• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konseling Kelompok

BAB I PENDAHULUAN

G. Kerangka Teori

1. Konseling Kelompok

a. Pengertian Konseling Kelompok

Konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.11 Selain itu konseling kelompok juga diartikan sebagai suatu aktifitas memberikan bimbingan, pelajaran, dan pedoman kepada individu (klien) dalam hal bagaimana seharusnya seorang klien mengembangkan potensi akal pikirannya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan serta dapat menangggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri.12 Maka dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah untuk memecahkan permasalahan anggota kelompok yang didalamnya terdapat tingkah laku yang sadar, mengembangkan potensi akal pikirannya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan serta saling tolong-menolong kepada anggota kelompok lainnya.

b. Tujuan Konseling Kelompok

11 Winkel, Sri hastuti, Bimbingan dan Konseling di institute Pendidikan, (Yogyakarta: Media abadi, 2004), hlm. 590.

12 Erhamwilda, Konseling Islami, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 99.

17

Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.

Konselor memusatkan perhatiannya kepada klien dengan mencurahkan segala daya dan upaya demi perubahan pada diri klien, yaitu perubahan kearah yang lebih baik serta teratasinya masalah yang dihadapi. Sedangkan pelaksanaan konseling kelompok adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri memelihara diri, berfikir positif, dapat berkomunikasi dengan baik, penampilan yang baik, memiliki ketegasan diri dan memiliki kemandirian dalam belajar.

Menurut Dewa Ketut Sukardi tujuan konseling kelompok adalah:

1) Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak, atau melatih anggota kelompok mampu berkomunikasi dengan baik.

2) Melatih anggota kelompok agar dapat bertenggang rasa terhadap teman sebayanya, maksudnya agar dapat melatih anggotak kelompok untuk memiliki rasa empati dan menjaga hubungan yang harmonis dengan nggota kelompoknya.

18

3) Dapat mengembangkan bakat dan minat masing-masing anggota; dan.

4) Mengentaskan permasalahan-permasalahan kelompok, maksudnya agar dapat membantu peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh para anggota kelompok.13 Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa adanya pencapaian tujuan yang jelas dalam suatu kegiatan layanan konseling kelompok, serta kegiatan konseling kelompok dapat berjalan dengan baik dan dapat membantu peserta didik dalam menyelesaikan masalah serta mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

c. Asas- Asas Konseling Kelompok

Dalam konseling kelompok yang di bahas adalah masalah pribadi seseorang khususnya masalah pribadi anggota kelompok.

Oleh karena itu azas yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan konseling kelompok antara lain:

13Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan dan Konseling Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 49-50.

19

1) Azas kerahasiaan, artinya semua data atau keterangan yang diperoleh dari semua anggota harus dirahasiakan dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.

2) Azas kesukarelaan, artinya agar semua anggota kelompok secara sukarela dan tidak secara terpaksa dapat mengemukakan permasalahannya, perasaannya secara aktif dalam pengentasan masalah yang muncul dalam kelompoknya.

3) Azas keterbukaan, artinya dengan terus terang setiap anggota kelompok dapat mengemukakan permasalahannya tanpa ditutup-tutupi.

4) Azas kegiatan, artinya semua anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam upaya pengentasan masalah membantu pengentasan masalah didasari dengan rasa keikhlasan, rasa empati dan rasa tanggung jawab.14

Berdasarkan teori atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok memiliki empat asas dalam

14Abu Bakar, M. Luddin, Konseling Individual dan Kelompok.

(Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), hlm. 81.

20

pelaksanaannya yakni asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan dan asas kegiatan. Dimana asas yang empat ini yang harus di jaga di dalam pelaksanaan konseling kelompok oleh semua anggota kelompok dan juga pemimpin kelompok.

d. Fungsi Konseling Kelompok

Dengan memperhatikan defenisi konseling kelompok sebagaimana telah disebutkan diatas, maka dapat dikatakan bahwa konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif (Penyembuhan) dan layanan preventif (Pencegahan). Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga menggangu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain.15 Sedangkan konseling kelompok yang bersifat penyembuhan dalam pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberikan

15 Edi Kurnanto, Konseling Kelompok. (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 9.

21

kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya. Ini artinya bahwa penyembuhan yang di maksud disini adalah penyembuhan bukan persepsi pada individu yang sakit, karena pada prinsipnya, objek konseling adalah individu yang normal, bukan individu yang sakit secara psikologis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi dari konseling kelompok mengarah kepada pencegahan, penyembuhan dan pengembangan yang dilakukan kepada individu yang mengalami permasalahan. Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga menggangu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan konseling kelompok yang bersifat penyembuhan dalam pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberikan kesempatan, dorongan, juga

22

pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.

e. Tahapan Konseling Kelompok

Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan konseling kelompok yaitu:

1. Perencanaan, mencakup kegiatan sebagai berikut:

1) Membentuk kelompok. Ketentuan membentuk kelompok dalam konseling kelompok antara 8-10 orang ( tidak boleh melebihi 10 orang).

2) Mengidentifikasi dan meyakinkan klien(siswa) tentang perlunya masalah dibawa kedalm layanan konseling kelompok.

3) Menempatkan klien dlm kelompok.

4) Menyusun jadwal kegiatan.

5) Menetapkan prosedur layanan.

6) Menetapkan fasilitas layanan.

7) Menyiapkan kelengkpan adminstrasi.

2. Pelaksanaan, mencakup kegiatan sebagai berikut:

23

1) Mengomunikasikan rencana layanan konseling kelompok.

2) Mengomunikasikan kegiatan layanan konseling kelompok.

3) Menyelenggarakan layanan konseling kelompok melalui tahap-tahap pembentukan, peralihan, kegiatan dan pengakhiran.

3. Evaluasi, mencakup kegiatan sebagai berikut:

1) Menetapkan materi evaluasi.

2) Menetapkan prosedur evaluasi.

3) Menyusun instrumen evaluasi.

4) Mengoptimalkan instrumen evaluasi.

5) Mengolah aplikasi instrumen.

4. Analisis hasil evaluasi, mecakup kegiatan sebagai berikut:

1) Menetapkan standar norma atau analisis.

2) Melakukan analisis.

3) Menafsirkan analisis.16

5. Tindak lanjut, mencakup kegiatan sebagai berikut:

16 Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm.185-186.

24

1) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.

2) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak-pihak terikait.

3) Melaksanakan rencana tindak lanjut.

6. Laporan, mencakup kegiatan sebagai berikut:

1) Menyusun laporan layanan konseling kelompok.

2) Menyampaikan laporan kepada kepala sekolah atau madrasah dan kepada pihak-pihak lain yang terkait.

3) Mengomunikasikan laporan layanan.

Dokumen terkait