5.Interaksi Internasional
3. Menyemai “Ketentuan Agung” (“The Golden Rules”)
Berangkat dari keyakinan tersebut, dengan pemahaman ilmu Fisika yang selama diserap ini, serta niat yang kuat untuk dapat mengungkap pesan-‐pesan Sang Maha Pencipta melalui berbagai gejala fisika. Berawal dari perumusan gejala interaksi yang populer dinyatakan sebagai “aksi – reaksi” penulis mencari hubungan antara beberapa gejala alam. Muncul pertanyaan mendasar atas interaksi antara Bumi dan Bulan yang berkaitan dengan gaya-‐gaya yang berperan . Dihubungkan dengan gejala gasing yang berpresisi dengan membentuk sudut terhadap arah vertikal, terbersit idea adanya gaya momentum. Ide ini dituangkan dan disampaikan dalam seminar Internasional ICMNS tahun 2008 di ITB.
Pemikiran ini berproses terus dan mendapat inspirasi mendasar dari beberapa ayat al Qur’an. Tahun 2010 telah mulai dituliskan konsep utuh sebagai substansi yang mengintegrasikan sain, khususnya ilmu Fisika dengan pemahaman nilai-‐nilai al Islam. Pola fikir ini secara bertahap penulis tuangkan dalam format buku – buku, yang alhamdulillah telah diterbitkan oleh ITB Press. Buku ajar Fisika dengan judul
“Fisika Dasar , Pembahasan Terpadu” diterbitkan tahun 2013 . Menguraikan konsep nilai yang menjembatani kerangka fikir fisika dalam nilai-‐nilai islam diterbitkan buku judul “Muslim Kafah -‐1” tahun 2015 , dan judul “Muslim Kafah – 2” tahun 2018.
Inti dari keseluruhan hasil olah fikir ini dinyatakan sebagai “Ketentuan Agung” (“The Golden Rules”), yang menterjemahkan konsep – konsep ilmu fisika sebagai tuntunan kehidupan secara holistik. Rangkaian ketentuan seluruh proses oleh Sang Maha Pencipta yang mengikat seluruh ciptaan Nya , bukan hanya untuk wilayah ilmu Fisika semata, tetapi juga bagi sifat dan perilaku seluruh mahluk Nya.
Pemahaman terhadap “Ketentuan Agung” ini membentuk kerangka fikir (mindset) yang terpadu (integrated). Keterpaduan kerangka fikir mencakup makna berikut :
(i) Secara khusus , sifat dan perilaku gejala fisik berada dalam satu kerangka umum , artinya tidak ada sekat-‐sekat kamar perumusan dalam ilmu fisika seperti : mekanik, listrik , termal serta bidang-‐bidang turunan ilmu fisika lainnya. Setiap sifat memiliki perilaku dengan perumusan yang sama ; sehingga pembahasan ilmu fisika secara keseluruhan menjadi lebih sederhana. Suatu perumusan dengan gejala mekanika, listrik atau magnit merupakan contoh-‐contoh kasus saja. Dengan demikian, alokasi waktu (beban SKS) pembahasan (pembelajaran) fisika yang sama, akan dapat mencakup kedalaman materi yang lebih. Sudah barang tentu pula konsep ini tinggal diterapkan pada cabang bahasan fisika lainnya seperti : Mekanika Statistik, Mekanika Gelombang / Kuantum ,dan Mekanika Relativistik.
(ii) Lebih umum lagi, pemahaman ini berlaku sebagai dasar bagi pemahaman cabang ilmu lainnya, dalam ilmu social -‐ budaya , seperti : ilmu komunikasi , ilmu psychology , ilmu Ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagai contoh khusus telah ditunjukkan melalui pengembangan ilmu ekonomi . Ilmu ekonomi yang sampai awal dekade 1980 an hanya berkisar tentang konsep ekonomi mikro keuntungan, modal dan penjualan saja, selanjutnya berkembang pesat dengan lahirnya konsep interaksi dan keseimbangan dalam mekanisme pasar.
Pencetus konsep ini adalah pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi Gerard Debreu , tahun 1983. Konsep ini bersesuaian dengan teori elastisitas bahan di bawah pengaruh tekanan (stress) . Berikutnya pemenang hadiah nobel tahun 2012, Alvin E. Roth and Lloyd S. Shapley dalam konsep keseimbangan pasangan pelaku ekonomi.
(iii) Gejala Fisika dengan perumusan analitik maupun statistiknya, yang memiliki time respon sangat pendek dapat menginspirasi sebagai model dan solusi bagi ilmu pengetahuan lain yang pada umumnya memiliki parameter lebih banyak dan time respon lebih lambat. Semoga apa yang telah tersaji ini dapat membuka inspirasi berikutnya dalam menjalankan pengabdian melalui garba ilmiah .
***
Ketika lulus dari SMAN III Bandung pada tahun 1968, cita-‐cita untuk menjadi mahasiswa di kota Bandung sangat kuat. Pada masa tersebut seorang calon mahasiswa dapat mendaftar di beberapa universitas untuk jurusan yang diinginkannya, dan ITB dan UNPAD adalah 2 Perguruan Tinggi yang sangat diminati. Penulis berjanji pada diri sendiri bahwa dia akan mendaftar di universitas yang pertama mengumumkan dimana dia diterima. Saat itu pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang keluar pertama kali adalah ITB dan mendaftarlah penulis sebagai mahasiswa di ITB pada tahun 1969 dengan penuh semangat di jurusan Teknik Penyehatan, tanpa tahu apa itu jurusan Teknik Penyehatan, jurusan yang masih relatif baru. Sangat minim informasi tentang jurusan ini saat itu, meskipun di Amerika bidang tersebut sudah lama berkembang, dengan nama Sanitary Engineering Department.
Semula penulis menduga jurusan ini berkaitan erat dengan jurusan kedokteran karena menyandang kata “sehat”, namun ternyata dugaan itu keliru karena ternyata justru di dalam kurikulumnya terdapat beberapa mata kuliah teknik yang lebih dekat ke bidang teknik sipil. Kuliah pun sering bergabung dengan teman-‐
teman dari jurusan Teknik Sipil. Jurusan ini awalnya memang merupakan satu bidang peminatan di jurusan Teknik Sipil ITB. Penggagas lahirnya jurusan Teknik Penyehatan adalah 3 orang professor yaitu Prof. Mertonegoro dari UGM, Prof.
Mochtar dari UI dan Prof. R. Soetedjo dari ITB. Pada tahun 1962 lahirlah jurusan Teknik Penyehatan yang pertama di Indonesia yang merupakan cikal bakal pendidikan Teknik Penyehatan di Indonesia dengan Prof. Ir. R. Soetedjo sebagai ketua jurusan dan Ir Soepangat Soemarto sebagai sekretaris jurusan.
Dengan beberapa dosen senior seperti Ir Soetiman, dr. Juli S MPH., Ir. Moch.
Masduki, Ir. Harun Sukarmadidjaja MSc, Ir. Benny Chatib MSc dan lain-‐lain berlangsunglah pendidikan Teknik Penyehatan di ITB. Beliau -‐ beliau inilah yang telah mengawali dan mengembangkan bidang Teknik Penyehatan walaupun pada saat itu baru bidang penyediaan air minum dan bidang pengolahan air buangan yang banyak dipelajari, disamping hal-‐hal yang berhubungan dengan sanitasi dan kesehatan lingkungan.
ITB, Almamaterku tercinta ...
Tri Padmi
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
44
Waktu terus bergulir dan bidang Teknik Penyehatan terus berkembang. Pada tahun 1984 jurusan Teknik Penyehatan menyesuaikan diri dan berubah nama menjadi jurusan Teknik Lingkungan. Saat ini sudah lebih dari 60 Program Studi Teknik Lingkungan yang tersebar di universitas-‐universitas di seluruh Indonesia.
Hal ini mengindikasikan bahwa bidang Teknik Lingkungan berkembang dengan pesat dan sangat dibutuhkan dalam menghadapi pembangunan di Indonesia.
Sekitar 3400 sarjana Teknik Lingkungan telah dihasilkan oleh Departemen Teknik Lingkungan ITB saja untuk strata S1, S2 dan S3 pada saat ini dan tersebar di seluruh Indonesia dan telah berkarya untuk negara Indonesia dalam berbagai bidang pekerjaan.
Penulis menyelesaikan studi S1 pada bulan Oktober 1974. Setelah lulus dari jurusan ini, penulis mengawali kariernya sebagai asisten di Laboratorium Air di bagian Teknik Penyehatan sejak Januari 1975, atas tawaran dari Ir. R. Harjoko M.Sc yang saat itu menjadi Kepala Laboratorium Air ITB. Pada masa tersebut formasi menjadi PNS masih sangat kecil dan baru setelah 2 tahun bekerja yaitu pada awal tahun 1977 penulis diangkat menjadi CPNS. Banyak pengalaman diperoleh selama penulis bekerja di Laboratorium Air dibawah bimbingan beliau (alm. Ir. R.
Harjoko ), yang telah menanamkan rasa kedisiplinan dan tanggung jawab yang tinggi dalam bekerja sehingga hal tersebut terus tertanam dalam diri penulis.
Tahun 1981 penulis mendapat kesempatan melanjutkan studi di Perancis yaitu ENTPE di Valux-‐en Velin dan INSA de Lyon serta di Universitas Paris VII dan strata S3 diselesaikan pada tahun 1987.
Sangat banyak hal-‐hal penting dan indah dalam kenangan penulis. Satu kenangan pahit yang sulit terlupakan adalah ketika ITB diserbu dan diduduki tentara selama beberapa bulan pada tahun 1978. Adalah sosok Rektor ITB pada saat itu yaitu Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja yang dengan tenang penuh wibawa, berdiri di depan aula barat ITB, diantara kerumunan mahasiswa ITB saat itu, mengajak mahasiswa untuk tenang, telah berhasil meredam kemarahan dan amukan mahasiswa ITB saat itu akibat gugurnya seorang rekan mahasiswa ITB.
Penulis bertemu jodoh di ITB, di jurusan yang sama, dikaruniai 2 orang anak dimana 1 orang berkesempatan menempuh studi di UNPAR, dan seorang lagi mendapat kesempatan belajar di SAPPK ITB. Kedua universitas tersebut telah memberikan bekal ilmu untuk pekerjaan dalam kehidupan mereka.
Terima kasih ITB…….Saya selalu bangga dan tidak akan melupakan ITB sebagai almamater tercinta sampai kapanpun. ITB yang telah membesarkan dan memberi kesempatan kepada saya dalam memperoleh dan mengabdikan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan serta kesempatan berkarya untuk tanah air Indonesia tercinta. In Harmoniae Progressio……….
Diangkat menjadi PNS : 1 Januari 1977 Purnabakti : 1 Juni 2015