• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana Pendidikan dan Kesehatan/Education and Health Facilities

Dalam dokumen Statistik Sumber Daya Maritim dan Pesisir 2017 (Halaman 192-195)

Pendidikan merupakan sektor yang paling strategis dalam pembangunan nasional, karena melalui pendidikan tidak hanya membekali sumber daya manusia dengan ilmu pengetahuan tetapi juga kemampuan beradaptasi secara aktif dalam kegiatan pembangunan bermasyarakat.

Jumlah desa tepi laut yang mempunyai fasilitas pendidikan menurut provinsi dan tingkat pendi- dikan berdasarkan data PODES 2014 dapat dilihat pada Tabel 4.21. Terdapat 63,09 persen desa tepi laut yang sudah mempunyai TK; jumlah desa tepi laut yang mempunyai SD melebihi dari jumlah desa itu sendiri; 51,97 persen mempunyai SLTP;

20,64 persen mempunyai SMU; dan 9,83 persen mempunyai SMK. Namun ketersediaan sarana pendidikan tersebut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pendidikan nelayan dan pembudidaya ikan. Tingkat pendidikan ne- layan dan pembudidaya sebagian besar hanya sampai tingkat SD, serta masih banyak yang tidak bersekolah atau tamat SD. Berdasarkan data Survei Pertanian (2013), persentase nelayan dan pembudidaya ikan tamat SD/sederajat (47,56 persen dan 35,77 persen) dan tidak/belum tamat SD (30,93 persen dan 18,35 persen).

Pendidikan yang memadai akan meng- hasilkan sumber daya manusia yang cerdas. Hal tersebut tidak hanya bergantung pada sarana pendidikan saja, namun terjaminnya kesehatan terutama dari kecukupan gizi yang akan meng- hasilkan sumber daya manusia yang cerdas. Guru Besar Gizi Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa kekurangan gizi pada usia seribu hari

B. Education and Health Facilities

Education is the most strategic sector in national development because education not only supplies human resources with science but also supplies the ability to adapt actively to community development activities. The number of seaside villages with educational facilities by province and level of education based on PODES 2014 data can be seen in Table 4.21. There is 63.09 percent of seaside villages that already have kindergarten; the number elementary school exceeds the number of villages them- selves; 51.97 percent have junior high schools;

20.64 percent have senior high school, and 9.83 percent have vocational high school. However, the availability of educational facilities does not significantly affect the education level of fishermen and fish farmers. The education level of fishermen and farmers is mostly only up to elementary level and many of them still do not attend school or finish primary school. Based on Agricultural Survey (2013) data, the percentage of fishermen and fish farmers graduated from primary school (47.56 percent and 35.77 percent) and did not finish primary school (30.93 percent and 18.35 percent).

Adequate education will produce in- telligent human resources. It depends not only on education infrastructure but also the health assurance especially from adequate nutrition will produce intelligent human resources. Nu- trition Professor of Bogor Agricultural Institute stated that malnutrition at first thousand days of life, when the human brain develops up to

https://www.bps.go.id

Jumlah desa tepi laut yang terdapat penderita gizi buruk terbanyak adalah Provinsi Nusa Teng- gara Timur (510 desa) dengan jumlah penderita sebanyak 3.317 orang (Tabel 4.25).

Persoalan gizi buruk juga dipengaruhi oleh faktor tidak langsung. Faktor tidak langsung yang pertama adalah jumlah sarana kesehatan. Pada Tabel 4.22 menyajikan banyaknya desa tepi laut yang mempunyai fasilitas kesehatan. Persentase desa tepi laut yang mempunyai fasilitas kesehat- an berupa polindes sebesar 19,45 persen, posk- esdes 28,90 persen, puskesmas pembantu 35,28 persen, dan posyandu 96,23 persen. Sedang kan jumlah petugas kesehatan tersaji pada Tabel 4.23. Jumlah sarana kesehatan yang sedikit dan sulit dijangkau serta jumlah tenaga kesehatan yang sedikit akan memperba nyak kasus gizi buruk di desa tepi laut tersebut.

Pemerintah juga menjamin kesehatan masyarakat khususnya masyarakat yang kurang mampu melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). BPJS merupakan badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial termasuk dari sisi kesehatan. BPJS bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan me- nyelenggarakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sedangkan untuk level daerah, Pemerintah daerah juga menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Selain itu desa juga mengeluarkan Surat Keterangan Miskin (SKTM) bagi masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan kemudahan dalam kehidu- pannya baik di bidang sosial, kesehatan, per- ekonomian, dan pendidikan. Jumlah desa tepi laut yang terdapat warga penerima Jamkesmas/

Jamkesda selama tahun 2013 sebanyak 11.977 desa atau 93,37 persen dari seluruh desa yang ada di tepi laut. Jumlah desa yang terdapat warga sebagai peserta BPJS kesehatan sebanyak 10.357 desa (80,74 persen), dan jumlah desa tepi laut yang mengeluarkan SKTM sebanyak 7.040

The problem of malnutrition is also influ- enced by indirect factors. A first indirect factor is a number of health facilities. Table 4.22 presents the number of seaside villages with health facili- ties. Percentage of seaside villages with health facilities such as Polindes is 19,45 percent, the health center is 28,90 percent, the sub-health center is 35.28 percent and Posyandu is 96.23 percent. While the number of health workers presented in Table 4.23. A number of health facilities that are few and difficult to reach and few number of health workers will increase the case of malnutrition in the seaside village.

The government also guarantees the people’s health, especially the poor, through the Social Security Administering Agency (BPJS).

BPJS is a legal entity formed to organize a so- cial security program including health. BPJS in cooperation with the Ministry of Health held a Public Health Insurance (Jamkesmas). For the re- gional level, local government also held Regional Health Insurance (Jamkesda). In addition, the village also issued a Poor Letter (SKTM) for the poor to easily obtained in their lives in social, health, economy, and education. The number of seaside villages with Jamkesmas/Jamkesda ben- eficiaries during 2013 is 11,977 villages or 93.37 percent of all seaside villages. The total number of villages where there are BPJS’ members is 10,357 villages (80.74 percent), and the number of seaside villages that issued SKTM is 7.040 vil- lages (54.88 percent). Sulawesi Selatan Province has the largest percentage of seaside villages with the recipients of Jamkesmas/Jamkesda and SKTM recipients (8.44 percent and 11.92 percent), while the lowest seaside villages with

https://www.bps.go.id

desa (54,88 persen). Provinsi Sulawesi Selatan memiliki persentase desa tepi laut dengan warga penerima Jamkesmas/Jamkesda dan penerima SKTM terbesar (8,44 persen dan 11,92 persen), sedangkan desa tepi laut dengan peserta BPJS kesehatan terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur terbanyak (9,01 persen) (Tabel 4.24).

Faktor yang kedua adalah sarana sani- tasi lingkungan yang tidak memadai. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan diri dan lingkungan akan menyebabkan penyakit seperti diare, cacingan, dan lain-lain. Jumlah desa tepi laut berdasarkan ketersediaan tempat buang air besar dan tempat atau saluran pembuangan limbah cair atau air kotor sebagian besar kelu- arga disajikan pada Tabel 4.19. Persentase desa tepi laut yang mempunyai jamban sendiri 66,54 persen, dan yang tidak mempunyai jamban 21,40 persen. Sedangkan tempat pembuangan limbah cair terdiri dari lubang resapan (7,62 persen), drainase berupa got dan selokan (22,36 persen), langsung dibuang ke sungai/saluran irigasi/da- nau/laut (11,37 persen), dalam lubang atau tanah (57,22 persen), dan lainnya (1,43 persen). Pada rumah tangga yang tidak mempunyai jamban, ke- mungkinan membuang hajat dilakukan di sungai atau laut dan kebun. Hal ini bisa mengakibatkan bakteri dari kotoran dapat dengan mudah masuk ke tubuh manusia. Bakteri tersebut juga bisa ikut terkonsumsi melalui air minum yang berasal dari sungai, sehingga ketersediaan air bersih juga menjadi faktor pendorong masalah kurang gizi.

Jumlah desa tepi laut menurut sumber air minum dan jenis bahan bakar untuk memasak sebagian besar keluarga tersaji pada Tabel 4.20.

health BPJS participants are in the province of Nusa Tenggara Timur (9.01 percent) (Table 4.24).

The second factor is inadequate environ- mental sanitation facilities. Lack of personal hygiene and environment awareness will cause diseases such as diarrhea, worms, and others.

The number of seaside villages based on toilet availability and the sewerage or sewage area of most families is presented in the Table 4.19.

Percentage of seaside villages with own latrines is 66.54 percent, and those with no latrines is 21.40 percent. While the liquid waste disposal site consists of absorption hole (7.62 percent), sewer and sewer drainage (22.36 percent), di- rectly discharged into river/irrigation channel/

lake/sea (11.37 percent), in hole or soil (57.22 percent), and others (1.43 percent). Households that do not have latrines, disposal is possibile done in rivers or seas and gardens. This can lead to bacteria from feces can easily enter the hu- man body. These bacteria can also be consumed through drinking water coming from the river, so clean water availability is also a factor driving malnutrition problem. The number of seaside villages by drinking water sources and fuel for cooking type most of the families is presented in the Table 4.20.

https://www.bps.go.id

C. Sarana Perekonomian, Transportasi,

Dalam dokumen Statistik Sumber Daya Maritim dan Pesisir 2017 (Halaman 192-195)