pelayaran berlayar dalam pengelolaan penangkapan tuna. Diperlukan strategi manajement pengelolaan perikanan penagkapan yang baik dari sisi ekonomi, ekologi, dan kesehatan dan sosial bagi kehidupan masa yang akan datang di dalam mempercepat perluasan pembangunan ekonomi desa tertinggal yang masih dibawah standar QSPM.

8. Hasil perhitungan Estimasi CMEY (Maksimum Economic Yield) dan Maximum Suistainable (MSY) kecamatan Pagimana pelabuhan PPI Kabupaten Banggai nilai CMSY -5.72742 artinya hasil yang diperoleh minus berarti pengelolaan tuna di kecamatan Pagimana KabupatenBanggai hasilnya

perikanan tangkap masih terbatas jumlahnya 6o armada, dan pada umumnya hasil ikan dihasilkan adalah ikan demarsal atau ikan jenis ikan batu, dan sumber daya manusia nelayan rendah, dan bantuan permodalan dari perbankan relatif rendah sehingga para nelayan sangat rendah motivasinya untuk berlayar mencari ikan. Hasil manfaat sosial mmepunyai nilai negatif - 4.50926555536221 artinya manfaat sosial nelayan kegiatannya dilihat dari partisipasi kerabat dan keluarga, persentase pendapatan keluarga dari hasil nelayan hanya 55%, relatif kecil masih dibawah standar QSPM. Tingkat pendidikan rendah dan pengetahuan tentang lingkungan sangat rendah seperti halnya pencemaran lingkungan akibat pembuangan oli, sampai di perairan dan persentase hasil sebesar 70% dan hal ini akan menimbulkan pencemaran lingkungan sekitarnya di daerah penangkapan, hal menimbulkan racun bagi ikan berdampak pada kesehatan manusia.Hasil Quantitatif strategi Plane Manajemen (QSPM) pelabuhan Pagimana masih berada dibawah standar QSPM yaitu ada tiga rencana A,B,C dan D nilai QSPM yang tertinggi pada rencabna Strategi D dimana bobot tertinggi total skoring (11,88) , dan usaha pengembangan kedepan nilai skoring (0,78) dan iklim mempunyai skoring (1,2). Iklim sangat berpengaruh pada produksi ikan, semakin baik iklim semakin meningkat hasil produksi ikan tuna dan kelemahan pada distribusi jaringan pemasaran skoring (1,&), peralatan penangkapan belum memadai dari unsur analisis SWOT, sehingga perlu bantuan dari pihak Pemerintah daerah Sulawesi Tengah memberikan bantuan KUB )kelompok Usaha Kerja Bersama) seperti armada penangkapan ikan, peralatan penagkapan, dan modal pinjaman lunak dari perbankan dan pemerintah daerah didalam menunjang pembangunan ekonomi kerakyatan dan memacu desa pantai yang tertinggal, di dalam menunjang perluasan dan pertumbuhan pembangunan ekonomi daerah pesisir di tiga lokasi penelitian di Sulawesi Tengah.

Dalam dokumen Untitled - Repository Universitas Tadulako (Halaman 108-111)

Dokumen terkait