C. Sedimentasi dan Abrasi/Sedimentation and Abrasion
IV. KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR/COASTAL COMMUNITY LIVELIHOODS
4.1. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir
Pesisir
Di Indonesia, sekitar 15,61 persen wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan berada di tepi laut. Persentase tersebut secara perla- han terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan adanya pemekaran wilayah desa/
kelurahan yang signifikan pada wilayah yang ber
ada di tepi laut. Peningkatan jumlah desa tepi laut tidak langsung mencerminkan perkembangan masyarakat pesisir karena masyarakat pesisir tidak dapat dibatasi oleh batas administratif seperti desa, kecamatan atau lainnya.
Bengen (2001) dalam Fatmawati (2014) menyebutkan masyarakat pesisir adalah seke- lompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber perekonomiannya bergantung pada potensi dan kondisi sumber daya laut dan pesisir.
Mereka biasanya mempunyai pekerjaan sebagai nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, ataupun supplier faktor sarana produksi perikanan. Ada pula masyarakat pesisir yang bekerja di luar bidang perikanan seperti penyedia jasa-jasa lingkungan laut dan pesisir seperti jasa pariwisata, jasa perhotelan, jasa transportasi, serta kelompok masyarakat lainnya yang memanfaatkan sumber daya non hayati laut dan pesisir (Nikijuluw, 2001).
Untuk kebutuhan pembangunan dan pengambilan kebijakan secara makro, penduduk yang tinggal pada wilayah yang berada di tepi laut sering dianalogikan sebagai masyarakat pesisir. Data Podes 2014 mencatat mayoritas
https://www.bps.go.id
penghasilan utama pada subsektor perikanan.
Itupun lebih didominasi oleh perikanan tangkap (18,19 persen) daripada perikanan budidaya (2,97 persen) (Gambar 4.1).
Gambar Figure 4.1
Perkembangan Desa Tepi Laut dan Persentase Desa Tepi Laut menurut Sumber Penghasilan Utama
Overview of Seaside Villages and Percentage of Seaside Villages by Major Earnings Source
Sumber/Source : Statistik Potensi Desa Indonesia, Badan Pusat Statistik/Village Potential Statistics of Indonesia, BPS- Statistics Indonesia
Menurut KKP (2013), jumlah nelayan di Indonesia hanya sekitar 2.164.969 jiwa. Angka tersebut hanya sekitar 1,95 persen dari jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang beker- ja, dimana jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja sekitar 110.804.041 jiwa (Sakernas, 2013). Jumlah nelayan berfluktuasi se- tiap tahunnya dengan tren yang meningkat yang ditunjukkan oleh Gambar 4.2. KKP membagi ne- layan dalam tiga kategori, yaitu: nelayan penuh, nelayan sambilan utama, dan nelayan sambilan
percent) (Figure 4.1).
According to KKP (2013), the number of fishermen in Indonesia is only about 2,164,969 person. It is only about 1.95 percent of work- ing population aged 15 years and over which is about 110,804,041 people (Sakernas, 2013).
The number of fishermen fluctuates annually with an increasing trend is shown in Figure 4.2.
KKP divides fishermen into three categories: full fishermen, major part-time fishers, and minor part-time fishers (Table 4.6). KKP defines fisher- man as a person who is being actively engaged in
https://www.bps.go.id
tambahan (Tabel 4.6). KKP mendefinisikan ne- layan sebagai orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/
binatang air lainnya/tanaman air, termasuk pula ahli mesin dan juru masak yang bekerja di atas kapal penangkap ikan, namun tidak termasuk orang yang hanya membuat ja ring, mengangkut alat-alat perlengkapan ke dalam perahu/kapal.
Kecilnya persentase penduduk yang mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan
Gambar Figure 4.2
Perkembangan Jumlah Nelayan di Laut & Persentase Nelayan di Laut menurut Kategori dan Kelompok Umur
Overview of the Number of Fishermen & Percentage of Fishermen by Category and Age Group
Sumber/Source : Statistik Perikanan Tangkap Indonesia menurut Provinsi 2014-2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan Capture Fisheries Statistics of Indonesia by Province 2014-2016, Ministry of Marine Affairs and Fisheries
fishing/other aquatic (animals)/plants, including engineers and chefs working onboard fishing ves- sels, but excluding people who only make nets, transport tools equipment into a boat/ship.
The small percentage of fisherman can be caused by many things, including uncertain fisherman’s income and small wage value. The
https://www.bps.go.id
kondisi cuaca ekstrem, kenaikan suhu permukaan laut, dan perubahan arah angin yang menurunkan jumlah tangkapan ikan di lautan. Faktor lainnya adalah adanya kenaikan harga bahan bakar yang mempengaruhi kesempatan nelayan untuk pergi melaut menangkap ikan.
Pekerjaan nelayan merupakan peker- jaan dengan resiko yang tinggi sehingga lebih didominasi oleh laki-laki dan biasanya anggota keluarga yang lain tidak dapat membantu secara penuh (Mugni, 2006). Maka tidak heran jika lebih dari 62,20 persen nelayan berumur antara 30-49 tahun, sementara nelayan yang berumur 10-19 tahun hanya 0,56 persen dan nelayan yang ber- umur di atas 60 tahun hanya 8,30 persen. Hal tersebut juga menunjukkan kurangnya minat generasi muda terhadap usaha sektor perikanan (BPS, 2014a).
Berdasarkan jenis kegiatan yang dilaku- kan, buruh yang bekerja di sektor perikanan dibagi menjadi tiga, yaitu buruh membersihkan kapal pada subsektor perikanan tangkap dan buruh membajak lahan serta buruh pemanenan pada subsektor perikanan budidaya. Ketiga jenis kegiatan tersebut mempunyai rata-rata upah yang bervariasi dari 44.407 rupiah sampai 51.604 rupiah per hari dengan rata-rata upah terendah pada pekerjaan membersihkan kapal dan upah tertinggi pada pekerjaan membajak lahan (Tabel 4.1).
Pekerjaan nelayan sangat tergantung pada kondisi cuaca sehingga secara rata-rata, dalam satu bulan hanya terdapat dua puluh hari yang dapat dimanfaatkan untuk melaut, sementara sepuluh hari sisanya mereka relatif menganggur (Widjajanti dan Hendra, 2013). Jika dikaitkan dengan rata-rata upah buruh yang bekerja pada sektor perikanan maka selama satu bulan, mer- eka hanya memperoleh pendapatan maksimal sekitar 1.032.080 rupiah per bulan. Nilai tersebut sangat jauh dibandingkan dengan Upah Minimum
wind direction change that decreases the number of fish caught in the oceans. Another factor is increasing fuel price that affects the opportunity for fisherman to go fishing in the ocean.
Being a fisherman is a high-risk job so that it is more dominated by men and usually other family members cannot fully help (Mugni, 2006).
So, no wonder if there are more than 62.20 percent of fishermen aged between 30-49 years, while the number of fishermen aged 10-19 years is only 0.56 percent and the number of fishermen aged over 60 years is only 8.30 percent. It also shows lack of interest of younger generation to the fisheries sector (BPS, 2014a).
Based on the type of undertaken ac- tivities, fishery sector workers are divided into three types, there are workers who clean the boat in captured fisheries subsector, who plow the land, and who harvest in aquaculture fish- eries subsector. Those three activities have an average wage that varies from 44,407 rupiahs to 51,604 rupiahs per day with the lowest average wage on the cleaning the boat and the highest wage on the land plowing (Table 4.1).
Working as fisherman totally depends on the weather conditions. So, on average, there are only twenty days per month that can be used by fisherman to go to sea, while on the remaining ten days, fishermen are relatively unemployed (Widjajanti and Hendra, 2013). If Associated with the average wage of fishery sector workers, they only get a maximum income about 1032,080 rupiahs per month. That value is far below from Regional Minimum Wage (UMR) which reached 1,997,819.00 rupiahs per month (BPS, 2016).
https://www.bps.go.id
Regional (UMR) yang mencapai 1.997.819,00 rupiah per bulan (BPS, 2016).
Indikator lain yang juga digunakan untuk mengukur kondisi ekonomi nelayan adalah Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP).
NTNP mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan atau dijual petani subsektor perikanan dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani subsektor perikanan baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga. Jika NTNP lebih besar dari seratus maka dapat diartikan petani subsek- tor perikanan memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan pengeluarannya (surplus), seba- liknya jika NTNP lebih kecil atau di bawah seratus berarti pengeluaran petani subsektor perikanan untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi lebih tinggi daripada pendapatan hasil usahanya.
Jika NTNP sama dengan seratus artinya bahwa pendapat an hasil usaha sama dengan pengeluaran untuk biaya konsumsi rumah tangga dan kebutu- han produksi (BPS, 2009).
Nilai NTNP tahun 2016 disajikan pada Tabel 4.7-4.9. Dilihat dari nilai indeksnya, rata- rata NTNP nasional tahun 2016 adalah sebesar 102,83 dimana Nilai Tukar Nelayan (NTN) memiliki indeks sebesar 108,24 dan Nilai Tukar Pembudi- daya Ikan (NTPi) mencapai 98,96 (Gambar 4.3).
Hal ini menunjukkan bahwa nelayan memiliki kesejahteraan lebih baik dibandingkan dengan pembudidaya ikan. Nelayan di laut memliki NTN lebih besar dibandingkan nelayan di perairan umum. Sedangkan nilai NTPi tertinggi secara berurut adalah pembudidaya ikan di air tawar diikuti oleh pembudidaya ikan di air payau dan
Other indicators that are also used to measuring fishermen economic condition are Fisherman and Fish Aquaculture Exchange (NTNP). NTNP measures products commodities exchangeability produced or sold by in fisheries subsector farmers compared to those required by farmers in the fisheries subsector farmers either for the production process or household consumption. If NTNP is greater than one hun- dred, it can be interpreted that farmers in the fisheries sub-sector have a higher income than their expenditure (surplus), otherwise, if NTNP is smaller or below than one hundred means fishery subsector farmer’s expenditure for household consumption and production cost is higher than his business revenue. If NTNP is equal to one hundred, it means that business revenue is equal to the expenditure for household consumption and production needs (BPS, 2009).
NTNP value in 2016 is presented in Table 4.7-4.9. Viewed from the index value, the na- tional average of NTNP 2016 is 102.83 where Fisherman Exchange (NTN) index reached 108.24 and Fishery Cultivation Exchange (NTPi) index reached 98.96 (Figure 4.3). This shows that fishermen have better welfare than fish farm- ers. Fishermen in the sea have NTN greater than Fishermen in public open waters. While the high- est NTPi value in the sequence is freshwater fish farmers followed by brackish water fish farmers and seawater fish farmers. Of the 33 provinces, NTNP value of more than 100 is about 78.79 per-
https://www.bps.go.id
kan dengan pengeluarannya. Provinsi dengan nilai NTNP tertinggi adalah Provinsi Riau, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan provinsi yang memiliki NTNP terendah adalah Provinsi Bengkulu, Aceh dan Sumatera Selatan.
Nilai NTNP tersebut berbanding terbalik dengan kesejahteraan masyarakat yang hidup di pesisir dan lautan. Menurut data BPS (2013), jumlah penduduk miskin mencapai 28,07 juta orang, dimana 25,14 persen diperkirakan tinggal di wilayah pesisir.
Gambar
Figure 4.3 Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP), 2014-2016 Fisherman and Fish Farmers’ Terms of Trade (NTNP), 2014-2016
Sumber/Source : Statistik Perikanan Tangkap Indonesia menurut Provinsi 2014-2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan Capture Fisheries Statistics of Indonesia by Province 2014-2016, Ministry of Marine Affairs and Fisheries
lowest NTNP are Bengkulu, Aceh and Sumatera Selatan. NTNP value is inversely proportional to the welfare of the coastal community. Accord- ing to BPS (2013), the number of poor people reached 28.07 million which 25.14 percent is estimated to live in coastal areas.
https://www.bps.go.id
4.2. Peningkatan Kehidupan Masyarakat Pesisir
Untuk mengatasi kondisi kesulitan yang dialami oleh rumah tangga perikanan tangkap dan budidaya salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui pemberian bantuan langsung baik dari pemerintah maupun swasta.
Program tersebut antara lain Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Pem- berdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR), dan kebijakan investasi penanaman modal baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
A. Program Nasional Pemberdayaan Ma- syarakat (PNPM)
PNPM merupakan program nasional yang menjadi kerangka kebijakan dan pedoman pelaksanaan berbagai program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Pada Tabel 4.10 menunjukkan program PNPM selama tiga tahun terakhir yang kegiatannya berupa pembangunan atau per- baikan infrastruktur transportasi, pendidikan, pemukiman dan kesehatan, serta perekonomian di desa tepi laut ada 59,39 persen. Kegiatan PNPM untuk peningkatan kapasitas perekonomian berupa dana bergulir atau simpan pinjam untuk modal usaha pertanian maupun non pertanian serta dana hibah untuk usaha produktif di desa tepi laut ada 88,23 persen. Sedangkan kegiatan PNPM berupa peningkatan kapasitan sosial kemasyarakatan yang terdiri dari ketrampilan produksi dan pemasaran hasil produksi, serta
4.2. Coastal Communities Lives Improve
To resolve the difficulties experienced by captured and cultivated fisheries households, one of the efforts made by government is through direct provision both from government and private. Those programs include the Com- munity Empowerment National Program (PNPM), the People’s Salt Enterprise Empowerment Program (PUGAR), and investment policies both domestic and overseas.
A. Community Empowerment National Program (PNPM)
PNPM is a national program that becomes the policy framework and guidelines for the implementation of various poverty reduction programs based on community empowerment.
Table 4.10 shows the number of PNPM program during the last three years which activities include transport infrastructure, education, housing and health, and the economy construc- tion or improvement in seaside village is 59.39 percent. The number of PNPM activities for increasing economic capacity such as revolving funds or savings and loans for agricultural and non-agricultural business capital and grant funds for productive enterprises in seaside villages is 88.23 percent. While the number of PNPM activi- ties for social society capacities improvement that consist of production skills and products marketing, also strengthening of social institu-
https://www.bps.go.id
B. Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)
PUGAR merupakan bagian dari PNPM yang merupakan program nasional untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Kebutuhan garam nasional terbagi menjadi dua, yaitu garam konsumsi dan garam industri. Garam konsumsi adalah garam yang digunakan sebagai bahan baku produksi bagi industri garam konsumsi beryodium (garam meja) untuk aneka pangan (memiliki NaCl minimal 94,7 persen) dan peng- asinan ikan. Sedangkan garam industri adalah garam yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri dengan kadar NaCl minimal 97 persen.
Garam industri belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga semuanya berasal dari impor (KKP, 2015). Berdasarkan analisis produksi garam Indonesia, KKP (2015b), menyatakan bahwa ke- butuhan garam nasional setiap tahun mengalami kenaikan. Kebutuhan garam konsumsi selama periode 2011-2014 mengalami kenaikan 1,40 persen, sedangkan kebutuhan garam industri sebesar 5,82 persen. Kebutuhan garam industri sebagian besar dipenuhi oleh pasokan impor un- tuk industri Chlor Alkali Plant (CAP) dan non CAP.
Artinya produksi garam industri di dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan garam industri nasional.
Melalui PUGAR akan terbentuk sentra- sentra usaha garam rakyat di lokasi sasaran, me- ningkatkan kemampuan petambak garam rakyat, dan meningkatkan akses terhadap pemodalan, pemasaran, informasi serta pengetahuan dan teknologi petambak garam rakyat (Dewi, 2015).
Total produksi garam PUGAR di Indonesia selama kurun waktu 2011-2016 mengalami penurunan sebesar 35,40 persen. Penurunan terbesar ter- jadi pada tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 (94,32 persen) (Gambar 4.4). Penurunan produksi garam diakibatkan oleh fenomena La Nina yang
B. People’s Salt Enterprise Empower- ment Program (PUGAR)
PUGAR is part of PNPM which is a national program to fulfill national salt needs. National salt needs are divided into two kinds, namely consumption salt and industrial salt. Consump- tion salt is a salt used as a feedstock for pro- duction of iodized salt consumption (table salt) for various foods (having at least 94.7 percent NaCl) and marinating fish. While the industrial salt is a salt that used as raw materials for industries with a minimum 97 percent (NaCL).
Industrial salts cannot be produced domestically yet so they are imported (KKP, 2015). Based on the analysis of Indonesia’s salt production, KKP (2015b), national salt needs are increasing every year. Consumption salt needs during 2011-2014 increased 1.40 percent, while industrial salt needs are 5.82 percent. Industrial salt needs is mostly fulfilled by imported supplies for the Chlor Alkali Plant (CAP) and non CAP industries.
That means industrial salt production in the country still can’t be able to fulfill national industrial salt needs.
Through PUGAR, people’s salt enterprises will be formed in the target locations, improve people’s salt farmers capability and capital ac- cess, marketing, information and knowledge and technology (Dewi, 2015). PUGAR salt total pro- duction in Indonesia during 2011-2016 decreased by 35.40 percent. The largest decrease occurred in 2016 compared to 2015 (94.32 percent) (Figure 4.4). The decline in salt production is caused by the La Nina phenomenon that caused wet droughts throughout 2016. That resulted rainfall average was greater than 150 millimeters/month
https://www.bps.go.id
Gambar
Figure 4.4 Produksi PUGAR, 2011-2015
People’s Salt Empowerment Program Production, 2011-2015
Sumber/Source : Statistik Perikanan Tangkap Indonesia menurut Provinsi 2014-2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan Capture Fisheries Statistics of Indonesia by Province 2014-2016, Ministry of Marine Affairs and Fisheries