Bagan I. Kerangka Berpikir Guru
C. Pembahasan Penelitian
4. Kompetensi Profesional
Profesional merupakan suatu kemampuan yang harus di miliki oleh seorang Guru Penjasorkes. Hal ini merupakan suatu pola dan metode untuk memberikan suatu informasi dan pengetahuan yang harus di lakukan bagi seorang pendidik.
yaitu:
a. Kualitas kerja.
Kualitas kerja yang akan dilihat dalam profesional seorang pendidik akan terlihat hasil yang baik. Guru tidak akan terlihat ragu dan bingung dalam proses pembelajaran.
Seorang guru yang profesional akan menghasilkan hasil yang baik. Mereka tidak akan merasa minder dalam memberikan pembelajaran.
Guru yang frofesional siap menguasai materi baik teori maupun praktek sehingga dapat di lihat dan diikuti oleh siswa untuk proses pembelajaran.
b. Kemampuan.
Dari segi kinerja kemampuan dapat dilihat dari cara memberikan materi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Kemampuan seorang Guru Penjasorkes yang profesional akan terlihat di lapangan dengan penguasaan materi yang di miliki oleh Guru Penjasorkes.
c. Inisiatif.
Dalam kompentensi seorang guru yang profesional sangat baik, guru tersebut akan dapat menemukan ide ide pembelajaran dengan baik dan guru professional akan dapat
dengan pengetahun yang baik.
Guru yang profesional akan menemukan ide ide baru untuk menunjang pembelajaran di sekolah ia tidak akan terpaku dengan metode yang sudah ada. Sehinga proses pembelajaran di sekolah terlaksana dengan baik.
d. Ketepatan.
Yang dimaksud dengan ketepatan pada guru yang profesional adalah ketepatan sasaran dalam penyampaian informasi tentang materi pembelajaran pendidikan jasmani.
e. Komunikasi.
Dalam pelaksanaan pembelajaran komunikasi pada saat melakukan proses pengajaran sangat penting untuk kelancaran proses pembelajaran berjalan dengan baik.
Komunikasi sangat di perlukan karena dengan mengkomunikasikan sebuah informasi merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang sebuah pembelajaran di sekolah. Seorang guru olahraga yang profesional harus mampu mengkomunikasikan ilmu kepada siswa agar proses pembelajaran berjalan dengan baik.
Berdasarkan temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan maka penulis mengemukakan beberapa saran untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi berbagai pihak yang terlibat dalam menyelenggarakan pendidikan di seluruh SMA Negeri di Kota Pekanbaru, peneliti mengajukan saran kepada:
1) Guru Penjasorkes agar:
a. Dalam pembuatan perencanaan pembelajaran hendaknya guru penjasorkes harus selalu merevisi ulang seluruh satuan dan rancangan pembelajaran yang sudah lama dipakai, dengan mengganti satuan dan rancangan pembelajaran yang baru sesuai dengan kurikulum yang terbaru, dengan mempertimbangkan kondisi dan situasi siswa terhadap bakat dan minat siswa.
b. Dalam melakukan aktifitas mengajar perlu menjaga hubungan dengan masyarakat sekitarnya dan lingkungan sekolah agar hubungan sosial terjaga dengan baik.
c. Dalam membuat isi perencanaan pembelajaran hendaknya Guru Penjasorkes yang profesional juga memperhitungkan situasi dan kondisi sekolah yang dalam segi iklim dan cuaca.
Ini dilakukan supaya guru dapat mengantisipasi kendala- kendala yang datang pada saat pelaksanaan pembelajaran dilaksanankan .
Penjasorkes yang profesional lebih selektif dalam memilih metode, media, model pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran itu dapat dicapai dengan baik dan sesuai dengan apa yang di harapkan.
e. Perlu adanya inisiatif dari pihak Guru Penjasorkes yang profesional untuk menambah wawasan tentang cara pembuatan butir-butir evaluasi dengan membaca buku-buku petunjuk atau buku-buku panduan yang telah diberikan yang berhubungan dengan proses pembelajaran penjasorkes.
2) Kepala sekolah supaya:
a. Agar lebih memonitor dan membimbing serta mengarahkan guru-guru. Khususnya guru mata pelajaran Penjasorkes yang, dalam membuat perencanaan pengajaran dengan baik sesuai dengan tuntunan yang ada, supaya dapat meningkatkan kualitas kinerja Guru Penjasorkes yang profesional.
b. Memberikan kesempatan kepada Guru-guru Penjasorkes khususnya untuk dapat mengikuti berbagai seminar, loka karya. Penataran pelatihan olahraga yang selalu diadakan baik dalam Propinsi Riau maupun diluar propinsi Riau.
c. Kepala sekolah diharapkan untuk sering mengadakan dialog dengan guru penjasorkes tentang kesulitan dan permasalahan yang ditemui mereka dan dapat mencarikan solusi dalam
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.
d. Memberikan guru penjaskes pelatihan keterampilan yang berhubungan dengan bidang studi Penjasorkes, khusus keterampilan teori dan praktek dilapangan dengan mendatangkan instruktur yang lebih ahli, agar Guru Penjasorkes dapat meningkatkan kualitas gerakan yang baik dan benar.
Ahmad Sanusi, dkk 1991, Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional, Tenaga Pendidikan Bandung : Depdikbud IKIP
Aqib, Zainal 2002 Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran Surabaya: Insan Cendikia
Gusril, 2008, Model Pengembangan Motorik Pada Siswa Sekolah Dasar, UNP, UNP press
Helmi, 2001 Tesis, Proses Pembelajaran Bahasa Inggris di Madrasah Tshanawiyah Padang, Sumatera Barat
Kunandar, 2007 Guru Profesional, Rajawali Pers, Jakarta
Kunandar, 2004 Penilaian Berbasis Kompetensi dalam Kurikulum 2004
“Buletin LPMB DKI Jakarta, Volume 1 Nomor 1 Mei 2004 Lutan, Rusli 2002, Supervisi Pendidikan Jasmani, Jakarta, Depdikbud.
Maizar, 1997 Meneliti Tentang Kemampuan Mengajar Guru STM: Suatu Penelitian Kualitatif Di Sumatra Barat Menemukan Kemampuan Mengajar Guru
Sondang, Siagian 2000, Manajemen Sumberdaya Manusia, Jakarta, Bukmi Aksara
Spadley, James. P 1980. Participant Of Observation, New York; Rinehear and Winston
Subhamis 2002, Kinerja Guru Sekolah Tingkat Pertama Negeri Bukittinggi Dari Segi Motivasi Berprestasi dan Komunikasi antar Pribadi. Tesis Padang: Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
Sudjana, Nana 2002, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah Bandung, Sinar baru.
Sujanto Bedjo, 2007 “Guru Indonesia dan Perubahan kurikulum” Jakarta, Sagung Seto.
Sagala, Syaiful, 2009 “Kemampuan professional Guru dan Tenaga Kependidikan” Alfabeta , Bandung
Dan Kesejahtraan Guru” PGRI DKI Jakarta.
Undang-undang RI no 14 tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen, Bandung. Citra Umbara
Undang-undang RI no 74 tahun 2008 Tentang Guru dan Dosen, Bandung.Citra Umbara
Undang-Undang RI No 20 Tahun 2006 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta
Uno, Hamrizal 2007. Tesis, Profesionalisme guru biologi di SMP Negeri Batusangkar, UNP, Padang
Wibowo, 2007 Manajemen Kerja, Jakarta, Raja Prapindo Persada
Lampiran 1
Pertanyaan Penelitian
1. Dari apa yang di bicarakan peneliti dengan bapak AB Guru Pejasorkes SMA Negeri 3 Pekanbaru pada tanggal 04 Februari 2010 pada jam 7.30 sebagai berikut: sebagai Guru Penjasorkes apakah bapak membuat perangkat pembelajaran ?
“Saya sebagai Guru Penjasorkes membuat perangkat-perangkat pembelajaran seperti; program tahunan, program semester, rincian minggu efektif, silabus, dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) dan saya juga memiliki absensi, daftar nilai. Yang dituntut untuk mempersiapkan pada awal tahun ajaran”
2. Untuk mencari kebenaran dari guru AB peneliti mewawancarai Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Pekanbaru Ibu YM, di ruangan kerjanya saya menanyakan kepada Kepala Sekolah, Ibu, apakah bapak AB sebagai Guru Penjasorkes menyiapkan perangkat pembelajaran?
“Di SMA Negeri 3 ini seluruh guru mata pelajaran wajib membuat perangkat pembelajaran seperti; program tahunan, program semester.
Rincian mingguan efektif, silabus dan RPP, tidak kecuali Guru Penjasorkes sebab awal tahun pembelajaran itu sudah terkumpul minimal untuk satu semester”.
3. Belum puas sampai disitu peneliti mewawacarai wakil kepala sekolah urusan kurikulum, Bapak MR, Pak apakah bapak AB menyerahkan perangkat pembelajaran di awal tahun sebagai mana yang dikompirmasikan kepala sekolah.
“Saya sebagai wakil kepala sekolah urusan kurikulum awal tahun minggu pertama tahun ajaran sudah mengumpulkan perangkat pembelajaran dari guru-guru mata pelajaran mulai dari: program tahunan, program semester, rincian minggu efektif, selabus, RPP dan nilai ulangan harian di akhir bulan. Kalau bapak ingin melihat ini arsipnya”
4. Di tempat terpisah penulis juga mewawancarai seorang siswa kelas XI 4 IPS yang diajar oleh bapak AB yaitu Erik Febrian.Erik bagaimana bapak AB mengajar Penjasorkes menurut Erik?
“Menurut saya bapak AB mengajar bagus, tidak membosankan banyak fariasi dan juga disiplin dalam waktu. Siswa dekat dengan bapak AB namun juga disegani”.
5. Tepatnya pada tanggal 11 Februari 2010 jam 16.00 peneliti masuk ke SMA Negeri 8 Pekanbaru menenyakan kepada bapak IM sebagai Guru Penjasorkes sebagai berikut: Bapak sebagai Guru Penjasorkes apakah bapak membuat perangkat pembelajaran.
“Saya yang mengajar di sekolah bertaraf Internasional banyak tuntutan dari Sekolah mengenai perangkat pembelajaran seperti; program tahunan, program semester, RPP, Silabus, pemetaan, kisi-kisi soal, perangkat pembelajaran ini di diskusikan sesama guru mata pelajaran sejenis atau MGMP di lingkungan”.
6. Untuk mengetahui benar tidaknya apa yang disampaikan bapak IM peneliti mengkompirmasikan langsung dengan kepala Sekolah yang kebetulan sore itu berada di Sekolah, saya menuju ke ruangan kerjanya dan penulis di persilakan masuk, saya langsung duduk dan bapak NF menanyakan kepada peneliti apa yang bisa saya bantu. Peneliti langsung kepada masalah tadi, dilapangan saya mewawancarai bapak IM tentang perangkat pembelajaran, kata bapak IM dia harus menyiapkan perangkat seperti; program tahunan, program semester, RPP, Silabus, pemetaan, kisi-kisi soal, perangkat pembelajaran ini di diskusikan sesama guru mata pelajaran sejenis atau MGMP di lingkungan. Bagai mana menurut bapak apa yang disampaikan bapak IM, sejauh mana kewajiban guru-guru membuat perangkat pembelajaran.
“Segala apa yang disampaikan bapak IM tersebut itu adalah merupakan kewajiban seorang guru yang mengajar di Sekolah ini.
Perangkat-perangkat tersebut jauh hari sebelum proses belajar mengajar berlangsung, maksudnya pada awal tahun pembelajaran, semua perangkat ini sudah di serahkan kapada wakil kepala sekolah urusan kurikulum. Kemudian disekolah ini tidak ada istilah guru yang tidak membuat perangkat pembelajaran termasuk guru penjasorkes karena dia sama kewajibannya dengan guru mata pelajaran lainnya.
Kalau bapak ingin tau tanyakan langsung ke bagian kurikulum”.
7. Keesokan harinya Rabu tanggal 25 Februari 2010 peneliti datang ke SMA Negeri 8 Pekanbaru untuk mewawancarai salah seorang ibu guru EW namanya, untuk memberikan tanggapan mengenai bapak IM bagai mana diri kepada ibu EW , saya melakukan penelitian disekolah ini, jadi saya ingin mendapatkan imformasi dari ibu tentang bapak IM ibu tahu
dengan bapak IM ? oh ya dia kan Guru Penjasorkes disini, menurut ibu sbagai mana dia melaksanakan tugas disini?
“Saya tau bapak IM orangnya disiplin dan senantiasa mengajar tepat waktu baik pagi maupun sore hari, seluruh guru disini punya persiapan untuk mengajar karena itu adalah tugas wajib guru disini menyerahkan perangkat pembelajaran, dan bapak IM disukai oleh siswa disini karena dia mempunyai bermacam cara untuk mengajar selain propesinya Guru Penjasorkes dia juga staf kesiswaan disini jadi sosoknya bagus dan patuh aturan”
8. Pada tanggal 04 Maret 2010 pukul 08.30 penulis pergi ke SMA 4 yang jaraknya lebih kurang 5 km dari SMA 8, melihat bapak AM yang mengajar pada jam pelajaran 3-4 dan penulis sampai disana jam 09.00 sedangkan bapak AM baru mulai jam 09.45, penulis lansung mengamati bapak AM mengajarkan permainan bola voli pada kelas X4 dengan 5 buah bola untuk murid 32 orang bapak AM mengajarkan service bawah itu dari pengamatan saya, dari apa yang diajarkan bapak AM pada siang hari yang mata hari sudah bersinar dengan teriknya, bapak AM terus saja mengajar dengan bersemangat, murid mengikuti dengan semangat juga. Dari cara bapak AM mengajar dia memberikan pemanasan (worming up) dan latihan inti kemudian meng absen siswa.
Selesai mengajar peneliti lansung menjumpai bapak AM dan menanyakan kepadanya bersedia untuk diwawancarai tentang pembelajaran Penjasorkes? Dia menjawab bisa pak. Penulis mengajukan pertanyaan seputar perangkap pembelajaran dan materi yang diberikan tadi.
“Sabagai guru di sekolah ini saya selalu membuat perangkat pembelajaran seperti program tahunan, program semester, silabus, RPP, rincian miggu efektif dan hal-hal yang berkaitan dengan perangkat pembelajaran. Semuanya ini saya tidak tergantung kepada kepala sekolah di minta atau tidak di minta tetap saya persiapkan, karena itu adalah tuigas pokok saya sebagai guru”.
9. Setalah mewawancarai bapak AM peneliti minta di antarkan untuk menjumpai Bapak Kepala sekolah keruangannya.Peneliti masuk ke ruangan kepala sekolah dan bapak AZ mempersilakan peneliti duduk di ruangannya. Bagai mana bapak AM mengajar pak ? baik pak sesuai dengan programnya. Dalam hal ini saya mau bertanya pak, apakah bapak AM membuat perangkat pembelajaran, dan bagai mana sikap bapak AM di sekolah ini pak ?
“ Mengenai bapak AM saya sangat salut dengan nya karena bapak AM selalu membuat perangkat pembelajaran dan menyerahkan tepat
waktu, dalam mengajar menurut pandangan saya bapak AM sangat menguasai materi yang di ajarkan dan masalah disiplin baik dengan waktu maupun tugas yang di berikan padanya. Hubungan dengan pimpinan baik maupun rekan-rekan sejawat sesama guru tidak pernah punya masalah”.
10.Dan kemudian peneliti menanyakan kepada salah seorang siswa, penulis menjumpai seorang siswa Rio saputra kelas XI IPA 2 Rio bapak ingin bertanya bagai mana menurut Rio bapak AM mengajar di sekolah ini dan bagai mana sikap siswa kepada nya ?
“Oo Bapak AM mengajar sangat menarik bagi siswa siswi di sekolah ini bapak AM sangat menguasai materi yang di ajarkannya, bahasanya mudah di mengerti kami tidak pernah merasa jenuh belajar dengannya.
Bapak itu sangat disiplin tepat waktu dan di segani siswa.”
11.Pada hari ke empat tepatnya pada tanggal 18 Maret 2010 pada pukul 7.30 peneliti masuk ke SMA Negeri 12 Pekanbaru, untuk menjumpai Guru Penjasorkes WA, langsung bertanya setelah selesai memberikan pelajaran sebagai berikut: Ibu sebagai Guru Penjasorkes apakah Ibu membuat perangkat pembelajaran ?
“Disini saya sebagai Guru Penjasorkes di wajibkan untuk membuat perangkat pembelajaran seperti; membuat program semester, program tahunan,RPP, selabus dan yang lainnya, karena SMA 12 ini akan direncanakan untuk menjadi sekolah yang di sebut RSBI dan cara ini sudah lama yang diprogram oleh kepala sekolah”.
12. Untuk mengetahui kebenarannya apa yang di sampaikan Ibu WA tersebut, peneliti langsung menjumpai kepala sekolah HM , di ruang kerjanya pada hari itu juga, setelah bertemu dengan kepala sekolah, pak bisa saya mewawancarai bapak sebentar? Ya! Boleh silakan.
Tadi saya mengamati ibu WA sedang mengajar di lapangan permainan basket ball, kemudian saya mewawancarai ibu WA masalah perangkat pembelajaran bagaimana menurut bapak ibu WA, kata ibu tersebut dia membuat perangkat pembelajaran untuk sekolah ini.
“Saya selaku kepala sekolah guru-guru wajib membuat perangkat pembelajaran seperti; program semester, program tahunan, RPP, selabus, daftar nilai, guru harus memiliki absensi siswa, buku pegangan, guru olahraga pun harus membuat perangkat pembelajaran karena dia juga bagian dari guru-guru di sini. Apa bila ada guru-guru
yang lambat menyerahkan perangkat pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah di tentukan, guru tersebut akan di panggil dan diberi peringatan, namun saat ini guru-guru disini tidak ada yang terlambat menyerahkan perangkat pembelajaran”.
13.Ada satu lagi pertanyaan saya pak, berkenaan dengan ibu WA yaitu bagai mana kepribadian, hubungan ibu WA dengan sesama rekan sejawat dan profesional nya dalam mengajar ?
“Dari pengamatan saya sebagai kepala sekolah, orangnya jujur, disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dan hubungannya baik dengan kepala sekolah, dengan rekan-rekan guru dan dengan siswa sangat baik itu menurut pandangan saya, kemudian saya pernah memperhatikan dia mengajar pelaksanaannya baik, beraturan, penguasaan kelas bagus seperti apa yang di inginkan walaupun masih ada kekurangannya tapi itupun menurut saya tidak terlalu prinsip”.
14 .Setelah menjumpai kepala sekolah peneliti menjumpai salah seorang guru Ibu JM, kemudian peneliti mewawancarai ibu JM. Asslamualaikum bu, boleh saya wawancarai dengan ibu sebentar, apa masalahnya?
Saya sudah mengamati dan mewawancarai ibu WA berkenaan dengan pelakasanaan pembelajaran penjasorkes, oke silakan. Bagai mana menurut Ibu sikap, kepribadian dan profesionalismenya dalam melaksanakan tugas di sekolah ini?
“Saya adalah salah seorang majlis guru di SMA 12 ini melihat dan bergaul sesama majelis guru Oo kalau WA dia bagus pergaulannya kebetulan dia alumni disini tentu pergaulannya dan rasa hormatnya dengan gurunya sangat baik namun saya menilainya bukan dari faktor tesebut, keperibadiannya juga baik orangnya sopan, suka menegur dan mudah senyum, siswa punsuka dengan dia. Namun kalau mengajar ya dari pandangan saya bagus, kan ada guru Penjas, maaf ya pak mengajar asalan saja kasih bola atau biarkan saja, siswa berserakan ada yang sudah sampai kekantin namun ibu WA tidak termasuk tipe itu rasanya dia menikmati tugas mengajarnya itu menurut saya ya pak”.
15 .Setelah menjumpai guru mata pelajaran, peneliti menjumpai salah seorang siswa yang bernama Willi pada kelas XII IPA1, peneliti mewawancarai siswa tersebut tentang guru penjasorkes. Maaf Nak boleh bapak mewawancarai kamu, tentang apa pak ? kamu kan siswa kelas XII IPA1 yang mengajar Penjasorkes adalah WA bagaimana menurut kamu ibu WA mengajar?
“Ibu WA mengajar kami sangat menyukainya karena ibu WA mengajar sering berpariasi membuat kami bergairah belajar, ibu WA sangat disiplin, tepat waktu, cara penyampaian meteri kami mudah untuk mengerti”
Dari apa yang telah disampaikan oleh guru penjasorkes WA dan yang sudah dikompirmasikan dengan kepala sekolah HM, guru mata pelajaran, dan siswa. Dalam hal ini peneliti menyimpulkan bahwa guru penjasorkes sudah memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
16.Pada tanggal 01 April 2010 peneliti kembali ke lokasi SMA Negeri 4 pada jam 7.30 untuk mewawacarai salah seorang guru mata pelajaran Fisika yaitu ibu WT di ruangan majlis guru SMA Negeri 4 Kota Pekanbaru. Selamat pagi buk, apa kabar pak saya sedang melakukan penelitian Guru Penjasorkes di sekolah ini. bagai mana menurut ibuk bapak AM dalam melaksanakan tugas di sekolah ini dan bagai mana hubungannya sesama guru.
“Menurut pengamatan saya bapak AM dalam melaksanakan tugas selalu melaksanakan dengan baik karena bapak AM saya lihat anak- anak selalu belajar dengan gembira dan mengajar menggunakan waktu sangat efisien, hubungan sesama guru sangat baik dan rekan- rekan guru senang dengannya dan dia juga humoris”.
Terima kasih bu, atas imformasi yang ibu berikan kepada saya dalam penelitian yang saya lakukan ini.
17. Pada tanggal 15 April 2010 peneliti kembali datang ke SMA Negeri 3 Kota Pekanbaru yang berlokasi di Rumbai untuk mewawancarai salah seorang majelis guru Ibu EZ. Selamat pagi bu, pagi pak, ada apa pak! saya sedang mengadakan penelitian di sekolah Ibu yaitu meneliti salah seorang Guru Penjasorkes bapak AB penelitian ini berkenaan dengan Kompetensi paedagogik, sosial, kepribadian dan profesional guru. Bagai mana menurut Ibu Bapak AB dalam melaksanakan tugas pembelajaran, sosial dan kepribadian bapak AB?
“Oke kalau itu bisa saya jawab hubungan kami dengan bapak AB dan dengan guru-guru lain disini sangat terjalin dengan baik, bapak lihat di majlis guru ini, guru-guru kami saling bercanda walaupun sedang mengerjakan tugas masing-masing. Kemudian secara hubungan sosial kami sering berkunjung kerumah rekan-rekan walaupun sipatnya waktu mendapat musibah, sebab kepala
sekolah kami mengutamakan hubungan sosial sesama guru-guru dan kapala sekolah. Kalau kepribadian bapak AB sangat baik, sopan, humoris dan disiplin”.
18. Setelah mewawancarai Ibu EZ peneliti menjumpai seorang siswa yang berpakaian olahraga kebetulan selesai olahraga. Peneliti memanggilnya. Hai nak ! bapak ingin bertanya, ada apa pak? Baru siap olahraga, ia pak, kalau boleh tau siapa namamu? Iza pak, kamu kelas berapa? Kelas XII, bapak ingin mewawancarai kamu sebentar, boleh pak. Menurut kamu bagai mana bapak AB mengajar penjasorkes?
“Bapak AB orangnya disiplin waktu pak, kalau kami terlambat tidak boleh ikut belajar dengannya karena bapak AB tidak pernah terlambat, jadi kami takut terlambat malu kan pak ! bapak AB cara mengajarnya bagus kami tidak pernah bosan belajar penjasorkes dengannya. Ada lagi pak? Oke sekian terima kasi nak”.
Dari apa yang di sampaikan oleh Guru Penjasorkes SMA Negeri 3 Kota Pekanbaru, kepala sekolah, salah seorang guru dan seorang siswa maka bisa di tarik suatu kesimpulan bahawa guru penjasorkes SMA Negeri 3 Kota Pekanbaru, mempunyai Kompetensi paedagogik, sosial, kepribadian dan kompetensi profesional.
Lampiran 2 .
Nama-nama Kepela Sekolah SMA Negeri 3, 4, 8 dan 12 Kota Pekanbaru
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Tahun 2010.
Nama Sekolah Kepala Sekolah Alamat SMA Negeri 3 Kota
Pekabaru Dra. Hj. Yusnimar, M.Pd Jl Yusudarso No 100 A SMA Negeri 4 Kota
Pekanbaru Drs. Azwir Jl Adi Cucipto No 67 SMA Negeri 8 Kota
pekanbaru Drs. H. Nurfaisal M.Pd Jl Abdul Muis No 14 SMA Negeri 12 Kota
Pekanbaru Drs. H. Hermilus, MM Jl Garuda Sakti Km 3
Lampiran 3
Nama-nama Guru Penjasorkes SMA Negeri 3,4,8 dan Kota Pekanbaru.
No Sekolah Guru Olahraga Pendidikan
1 SMA Negeri 3 Kota Pekanbaru
1. Drs. Khairul Asbar 2. Hajrul Boy S.Pd 3. Titin Angraina S.Pd
S1 S1 S1 2 SMA Negeri 4 Kota
Pekanbaru
1. Armen Ar S.Pd.
2. Khairil Abbas, S.Pd.
3. Jasmani Ginting, S.Pd
S1 S1 S1 3 SMA Negeri 8 Kota
Pekanbaru
1. Drs. Erwin Martias 2. Drs Beta Somta 3. Novi (Honor)
S1 S1 S1 4 SMA Negeri 12 Kota
Pekanbaru
1. R.Setianis.S.Pd 2. Winda Asril S.Pd
S1 S1 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2010.
Lampiran 4.
Jumlah Seluruh Siswa SMA Negeri 3,4,8 dan 12 Kota Pekanbaru
No Sekolah Kls Jenis Kelamin
Jumlah Laki-Laki Perempuan
1 SMA Negeri 3 Kota Pekanbaru
X XI XII
172 107 130
200 150 160
819 2 SMA Negeri 4
Kota Pekanbaru
X XI XII
100 126 173
156 130 210
795 3 SMA Negeri 8
Kota Pekanbaru
X XI XII
114 139 147
138 128 116
822
4 SMA Negeri 12 Kota Pekanbaru
X XI XII
132 155 83
210 155 100
780 Sumber: Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2010