IV. Periode 2011-‐2015
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
78
Di ITB sendiri oleh Pimpinan ITB dibentuk Tim Teknis BLU ITB, dan disusun program penyesuaian sistem keuangan dan sosialisai sistem keuangan BLU dan penulis ditugaskan sebagai Koordinator Tim. Dilakukanlah beberapa sesi pertemuan khususnya dengan pengelola keuangan di unit kerja baik unit kerja UKA maupun UKP, diawali pertemuan akbar di Aula Barat yang dihadiri oleh seluruh pengeloa keuangan dan Pimpinan UKA & UKP. Pada petemuan tersebut selain paparan dari Tim Teknis BLU ITB, juga diundang sebagai Nara Sumber Pejabat dari Kemenkeu Ditjen Perbendaharaan c.q. Direktorat PPK BLU, yang kebetulan juga alumni ITB, sehingga suasana cukup cair.
Keadaan yang sepertinya kembali melangkah ke belakang, karena menggunakan sistem keuangan dijalankan seperti yang dijalankan ITB sewaktu sebelum BHMN, yaitu ITB sebagai Satuan Kerja (Satker) Pemerintah.
Hal ini untung tidak berjalan terlalu lama, Pemerintah bersama DPR pada tahun 2012 mengeluarkan UU baru pengganti UU BHP yaitu UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pada 10 Agustus 2012 dan pada tahun 2013 keluarlah PP no 65 tahun 2013 tentang Statuta ITB, yang merupakan realisasi dari hasil Tim Penyusunan Draft Statuta ITB yang bekerja setelah keluarnya UU 12/2012. Dalam salah satu pasal dalam draft Statuta ITB sebagai PTN BH tersebut diatur bahwa pengelolaan dana lestari dan pengelolaan usaha komersial, yang sewaktu era ITB BHMN dikelola dalam 2 wadah unit satuan di bawah MWA (SKD dan SUK) maka
dengan melihat operasionalisasi kedua unit tersebut sewaktu ITB B H M N d a n d e m i e fi s i e n s i pengelolaan maka kedua unit kerja tersebut dijadikan satu unit menjadi Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL), merupakan gabungan SKD dan SUK (di bawah kendali langsung Rektor) dan penulis ditugaskan memimpin BPUDL ITB mulai Agustus 2014, yang sebelumnya sudah ditugaskan memimpin SKD (mulai Agustus 2011) dan SUK (mulai Juni 2012).
Dalam menindaklanjuti UU 12/2012 Pemerintah juga mengeluarkan PP 53/2013 tentang bentuk dan mekanisme pendanaan PTN Badan Hukum yang kemudian direvisi dengan PP 26 pada tahun 2015.
K e a d a a n y a n g
s e p e r t i n y a k e m b a l i
melangkah ke belakang,
karena menggunakan
s i s t e m k e u a n g a n
dijalankan seperti yang
dijalankan ITB sewaktu
sebelum BHMN, yaitu
ITB sebagai Satuan Kerja
(Satker) Pemerintah. Hal
ini untung tidak berjalan
terlalu lama...
Untuk menindaklanjuti aturan ITB sebagai PTN Badan Hukum, pada tahun 2014 dibentuk Tim Penyusun Peraturan ITB BH dan kembali penulis ditugaskan menjadi Koordinator Tim. Tim ini bertugas menindaklanjuti PP 65/2013 yang mengamanatkan bahwa perlu adanya peraturan Rektor (sejumlah 12 peraturan) untuk melengkapi PP Statuta ITB PTNBH tersebut dan ke-‐12 peraturan Rektor ini harus sudah ditetapkan paling lambat 1 tahun s e t e l a h S t a t u t a I T B P T N B H diundangkan. Untuk merealisaikan
peraturan Rektor tersebut dilakukan Tim Koordinator dan Subtim Penyusun Peraturan Rektor (penulis ditugaskan oleh Pimpinan ITB sebagai Koordinator Tim). Dalam Tim ini melibatkan hampir semua Direktorat (Pendidikan, Perencanaan, Keuangan, Logistik, Sarana Prasarana, Kepegawaian, Kemitraan, Layanan Hukum, LPPM dan BPUDL). Target Tim ini yaitu sebelum 14 Oktober 2014 maka semua peraturan Rektor sesuai amanah Statuta ITB PTN BH harus sudah selesai, dan setelah melewati pertemuan dan perdebatan yang cukup konstruktif, semua peraturan Rektor yang diamanatkan PP 65/2013 dapat diselesaikan.
Terdapat imbas yang cukup dirasakan oleh pengelola Dana Lestari ITB sewaktu status ITB menjadi PTP (Perguruan Tinggi Pemerintah), yaitu adanya penundaan dari beberapa calon/donator atas kesepatan sebelumnya tentang penyampaian dana donasi untuk Dana Lestari ITB, dengan alasan yang dapat dimengerti. Muncul adanya anggapan di kalangan calon donator dana lestari ITB bahwa menyumbang dana lestari ITB, sama dengan menyumbang ke keuangan negara karena dana donasi tersebut akan masuk kategori PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Akibatnya sejumlah dana yang diharapkan dapat diterima pada tahun-‐tahun 2010,2011 dan 2012 menjadi tertunda dan bahkan ada yang dilakukan penjadwalan kembali, terutama yang berkaitan dengan dana donasi untuk penamaan gedung. Program penamaan 4 gedung merupakan percepatan yang signifikan setelah status ITB BLU berganti dengan ITB PTN BH, dimana semua dana yang dikelola bukan PNBP lagi.
Mulai tahun 2013 Pimpinan ITB mengeluarkan kebijakan dalam upaya meningkatkan budaya filantropi maka calon wisudawan (S1, S2 dan S3) diminta ikut kontribusi ke dalam Dana Lestari ITB (dikecualikan bagi calon wisudawan yang tidak mampu), sehingga mulai tahun 2013 dan seterusnya semua alumni ITB baru yang diwisuda mulai memberikan iuran donasi ke
Mulai tahun 2013 P i m p i n a n I T B m e n g e l u a r k a n kebijakan dalam
u p a y a
m e n i n g k a t k a n
budaya filantropi
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
80
Hal ini terus menerus dikomunikasikan kepada para calon donator, sehingga dalam program penggalangan Dana Lestari ITB, sampai akhir 2015 Dana Lestari ITB yang terkumpul dapat mencapai angka 114 Milyar rupiah. Dana Lestari tersebut diinvestasikan ke berbagai porto folio investasi di sektor keuangan, dengan menggunakan model hybrid yaitu ada yang dikelola sendiri (deposito, pembelian obligasi dan pembelian saham pada sesi IPO), dan ada yang bekerja sama dengan pihak ketiga (third party) management antara lain dengan para mitra pengelola Asset Management (berkisar 10-‐15 Perusahaan Aset Manajemen) yang diinvestasikan dalam berbagai bentuk Reksa Dana baik RD Pasar Uang, RD Saham, RD Pendapatan Tetap ataupun RD Campuran ataupun Perusahaan Sekuritas. Agar pengelolaan BPUDL lebih efektif dan efisien, yang sebelumnya merupakan unit satuan organisasi yang terpisah (kantor dan manajemen), di mana SKD ITB berkantor di Villa Merah Lantai 2 dan SUK ITB berkantor di Gedung Sabuga ITB lantai 2, maka mulai Agustus 2013 Kantor SKD dan SUK mulai disatukan di Villa Merah lantai 1 dan 2, dan selanjutnya menjadi kantor BPUDL ITB. Menyatukan dua kantor yang terpisah menjadi satu lokasi memerlukan upaya yang tidak mudah, perlu pendekatan dan komunikasi yang baik kepada berbagai pihak, mengingat ego unit kerja di ITB.
Pengelolaan unit usaha komersial ITB yang sebelumnya dalam koordinasi SUK ITB selanjutnya dikoordinasikan di bawah BPUDL ITB. Pengalaman penulis sewaktu ditugaskan menjadi anggota tim likuidasi 3 perusahaan mayoritas saham ITB pada tahun 2010 sampai d e n g a n 2 0 1 1 m e r u p a k a n pengalaman yang sangat berharga sewaktu ditugaskan di BPUDL khususnya pengelolaan unit-‐unit komersial ITB. Pada periode ini terdapat 14 unit usaha komersial ITB, terdiri dari 11 dalam bentuk PT dan 3 Non PT. Pesan yang selalu disampaikan kepada para pengelola unit usaha komersial ITB adalah a s p e k a k u n t a b i l i t a s d a n profesionalisme, agar tidak berulang ada perusahaan ITB yang terpaksa harus dilikuidasi karena m e n g a b a i k a n k e d u a a s p e k tersebut.