Bagan I. Kerangka Berpikir Guru
C. Pembahasan Penelitian
2. Kompetensi Kepribadian
oleh Guru Penjasorkes maka dengan mudah untuk mengantarkan siswa agar mengerti kepada pemahaman yang ringkas dan tepat baik secara teori maupun secara praktek e. Komunikasi.
Komunikasi dengan perencanaan pembelajaran yang berhubungan dengan pemilihan media dan sumber belajar. Hal ini dapat dilihat dari pembuatan perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Perjasorkes dilihat dari aplikasi perencanaan pembelajaran ini sudah terlaksana dengan baik dan optimal.
Apabila seorang Guru Penjasorkes berkomunikasi berarti siswa yang menerimapun akan salah menyerap terhadap komunikasi yang disampaikan oleh guru yang berhubungan dengan materi pembelajaran, sehingga dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan dari proses pembelajaran tersebut.
Kualitas kerja dapat dilihat dalam keribadian seorang Guru Penjasorkes. Pelaksanaan pembelajaran yang berhubungan dengan kepemimpinan dan membimbing siswa dalam proses pebelajaran, dimana Guru Penjasorkes melaksanakan pembelajaran dengan efektif dan efisien. Dan setelah berakhirnya proses pembelajaran terlihat adanya perubahan tingkah laku pada diri siswa.
Tugas guru dalam proses pembelajaran adalah membimbing siswa dan memberikan pembelajaran agar dapat tercapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan.
Memberikan perhatian yang penuh terhadap pelaksanaan pembelajaran, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, dan ini merupakan salah satu upaya bagi seorang guru dalam meningkatkan kualitas kerjanya. Sehingga dalam proses pembelajaran tidak lagi di temui adanya siswa yang merasa tertekan karena tidak menyenangi mata pelajaran penjasorkes ini.
Memimpin berarti Guru Penjasorkes adalah sebagai contoh yang akan ditiru oleh siswa dalam proses pembelajaran.
Baik itu gerakan, ekspresi dan tingkah laku guru dalam menyajikan materi pelajaran yang diberikan kepada siswa.
Sedangkan membimbing, guru berusaha untuk menuntun siswa
Penjasorkes dengan mengarahkan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas gerakan yang dilakukan. Semuanya ini mempunyai hubungan timbal balik yang sangat mempengaruhi dari hasil proses pembelajaran.
b. Ketepatan.
Disini yang dimaksud dengan ketepatan adalah ketepatan menyesuaikan antara tingkah laku sebagai seorang Guru Penjasorkes dengan materi serta mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia. Dalam pembelajaran lebih lanjut hendaknya Guru Penjasorkes menggunakan media atau alat dalam pembelajaran sesuai materi yang diberikan sebagai penambah pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
Ketepatan antara metode mengajar dan materi pelajaran yang diberikan kepada siswa akan memberikan suatu pemahaman yang cukup baik bila guru penjasorkes memadukannya dengan tepat dan benar. Bila dalam pembelajaran ada suatu materi yang sulit, guru harus menggunakan materi yang disesuaikan pada tingkat kesulitan yang ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dengan pemakaian metode pembelajaran bagian, yang dimulai dengan gerakan yang mudah ke yang sulit, tapi bila dilihat secara keseluruhan siswa sudah dapat melakukannya
dengan metode menyeluruh. Hal ini dilakukan untuk memancing timbulnya kreatifitas siswa, dan siswa merasa adanya tantangan dalam mencari suatu makna gerakan yang akan guru capai dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dengan kemampuan guru yang menggunakan bermacam-macam metode pembelajaran dapat menimbulkan suasana pembelajaran Penjaskes yang penuh tantangan dan kreatifitas siswa meningkat, karena siswa merasa adanya tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran yang guru sajikan.
Tentu ini tidak mengabaikan bahwa tidak semua siswa dapat melakukannya sesuai dengan harapan Guru Penjasorkes .
Hal ini berhubungan dengan adanya keragaman dan karakteristik siswa yang berbeda-beda tetapi kuncinya adalah guru bisa menyesuaikan metode dan materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan karakteristiknya.
Dengan melihat masalah ini dengan cermat dan teliti Guru Penjasorkes dapat meningkatkan kualitas kerjanya tanpa ada kendala apapun.
c. Inisiatif.
Dalam pelaksanaan pembelajaran inisiatif berhubungan dengan cara guru penjasorkes dalam mengatur dan mengubah suasana pembelajaran. Guru penjasorkes tentu dapat melihat
Inisiatif dalam pelaksanaan pembelajaran dimana Guru Penjasorkes tidak terpaku dengan satu cara saja dalam menghidupkan suasana pembelajaran. Guru Penjasorkes dapat mengubah suasana pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lingkungan sekolah.
Kalau kita lihat pada saat ini banyak sekali sekolah yang sarana dan prasarananya kurang memadai. Guru yang tidak tergantung dengan kelengkapan sarana dan prasarana tersebut, tetapi guru dapat memodifikasi dari suasana pembelajaran kearah suasana yang lebih maju dengan menggunakan inisiatif untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih kondusif. Melalui penerapan dan keterampilan yang dimiliki oleh Guru Penjasorkes yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah tersebut.
Dalam pembelajaran Guru Penjasorkes dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran dengan berbagai ketrampilan yang disesuaikan dengan tepat oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru Penjasorkes tentu sudah mampu memperkirakan dan dapat memperhitungkan dengan melakukan penilaian terhadap lingkungan dan situasi sekolah, dan memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan unsur-
menyiapkan perencanaan dalam proses pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.
d. Kemampuan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran kemampuan yaitu bagaimana Guru Penjasorkes dalam menetapkan dan mengubah urutan kegiatan belajar. Pada saat pelaksanaan pembelajaran guru perlu menetapkan berbagai metode, pendekatan serta strategi pembelajaran. Dan pada saat praktek di lapangan penyajian guru terhadap suatu materi pelajaran harus pula memperhitungkan kemampuan keterampilan dan teknik yang dimiliki oleh guru dalam melaksanakannya pembelajaran tersebut. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan hendaknya pelaksanaan dapat berjalan secara sistematis mulai dari pembukaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada setiap pelaksanaan pembelajaran baik untuk materi yang bersifat teori maupun praktik, guru dapat memperhatikan kemampuan dan karakteristik siswa.
Dan dalam proses pembelajaran, Guru Penjasorkes harus menata pembelajaran, agar siswa dapat bergerak dan berpindah dari satu keterampilan ke keterampilan yang lain, dari satu tingkat penampilan gerak kepada tingkat penampilan gerak yang lain. Ini semua merupakan tahap dari proses
Penjasorkes dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan efisien.
e. Komunikasi.
Pada saat pelaksanaan pembelajaran Guru Penjasorkes sering dihadapkan dengan masalah, yaitu kurangnya perhatian siswa terhadap materi yang akan disampaikan oleh guru pada saat proses pembelajaran. Jika hal ini terjadi guru dapat mengatasinya dengan salah satu cara yaitu pada saat proses pembelajaran berlangsung guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan singkat dan bisa saja dikemukakan diantara kegiatan-kagiatan pelaksanaan pembelajaran. Jika hal ini dilakukan atau di laksanakan salain menghemat waktu dapat juga untuk mengurangi kebosanan siswa .
Komunikasi dalam pembelajaran memegang peranan yang penting, karena disinilah guru dapat melihat pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran yang di sampaikannya.
Siswa akan lebih merasa mengerti apabila mereka tahu terlebih dahulu tentang apa yang akan ia lakukan, dan apa yang akan dia capai . Untuk itu Guru Penjasorkes yang telah di sertifikasi haruslah serius dan memperhitungkan dalam menyampaikan informasi kepada siswa yang berhubungan dengan materi pembelajaran yang akan disajikan. Dengan mengurutkan
komunikasi antar guru, materi atau bahan pelajaran dan siswa.