Sesuai dengan definisi yang dianut didunia internasional bahwa Sains Kebumian atau Geosains (Earth Sciences or Geosciences) adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang berhubungan dengan planet Bumi mulai dari bagian atmosfer, litosfer, hidrosfer sampai bagian biosfernya []. Berdasarkan definisi tersebut cabang Geosains terdiri dari Geografi Fisik, Geologi, Geofisika, Geodesi, Ilmu Tanah (soil science), Ekologi, Hidrologi, Oseanografi, Limnologi, Glasiologi dan Sains Atmosfer/ Meteorologi. Menurut H.M. King dalam Geology.com merumuskan pengertian Sains Kebumian lebih luas lagi, yaitu ilmu yang mempelajari planet Bumi dan tetangganya dalam alam semesta, dan ia mengelompokan Sains Kebumian dalam 4 cabang utamaya itu: Geologi, Meteorologi, Oseanografi, dan Astronomi[].
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
48
Penulis akan memakai definisi yang pertama sebagai pijakan dalam memakai istilah Sains Kebumian dalam tulisan ini. Dengan menggunakan definisi tersebut penulis menilai kurang tepat yang menterjemahkan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) kedalam bahasa Inggris sebagai “Faculty of Geological Sciences and Technology” seperti yang tertulis dalam buku: Institut Teknologi Bandung, Undergraduate Student Hand Book yang diterbitkan ITB tahun 2010 (lihat halaman ix dan halaman seterusnya yang menguraikan tentang FITB beserta prodi – prodinya)[]. Jika Ilmu Kebumian diterjemahkan sebagai “Geological Sciences“, maka dapat diartikan bahwa Geodesi, Meteorologi dan Oseanografi merupakan cabang ilmu dari Geologi. Padahal tidak demikian menurut definisi diatas, dan secara ringkas Geologi adalah ilmu yang mempelajari bagian litosfer Bumi, sedang Meteorologi mempelajari bagian atmosfernya, Oseanografi bagian hidrosfer khususnya laut dan Geodesi mempelajari bentuk Bumi. Jadi FITB semestinya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai: Faculty of Earth Sciences and Technology (FEST) atau Faculty of Geosciences and Technology (FGST).
Pendidikan Sains Kebumian di ITB (barangkali juga di Indonesia) dimulai tahun 1947 ketika Meteorologi, Geologi dan Mineralogi mulai diajarkan dan merupakan bidang pilihan (opsi) di Fakultet Ilmu Pasti dan Alam (Faculteit van Wiskunde en Natuurwettenschap), Universteit van de Republik Indonesia Serikat (FIPIA UI) di Bandung. Informasi tersebut tertulis di halaman 7 dalam buku yang diterbitkan oleh Balai Perguruan Tinggi RIS tahun 1950[] sebagai berikut:
“De doctorale examens omvatten een hoofdak en twee bijvakken. Het hoofdvak wordt in het algemeen gekozen uit een der vakken van het candidaatsexamen. In de volgende lijst zijn de toegestane hoofdvakken opgenomen, met rechts de candidaatsexamens welke tot dit doctoral examen toegang geven”. (Ujian doktoral meliputi bidang utama/ mayor dan dua bidang pilihan/ minor. Bidang utama umumnya dipilih dari salah satu mata ujian akhir. Dalam daftar berikut: di sebelah kiri; bidang utama yang dapat diambil, disebelah kanan; ujian kandidat yang memberikan akses ke ujian doktoral)
Doctoraal examen (Ujian Doktoral) Candidaats examen (Ujian Kandidat) Wiskunde (Matematika) : a, b, d, m Sterrekunde (Astronomi) : c, b, a
Natuurkunde (Fisika) : a, b, c, d, e, q, n Meteorologie (Meteorologi) : a, b, c, d, e, q Scheikunde (Kimia) : e, f, g, l, o, r
Geologie (Geologi) : h
Mineralogie (Mineralogi) : h
Plantkunde (Botani) : k, p
Dierkunde (Zoologi) : k, p
Pharmacie (Farmasi) : l, g, k, r
Keterangan: Huruf a, b, c, d, e, f, g, h, l, m, n, o, p, q, dan r adalah bidang – bidang utama yang dapat dipilih oleh kandidat ujian doktoral. Sebagai contoh huruf a menunjuk pada bidang utama Matematika dan Fisika dengan bidang minor Astronomi, h bidang utama Geologi dan Mineralogi, serta q bidang utama Matematika dan Fisika dengan bidang minor Meteorologi[7].
Pada tahun 1949 bidang Geologi berkembang menjadi Jurusan Geologi (GL), dan pada tahun 1959 bidang Meteorologi berkembang menjadi Jurusan Geofisika dan Meteorologi (GM)[1]. Jurusan GM adalah jurusan di ITB yang mengembangkan bidang Meteorologi dan Seismologi gempa bumi. Dalam perjalanan waktu kemudian mengembangkan Oseanografi pada awal tahun 1970 – an dan tahun 1980 – an bidang Seismologi gempa bumi berkembang menjadi bidang Geofisika yang lebih luas lagi tidak hanya masalah gempa bumi. Jurusan GM didirikan oleh Prof. Ir. Raden Goenarso (sapaan akrabnya pak Goenarso, alm) bersama Prof. Drs.
Soesilo Prawirowardojo (sapaan akrabnya pak Soesilo) dan Drs. Soenarjo M.Sc (sapaan akrabnya pak Naryo, alm). Pak Goenarso adalah seorang insinyur teknik sipil lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung) pada tahun 1935 yang kemudian menjadi guru besar Teknik Sipil dan Matematika ITB, ketua Jurusan Matematika ITB (1958 – 1960) dan merupakan ketua Jurusan GM pertama (1959 – 1967)[1] dan []. Ia pernah menjabat Menteri Muda Pengajaran pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 s/d 27 Juni 1947), anggota Presidium/ Rektorium ITB yang dipimpin oleh Prof. Ir. R. Soemono (2 Maret s/d 1 November 1959)[8] dan pada tahun 1953 diangkat sebagai Kepala Jawatan Meteorologi Geofisika (JMG)[].
Saat ini JMG bernama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Surat keputusan resmi pendirian Jurusan GM tidak ada seperti disampaikan oleh Pak Goenarso ketika penulis berkesempatan bincang – bincang di rumahnya pada tahun 1989 (waktu tepatnya sudah lupa). Ia katakan dengan santai “saya dirikan Jurusan GM begitu saja tanpa surat karena mau mendidik tenaga ahli dibidang Meteorologi dan Seismologi yang belum ada”. Penulis menduga Pak Goenarso dengan mudah mendirikan Jurusan GM karena saat itu ia sebagai anggota rektorium ITB[8] (atau memang dulu tidak terlalu mementingkan formalitas pendirian suatu jurusan?), dan ia tahu persis kebutuhan yang mendesak akan tenaga ahli Meteorologi dan Seismologi gempa bumi karena sebelumnya pernah menjabat kepala JMG[9].
Sementara Pak Soesilo dan Pak Naryo adalah alumni FIPIA UI di Bandung dari Jurusan q (Matematika dan Fisika) dengan minor Meteorologi (lihat daftar di halaman 3). Pak Soesilo selanjutnya meneruskan studi ke Jepang bidang Meteorologi & Seismologi dan menjabat sebagai ketua Jurusan GM yang kedua dari tahun 1967 s/d 1969 dan dilanjutkan pada periode 1971 s/d 1979[1]. Sedangkan Pak Naryo menempuh studi lanjutnya di Universitas New York Amerika Serikat dalam bidang Oseanografi khususnya interaksi laut – udara. Ia menjabat sebagai ketua Jurusan GM ketiga pada periode 1969 s/d 1971[1] dan pernah menjabat Pembantu Rektor ITB bidang Administrasi Umum tahun 1972 – 1976 dimasa kepemimpinan rektor pak Doddy[1]. Dibawah ini adalah foto (tahun 1978) para pendiri Jurusan GM bersama Prof. Dr. Hariadi Paminto Soepangkat (saat itu dekan FMIPA dan Rektor ITB pada periode 1980 s/d 1988[]). Foto tersebut diambil didepan gedung Jurusan GMyang terletak dibagian belakang kampus yang saat ini menjadi pelataran parkir dibelakang gedung Center for Arts, Design and Language (CADL).
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
50
Sejak berdirinya tahun 1959 sampai dengan tahun 1997 Jurusan GM dibawah koordinasi FIPIA/ FMIPA bersama Jurusan Matematika (MA), Fisika (FI), Kimia (KI), Biologi (BI), Astronomi (AS) dan Farmasi (FA). Dalam selang waktu tersebut sekitar 40 tahun Jurusan GM telah berkembang dan mengelola 3 prodi sarjana (S1), yaitu: Prodi Meteorologi (ME), Prodi Geofisika (GF), Prodi Oseanografi (OS) dan 1 prodi magister, yaitu: Prodi Oseanografi dan Sains Atmosfer (OSA).
Pendirian Prodi ME dan Prodi OS ditetapkan bersama dalam satu Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal PendidikanTinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Dirjen Dikti Depdikbud RI) pada tanggal 3 September 1997[]. Walapun penulis tidak berhasil memperoleh salinan SK pendirian Prodi GF tapi penulis yakin bahwa Prodi GF didirikan pada tahun 1997 bersamaan waktunya dengan pendirian Prodi ME dan Prodi OS. Karena ketiga prodi tersebut tadinya merupakan Kelompok Bidang Keahlian (KBK) atau Kelompok Keahlian (KK) yang bersama – sama dikembangkan oleh Jurusan GM dan diusulkan menjadi prodi pada waktu yang bersamaan pula.Yang mengherankan penulis kenapa pendirian Prodi GF terpisah dengan SK pendirian Prodi ME dan Prodi OS.
Dibarisan depan: Prof. Ir. R. Goenarso (ditengah pakai dasi), Prof. Drs. Soesilo Prawirowardojo (keempat dari kiri), Prof. Dr. Hariadi P. Soepangkat (keempat dari kanan) dan Drs. Soenaryo MSc. (ketiga dari kanan). Masih dibarisan depan adalah yang waktu itu para dosen muda, yaitu: Drs. Gunawan Ibrahim (paling kanan), penulis/ Drs. D.K. Mihardja (kedua dari kanan), Drs. Muhammad Ahmad (paling kiri), Drs. Untoro (kedua dari kiri), dan Dra. Sri Hartati Soenarmo (ketiga dari kiri).
Dibarisan belakang adalah yang waktu itu para mahasiswa senior Jurusan GM.
Perpindahan Jurusan GM dari FMIPA ke Fakultas Ilmu dan Teknologi Mineral (FIKTM) diawali oleh keinginan Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME (sapaan akrabnya Pak Wir) pada tahun 1997 sewaktu menjabat rektor ITB (1988 – 1997[10]) untuk menyelesaikan masalah tumpang tindih pendidikan Geofisika. Pak Wir memperoleh masukan dari tim adhock yang dipimpin oleh Pak Naryo, dimana penulis menjadi sekertaris tim. Pada tanggal 1 Desember 1998 terbit SK Rektor ITB[] yang mengatur pemindahan Jurusan GM ke FIKTM terhitung mulai awal semester I tahun akademik 1999/2000. Dalam FIKTM Jurusan GM berkelompok bersama Jurusan Teknik Geologi (GL), Teknik Pertambangan (TA), Teknik Perminyakan (TM) dan Teknik Geofisika (TG). Penulis mempertanyakan isi SK Rektor ITB bernomor 601/SK/K01/OT/1998 karena ketetapan dalam SK tersebut tidak menyebutkan Prodi OSA yang dikelola Jurusan GM dan sudah beroperasi sejak tahun 1996 tidak ditetapkan ikut dipindahkan. Penulis kutip lengkap kalimat pada keputusan di butir 2 dalam SK tersebut sebagai berikut: “Memindahkan Jurusan Geofisika dan Meteorologi (GM) dengan seluruh Program Studi yang dikelola di dalamnya yaitu: Geofisika, Meteorologi dan Oseanografi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ke Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM)”[12]. Barangkali itu merupakan kekhilafan atau ada SK Rektor ITB yang lain yang terpisah yang mengatur kepindahan Prodi OSA yang penulis tidak ketahui padahal saat itu penulis menjabat sebagai Ketua Departemen GM (Departemen: nomenklatur Jurusan yang pernah dipakai di ITB).
Kalau tidak ada SK-‐nya maka secara legal sebenarnya Prodi OSA pada tahun 1999 s/d 2005 masih di FMIPA, karena pada tanggal 29 Agustus 2005 ada SK Rektor ITB[] yang mengatur pengelolaan seluruh prodi di ITB dimana program magister (Prodi OSA) dan program doktor Sains Kebumian (Prodi SB, berdiri tahun 2004[]) ditetapkan dikelola oleh FIKTM.
Dengan alasan formalnya terlalu besar jumlah prodi-‐nya dan berdasarkan 2 SK rektor ITB yang isinya hampir sama (SK pertama tertanggal 30 Januari 2007 yang kemudian diperbaiki dengan SK kedua tertanggal 12 Februari 2007[]) pada tahun 2007 FIKTM dipecah menjadi 2 fakultas, yaitu Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) dan penggabungan 2 prodi, yaitu Prodi GF dan TG menjadi Prodi TG. Dalam FITB tergabung Prodi GL (S1, S2 dan S3), ME (S1), OS (S1), OSA (S2), Teknik Air Tanah (TAT, S2) dan tanggal 26 September 2007 kemudian menyusul bergabung Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika (Prodi GD) []. Sementara dalam FTTM berkelompok Prodi TA (S1, S2 dan S3), Prodi TM (S1, S2 dan S3), Prodi TG (S1, S2 dan S3), Teknik Metalurgi (S1), dan Prodi Teknik Panas Bumi (S2) yang berdiri tahun 2008[].
frasa penting atau foto
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
52
Dalam proses pendirian program magister Prodi OSA tahun 1996 penulis bersama Dr. Bayong Tjasjono HK (saat ini purnabakti guru besar), Dr. Safwan Hadi (saat ini purnabakti guru besar), Dr. Gunawan Ibrahim (saat ini purnabakti lektor kepala) dan Dr. Awali Priyono (saat ini guru besar aktif) mengalami lika liku yang berkaitan dengan nama program studi. Semula kami mengusulkan nama Prodi Geofisika untuk program magister kami tapi Prof. Dr. Ir. Kudrat Sumintapura (sapaan akrabnya Pak Kudrat, Direktur Pascasarjana ITB saat itu, dosen Jurusan Teknik Elektro, alm) tidak mengizinkan pemakaian nama tersebut dan mengusulkan serta menetapkan nama Prodi OSA. Alasan formal pak Kudrat adalah adanya kesamaan nama dengan Prodi Geofisika Terapan di Jurusan GL yang saat itu sudah beroperasi. Penulis menduga Pak Kudrat berupaya menjaga keharmonisan di lingkungan ITB dan atas dasar itu kami menerima usulan dan penetapannya.
Padahal penggunaan nama Geofisika sudah lebih lama dipakai di Jurusan GM sejak berdirinya tahun 1959[1] dari pada di Jurusan GL dan jurusan lainnya di ITB.
Pada tahun 2005 Prodi magister OSA dirubah menjadi Prodi magister SB berdasarkan SK Senat Akademik ITB[], sehingga prodi magister dan doktor dikelola dalam prodi dengan nama yang sama, yaitu: Prodi SB. Penggantian nama Oseanografi dan Sains Atmosfer (OSA) m e n j a d i S a i n s K e b u m i a n ( S B ) b e r d a s a r k a n d e fi n i s i S a i n s Kebumian[4]dan[5] (lihat uraian di halaman 2) sebenarnya kurang tepat karena OSA adalah kelompok bidang ilmu yang merupakan sebagian dari SB. Waktu i t u k a m i ( p a r a p e n g a j a r O S A ) mengusulkan ke Senat Akademik ITB lewat dekan FIKTM nama prodi-‐nya OSAS yang merupakan kepanjangan dari Oseanografi (O), Sains Atmosfer (SA) dan Seismologi (S) bukan SB, karena bidang–
bidang ilmu tersebut yang kami kembangkan dan ajarkan bukan seluruh
cabang ilmu SB yang lebih luas. Dalam kurikulum Prodi SB mahasiswa (S2 dan S3) dapat memilih salah satu opsi dari 3 opsi yang ditawarkan, yaitu: Oseanografi, Sains Atmosfer, dan Seismologi. Sejak tahun 2012 Prodi SB membuka opsi ke 4 bidang Seismologi Gempa Bumi yang sifatnya multidisiplin, dimana penelitian mahasiswanya diarahkan pada masalah gempa bumi yang dikaitkan dengan bidang – bidang lain yang terkait seperti bidang teknik sipil, geologi, dan geodesi.
Opsi ini merupakan tindak lanjut dari hasil kerja sama pendidikan dan penelitian Indonesia – Australia yang bertajuk: Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics (GREAT) yang dititipkan ke Prodi SB. Penulis menyebut program titipan karena rencananya opsi tersebut akan berdiri sendiri, dan menilai opsi ini sebenarnya tumpang tindih dengan opsi Seismologi yang sudah ada sebelumnya.
frasa penting atau foto
Adanya tumpang tindih pengembangan bidang ilmu terutama bidang Geofisika di ITB sudah berlangsung lama terjadi dimana Geofisika k h u s u s n y a S e i s m o l o g i G e m p a B u m i dikembangkan di Jurusan GM (sejak 1959[1]), Geofisika Terapan di Jurusan GL (penulis tidak tahu persisnya, mungkin sejak awal 1970-‐an), Geofisika di Jurusan FI dengan nama Fisika Bumi (sejak awal 1980-‐an), dan belakangan awal tahun 2000-‐an Geofisika berkembang pula di Prodi GD. Upaya penyatuan pengembangan bidang Geofisika secara kelembagaan sudah lama dilakukan sejak awal 1970-‐an sampai terakhir awal tahun 2016. Sejak awal tahun 1990-‐an s/d bulan Maret 2016 dimana penulis terlibat langsung sebagai anggota tim adhock dalam upaya mencari titik temu penyelesaian tumpang tindihnya pengembangan Geofisika di ITB. Sebagian permasalahan dapat diselesaikan dengan bergabungnya (penulis menyebut meleburnya) Prodi GF (S1) dalam Prodi TG pada tahun 2007[15]. Walaupun demikian masalah dasarnya masih menggantung, yakni pengembangan bidang Geofisika dan bidang Sains Kebumian (earth science) lainnya masih belum menyatu dalam kelembagaan fakultasnya. Penyatuan kelembagaan ini penting agar tercapai efisiensi sumber daya manusia, sarana – prasarana (ruang kerja, laboratorium, peralatan pendidikan dan penelitian dll) dan dana yang sangat terbatas, dan hal ini sesuai dengan latar belakang inisiatif Pak Wir memindahkan Jurusan GM dari FMIPA ke FIKTM. Penulis berkeyakinan jika hal ini terjadi di ITB akan lebih memperbesar peluang untuk berkembang dan bersaing dalam tataran global. Saat ini Bidang Geologi, Geodesi, Meteorologi dan Oseanografi bergabung dalam FITB, dan bidang Geofisika (GF) di FTTM.
Menurut penulis bidang – bidang tersebut merupakan ilmu yang sangat serumpun seharusnya berada dalam satu fakultas, sehingga permasalahan kuliah layanan dari satu prodi ke prodi lainnya tidak terkendala dengan masalah administrasi.
Masalah bidang Seismologi Gempa Bumi yang awal tahun 2016 masih dibahas dalam kepanitian gabungan FITB dan FTTM (penulis menjadi sekertaris panitia sebelum purnabakti 1 April 2016) karena pendidikan bidang tersebut masih diadakan di dua fakultas, yaitu: di Prodi Sains Kebumian (S2 dan S3) FITB dan di Prodi Teknik Geofisika (S1, S2, S3) FTTM. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan informasi dari hasil panitia tersebut. Secara teknis teman – teman yang menekuni bidang Seismologi Gempa Bumi yang tadinya dari Jurusan GM tapi saat ini berada di Teknik Geofisika merasa “kiprahnya” di Prodi Sains Kebumian (S2 dan S3) FITB secara administratif “tidak diakui” di FTTM. Masalah tumpang tindih keilmuan yang diuraikan diatas berkelindan dengan masalah pendidikan sains secara umum di Indonesia yang masih perlu dibenahi dan diperhatikan pengembangannya.
frasa penting atau foto
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
54