• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN

E. Pembahasan

4. Peran Kepala Sekolah Sebagai Inisiator Kerjasama Team Work

kompetensi mereka dalam mengelola kelas pembelajaran mereka untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa.

4. Peran Kepala Sekolah Sebagai Inisiator Kerjasama Team

pendampingan dan sertifikasi keperpustakaan. Hal tersebut dilakukan tidak lain untuk meningkatkan profesionalitas guru dan staf dan meningkatkan kualitas kinerja staf dalam menunjang pengembangan budaya literasi.

Upaya delegasi tugas dan kolaborasi antara guru dan staf juga dilakukan untuk efektivitas dan efisiensi tugas kepala sekolah dan kualitas kinerja dalam pencapaian tujuan. Contoh deskripsi kecil bentuk delegasi tugas kepala sekolah pada guru adalah guru menjadi pemateri dalam acara sosialisasi pengembangan budaya literasi sekolah pada orang tua/wali siswa yang diadakan di sekolah. Sedangkan contoh kolaborasi antara guru dan staf, adalah seorang guru pengajar mata pelajaran berkolaborasi dengan staf pustakawan untuk menyediakan buku maupun media peraga tentang materi pelajaran yang relevan dengan materi yang diajarkannya, misal membahas tentang jenis-jenis buku yang dibutuhkan guru maka pustakawan tersebut menyediakan media dan buku yang tersedia di perpustakaan untuk kebutuhan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada saat itu. Berdasarkan gambaran tersebut, adanya kolaborasi antara keduanya akan menjadikan kegiatan pembelajaran semakin berkualitas, memacu keberhasilan pembelajaran, dan hubungan kolegial semakin baik.

Kepala sekolah yang mengadakan kolaborasi antara guru dan staf merupakan ciri dari kepemimpinan seorang kepala sekolah yang efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan sekolah seperti pengembangan budaya literasi.

Selain kolaborasi dalam hal pembelajaran, guru dan staf juga saling bekerja sama sebagai tim untuk mengembangkan program literasi di sekolah, hal itu untuk lebih menghidupkansuasana literat yang ada di sekolah, dengan mengadakan berbagai macam agenda kegiatan menarik, seperti perlombaan literasi misalkan lomba story telling, teater, cipta dan baca puisi, ekstrakurikuler maupun program yang lain yang termasuk dalam bidang literasi.

Contohnya SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya Tengah yang melaksanakan berbagai program literasi dengan tujuan untuk membiasakan atau membudayakan minat literasi pada siswa, yang tidak lain adalah hasil kebijakan kepala sekolah dalam

mengolaborasikan guru dan staf.

Program literasi tersebut diantaranya adalah pertama, membaca Al-Qur’an bersama selama 15 menit pada pukul 06.15- 06.30 WIB, kemudian kedua, dilanjutkan dengan membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai, ketiga;

Program literasi yang sudah pada tahap merangkum buku, memublikasikan dan membukukan karya literasi siswa per triwulan, seperti cerpen, majalah, puisi. Semua program ini akan bisa dilaksanakan dengan maksimal apabila didukung oleh lingkungan yang dalam konteks penelitan ini disebut dengan budaya atau kultur sekolah. Kultur sekolah secara konseptual merupakan kondisi yang mempresentasikan nilai-nilai yang dihidupakan dan dirawat dalam sekolah tersebut, termasuk dalam hal ini adalah budaya literasi. Oleh karena itu budaya literasi adalah bagian terkecil dari budaya sekolah yang berlaku umum69.

Salah satu kegiatan di dalam GLS adalah kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan minat baca peserta didik dan meningkatkan keterampilan membaca supaya pengetahuan dapat dikuasai lebih baik. Isi bahan bacaan mencakup nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, serta global yang disampaikan sesuai tahapan perkembangan peserta didik. Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan yaitu sekolah. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).70

Wandasari (2017) mengatakan Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite

69 Adjat Sudrajat, Budaya Sekolah Dan Pendidikan Karakter; (Yogyakarta:

Kapital Selekta. Pen. Intan Media, 2014), 201

70 Wulandari, R. (2017). Implementasi Kebijakan Gerakan Literasi di Sekolah.

Jurnal Kebijakan Pendidikan Edisi 3 Vol.VI, 319-330

Sekolah, orang tua/wali, akademisi, penerbit, media massa, tokoh masyarakat, dunia usaha, dll, serta pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan menurut Wandasari dkk (2019) School Literacy Movement Policy should be continued. Budi (Kompas.com, 1 Juli 2018) menuliskan literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia71.

Merujuk pada tugas dan fungsi pokok kepemimpinan kepala Sekolah maka pengembangan budaya literasi sekolah adalah bagian dari tugas kepemimpinan kepala Sekolah. Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi. Dalam melaksanakan sejumlah peran/ fungsinya Kepala Sekolah melaksanakan tugas yang banyak dan kompleks, yaitu a) dalam perannya sebagai manajer, Kepala Sekolah bertugas menyususn program, menyususn pengorganisasian sekolah, menggerakkan staf, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan mengendalikan kegiatan; b) sebagai pengembang kewirausahaan, Kepala Sekolah bertugas menerapkan dan menumbuhkan sikap wirausahawan; c) sebagai supervisor, Kepala Sekolah bertugas menyususun program supervisi pendidikan, dan memanfaatkan hasil supervisi peningkatan kemajuan sekolah. Begitulah beban kerja Kepala Sekolah mnurut PP no. 19 Tahun 2017, pasal 54.

Kepala Sekolah merupakan pemimpin pendidikan pada tingkat operasional yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Tentu saja Kepala Sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan. Namun, Kepala Sekolah memainkan peran kunci yang sangat menentukan. Berdasarkan PP No. 19

71 Wandasari, Y., Kristiawan, M., & Arafat, Y. (2019). Policy Evaluation of School’s Literacy Movement on Improving Discipline of State High School Students. International Journal of Scientific & Technology Research, 8(4).

tahun 2017 Pasal 54, beban kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi. Dalam melaksanakan sejumlah peran/ fungsinya Kepala Sekolah melaksanakan tugas yang banyak dan kompleks, yaitu a) dalam perannya sebagai manajer, Kepala Sekolah bertugas menyususn program, menyususn pengorganisasian sekolah, menggerakkan staf, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan mengendalikan kegiatan; b) sebagai pengembang kewirausahaan, Kepala Sekolah bertugas enerapkan dan menumbuhkan sikap wirausahawan; c) sebagai supervisor, Kepala Sekolah bertugas menyususun program supervisi pendidikan, dan memanfaatkan hasil supervisi peningkatan kemajuan sekolah.

Kepala Sekolah sangat berperan dalam keberhasilan pelaksanaan program literasi tersebut. Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya Tengah telah dilaksanakan program-program yaitu a) sosialisasi terhadap pelaksana yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan Gerakan Literasi Sekolah di SMPN 3 Praya dan SMPN 4 Praya Tengah yang dilakukan melalui rapat; b) membuat SK Tim Literasi Sekolah; c) menyediakan pojok baca di kelas dan perpustakaan; d) setiap minggu ketika upacara bendera juga selalu diingatkan terkait program-program; e) mengalokasikan dana untuk menunjang program pengembangan budaya literasi berasal dari bantuan oprasional sekolah (BOS) untuk pemenuhan kebutuhan sumber literasi berupa pengadaan buku; f) mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi bersama 5 sekolah imbas; g) mewajibkan siswa untuk membaca buku setiap harinya selama 15 menit sebelum memulai jam pelajaran. Peran Kepala Sekolah secara langsung di dalam kelas yaitu sebagai penanggung jawab program. Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru dan siswa, terkait peran Tim Literasi Sekolah didapatkan hasil pengelolaan perpustakaan khususnya inventarisasi buku sudah baik, sudah tersedia ruang-ruang baca yang nyaman bagi warga sekolah, dilaksanakan kegiatan 15 menit membaca sebelum pembelajaran dimulai yang diawasi oleh guru mata pelajaran pada

jam pertama. Perlakuan yang diberikan kepada peserta didik di sekolah belum ditindaklanjuti di dalam keluarga dan di tengah masyarakat, Monitoring dan evaluasi tehadap hasil pelaksanaan program dan kegiatan GLS yang dilaksanakan beserta tindak lanjutnya juga belum terencana. Berikut dokumen-dokumen kegiatan gerakan literasi sekolah: Dari hasil observasi peneliti, masih ada beberapa peserta didik yang tidak menjalankan program ini dengan baik khususnya pada saat membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Ada yang hanya melamun dan duduk diam saja, mengerjakan pekerjaan lain, bahkan mengobrol.

Dari hasil wawancara lebih lanjut terhadap peserta didik tersebut ditemukan alasan-alasan diantaranya mengantuk karena terlambat tidur, lelah karena banyak tugas yang harus diselesaikan, malas, dan juga belum menyelesaikan tugas serta ingin mencontek pekerjaan teman. Menyikapi hal ini, Kepala Sekolah menekankan kembali kepada guru yang mengawasi untuk memberikan teguran dan motivasi yang akan meningkatkan minat baca peserta didik tersebut.