• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Repository Universitas Tadulako

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Repository Universitas Tadulako"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

6 Klasifikasi Responden Nelayan Responden 24 Tabel .7 Produksi Ikan Tuna di Pelabuhan Labuan Bajo 26 Tabel .8 Produksi Ikan Tuna di Pelabuhan Paranggi Tahun 2012 28 Tabel .9 Rekapitulasi Ekspor Hasil Perikanan Tangkap Tahun 2011 35 Tabel .10 Rekapitulasi Ekspor Hasil Perikanan Tangkap Tahun 2011 35 Tabel .10 Rekapitulasi Ekspor Hasil Perikanan Tangkap Tahun 2011 hasil tangkapan perikanan tahun 2012 36 Tabel 11 Biaya operasional penangkapan ikan tuna 42 Tabel .12 Matriks faktor kebijakan internal 52 Tabel .13 Matriks faktor kebijakan pembangunan eksternal.

INTISARI Latar belakang

CMSY the value was negative, it meant that the fish production was affected by the season of fishing, and tuna in the middle of migration nature was not sure in the waters of Makassar Strait. In Parimo regency, CMSY the value was negative, it meant that the fish production was affected by the maximum catch, and tuna in the sense of migration was not certain in the waters of Makassar Strait.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Batas-Batas Wilayah Pengelola Perikanan Laut
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Tujuan MP3EI adalah untuk mempercepat masterplan perencanaan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada fokus kajian penelitian untuk merumuskan model pengelolaan sumber daya perikanan tuna. Sasaran pembangunan perikanan tangkap meliputi: (1) peningkatan produksi perikanan tangkap; (2) volume ekspor dan nilai hasil tangkapan; (3) pengembangan armada penangkapan ikan; (4) penyediaan ikan untuk konsumsi dalam negeri; (5) menciptakan lapangan kerja atau menyerap tenaga kerja/nelayan; dan (6) peningkatan PNBP.

Gambar 1. Letak Indonesia pada Lintasan Pelayanan Dunia, Pola Pergerakan  Kontainer Ekspor-Impor Indonesia 2007
Gambar 1. Letak Indonesia pada Lintasan Pelayanan Dunia, Pola Pergerakan Kontainer Ekspor-Impor Indonesia 2007

STUDI PUSTAKA

Konsep Pembangunan Bidang Ekonomi dan Kesehatan

Sumberdaya Perikanan Pelagis

Konsep Pembangunan berkelanjutan

Perkembangan Model Ekonomi Produksi Surplus

  • Model Schaefer
  • Model Clarke Yoshimoto Pooley (CYP)

Model Clarke Yoshimoto Pooley (CYP) digunakan untuk memperkirakan parameter: laju pertumbuhan alami (r), koefisien daya tangkap (q) dan daya dukung lingkungan (K). Persamaan (2.5) digunakan untuk mengestimasi parameter r, q dan K menggunakan regresi OLS (Ordinary Least Square).

Waktu dan Lokasi Penelitian

Objek Penelitian

Jenis dan Sumber Data

Data sekunder berupa data hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan dari dinas perikanan dan kelautan provinsi dan kabupaten/kota selama 5 tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen dan PDRB dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Teknik Pengambilan Sampel

Tahapan Analisis Data -Ekonomi-Sosial

  • Menghitung Catch per Unit Effort (CPUE)
  • Standarisasi Biaya
  • Estimasi Maximum Sustainable Yield (MSY)
  • Estimasi Maximum Economic Yield (MEY)
  • Estimasi Maximum Social Yield (MScY)

Tangkapan per unit upaya (CPUE) dihitung dengan membagi total tangkapan (Kg) suatu alat penangkapan ikan dengan total upaya tangkapan (effort) dalam satuan tersebut. Dengan meregresi hasil tangkapan per unit usaha yang dilambangkan dengan U pada periode t+1 dan oleh U pada periode t serta jumlah usaha pada periode t dan t+1, maka akan diperoleh parameter r, q dan K.

Analisis Strategi Pengembangan 1 Analisis SWOT

  • Analisis QSPM

Berdasarkan Tabel 3, rata-rata pendapatan bulanan rumah tangga nelayan di Kabupaten Parigi sebesar Rp. Berdasarkan data di atas mengenai besaran kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional bulanan nelayan di Kabupaten Parigi Moutong dapat disimpulkan bahwa mayoritas (83,3) mampu membayar iuran, dan nelayan yang kurang mampu. membayar kewajibannya sekitar (16,6%).

Tabel 4. Distribusi Pendapatan per Bulan Keluarga Nelayan di Kabupaten Parigi  Motong
Tabel 4. Distribusi Pendapatan per Bulan Keluarga Nelayan di Kabupaten Parigi Motong

Gambaran Secara Umum Operasional Pelabuhan Perikanan/PPI Pelabuhan Paranggi

Sumber daya perikanan pelagis di Teluk Tomini diduga masih belum tereksploitasi sehingga diperlukan konsep pengembangan perikanan untuk mencapai tingkat pemanfaatan yang optimal. Dalam situasi yang masih terlalu kecil, sumber daya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini harus dikelola secara holistik untuk menjamin kelestariannya.

Tabel  7. Produksi Ikan Tuna PPI Labuan Bajo Kabupaten Donggala Tahun 2012
Tabel 7. Produksi Ikan Tuna PPI Labuan Bajo Kabupaten Donggala Tahun 2012

Profil Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paranggi Kabupaten Parigi Moutong

Selama ini kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini sebagian dilakukan berdasarkan pendekatan kawasan geografis, namun belum dilakukan secara terpadu berdasarkan pendekatan kawasan ekologi. Armada nelayan tersebut selain berasal dari Desa Paranggi, juga berasal dari desa tetangga di Kabupaten Parigimoutong.

Gambar 2. Pelabuhan Paranggi
Gambar 2. Pelabuhan Paranggi

Perkembangan Ekspor Perikanan Tangkap ke Luar Negeri

Dengan demikian, dalam pembangunan perikanan ke depan, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan meningkatkan kapasitas armada penangkapan ikan, terutama yang dimiliki oleh nelayan kecil. Harga bahan bakar minyak (BBM) mengingat hampir 60% nelayan menangkap ikan. modal untuk hasil tangkapan adalah BBM. Pada saat yang sama, kita harus merasionalkan intensitas penangkapan ikan (jumlah nelayan atau jumlah kapal penangkap ikan) secara bertahap namun pasti di setiap wilayah perairan sesuai dengan kemungkinan penangkapan ikan yang berkelanjutan. Dengan kata lain, sudah saatnya mengurangi upaya penangkapan ikan di wilayah perairan yang sudah overfished, seperti Selat Malaka, pantai utara Jawa dan lain-lain. Selain itu, peningkatan kapasitas para nelayan ini untuk beroperasi di perairan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal (underexploitation).

Nelayan dengan armada yang lebih modern diharapkan dapat beroperasi di perairan asing dan bahkan ZEEI untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dan sekaligus melakukan fungsi penawaran terhadap praktik ilegal kapal asing yang masuk ke Indonesia untuk menangkap ikan.

Tabel 9. Rekapitulasi Eksport Produk Perikanan Tangkap Sulawesi Tengah  Tahun 2007-2011
Tabel 9. Rekapitulasi Eksport Produk Perikanan Tangkap Sulawesi Tengah Tahun 2007-2011

Model Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Menghitung Catch per Unit Effort (CPUE)

Upaya standardisasi ini terjadi karena banyak alat penangkapan ikan yang digunakan di daerah penelitian (multi gear) untuk menangkap beberapa jenis ikan (multi spesies).

Estimasi Maximum Sustainable Yield (MSY)

Dengan menggunakan analisis regresi sederhana dari persamaan (3.5), dapat dihitung nilai a dan b sehingga hasil tangkapan maksimum dan upaya optimal dapat diperkirakan sebagai berikut. Selanjutnya dengan membandingkan hasil tangkapan aktual dengan hasil tangkapan lestari dari model, maka dapat dilakukan uji hipotesis statistik dengan menggunakan uji-t student.

Estimasi Maximum Economic Yield (MEY)

Selain itu, dengan membandingkan rente ekonomi aktual dengan rente ekonomi optimal, pengujian hipotesis statistik dapat dilakukan dengan menggunakan uji-t Student.

Estimasi Maximum Social Yield (MScY)

Selain itu, dengan membandingkan manfaat sosial aktual dengan manfaat sosial optimal, pengujian hipotesis statistik dapat dilakukan dengan menggunakan uji-t student. Rata-rata tingkat pendidikan yang rendah, dan nelayan mempunyai sumber daya manusia yang rendah serta pengetahuan tentang lingkungan hidup yang sangat rendah, misalnya pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak, sampah di perairan dan hal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan sekitar. Dengan asumsi rata-rata harga ikan yang diambil di laut 2 malam menghasilkan rata-rata 75 kg-200 kg, dan harga pasaran Rp.

4.400.000 dan kecenderungan harga ikan yang rendah, serta sistem perdagangan pemasaran ikan tuna bersifat oligopolistik dan aktivitas biaya sosial sangat tinggi (biaya keluarga, biaya pendidikan, kesehatan dan biaya operasional penangkapan ikan relatif tinggi, rata-rata melaut sebesar Rp 2.400.000, penghasilan dikurangi nakhoda dan dikurangi awak kapal, rata-rata gaji 2 malam melaut per orang dikenakan gaji sebesar Rp.

Tabel 11. Biaya Operasional Penangkapan Tuna yang dilakukan  oleh Nelayan  selama Melaut di Pesisir Selat Makassar Propinsi Sulawesi Tengah
Tabel 11. Biaya Operasional Penangkapan Tuna yang dilakukan oleh Nelayan selama Melaut di Pesisir Selat Makassar Propinsi Sulawesi Tengah

Pembangunan Sub Sektor Perikanan Tangkap Tuna dan Arahan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna Kabupaten Parigi Moutong

Pengembangan subsektor perikanan tuna dan arahan strategis pengembangan perikanan tuna di Kabupaten Parigi Moutong. Rendahnya pendidikan dan keterampilan nelayan, modal usaha, penangkapan ikan tuna yang terverifikasi dan manajemen usaha yang lemah merupakan unsur kelemahan sehubungan dengan peningkatan produktivitas usaha penangkapan ikan. Sedangkan peluangnya meliputi kegiatan perikanan tangkap yang terdesentralisasi, pengembangan teknologi tepat guna penangkapan ikan tuna, perluasan wilayah penangkapan ikan produktif dan dukungan pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk memberikan pembinaan teknis dan non teknis kepada nelayan.

Unsur ancaman belum mencakup penerapan selektivitas alat tangkap, pengaturan penangkapan ikan tuna dengan bahan peledak. Kebijakan K1, yaitu kebijakan yang dibuat dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk meraih dan memanfaatkan peluang yang sebesar-besarnya.

Analisis SWOT Faktor Strategi Internal Pengembangan Armada Kapal Ikan Tahun 2007

Ketersediaan potensi sumber daya ikan pelagis kecil dan dukungan sarana dan prasarana penangkapan ikan (armada, alat penangkapan ikan, dan pusat pendaratan ikan), serta jumlah nelayan, kelompok usaha, dan perikanan tangkap skala besar menjadi kekuatan dalam konteks perikanan tangkap skala kecil. pengembangan perikanan skala besar). Berdasarkan hasil identifikasi faktor eksternal dan internal, bobot, rangking dan skor masing-masing elemen SWOT kemudian disajikan pada tabel di bawah ini. Dan penjelasan Faktor Eksternal pada Faktor Strategis terdapat 9 (sembilan) pertanyaan dan dinilai kekuatan/kelemahannya dari tahun 2007.

Jika ingin melihat hasil SWOT faktor strategis internal pengembangan armada kapal nelayan di perairan Teluk Tomini dapat dilihat pada tabel matriks dibawah ini. Elemen SWOT pada faktor strategis internal pengembangan armada tuna pelagis di wilayah Parigi Moutong, berdasarkan matriks keterkaitan dengan faktor internal dan eksternal serta hasil analisis SWOT, strategi dan pengembangan perikanan tangkap khususnya pelagis ikan tuna di Kabupaten Parigi Moutong, dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut.

Tabel  8.  Matrik  Faktor  Kebijakan  Internal  Pengembangan  Armada Kapal  Ikan Tuna di Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2007
Tabel 8. Matrik Faktor Kebijakan Internal Pengembangan Armada Kapal Ikan Tuna di Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2007

Kelemahan

  • Analisis SWOT Eksternal Tahun 2009
  • Analisis SWOT Internal Tahun 2011
  • Pembangunan Subsektor Perikanan Tangkap Tuna dan Arahan Strategi Pengembangan di Kab Parigi

Hasil analisis SWOT faktor strategis internal pengembangan armada penangkapan ikan tuna di PPI Paranggi Parigi Kabupaten Moutong unsur kelemahannya ada pada jaringan distribusi pemasaran yang memiliki skor paling tinggi yaitu skor AXB = 0,39 yaitu Artinya, perdagangan barang berpindah dari sentra produksi ke sentra konsumsi terkadang memakan waktu yang cukup lama. Pada matriks keterkaitan antara faktor internal dan eksternal serta hasil analisis SWOT dapat ditentukan strategi pengembangan perikanan tangkap khususnya tuna di Kabupaten Parigi Mouting seperti yang terlihat pada tabel matriks di atas. Berdasarkan matriks korelasi faktor internal dan eksternal serta hasil analisis SWOT, maka dapat ditentukan strategi pengembangan perikanan tangkap khususnya tuna di PPI Paranggi Kabupaten Parigi Moutong sebagai berikut; pada tabel matriks di bawah ini dapat dijelaskan faktor strategis internal yang memiliki kekuatan dalam analisis SWOT tahun 2011 antara lain; A). ketersediaan stok/konsistensi pasokan ikan dan b) infrastruktur pelabuhan memberikan skor AxB 0,39, b) alat tangkap dan sumber daya nelayan skor 0,33 dan jaringan distribusi skor AxB = 0,30.

Strategi yang akan diterapkan dalam pengembangan sumber daya tuna pelagis yang optimal di PPI Paranggi Kabupaten Parigi Moutong adalah dengan menciptakan lapangan kerja. Analisis faktor strategi pengembangan pada matriks keterkaitan internal dan eksternal serta hasil analisis SWOT dapat diketahui bahwa strategi pengembangan perikanan tangkap khususnya tuna di Kabupaten Parigi Moutong adalah sebagai berikut; dapat dijelaskan pada tabel matriks di bawah ini: Faktor strategis internal yang mempunyai kekuatan dalam analisis SWOT tahun 2012 antara lain; A). ketersediaan stok konsistensi stok ikan mempunyai skor 0,30 b).

Tabel 13. Matrik Faktor Kebijakan Eksternal Pengembangan Ikan Tuna di  Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2007
Tabel 13. Matrik Faktor Kebijakan Eksternal Pengembangan Ikan Tuna di Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2007

Kekuatan

  • Kesimpulan
  • SARAN
  • Nama Mata Kuliah yang Pernah Diasuh 3 Tahun Terakhir No. Nama Mata Kuliah Strata S1/S2
  • RIWAYAT PENDIDIKAN
  • Pengalaman Penelitian 5 (Lima ) Tahun Terakhir
  • Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir Pendanaan
  • Pengalaman Publikasi di Berkala Ilimah 5 (Lima) Tahun Terakhir
  • Perolehan HKI dalam 10 Tahun Terakhir
  • Seminar Internasional Penghargaan sebagai Dosen yang Pernah Diraih dan/atau Undangan sebagai dosen Tamu 5 (lima) Tahun Terakhir
  • Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah/asosiasi/institut lainnya)

Sulawesi Tengah merupakan supermarket bencana segala macam bencana, terbatas dalam pengelolaan hasil tangkapan dengan AXB = 0,12, faktor berikutnya yang menjadi ancaman adalah nelayan dari luar daerah. Kabupaten Parigi Moutong merupakan salah satu kabupaten yang memiliki wilayah laut yang luas dibandingkan kabupaten lain di Sulawesi Tengah. Faktor strategi peluang eksternal menggambarkan bahwa elemen SWOT memberikan informasi sebagai berikut: a) Dukungan pemerintah daerah terhadap Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tengah memiliki skor (0,33), b) Risiko bencana alam memiliki skor ( 0,39), c) .

Dukungan pemerintah daerah terhadap pelayanan kelautan dan perikanan dengan skor (0,39), masih relatif di bawah standar, pengelolaan tuna belum maksimal, masih banyak yang perlu ditingkatkan untuk peluang pengembangan usaha tuna di masa depan b). Seperti kurangnya fasilitas pabrik es, gudang penyimpanan stok ikan yang diekspor ke luar negeri, serta armada penangkapan ikan dan peralatan penangkapan ikan yang masih relatif di bawah standar QSPM dan sangat membutuhkan dukungan dari Sektor Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah. Diharapkan terbentuknya Koperasi Simpan Pinjam Nelayan dalam bentuk KUB di tiga lokasi penelitian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah desa pesisir tertinggal di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng diharapkan mengadakan pelatihan kepemimpinan dalam pengelolaan industri pengalengan ikan bagi masyarakat dalam bentuk paket teknologi tepat guna (TTG) yaitu penguatan ekonomi rakyat nelayan. dengan paket seperti revitalisasi tuna sirip biru kualitas ekspor, ikan kaleng, ikan parut, asap ikan dan lain sebagainya dalam kemasan kualitas ekspor baik nasional maupun internasional khususnya ke Eropa, Australia, Amerika dan Asia di tiga lokasi penelitian sesuai tujuan MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Selain meningkatkan devisa negara di sisi lain untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah, kontribusi sektor perikanan.

Tabel 24. Matrik Faktor Strategi Internal Pengembangan Ikan Tuna Tahun  2012
Tabel 24. Matrik Faktor Strategi Internal Pengembangan Ikan Tuna Tahun 2012

Gambar

Gambar 1. Letak Indonesia pada Lintasan Pelayanan Dunia, Pola Pergerakan  Kontainer Ekspor-Impor Indonesia 2007
Tabel 6. Distribusi Kelas Rawat Responden Nelayan yang Kemampuan Membayar  Iuran Jaminan Kesehatan Nasional
Grafik 2  :  Produksi Ikan Tuna di PPI Labuan Bajo Kab Donggala Tahun  2012
Gambar  3.  Ketua  peneliti  MP3EI  Universitas  Tadulako  memberikan bantuan  keuangan pada koordinator Dinas Perikanan Kelautan Donggala
+7

Referensi

Dokumen terkait

It's just that for the appointment of Honorary Personnel, Government Regulation Number 48 of 2005 as amended several times, most recently with Government Regulation Number 56 of 2012