• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

tersebut akan dibedah dan dianalisi dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bagian sebelumunya.

keberhasilan suatu penyelenggaraan budaya literasi di sekolah.

Menurut Kral (2012) peran serta sikap kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi apa yang akan dicapai di sekolah, yang biasanya terjadi saat akan melakukan suatu perubahan di sekolah yang berimbas pada perubahan budaya sekolah. Dalam upaya melakukan perubahan, kepala sekolah bertugas untuk memimpin dan mendukung perubahan tersebut. Seorang pemimpin akan membutuhkan anggotanya untuk terlibat dalam pencapaian tujuan, yaitu guru dan staf, serta turut melibatkan orang tua/wali siswa. Sehingga dari adanya rasa membutuhkan tersebut, diperlukan suatu hubungan kerja sama antara kepala sekolah dengan anggotanya dan pihak eksternal untuk berproses dan melaksanakan rencana atau kebijakan sekolah secara konsisten, sehingga tujuan sekolah khususnya budaya literasi di sekolah menengah dapat tercapai dengan kualitas yang semakin baik56. Berikut ini urian beberapa peran kepala sekolah dalam mengebangkan budaya literasi pada sekolah SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya tengah.

1. Kepala Sekolah Sebagai Pembuat Kebijakan

Menurut Budiharjo (1992) kebijakan adalah suatu keputusan yang dirumuskan serta disepakati oleh kelompok dalam usaha memilih tujuan serta upaya pencapaian tujuan tersebut57. Sedangkan Duke dan Canady dalam Syafaruddin (2008) menjelaskan kebijakan sekolah merupakan suatu keputusan yang diambil oleh pemimpin dari hasil kerja sama dalam pencapaian tujuan sekolah yang direalisasikan berupa program sekolah atau kegiatan58. Dalam implementasi pembuatan kebijakan sekolah, kepala sekolah turut melibatkan anggotanya untuk berperan aktif dalam memberikan ide atau pendapat terhadap pengambilan keputusan oleh kepala sekolah. Ide atau pendapat yang disampaikan oleh anggota digunakan sebagai

56 Kral, C. C. (2012). Principal support for literacy coaching. In Literacy Coaching Clearinghouse Brief. https://eric.ed.gov/?id=ED530296. Hal 11

57 Budiharjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), 23

58 Syafaruddin, Efektivitas Kebijakan Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), 56

bahan pertimbangan kepala sekolah dalam menentukan kebijakan, sertamenjadi upaya pencegahan adanya kekeliruan dan kegagalan perencanaan yang dapat mempengaruhi langkah- langkah sekolah ke depannya dalam mencapai tujuan. Maka untuk menentukan langkah pencapaian tujuan sekolah, kepala sekolah perlu memastikan bahwa rencanayang telah dirumuskan, disepakati bersama oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.

Ada beberapa kebijakan yang diambil oleh kedua kepala sekolah pada kedua sekolah tersebut terkait dengan budaya literasi, pertama menetapakan isu budaya literasi kedalam visi sekolah tersebut kemudian mencatumkan secara implisit ke dalam misi sekolah, kedua menentukan strategi implementasi pengembangan budaya literasi pada sekolah tersebut. Adapun strategi yang ditetapkan pada kedua sekolah tersebut adalah membaca Al-Qur’an bersama selama 15 menit pada pukul 06.15- 06.30 WIB, kemudia dilanjutkan dengan membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Kebijakan ketiga adalah kepala sekolah mendorong keterlibatan semua pihak terutam guru untuk mengambil bagian dalam pengembengan budaya literasi pada sekolah tersebut.

Peran kepala sekolah sebagai pembuat sekaligus pengambil kebijakan pada dasarnya adalah bagian yang inheren dari peran kepemimpinan apapun termasuk kepemimpinan pada organisasi sekolah. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam suatu organisasi. Setiap pemimpin pada dasarnya memiliki perilaku yang berbeda dalam memimpin para pengikutnya. Perilaku para pemimpin ini secara singkat disebut sebagai gaya kepemimpinan (leadership style). Proses pendidikan di suatu sekolah ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah, sebab kepala sekolah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas segala sesuatunya yang terjadi di sekolah.

Efektivitas mengajar guru akan optimal, apabila kepala sekolah dapat mengatur dan membimbing guru-guru secara baik sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Banyak pakar yang mengajukan jenis kebijakan publik berdasarkan sudut pandang masing-masing. James Anderson sebagaimana dikutip Suharno (2010) menyampaikan kategori kebijakan publik sebagai berikut: Kebijakan substantif versus kebijakan prosedural Kebijakan substantif yaitu kebijakan yang menyangkut apa yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Sedangkan kebijakan prosedural adalah bagaimana kebijakan substantif tersebut dapat dijalankan. b. Kebijakan distributif versus kebijakan regulatori versus kebijakan redistributive.

Kebijakan distributif menyangkut distribusi pelayanan atau kemanfaatan pada masyarakat atau individu. Kebijakan regulatori merupakan kebijakan yang berupa pembatasan atau pelarangan terhadap perilaku individu atau kelompok masyarakat.

Sedangkan, kebijakan redistributif merupakan kebijakan yang mengatur alokasi kekayaan, pendapatan, pemilikan atau hak-hak diantara berbagai kelompok dalam masyarakat. c. Kebijakan materal versus kebijakan simbolik Kebijakan materal adalah kebijakan yang memberikan keuntungan sumber daya komplet pada kelompok sasaran. Sedangkan, kebijakan simbolis adalah kebijakan yang memberikan manfaat simbolis pada kelompok sasaran. d. Kebijakan yang barhubungan dengan barang umum (public goods) dan barang privat (privat goods) Kebijakan public goods adalah kebijakan yang mengatur pemberian barang atau pelayanan publik. Sedangkan, kebijakan privat goods adalah kebijakan yang mengatur penyediaan barang atau pelayanan untuk pasar bebas59.

Merujuk pada teori di atas, kebijakan yang di praktikan pada kedua sekolah tersebut lebih dekat pada jenis teori kebijakan yang ada, terutama kebijakan public, kebijakan subsansif, dan kebijakan procedural. Hal ini dibuktikan bahwa dalam pengembangan budaya literasi di sekoah berawal dari kebijakan public dalam ruang lingkup yang terbatas yakni sekolah. Kebijakan public yang dimaksud disini adalah kebijakan

59 Suharno dan Yudi Sutarso, Marketing In Practice, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), 24-25

yang diperuntukan pada ruang lingkup sekolah. Bagaimanapu sekolah adalah miniatur dari warga masyarakat dalam skup dan budaya yang khas yakni budaya sekolah. Oleh karena itu, kebijakan public menjadi bagian dari pengembang budaya literasi pada kedua sekolah tersebut.

Kebijakan publik ditetapkan oleh para pihak (stakeholders), terutama pemerintah yang diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Makna dari pelaksanaan kebijakan publik merupakan suatu hubungan yang memungkinkan pencapaian tujuan-tujuan atau sasaran sebagai hasil akhir dari kegiatan yang dilakukan pemerintah. Kekurangan atau kesalahan kebijakan publik akan dapat diketahui setelah kebijakan publik tersebut dilaksanakan, keberhasilan pelaksanaan kebijakan publik dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan sebagai hasil evaluasi atas pelaksanaan suatu kebijakan60.

Pelaksanaan kebijakan secara sederhana adalah pelaksanaan atau penerapan suatu kebijakan. Pelaksanaan kebijakan bermuara pada aktifitas, aksi, tindakan, atau mekanisme yang dibingkai pada suatu sistem tertentu.

Pelaksanaan kebijakan merupakan suatu kegiatan terencana yang dilkukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu61. Pelaksanaan kebijakan tidak hanya menyangkut perilaku lembaga administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program, melainkan menyangkut pula pada partisipasi masyarakat, kekuatan politik, ekonomi dan sosial dengan berbagai pihak. Pelaksanaan kebijakan yang dilaksanakan secara tepat sasaran dan berdaya guna akan mampu memecahkan suatu permasalahan secara baik, semakin kompleks permasalahan

60 Rohman, A. T, Implementasi Kebijakan melalui Kualitas Pelayanan Penerimaan Pajak Daerah dan Implikasinya terhadap Kepuasan Masyarakat di Dinas Pendapatan Kabupaten Kuningan, (Bandung: Universitas Pasundan, 2016), Retrieved from http://repository.unpas.ac.id/1661/

61 Afandi, M. I., & Warjio, Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Asahan Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah dalam Pencapaian Target Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. (Jurnal Administrasi Publik, 2015) 6(2), 92-113.

Retrieved from http://ojs.uma.ac.id/index.php/adminpublik/article/view/70

kebijakan dan semakin mendalam analisis yang digunakan, semakin diperlukan teori dan modal yang mampu menjelaskan ketepatan pelaksanaan kebijalan tersebut62. Analisa kebijakan perlu dilakukan, tertutama berkenaan dengan dampak yang dihasilkannya. Kajian pelaksanaan kebijakan bertujuan agar suatu kebijakan tidak bertentangan dan merugikan kepentingan masyarakat.

2. Peran Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Kepala sekolah sebagai pemberi motivasi, yakni upaya kepala sekolah untuk membangkitkan semangat para anggota dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan juga meningkatkan semangat siswa untuk mengikuti program literasi. Seperti yang dinyatakan oleh Permadi, bahwa pemimpin yang memberi motivasi, dapat memberikan manfaat pada ketercapaian tujuan, karena motivasi mampu menumbuhkan motif yang positif sehingga dapat menggerakkan anggota seperti yang diharapkan, seperti lebih giat bekerja, dan lebih produktif63.

Selain juga dituturkan oleh S. Ahmad bahwa sebagai seorang pemimpin kepala sekolah harus bisa memberikan bimbingan, arahan, memberikan inspirasi, dan mampu menumbuhkan rasa semangat, rasa percaya diri pada anggota dalam pelaksanaan tugas-tugasnya dalam rangka mencapai tujuan sekolah64. Motivasi juga bertujuan untuk mempertahankan konsistensi anggota dalam mengerjakan tugas dengan baik, dan juga mencegah adanya kepayahan anggota yang dapat mempengaruhikinerjanya.

Hal itu dinyatakan oleh Suharsaputra bahwa hal tersebut dilakukan karena mengingat perubahan berlangsung begitu cepat

62 Rohman, A. T, Implementasi Kebijakan melalui Kualitas Pelayanan Penerimaan Pajak Daerah dan Implikasinya terhadap Kepuasan Masyarakat di Dinas Pendapatan Kabupaten Kuningan, (Bandung: Universitas Pasundan, 2016), Retrieved from http://repository.unpas.ac.id/1661/. 241

63 Ramdani, A., Sumantri, M., & Supriadi, O, Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah. Fokus Manajemen Pendidikan, 1(1), 45–56. https://doi.org/10.30762/ed.v1i2, 2018, 449

64 Ahmad, S, Ketahanmalangan Kepemimpinan Kepala Sekolah: Salah Satu Faktor Penentu Keberhasilan Kepala Sekolah (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2013), 31

yang membuat banyak orang takut untuk menghadapinya, sehingga menjadi upaya antisipasi untuk mempertahankan kelangsungan sekolah kedepannya. Kepala sekolah memberikan motivasi adalah tidak lain untuk mengajak anggota untuk tetap berprogres agar pencapaian tujuan sekolah tidak berhenti dan sia- sia65. Artinya kepala sekolah mengerahkan segala upaya untuk menciptakan suatuperubahan dengan melalui pemberian motivasi untuk menggerakkan anggotanya agar turut terlibat dalam upaya pencapaian tujuan, seperti yang dijelaskan oleh Suharsaputr.

Bentuk motivasi yang diberikan oleh kepala sekolah pun tidak harus verbal atau disampaikan langsung pada anggota melalui percakapan, bisa juga dengan cara nonverbal, seperti yang dipaparkan oleh Carnegie (2019) yakni:

a. Memberikan pengakuan pada tiap anggota, yakni pemimpin mampu mengenali tiap anggota, dan mampu untuk membedakan kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri anggota. Hal ini dimaksudkan agar pemimpindapat menangani mereka dengan baik, sehingga pemimpin bisa bekerja sama dengan anggotanya secara efektif, dan dapat membantu anggota untuk mencapai apa yang diinginkan mereka dalam pekerjaan, b. Menanamkan rasa bangga dalam bekerja pada anggota, yakni

pemimpin meyakinkan pada anggota bahwa hal yang mereka lakukan untuk menuntaskan pekerjaan sangat membantu lembaga dalam mencapai tujuan. Anggota juga diberikan pujian dan penghargaan, hal tersebut akan membuat anggota merasa dihargai, dan bangga dengan pekerjaannya,

c. Menumbuhkan rasa antusias dan dibutuhkan lembaga, yakni pemimpin melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan untuk lembaga. Hal tersebut dapat membuat anggota merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh lembaga, serta dapat meningkatkan komitmen mereka pada lembaga dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik pada lembaga66.

65 Suharsaputra, U, Kepemimpinan Inovasi Pendidikan Mengembangkan Spirit Entrepreneurship Menuju Learning School, (Bandung: Refika Aditama, 2016), 421-422

66 Carnegie, D, Sukses Memimpin : Influence Your Life By Becoming An Effective Leader, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2019), 301

Berdasarkan data dan temuan lapangan bahwa pengembangan budaya literasi pada kedua sekolah tersebut tidak terlepas dari aktivitas kepengawasan atau supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Supervise yang dilakukan sekolah tersebut tidak secara khusus terkait dengan literasi namun secara umum, kepala Sekolah biasanya mengaitkan kegiatan pembelajaran dengan kegiatan literasi. Menurut pengakuan kepala sekolah bahwa supervisi dilakukan melibatkan guru-guru senior.

Tugas kepala sekolah juga mencakup kegiatan pengawasan. Pengawasan dapat berupa pengawasan program dan pengawasan proses. Pengawasan program dilakukan oleh kepala sekolah secara periodik, sedangkan pengawasan proses dilakukan oleh delegasi guru yang berpiket pada hari yang telah dijadwalkan, bentuk pengawasannya ialah mengawasi jalannya kegiatan, pemakaian saranaprasarana, dan mencari solusi bila ada suatu hambatan. Selain itu bentuk pengawasan juga dapat dilihat pada upaya kepala sekolah dalam mengukur keefektifan pelaksanaan berbagai pelatihan untuk guru dalam rangka meningkatkan kompetensi mereka dalam mengelola kelas pembelajaran mereka untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa.

Hal ini sejalan dengan pandangan Wiedarti (2016) bahwa pelatihan guru amat dibutuhkan untuk menyeragamkan persepsi dan menentukan upaya selanjutnya untuk implementasi budaya

literasi yang semakin baik67. Pada saat program budaya literasi mulai berjalan, maka hal yang harus kepala sekolah lakukan adalah memantau keaktifan partisipasi siswa, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, seperti melalui delegasi guru atau melalui jurnal aktivitas literasi masing-masing siswa yang diberikan oleh sekolah. Jurnal aktivitas adalah sebagai bukti siswa mengikuti program literasi yang ditandatangani oleh tim yang bertugas, dan nantinya dapat menjadi bahan evaluasi program literasi, dan kemajuan literasi siswa selama periode waktu tertentu, serta dapat menjadi acuan pemberian penghargaan bagi siswa yang paling aktif dalam mengikuti program literasi sekolah.

Oleh karena itu, terkait dengan peran kepala sekolah dengan fungsi kepengawasan yang dilakukan dalam pengembangan budaya literasi di sekolah, pihak sekolah melakukan supervise berdasarkan program-program pengembangan budaya literasi yang telah dicanangkan sebelumnya. Seperti membaca qur’an 15 menit sebelum pembelajaran dimulai dan tahapan-tahapan selanjutnya. Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik. Agar lingkungan literasi tercipta diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan. Hal inilah yang perlu dikembangkan terkait kesiapan pemangku kepentingan dalam menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sekarang ini telah menjadi gerakan dan program nasional. Untuk alasan itu, adanya peran aktif pemangku kepentingan dalam mensukseskan Gerakan Literasi Sekolah terutama peran kepala sekolah68.

Pada saat program budaya literasi mulai berjalan, maka hal yang harus kepala sekolah lakukan adalah memantau keaktifan

67 Wiedarti, P. & K. L, Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta: Depdikbud, 2016), 87

68 Rahayu, T, Penumbuhan Budi Pekerti Melalui Gerakan Literasi Sekolah, (The Progressive and Fun Education Seminar, 2016), 179-183.

partisipasi siswa, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, seperti melalui delegasi guru atau melalui jurnal aktivitas literasi masing-masing siswa yang diberikan oleh sekolah. Jurnal aktivitas adalah sebagai bukti siswa mengikuti program literasi yang ditandatangani oleh tim yang bertugas, dan nantinya dapat menjadi bahan evaluasi program literasi, dan kemajuan literasi siswa selama periode waktu tertentu, serta dapat menjadi acuan pemberian penghargaan bagi siswa yang paling aktif dalam mengikuti program literasi sekolah. Contoh konkret juga penulis ambil dari SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya Tengah yang menerapkan reward seperti untuk siswa peminjam buku teraktif, pengunjung perpustakaan teraktif, dan sebagainya, dan punishment dengan merangkum buku untuk siswa yang terlambat mengembalikan buku perpustakaan.

Sedangkan perubahan signifikan yang didapat oleh SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya terkait literasi adalah siswa lebih gemar membaca di perpustakaan, maupun di kelas (pojok kelas), siswa lebih aktif mengikuti perlombaan, seperti cipta dan baca puisi, menulis cerpen, peneliti belia, hingga mengikuti olimpiade internasional beberapa kali. Sedangkan berdasarkan tanggapan siswa menyatakan bahwa mereka senang dengan adanya program literasi di sekolah mereka, karena bisa mendapat wawasan baru, dan koleksi buku yang disediakan sekolah juga beragam dan menarik. Mereka seringkali membaca buku pada waktu luang mereka, karena di dalam kelas dan beberapa fasilitas sekolah terdapat pojok baca, sehingga akses mereka untuk membaca bisa lebih mudah. Tugas kepala sekolah juga mencakup kegiatan pengawasan. Pengawasan dapat berupa pengawasan program dan pengawasan proses. Pengawasan program dilakukan oleh kepala sekolah secara periodik, sedangkan pengawasan proses dilakukan oleh delegasi guru yang berpiket pada hari yang telah dijadwalkan, bentuk pengawasannya ialah mengawasi jalannya kegiatan, pemakaian saranaprasarana, dan mencari solusi bila ada suatu hambatan. Selain itu bentuk pengawasan juga dapat dilihat pada upaya kepala sekolah dalam mengukur keefektifan pelaksanaan berbagai pelatihan untuk guru dalam rangka meningkatkan

kompetensi mereka dalam mengelola kelas pembelajaran mereka untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa.

4. Peran Kepala Sekolah Sebagai Inisiator Kerjasama Team

pendampingan dan sertifikasi keperpustakaan. Hal tersebut dilakukan tidak lain untuk meningkatkan profesionalitas guru dan staf dan meningkatkan kualitas kinerja staf dalam menunjang pengembangan budaya literasi.

Upaya delegasi tugas dan kolaborasi antara guru dan staf juga dilakukan untuk efektivitas dan efisiensi tugas kepala sekolah dan kualitas kinerja dalam pencapaian tujuan. Contoh deskripsi kecil bentuk delegasi tugas kepala sekolah pada guru adalah guru menjadi pemateri dalam acara sosialisasi pengembangan budaya literasi sekolah pada orang tua/wali siswa yang diadakan di sekolah. Sedangkan contoh kolaborasi antara guru dan staf, adalah seorang guru pengajar mata pelajaran berkolaborasi dengan staf pustakawan untuk menyediakan buku maupun media peraga tentang materi pelajaran yang relevan dengan materi yang diajarkannya, misal membahas tentang jenis-jenis buku yang dibutuhkan guru maka pustakawan tersebut menyediakan media dan buku yang tersedia di perpustakaan untuk kebutuhan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada saat itu. Berdasarkan gambaran tersebut, adanya kolaborasi antara keduanya akan menjadikan kegiatan pembelajaran semakin berkualitas, memacu keberhasilan pembelajaran, dan hubungan kolegial semakin baik.

Kepala sekolah yang mengadakan kolaborasi antara guru dan staf merupakan ciri dari kepemimpinan seorang kepala sekolah yang efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan sekolah seperti pengembangan budaya literasi.

Selain kolaborasi dalam hal pembelajaran, guru dan staf juga saling bekerja sama sebagai tim untuk mengembangkan program literasi di sekolah, hal itu untuk lebih menghidupkansuasana literat yang ada di sekolah, dengan mengadakan berbagai macam agenda kegiatan menarik, seperti perlombaan literasi misalkan lomba story telling, teater, cipta dan baca puisi, ekstrakurikuler maupun program yang lain yang termasuk dalam bidang literasi.

Contohnya SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya Tengah yang melaksanakan berbagai program literasi dengan tujuan untuk membiasakan atau membudayakan minat literasi pada siswa, yang tidak lain adalah hasil kebijakan kepala sekolah dalam

mengolaborasikan guru dan staf.

Program literasi tersebut diantaranya adalah pertama, membaca Al-Qur’an bersama selama 15 menit pada pukul 06.15- 06.30 WIB, kemudian kedua, dilanjutkan dengan membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai, ketiga;

Program literasi yang sudah pada tahap merangkum buku, memublikasikan dan membukukan karya literasi siswa per triwulan, seperti cerpen, majalah, puisi. Semua program ini akan bisa dilaksanakan dengan maksimal apabila didukung oleh lingkungan yang dalam konteks penelitan ini disebut dengan budaya atau kultur sekolah. Kultur sekolah secara konseptual merupakan kondisi yang mempresentasikan nilai-nilai yang dihidupakan dan dirawat dalam sekolah tersebut, termasuk dalam hal ini adalah budaya literasi. Oleh karena itu budaya literasi adalah bagian terkecil dari budaya sekolah yang berlaku umum69.

Salah satu kegiatan di dalam GLS adalah kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan minat baca peserta didik dan meningkatkan keterampilan membaca supaya pengetahuan dapat dikuasai lebih baik. Isi bahan bacaan mencakup nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, serta global yang disampaikan sesuai tahapan perkembangan peserta didik. Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan yaitu sekolah. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).70

Wandasari (2017) mengatakan Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite

69 Adjat Sudrajat, Budaya Sekolah Dan Pendidikan Karakter; (Yogyakarta:

Kapital Selekta. Pen. Intan Media, 2014), 201

70 Wulandari, R. (2017). Implementasi Kebijakan Gerakan Literasi di Sekolah.

Jurnal Kebijakan Pendidikan Edisi 3 Vol.VI, 319-330

Sekolah, orang tua/wali, akademisi, penerbit, media massa, tokoh masyarakat, dunia usaha, dll, serta pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan menurut Wandasari dkk (2019) School Literacy Movement Policy should be continued. Budi (Kompas.com, 1 Juli 2018) menuliskan literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia71.

Merujuk pada tugas dan fungsi pokok kepemimpinan kepala Sekolah maka pengembangan budaya literasi sekolah adalah bagian dari tugas kepemimpinan kepala Sekolah. Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi. Dalam melaksanakan sejumlah peran/ fungsinya Kepala Sekolah melaksanakan tugas yang banyak dan kompleks, yaitu a) dalam perannya sebagai manajer, Kepala Sekolah bertugas menyususn program, menyususn pengorganisasian sekolah, menggerakkan staf, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan mengendalikan kegiatan; b) sebagai pengembang kewirausahaan, Kepala Sekolah bertugas menerapkan dan menumbuhkan sikap wirausahawan; c) sebagai supervisor, Kepala Sekolah bertugas menyususun program supervisi pendidikan, dan memanfaatkan hasil supervisi peningkatan kemajuan sekolah. Begitulah beban kerja Kepala Sekolah mnurut PP no. 19 Tahun 2017, pasal 54.

Kepala Sekolah merupakan pemimpin pendidikan pada tingkat operasional yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Tentu saja Kepala Sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan. Namun, Kepala Sekolah memainkan peran kunci yang sangat menentukan. Berdasarkan PP No. 19

71 Wandasari, Y., Kristiawan, M., & Arafat, Y. (2019). Policy Evaluation of School’s Literacy Movement on Improving Discipline of State High School Students. International Journal of Scientific & Technology Research, 8(4).