BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
2. Kitab Maulid Simtudduror 42
Kitab Maulid Simtudduror adalah kitab yang menjelaskan tentang sejarah nabi agung Muhammad. kitab ini menerangkan riwayat hidup nabi Muhammad dari lahir, diangkat seorang Rasul dan segala mukjizat-mukjizat yang didapatkan beliau. Kitab itu ditulis setelah kitab-kitab maulid yang telah masyhur terlebih dahulu seperti alBarzanji, adz-Dziba‟i, Burdah dan lain-lain.
Walaupun esensi kitab Simtudduuror tidak berbeda dengan kitab-kitab maulid yang telah ada, tetapi Simtudduror mempunyai gaya penulisan sendiri. Kitab Maulid Simtudduuror sebagai karya sastra pun patut untuk dinikmati. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menulisnya dengan cita rasa syair yang tinggi.
Kitab Maulid simtudduror terdiri dari beberapa pasal yang dipisahkan dengan sigot salawat (Allahumma salli wa sallim asrafa solati wa taslim ala sayyidina wa nabiyyina muhammadinirr
‟aufurrahim).41 Adapun susunan isi dalam Kitab Maulid Simtudduuror adalah sebagai berikut:
1) Shalawat pertama: mencakup bentuk-bentuk salawat nabi 2) Shalawat kedua: juga mencakup bentuk-bentuk salawat nabi.
3) Pasal yang pertama merupakan mukadimah dari kitab tersebut
Volume 1 Nomor 1, Juni 2021, Hal 22-23.
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/iqra/article/view/5802
41 Achmad Syukron Abidin,(2020), Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Kitab Simthu Ad-Durar Karya Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi: An-Nur Jurnal Studi Islam, Vol X, No. 2,Hal 170.
https://jurnalannur.ac.id/index.php/An-Nur/article/download/87/85/375
yang berisi tentang syukur dan pujian kepada Allah SWT yang memberikan nikmat paling agung yang diberikan kepada manusia seisinya atas terciptanya nabi Muhammad.
4) Pasal ke dua berkaitan tentang pujian dan tasbih kepada Allah SWT atas penciptaan nabi Muhammad.
5) Pasal ketiga mencakup tentang kedua syahadat dan tawasul dengan shalawat.
6) Dalam pasal keempat Habib Ali menerangkan kekhususan dan keistimewaan nur Muhammad. dikatakan di dalamnya bahwa dikarenakan nur Muhammad wujudlah segala yang ada.
Diceritakan pula bahwa nur Muhammad berpindah-pindah dari tulang rusuk satu ke tulang rusuk yang lain, sampai kepada rahim Aminah kemudian lahirlah nabi Muhammad.
7) Pasal kelima mencakup tentang keutamaan dan keistimewaan nur Muhammad yang berpindah-pindah.
8) Pasal keenam mencakup kemuliaan nur Muhammad sebelum dilahirkan oleh ibu tercinta yaitu Aminah.
9) Pasal ketujuh menerangkan tentang kisah yang menakjubkan sebelum detikdetik kelahiran Nabi Muhammad.
10) Pasal kedelapan adalah mahalul qiyam yang berisi tentang pujian kepada Nabi Muhammad.
11) Pasal kesembilan adalah pasal yang berisi tentang keajaiban- keajaiban berbarengan dengan lahirnya Nabi Muhammad.
12) Pasal kesepuluh mencakup masa-masa kepengasuhan nabi Muhammad yang juga terdapat keajaiban-keajaiban pada masa kepengasuhan di bawah Halimah.
13) Pasal kesebelas menerangkan masa pertumbuhan nabi Muhammad hingga iya di datangi malaikat yang datang padanya.
14) Pasal kedua belas adalah pasal yang berisi tentang ajakan dakwah nabi dan mukjizat-mukjizat yang dimiliki nabi.
15) Pasal yang ketiga belas adalah pasal yang secara khusus menceritakan isra‟ mi‟raj nabi Muhammad tentang keajaiban dan kemuliaan yang mencapai maqam tertinggi di antara makhluk Allah SWT.
16) Pasal keempat belas menerangkan tentang akhlak kemuliaan Nabi Muhammad.
17) Pasal kelima belas mencakup kemuliaan akhlak nabi Muhammad 18) Pasal keenam belas adalah pasal berisi doa dan tawasul.42
b. Sejarah Penulisan Kitab Maulid Simtudduror
Kitab Simtudduror ditulis oleh Habib Ali Bin Muhammad Al- Habsyi ketika berusia 68 tahun. Pada hari Kamis tanggal 26 shafar 1327 H/18 Maret 1909, Habib Ali mendiktekan paragraf awal Maulid Simtudduror setelah memulainya dengan basmalah, yakni mulai dari al- hamdu lillahil qawiyyi sulthanuh dan seterusnya hingga wa huwa min fawqi ilmi ma qad ra-athu rif‟atan fi syu-unihi wa kamala.
42 Achmad Syukron Abidin, Hal 171-172.
Setelah pendahuluan dibacakan, Habib Ali berkata”Insya Allah aku akan menyempurnakannya. Sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kisah maulid”. Pada hari selasa awal Rabi‟ul awwal 1327 H/23 Maret 1909 M. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi memerintahkan agar maulid yang telah ditulis dibaca, Habib Ali membukanya dengan Fatihah yang agung. Kemudian pada malam rabu, 9 Rabi‟ul Awwal, Habib Ali mulai membaca maulidnya di rumah beliau setelah maulid itu di sempurnakan. Habib Ali berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai di ciptakan”.
Pada hari Kamis 10 Rabi‟ul Awwal 1327 H/1 April 1909 M, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menyempurnakan lagi. Pada malam sabtu, 12 Rabi‟ul Awwal 1327 H, Habib Ali membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid „Umar bin Hamid as-Seggaf. Sejak hari itu Habib Ali kemudian membaca maulidnya sendiri: Simtudduror.
Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi mengatakan “jika seseorang menjadikan kitab maulidku ini sebagai salah satu wirid atau menghafalnya maka, maka sir atau rahasia junjungan nabi Muhammad akan nampak pada dirinya. Aku mengarang dan mengimlakkanya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan nabi Muhammad SAW. Pujianku kepada Nabi Muhammad dapat di terima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam surat- suratku, ketika aku menyifatkan Nabi Muhammad, Allah membukakan
kepadaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Dalam surat- suratku ada sifat agung Nabi Muhammad, andaikan nabhani membacanya, tentu ia akan memenuhi kitab-kitabnya dengan sifat-sifat yang agung.43
3. Biogari Al-Habib Ali Bin Muhammad Bin Husain Al-Habsyi
Al-Habib Al-Iman Al-„Allaamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum‟at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya, ayahanda: Al-Imam Al-„arif-billah Muhammad bin Husain bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As- syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Haadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang shalih dan amat bijaksana.
Adapun silsilah Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut: „Alī bin Muḥammad Bin Ḥusein bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah bin Muḥammad Bin Ḥusein bin Ahmad Shahib Asy-Syib bin Muḥammad Asghar bin Alwi bin Abu Bakar al-Ḥabsyī bin „Alī bin Ahmad bin Muḥammad „Asadullah bin Ḥasan at-Turabi bin „Alī bin alFaqih al- Muqaddam Muḥammad bin „Alī bin Muḥammad Shahib Mirbath bin „Alī Khalī Qasam bin Alwi bin Muḥammad bin Alwi bin Ubaidillah bin al- Muhajir Ahmad bin Isa bin Muḥammad Nagib bin „Alī al-Uraidhi bin Ja‟far as-Sadiq bin Muḥammad al-Baqie bin „Alī Zainal „Abidin bin
43 Achmad Syukron Abidin, Hal 170.
Ḥusein bin Fatimah az-Zahra binti Muḥammad shalallahu „alaihi wa sallam bin Abdillah.
Sejak kecil Habib Ali dididik langsung oleh kedua orang tuanya.
Namun pada usianya yang ke-7 ayahnya yakni Habib Muhammad berangkat ke Makkah dan tinggal di sana. Sehingga kepengasuhan Habib Ali langsung dipegang oleh ibundanya yaitu Habibah Alawiyyah dan para guru yang ada di sekitar tempat kelahirannya. Atas permintaan sang ayah yaitu Habib Muhammad, pada usia 17 tahun Habib Ali berangkat ke Makkah bersama rombongan haji dan belajar selama dua tahun. Setelah itu Habib Ali kembali ke Seiwun dan mengambil ilmu dari tokoh-tokoh ulama di sana. Pada usia yang amat muda, Habib Ali telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur‟an dan berhasil menguasai ilmu zhahir dan bathin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu.
Nama Habib Ali begitu terkenal sehingga beliau diangkat menjadi Imam di Masjid Hambal. Beliau menjadi imam di sana selama tiga puluh tahun lamanya, selama itu beliau mengajarkan ilmu lahir dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu batin. Hal ini sesuai dengan pesan gurunya yaitu Habib Abu Bakar, “Syarat pertama yang aku ajukan kepadamu (Habib Ali) adalah bahwa kau harus terus mengajarkan ilmu zhahir, dan tidak boleh menyibukkan diri dalam ilmu bathin.” Masjid itu pun begitu ramai dengan orang yang beribadah dan menuntut ilmu, hingga Habib Ali mempunyai ar-ribath (pondok pesantren).44
44 Achmad Syukron Abidin, Hal 166.
Dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, pada usia ke- 37 tahun Habib Ali membangun “ar-Ribath” (pondok pesantren) di Seiwun. Ar-Ribath ini merupakan ribat yang dibangun pertama kali di Hadramaut. Ribat ini dibangun dan di khususkan bagi penuntut ilmu yang datang dari dalam ataupun luar kota. Ribath itu menyerupai masjid dan terletak di sebelah timur halaman masjid „Abdul Malik. Habib Ali membangun beberapa kamar di lantai atas dan bawah serta fasilitas lainnya guna tempat tinggal mereka yang menuntut ilmu.
“Ar-Ribath” ini begitu sering dikunjungi orang-orang yang menuntut ilmu. Ketika seseorang telah menyelesaikan pelajarannya, maka aka nada orang yang lain yang menggantikannya. Ribat ini sangat ramai sehingga Habib Ali mendengar gemuruh orang-orang yang membaca al- Qur‟an, berzikir dan belajar.
Selain aktif berkegiatan dakwah dan penyebaran ilmu secara langsung, Habib Ali juga menggemakan syiar islam lewat pena. Selain Kitab Maulid Simtudduror, banyak juga karya lainnya, baik yang disusun langsung olehnya maupun oleh murid-murid, para pengikut, dan keturunannya. Di antaranya adalah kitab-kitab kumpulan amalan yang berisi wirid, hizib, ratib, dan lain-lain, yang sebagian besar berasal dari Al-
Qur‟an, hadits dan amalan para ulama terkemuka.
Seiring dengan usianya yang semakin bertambah penglihatan beliau semakin kabur. Hingga dua tahun sebelum wafatnya beliau, penglihatan beliau hilang sama sekali. Keadaan kesehatan beliau pun semakin buruk.
Akhirnya pada waktu Zuhur hari Minggu 20 Rabi‟u as-Sani 1333 H beliau dipanggil oleh Allah SWT. Pada waktu Ashar keesokan harinya, jenazah beliau dishalatkan di halaman masjid Riyad yang diimami oleh anak beliau, Habib Muhammad, jenazahnya dimakamkan di sebelah barat masjid Riyad.
Dalam wasiatnya Habib Ali menunjuk putra beliau yaitu Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi sebagai pengganti khalifahnya.45
Dalam perkawinannya dengan seorang wanita Qasam, Habib Ali di anugerahi Allah SWT seorang anak yang dinamainya Abdullah. Dan dari perkawinannya dengan Hababah Fatimah binti Muhammad bin Segaf Mulachela, beliau di anugerahi empat anak yaitu Muhammad, Ahmad, Alwi, dan Khadijah.
Di antara putra-putranya yang paling dikenal di Indonesia adalah putranya yang bungsu, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid Riyadh di Gurawan, Solo (Surakarta). Ia dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah lembut, sopan dan santun, serta ramah tamah terhadap siapa pun, terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu.
Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.
Habib Alwi bin Ali putra dari Habib Ali al-Habsyi setiap tahunnya menyelenggarakan Haul di kota Surakarta. Habib Alwi-lah yang pertama kali menggelar Haul sang ayah. Masyarakat dari berbagai daerah datang menghadiri Haul. Haul tersebut di isi dengan ceramah, nasihat, dan pidato
45 Achmad Syukron Abidin, Hal 167.
ilmiah. Beliau tinggal dan melanjutkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh ayahnya di Surakarta.
Selain berdakwah keliling kota, sehingga muridnya menjangkau ribuan orang dan merata di berbagai tempat. Disana di bangun masjid Ar- Riyadh beserta Ribath atau zawiyah semacam pesantren dan tempat pengajian ala Hadramaut sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Di masjid Riyadh itulah Habib Alwi menyelenggarakan kegiatan ibadah dan taklim.
Masjid tersebut dibangun pada tahun 1953. Habib Alwi wafat di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi‟ul Awwal 1373H, bertepatan dengan 27 November 1953 M, dan dimakamkam di kota Solo. Setelah Habib Alwi wafat, kepemimpinan masjid Riyad di Solo berbindah kepada Habib Anis bin Alwi al-Habsyi. Dan sekarang sudah digantikan oleh Habib Husain bin Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi. Tradisi Haul Habib Ali masih ada sampai sekarang.
51 BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian dapat digambarkan sebagai prosedur dan metode untuk meneliti, merumuskan, mengumpulkan data, menganalisis, membahas, dan menyi mpulkan masalah yang menjadi fokus penelitian.46 Pada tahap ini peneliti akan menjelaskan beberapa teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini.